
Malam yang mulai merangkak naik mulai menguarkan udara bulan Juni yang hangat. Meskipun demikian, perlahan pula suhu sedikit lebih turun, hasil kondensasi udara panas di siang harinya. Secara kasat mata, tak ada yang salah di sekeliling kastil Sekolah Sihir Hogwarts. malam itu tampak tenang, dipayungi langit biru tinta bertabur bintang. Tapi bagi indera tajam shinigami, kemampuan mereka melacak keberadaan yang seharusnya tidak ada di sana. Musuh alami mereka yang dikenal dengan hollow. Tapi, kali ini bukan sekumpulan hollow biasa, melainkan hollow yang mengalami evolusi tertinggi mereka. Menjadi Arrancar.
Para shinigami tahu, ini akan jadi pekerjaan yang sedikit merepotkan mereka.
Well, mungkin tidak sedikit juga, dengan ratusan siswa yang harus mereka lindungi.
"Apa ada gunanya untuk mereka sembunyi?" kata Shinji, menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. "Mereka tahu kita di sini, dan mereka tahu kalau kita tahu keberadaan mereka."
"Mereka hanya mencoba membuat kedatangan mereka sedikit impresif," kata Kensei malas. "Agak tak berguna, sih."
"Yah, apalagi setelah Hitsu-chan baru saja melibas satu dari mereka bahkan tanpa tatap muka," kata Yoruichi.
"Jangan sombong, shinigami."
Sosok-sosok itu mulai muncul. Sejumlah wujud yang asing sekaligus familiar bagi para shinigami itu berdiri di udara kosong, melawan gravitasi dengan sikap angkuh. Paling tidak ada tiga puluh Arrancar di sana. Tak ada satupun yang mencapai level Vasto Lorde. Tapi jumlah yang bisa dibilang tak seimbang ini bisa sedikit merepotkan, bukan?
"Apa ada dari mereka yang telah diidentifikasi?" tanya Toushiro pada Shinji dengan suara pelan.
"Tak ada," sahut Shinji, nadanya malas. "Mereka menyembunyikan keberadaan mereka sebelumnya saat penyelidikan di Hueco Mundo dengan sangat baik. Tapi jika dilihat dari reiatsu mereka… hm… sepuluh dari mereka yang paling kuat kemungkinan adalah para pentolan pasukan, sisanya fraccion mereka."
"Begitu," kata Toushiro.
Ichigo menarik Zangetsu di punggungnya, begitu pula shinigami lain. Posisi mereka langsung siap tempur.
"Mari kita akhiri ini," kata Ichigo kalem.
Dan ia maju lebih dulu untuk menerjang Arrancar yang paling dekat dengannya. Arrancar itu dengan sigap menangkis pedang berukuran besar milik Ichigo. Namun, kuatnya energi yang digunakan Ichigo membuat Arrancar itu terdorong mundur. Sementara itu, shinigami lain juga telah menghadapi musuh. Hanya Byakuya, Urahara, Shinji, dan Yoruichi yang masih di tempat. Jelas mereka masih mengamati situasi. Dan tak semua Arrancar juga langsung maju ke pertempuran. Sekitar selusin Arrancar masih berdiri di sisi lain halaman Hogwarts yang luas.
Sementara itu, di dalam Aula Besar.
Para penyihir mengawasi pertempuran yang terjadi di halaman Hogwarts dengan was-was. Para shinigami memang telah menambah perlindungan di sekitar kastil dengan kidou mereka. Meskipun demikian, mereka semua bisa merasakan sensasi ganjil yang seakan menekan di sekitar mereka, membuat bernapas pun sedikit sulit.
"Sudah selesai!"
Fred, George, Sirius, Lupin, Mr Weasley, dan beberapa guru memasuki Aula dengan ekspresi sedikit lega.
"Semua jalan rahasia sudah kami blokir dengan mantra sihir," kata Sirius.
"Juga dengan kertas segel yang kau berikan tadi, Mr Ukitake," tambah Fred.
"Terima kasih," kata Ukitake. Ia memandang berkeliling, terutama pada wajah pucat para siswa Hogwarts. Orihime yang juga ada di Aula masih menatap teman-temannya yang tengah bertempur di luar sana. Komandan Divisi 13 itu merasakannya, tak salah lagi, energi spiritual rekan-rekan shinigaminya mulai mempengaruhi para penyihir ini, Ia menghela napas. "Kami benar-benar minta maaf, Dumbledore-san, atas pertempuran yang terjadi di sekolah ini."
"Apa lagi yang bisa dilakukan dari hal yang terjadi di luar dugaan seperti ini," kata Dumbledore tenang. Meskipun demikian, Ukitake bisa meihat kegelisahan samar di mata biru itu.
"Apa kita tak bisa mengirim anak-anak keluar?" tanya McGonagall cemas, mengerling para murid yang tampak ketakutan.
"Maafkan saya, Profesor," kata Ukitake, tersenyum suram. "Aku sama inginnya menjauhkan anak-anak ini dari jangkauan pertempuran. Tapi satu-satunya jalan yang kita miliki adalah melewati halaman, dan tak mungkin dengan tempat itu menjadi medan tempur saat ini. Yang bisa dilakukan saat ini hanyalah menjaga mereka di dalam kastil sampai pertempuran usai."
"Tapi," kata Hermione, cemas bukan main, "ba-bagaimana jika me-mereka k-kalah?"
Ukitake tersenyum. "Kita hanya bisa percaya pada mereka, hm? Percayalah padaku, mereka berpengalaman dengan hal ini."
"Anda benar-benar percaya pada mereka," kata Kingsley dengan suaranya yang dalam.
"Aku sudah mengenal dan bertarung bersama mereka selama bertahun-tahun. Jika aku tak bisa mempercayai mereka, aku tak bisa mempercayai siapaun untuk melindungi Soul Sociaty dan juga Dunia Manusia." Ukitake, sekali lagi, menatap para murid, lalu ke arah Dumbledore. "Dan saya juga harus minta maaf karena efek dari pertempuran sepertinya sudah mempengaruhi anak-anak itu."
"Maksud anda?" tanya Flitwick.
"Shinigami yang datang ke Hogwarts ini berada dalam level komandan dan letnan, dua posisi penting di jajaran Gotei 13, Profesor. Dan apakah anda tahu apa yang membuat posisi ini begitu penting?"
Guru Mantra itu menggeleng sekali.
"Mereka menduduki posisi itu karena beberapa alasan. Dedikasi mereka, kesetiaan mereka, dan kualifikasi yang mereka miliki yang sepantasnya dimiliki oleh figur komandan dan letnannya. Tentu saja, kemampuan dan kekuatan mereka juga memegang peran penting. Para komandan dan letnan dikenal dengan kemampuan yang berada jauh di atas rata-rata shinigami biasa. Jumlah energi spiritual mereka, yang disebut reiatsu, memiliki kuantitas yang sangat besar. Inilah alasan kenapa 'efek' terjadi selama mereka bertarung."
"Efek?" tanya Bill tak mengerti.
Ukitake mengangguk. "Sebenarnya, shinigami level komandan dan letnan sangat jarang diturunkan dalam misi ke Dunia Manusia, kecuali jenis kasus yang sangat pelik."
"Mr Hitsugaya…"
"Benar. Apa yang terjadi di Hogwarts bukan jenis kasus biasa. Cukup serius, jelas. Kemampuan Komandan Hitsugaya sebagai shinigami yang cakap menjadi modal utama untuk menyelidiki apa yang terjadi, sekaligus menjaga Hogwarts, bersama dengan Kurosaki-kun, Kisuke-san, dan Yoruichi-san. Untuk efek yang kumaksud," Ukitake tersenyum tipis, "bukankah tadi sudah kubilang kalau level komandan dan letnan memiliki jumlah reiatsu yang besar? Itulah alasan kenapa level komandan dan letnan jarang diturunkan. Reiatsu yang besar itu bisa mengganggu manusia biasa, bahkan manusia yang memiliki jumlah reiatsu yang lebih seperti para penyihir."
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" tanya Lupin, masih tak mengerti. "Mengganggu bagaimana tepatnya?"
"Dengan kata lain," kata Ukitake, "apa yang terjadi jika energi yang dimiliki penyihir menjadi tidak terkontrol?"
"Penyihir itu akan melepaskan kekuatan sihirnya tanpa menyadari hal itu," kata Dumbledore. "Dari pengalamanku, yang terjadi lebih ke arah hal yang destruktif, entah dilakukan pada diri penyihir itu sendiri atau di sekitarnya."
"Tepat sekali. Yang mau kukatakan adalah, jika seorang komandan atau letnan berada di dekat manusia biasa atau bahkan penyihir, reiatsu yang dia miliki bisa memberi stimulan pada energi spiritual yang dimiliki manusia. Sayangnya, energi itu mengacaukan energi manusia, yang notabene tidak sekuat reiatsu komandan atau letnan. Energi mereka akan terdesak, ditekan. Jika hal ini terus terjadi, kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah kematian."
"Tapi Toushiro ada di sini dan tidak ada apa-apa," celetuk Ron.
"Itu karena dia menggunakan gigai. Oh, itu tubuh artifisial yang biasa digunakan shinigami saat mendapat misi ke Dunia Manusia dan memerlukan interaksi dengan manusia; tidak semua manusia bisa melihat shinigami, kan? Gigai juga memiliki fungsi lain, yaitu menekan reiatsu shinigami sampai nyaris tak terdeteksi, jadi bahkan hollow tak akan bisa melacak mereka. Selain itu, setiap shinigami dengan pangkat – dari pangkat dua puluh sampai level komandan – yang datang ke Dunia Manusia akan disegel sebagian reiatsu-nya hingga 80%."
"Eh?"
Banyak penyihir yang terkejut dengan hal ini, kecuali Dumbledore dan anggota Orde Phoenix yang sudah mendengar ini saat pertama kali bertemu dengan para shinigami itu.
"Maksud anda… Toushiro dan Ichigo dan dua orang itu," kata Lee Jordan, "kekuatan mereka ditekan sampai hanya 20%?!"
"Ya. Dan masih. Bahkan semua shinigami yang datang kemari, termasuk aku, semuanya mendapat Segel Pembatas. Kalau tidak begitu, sejak kami tiba kalian sudah akan sangat menderita."
"Apa kalian," kata Mr Weasley, terdengar sedikit gelisah, "tidak apa-apa dengan bertempur tanpa kekuatan penuh?"
"Nah," Ukitake tersenyum tipis, "jika sesuatu tidak berjalan mulus, maka mereka akan diizinkan melakukan Limit Release – pelepasan segel. Tapi aku berharap, walau akan sangat sulit dengan jumlah musuh sebanyak itu, mereka tidak melakukannya. Sudah cukup buruk kondisi kalian bahkan tanpa mereka melepasnya, kan?"
Dari jendela besar di Aula Besar, para penyihir mengawasi pertempuran yang terjadi di luar sana. Para shinigami itu berada di angkasa yang diterangi bintang-bintang dan cahaya kastil. Tidak terlalu sulit untuk mengenali siapa yang tengah bertarung, kecuali para Arrancar itu.
Harry melihat Ichigo melesat dengan kecepatan mengagumkan, menghadapi seorang Arrancar pria berambut hitam panjang dan tubuh besar. Kilatan bunga api terpercik ketika pedang oversized-nya itu menghantam katana lawannya. Sungguh mengagumkan untuk Harry, melihat wajah Ichigo begitu tenang, tak menunjukkan kegentaran menghadapi musuhnya.
Tak jauh dari si rambut jingga. Si pemuda berambut merah – Renji – juga bertarung dengan kalemnya. Katana-nya sekarang berubah bentuk menjadi pedang ganjil yang menyerupai potongan bilah-bilah logam tipis yang terhubung kawat baja elastis yang cara kerjanya mirip dengan cambuk. Ketenangannya sungguh bertolak belakang dengan seorang Arrancar pria berambut pirang yang jadi itu justru tampak sedikit panik.
Ketenangan juga tampak di wajah Rukia Kuchiki. Gadis mungil itu tak hanya tenang, gerakan mengayunkan katana-nya yang sekarang berubah menjadi putih – dari ujung pita putih yang muncul di bagian gagangnya hingga ujung mata pedangnya – sungguh anggun. Gelombang es berukuran besar berulang kali terbentuk saat gadis itu menebas ke arah dua Arrancar yang menjadi lawannya. Keduanya masih sanggup berdri setelah menerima serangan itu, tampak murka pada Letnan Divisi 13 itu, yang masih tetap tenang.
Bertolak belakang dengan ketenangan gadis Kuchiki itu, si botak Ikkaku Madarame justru tampak sangat antusias, malah bisa dibilang gila. Dia tertawa senang dan menyeringai sepanjang pertarungan dengan seorang Arrancar pria bertubuh kekar. Bangku Ketiga Divisi 11 itu sudah mendapat luka di bagian lengan kiri atasnya. Namun, tampaknya darah yang mengalir di luka itu tak memberi efek yang berarti, justru membuatnya lebih bersemangat. Tak jauh darinya tampak rekannya sesama Divisi 11, Yumichika Ayasegawa. Pemuda itu tak seantusias Ikkaku, malah terlihat sedikit santai. Ia berkali-kali menghela napas melihat antusiasme berlebih si botak. Musuhnya, seorang wanita muda dengan rambut bergelombang berwarna hitam dan berwajah keji tampak jengkel. Betapa tidak, shinigami yang jadi lawannya sejak tadi mengomentari gaya rambutnya yang menurutnya ketinggalan zaman!
Harry juga melihat Letnan Divisi 9 dan Letnan Divisi 3 yang bertarung bersama menghadapi empat Arrancar sekaligus. Katana Hisagi telah berubah menjadi senjata yang menyerupai dua sabit yang disangga dua tongkat hitam, terhubung dengan rantai hitam yang panjang yang bisa memperluas jangkauannya terhadap musuh. Katana Kira juga berubah. Ujung katananya menekuk, membentuk seperti kait persegi. Harry heran, apa yang bisa dilakukan dengan senjata berbentuk seperti itu. Namun ia langsung harus menahan keinginan untuk muntah begitu tahu apa yang bisa dilakukannya. Saat Hisagi menjerat seorang Arrancar hingga jatuh, Kira dengan cepat bergerak di belakang Arrancar itu, mengarahkan katanya-nya di bawah leher sang musuh dan membuat gerakan menarik, memenggal kepala si Arrancar.
Di sisi lain, tampak Kensei Muguruma juga tengah bertarung. Untuk sesaat Harry mengira kalau Komandan Divisi 9 itu hanya menggunakan tangan kosong, sampai ia melihat kilatan perak di kedua tangannya. Sepertinya senjata yang digunakan pria itu berupa dua belati, yang menjadikan dirinya tipe petarung jarak dekat.
Letnan Divisi 5 yang berwajah baik hati itu tampak bertempur juga. Momo tampak penuh determinasi, terlihat dari penggunaan katana-nya yang berubah bentuk; ada cabang yang terbentuk di kedua sisi katana-nya. Kemampuan gadis itu ternyata api, mengirim bola-bola api besar ke arah lawannya dan membuatnya meledak berkali-kali. Meskipun Arrancar yang jadi musuhnya tak tumbang, bukan berarti ia menyerah. Masih menyala, seperti elemennya.
"Para Arrancar itu tak sekuat generasi sebelumnya," kata Ukitake. "Untuk saat ini para shinigami baru melawan para fraccion, tapi mereka bisa menanganinya dengan baik."
"Apa itu fraccion?" tanya Mr Weasley.
"Singkatnya, itu adalah pengikut dari setiap Arrancar terkuat," kata Ukitake pendek. "Sewaktu kemunculan para Arrancar di Winter War hampir dua tahun yang lalu, semua shinigami yang berhadapan dengan mereka cukup kewalahan, entah fraccion atau malah para Espada." Ukitake melihat tampang bingung para penyihir. Ia tersenyum. "Kalian tidak perlu tahu itu terlalu detail. Kemampuan para shinigami di pertempuran saat ini adalah hasil dari pengalaman dan belajarnya mereka di masa lalu."
"Akankah anda ikut bertarung?" tanya Luna polos. "Apa… cukup menghentikan ini dengan pertarungan? Bagaimana jika… mereka… mati karena itu?"
Hening menggantung untuk beberapa detik setelah pertanyaan Luna itu. Beberapa guru bertukar pandang penuh arti, sementara banyak murid yang tak mengerti.
"Aku telah melihat banyak pertarungan," kata Ukitake pelan. Mata abu-abu gelapnya menatap pertempuran yang terjadi di atas sana lewat jendela Aula. "Pertarunganku atau teman-temanku, atau bawahanku, atau bahkan atasanku. Mereka akan jatuh, bangkit, jatuh lagi. Yang punya cukup kuat tekad dan kekuatan akan bangkit dan bertempur lagi sampai menang. Yang lain akan merasa sudah cukup. Beberapa akan bangkit, tapi mengorbankan diri untuk yang lain. Mereka shinigami. Sejak mereka memilih jalan ini, mereka sudah tahu apa risikonya. Harga yang harus dibayar untuk titel shinigami. Sebuah kehormatan, dan juga kerelaan untuk melakukan semua tugas mereka sebagai shinigami, menjaga keseimbangan Dunia Roh dan Dunia Manusia. Mati demi itu, adalah sebuah kehormatan besar."
"Shinigami bisa mati?" tanya Flitwick heran. "Bukankah… kalian roh?"
"Soul Society bukan tempat keabadian yang sebenarnya," kata Ukitake pelan. "Shinigami bukan makhluk imortal. Kami bisa mati, tentu saja."
Ini membuat gelombang ketakutan menjalari Harry dan beberapa penyihir lain yang telah mengenal Ichigo, Toushiro, dan Urahara – ditambah Yoruichi.
"Tapi jika seorang shinigami mati, ada empat jalan yang salah satunya akan ditemuinya. Ke Hueco Mundo sebagai Arrancar; ini biasanya terjadi jika seorang shinigami mati karena berhadapan dengan hollow yang menelan jiwanya (beberapa penyihir bergidik ngeri), ke neraka; biasanya karena seorang shinigami yang melakukan kesalahan besar yang membuat Neraka mengklaimnya sebagai miliknya, menghilang sebagai reishi atau partikel roh yang menaungi Soul Society, atau jiwanya akan masuk di lingkaran reinkanasi untuk memulai kehidupan yang baru dengan kemungkinan identitas baru tanpa mengingat kehidupan sebelumnya.".
"Tetap saja," kata Mrs Weasley, tampak muram, "sebagian besar dari shinigami itu begitu muda. Mereka sudah menerima tugas besar seperti itu… Itu terlalu…tidak adil untuk mereka."
Ukitake menatap Mrs Weasley. Ia sudah mendengar tentang ibu para anak-anak Weasley ini dari Toushiro. Ia menahan senyum, mengingat sewaktu mengunjungi Komandan Divisi 10 itu memberitahunya tentang sikap Mrs Weasley padanya dan Ichigo, menganggap mereka hanya sebagai anak-anak, melupakan fakta bahwa mereka lebih dari itu.
"Itu bukan hak saya untuk menentukan apa yang ingin mereka pilih," kata Ukitake tenang. Sekalipun terdengar tenang, para penyihir dewasa bisa merasakan keseriusan di sana. "Bukan hak siapapun, saya, anda, bahkan Soul King, kecuali mereka. Pilihan menjadi shinigami adalah pilihan mereka. Mereka menyadari, setelah mereka tahu bahwa mereka bukan roh biasa, mereka harus belajar mengendalikan kekuatan mereka, karena itu takdir mereka atau keinginan dari hati mereka. Usia mereka bukan patokan atas apa yang mereka pilih."
"Bahkan untuk Toushiro?"
"Anda masih sulit menerima siapa Hitsugaya-kun?" ujar Ukitake, membuat Mrs Weasley terdiam. Pria berambut putih itu tak menunjukkan tendensi apapun kecuali ketenangan. "Saya memahami ini, sejak hari pelantikannya hampir dua puluh tahun yang lalu. Lebih dari setengah penghuni Seireitei meragukan kemampuannya, bahwa alasan kenapa ia bisa menjadi komandan hanyalah otak jeniusnya. Mereka tidak tahu apa yang sudah dia lakukan untuk sampai di sana."
"Apa yang… dia lakukan?" tanya Lupin ragu. Ukitake hampir yakin seluruh penyihir, hidup atau mati, yang ada di Aula Besar mendengarkannya sekarang.
__ADS_1
"Kerja keras lebih dari orang lain," kata Ukitake suram. "Dia menyadari kekuatannya lebih besar dari orang lain, padahal dia masih begitu muda. Dia merasa dia harus mengendalikannya jika tak ingin orang lain terluka. Saat kami rapat untuk menentukan posisi Komandan Divisi 10 yang kosong, namanya muncul setelah kami tahu dia sudah menguasai bankai-nya."
"Apa itu bankai?" sela Sirius.
"Tahap akhir dari pelepasan kekuatan zanpakuto," kata Ukitake sabar. "Saat shinigami menyatukan dirinya dengan roh zanpakuto-nya." Ukitake tampak berpikir sejenak. "Tahap ini sulit sekali untuk dicapai oleh shinigami. Selama ini hanya para komandanlah yang sudah mencapainya, setelah latihan selama seratus tahun untuk mencapainya. Tapi, Shiro-chan berhasil melakukannya kurang dari sepuluh tahun."
Banyak yang terbelalak kaget karenanya.
"Tapi dia merahasiakannya selama beberapa waktu. Kami baru mengetahuinya saat dia dikirim memimpin misi ke sebuah distrik di Rukongai. Dia menggunakan bankai-nya untuk pertama kalinya di depan beberapa shinigami di saat yang benar-benar mendesak. Saat itu timnya meminta bantuan ke Seireitei. Aku kebetulan ikut dalam pasukan bantuan itu, bersama Komandan Kuchiki dan Komandan Zaraki. Bankai yang mengagumkan, tapi dia gunakan itu untuk melindungi rekan-rekannya. Nyaris saja dia mati karena itu. Reiatsu-nya meledak tak terkendali di saat terakhir, membuat satu distrik membeku dalam waktu sepuluh detik. Tapi untungnya, dia bisa diselamatkan, dan tak ada korban di Distrik itu akibat kontrol reiatsu-nya yang tak seimbang. Dan berikutnya, kami sepakat bahwa sebuah tanggung jawab akan membuatnya sedikit terdorong untuk mengendalikan kekuatannya lebih baik lagi. Hingga hari ini."
"Anda seperti memahaminya dengan baik," kata Kingsley.
"Tidak. Tidak." Ukitake menggeleng. "Aku tak pernah bisa memahaminya dengan begitu baik. Bahkan bertahun-tahun aku mengenalnya, dia masih sama dengan pertama kali aku mengenalnya. Anak muda dengan hati yang beku. Walaupun dia tak sedingin dulu, dia masih personifikasi dari es."
"Itu… rumit," gumam Sirius. "Anda tetap saja begitu memahaminya."
Ukitake tersenyum. "Aku sudah hidup hampir seribu tahun, Sirius-san." Lagi-lagi banak yang terkesiap kaget mendengar hal ini. "Aku telah melihat banyak hal yang terjadi selama itu. Tentang Soul Society, dan juga sejumlah shinigami yang ada."
"Wow, pastilah anda salah satu shinigami tertua yang pernah ada…" celetuk Tonks kagum.
Ukitake tertawa kecil. "Tidak juga. Tapi di antara Gotei 13 yang sekarang aku memang salah satu yang tertua, dengan Komandan Tertinggi Kyouraku."
"Aku ingat almarhum Genryuusai pernah menceritakan dua murid favoritnya, kalian berdua," kata Dumbledore, mata birunya berkilau. "Tak kusangka salah satu dari kalian yang akan maju menggantikannya. Dan itu Kyouraku."
"Seseorang harus memimpin kami di Gotei 13," kata Ukitake tersenyum. "Kyouraku mungkin kelihatan ceroboh dan kelewat santai. "Tapi di perang terakhir itu dia membuktikan bahwa dia mampu membawa kemenangan. Gotei 13 yang sekarang memang tak sekuat Gotei 13 di masa lalu di masa Yamamoto sensei, tapi kami bisa membuktikan bahwa apa yang beliau ajarkan pada kami, juga pengorbanan beliau untuk Seireitei, tidaklah sia-sia."
Di pertarungan.
"Tidakkah kau berpikir mereka agak sedikit aneh?" ujar Shinji pelan.
"Tahu apa maksudmu," kata Yoruichi. "Para Arrancar itu jelas lebih lemah dari yang terakhir, kurasa itu sebabnya mereka menambah jumlah mereka. Dan jika dilihat dari pola serangan mereka, mereka bermaksud melakukan jurus pamungkas di akhir. Tipikal."
"Nah, apa kau mau menunggu mereka memperlihatkannya?" tanya Shinji, masih dengan seringai kucing Chesire-nya.
"Tidak," kata Yoruichi, mata keemasannya berkilat. "Aku mau melihatnya sekarang."
Detik berikutnya, putri bangsawan Shihouin itu telah ber-shunpo dengan kecepatan-nyaris-menuju-kecepatan-cahaya. Wanita itu telah berada di depan seorang Arrancar wanita bertubuh langsing dengan rambut pirang pucat, yang tampak cukup terkejut melihat kemunculan mendadak lawannya.
"Halo, Nona Arrancar. Siap bertarung?"
"Aku tidak pernah tahu sebelumnya kalau kucing Urahara-sensei juga shinigami seperti kalian," kata Hermione. Mata coklatnya menatap sosok mantan Komandan Divisi 12 yang masih berdiri tenang di pinggir lapangan, lalu menatap Yoruichi yang sudah melesat lincah menghadapi lawannya di atas sana.
"Yoruichi-san memang seperti itu," kata Ukitake ringan. "'Sihir kecil' yang dipelajarinya agar bisa bertransformasi menjadi kucing itu menjadi kamuflase jitu yang cocok dengan bakatnya sebagai pasukan Onmitsukido."
"Apa itu?" tanya Sirius.
"Pasukan khusus Seireitei. Dulu dia pemimpinnya, sekaligus Komandan Divisi 2. Sejak dulu Divisi 2 yang merangkap sebagai Markas Onmitsukido yang adalah organisasi rahasia yang ahli dalam penyusupan, sederhananya, pekerjaan ninja. Biasanya Divisi 2 dan Onmitsukido ini di bawah pimpinan Klan Shihouin yang merupakan salah satu dari empat klan bangsawan di Seireitei. Yoruichi-san yang merupakan putri sulung klan yang memimpin mereka waktu itu. Tapi dia meninggalkan jabatannya itu seratus tahun yang lalu. Dan sejak saat itu kendali mereka berada di pimpinan Komandan Soi Fon."
"Kenapa dia pergi?" tanya Bill penasaran.
Ukitake tersenyum tipis. "Itu… informasi rahasia. Daripada itu, ada satu hal yang cukup menggangguku."
"Dan apa itu?" tanya McGonagall.
"Para Pelahap Maut," kata Ukitake serius. "Untuk orang-orang yang bermaksud menyerang Hogwarts, cukup aneh jika tak satu pun dari mereka yang muncul, kecuali para Arrancar itu… Oh, tidak juga." Ukitake menatap melewati jendela dengan mata menyipit. "Mereka datang."
Para anggota Orde langsung mencabut tongkat sihir masing-masing. diikuti oleh mereka arah pandang Komandan Divisi 13 itu; Mata Gaib Moody terpancang di arah yang sama. Benar saja, sosok-sosok berjubah hitam muncul dari titik lain batas kastil.
"Sepertinya akan menyenangkan," kata Moody menggeram. "Azkaban akan senang menerima mereka kembali."
Harry sedikit gentar mendengar hal itu. Bukan karena Azkaban mengingatkannya akan Dementor, bukan. Tapi karena pertempuran penyihir akan segera berlangsung. Dan ia tahu betul sebagian dari alasan pertempuran itu adalah dirinya. Dan yang lebih lagi, ia menempatkan seluruh Hogwarts dalam bahaya, termasuk teman-temannya. Dan walinya.
"Sirius."
Black terakhir itu menatap Harry. Ia bisa melihat kecemasan di mata hijau itu. Dan ia memakluminya. Ini bisa jadi perang pertama yang dilihat mata itu secara langsung. Ia memegang kedua bahu Harry, mencoba memberikan pengertian padanya.
"Kau mengerti kenapa ini terjadi, Harry. Dan itu bukan kesalahanmu."
"Tapi…"
"Aku mengerti, Harry," kata Sirius, tersenyum prihatin. "Ini bukan hal baik, tapi semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Dan Sirius bersama anggota Orde Phoenix dan beberapa guru keluar dari Aula Besar dengan tongkat sihir siap di tangan.
Bagaimana mungkin perang akan membuat semuanya baik-baik saja?