
Lingga baru saja sampai di bali, ia terus menunduk melihat handphonenya apakah Anita sudah membalas pesannya namun tidak ada tanda-tanda chatnya akan di balas oleh pemilik nomor, Lingga memilih untuk langsung menelfon wanita yang tengah dirindukannya itu dan memberi tahu bahwa mereka sudah berada di kota yang sama ia sudah tidak sabar untuk bertemu, nomor yang Lingga tuju ternyata tidak aktif itu membuat hatinya tidak tenang, ia melewati hingar-bingar bandara dengan kuping di buntu dan tidak memperhatikan jalan hingga ia menemukan nomor Ayu teman Anita yang pernah ia simpan karena Ayu yang meminta nomornya terlebih dahulu, Lingga menekan nomor itu
"Halo dengan Ayu?"
"saya Lingga, kamu tahu keberadaan Anita?, nomornya tidak dapat hubungi"
"iya terimakasih Ayu"
setelah mengetahui bahwa Anita menuju Discovery Shopping Mall Denpasar, Lingga tersenyum "dia lagi shoping" dengan ringan kaki Lingga melangkah untuk ketempat itu dan mungkin bisa memberi kejutan kecil untuk Anita dengan kehadiran Lingga di tengah-tengah mall atau bahkan di rooftop mall yang aesthetic itu.
Lingga memutuskan untuk langsung ke rooftop mall itu karena ia yakin Anita sedang duduk manis di atas sana sambil menyesap capuccino nya
para pengunjung mall lantai atas teralihkan perhatiannya ke pada orang yang sedang berdiri di didepan meja stand jualan roti bakar yang nampak sedang bertengkar, seketika Lingga berlari dan menangkap perempuan yang ditampar seorang pria dengan keras hingga terhuyung, Lingga tahu perempuan itu Anita, sakit hatinya melihat Anita diperlakukan kasar seperti ini oleh laki-laki tidak punya malu ini, ia menarik Anita menjauh lalu dengan segera berputar arah untuk berjalan dengan tergesah-gesah ke arah sosok yang menampar Anita tadi untuk memberikan tanda tangan di kepala laki-laki itu yang setelah disadari adalah Angga, ia mendaratkan bogem mentah di pipi putih Angga, ia menunjuk wajah pipi berdarah itu dengan amarah "katakan saja kau sudah punya mainan baru dan tidak membutuhkan Anita lagi karena ia sudah miskin dan kau hanya mementingkan kekayaanmu"
__ADS_1
Lingga hampir menyolok mata laki-laki didepannya yang membuatnya ingin berbuat lebih jauh namun ia menahannya "kami akan pergi dan kau tidak akan bertemu Anita lagi", Lingga menyeret Anita meninggalkan tempat itu
Lingga terduduk dengan tubuh yang masih meninggalkan sisa-sisa emosi atas kejadian tadi, sedangkan di kamar Anita langsung tertidur karena tubuh lemas dan perasaan sedih yang menderanya, Lingga mengambil telfon dan menyuruh tangan kanan pribadinya untuk mencari kontak Angga, ia masih ingin berbicara pada laki-laki brengsek dan tidak tahu malu itu karena sudah memukul seorang wanita ditambah dia melakukannya di depan orang banyak di tempat umum, hanya butuh beberapa menit untuk hal semudah itu, Lingga sudah men dapatkan nomor Angga dan langsung menghubunginya
tut
tanda orang diseberang telah menerima panggilan
"kau Lingga?, apa? kau ingin apa?" jawab Angga ngegas diseberang sana
Lingga menarik nafas tenang "aku bisa melaporkanmu ke polisi atas tindakan kasar dan tidak menyenangkan pada wanita sore tadi"
"lalu apa maumu?, dengar tuan keponakan presiden" Angga menukar posisi handphone ke telinga sebelahnya "saya sedang banyak sekali pekerjaan, jika anda memang menginginkan Anita silahkan, Silahkan nikmati dan urus dia selagi aku sedang tertimpa masalah seperti ini, Tapi aku akan mengambilnya lagi saat kau menyadari bahwa kau tidak cocok untuknya" Angga terengah "aku tahu di hati Anita hanya ada aku dan selamanya aku!" tut Angga menutup telepon dengan mematikan hp dan meleparnya
__ADS_1
Angga mengacak-ngacak rambutnya, di sisi lain ia harus segera memasukin ruang rapat yang didalamnya ada papanya dan papa Vina partner bisnis ayah sudah melakukan banyak hal untuk membantu perusahaan Bara Energi yang sekarang diterpa masalah sulit, tapi di lain sisi juga ia sedang memikirkan Anita yang tadi baru saja ia kasari, Angga rasanya ingin menghilang saja barang beberapa hari untuk menghilangkan beban dan rasa bersalah yang sedang bercokol di kepalanya, Angga melihat ke arah luar yang dibatasi oleh kaca, entah kenapa ia melangkah ke arah kaca itu dan terdorong untuk memecahkan kaca itu dan melompat begitu saja, dengan itu mungkin masalah di kepalanya akan selesai dan ia tidak akan pusing lagi, saat tangan Angga sudah menyentuh kaca itu Vina datang dan memanggil "Angga" dengan lembutnya, Angga menoleh dan tatapan murung, "kata papa kau tidak perlu mengikuti rapat" Vina menarik lengan Angga dan mengajaknya ke kamar tidur yang ada di ruangan itu, "rapat akan baik-baik saja, kan sudah ada papa kamu dan papa aku" Vina menyuruh Angga duduk dan berbaring di tempat tidur sambil mengusap lengan Angga "kamu harus istirahat ngga, kamu keliatan tidak sehat, papa suruh kamu istirahat dulu sekarang, okey?" Vina mencium pipi laki-laki yang baru saja menjadi tunangannya minggu lalu.
Sementara di tempat tinggal Lingga, Anitab sudah bangun, ia terbangun karena perutnya kosong dan pipinya masih sakit, sekarang ia duduk di sofa apartemen Lingga sambil menikmati makanannya, Anita tidak mau pulang kerumahnya dan membiarkan ayahnya melihat keadaanya yang kacau ini
Lingga membawa mangkuk berisi air dan es batu untuk mengompres pipi Anita, ia mendaratkan bokongnya di sofa yang tengah diduduki oleh Anita "apa yang ia katakan?" tanya Lingga sambil mengusap handuk dingin itu ke sudut bibir Anita, Anita meletakan mangkuk makannya yang sudah kosong di atas meja dekat sofa
"ia seperti tidak mengenalku" akhirnya Anita membuka mulut dengan lemas, " lebih dari sepuluh tahun kami memiliki hubungan Lingga" tiba-tiba tubuhnya bergetar "aku masih menyayanginya, mustahil sebuah rasa yang sudah bersemayam lama bisa hilang dengan mudahnya" Akhirnya Anita menyerah dengan air matanya, pipinya basah dan ia meringkuk di dada Lingga untuk menyembunyikan wajahnya, "maafkan aku, aku belum bisa melupakannya" cukup lama Lingga diam lalu menghembuskan nafas dan mengusap perempuan yang sedang ada di pelukannya itu
"hey aku selalu disini, jangan menangis, kau bisa melupakannya tenang saja" Lingga masih mengelus pundak Anita "dia tidak pantas untukmu, kau layak bahagia" Anita mengangkat wajahnya melihat Lingga dengan mata sembab
"aku bersyukur kau disini Lingga" Anita memeluk Lingga dengan lebih erat "Tapi aku punya masalah yang hanya Angga yang bisa menolongku" Anita berbicara didalam pelukannya, Lingga cukup bisa mendengar kata-kata Anita itu
"apa?" Lingga mengangkat tubuh Anita agar bisa melihat wajahnya dengan jelas karena Lingga merasakan ada yang lembab di dadanya, ternyata wajah Anita sudah kembali di sirami hujan dan mata yang biasanya indah itu menjadi merah menyedihkan
__ADS_1