Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 40


__ADS_3

"Ini di luar perkiraanku," kata Shinji serius. "Aku tidak menyangka dia akan bangun secepat ini."


"Bukannya bagus?" kata Renji heran.


"Yah, tapi aku belum menyusun rencana untuk efek samping Hougyoku pada mentalnya," kata Shinji. Komandan Divisi 5 itu menatap Urahara yang sedang sibuk membaca sebuah buku tebal. Sedikit ganjil bagi Shinji, karena Urahara tidak di dalam ruangan lebih lama dan menyerahkannya pada Isshin dan Tessai. Mantan Komandan Divisi 12 itu memang langsung memeriksa Komandan Hitsugaya setelah ia mendapat kabar bahwa komandan kecil itu sudah sadar. Tapi hanya beberapa menit kemudian ia keluar, tak mengatakan apa-apa dan justru membuka buku tebalnya, seakan mencari-cari sesuatu.


Kecuali, Urahara sedang menyusun rencana.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Shinji.


"Kondisi Hitsugaya-san lebih mirip kondisi Kurosaki-san saat menerima kekuatan hollow-nya," kata Urahara tanpa mengangkat wajahnya dari buku tebal itu. "Alasan kenapa dia sudah siuman, itu karena kekuatan hollow-nya menyembuhkan semua luka fisiknya. Tapi bukan berarti tanpa kompensasi."


"Kompensasi apa?"


"Hitsugaya-san menyadari keberadaan hollow itu. Dia bisa dibilang meminjam kekuatan hollow-nya untuk menyembuhkan dirinya sendiri, tapi bisa dibilang juga bahwa hollow itu menyembuhkannya agar bisa mengambil alih."


"Oi!" seru Ichigo, langsung khawatir.


"Dan," kata Urahara meneruskan, seakan tak ada interupsi, "bahwa Hitsugaya-san bangun dan tidak berubah, aku yakin dia menggunakan seluruh kemampuannya untuk menekan hollow itu." Urahara menutup bukunya. "Aku tidak yakin dia bisa menahannya lebih lama."


"Reiatsu-nya rapuh," kata Byakuya datar.


"Benar sekali. Dan semakin lama dia menekan hollow-nya, dia justru akan semakin lemah. Dalam kondisi ini, aku meminta Tessai dan Isshin untuk menyegel sementara semua reiatsu-nya. Pilihan terbaik yang kita punya untuk saat ini. Jangan cemas," tambah Urahara segera, melihat ekspresi Ichigo dan Rangiku. "Dia tidak akan kehilangan kekuatan shinigami-nya, Aku sudah bilang ini hanya sementara. Ini yang tidak sama dengan yang dulu kami lakukan untuk ibumu, Kurosaki-san."


Ichigo mengangkat alis.


"Isshin dulu mengorbankan kekuatan shinigami-nya untuk menyelamatkan ibumu karena ibumu adalah seorang Quincy. Hollow yang hampir merenggut nyawanya, kau tahu kalau semua yang ada pada hollow adalah racun bagi Quincy. Jadi, ayahmu menyegel hollow itu dengan semua kekuatannya. Tapi, Hitsugaya-san bukan Quincy. Hollow tidak menjadi racun baginya. Di sini, perubahan yang mirip dengan para Vizard bisa ditemukan."


"Sungguh, aku tak mengerti…" celetuk Renji.


"Singkatnya, dia tak kehilangan dirinya sendiri dan kekuatannya," kata Shinji kalem. Ia menatap Urahara. "Berhentilah berbelit-belit. Langsung ke pokok utama, kau bisa keluarkan Hougyoku itu darinya atau tidak?"


Ruangan langsung hening. Para shinigami ada di sana, kecuali Isshin dan Tessai. Bahkan, Ulquiorra dan Grimmjow ada di sana. Beberapa penyihir juga ada; Golden Trio, Sirius, Lupin, Mad-Eye Moody, Snape, McGonagall, dan tentu saja, Albus Dumbledore. Semua menunggu jawaban Urahara.


"Aku baru saja memastikannya." Urahara mengetuk sampul buku tebal di pangkuannya. "Kita belum bisa mengeluarkan Hougyoku itu saat ini."


"Apa?! Tapi sebelumnya, pada Hougyoku yang lama, Aizen bisa mengeluarkannya dari Rukia!"


"Dan ingatkah kau kalau Kuchiki-san melemah karena itu?" kata-kata Urahara itu langsung membungkam Ichigo. "Kondisi Hitsugaya-san sangat tidak menguntungkannya, dia bahkan lebih lemah daripada Kuchiki-san yang waktu itu baru keluar dari kurungan Shishinro *) Memaksanya diekstraksi keluar, itu justru akan membunuhnya."


"Jadi, dia tidak imortal?" tanya Shitara.


"Anda dapatkan jawaban yang anda dan Centra 46 inginkan, Shitara-san." Urahara menghela napas. "Dia tidak abadi. Tapi tetap saja," Urahara menghela napas. "Kita belum bisa menyingkirkan benda itu darinya."


Pintu ruang rawat Toushiro berderit terbuka. Isshin keluar dari ruangan itu, dan menutup pintunya perlahan. Ekspresi ayah Ichigo itu tampak muram.


"Lebih parah dari dugaanku… Hougyoku itu menyiksanya…" gumam Isshin. "Ia menatap Rangiku. "Lebih baik kau tidak melihatnya dulu. Aku tak tega membiarkan Momo masih dengannya, tapi lebih tidak tega meninggalkan Shiro-chan tanpanya."


"Tapi…"


"Dia tidak ingin kau di sana," kata Isshin kaku. Dia tidak ingin kau melihatnya begitu lemah, Ran-chan, dia tahu itu akan membuatmu sedih. Dia tidak ingin melihatmu hancur.


Rangiku menggigit bibirnya. Ia merasa seakan dikhianati lagi. Komandan mungilnya tidak ingin bertemu dengannya… Dia, letnannya!


Tapi, ia menangkap pesan di balik kata-kata Isshin… Bahwa Toushiro ingin menjaga perasaan Rangiku… bahwa ia ingin Rangiku tetap tegar…


Komandan mungilnya, bahkan dalam kelemahan dan kesakitan, masih begitu tak egois….


Rangiku menunduk, dan berkata gemetar, "B-baik."


Isshin menatap yang lainnya. "Sekarang kita hanya menunggu."


Setelah berkata begitu, Isshin keluar dari bangsal rumah sakit. Dilihat oleh Harry kalau Ichigo juga beranjak.


"Mau kemana?" tanya Rukia pelan.


Ichigo menatapnya. "Pembicaraan ayah-anak? Nah, sampai nanti."


Dan Ichigo juga keluar, menyusul ayahnya.


"Bicara ayah-anak?" ulang Shinji, sangat heran. "Yang benar saja… Bukannya biasanya mereka baku hantam?"


Ichigo menemukan ayahnya berada di koridor lantai tiga, sedang menghadap ke halaman Hogwarts, bersandar pada balkon batu. Pria itu menatap ke arah langit malam yang baru memayungi Hogwarts. Sebisa yang dimungkinkannya, Ichigo melangkah tanpa suara dan berdiri di samping ayahnya.


"Seburuk itu ya?" tanya Ichigo pelan, "sampai kau tak mengizinkan Rangiku-san di sampingnya?"


"Kau apa yang terjadi sewaktu Gin meninggal di depannya? Jika dia melihat Toushiro, aku cemas itu akan membuatnya lebih sedih daripada yang sekarang."


"Hinamori-san bersamanya," kata Ichigo.


Isshin menghela napas. Ia memejamkan matanya sejenak. "Toushiro memohon padaku untuk mengeluarkan Hougyoku darinya."


"Eh?"


"Memohon, Ichigo. Dan, Toushiro tak pernah memohon sebelumnya."


Itu benar. Toushiro tak pernah memohon. Harga dirinya yang tinggi membuatnya tak akan pernah merendahkan diri untuk memohon. Tapi, Isshin tadi melihat keputus asaan di kedua iris turquoise itu, saat ia berkata akan menyegel reiatsu Toushiro untuk sementara. Si rambut putih itu sudah terlalu lelah. Dan Isshin tahu, baik hollow maupun Hougyoku yang ada dalam dirinya bukan hal mudah untuknya. Hal yang tak diinginkannya tapi dipaksa ada dalam dirinya, itu menyiksanya.


Dan Toushiro memohon padanya. Berharap Isshin bisa mengangkat beban itu darinya. Sayang sekali, Isshin tak bisa melakukan apa-apa untuk saat itu. Toushiro, dalam keputus asaannya jelas tak peduli jika itu berisiko merenggut nyawanya. Tapi Isshin terlalu takut untuk mengambil risiko itu.


"Aku tak bisa menuruti kemauannya itu. Aku dan Tessai tetap terpaksa harus menyegel reiatsu-nya. Bukan proses yang menyenangkan; dia kolaps di tengah ritual penyegelan. Tapi, dia terus memegang tangan Momo-chan, memintanya tetap tinggal, dan berkata untuk tidak membiarkan Ran-chan menemuinya… Membiarkan Momo-chan bersamanya, itu satu-satunya yang bisa kuberikan padanya. Gadis itu bisa memberikan dukungan moril padanya."


"Sepertinya semua hal ini seperti bom atom untuknya," komentar Ichigo, melamun. "Hollow, Hougyoku, Penjaga Surga… Aku tak tahu mana yang lebih mengejutkan, ini atau waktu kau beritahukan padaku tentang ibu…."


"Masing-masing punya kapasitasnya sendiri," kata Isshin. Ia menghela napas. "Dia sudah kuanggap seperti anakku sendiri – jangan cemburu!" tambahnya segera, pura-pura galak.


Ichigo mendengus. "Tidak akan. Oke, sedikit." Isshin mengangkat alis. "Bercanda! Mana mungkin! Justru aku kasihan padanya, punya ayah gak jelas macam ka-UGH!"


Ichigo memegangi belakang kepalanya yang baru dihantam oleh ayahnya sendiri. Benar 'kan jika ia bilang 'ayah tidak jelas'?! Ayah mana yang menantang duel anaknya sendiri dengan alasan melatih refleks? Oh, benar, ayah bernama Isshin Kurosaki.


"Shiro-chan akan punya waktu-waktu yang berat di masa depan. Kau kakaknya, dampingi dia…"


"Oh? Peranku kakak? Well, aku tahu dia jelas jauh lebih tua dariku, tapi tampangnya jauh lebih muda dariku…"


"Cerewet! Terima saja!"


"Iya, iya!"


"Kau lihat itu, Masaki? Ichigo kita menerima Shiro-chan menjadi saudaranya! Oh! Aku senang sekali, Masaki!"


"Oh, damn."


Terlalu lemah untuk memilikiku…


Terlalu lemah untuk mengendalikanku…


Terlalu lemah untuk menjadi rajaku…


Toushiro Hitsugaya membuka matanya. Namun, perlu beberapa kali kerjapan untuk mendapatkan fokusnya. Dan kalimat-kalimat itu terus berulang, terdengar oleh telinganya sendiri, suara berat penuh kelcikan seakan berasal dari kaset rusak… Suara dari dirinya yang lain…


Ditatap olehnya langit-langit sihiran, menampilkan semburat jingga matahari, dilatari oleh warna biru muda langit pagi.


Ia menarik napas, merasakan sedikit nyeri pada dadanya. Tak hanya itu, ia juga merasa sangat letih, seluruh tubuhnya seakan baru dihajar. Tunggu. Sebenarnya memang seperti itu.


Seakan baru beberapa detik yang lalu, ia harus berduel dengan hollow-nya sendiri. Hanya dengan wujud tersegel Hyourinmaru. Itu seperti duel tanpa akhir. Hollow itu memiliki kecakapan yang sama dengannya. Yang membedakannya dengan sangat signifikan adalah bahwa hollow itu memiliki kebencian dan kedengkian, dua hal yang justru menjadi bara api yang menguatkan hollow itu.


Pertarungan tanpa akhir. Berakhir hanya karena dirinya terjatuh dan tak bisa mengangkat zanpakuto-nya. Terlalu lelah karena pertarungan nyata dengan para Arrancar sebelumnya.


"Kau hanya menyia-nyiakan usaha yang sudah begitu baik hati kulakukan untukmu," begitu kata sang hollow dengan kejinya. "Duel ini hanya permulaan, Toushiro Hitsugaya, permulaan bahwa suatu hari nanti, akan terbukti bahwa akulah yang berhak menjadi sang raja." Hollow itu berdiri di depannya dengan angkuhnya, mengangkat Hyourinmaru hitam. "Sampai nanti, Lemah."


Benar. Ia terlalu lemah, bahkan untuk melawan dirinya sendiri.


"Saya tak pernah berpikir seperti itu, Master."


Toushiro menoleh, menatap asal suara itu. Dilihatnya sang roh zanpakuto dalam wujud manusianya, berdiri dengan latar jendela yang mengirimkan cahaya pagi ke ruangan itu. Es yang ada di bahunya dan di cakarnya berkilau, seakan terbuat dari berlian. Hyourinmaru menatapnya dengan mata abu-abunya. Ada banyak hal tersirat di sana. Sangat banyak. Dan tanpa kata, Toushiro bisa memahaminya.


Toushiro menatap langit-langit sihiran di atasnya. "Kau tidak menjawabku."


"Aku tak bisa mencapaimu, Master." Suara Hyourinmaru terdengar lelah. "Anda terjatuh terlalu dalam."

__ADS_1


"Aku membutuhkanmu…"


"Saya tahu."


"… kau tak ada di sana…"


Hyourinmaru terdiam. Ia bisa merasakan luka sang master. Kesepiannya, seakan berlipat karena itu. "Saya tak pernah meninggalkan anda."


"Aku memanggilmu…"


Hyourinmaru melihat Toushiro memejamkan matanya, menahan airmata yang gagal dibendungnya. "Anda hanya harus menerimanya, maka anda akan menerima saya…"


"Bagaimana mungkin?" Toushiro membuka matanya. Kemarahan dan kesedihan bercampur di sana. "Aku tidak akan pernah menerimanya!"


"Dan anda tak akan pernah kehilangannya," kata Hyourinmaru sedih.


"Dia seharusnya tak ada di sana! Dia -!"


"Tapi kita tak bisa menyingkirkannya."


Toushiro menatap Hyourinmaru, tak percaya apa yang baru dikatakannya. Ia tahu itu benar. Sekali hollow itu menjadi bagian darinya, dia terikat padanya sampai akhir.


"Tapi kita bisa menundukkannya."


Hyourinmaru melihat hal baru perlahan muncul di kedua iris turquoise itu. Hal yang saat itu bisa ia berikan lebih dari sekedar kehadirannya. Ia tahu setelah ini segalanya akan berubah. Segalanya akan menjadi sulit. Tapi, ia bisa memberikan hal itu lagi, lagi, dan lagi.


Harapan.


Hyourinmaru memberi master kecilnya anggukan takzim. "Saya selalu percaya pada anda. Kuatlah. Kita akan kuat bersama-sama."


"Kau membuatku takut setengah mati! Ya, ampun taicho! Tidakkah kau tahu wajah cantik letnan-mu ini bisa menjadi obat terampuh untuk segala macam penyakit? Kenapa kau malah tidak mau menemuiku? Taicho jahaaaat~"


"Kau bahkan tak bisa menyembuhkan kecanduan sake-mu, jadi jangan bicara yang tidak-tidak."


"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?! Dan taicho, aku tidak kecanduan! Aku cuma menganggap sake adalah teman terbaikku… untuk mabuk." Rangiku menambahkan dua kata terakhir itu dengan sangat pelan, tapi tak gagal untuk tak didengar oleh si rambut putih. "Taicho tetap teman terbaikku, jangan cemas!"


"Aku justru cemas karena kau bilang aku teman baikmu; aku selevel dengan sake sialanmu."


Saat Ichigo kembali ke rumah sakit, bersama dengan Rukia dan Byakuya, ia sedikit terkejut melihat Toushiro sudah tidak di ruangannya. Ia duduk di kursi di samping jendela bangsal rumah sakit, masih tampak pucat, tapi jelas lebih baik dari terakhir kali ia melihatnya nyaris mati. Malah, ia mulai terlihat galak seperti biasa. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah kehadiran Hyourinmaru di sampingnya. Beruntung tak ada satu penyihirpun di sana, sehingga mereka tak perlu bersusah payah menjelaskan siapa dia pada mereka. Belum, paling tidak.


Tapi jelas mereka, para shinigami membutuhkan alasan.


"Wah, kupikir tadi aku mendengar suara Hitsugaya," kata Shinji, nada suaranya yang malas terdengar. Komandan Divisi 5 itu menutup pintu di belakangnya, menatap Toushiro yang tengah digerecoki oleh Rangiku. "Kelihatannya dia baik-baik saja."


"Yeah. Sepertinya dia menangani ini dengan cukup baik," komentar Isshin, tapi kedua alisnya nyaris menyatu.


"Eh, kenapa Hyourinmaru ada di sini?" tanya Renji heran.


Semua mata langsung terarah pada roh zanpakuto hyousetsu terkuat se-Soul Society itu.


"Dia datang setelah penyegelan selesai," kata Momo. "Dan tidak meninggalkan Hitsugaya-kun sejak itu."


"Apa yang terjadi?" tanya Rangiku penasaran.


"Hougyoku menghalangiku untuk bicara pada Master," kata Hyourinmaru datar.


"APA?!" seru Ichigo, Renji, Rangiku, Ikkaku, dan Isshin bersamaan. Toushiro sedikit berjengit mendengarnya. Momo yang duduk di sampingnya tersenyum gugup.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Isshin pada Urahara, yang menutupi sebagian wajahnya dengan kipasnya.


"Nah, yang bisa kukatakan hanyalah bahwa itu salah satu efek dari keberadaan Hougyoku pada dirinya."


Isshin menatap Urahara dengan jengkel. Sikap santai itu ternyata benar sangat menyebalkan di saat yang sangat tidak tepat. Ia mengarahkan pandangannya pada Toushiro, yang menatap ke luar jendela. "Apa kau baik-baik saja?"


Toushiro menoleh. Ekspresinya tak tertebak. Dan, ini membuat Isshin menyesal sudah bertanya. Tapi, Toushiro menjawabnya, nadanya tenang, nyaris tak peduli. "Tentu saja."


"Saya rasa itu bukan pertanyaan yang ingin ditanyakannya, Master. Dan itu juga bukan jawaban yang diharapkannya," kata Hyourinmaru. Ini, membuat semua mata kembali terarah pada si wujud manusia dari si naga es.


"Bagaimana dia bisa mendapat jawaban yang diinginkan jika dia tidak menanyakan pertanyaan yang seharusnya?" ujar Toushiro.


"Oh, bocah ini benar-benar pintar," celetuk Shinji.


Hyourinmaru mengangguk. "Untuk kondisi ini, komunikasi antara saya dan Master adalah yang terpenting. Jika kami tak bisa bicara di inner world, saya akan datang kepadanya dengan cara apapun."


"Sampai kapan?" tanya Ichigo ingin tahu.


Toushiro dan Hyourinmaru bertukar pandang, ekspresi keduanya begitu serius. Lalu, keduanya menjawab bersamaan, "Bukan urusanmu."


Rangiku tertawa mendengarnya; bahkan sudut bibir Byakuya terangkat sepersekian detik.


Ichigo merasa ada urat kejengkelan berkedut di pelipisnya. Yang benar bahwa Toushiro mendapat sifat kakunya dari Hyourinmaru atau Hyourinmaru mendapat sifat kakunya dari Toushiro, dia tak pernah tahu. Yang ia tahu, itu bukan tanggapan favoritnya, karena ia merasa ingin menghantamkan dahinya ke tembok karena itu.


"Aku benci harus mengatakan ini, Hitsugaya, apa kau sudah tahu tentang Centra 46?" tanya Shinji. Ia tahu saat ini mungkin bukan saat yang tepat. Ia tahu bahwa Komandan Divisi 10 itu menyembunyikan semua kegelisahaan dan ketakutannya, dan merasa antara miris dan bangga karena itu. Benar saja, begitu topik ini disinggung, bahu Toushiro sedikit tegang.


"Ya. Aku tahu," sahut Toushiro pelan.


"Yang datang kemari Genjiro Shitara," kata Ukitake. Toushiro menatapnya. Komandan Divisi 13 itu baru memasuki ruangan. "Kyouraku berhasil meyakinkannya bahwa kau tidak melanggar hukum. Tapi aku ragu dia akan melepaskanmu begitu saja…."


"Sudah jelas begitu," sela Toushiro pelan.


"Dia mungkin akan menanyaimu sendiri nanti." Ukitake tersenyum. "Aku yakin kau bisa memberinya jawaban yang lebih baik."


Toushiro mengangguk kaku.


Jawaban yang lebih baik? Ya, dia akan berikan itu. Ia, dalam waktu ketidaksadarannya bukan berarti ia tidak mendengar atau merasa. Ia bisa merasakan kesedihan Momo. Ia bisa mendengar tangisnya. Ia, waktu itu tak ingin mendengar atau merasakannya. Namun, pada saat yang sama ia terlalu putus asa untuk berdiri sendiri. Ia membutuhkan Momo Hinamori untuk menjadikannya alasan untuk bertahan… Tapi ia tak bisa mengatakan pada Rangiku. Letnannya itu akan sangat terluka. Ia tak ingin memberi luka baru, tidak jika luka lama atas kepergian Gin Ichimaru masih mendalam di hati letnannya itu.


Dan kali ini, ia bersumpah tak akan membuat letnannya atau Momo atau siapapun menangisinya. Tidak lagi.


Ini sudah lebih dari dua puluh empat jam. Lebih dari dua puluh empat jam Cornelius Fudge harus menunggu penjelasan dari Albus Dumbledore tentang pertempuran yang terjadi di Hogwarts. pertempuran yang menjadi bukti tak terbantahkan atas kembalinya Lord Voldemort.


Ini benar-benar membuatnya bergidik, gentar, dan berkeringat dingin. Dia-yang-namanya-tak-boleh-disebut kembali. Dan selama setahun ini, ia mengelak dari fakta itu, fakta yang dibeberkan oleh Albus Dumbledore padanya. Ia tak bisa menyembunyikan ini lagi. Ia tak bisa memberi alasan lagi.


Ditambah lagi, pertempuran itu tak hanya melibatkan penyihir. Pertempuran itu juga melibatkan sebuah eksistensi yang tak pernah ia percayai sebelumnya. Eksistensi Dunia Roh.


Aula Besar menjadi tegang begitu saja. Cornelius Fudge mengedarkan pandangan pada para shinigami yang berdiri di depannya. Dumbledore juga ada di antara mereka. Jelas si penyihir tua itulah yang bertanggung jawab pada makhluk gaib macam mereka. Dan dia sudah menyusupkan dua shinigami – tidak, tapi tiga – di bawah hidungnya tanpa ia menaruh curiga besar sama sekali!


Wajah Fudge merah padam menahan amarah. Dia Menteri Sihir, Demi Jenggot Merlin! Berani-beraninya Dumbledore merendahkannya begitu rupa! Dan sekarang, dia tidak akan membiarkan kredibilitasnya turun begitu saja di depan para roh itu, yang menurut konfirmasi Dolores Umbridge terdiri dari para komandan dan para letnan.


Oh, sial. Para elit militer.


Militer. Betapa ia benci organisasi pertahanan yang merangkap serangan yang satu ini. Mereka kuat dan bisa meruntuhkan rezim Kementerian dengan mudah; itulah sebabnya ia menjadikan Auror sebagai pasukan khusus di bawah kendali Kementerian, sehingga ia bisa mengawasinya secara langsung.


"Bagaimana kau bisa mengontak mereka tanpa sepengetahuanku, Dumbledore?!" gertak Fudge berang. Para komandan jelas tak menunjukkan ekspresi apapun, tapi mereka yang tanpa haori tampak sedikit jengkel. Di antara mereka, ia mengenali Byakuya Kuchiki yang pernah datang ke Kementerian tahun lalu dan Juushiro Ukitake yang pernah diberitakan oleh Dolores padanya.


"Mengingat kau sama sekali tak mempercayai apapun yang kukatakan padamu, aku tak yakin kau akan mendengarkan tentang ini, Cornelius," kata Dumbledore tenang, namun matanya berkilat.


"Tapi ini hal yang sama sekali berbeda dengan cerita sinting Potter! Ini tentang Dunia Roh! Dewa Kematian!"


"Apa bedanya?" ujar Dumbledore, nada tenangnya sedikit tajam sekarang. "Jika kau tidak mempercayai kembalinya Lord Voldemort (Dumbledore mengabaikan Fudge yang berjengit) bagaimana kau bisa mempercayai eksistensi dari para pejuang roh yang bahkan tidak diketahui oleh manusia selama ini, bahkan kita? Aku rasa, maafkan aku, Cornelius, aku memilih caraku sendiri untuk melindungi Hogwarts dan segala isinya. Dan mereka sangat membantu."


Mata Fudge terarah pada Ichigo yang mengernyit menatapnya. Bagaimana bisa remaja itulah yang menjaga seluruh kastil sihir? "Tak bisa diterima… Mereka bahkan mengirim bocah itu untuk menjaga tempat ini! Aku sudah lihat berkas mereka, dan Dolores juga mengirimkan padaku data tentang dua anak itu! Bagaimana kaum mereka mengirim dua bocah dalam misi penjagaan?!"


"Bocah? Aku tujuh belas tahun!" protes Ichigo. "Eh, tunggu, Juli ini delapan belas, itu artinya, aku bukan bocah!"


"Dan aku empat puluh dua tahun, Kurosaki, jadi jika melihat batasan umur, kita sama sekali bukan bocah."


Mereka semua menatap ambang pintu begitu mendengar suara berat dan sedikit serak yang sangat familiar. Toushiro Hitsugaya berdiri di sana, dalam pakaian shinigami-nya, walau haori-nya absen kali ini. Sebagai gantinya, ia memakai haori bermotif bambu berwarna biru tua. Wajahnya lebih pucat dan tirus dari biasanya, namun tak tampak tanda-tanda kesakitan apapun di sana. Fudge sedikit berjengit melihat bekas luka di wajah si rambut putih. Namun, yang sama mengejutkan dari kedatangannya adalah sesosok pria asing dan Ulquiorra Cifer – yang belum dikenal oleh Menteri Sihir dan para Aurornya – yang bersamanya.


Pria itu berdiri di samping Toushiro, dengan kulitnya yang pucat – walau tak sepucat kertas seperti Ulquiorra – dan di wajahnya yang tampan tanpa ekspresi memiliki sebuah keganjilan; tanda silang berwarna biru muda membentang di tengah wajahnya. Rambut pria itu berwarna hijau tua, yang panjangnya hingga melewati pinggangnya. Pakaiannya serupa dengan pakaian para samurai Jepang yang pernah dilihat Harry di televisi, kimono berwarna ungu-biru. Ada dua lencana di bagian depan kimononya, yang berbentuk sama dengan bros perunggu yang disematkan di rantai penyangga zanpakutou Toushiro yang sekarang tak dipakainya, yang terhubung dengan rantai keemasan. Melengkapi keganjilannya, kedua tangan dan kaki pria itu diselubungi es tebal kebiruan yang menyerupai cakar. Es terbentuk pula di sekitar lehernya, membentuk pelindung di sana, hanya membuka bagian depan lehernya saja. Mata abu-abu pria itu menatap para penyihir tanpa emosi, tatapan yang sama yang diingat Harry hanya dimiliki pemuda berambut putih di samping pria asing itu.


"Ah, Hitsugaya-kun," sapa Kisuke riang. "Aku tidak menyangka kau datang-"


"Kabur dari rumah sakit lagi?" tanya Isshin, tapi nadanya riang. "Heran, punya hobi kok yang seperti itu… Halo lagi, Hyourinmaru."


Pria berambut hijau itu mengangguk sekali.


Tapi, sebelum ada yang bicara, sosok lain lagi muncul di Aula. Si Arrancar berambut biru, Grimmjow Jeagerjaques. Ia menyeringai, mengarahkan mata birunya yang menyiratkan kebuasan ke arah Toushiro. "Ha! Si Komandan Es sudah muncul, ternyata! Kemana semua reiatsu-mu, ha? Dan kau?" Grimmjow menatap Hyourinmaru penuh selidik, yang balik menatapnya dengan mata menyipit waspada. "Kau dan bocah itu…."


"Dia roh zanpakuto-nya, Hyourinmaru," kata Ulquiorra datar. Seringai Grimmjow melebar. "Dan kau tak akan melawannya."

__ADS_1


"Kenapa tidak? Kapan lagi melawan zanpakuto yang hampir menghabisi Ratu Hueco Mundo kita?"


Cakar es Hyourinmaru melayang ke pegangan katana di obi pinggangnya.


"Hentikan," kata Toushiro dingin, menghentikan gerakan pria berambut hijau di sampingnya. Tapi, Toushiro menatap Grimmjow dengan tajam. Mantan Sexta Espada itu tampak tak peduli, seringainya tetap terpasang di wajahnya yang garang.


"Kita tidak datang untuk melawan shinigami, Grimmjow," kata Ulquiorra datar.


"Apa aku peduli?"


"Harus, jika kau tak ingin mati hari ini." Jawaban itu membuat Grimmjow menggeratakkan giginya dengan jengkel.


"Baik! Jika kita kembali ke Hueco Mundo, gunakan Segunda Etapa-mu dan kubuktikan aku bisa mengalahkanmu!"


Dan Grimmjow ber-sonido pergi tanpa berkata apa-apa lagi.


"Dia tak akan punya kesempatan, ya kan?" ujar Ichigo, menatap Ulquiorra.


"Dia hampir mati karena melawan Quinto – Kelima. Apa menurutmu dia punya kesempatan untuk menang dari mantan Quatro?"


"Masih saja kau sombong, Emo-Bat," komentar Shinji.


"Itu faktanya."


"Siapa kamu?" tanya Fudge, menyembunyikan kegentarannya. Pemuda berkulit pucat itu memang terlihat seperti remaja, tapi penampilannya, walau wajah itu beku tanpa ekspresi, aura yang dimilikinya cukup untuk mengintimidasinya.


"Ulquiorra Cifer, Arrancar dari Hueco Mundo," sahut Ulquiorra datar.


"A-Arrancar?" kata Fudge membelalak. Bukankah kata Dumbledore yang juga menyerang Hogwarts adalah makhluk yang disebut sebagai Arrancar?!


"Perlu kukatakan, Pak Menteri, agar anda tidak salah paham, Ulquiorra Cifer ini, dan si rambut biru yang tadi tidak berada dalam kelompok yang sama dengan yang menyerang Hogwarts," kata Kyouraku ringan.


"Mereka terdengar sama saja bagiku!"


"Jangan samakan kami dengan hollow rendahan itu," kata Ulquiorra datar, tapi ada ancaman dibalik kata-katanya, membuat Fudge mundur satu langkah. "Mereka hanya kecoa sampah yang buta pada insting hewan mereka."


"Apa yang membuatmu berbeda dari mereka?" desis Fudge.


"Hollow punya tingkatan kekuatan," kata Ulquiorra. "Yang terendah adalah Gillian, lalu Adjuchas, dan yang terkuat adalah Vasto Lorde."


"Dan dia Vasto Lorde," celetuk Shinji. "Berevolusi menjadi Arrancar, dan dulu menjadi salah satu dari sepuluh anggota elit 'penjaga istana Las Noches'."


"A-apa?" cicit Fudge. Anggota elit 'pasukan penjaga istana Las Noches'?!


"Mantan," koreksi Ulquiorra.


"Sangat kau tekankan," cibir Shinji. "Sepertinya kau senang dengan kebebasanmu." Ulquiorra menatapnya tanpa kata. "Tapi kau masih memegang simbol dari posisimu sebagai yang terkuat keempat di barisan Espada."


"Itu adalah alasan eksistensiku, jauh sebelum Aizen menjadikanku Cuatro Espada," kata Ulquiorra datar. Ulquiorra menoleh, menatap si rambut putih di sampingnya. "Aku akan bicara denganmu nanti."


Toushiro mengangguk kaku. Setelah mendapat jawaban tanpa kata itu, Ulquiorra ber-sonido pergi.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ichigo ingin tahu.


"Itu," kata Toushiro, menyilangkan kedua tangannya, "bukan urusanmu."


Sekali lagi, urat jengkel berkedut di pelipis Ichigo. "Kenapa kau sedingin itu?!"


"Kenapa kau semenyebalkan itu?" balas Toushiro acuh.


"Tidakkah mereka mirip?" celetuk Tonks.


"Tahu apa maksudmu," timpal Ikkaku. "Sepertinya Komandan Hitsugaya menghabiskan waktu terlalu lama dengan Ichigo."


"Komandan?" ulang Fudge terkejut. Bocah itu, komandan?


Kedua iris turquoise yang dingin itu menatap sang Menteri Sihir. "Ya, Pak Menteri. Saya rasa saya belum memperkenalkan diri lebih layak." Suara Toushiro datar, dengan kesopanan palsu di tiap katanya. "Saya Toushiro Hitsugaya, Komandan Divisi 10, Divisi Khusus Investigasi dari Gotei 13, Soul Society."


"Ja-jadi selama ini, kau dan temanmu itu menyusup ke Hogwarts? Dan-dan kau! Pasti kau juga yang menyebabkan kekacauan yang dikatakan Dolores!"


Toushiro mengangkat alisnya.


"Entahlah. Tampang Hitsugaya bukan tipe pembuat onar," celetuk Shinji.


"Apa kau membuat kekacauan, Ichigo?" tanya Rukia.


Ichigo menggeleng. "Kau kedengarannya menganggapku tukang buat onar. Tuh, Toushiro menyeramkan."


"Komandan tidak ada seram-seramnya," celetuk Rangiku. Tapi tepat saat itu Toushiro menoleh padanya, matanya menyipit dan sedikit menunduk, membuat bayangan jatuh di sebagian wajahnya. Rangiku berjengit, dan berkata gugup, "Yeah, sedikit."


Toushiro kembali menatap Fudge, "Maaf, Pak Menteri, saya tidak begitu mengerti dengan 'penyebab kekacauan' yang anda maksudkan. Saya bahkan sama sekali tidak ingin berurusan dengan Dolores Umbridge."


Fudge menatap Dumbledore, lalu ke Toushiro. "Seseorang tetap harus bertanggung jawab…."


Toushiro mengernyit. "Dan itu aku?"


"Aku tak percaya anak ini salah satu komandannya," kata salah satu Auror yang tak dikenal. "Dia punya rambut putih; apa kau kena mantra atau racun?"


Alis Toushiro terangkat.


"Dan juga mata abnormal seperti itu," tambah Umbridge menghina.


Para shinigami hampir yakin melihat ada kilatan api berkobar di mata Toushiro. Dua topik tertabu yang terlarang disebutkan di depan Komandan Divisi 10 itu adalah tanda bahaya.


Di tambah lagi, para Auror di belakang Fudge bergerak maju dengan tongkat sihir teracung.


"Ara, ini merepotkan," kata Urahara, menurunkan topi bergarisnya. Tepat saat itu salah satu Auror itu meluncurkan Mantra Bius. Namun, mantra itu tak berhasil mengenai Toushiro. Hyourinmaru, dengan gerakan sangat cepat, sudah berdiri di depan Toushiro; cakar esnya mencengkram energi sihir dari Mantra Bius yang ditangkapnya, membeku dalam es kebiruan.


"Jangan berani-berani," kata Hyourinmaru dingin, nadanya mengintimidasi, sambil menghancurkan es di tangannya yang seperti cakar seakan terbuat dari keju, "bicara seperti itu dan berpikir kau bisa melukai Masterku, penyihir."


"Yare-yare," kata Kyouraku dengan nada riangnya, seakan berusaha mencairkan suasana yang tegang, "bagaimana kalau kita bicarakan ini baik-baik, Pak Menteri? Sangat tidak bijak jika mencoba menyerang seseorang di sini, ne?"


"Ap-?"


"'Draco dormiens nunquam titillandus'," kata Yoruichi, memperlihatkan senyum kucingnya. "Jangan mengganggu naga tidur. Terutama seekor naga es yang kuat, overprotektif, dan angkuh…."


Baik Toushiro maupun Hyourinmaru menatap Yoruichi Shihouin, yang menyeringai usil.


Fudge menatap wanita itu dengan tak percaya, lalu ke si pria berambut hijau. Betapa kagetnya ia melihat mata abu-abu gelap pria itu menyala, dalam arti sesungguhnya, membuatnya seakan berpendar kebiruan. Tak hanya itu, mata bocah berambut putih di belakangnya juga berada dalam kondisi yang sama.


"Mari kita bicarakan ini di kantorku," tawar Dumbledore ramah.


"Dan saya akan menjelaskan lebih rinci, Pak Menteri, karena saya-lah yang mengutus Komandan Hitsugaya, Kurosaki-kun, Urahara-san, dan Shihouin-san ke Hogwarts," kata Kyouraku, membuat Menteri Sihir memandngnya dengan sangat terkejut. "Saya Shunsui Kyouraku. Sebenarnya aku tidak terlalu suka mengatakannya, tapi aku adalah Komandan Tertinggi Gotei 13. Singkatnya, atasan Komandan Hitsugaya."


Dari tampang Fudge, bisa dikatakan bahwa ia sama sekali tak menyangkan kalau pria yang memakai mantel berbunga-bunga yang sulit dikatakan lebih parah atau tidak dari kardigan berbulu pink Umbridge itu adalah pemegang komando tertinggi di pasukan pelindung Dunia Roh.


"Mari," kata Dumbledore ramah, "kantor saya sudah menunggu."


"Kyouraku harus sedikit membuang sikap malasnya," kata Shinji, walau senyum kucing Chesire-nya masih tetap di wajahnya. Dumbledore telah membawa Menteri Sihir dan para Auror-nya ke kantornya di lantai tujuh, bersama Kyouraku yang memasang tampang cerianya seperti biasa.


"Apa itu mungkin?" celetuk Ikkaku.


"Tidak," sahut Ukitake ringan. "Dari apa yang pernah dia katakan, dia akan berhenti bersikap malas jika sikap malas berhenti menjadi mengagumkan."


Tepat saat itu, seekor kupu-kupu yang sangat tidak asing bagi para shinigami terbang mausk melalui pintu ek besar Aula. Kupu-kupu itu melayang anggun, dan hinggap di jari Ukitake. Untuk beberapa detik, semuanya terdiam, seakan menunggu. Sementara itu ekspresi Komandan Divisi 13 itu tak terbaca. Dan, ia menatap Urahara.


"Zero Division mengetahui tentang peristiwa ini," katanya serius.


"Apa?!" celetuk Ichigo dan Renji bersamaan. Dilihat oleh Harry tangan berselubung es Hyourinmaru berada di bahu Toushiro yang kaku.


"Salah satu dari mereka diutus untuk datang kemari," lanjut Ukitake, sekilas mengerling Toushiro dengan cemas.


"Kenapa mereka sampai repot-repot mengurusi ini?" gumam Isshin. "Siapa yang mereka kirim?"


"Senshumaru Shutara," sahut Ukitake.


"Badai akan datang," kata Hyourinmaru mendadak, dalam bahasa Jepang sehingga tak dipahami para penyihir. Toushiro langsung mendongak menatapnya. Tapi Hyourinmaru menatap ke luar, ke pintu yang terbuka. "Jangan tundukkan wajahmu. Penguasa langit tidak boleh tunduk pada badai." Hyourinmaru menatap Master-nya. "Dan tak semua badai membawa kehancuran."


Para shinigami menangkap pesan tersirat di kalimat teka-teki itu. Dan jelas, Toushiro juga memahaminya. Ada determinasi di wajah Komandan Divisi 10 itu.

__ADS_1


Genjiro Shitara menyadari, komandan termuda dalam sejarah Soul Society itu bukan orang yang akan mudah dikalahkan. Tidak, apalagi dengan seekor naga yang terikat dengan jiwanya.


__ADS_2