
Makan malam di Aula Besar dipenuhi bisik-bisik tentang adu teriak Harry dan Umbridge di kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Bagaimana berita itu tersebar dengan cepat dalam hitungan jam masih misteri bagi siapa saja, terutama bagi kedua shinigami. Tapi, mengingat bahkan di Seireitei gosip menyebar sama cepatnya dengan Yachiru Kusajishi yang disodori permen dan manisan, mestinya tak akan jauh beda dengan Dunia Sihir, mengingat mereka jauh lebih 'hidup'.
"Bagaimana Dumbledore bisa membiarkan ini terjadi?" ujar Hermione putus asa. Golden Trio memutuskan segera meninggalkan ketidaknyamanan Aula Besar setelah menyelesaikan makan malam mereka. Ruang rekreasi Gryffindor adalah pilihan mereka, mengingat semua anak masih ada di Aula. Bahkan Ichigo dan Toushiro yang menghilang lebih dulu dari Aula tidak ada di sana.
"Yah, kita belum pernah punya guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang benar-benar hebat, 'kan?" kata Harry muram. "Hagrid benar, tak ada yang mau pekerjaan ini, mengingat katanya diguna-guna."
"Ya, tapi mempekerjakan orang yang bahkan menolak menggunakan sihir untuk dipelajari! Apa maksudnya coba?"
"Dan yang dilakukan Ichigo dan Toushiro." geram Harry. "Apa maksudnya mereka begitu?'
"Mereka hanya berusaha membantumu untuk tidak lebih marah pada Umbridge, Harry," kata Hermione lelah.
"Tapi mereka tak mengerti! Mereka tidak tahu kalau orang-orang harus tahu!"
"Harry," kata Hermione, melempar tatapan penuh harap pada Ron untuk mendukungnya, "mereka disini untuk menjagamu-"
"Aku tak perlu dijaga seperti bayi!"
"Tidak, tentu tidak," kata Hermione segera. "Mereka tahu apa yang mereka lakukan, apa yang ingin mereka kau lakukan. Kau harus bisa mengendalikan diri, Harry."
"Mengendalikan diri, dengan si kodok tua itu…"
"Whoa, kalem, sobat," kata Ron cemas. Anak-anak Gryffindor lain mulai memenuhi ruang rekreasi. Ini bukan waktu dan situasi yang tepat untuk merah-marah, sepertinya. Tidak di depan teman-teman asramanya sendiri.
Mengendalikan diri? Kayak itu gampang saja…
Keesokan paginya, suasana masih sama suramnya, dengan hujan ringan membuka pagi itu. Hari itu, mereka mempelajari Mantra, diikuti Transfigurasi. Pelajaran Mantra masih lebih ringan, karena mereka hanya mengulang kembali Mantra Panggil. Namun, PR yang diberikan lumayan membuat kepala panas juga.
Untuk Transfigurasi, well, dibuka dengan sangat manis mengenai pentingnya OWL, membuat gelanyar perasaan tak nyaman menggeliat di benak para siswa. Untuk dua shinigami itu sebenarnya bukan masalah. Ujian para penyihir tidak berpengaruh pada kehidupan mereka. Yang dibutuhkan Toushiro sebenarnya adalah Rangiku Matsumoto yang mau duduk di kantor untuk mengerjakan paperwork dan benar-benar membantunya, sedangkan yang dibutuhkan Ichigo adalah menghentikan kekonyolan Isshin dan kemaniakan Kenpachi Zaraki yang terus mengejarnya untuk duel.
Namun, karena ini misi, tentu mereka perlu bekerja keras - ralat, belajar - seolah-olah ini penting.
Di Transfigurasi, mereka belajar Mantra Pelenyap. Dan tak perlu dikatakan bahwa sedikit sekali yang sukses. Hanya Hermione yang sukses diusahanya yang keempat, dan Toushiro diusahanya yang kedua. Anak-anak lain gagal menghilangkan siput mereka di akhir pelajaran, membuat mereka yang gagal harus melatih mantra itu semalaman agar bisa diuji lagi besok sore.
Jika mau dibilang apakah ada beban lain yang harus ditanggungnya hari ini, itu adalah beban PR-PR lain. Profesor Grubbly-Plank menugaskan mereka menggambar Bowtruckle untuk Pemeliharaan Satwa Gaib dan esai lain untuk Herbologi yang ditugaskan Profesor Sprout. Sungguh, kenapa para guru senang sekali memberi PR ?
Menutup hari itu, Harry harus menghadiri detensinya dengan Umbridge.
Yang.
Benar-benar.
Keji.
"Aku ingin kau menulis, Saya tak boleh berbohong," kata Umbridge dengan lembut, setelah memberikan pena bulu berwarna hitam dengan ujung luar biasa runcing.
Menulis kalimat itu mudah saja sepertinya, sampai Harry menyadari ia tak menulis di atas kertas. Secara ajaib, tulisan yang ia torehkan di perkamen justru tertulis di punggung tangan kanannya.
__ADS_1
Detensi hari pertamanya itu berakhir menjelang tengah malam. Ia merana mengingat ia harus datang lagi besok untuk menorehkan tangannya sendiri dengan pena bulu sial itu.
Keesokan harinya, Harry melewatkan sarapan untuk mereka dua mimpi untuk PR Ramalannya, dan heran karen Ron ikut menemaninya. Ichigo juga di rekreasi, diawasi oleh Toushiro, sedang menyelesaikan gambar Bowtruckle-nya yang digambar sempurna seperti aslinya. Harry memandang hasil kerja si rambut jingga, yang nyengir puas dan membanggakan bahwa gambarnya pantas masuk galeri, dan seringainya lenyap saat melihat gambar Toushiro, yang sama bagusnya, dengan tulisan yang jauh lebih rapi.
"Aku tak mengerti bagaimana mereka sudah menyelesaikan semua PR mereka," kata Ron iri, memandang kedua shinigami yang membereskan tas mereka dan keluar lewat lubang lukisan. "Maksudku, mereka baru tentang Dunia Sihir dan segala macam itu, tapi mereka memahaminya dengan cepat!"
Ron menanyakan hal itu saat mereka akan ke kelas Metode Pertahanan Klasik Jepang sore itu setelah makan siang. Ichigo menjawab dengan menahan seringai.
"Apa yang bisa kulakukan, dengan Toushiro mengawasiku? Lagipula tak ada hal lain yang dilakukan, jadi kukerjakan saja, toh tak ada ruginya. Kalau Toushiro, sih, jangan heran. Dia memang anak rajin, pintar, dan patuh aturan. Lurus banget, deh, pokoknya. Trade record-nya juga bagus sekali."
"Memang apa dia, anak teladan di Shinou?" tanya Dean, nyengir, sementara Toushiro mengernyit dengan alis putihnya yang nyaris menyatu.
"Lebih dari yang bisa kau bayangkan," ujar Ichigo.
Ruang kelas pelajaran baru mereka ternyata ada di lantai dua sayap kanan kastil. Yang mengejutkan, ternyata mereka belajar dengan teman-teman seangkatan mereka dari empat asrama. Ruang kelas itu juga berbeda dengan ruang kelas mereka yang biasa. Tak ada bangku-bangku. Lantainya pun kayu berpelitur, sama dengan dinding kayunya, yang dihiasi beberapa kaligrafi dalam huruf kanji yang rumit. Lukisan kolam ikan koi menghiasi sisi dinding sebelah kanan, sedangkan di sebelah kiri tergantung lukisan klasik gunung Fuji yang anggun. Secara keseluruhan, kelas itu mirip…
"Dojo?" celetuk Ichigo.
"Apa?" tanya Ron heran. "Do- joh?"
"Dojo, itu biasanya tempat latihan beladiri seperti karate, kendo, atau panahan," kata Ichigo. Ia mengamati sekitarnya, sementara anak-anak lain juga mulai masuk ke dalam ruangan yang luas itu, terheran-heran melihat interior dan dekorasi yang tak biasa.
"Selamat datang, selamat datang."
Kisuke Urahara muncul dari balik pintu geser di ujung kelas. Senyum ganjilnya menghiasi wajahnya yang dibayang-bayangi oleh bayangan topi lebarnya. Si kucing hitam berjalan anggun di sampingnya, lalu melompat dan duduk di atas meja bundar di atas undakan kelas itu.
"Aku, Kisuke Urahara, seperti yang kalian tahu. Kalian boleh memanggilku Profesor, tapi aku lebih suka dipanggil sensei. Itu berarti kau, Kurosaki-san~"
Ichigo melempar tatapan galak pada guru baru mereka itu, membuat banyak anak terheran-heran.
"Letakkan saja tas kalian di sana, dan lepas saja jubah kalian," kata Urahara riang sambil menunjuk deretan rak tanpa pintu, seperti loker yang ada di dekat pintu. "Oh, tidak perlu keluarkan tongkat sihir, untuk saat ini."
Anak-anak langsung menurutinya. Setelah meletakkan tas dan jubah mereka, keempat asrama tingkat lima itu berkumpul di bawah undakan.
"Nah, seperti yang kalian tahu, ini adalah pelajaran pertama dimana kalian akan mengetahui cara lain untuk mempertahankan diri. Cara yang kurasa berbeda dengan yang selama ini kalian tahu, dengan pertahanan diri sihir kalian yang menggunakan mantra dan tongkat sihir." Bahkan nada bicara Urahara begitu santai, seolah mereka sedang minum teh sore bukannya di kelas. "Shinou Academy mengajarkan cara-cara pertahanan diri berdasar pada praktek."
Kalau begitu, pelajaran ini justru kebalikan dari Pertahanan terhadap Ilmu Hitam 'yang baru'.
"Sensei," Hermione mengangkat tangannya. Urahara memandang gadis itu dengan senyum ramah.
"Ya?"
"Cara-cara seperti apa yang diajarkan di Shinou?"
"Oh, tentu saja kau – kalian – semua ingin tahu," kata Urahara ceria. Ia berjalan ke arah papan tulis, lalu mengetukkan tongkat sihirnya ke sana. Empat kertas putih muncul di sana, masing-masing ditulisi dengan deretan huruf kanji. Urahara menunjuk satu per satu. "Zanjutsu. Kidou. Hakuda. Hoho. Keempatnya adalah empat kemampuan dasar yang akan dan harus dipelajari oleh para siswa di Shinou. Tentu saja ada pelajaran lain seperti Sejarah, Astronomi, dan lainnya. Tapi keempat ini," Urahara melambaikan tangannya dengan malas ke arah papan tulis, "adalah dasar pertahanan diri untuk para penyihir muda." Urahara tersenyum jahil.
"Apa tepatnya-?"
__ADS_1
"Ah, sangat ingin tahu, ya," kata Urahara ceria, membuat Hermione merona malu. "Tidak apa. Tidak apa. Nah, keempat teknik ini adalah dasar, dengan penggunaan yang berbeda. Pertama zanjutsu." Urahara menarik lepas lembar pertama, memperlihatkan kanji asing itu pada para siswa, kemudian, di baliknya. Gambar bermacam-macam jenis pedang tercetak disana. "Zanjutsu adalah teknik bertarung menggunakan pedang, memanifestasikan energi sihir yang dimiliki menjadi kekuatan, entah untuk serangan atau pertahanan. Masing-masing penyihir memiliki kemampuan yang unik dalam penggunaan zanjutsu. Dibutuhkan latihan bertahun-tahun untuk menguasainya. Siswa Shinou, biasanya baru bisa mempelajari ini dengan pedang mereka sendiri di tingkat tiga, mengingat ini cukup berbahaya. Nah, jadi, aku tak bisa mengajarkan ini pada kalian. Aku tak mau ambil risiko jika ada yang tidak sengaja memotong lengan teman sendiri, eh?"
Banyak anak yang kecewa, atau tampak jijik dan ngeri. Namun, Harry melihat kelegaan di wajah Hermione.
"Tapi, aku bisa mengajarkan dasarnya," lanjut Urahara riang. "Tidak perlu pakai pedang asli. Namun, kalian akan punya pengalaman cara menggunakannya. Selanjutnya, kido. Hm…" Urahara mengambil kertas kedua, memandanginya sejenak. "Tidak. Kalian tidak bisa belajar ini."
"Kenapa tidak?' tanya Ernie Macmillan dari Hufflepuff, heran.
"Well, kido adalah secara bahasa berarti demon arts, tapi terjemahannya lebih bagus sihir tanpa tongkat. Seni bertarung yang rumit dan perlu keseimbangan fisik, mental, dan energi spiritual yang baik untuk menguasainya. Para siswa di Shinou mempelajarinya sejak awal mereka menginjakkan kaki di sekolah. Kalian yang sudah berada di tingkat lima akan menemui kesulitan, dan aku tidak punya cukup waktu, dengan teknik lain yang perlu kuajarkan."
Golden Trio teringat bagaimana Ichigo berlatih kido selama di Grimmauld Place. Si rambut jingga tampak cukup kesulitan menguasainya. Ledakan, asap, dan kerusakan properti jelas bukan sesuatu yang mudah diatasi, apalagi jika empat asrama berlatih pada saat yang bersamaan.
"Lalu," kata Urahara, mengambil dua kertas terakhir setelah melempar kertas bertuliskan kido ke atas meja di samping si kucing hitam. Ia mengacungkan kertas pertama, "hakuda," lalu kertas kedua, "dan hoho. Keduanya merupakan jenis pertahanan dimana penggunaannya adalah kontak langsung. Singkatnya hand-to-hand combat. Penggunanya akan memanfaatkan pukulan dan tendangan, gabungan refleks fisik dan kekuatan, kecepatan dan keakuratan. Bahkan," Urahara mengangkat jari telunjuknya; senyumnya ganjil, "satu jari dengan energi besar bisa menjadi sangat fatal untuk hidupmu."
"Kenapa kita pelajari ini?" suara keras Malfoy membuat semua kepala menoleh. Nadanya yang angkuh terdengar di setiap katanya. Ia memandang Urahara dan dua siswa pindahan dengan tatapan menghina. "Itu semua kedengarannya seperti cara mempertahankan diri Muggle! Kita penyihir! Kenapa susah-susah mempelajari cara bertarung darah-lumpur?"
Anak-anak Slytherin berseru setuju. Harry dan Ron bertukar pandang geram. Namun baik Urahara maupun Ichigo dan Toushiro tampak kalem. Urahara menurunkan ujung topinya dan menunduk, membuat seluruh wajahnya tertutup bayangan topinya. Dan detik berikutnya, Urahara menghilang dari tempatnya berdiri.
"Bagaimana," suara tenang Urahara membuat mereka semua menoleh kaget. Uarahara sudah ada di belakang Malfoy, kedua lengannya membentuk kuncian di leher si Slytherin yang kaget luar biasa. "kau bisa melepaskan diri dari ini, Malfoy-san?"
Mata Malfoy melebar panik. Ia berusaha mendorong kedua lengan Urahara, namun sia-sia. Ia pun mencoba menginjak kaki Urahara, tapi itu di luar jangkauannya. Banyak anak bertukar pandang senang; Ichigo nyengir terang-terangan.
Mengeluarkan suara seperti tawa tertahan, Urahara melepaskan Malfoy. Sebelum Malfoy berbalik, guru baru mereka sudah berdiri di depan, di atas undakan lagi, senyum ramahnya tampak bertambah lebar.
"Kenapa kalian mempelajari ini, kalian bisa temukan sendiri jawabannya. Tapi akan kuberitahukan beberapa hal. Kalian, para penyihir muda diajarkan tentang cara mempertahankan diri dengan tongkat sihir kalian. Tak hanya tentang mempertahankan diri, bahkan aktivitas rumahan seperti memasak, atau sederhananya memanen apel cukup ayunkan tongkat sihir. Semua kegunaan praktis dari mantra-mantra itu membuat kalian tidak melatih fisik kalian. Benar-benar tidak sehat," tambah Urahara, berdecak tak puas. "Balik lagi ke masalah pertahanan. Bayangkan jika saat di tengah pertarungan kalian kehilangan tongkat sihir kalian… jatuh ke tangan lawan, patah, atau malah hancur? Apa yang akan kalian lakukan? Meringkuk di belakang ibu kalian? Atau meratap minta belas kasihan musuh? Atau diam menunggu kematian datang? Yah, kalau memang begitu, hidup kalian memang tak layak diteruskan."
Hening menyusul kata-kata Urahara. Guru baru mereka itu mengangkat tepian topinya untuk menatap wajah murid-muridnya. Ia menyeringai melihat ekspresi tercengang mereka semua, kecuali Ichigo yang memutar-mutar bola matanya dan Toushro yang tampak bosan.
"Atau ada kondisi di mana kalian berhadapan Muggle yang bisa mengancam keselamatan kalian, sementara kalian dilarang menggunakan sihir pada mereka. Apa kalian akan membiarkan diri kalian dihajar babak belur? Well, itu benar-benar akan menjatuhkan harga diri, dikalahkan Muggle dengan cara Muggle. Bukan aku bermaksud menyarankan kalian jadi bertindak destruktif, sih," tambah Urahara riang. "Setiap kekuatan digunakan untuk mempertahankan diri dan melindungi apa yang perlu dilindungi, bukan untuk merusak dan menghancurkan."
Dalam hati, Harry mencatat baik-baik hal ini. Dan, siapa tahu ia bisa mendapat teknik bagus untuk menghindari pukulan Dudley…
"Aku bisa mengajarkan kalian bagaimana melakukannya. Tapi perlu diingat bahwa tak ada yang instan untuk mendapatkan kemampuan itu. Waktu menjadi faktor penentu, begitu juga kemauan dan usaha kalian. Dan dari yang kuketahui, kalian masih sangat awam tentang aktivitas fisik ini, jadi kita akan mulai dari yang paling dasar. Hmm…" Urahara memandang Ichigo dan Toushiro, "Sepertinya aku sedikit beruntung, tingkat lima ada Kurosaki-san dan Hitsugaya-san, mereka bisa membantuku melatih kalian semua!"
"Memangnya mereka bisa?" tanya Malfoy meremehkan. "Mereka baru di tingkat lima, 'kan?"
"Ah, Malfoy-san, aku sepertinya lupa memberitahukan." Urahara memandang ke semua muridnya dengan seringai ganjil. "Masa pendidikan di Shinou Academy adalah enam tahun," Banyak anak terbelalak kaget mendengarnya. " Beberapa malah bisa menyelesaikan dalam waktu kurang dari itu, karena mereka diberkahi bakat dan otak jenius. Jadi aku yakin mereka sangat terlatih. Dan dengan senang hati mereka akan membantu."
"Tapi mereka sama dengan kami!" protes Pansy.
"Apa benar-benar sama?" tanya Urahara dengan suara rendah, mengirimkan gelombang ganjil tak nyaman ke seluruh ruangan. Golden Trio bertukar pandang gelisah. Namun, Urahara menepukkan tangannya dengan gaya ceria. "Ayo kita cari tahu, kalau begitu! Kurosaki-san, maju!"
Ichigo maju dengan kedua tangan berada dalam saku celananya. Ia tampak tenang saja, berdiri dengan jarak tiga meter di hadapan Urahara.
"Apa benar tidak apa-apa?" tanya Neville cemas pada Toushiro, yang menyilangkan tangan di depan dada dengan sikap waspada.
"Tidak masalah," kata Toushiro kalem. "Urahara-sensei adalah mentor pribadi Kurosaki." Mereka yang mendengar fakta ini terpana. "Mereka tahu gaya bertarung masing-masing. Kalau dilihat dari kondisinya, mereka hanya akan pemanasan saja."
__ADS_1