Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 44


__ADS_3

Sejak ia memulai pendidikan sihirnya di Sekolah Sihir Hogwarts, ini pertama kalinya Harry menghadapi pesta akhir tahun ajaran yang diselenggarakan bukan di malam terakhir, melainkan pagi hari sebelum keberangkatan. Selain itu, ketidakbiasaan ini dilengkapi dengan Aula Besar yang terlihat lebih penuh dari biasanya. Para shinigami yang masih belum kembali ke Soul Society tampak duduk di antara anak-anak keempat asrama. Meski masih banyak yang melempar tatapan ingin tahu, para shinigami itu jelas tak peduli. Para anggota Orde sebagian juga ada di sana. Hanya Kingsley dan Tonks yang sudah tidak ada di sana; pasti mereka sudah kembali ke Kementerian. Sirius, begitu melihat Harry datang dan langsung duduk di bangku meja Gryffindor segera menghampirinya.


"Aku akan segera pergi setelah ini," katanya pelan setelah duduk di sebelah Harry, membuatnya langsung menoleh terkejut. "Ada beberapa hal yang harus dilakukan."


"Kenapa terburu-buru begitu?" kata Harry tak setuju. "Kukira aku bisa kembali ke Grimmauld Place denganmu!"


Sirius tersenyum masam, "Tidak, Harry, kau harus pulang ke rumah bibi dan pamanmu dulu…"


"Tapi," sanggah Harry segera, "kukira setelah semua ini, dan Kementerian tahu kau tidak bersalah kau bebas?!" Harry mendorong piring roti daging asapnya, tampak jengkel. "Kukira akhirnya aku bisa meninggalkan Dursley selamanya."


Ichigo yang mendengarkan percakapan itu menoleh. "Sepertinya itu ungkapan yang agak berlebihan."


"Kenapa sepertinya kau tidak ingin kembali ke rumah paman dan bibimu itu?" tanya Rukia ingin tahu.


"Kenapa aku mau kembali ke tempat di mana tak seorangpun menginginkanku di sana?" kata Harry pelan.


Bahkan Byakuya Kuchiki mengerlingnya sekilas. Harry bisa merasakan tatapan dari sepasang iris abu-abunya seakan meng-x ray-nya.


Sirius menghela napas. Ia kelihatan sedikit lelah. "Aku tahu dari Lily kalau Muggle yang satu itu benar-benar menyebalkan. Tapi kau harus tinggal bersama mereka, Harry. Hanya beberapa minggu. Setelah itu, seseorang, atau mungkin beberapa orang, akan membawamu keluar dari sana. Aku tidak yakin untuk ke depannya kita bisa bertemu lebih sering, dengan Voldemort masih ada di luar sana."


"Yeah, lagipula mana bisa kau lewatkan musim panas hanya di rumah Muggle itu," timpal Ron. "Kau harus datang ke The Burrow! Musim panas dan Natal lalu kita di Grimmauld Place, kali ini harus di rumahku! Sori, Sirius, jangan tersinggung."


Sirius hanya menyeringai.


"Tapi kau mau pergi ke mana?" tanya Harry.


"Urusan Orde," kata Sirius kalem. "Selain itu akhirnya aku bisa keluar dari rumah suram itu dan Kreacher makin lama makin menjengkelkan."


"Kau masih memilikinya?" tanya Ichigo, sangat heran.


"Terlalu banyak tahu informasi Orde," gerutu Sirius pelan. "Coba saja kau sarankan dia tinggalkan rumah, dia akan mati berdiri karena kesetiaan butanya pada lukisan gila ibuku."


"Lukisan sinting itu masih di sana?" tanya Ichigo.


"Yeah. Mantra Perekat Permanen-nya benar-benar sempurna…"


"Perlu bantuan? Aku bisa pakai kidou dengan lumayan sekarang," tawar Ichigo, menyeringai.


"Kidou bukan untuk hal remeh macam itu, Ichigo Kurosaki," kata Byakuya datar.


"Ini bukan hal remeh," kata Ichigo. "Ayahku memasang poster besar ibuku di ruang tengah, satu-satunya yang tidak wajar hanyalah bagaimana Kambing Tua itu memujanya seperti maniak. Lukisan di Grimmauld Place itu lebih sinting daripada tingkah Kambing Tua digabung dengan Don Kanonji dan cerewetnya Kuukaku…"


"Nii-sama tahu tentang lukisan itu?" tanya Rukia ingin tahu.


Byakuya mengangguk sekali. "Ichigo Kurosaki, mod soul-mu."


Ichigo menatap Byakuya, tampak agak heran, "Ap-?!" Tapi Ichigo langsung mengedarkan pandangannya ke Aula. Dilihatnya Kon yang berusaha menyelinap ke bawah meja Ravenclaw.


"Haish!" Ichigo menggeratakkan giginya dengan jengkel. "Dasar Boneka Mesum!" Ichigo menarik keluar tongkat sihirnya dari balik jaketnya, mengacungkannya ke boneka singa lusuh itu, "Accio Kon!"


Kon melesat, seakan ditarik tali tak kelihatan, langsung ke tangan Ichigo. Boneka itu meronta-ronta, tapi gagal melepaskan diri dari cengkraman kuat si rambut jingga dan mulai berteriak-teriak dalam bahasa Jepang, yang sama sekali diacuhkan Ichigo.


"Inikah balasanmu setelah aku berpura-pura jadi dirimu selama kau ada di Inggris?!" kata Kon dramatis. "Nee-chan! Tolong aku!"


Rukia tampaknya berpikiran sama dengan Ichigo, mengacuhkan si Mod Soul dan memilih memakan supnya dengan anggun.


"Jadi, Ishida," Ichigo menoleh ke arah sepupunya itu yang baru saja menurunkan cangkir tehnya. Pemuda berkacamata itu menatapnya, memberi tatapan bertanya, "apa sudah ada informasi tentang kelulusan kita?"


"Beberapa minggu lagi,' kata Uryuu acuh. "Mengingat misimu di sini sudah selesai, aku tak berpikir tentang alasan kenapa kau tidak datang sendiri kali ini. Daripada itu," Uryuu mengambil ponsel dari sakunya. "aku sudah mendapatkan jadwal ujian masuk universitas untukmu."


"Wuah! Kau baik sekali!" Ichigo geleng-geleng kepala heran. "Itu ponsel biasa, 'kan? Harusnya tak bisa dipakai di sini."


Uryuu menatap Ichigo, "Urahara-san memasang pengalih energi sihir di ponsel ini. Nih, kau baca sendiri."


Ichigo menerima ponsel itu dan membaca data yang tertampang di layar ponsel canggih itu. "Ponsel keren… hasil kerja sambilanmu?"


"Diberikan ayahku."

__ADS_1


Ichigo langsung menoleh dengan kaget. tak hanya itu, Isshin juga menatapnya, tapi dengan tampang bloon.


"Kenapa dengan itu?" tanya Sirius pelan pada Orihime yang menggelengkan kepalanya dengan geli.


"Hubungan Ishida-kun dengan ayahnya tidak begitu baik selama ini, itu sudah jadi rahasia umum, well, untuk yang mengenal Ishida-kun paling tidak," kata Orihime.


"Tapi setelah perang besar beberapa waktu lalu, sepertinya semuanya membaik," kata Yoruichi pelan, sementara Ichigo dan Isshin sedang berkomentar dengan berisik dalam bahasa Jepang, dengan Uryuu yang tampak bosan. "Perang itu melibatkan kaum Quincy yang membalas dendam atas pembantaian kaum mereka beribu tahun lalu oleh para shinigami. Tak heran jika mereka membenci kami. Dulu dia juga begitu." Yoruichi mengedikkan kepala ke arah Uryuu. "Dia bertengkar terus dengan Ichigo, seperti anjing dan kucing. Bahkan dalam perang itu, dia memihak musuh…"


"Yang benar?" kata Harry terkejut.


"Dengan alasan," kata Yoruichi, tersenyum muram. "Ayahnya adalah Quincy berdarah murni sedangkan ibunya berdarah campuran. Di antara para Quincy, setiap Sembilan tahun sekali ada ritual khusus yang disebut _, Seleksi Suci. Para Quincy berdarah campuran yang tertulis namanya dalam daftar akan mati di hari itu."


Para penyihir yang mendengarnya terbelalak kaget.


"Uryuu Ishida dan ibunya masuk dalam daftar itu, tapi entah bagaimana hanya ibunya yang meninggal. Waktu itu Uryuu masih kecil, dia bahkan belum tahu banyak tentang Quincy. Dan Ryuuken sama sekali tak mengajarkannya tentang kemampuannya itu. Dia diajari oleh kakeknya."


"Bagaimana bisa begitu?" tanya Sirius heran.


"Aku tidak begitu mengenal Ryuuken," kata Yoruichi. "Tapi dari yang dikatakan Isshin, aku hanya bisa menarik kesimpulan, bahwa Ryuuken tidak mau lagi berurusan dengan segala hal tentang Quincy. Dia tak membenci para shinigami lagi, sejak Masaki Kurosaki diselamatkan oleh Isshin."


"Ah, ibunya Ichigo itu sepupunya ayah Uryuu itu, 'kan?" kata Mr Weasley.


Yoruichi mengangguk. "Sepertinya sejak kematian Katagiri, istrinya, dan kemudian ayahnya, hubungannya dengan Uryuu semakin memburuk saja. Uryuu bersikeras melatih kemampuan Quincy-nya, hal yang ditentang oleh Ryuuken. Tapi toh, sewaktu Uryuu mengalami kecelakaan yang membuat kemampuan Quiny-nya melemah, Ryuuken membantunya mendapatkannya kembali. Dan waktu perang dengan pemimpin Quincy yang bernama Yhwach itu, Ryuuken datang sendiri untuk menghentikan Uryuu." Yoruichi menghela napas. "Alasan kenapa Uryuu berdiri di samping musuh adalah untuk membalaskan sakit hatinya atas kematian ibunya yang tak adil itu."


Harry menatap wanita berkulit gelap itu dengan terkejut.


"Hanya karena terlahir sebagai Quincy, ibunya harus menerima takdir mengerikan. Dan mungkin, setelah menyadari apa yang terjadi, Uryuu juga menganggap bahwa lebih baik jika ia hanya anak biasa, bukan seorang Quincy. Ia bisa memahami kenapa ayahnya tak mau ikut campur dengan urusan dunia supranatural lagi. Terlalu banyak kesakithatian dan dendam, juga tragedi di balik eksistensi Quincy. Hanya saja, Uryuu begitu keras kepala." Yoruichi mendengus, terdengar penuh ironi. "Pada akhirnya, Ryuuken tak bisa meninggalkannya. Uryuu adalah putra tunggalnya. Ia tak bisa mengubah fakta bahwa ia adalah ayahnya." Apalagi, kata Yoruichi dalam hati, ia yang gagal menyelamatkan Masaki dan merelakannya diselamatkan oleh seorang shinigami, tak bisa melakukan apa-apa untuk menolong Katagiri, tak mungkin membiarkan dirinya gagal lagi untuk melindungi darah dagingnya sendiri.


"Kurosaki-san."


Ichigo menoleh, meninggalkan adu argumen dengan Uryuu yang bersungut-sungut jengkel di sampingnya. Ukitake berdiri di belakangnya, tersenyum. "Kau tahu di mana Shiro-chan?"


"Hm? Mungkin masih beres-beres? Rangiku-san agak ribut soal fashion dari tadi…"


"Kasihan sekali Komandan Hitsugaya," kometar Renji sungguh-sungguh.


Toushiro menyebutnya 'Tirani Mode Rangiku Matsumoto'. Obsesi letnannya pada dunia fashion tampaknya semakin akut saja dari hari ke hari. Tak puas hanya me-make over dirinya sendiri, wanita itu menjajal kemampuannya di bidang itu dengan menjadikan orang lain sebagai obyek make over-nya. Momo Hinamori sudah pernah menjadi manekinnya, Didandani sampai sedemikian rupa menjadi apa yang menurut Rangiku mirip dengan _ - siapapun itu, Toushiro tak mengenalnya dan ia tak mengenali Momo dalam dandanan itu jika bukan karena ia mengenali reiatsu-nya. Selain Momo, Rukia, dan beberapa perempuan lain yang sudah tak terhitung jumlahnya sudah mendapat apa yang disebut Rangiku sentuhan tangan ajaibnya. Yang membuat jengkel Toushiro adalah bagaimana bisa tangannya terampil untuk hal seperti itu sementara sangat payah di bidang masak memasak dan paperwork?!


Dan yang lebih menjengkelkannya lagi, Rangiku tak hanya mengincar me-make over perempuam, tapi juga dirinya! Berapa kali letnannya itu sok menceramahinya tentang hal tidak penting seperti itu?! Berapa kali, dalam misi di Dunia Manusia ia digerecoki Rangiku hanya karena soal penampilan?! Dan kali ini, bahkan hanya untuk kembali ke Kota Karakura setelah misi dari Hogwarts, dia kembali bertingkah!


Ia sudah diberitahu sebelumnya bahwa untuk menyesuaikan diri dengan reiatsu-nya yang meningkat drastis, ia harus tetap tinggal di Dunia Manusia selama dua minggu. Menyadari mengeluh dan protes tak ada gunanya – selain karena ini saran dari Senjumaru Shutara dan perintah dari Komandan Tertinggi - ia setuju dengan hal itu. Isshin langsung dengan gembira mengajaknya untuk tinggal di rumah keluarga Kurosaki selama ia di Dunia Manusia. Ia terpaksa setuju karena melihat tampang memelas yang dibuat-buat di wajah mantan atasannya itu membuatnya eneg, dan tak mau membayangkan seperti apa tampang Isshin jika ia menolak. Barangkali dia akan menangis sambil berguling-guling di lantai. Itu akan membuatnya dan Ichigo malu, bukan Isshin sendiri karena ia tahu pria itu bahkan tidak tahu apa itu malu.


Dan, setelah mengetahui bahwa komandannya akan tinggal di Dunia Manusia untuk sementara, awalnya Rangiku sedikit keberatan. Namun, beberapa saat kemudian otaknya dipenuhi ide aneh yang berhubungan dengan taicho-nya, harajuku, pakaian keren, dan hair gel.


Untungnya, walau sekarang ia dalam gigai – masih menggunakan Gelang Gigai Portabelnya karena menurutnya lebih nyaman digunakan – ia masih memiliki kelincahannya yang biasa. Ia sukses kabur dari sesi make over tanpa diketahui Rangiku yang waktu itu sibuk memilih baju untuk komandan mungilnya. Ia merasa t-shirt putih di balik kemeja merah marun yang kedua lengan panjangnya digulung sampai ke sikunya, dipadukan dengan celana jins putih dan sepatu kets putih tidak menjadikannya terlihat seperti kriminal.


Untungnya lagi, penemuan yang akhirnya cukup berguna yang dikembangkan Divisi 12 bernama Gelag Gigai Portabel itu menyembunyikan reiatsu-nya dengan sempurna. Ah, bahkan tanpa gigai-pun ia bisa membuat dirinya tak mudah dilacak oleh Rangiku. Ia hanya ingin menikmati jam-jam terakhir di Sekolah Sihir Hogwarts dalam ketenangan. Bukan karena nilai sentimental, hanya sedikit mengingat bahwa di tempat ini dia mengetahui siapa dia sebenarnya, apa takdir yang tertulis tentangnya, apa jalan yang terentang di depannya, juga rintangan besar yang menganga di sana.


Toushiro menghela napas. Padahal menjadi seorang komandan sudah cukup merepotkan!


Komandan Divisi 10 itu berhenti mendadak di tengah koridor yang sepi. Di depannya, Draco Malfoy juga berhenti, tampak terkejut melihat Toushiro yang berdiri lima meter di hadapannya. Wajah si Slytherin itu memucat, seakan melihat hollow buas. Draco langsung berbalik. Namun, sebelum ia melangkah, Toushiro menghentikannya.


"Tunggu, Malfoy."


Draco berdiri dengan ragu, masih tak berani berbalik arah. Toushiro berjalan mendekatinya.


"Jangan mendekat!" seru Draco dengan suara tercekat. Toushiro mengernyit, tapi ia menghentikan langkahnya. "Aku rasa tak ada yang perlu dibicarakan, Shinigami!"


Toushiro menghela napas. "Mungkin begitu menurutmu. Mungkin juga tidak."


Toushiro bisa mengerti kenapa Draco Malfoy bersikap seperti itu. Selama ini dia menganggap rendah dua siswa pindahan bohongan itu, terutama Toushiro. Agaknya anggapan itu belum berubah, tak mengubah ketidaksukaan Draco padanya sekalipun dia bukan orang hidup. Ditambah lagi, pertempuran Hogwarts membuat ayahnya yang seorang Pelahap Maut tertangkap dan sekarang mendekam di Azkaban. Mengingat Toushiro dan yang lainnya terlibat dalam pertempuran itu, tak peduli melihat yang mana yang benar dan yang mana yang salah, apalagi menyadari betapa naifnya Draco Malfoy, dia tetaplah seorang anak yang akan melihat ke arah ayahnya.


"Dan menurutku tidak ada apa-apa," kata Draco. Nada dinginnya terdengar tak peduli. Tapi, Toushiro mengenali kegentaran dan kepedihan di sana. Ia yang sering melakukan hal semacam itu tentu saja mengetahuinya. Dan Draco Malfoy masih terlalu dini untuk menguasai penyembunyian emosi.


Draco hampir melangkah pergi sebelum suara Toushiro kembali menghentikannya.


"Aku Komandan Divisi 10, Pasukan Investigasi Soul Society," kata Toushiro datar. "Aku punya dua ratus pasukan."

__ADS_1


"Kau mencoba mengancamku?!" Draco berbalik, menatap Toushiro dengan marah walau ia menyimpan ketakutan juga. Yang dilihatnya adalah Toushiro yang berdiri dengan sikap tenang, kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya. Tak ada tanda sama sekali bahwa remaja mungil di depannya adalah seorang pemimpin salah satu skuadron pelindung Dunia Roh.


"Untuk menjawab pertanyaanmu tadi, aku tidak mengancammu. Hanya memberitahumu sesuatu."


Draco menatap ke sepasang turquoise itu.


"Dengan jumlah pasukan sebanyak itu, aku bertanggung jawab atas mereka semua. Jika aku hanya tenggelam di ketakutanku sendiri, aku tak akan pantas berdiri untuk memimpin mereka. Dan aku tahu alasan atas tindakanmu dan itu cukup untukku," kata Toushiro tenang. "Tapi butuh lebih dari itu untuk mempermalukanku, Malfoy." Toushiro menatap lurus ke putra salah satu abdi setia Lord Voldemort itu. Untuk pertama kalinya, Draco bisa melihatnya, salah satu alasan kenapa Toushiro Hitsugaya berhak atas gelar komandannya; kewibawaan. Itu terlihat dari bagaimana dia menatapnya. Angkuh dan menaklukkan. "Rasa malu terbesarku bukan karena orang-orang mengetahui ketakutanku, melainkan kegagalanku untuk melindungi. Sedangkan kau, kau terpaku pada figur yang ada di depanmu dan tak melihat dirimu sendiri. Itulah ketakutanmu."


"Apa maksudmu?" Draco menatap shinigami muda itu dengan gentar.


"Kurasa sudah cukup jelas, Malfoy." Toushiro menghela napas lagi. "Hanya karena kau memenuhi sifat Slytherin, bukan berarti kau membuang siapa dirimu."


Draco menatap Toushiro tak percaya. Apa yang dia bicarakan?


Toushiro merasa yang ingin dikatakannya sudah tersampaikan semuanya. Dia tahu Draco Malfoy menyatakan perang sepihak pada dirinya. Perang yang mana peluru pertama ditembakkan oleh anak Slytherin itu, menjatuhkannya, tapi tak mampu menaklukannya. Toushiro yang tak pernah menembakkan peluru balasan, tapi ia tahu ia memenangkannya.


Draco Malfoy mundur, sebelum berbalik pergi dengan langkah cepat.


"Kata-kata bagus."


Toushiro tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang ada di belakangnya. Luna Lovegood ada di sana, tersenyum tipis sambil membawa setumpuk buku dan perkamen. Gadis Ravenclaw itu berjalan, dan berhenti di samping Toushiro.


"Sejak pertama kali melihatnya, aku tahu Draco Malfoy bingung. Dia kehilangan dirinya, tertutupi oleh semua hal tentang kebangsawanannya." Luna tersenyum aneh. "Walaupun dia memperlakukanmu dengan tidak baik, kau cukup baik untuk mengingatkannya."


"Hanya tidak suka pada anak yang tak tahu harus berjalan ke mana."


"Apa itu mengingatkanmu pada diri sendiri?" tanya Luna ringan, tapi cukup untuk membuat Toushiro menatapnya.


Gadis ini benar-benar… unik.


"Yah, Draco Malfoy tak hanya melupakan dirinya," sambung Luna melamun, "dia juga kesepian. Oh ngomong-ngomong, kau harusnya ada di Aula Besar."


Toushiro mengangkat alis mendengar peralihan percakapan mendadak ini. Ia mendengus pelan. Well, itulah Luna. "Kau juga harusnya ada di sana."


"Ah, aku mau meletakkan ini dulu." Luna mengangkat pelan buku-buku dan perkamen di tangannya. Toushiro melihat sepasang kaus kaki berwarna merah muda terjepit dia antara buku-buku itu.


"Kenapa kau bawa-bawa itu?" tanya Toushiro heran.


"Oh, anak-anak hanya menyembunyikan barang-barangku," kata Luna ceria. "Loony Lovegood, ingat? Sepertinya menyenangkan untuk mereka melihatku mencari ini semua…"


Toushiro mengernyit. "Itu bukan alasan untuk mereka mempermainkanmu."


Tapi Luna tetap tersenyum, senyum tanpa beban. "Tidak apa-apa. Aku tahu pada akhirnya ini semua akan kembali padaku. Selalu begitu."


"Ini sering terjadi padamu?"


Luna mengangguk, membuat anting-anting lobak putihnya mengayun. Tapi Toushiro merasa kesal. Sangat kesal.


"Mungkin bisa kucari tahu siapa pelakunya, mereka harusnya minta maaf padamu…"


Luna tertawa kecil. "Kau lucu sekali! Tidak perlu seperti itu! Oh, kau dan Ichigo akan kembali juga, kan? Aku punya sesuatu untuk kalian. Sebentar…"


Luna meletakkan buku-bukunya di tumpuan baju zirah di dekatnya, lalu menarik salah satu lembaran di antara tumpukan perkamennya. Dua buah amplop perkamen berukuran sedang dengan namanya dan Ichigo yang ditulis dengan tinta biru.


"Hadiah untuk sepuluh bulan yang mengagumkan," kata Luna riang.


"Kau tidak harus melakukan ini," kata Toushiro, menatap mata biru Luna yang ceria. Akan sangat melukainya jika tak menerima itu. "Kalau begitu, pertukaran."


Toushiro mencabut tongkat sihir dari sakunya. Ia membuat gerakan memelintir dan mengayun, membisikkan sebaris mantra ke udara. Partikel air di sekitarnya berkumpul di depannya, memadat, dan membentuk sesuatu. Toushiro menjentikkan tongkat sihir putihnya, dan bentuk air itu menjadi jelas. Seekor elang dengan kedua sayap yang terentang yang seukuran setengah telapak tangan. Toushiro membuat gerakan menyapu pelan, dan elang air itu membeku, membuatnya berkilau seperti berlian, menjadi sebentuk lencana.


Toushiro menangkap elang es itu, lalu memberikannya ke Luna.


Luna menatap elang es itu dengan takjub. "Ini… ini bagus sekali."


"Kemampuanku adalah memanipulasi air dan es," kata Toushiro. "Selama ada di Hogwarts, aku melakukan beberapa percobaan, yang memungkinkanku untuk melakukan sedikit trik dengan tongkat sihir berdasarkan kemampuan alamiku. Es itu tidak akan membeku ataupun pecah." Toushiro tersenyum sedetik. "Hadiah untukmu."


Luna menatap Toushiro dengan mata berbinar. "Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2