Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 41


__ADS_3

"Ah, si perempuan aneh itu…" keluh Shinji. "Aku hampir berharap lebih baik Kirio-san saja…"


"Apa maksudmu? Perempuan itu menamparmu begitu dia baru turun dari Tenchūren *)," komentar Yoruichi.


"Bagaimana kau tahu?" sambar Shinji.


"Jangan konyol, aku kenal sifat Kirio-chan…"


"Dia sudah di sini," kata Byakuya. Komandan Divisi 6 itu menatap Toushiro, lalu ke Hyourinmaru. Naga-yang-mengambil-wujud-manusia itu balik menatapnya. Tentu saja Hyourinmaru akan tetap di samping Toushiro. Dari penjelasan singkat sebelumnya, ia tahu bahwa Toushiro belum bisa berkomunikasi kembali dengan Hyourinmaru melalui inner world. Byakuya memberi anggukan setuju. Menghadapi utusan dari sekelompok shinigami yang merupakan penjaga Soul King bukan hal mudah jika tanpa zanpakuto.


Bunyi kelotak yang berirama, seakan ada sandal kayu yang melangkah di lantai pualam Hogwarts terdengar mendekati Aula Depan. Seluruh yang ada di Aula, penyihir atau shinigami seakan menahan napas, menunggu kemunculan entah siapa yang jelas semakin dekat.


"Kita bertemu lagi, Gotei 13."


Suara asing seorang perempuan membuat semua mata terarah ke pintu depan Aula. Seorang wanita berdiri di sana, dalam pakaian shinigami yang sama dengan para komandan, dengan tambahan semacam mantel putih yang membuat kedua lengannya tertutupi. Ia memakai okobo – sandal dengan penyangga tinggi – yang membuat wanita itu tampak lebih tinggi dari sekitarnya. Wajahnya cantik, namun ada kesan aneh yang sulit digambarkan dengan kata-kata di sana, selain kecantikan yang mistis. Rambut hitamnya digulung anggun, dihiasi dengan sesuatu yang tampaknya seperti mahkota keemasan dengan hiasan seperti bulan sabit.


"Shutara-san," sapa Ukitake ramah. "Kejutan menyenangkan. Kau merepotkan diri datang ke Hogwarts."


"Tidak masalah. Sudah lama sekali aku tidak turun ke Dunia Manusia, terlebih ke Dunia Sihir," kata Shutara tenang, dengan gaya bicaranya yang sedikit lambat namun menimbulkan kesan anggun.


"Aku masih tak berpikir urusan ini perlu melibatkan Zero Division," kata Genjiro tajam.


Shutara melempar senyum ganjil ke arah utusan Centra 46 itu, "Kami tidak melibatkan diri. Aku hanya datang sebagai penyampai pesan dari Yang Mulia Soul King – Raja Arwah."


"Pesan dari Yang Mulia?" ulang Ukitake sama terkejutnya dengan semuanya.


Tapi Shutara menatap Hyourinmaru, tersenyum misterius. "Dan setelah berabad-abad, kita bertemu lagi, Penguasa Langit."


Toushiro menatap Hyourinmaru, tampak agak terkejut. "Kukira pertemuan di King's Realm sebelumnya adalah yang pertama? Dan… 'Penguasa Langit'?"


"Tidak, Master." Hyourinmaru balas menatapnya. "Lebih lama dari itu. Di kehidupanmu yang sebelumnya. Tapi anda tidak akan mengingatnya."


"Tentang reinkarnasi itu?" tanya Toushiro, mengernyit.


"Ah, kau menyinggung topiknya!" kata Shuutara senang. Para shinigami menatapnya. "Pesan Yang Mulia berhubungan dengan siapa dirimu yang sebenarnya, Toushiro Hitsugaya. Ini, lebih tepat disebut dengan pesan balas budi."


"Apa?" Toushiro tampak bingung, begitu pula yang lainnya. Hanya Hyourinmaru yang tanpa ekspresi.


"Kurasa, kita bisa bicarakan ini di tempat yang lebih… personal. Tidak akan lama." Shutara mengedikkan kepalanya, lalu menatap Isshin. "Kau bisa ikut sebentar, Isshin Shiba? Ada pesan khusus yang harus kusampaikan padamu."


Isshin menyeringai, "Apa gerangan yang ingin kau sampaikan?"


"Kau akan tahu."


Wanita itu berbalik, dan berjalan menuju ke pintu ganda Aula Besar. "Kau tak perlu mengikutinya, Hyourinmaru. Jangan cemas, tak akan ada bahaya yang kubawa untuknya."


Hyourinmaru menatap Master kecilnya, yang mengangguk. Pria berambut hijau itu tetap berdiri di tempat, sementara Toushiro mengikuti Shutara dan Isshin keluar Aula.


"Kenapa kau tidak memaksanya agar kau tetap dengan Taicho?" tanya Rangiku panik.


"Karena aku percaya padanya," sahut Hyourinmaru singkat.


Toushiro, yang telah cukup menghafal kastil Hogwarts menemukan tempat yang ia cukup yakin memberi ruang privasi. Sebuah ruangan kelas tak terpakai di lantai tiga. Lagipula, ia tahu semua murid di Hogwarts masih ada di Aula Besar.


"Nah, langsung ke pokok masalah," kata Shutara ringan. Toushiro sedikit terkejut merasakan gelombang energi meluas, menyelubungi ruangan itu; kekkai pelindung. Mendadak Toushiro merasa kakinya tak lagi menjejak lantai pualam. Tangan-tangan boneka ganjil memegangi kedua lengannya dan pinggangnya. Komandan Divisi 10 itu menatap Shuutara dengan kaget.


"Shutara! Apa yang kau lakukan?!" seru Isshin, sama terkejutnya.


Shutara tersenyum misterius. Tangan-tangan boneka buatannya mengangkat komandan mungil itu lima senti lebih tinggi di depannya. "Kau lebih kecil dari terakhir kali aku melihatmu. Ah, itu bukan masalah besar, sebetulnya."


Toushiro berusaha melepaskan diri, tapi percuma. Tangan-tangan boneka yang terlihat rapuh itu lebih kuat dari perkiraan siapapun. Bukan hal yang mengherankan, sebetulnya, Senshumaru Shutara menjadi anggota Zero Division karena sesuatu, bukan?


"Apa sebenarnya yang-?!"


Dua lengan lagi muncul dari balik lipatan mantel Shutara, bergerak ke arah Toushiro. "Membantu meringankan bebanmu."


"Ap-?!"


Salah satu lengan itu bergerak ke dahinya, menyibak poni rambutnya. Dirasakan oleh Toushiro tekstur halus jari-jari kayu tangan boneka itu. Senyum misterius Senshumaru Shuutara tersungging, sementara tangan boneka yang lain bergerak ke dadanya. Dan kemudian, semua tangan itu berpendar dalam warna keemasan; ada aliran reiatsu ganjil terasa oleh Toushiro, menembus semua pori-pori kulitnya.


"Kami tahu bahwa takdir yang mengikatmu itu terlalu cepat untuk kau ketahui… Sisa waktumu akan kau gunakan untuk menanggung semuanya."


Toushiro menatap Shutara dengan mata melebar.


"Izinkan kami membantumu, menjalani takdirmu dengan cara yang lebih baik… Setelah ini semua mata tak akan melihatmu dengan sama. Bahkan dirimu sendiri…."


"Hollow-nya…."


"Akan jadi pilihanmu apakah kau memutuskan untuk tenggelam atau bangkit dari kegelapan itu. Kami hanya bisa membantu untuk satu hal. Dan ini keinginan Raja Arwah, untuk berterima kasih padamu."


"Hah?"


"Kau akan menerima penjelasannya nanti, Penjaga Surga. Untuk sekarang, aku harus melepaskan beban pertamamu." Ujung jari yang menempel di dahinya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Pada saat yang bersamaan, tangan boneka yang bergerak di dadanya terasa menusuknya, mengirim rasa sakit yang sama saat zanpakuto Gilbert Ciro menikamnya.


"Shutara!" seru Isshin terkejut.


"Tetap di tempat, Isshin Shiba!"


Isshin harus menahan dirinya untuk tidak menarik Toushiro dari 'jeratan' tangan-tangan boneka Shutara. Itu membutuhkan seluruh pengendalian dirinya, apalagi melihat ekspresi kesakitan Toushiro, yang tepat saat itu mengejang; tangan boneka itu menghujam masuk ke dadanya, yang terlalu sakit sampai ia tak mampu bersuara.


"Sedikit lagi," gumam Shutara. Wanita itu merapal mantra entah apa, membisikkannya. Pada saat yang sama, pada daerah dada, tepat di dekat jantung si rambut putih, tangan boneka itu berubah pendarnya dalam cahaya keperakan. Dan kemudian, tangan boneka itu di tarik keluar perlahan. Sebentuk bola kristal yang sangat tak asing bagi Isshin digenggam oleh tangan itu. Keterpanaan Isshin Shiba harus disingkirkannya saat itu juga. Toushiro tak sadarkan diri, hanya dipegangi oleh tangan-tangan boneka Shutara, terlihat seperti boneka tangan rapuh yang tak digerakkan dalangnya.


"Shutara… kau…."


"Hougyoku ini adalah penghalangnya." Shuutara menatap Isshin, tersenyum tanpa kesan misteriusnya. "Dia bisa tidur dengan tenang sekarang."


Di Aula Besar, Hyourinmaru tersentak, seakan ada cemeti yang melecutnya. Ini, tentu saja tak luput dari perhatian para komandan.


"Hyourinmaru?" tanya Ukitake. Roh zanpakuto berambut hijau itu menatap sang Komandan Divisi 13. Ukitake melihat sesuatu di mata abu-abu itu. "Ada apa?"


"Master…"


Hyourinmaru menatap ke pintu Aula. Namun, sebelum ia bergerak, seseorang menahannya. Sepasang tangan mencengkram lengan kanannya yang membeku dalam cakar es. "Hinamori-san?"


Mata coklat gadis itu menyiratkan ketakutan dan kecemasan. Di belakangnya, Rangiku Matsumoto menampilkan ekspresi yang sama.


"Aku harus pergi sekarang," kata Hyourinmaru.


"Hitsugaya-kun…?"


Hyourinmaru melepaskan perlahan tangan gadis itu. "Percaya padanya, Hinamori-san. Waktuku sudah habis. Master memanggilku."


Para shinigami tampak seakan melihat cahaya yang sangat terang dan mengejutkan mereka. Para penyihir yang masih belum mengerti apa yang terjadi menjadi bertambah bingung. Dan, detik berikutnya, sosok Hyourinmaru mengabur dalam cahaya putih keperakan, yang kemudian memadat, dan pecah menjadi sesuatu seperti bubuk berlian, menguarkan hawa dingin yang sangat mirip dengan kehadiran Komandan Divisi 10. Banyak penyihir yang berdecak kagum melihat transformasi itu.


"'Master memanggilku'?" ulang Urahara, tampak terkesan. "Shutara-san benar-benar sesuatu."


"Dengan kata lain," kata Byakuya, menoleh untuk menatap Genjiro Shitara, "pesan dari Yang Mulia Raja Arwah adalah tak ada eksekusi mati terhadap Toushiro Hitsugaya."


Shitara menghela napas. "Sepertinya seperti itu."


Ichigo mengepalkan kedua tangannya, menyeringai senang, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak melonjak kegirangan. "Yes! Yes!"


"Apa aku melewatkan sesuatu?"


Mereka semua menoleh. Kyouraku sudah kembali, bersama Dumbledore, Menteri Sihir, dan Umbridge. Kyouraku tersenyum melihat kelegaan di wajah para shinigami-nya; Rangiku dan Momo bahkan sampai menangis saking leganya.


"Aku tadi merasakan reiatsu teman lama… Shutara-chan datang, ya?"


"Halo, Kyouraku."


Langkah ringan Senshumaru Shutara walaupun ia memakai sandal setinggi dua puluh senti itu tak menyulitkannya berjalan memasuki Aula Besar. Wanita itu menatap ke langit-langit sihiran yang menampilkan langit cerah yang sama dengan di luar. Wanita itu tersenyum menatap Dumbledore.


"Sihir yang luar biasa. Istana Yang Mulia juga punya yang seperti ini. Tapi ini, dibuat oleh manusia, mengagumkan," kata Shutara memuji.


"Terima kasih, My Lady," kata Dumbledore, membungkuk sopan. "Tapi boleh kutahu siapa anda?"


"Senshumaru Shuutara, utusan dari Zero Division, penjaga Yang Mulia Raja Arwah."


"Suatu kehormatan," kata Dumbledore, membungkukkan dirinya sedikit dengan sopan.


"Ngomong,-ngomong, ayahku mana?" tanya Ichigo. "Toushiro juga?" Ichigo menatap Shuutara penuh selidik. "Kau tidak membawanya lagi ke King's Realm, 'kan?"


Shuutara tersenyum miring. "Aku tidak datang karena itu, Ichigo-chan."


Renji dan Ikkaku menatap Ichigo, mengulang nama Ichigo-chan tanpa suara dengan wajah berkeriut menahan tawa.


"Kau sudah selesai dengan pembicaraanmu?" tanya Ukitake ramah.


Shuutara mengangguk sekali.


"Kurasa Yang Mulia sudah mengetahui bahwa anak itu memiliki Hougyoku?" kata Genjiro, "dan memutuskan untuk melepaskannya?"


"Ah, maksudmu benda ini?" Semua mata memandang sebuah kristal seukuran Snitch di tangan boneka yang muncul dari lipatan kain di punggung anggota Zero Division itu. Tentu saja, semua shinigami menampilkan keterkejutan.


"Bagaimana kau mengambilnya?" tanya Urahara, suaranya berubah serius "Kami tak bisa melakukan apa-apa untuk mengambil itu darinya tanpa membahayakannya!"


"Sedikit menyulitkan memang," kata Shuutara, masih sama tenangnya. "Benda ini hampir menyatu dengan reiatsu-nya. Aku harus bisa memisahkan yin yang Hitsugaya dengan yin yang Hougyoku ini tanpa merusak jiwanya. Tapi aku berhasil melakukannya."


"Dimana dia?" tanya Rangiku cemas. "Apa dia tidak apa-apa?"


"Isshin membawanya kembali ke rumah sakit. Menurutnya, dia seharusnya tetap di sana sampai benar-benar sehat. Dan, ya, dia baik-baik saja."


"Dan kenapa Soul King meloloskannya dari hukum yang beliau buat sendiri untuk para shinigami?" tanya Genjiro.


Shutara menatap perwakilan dari Centra 46 itu, lalu ke para shinigami yang jelas sama penasarannya. Wanita itu juga mengedarkan pandnagan ke para penyihir. Ini, bukan sesuatu yang perlu diketahui manusia, penyihir sekalipun.


"Aku akan jelaskan. Tapi," Shutara tersenyum pada Dumbledore, "maaf, tapi ini hal yang manusia tidak perlu mengetahuinya."


"Tentu saja," senyum Dumbledore. "Mr Kurosaki atau Mr Urahara bisa menunjukkan tempat untuk kalian membicarakan masalah ini lebih privasi."


Dan pilihannya adalah kantor Urahara, lagi.


"Toushiro Hitsugaya sudah melakukan hal yang menyelamatkan Soul King," kata Shutara tenang, setelah mereka semua berkumpul di kantor Urahara yang luas, memberikan informasi yang mengejutkan mereka semua. "Saat Yhwach menerobos masuk ke King's Realm, mengalahkan kami, dan bertanggung jawab atas sekaratnya Soul King, Toushiro Hitsugaya-lah yang membuat Soul King bertahan hidup."

__ADS_1


"Apa?" Genjiro tampak terkejut.


"Wah, sangat mengejutkan," kata Shinji, antara terpesona dan terkejut.


"Bagaimana bisa begitu?" tanya Renji heran.


"Jika ada roh yang diawasi oleh Soul King, itu adalah roh reinkarnasi dari sang Penjaga Surga," kata Shutara tenang, namun membuat para shinigami kembali terkejut mendengarnya. "Selama beberapa abad, keberadaan penerus roh itu selalu di bawah pengawasan kami dan Yang Mulia. Kami harus memastikan dia tak memihak kubu yang salah."


"Apa maksudnya itu?!"


"Kami membawanya ke King's Realm setelah perang usai bukan hanya untuk menyembuhkannya," kata Senshumaru Shuutara, tersenyum miring lagi. "Fakta bahwa dia adalah reinkarnasi dari Penjaga Surga adalah alasannya. Keberadaannya di King's Realm, walau dalam kondisi sekarat, adalah hal yang dibutuhkan untuk menyelamatkan Soul King. Reiatsu-nya, walaupun tipis, beresonansi dengan reiatsu Soul King, memulihkan Yang Mulia di luar pemahaman siapapun. Yang sebenarnya melindungi Dunia Roh disimbolkan denganRaja Arwah, tapi kekuatan perlindungannya, dibagi dengan si Penjaga Surga. Kejatuhan sesungguhnya yang direncanakan para Quincy itu terhadap Soul Society, Dunia Manusia, Hueco Mundo, dan Dangai tak akan semudah itu terjadi hanya dengan kematian Yang Mulia. Selama salah satu dari mereka masih bertahan, keseimbangan dimensi masih punya harapan. Begitulah kisah sebenarnya dari Penjaga Surga."


"Jadi begitu," kata Kisuke, pemahaman merayapi wajahnya. "Soul King – Raja Arwah – dan Heavenly Guardian – Penjaga Surga – pada dasarnya adalah pelindung sebenarnya dari Dunia Roh dan Dunia Manusia, dan kita, para shinigami, adalah tentaranya."


"Tepat sekali," kata Senjumaru.


"Tak kusangka legenda itu memang benar adanya," kata Ikkaku.


"Dia memang memenuhi semua cirinya," kata Kyouraku. "Mata turquoise, rambut putih, dan…."


"Kekuatannya," sambung Shuutara ringan.


"Kekuatannya?" tanya Ichigo. "Kekuatan apa?"


"Setiap reinkarnasi Penjaga Surga memiliki kekuatan yang sama, pemegang dari roh zanpakuto terkuat, Hyourinmaru." Shutara menatap Ichigo. "Kau tahu bahwa Yhwach juga keturunan dari Yang Mulia, bukan? Lambang yang digunakan para Quincy, itu modifikasi dari lambang kerajaan utama. Dan bukti ketiga yang menjadi tanda seorang penjaga surga, adalah lambang yang merupakan representasi kekuatan Hyourinmaru; bunga berbentuk salib, atau bunga dengan empat kelopak. Ini adalah bukti keterkaitan antara Yang Mulia dan Penjaga Surga."


"Holy shit!" ujar Ichigo takjub. Ketakjuban yang sama yang tertera di wajah hampir seluruh wajah para shinigami.


"La-lalu bagaimana Komandan bisa memulihkan Soul King?" tanya Rangiku tak mengerti. "Waktu itu… bahkan… bahkan…." Rangiku tak sanggup menyelesaikan kata-katanya, terlalu pilu mengingat itu.


"Aku tahu," kata Senshumaru, "harapan hidupnya bahkan nyaris nol. Itu juga pilihan sulit untuk kami, karena keduanya, Soul King dan Heavenly Guardian, sama-sama dalam kondisi mengkhawatirkan. Resonansi reiatsu adalah satu-satunya cara yang bisa digunakan untuk menyelamatkan satu sama lain. Jika resonansi reiatsu gagal, keseimbangan seluruh dunia adalah taruhannya, taruhan terparah selain kematian keduanya. Tapi," Senshumaru tersenyum misterius, "anak itu menunjukkan pada kami hal yang mengejutkan. Dia tidak menyerah. Dia mungkin tidak menyadari apa yang telah dia lakukan. Kami belum membuka segel utamanya, tapi tanpa itu, jantungnya masih berdetak."


"Sudah kubilang, Bocah itu terlalu keras kepala untuk mati," celetuk Shinji. "Tunggu, tadi kau bilang segel utama? Segel apa?"


"Segel yang memblokir kemampuan sebenarnya sebagai Penjaga Surga, tentu."


"Apa?!"


Para shinigami menatap Shutara dengan keterkejutan baru.


"Kalau begitu selama ini…"


"Reiatsu-nya selama ini hanya seperlima dari reiatsu aslinya. Kami, Zero Division menyegel kekuatannya atas perintah Soul King. Dia dulu tinggal di Rukongai setelah kematian manusianya. Terlalu berbahaya jika membiarkannya di sana dengan reiatsu sebesar itu. Bukankah dengan reiatsu seperlimanya dia masih belum bisa mengendalikannya? Terlalu muda untuk itu, dan dia bisa membunuh dirinya sendiri karena dia masih belum siap. Kami melakukan penyegelannya, tapi dia tak akan mengingatnya. Memorinya tentang itu, kami menghapusnya."


"Ini gila," kata Ichigo tak percaya.


"Dan tadi aku membuka segelnya," kata Senjumaru ringan.


"Kau-APA?!" seru Yoruichi kaget.


"Sudah waktunya dia memenuhi takdirnya," kata Senshumaru tenang. "Menyingkirkan Hougyoku darinya memiliki konsekuensi, yaitu terbukanya segel itu, sebab menarik Hougyoku darinya memerlukan jumlah energi yang besar. Dia memang masih memiliki kemampuan hollow itu, maka," Senshumaru menatap Shinji, "latih dia mengendalikan sisi gelapnya. Juga," wanita itu menatap Ukitake, "persiapkan dia mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Hyourinmaru sudah memberitahukan wujud bankai-nya yang sebenarnya, itu berarti Toushiro Hitsugaya sudah siap untuk melatih kemampuannya yang sesungguhnya. Mungkin akan memerlukan waktu berdekade-dekade, malah mungkin berabad-abad untuk menyempurnakannya. Tak masalah. Dia masih punya banyak waktu."


"Kenapa kau tidak bawa dia ke King's Realm?" tanya Ukitake serius. "Bukankah kalian bisa melatihnya sendiri? Jika keberadaan sepenting Penjaga Surga…."


"Karena, Penjaga Surga kali ini dibesarkan sebagai shinigami, maka dia harus berlatih seperti shinigami. Lagi pula aku tahu, Toushiro Hitsugaya tidak ingin meninggalkan Seireitei, dan kami menghargai keputusannya untuk tinggal." Senshumaru tersenyum misterius lagi. "Jika semua berjalan lancar, dia akan jadi salah satu shinigami terbaik yang dimiliki Gotei 13."


"Apakah," kata Ukitake serius, "kalian mempertimbangkan menjadikannya sebagai salah satu dari Zero Division di masa depan?"


Rangiku terkesiap kaget.


"Ah, pemikiran yang menyenangkan," kata Senshumaru tenang. "Tapi terlalu dini memikirkan masa depan. Nah, daripada memikirkan itu, aku perlu memberitahu beberapa saran. Setelah kalian selesai dengan urusan Hogwarts, suruh dia untuk tinggal di Dunia Manusia selama dua minggu. Dia perlu beradaptasi dengan reiatsu-nya yang meningkat drastis dengan menekannya di gigai. Dan beri dia ini setelah dia bangun nanti. Ini dari Kirio-chan." Shuutara memberi sebuah kotak kecil pada Ichigo. "Makan satu reiatsu-nya akan stabil. Makan yang kedua semua cederanya akan pulih. Makan yang ketiga koneksinya dengan Hyourinmaru akan lebih baik lagi."


"Hah?" Ichigo mengerjap terkejut.


"Nah urusanku sudah selesai di sini. Aku harus segera kembali ke Istana," kata Shuutara, berbalik. "Ah. Hampir lupa." Ia menatap Rangiku dan berjalan ke arahnya. Tangan-tangan bonekanya terulur ke arah Letnan Divisi 10 itu, menyerahkan sebuah haori dengan kanji sepuluh yang terlipat rapi padanya. "Ini untuk Komandanmu. Kudengar haori yang lama sudah rusak, jadi aku membuatkan yang baru untuknya."


"A-ano… Te-terima kasih…" kata Rangiku gugup sambil menerima haori itu.


"Dan katakan salamku untuknya. Aku belum bilang bankai barunya benar-benar mengagumkan." Senshumaru memberi anggukan sekali padanya. Sebelum ia mulai berjalan pergi, Rangiku berkata dengan gemetar.


"Dia a-kan b-baik sa-saja?"


"Tentu saja." Senshumaru berbalik, tersenyum pada wanita itu. "Dan tentu, aku juga harus berterimakasih padamu, sebagai perwakilan dari Zero Division, atas segalanya."


"Maaf?" tanya Rangiku tak mengerti.


"Untuk pertemuanmu dengan Toushiro Hitsugaya di Distrik 1 Junrinan tiga puluh tahun yang lalu," senyum Senshumaru. "Kau telah membantunya menemukan jalannya. Kau telah membantunya menemukan takdirnya."


"Tapi dia tidak ingin menjadi shinigami," bisik Rangiku.


"Terkadang, sungguh mengagumkan bagaimana seseorang yang diserahkan sebuah tanggung jawab besar yang tak pernah diinginkan kepadanya bisa mengemban tanggung jawab itu dengan sangat baik," kata Senshumaru. "Aku menyesalkan karena harus melihatnya menanggung beban itu, pada roh yang begitu muda. Tapi, Toushiro Hitsugaya hidup dengan luka dan penderitaan, yang justru membuatnya berbelas kasih. Aku senang melihat Penjaga Surga adalah dia, yang masih bisa berdiri tegak di atas semua itu."


"Bisa kau percaya itu, perempuan aneh itu salah satu penjaga 'Raja' mereka!" bisik Ron antusias.


"Kau mendengarnya, Ron. Mereka bilang begitu, maka benar begitu," kata Sirius. Tapi Sirius menyeringai dari bangku di meja Gryffindor, mengerling ke arah meja para guru di mana Cornelius Fudge duduk di sana dan menatapnya dengan waspada. "Pak Menteri jelas tidak senang. Dia melihatku tapi tak bisa menangkapku."


"Kenapa dia mau menangkapmu?" tanya Uryuu ingin tahu. Ia dan Orihime tidak mengikuti rekan-rekan shinigami lain mendengarkan penjelasan Shutara.


"Dan tentang apa yang terjadi pada si Toushiro," kata Tonks, menatap Uryuu dan Orihime bergantian, "apa tentang reinkarnasi itu benar ada? Dan siapapun yang disebut 'Penjaga Surga' itu benar-benar hebat?"


"Entahlah," kata Uryuu pelan, terdengar tak peduli sementara Orihime menggeleng. "Aku memang mengenal shinigami, tapi tidak dengan segala hal. Jujur saja, cerita tentang Penjaga Surga itu juga baru kudengar. Dan, melihat reaksi Centra 46 dan Zero Division, kemungkinan ini adalah hal penting dan agak rahasia." Uryuu menatap para penyihir, "Lebih baik tidak menyebarkannya."


"Benar," timpal Orihime. "Mungkin saja Toushiro-kun akan dapat kesulitan. Eh… malah sudah, ya…."


"Oi, Mata Empat."


Uryuu menoleh jengkel. Grimmjow dan Ulquiorra kembali memasuki Aula Besar, dengan para siswa yang langsung menjauhi mereka takut-takut. Harry melihat sekilas ke meja guru; Fudge berjengit melihat kedatangan dua Arrancar itu, menatap ngeri pada tanduk di sisi kanan kepala Ulquiorra dan sebagian topeng seperti rahang di sisi kanan wajah Grimmjow.


"Apa?" tanya Uryuu ketus.


"Aku merasakan reiatsu yang besar tadi," kata Grimmjow, mengabaikan ketidakramahan Uryuu. "Ada yang datang, 'kan?"


"Ya. Tapi siapapun itu, itu tidak ada hubungannya denganmu."


"Huh. Memang tidak. Tapi kau merasakannya juga, kan? Reiatsu Bocah Es itu kembali."


Uryuu terbelalak terkejut. Bukanya Urahara bilang reiatsu Komandan Divisi 10 itu disegel untuk sementara? Tunggu… Benar! Reiatsu beku sekuat ini, tak salah lagi adalah reiatsu Toushiro Hitsugaya! Dan… bagaimana bisa tekanannya lebih tinggi dari sebelumnya?!


"Ha! Kau bertanya kenapa kami merasakannya lebih dulu, eh?" Grimmjow menyeringai. Tapi kemudian Ulquiorra yang berbicara.


"Kami merasakan kekuatan hollow-nya juga ikut terbangun begitu reiatsu-nya dilepaskan." Orihime terperanjat mendengarnya. "Tapi dia langsung menekannya. Kurasa tidak ada tanda-tanda hollowfikasi."


"Bocah itu lumayan juga ternyata," komentar Grimmjow, tampak senang. "Jelas duel dengannya akan mengasyikkan! Ha! Kira-kira apa dia kan melepaskan hollowfikasi-nya… lebih cepat atau lebih lama dari Ichigo? Lebih baik lebih cepat, pertarungan lebih serius dan menarik dengan itu!"


"Aku hampir berharap langsung hollowfikasi sempurna dan dia langsung melenyapkanmu," kata Ulquiorra datar.


Uryuu mendengus pelan, Orihime sedikit berjengit, sebelum mengeluarkan suara seperti batuk kecil, sementara Grimmjow menatap galak Ulquiorra. Si Arrancar pucat itu tampak tak peduli. Sungguh mengherankan, Ulquiorra Cifer yang jelas sekali lebih kecil bisa menandingi kesan beringas dan intimidatif dari Grimmjow yang bahkan lebih jangkung dari Renji Abarai.


"Katakan bagaimana rasanya dibantai oleh shinigami yang ber-hollowfikasi sempurna?" ejek Grimmjow.


"Menarik," kata Ulquiorra pendek.


"Yeah… Dan terbunuh oleh Kepala Wortel itu?"


"Dia tidak membunuhku," kata Ulquiorra, masih sama kalemnya. "Itu pertarungan yang tak pernah terselesaikan."


"Hebat. Kenapa tidak lanjutkan saja?" seringai Grimmjow, penuh pancingan. "Tidakkah kau dendam?"


Ulquiorra menatap Grimmjow. Mata hijau zamrudnya tak menampilkan apa-apa. "Meskipun kita bukan Espada lagi, kau pasti mengingat kenapa Aizen memilih kita, dan mengurutkan kekuatan kita dari nol sampai sembilan. Kita memiliki alasan eksistensi, yang mewakili sepuluh penyebab kematian manusia. Kau, yang Keenam, mewakili Kehancuran. Aku, yang Keempat, mewakili Kehampaan." Grimmjow menatap Ulquiorra dengan mata menyipit, sementara seluruh Aula terdiam. "Kau mengerti? Kehampaan. Aku tidak merasakan apapun. Dendam? Aku tidak merasakan emosi sampah macam itu."


"Cara bicaramu masih saja seperti itu."


Ichigo memasuki Aula, bersama Rukia dan Ukitake. Ekspresi ketiganya tampak tenang; Ichigo malah nyengir dengan senangnya.


"Tidak salah. Masih saja menganggap semua orang kecuali dia seperti sampah," kata Grimmjow jengkel.


"Kau masuk hitungan kalau begitu," kata Ichigo ringan. Grimmjow menatapnya garang. Namun tepat saat itu Rukia menghantamkan tinjunya ke rahang Ichigo, membuat si rambut jingga langsung menggerung kesakitan.


"Apa-apaan Rukia?! Sakit tahu!"


"Jangan memprovokasi, Bodoh!"


"Aku tidak dalam wujud shinigami! Kalau kau tidak tahu, biar kukasih tahu, sakitnya dua kali lipat dari biasanya!"


Memang benar, saat itu Ichigo tidak dalam wujud shinigaminya. Ia masih memakai pakaian Muggle-nya yang semalam.


"Bagus! Dengan begitu kau akan ingat untuk tidak macam-macam."


"Anak-anak," kata Ukitake ramah. Baik Rukia maupun Ichigo menoleh, seakan baru menyadari kalau Ukitake ada di sana.


"K-Komadan! Ma-maaf!" kata Rukia segera, membungkuk." Ichigo hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Ichigo!"


Ichigo nyaris terlonjak kaget mendengar suara ayahnya. Ia menoleh segera dengan waspada. Isshin sedang bergegas mendatanginya, ekspresi wajahnya tegang dan serius.


"Pertemuan keluarga! Sekarang!"


"Ha-apa?!" Ichigo terbata, kaget.


"Cepat!"


"Apa maksudnya dengan pertemuan keluarga?! 'Kan cuma aku dan kau!"


"Justru karena kau, makanya aku perlu bicara; kau anak tertua, tahu!" Isshin menarik Ichigo pada kerah bajunya. "Kita beritahukan Yuzu dan Karin nanti begitu pulang ke rumah! Ini kode merah Keluarga Kurosaki!"


"Kita tidak punya kode merah!"


"Sekarang punya!"


"Sekarang," kata Ukitake, terdengar geli sementara suara Ichigo yang terdengar seperti tercekik mengumpat-ngumpat masih mereka dengar sedang bergema di koridor, "mereka benar-benar terlihat seperti para Shiba yang lainnya."


"Sialan," gerutu Grimmjow jengkel. "padahal tadi kesempatan bagus untuk menghajarnya… Kalau dia muncul lagi nanti, aku bersumpah akan membuatnya duel denganku!"

__ADS_1


Di sampingnya Ulquiorra memejamkan matanya sejenak. Kalau dia memiliki ekspresi wajah, barangkali dia akan memasang ekspresi jengkel yang bercampur ketidaksabaran.


Ichigo menatap ayahnya tak percaya. Lalu, ia menatap surat yang ada di tangannya, lebih tidak percaya. Sejenak, ia meragukan pemahamannya dalam membaca. Tapi detik berikutnya ia memutuskan siapapun yang menulis surat itu lah yang perlu diragukan kemampuannya. Tidak. Siapapun yang memikirkan kata-kata di surat itu yang perlu diselidiki. Ia menatap ayahnya lagi, yang berdiri di depannya, di dalam sebuah kelas tak terpakai, seakan menunggu jawaban Ichigo.


"Uh…"


"'Uh' bukan jawaban yang ingin kudengar," tukas Isshin. Ichigo tergagap, kembali mengarahkan pandangannya pada surat dalam huruf kanji di tangannya. Ia, sekali lagi, menatap ayahnya.


"Aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa…"


"Tepat sekali! Aku juga tidak tahu harus bilang apa!" seru Isshin segera.


"Mungkin lebih baik kita tanya langsung saja pada Shutara-san…" usul Ichigo.


"Maksudnya sudah jelas, Ichigo, aku bahkan tahu alasannya. Yang aku tidak tahu adalah, aku tidak tahu harus menjawab apa!"


Ichigo berdecih kesal.


Di tangannya, di dalam surat itu, di antara kanji itu tertulis adalah kalimat: …Isshin Shiba, yang sekarang berganti nama menjadi Isshin Kurosaki, atas perintah Raja Arwah telah direkomendasikan oleh Zero Divison sebagai Komandan Divisi 8 Gotei 13.


"Ini bukan jenis rekomendasi biasa… Apa maunya mereka? Apa maunya Raja Arwah?!" gerutu Isshin. "Sialan, jawabannya malah lebih sulit daripada ujian komandan yang dulu!"


Ichigo menatap ayahnya yang menggaruk kepalanya frustrasi. Ia bisa melihat dan memahami dilema sang ayah. Isshin memang memiliki banyak kekurangan, yaitu sifatnya yang masa bodoh dan luar biasa eksentrik. Tapi ia memang memiliki kualitas yang dibutuhkan sebagai figur seorang komandan, lagipula dia pernah menjadi salah satunya, bukan? Tapi sekarang keadaannya berubah. Menerima kembali gelar komandan, itu bukan lagi hal mudah. Isshin dulu hanya bertangung jawab pada tugasnya sebagai seorang komandan yang memimpin sebuah divisi. Shinigami yang bertanggung jawab pada tugasnya sebagai penyeimbang dunia. Dan ia sudah meninggalkan hal itu untuk hal lain. Sekarang, ia adalah seorang pria, seorang ayah yang bertanggung jawab pada sebuah keluarga yang dimilikinya. Pada almarhumah istrinya. Pada ketiga anaknya.


"Kalau kutolak… sialan, ini perintah Raja… tapi kalau kuterima, bagaimana Karin dan Yuzu…?"


"Ichigo, setiap komandan punya jawabannya sendiri. Tapi, kalau kau tanya aku, hal tersulit yang dihadapi seorang komandan adalah," kata Yoruichi serius, "kau menjadi milik Soul Society."


Ichigo sedikit tersentak, teringat kata-kata Yoruichi Shihouin berbulan-bulan yang lalu. Waktu itu, ia hanya melihat arti dari kata-kata itu dari permukaannya saja. Bahwa menjadi komandan, berarti kau harus membela tempat yang memberimu gelar itu. Bahwa gelar komandan yang diterima harus dibayarkan dnegan kesetiaanmu padanya. Ternyata maknanya lebih dari itu. Menjadi komandan, hidup atau mati. Bahkan Yoruichi dan Urahara juga demikian. Mereka tak bisa kembali menduduki jabatan mereka karena tak mungkin dalam satu divisi memiliki dua kepemimpinan. Tapi, walau keduanya tak lagi memiliki titel itu, mereka masih memiliki tanggung jawab terhadap Soul Society. Sekalipun ada predikat 'mantan', kekuatan dan kehormatan sebagai komandan masih mereka miliki. Gelar komandan mereka akan selalu dipegang sampai kehidupan rohnya berakhir. Begitupula ayahnya. Ia masih terikat dengan Gotei 13.


"Terima saja," kata Ichigo. Isshin langsung menatap anak laki-lakinya, sedikit terkejut mendengar ketegasan di suaranya. Tak ada keraguan di sana. Justru, putranya itu tersenyum sambil mengatakan itu.


"Ichigo, itu-"


"Kau toh tak akan bisa menolaknya. Sepertinya yang bisa kau lakukan hanya mengulur waktu. Apa Shutara-san masih di sini untuk menuggu jawabanmu?"


"Ini masalah serius, Ichigo," kata Isshin, mengernyit.


"Aku tahu. Kau meminta pendapatku, dan aku sudah memberikannya."


"Tidak sesederhana itu! Kau tahu apa risikonya?"


Ichigo mengangguk. Tentu saja ia tahu. Ia, sebagai shinigami pengganti cukup memahami repotnya menjalani dua profesi dalam satu nama. Dan mungkin, ayahnya bisa jadi lebih repot dari itu. Tapi, bisa apa mereka selain menerimanya?


"Jawabannya tak harus sekarang, sebetulnya," gerutu Isshin.


"Jangan cemaskan Karin dan Yuzu. Jika kau menjelaskannya, aku yakin mereka akan mengerti." Ichigo mendengus kecil. "Kalau pun kau pergi ke Soul Society, aku bisa menjaga mereka, kau tahu?"


"Bukannya kau bilang kau mau ke Tokyo?" sanggah Isshin.


"Nah, soal itu…"


Isshin berdiri tegak. Ia tampaknya sudah memutuskan sesuatu. "Tak bisa dibiarkan... Baiklah kalau begitu. Ayo, kita temui Shutara."


"Eh?"


Ichigo sedikit terkejut. Tapi ia mengikuti ayahnya keluar dari ruang kelas yang tak terpakai itu. mereka menyusuri koridor, menuju ke Aula Besar. Sesuatu membuat Ichigo untuk menahan diri tidak bertanya apa gerangan yang sudah diputuskan oleh Isshin. Begitu mereka sampai di Aula Besar, sang Ōorigami **), ada di sana, sedang bicara dengan Kyouraku dan shinigami yang lain. Hanya Rangiku, Momo, Urahara, dan Orihime yang tak ada di sana, mungkin mengunjungi Toushiro di rumah sakit. Untungnya, saat itu Aula Besar sudah mulai sepi. Karena akhir tahun ajaran akan ditutup lusa, jelas anak-anak Hogwarts bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


"… aku harus segera kembali. Ōetsu Nimaiya sudah mengatur Chōkaimon ***) untukku waktunya hanya beberapa menit lagi…"


"Shutara!"


Wanita itu menoleh dengan tenangnya, berbeda dengan beberapa shinigami yang sedikit heran dengan nada bicara Isshin dan sikapnya yang serius.


"Ah. Isshin, aku sudah mengatakan padamu kalau jawabannya bisa menunggu…"


"Sejak kapan Soul King menunggu?" cetus Isshin segera.


"Tentang apa ini?" tanya Shinji ingin tahu. Ia menatap Shutara, lalu Kyouraku yang tampak agak geli.


"Apa maksudnya coba dengan surat sinting itu?" kata Isshin jengkel. "Jawabannya buah simalakama; diterima atau tidak semuanya tidak enak di aku!"


"Aku hanya menerima perintah. Yang Mulia memutuskan begitu maka kami para pengawalnya hanya bisa mengikutinya," kata Shutara ringan.


"Aku sudah punya jawabannya. Tapi aku punya permintaan."


"Sudah kuduga akan begitu," kata Shutara enteng. "Kau tak akan menurut dengan mudah. Tapi, apa permintaan itu?"


"Aku tidak akan meninggalkan Dunia Manusia. Aku punya dua anak perempuan yang tidak pernah menginjakkan kaki ke Soul Society! Walau kakaknya ini," Isshin menunjuk Ichigo, hanya dua senti di depan hidungnya, "jelas-jelas tidak punya kehidupan normal, paling tidak adik-adiknya tidak perlu terlibat lebih jauh."


"Itu, sedikit sulit, Isshin," celetuk Kyouraku.


"Sebentar, memangnya ada apa ini?" tanya Ukitake tak mengerti.


"Kita akan punya komandan penuh di Gotei 13, sepertinya," kata Byakuya, mengernyit. Shinji, Renji, Ikkaku, dan Yumichika terbelalak kaget. Semuanya menatap Isshin tak percaya. Genjiro Shitara menatap utusan dari Zero Division itu sedikit curiga.


"Ini perintah lain dari Raja Arwah?" tanyanya.


Shutara mengangguk. Wanita itu menatap Isshin. "Dari jawabanmu, mengesampingkan tentang permintaanmu, kau menerimanya?"


"Ya," gerutu Isshin. "Tapi kuberitahu kau, tanyakan dulu pada Kuukaku. Jika dia memberi jawaban yang sama, aku maju. Bagaimanapun juga, dia adalah Kepala Keluarga Klan Shiba. Menjadi komandan juga perlu persetujuannya."


"Akan kusampaikan," senyum Shutara. "Dan akan kusampaikan kembali kabarnya secepat yang aku bisa. Untuk sekarang, aku pergi dulu."


"Kau membawa Hougyoku-nya?" tanya Kyouraku.


Shutara mengangguk. "Benda itu akan disimpan selamanya di King's Realm. Jika dihancurkan, kami cemas ada orang lain yang bermaksud mengkristalisasi energinya, menciptakannya lagi. Karena itu kami akan menjaganya. Dan, semua pengetahuan tentang Hougyoku akan disegel. Ichibe Hyousube akan memantrai pengetahuan tentang Hougyoku, sehingga siapapun, entah manusia, shinigami, ataupun Arrancar tak akan bisa membuatnya. Benda itu akan dikutuk, dan tak akan bisa diduplikasi."


"Selamat tinggal penemuanku yang terkutuk," kata Urahara dramatis, menutup sebagian wajahnya dengan kipasnya, sementara tangan yang lain membuat gerakan melambai pada Shutara.


Wanita itu lalu mengangguk sopan pada para komandan, lalu mengedikkan kepala ke arah meja para guru; Dumbledore membalasnya dengan anggukan sopan dan senyum ramah. Shutara berbalik, dan detik berikutnya ia sudah menghilang.


"Dasar. Mereka itu, seenaknya saja," gerutu Isshin.


"Kau kembali ke Gotei 13!" Shinji berkata keras, menyeringai lebar. "Oh, astaga! Kita semua akan hancur! Ha!"


"Oi, Ichigo," kata Renji ragu-ragu, "apa itu benar?"


Ichigo nyengir canggung, "Yeah, sepertinya begitu. Dan kurasa Karin akan menendangnya lebih dulu begitu kami pulang nanti. Dan kemudian, dia akan menendangku."


"Adikmu makin berbahaya," celetuk Ikkaku.


"Tidak mungkin tidak. Tatsuki mengajarinya banyak hal tentang karate. Dan dia cewek mengerikan, nyaris sama dengan Rukia…"


Baik Rukia maupun Byakuya menatap Ichigo dengan tajamnya. Ichigo, walau tidak menghadapi kakak-beradik Kuchiki itu bergidik, merasakan sensasi ganjil yang terasa seperti jika ia di dekat Kenpachi Zaraki.


"Akan kuperlihatkan seberapa aku bisa jadi mengerikan, Ichigo," kata Rukia, mendadak berdiri di sampingnya. Ichigo bergidik. Dan, saat ia mengerling Byakuya, dilihatnya Komandan Divisi 6 itu menyipitkan matanya dan menatapnya seperti elang yang akan menyambar mangsanya. Melihat adegan ini, Yoruichi tertawa dengan senangnya.


"Byaku-bo! Kau persis sekali seperti waktu aku menarik pita rambutmu dulu! Ingat, waktu kau masih remaja emosional dan tidak mau mengalah? Oh! Dulu kau lucu sekali! Sekarang? Nah, walau kuakui kau lebih cakep dari dulu, kau berubah jadi setan-kaku-peraturan! Dan aku lihat masih ada yang tak berubah darimu! Boleh kucuri jepitan rambutmu? Sayang sekali kau tidak lagi pakai kenseikan enam juta kan-mu…"


"Apa kau katakan sesuatu, Shihouin?" kata Byakuya datar.


"Jangan pura-pura tak mendengarku, Byaku-bo!" Yoruichi dengan santainya bersandar di dekat Byakuya, menyunggingkan seringai kucingnya. "Apa kau mencemaskan prospek jadiannya Ichigo dan Rukia-"


"Oi!" protes Ichigo tak terima.


"- cerialah sedikit! Masa kau tidak mau punya adik ipar macam Ichigo?" kekeh Yoruichi seakan tanpa interupsi. Di sekitarnya, Renji ternganga lebar, Ikkaku dan Yumichika memerah menahan tawa, Shinji menyeringai, dan, Ichigo yang tampak shock di samping Rukia yang tampak antara malu dan jengkel. Tapi Byakuya menatap Ichigo.


"Ini salah paham!" seru Ichigo buru-buru.


"Lebih baik cepat lari, Ichigo," kata Shinji terkekeh. "Dia masih pegang rekor shinigami pria tercepat di Gotei 13…."


"Masaki! Kita punya dua anak laki-laki, dua anak perempuan, dan calon menantu perempuan untuk Ichigo kita! Kau dengar itu Masaki?! Aku ayah yang bahagia!"


"Jangan buat jadi tambah parah, Kambing Tua!"


"Ichigo Kurosaki, kau mati."


"Jangan salah paham dulu, Byakuya!"


"Ichigo, berani-beraninya kau…"


"Renji! Jangan ikut-ikutan!"


"Rukia nee-chan itu milikku!"


"A-apa-apaan ini?" Fudge menatap keramaian yang dibuat para shinigami itu dengan tak percaya. Para guru terlihat agak kaget, sementara Dumbledore terlihat geli. Fred dan George Weasley menatap para shinigami itu dengan tertarik, apalagi pada Ichigo yang mulai adu argumen dengan Renji, ditambah dengan Kon yang melompat ke kepala Ichigo, di dukung oleh Ikkaku, Yumichika yang mengomenari betapa tidak cantiknya kegaduhan itu, dan Byakuya yang tangannya sudah bergerak ke gagang katana-nya, masih mempertimbangkan apa perlu menariknya, Yoruichi tertawa gembira, dan Shinji terkekeh riang.


Harry memandang keributan itu dengan tercengang. Tak pernah terpikirkan olehnya, para shinigami yang begitu terampil di medan pertempuran bisa menciptakan keributan seperti ini.


"Itulah Gotei 13," kata Uryuu, terdengar agak bosan. "Ketika hal buruk sudah berlalu, mereka tak akan berlarut-larut terpuruk. Sebaliknya, mereka akan sedikit gila. Bahkan Byakuya Kuchiki."


Harry, mau tak mau tersenyum melihat kegaduhan itu. Uryuu mengatakan sesuatu yang membuat sebagian besar kekhawatirannya terangkat. Hal buruk sudah berlalu.


"ICHIGO KUROSAKI!"


Ichigo mengutuk pelan. Dilihatnya Grimmjow memasuki Aula Depan dengan seringai itu. Seringai beringas yang hanya berarti darah, ayunan pedang, pertarungan.


"Oh, sial!"


Ichigo menarik lencana shingami penggantinya dan menekannya ke dadanya. Dalam sekejap wujud shinigami-nya melesat keluar, langsung menyongsong si rambut biru.


"Yah! Titip tubuhku!" seru Ichigo tanpa menoleh. Banyak yang tercengang, terutama para penyihir, menatap Ichigo yang dengan paksa mendorong Grimmjow ke luar Aula Besar dan Ichigo yang satu lagi yang terkapar di lantai.


"Kebiasaan buruk," kata Shinji, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Meninggalkan tubuhnya di sembarang tempat… Untuk apa dia punya Mod Soul kalau begitu?"


Ichigo jelas tak mendengarkannya. Ia sudah berada beberapa kilo jauhnya dari kastil Hogwarts. Zangetsu sudah berada dalam cengkramannya, dan di depannya, Grimmjow sudah menghunuskan Panthera dengan seringai kejamnya, berdiri di ketinggian sekitar seratus meter dari permukaan tanah. Dalam jarak sejauh ini, pelepasan reiatsu mereka tak akan mengganggu siapapun, hidup atau mati.


"Akhirnya kau punya waktu untuk ini, Stroberi!" seringai Grimmjow.


"Akan kau buat kau membayar karena memanggilku begitu." Ichigo menangkat Zangetsu.


Oh, ini akan menyenangkan, pikir Grimmjow liar.

__ADS_1


__ADS_2