
Harry sekarang memilih sedikit menjaga jarak pada Toushiro. Bukan karena ia sakit hati, tapi karena malu. Ia memang tak tahu cerita keseluruhan dari kehidupan shinigami. Tak satupun, sekalipun dua di antara mereka ada di asrama yang sama dengannya. Baik Ichigo maupun Toushiro bukan tipe orang yang mengumbar cerita tentang hidupnya. Bahkan selama ia mengenal keduanya – termasuk tahu tentang identitas asli mereka – tak sekalipun mereka menyinggung hal mendalam tentang kehidupan pribadi mereka. Dan yang diceritakan Ichigo hanya fragmen-fragmen kecil yang tak seberapa – ditambah lagi ia tahu kalau Ichigo bukan pencerita yang baik – dan ia juga berpikir lebih baik tidak tahu. Kenapa? Ia punya perasaan kalau detail kisahnya akan lebih mengerikan dari yang ia duga. Kadang, hal-hal tertentu lebih baik tidak diketahui sekalian, karena memang itulah yang terbaik.
Yang sedikit mengherankan Harry, baik Ichigo maupun Toushiro menjadi salah satu dari sekian anak-anak yang memunculkan diri di Hog's Head pada kunjungan ke Hogsmeade pada akhir pekan yang dingin namun cukup cerah. Keduanya tampak tak begitu menyukai suasana bar yang kumuh dan berdebu, termasuk bau kambing samar yang ada di udara, namun toh keduanya duduk di antara Neville dan Luna, menunggu semua anak yang diundang datang berkumpul.
"Kukira kalian tidak datang," kata Ron ragu, sementara Harry mengeluarkan suara tak jelas yang kedengarannya seperti kukira-juga-begitu.
Ichigo mengangkat bahu, lalu berkata dengan nada kalem, "Kau benar soal tak ada apa-apa yang diberikan Umbridge. Jadi, di sinilah kami."
Dengan Toushiro yang mengangguk, itu mengartikan kesamaan pandangan kedua shinigami itu. Tapi Harry punya firasat kalau ada alasan lain kenapa mereka ikut bergabung dalam perkumpulan rencana-memepelajari-pelajaran-Pertahanan terhadap Ilmu Hitam-tanpa-Umbridge. Yah, itu bisa dicaritahu nanti.
Dan akhirnya, total tiga puluh kepala yang berstatus siswa Hogwarts yang tertarik dengan rencana itu berkumpul dalam rumah minum yang kumuh itu, dengan masing-masing anak memegang botol Butterbeer sendiri – kecuali Toushiro yang memang tidak begitu menyukai minuman yang satu itu. Mereka duduk melingkari meja tempat Harry, Ron, dan Hermione duduk, menunggu pertemuan dimulai.
"Kau ingin lulus OWL Pertahanan terhadap Ilmu Hitam juga tentunya," kata Michael Corner, setelah pembukaan singkat dari Hermione.
"Tentu saja," kata Hermione segera. "Tapi lebih dari itu, aku ingin dilatih dengan sepatutnya dalam pertahanan karena… karena…" dia menarik napas dalam-dalam dan mengakhiri kalimatnya, "Lord Voldemort sudah kembali."
Seperti yang telah diduga, reaksi para penyihir muda itu seperti perempuan tua yang menemukan tikus di lemari pakaiannya. Salah satu gadis Ravenclaw menumpahkan butterbeer-nya saking kagetnya, Lavender terpekik ngeri, Neville mengubah decak ketakutannya menjadi batuk aneh, sisanya hanya berjengit ngeri, kecuali Harry, Toushiro, dan Ichigo tentunya, yang mana yang dua nama terakhir saling bertukar pandang, tanda kesamaan pemikiran; ketakutan akan nama itu benar-benar menyedihkan.
"Kalian tak perlu takut pada namanya," kata Toushiro datar, namun mengejutkan mereka. Sekarang perhatian teralih kepada si rambut putih. "Menyebut namanya tak akan membuat dia datang kemari."
"Paling tidak tunjukkan rasa hormatmu pada Kau-Tahu-Siapa, itu jika memang dia kembali," kata Zacharias sengit.
"Itu bukan rasa hormat untuk musuhmu," kata Ichigo, mengernyit. "Itu rasa takut. Itu malah membuat musuhmu merasa punya kesempatan dan kekuasaan atas kalian, bermodalkan rasa takut kalian terhadapnya, sehingga dia tahu tak ada yang menentangnya."
Hening sejenak.
"Dan jika kau tak percaya kalau dia kembali," kata Harry, memandang lurus ke si pirang Huflepuff itu, "Aku melihatnya sendiri bagaimana dia kembali. Aku sedang tidak ingin menceritakan bagaimana tepatnya, karena aku tak akan buang-buang waktu meyakinkan siapapun."
"Kukira," kata Toushiro pelan, dalam bahasa Jepang, saat pertemuan kembali membahas rencana pelajaran, namun mereka malah berdebat tentang hal-hal tak penting semacam Menteri Sihir yang punya laskar pribadi, "hanya rapat komandan saja yang membosankan, dengan argumen tidak penting seperti orang tua itu juga ada di sini."
Ichigo nyegir mendengar komentar shinigami mungil itu. "Well, yeah."
"… Nah, hal lain yang perlu kita putuskan adalah di mana kita akan bertemu…" kata Hermione, disusul kediaman semua anak. Ini sepertinya masalah yang cukup pelik. Tak mudah menemukan ruangan di kastil tanpa diketahui Umbridge.
__ADS_1
"Perpustakaan?" usul Katie.
"Madam Pince pasti akan ngomel-ngomel," kata Harry.
"Kelas tak terpakai?"ujar Dean.
"Masih berisiko. Bagaimana kalau Umbridge muncul begitu saja, dengan Filch dan Mrs Norris berkeliaran pula," timpal Lee.
"Benar," Hermione tampak berpikir sesaat. "Yah, kita akan cari tempatnya nanti, dan nanti juga akan kami kabari pada kalian." Ia lalu mencari-cari sesuatu dalam tasnya dan mengeluarkan selembar perkamen dan pena bulu. Ia tampak bimbang, seakan menguatkan diri untuk menyampaikan sesuatu. "Ku… kurasa semua harus menuliskan nama, supaya kita tahu siapa yang hadir. Tapi aku juga berpendapat… siapa saja yang hadir di sini tidak menyampaikan apa yang kita lakukan sekarang ini, pada Umbridge, terutama."
Fred meraih perkamen itu dengan riang dan mencoretkan tanda tangannya. Beberapa anak tampak agak ragu; Harry melihat Toushiro menatap perkamen itu dengan curiga. Dan akhirnya, walaupun dengan keraguan yang terpeta di nyaris setiap wajah, mereka toh tetap membubuhkan tanda tangan mereka. Harry lalu menyorongkan perkamen itu pada Ichigo, yang menatap sejenak semua nama yang ada di sana. Mengangkat bahu, Ichigo mengambil pena bulu dan mencoretkan tanda tangannya, dalam huruf kanji.
"Wow, keren tuh," komentar Fred, nyengir.
"Ini sih belum apa-apa," kata Ichigo kalem, memberikan perkamen dan pena bulu pada Toushiro. "Namaku simpel soalnya."
"'Ichi' artinya satu, dan 'go' artinya lima, ya 'kan?" celetuk Luna.
"Lima belas? Kau lahir tanggal lima belas?" tanya Ernie Macmillan.
"Ichigo juga artinya 'kan stroberi," kata Cho Chang, tersenyum. "Biasanya itu untuk nama anak perempuan, 'kan."
Segera saja Fred dan George memasang ekspresi kepuasan yang sangat lebar; beberapa anak terkikik geli, sementara Ichigo membelalak kesal.
"Bukan itu artinya," kata Ichigo sebal. Ia sudah hampir bosan menjelaskan arti namanya, tapi, daripada salah paham bisa merusak harga diri, tuh! "'Ichi' artinya satu, atau pertama, mengacu pada aku yang anak pertama. Dan 'go' itu bahasa Jepang lama, artinya dia yang melindungi."
Fred bersuit memuji.
"Artinya keren," kata George. "Tapi stroberi lebih manis! Ha!"
"Orang tua Jepang biasanya memang menamai anak-anak mereka dengan sesuatu yang bermakna khusus, atau harapan mereka," kata Cho, memberitahu teman-temannya.
"Kau turunan Jepang juga?" tanya Ichigo. "Dari namamu… Cho, artinya kupu-kupu."
__ADS_1
"Ya," kata Cho, tersenyum. "Ibuku dari Jepang, ayahku turunan Cina."
"Bagaimana dengan namamu, Toushiro?" tanya Neville ingin tahu.
Toushiro masih memandangi perkamen itu. Tapi kemudian ia meraih pena bulu hitam itu dan mencoretkan namanya, juga dalam huruf kanji, dalam gerakan yang luwes dan cepat, padahal namanya lebih panjang dengan enam karakter yang lebih rumit dari kanji di atas namanya.
"Kalau tidak salah, 'shiro' artinya putih," kata Cho.
"Cocok kalau begitu," kata George, menunjuk rambut putih Toushiro sambil menyeringai.
"Entahlah," kata Ichigo, berpikir sejenak. "Kalau huruf-hurufnya dipisah, arti namanya jadi aneh… seperti nama zaman dulu…"
"Bukan perkara penting," kata Toushiro datar, membuat pembicaraan-arti-nama itu terhenti.
"Nah, waktu terus berjalan," kata Fred, mengabaikan suasana ganjil seolah mereka baru saja menandatangani kontrak penting. "George, Lee, dan aku harus membeli sesuatu yang agak sensitif. Sampai ketemu lagi."
Setelah satu per satu anak-anak itu pergi, hingga tinggal Golden Trio dan duo shinigami, mereka yang terakhir keluar dari Hog's Head, menyusuri jalanan Hogsmeade yang lengang. Harry buru-buru mengambil tempat di samping Ron saat Toushiro bergerak mendekati Hermione.
"Tindakan bagus, kau memantrai perkamennya," katanya dengan suara rendah.
"Eh?" Harry dan Ron memandang Hermione, yang tampak terkejut juga.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Hermione cemas, wajahnya merona.
"Kau tahu siapa aku," kata Toushiro datar. "Aku bisa merasakan energi sihir di perkamen itu. Jadi, beritahu aku, mantra apa yang gunakan?"
"Cuma tindakan pencegahan," kata Hermione segera. "Tidak berbahaya, kok. Tapi itu akan menjadi pelajaran jika ada di antara mereka yang mengkhianati kita dan membocorkannya pada Umbridge."
"Jadi tidak apa-apa kalau aku beritahu Urahara," kata Toushiro kalem. Ichigo nyengir mendengar hal itu, sementara Hermione mengangguk dengan wajah memerah.
"I-iya. Tapi kenapa kau beritahu dia?"
"Dan kau pikir Dumbledore tidak tahu?" kata Ichigo, mengejutkan ketiganya. "Nah, dia menduganya lebih tepat dan cepat daripada yang bisa kalian kira, bahkan tanpa kami memberitahunya. Nah, sampai nanti."
__ADS_1
Golden Trio memandang punggung Ichigo dan Toushiro yang menjauhi mereka, meninggalkan Desa Hogsmeade yang indah dipayungi sinar matahari terbenam. Sekarang Harry tahu kenapa kedua 'siswa pindahan' itu bergabung dengan mereka. Keduanya bermaksud mengawasi Harry yang notabene adalah fokus tugas mereka.
Harry menghela napas. Dumbledore entah kenapa tak mau menemuinya, menggantikan 'perannya' lewat dua shinigami, keberadaan yang tak pernah ia bayangkan ada sebelumnya. Ia tak tahu harus senang atau merasa merana.