Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 23


__ADS_3

Sisa liburan di Grimmauld Place berlalu begitu cepat, kali ini dalam kemuraman. Suasana hati sang tuan rumah semakin buruk menjelang keberangkatan para siswa ke Hogwarts. Sepertinya hal ini disebabkan karena Sirius akan kehilangan mereka yang menemaninya tinggal di rumah keluarganya tanpa bisa keluar dengan bebas. Sirius bukan satu-satunya yang bad mood. Anak perwaliannya juga sama muramnya. Harry, untuk pertama kalinya tidak ingin kembali ke Hogwarts, karena itu berarti ia akan berada dalam tirani Dolores Umbridge lagi. Yang membuatnya bertambah merasa merana adalah kedatangan Severus Snape pada sore hari sebelum keberangkatan mereka ke Hogwarts. Guru Ramuan itu memberitahu Harry bahwa ia telah ditunjuk oleh Kepala Sekolah untuk mengajarinya Occlumency.


"Itu adalah cabang ilmu sihir yang rumit, tak diketahui umum, tapi sangat berguna untuk melindungi pikiran dari gangguan dari luar," kata Snape waktu Hary bertanya dengan gentar apa gerangan Occlumency itu.


Snape telah menyusun waktu pelajaran tambahan itu, yakni Senin sore pada pukul enam petang. Ia pun telah menyiapkan alasan untuk pelajaran rahasia ini, agar Umridge tak mencurigai mereka. Harry benar-benar menyambutnya dengan lesu, ia berharap Dumbledore saja yang mengajarinya tentang sihir entah apa itu. Snape selalu membuatnya merasa tak nyaman.


Akhirnya hari keberangkatan tiba. Setelah sarapan yang terburu-buru, mereka melangkah keluar dari rumah keluarga Black menuju hawa musim dingin bulan Januari. Lupin dan Tonks akan menjadi pengawal mereka kali ini, berangkat bersama mereka dengan Bus Ksatria, bus sihir berwarna ungu dengan tiga tingkat. Sirius Black jelas tak bisa ikut mengantar mereka kali ini. Ia melepas mereka pergi meninggalkan rumahnya yang suram dengan enggan dan muram.


Perjalanan dengan Bus Ksatria adalah hal baru bagi Ichigo. Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasakan menaiki kendaraan yang berkali-kali mengeluarkan letusan keras saat berbelok di tikungan, mampu menyalip di antara dua mobil yang berjalan bersisian di depannya dengan meluncur di antara dua mobil tersebut, atau menerobos lampu merah secepat kilat. Baru kali ini pula ia merasakan berkali-kali nyaris terjungkal jatuh karena seringnya bus sihir itu mengerem mendadak. Begitu turun di depan gerbang Hogwarts, Ichigo bersumpah tak akan menaiki bis sialan itu lagi.


Ichigo mendorong gerbang besi tempa Hogwarts untuk teman-temannya, dan bersama-sama, mereka menyeberangi halaman menuju Aula Depan. Ichigo berhenti mendadak, membuat Ginny menabrak punggungnya sampai terhuyung hampir jatuh.


"Ouch! Ichigo, jangan berhenti mendadak, dong!" keluh Ginny.


"Sori," gumam Ichigo, memandang lurus ke depan. Mereka mengikuti pandangan si rambut jingga, dan mengetahui siapa yang membuat Ichigo berdiri menatapnya dengan mata melebar.


Seorang pria paruh baya sedang berbicara dengan Profesor McGonagall di tengah koridor. Harry dan yang lain tak mengenali wajah khas Asia itu, yang dibingkai rambut seputih salju yang panjangnya mencapai pinggang si pria. Pria yang memakai mantel bepergian berwarna abu-abu gelap itu menoleh, menyadari kedatangan mereka. Wajah kebapakan yang baik hati itu tampak pucat, tapi ia tersenyum ramah pada mereka.


"Kurosaki-kun! Apa kabar?"


Ichigo bergegas mendekatinya. "Ka-kabar baik, Ukitake-san. Aku tidak tahu kalau anda datang kemari…"


"Ah, hanya mengecek keadaan saja," katanya ceria.


"Toushiro tidak apa-apa, 'kan?" tanya Ichigo. "Atau dia kenapa-napa karena itu anda datang kemari?"


Ukitake tertawa kecil mendengar hal itu. "Aku tidak datang kemari hanya karena itu! Dan apakah aku baru boleh datang kalau ada apa-apa?"


Ichigo menggaruk belakang kepalanya, lalu bergumam pelan. "Yah, tidak juga sih…"


"Dia masih di rumah sakit, Pomfrey-san bersikeras menyuruhnya tinggal satu malam lagi di sana, tapi kau tahu Shiro-chan. Dia paling benci di rumah sakit lama-lama. Ngomong-ngomong," Ukitake menatap Harry, Hermione, dan anak-anak Weasley, "teman-temanmu, Kurosaki-kun."


"Yep. Sekaligus target misi."


"Hati-hati, Mr Kurosaki," kata McGonagall, memandang berkeliling ke koridor yang sepi dengan waspada. "Menteri Sihir ada di sini."


Para penyihir muda itu bertukar pandang cemas. Hermione menatap McGonagall dan Ukitake bergantian, yang mana yang disebut belakangan tampak serius begitu topik ini disebutkan.


"Pak Menteri?" tanya Hermione.


"Mau apa dia kemari, Profesor?" tanya Harry.


"Menyelidiki 'penyerangan' yang dialami Toushiro," kata Ukitake tenang. "Mereka menganggap ini kejadian serius – tentu saja memang kenyataannya begitu, tapi kita tak bisa bicara tentang identitas asli kami dan juga tentang Arrancar – dan bermaksud melakukan penyelidikan menyeluruh. Hitsugaya-kun dalam misi ini adalah salah satu siswa pindahan. Jika terjadi sesuatu yang tidak beres, Kementerian Sihir Inggris takut ini akan merusak kepercayaan publik pada kredibilitas mereka, bahwa zona sihir Inggris tidak aman."


"'Kan memang begitu, dengan Anda-Tahu-Siapa di luar sana…" celetuk Fred.


"Aku tahu," kata Ukitake, masih sama tenangnya. "Biarkan saja Kementerian bergerak semaunya, toh mereka tak pernah tahu pergerakan kita. Dan untuk kasus Hitsugaya-kun, mereka tak akan temukan apapun. Arrancar itu sudah tewas dan Urahara-san langsung membereskan bekas pertempurannya tanpa sisa, tanpa jejak. Satu-satunya saksi adalah beberapa centaurus, tapi tak ada satupun dari mereka yang mau bicara pada Kementerian. Jadi, kita aman. Ah." Ukitake mengerling ke ujung koridor. "Menteri Sihir datang. Lebih baik kalian pergi sekarang. Kita bisa ngobrol lebih santai nanti."


"Pergilah," suruh McGonagall.


Maka, dipimpin si kembar Weasley mereka pergi ke Menara Gryffindor. Memang benar, bahwa lebih baik mereka menghindari bertemu dengan Fudge. Sungguh tidak bijaksana bertatap muka dengan orang yang memiliki kekuasaan besar di teritori sihir ini, yang juga adalah orang yang sama yang membentuk opini publik bahwa Harry adalah anak yang punya gangguan mental.


"Siapa Ukitake sebenarnya?" tanya Hermione pelan. "Komandan juga?"


"Ya. Dia, Juushiro Ukitake, Komandan Divisi 13," kata Ichigo. "Aku juga baru tahu kalau dia datang kemari Urahara ataupun Toushiro tidak memberitahuku tentang kedatangan mereka. Tapi, jika Kementerian kalian benar serius untuk melakukan penyelidikan, tentu saja perlu ada kesepakatan dengan pihak Shinou. Nah, karena keberadaan Shinou tidak seharusnya diketahui, maka aku bisa mengerti kenapa Komandan Tertinggi mengirim Ukitake-san." Tentu saja Kyouraku mempercayai sahabatnya itu untuk membereskan urusan macam ini. "Beliau cerdas, diplomatis, dan bisa dibilang paling baik hati di antara komandan lain, cocok untuk menghadapi sikap Kementerian."


"Bukan yang kemarin dulu membereskan berkasmu dan Toushiro? Byakuya Kuchiki?" tanya Harry.


"Yah, Byakuya juga bisa, sih," kata Ichigo. Mereka telah sampai di bordes menuju lukisan si Nyonya Gemuk. "Tapi mungkin bukan dia yang datang karena bisa saja orang itu sedang sibuk mengurusi klannya. Lagipula, kami menyusun skenario kalau Ukitake-san adalah wali Toushiro, eh? Tentu saja 'walinya' tak ingin terjadi sesuatu pada 'anaknya'?"


Ternyata Toushiro belum kembali ke Menara Gryffindor. Mereka tak menemukan si rambut putih di ruang rekreasi maupun di kamar anak laki-laki. Namun, saat makan malam, ia muncul di Aula Besar, tampak lebih pucat dari biasanya.


Banyak anak menatapnya dengan sangat heran. Pasalnya, tak seperti anak lain yang sudah memakai jubah sihir – walau bukan jubah resmi – Toushiro memakai pakaian Muggle yang dikenakannya tanpa cela. Ia mengenakan mantel keren berwarna biru gelap dengan kancing-kancing keperakan yang berkilau dalam timpaan cahaya lilin. Celana jins hitamnya sewarna dengan sepatu bot-nya yang anehnya menghantam lantai tanpa suara saat ia berjalan ke meja Gryffindor. Kalau saja lorong antara meja Gryffindor dan Hufflepuff adalah jalur catwalk, Toushiro sudah cocok sekali jadi modelnya, dengan wajah tanpa ekspresi yang dipasangnya dan bertahan bahkan setelah dia duduk di antara Hermione dan Ichigo.


"Ckckck," komentar George, menggelengkan kepalanya bersama saudara kembarnya.


"Apa kalian, cowok-cowok Jepang…" kata Fred.


"… tahu sekali soal fashion?" sambung George.


Toushiro mengangkat alis, menanyakan maksud pertanyaan itu tanpa kata.


"Kau tahu, itu penampilan…"


"… yang bahkan sempurna untuk Muggle…"


"… dan Ichigo juga sama bergayanya denganmu."


Ganti Ichigo yang menggelengkan kepalanya. "Itu 'kan bukan hal besar…"


"Iya, sih," sela Dean. Ia mengerling Toushiro yang menuang teh ke dalam cangkir di depannya. "Tapi lihat nih anak. Dari mana kau dapat jaket keren itu?"


"Tidak tahu dan tidak peduli," kata Toushiro datar. "Temanku mendapatkannya untukku. Dia punya hobi belanja dan aku, sialnya, juga kena akibatnya."


"Rangiku-san?" celetuk Ichigo. Ia menyeringai. "Wow. Dia membelikanmu banyak barang bagus, ya?"


Toushiro mengangkat bahunya, tampak agak jengkel. "Kadang dia menganggapku manekin dengan banyak stok baju…"


"Tapi kau dari mana?" tanya Ichigo. "Rumah sakit? Ukitake-san bilang kau mau keluar hari ini? Sukses kalau begitu?"


"Aku sudah tidak di sana sejak pagi. Aku pergi ke Kementerian Sihir untuk memberikan kesaksian soal… itu."


"Soal ap-OH!" Dean memebelalak menatap teman berambut putihnya. "Jadi benar kau di serang?"


Toushiro hanya mengangguk tak peduli.


"Apa kau baik saja?" tanya Neville agak cemas.


"Ya," sahut Toushiro pendek.


"Apa kata Madam Pomfrey tentang itu?" tanya Ichigo.

__ADS_1


"Ichigo bilang kau tak bisa bergerak karena racun yang menyerang saraf itu…" kata Hermione.


"Tepatnya menyerang sistem saraf pusat."


Suara seorang pria yang ramah itu nyaris membuat mereka, kecuali Ichigo dan Toushiro. Harry menoleh. Juushiro Ukitake berdiri di belakang mereka, tersenyum ceria. Ichigo bergeser untuk memberi pria paruh baya itu tempat duduk, duduk di antara dirinya dan Toushiro. Banyak anak yang menatap kedatangannya yang tiba-tiba itu dengan sangat kaget. Siapapun akan langsung tertipu bahwa ia adalah ayah Toushiro, jika dilihat dari kesamaan warna rambut keduanya. Tapi jika dilihat dari dekat, tampaklah perbedaannya. Warna mata Toushiro berbeda dengan Ukitake, begitupula bentuknya; mata Toushiro lebih lebar. Selain itu, bentuk wajah mereka sama sekali tak mirip. Bentuk rahang Toushiro tak setegas Ukitake, walau karakter wajahnya dengan jelas menunjukkan bahwa Toushiro lebih dingin dari 'ayah angkatnya'.


"Mr Ukitake…" kata Hermione, menunduk canggung.


"Ah, jangan terlalu resmi. Ukitake saja sudah cukup," kata Ukitake ramah.


"Kukira kau sudah pulang," kata Toushiro datar.


"Well, kenapa aku tak bisa lebih lama untuk bersama anak sendiri?"


Ichigo berusaha keras menahan tawanya, sementara Toushiro mengangkat alisnya tinggi sekali sampai nyaris menghilang ke anak-anak rambutnya.


"Sungguh, kau tak perlu merepotkan dirimu…"


"Aku sedang tidak repot," kata Ukitake tenang.


Toushiro menghela napas. "Ini bukan waktu yang tepat untukmu datang ke sini. Musim dingin tidak baik untukmu…"


"Jangan cemas, Shiro-chan, jangan cemas. Isane-san memastikan aku sehat walafiat untuk menjengukmu. Astaga, kau benar-benar membuatku kaget, dengan kabar mengerikan itu."


"Jangan panggil aku begitu," desis Toushiro tak senang sambil menuang teh untuk Ukitake.. "Dan kau tidak perlu terlalu mencemaskanku; aku baik-baik saja."


"Kau akan selalu bilang begitu," kata Ukitake kalem, menyesap tehnya dengan tenang.


"Kapan anda datang kemari?" tanya Ichigo ingin tahu.


"Sehari sebelum Natal, iya 'kan Shiro-chan?"


Toushiro tak menjawab, jelas sebal mendengar nama panggilan yang diberikan Ukitake untuknya.


"Lalu, Mr Ukitake," kata Hermione ingin tahu, "tentang racun itu…"


"Ah, ya. Nah, itu racun yang langka sekaligus berbahaya. Racun itu menyerang saraf karnial yang mengatur kedua sisi saraf tubuh, mengakibatkan kelumpuhan perlahan. Selain iu, dia juga menyerang sistem kontrol dan kesadaran. Ia juga mengganggu aktivitas pengikatan oksigen oleh darah, mengirim rasa sakit yang membakar ke seluruh tubuh. Urahara-san menganalisa racunnya dengan cepat, dia memperkirakan bahwa racun itu akan menyebar sempurna dalam waktu tiga jam. Relatif lama, tapi mengingat kerja racunnya, kurasa siapapun yang terkena akan mati perlahan karena rasa sakit. Untung saja Urahara-san bisa membuat antidote-nya."


Mereka menatap Toushiro. Kalau guru nyentrik mereka tidak ada di Hogwarts, barangkali hari ini akan ada upacara pemakaman.


"Mirip botulisme yang disebabkan bakteri Clostrudium botulinum *), eh?" celetuk Ichigo. "Bakteri anaerob yang dapat bertahan hidup tanpa udara, menghasilkan racun yang menghambat pelepasan neurotransmitter acetycholine dari saraf. Bahkan dalam peperangan, senjata biologis ini dilarang penggunaannya secara internasional."


Mereka yang mendengar hal itu memandang Ichigo dengan kaget; bahkan Toushiro mengangkat alis. Hanya Ukitake yang tampak tenang.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Hermione terkejut.


"Aku tidak tahu kau mau belajar tentang itu, Kurosaki," komentar Toushiro.


"Aku bisa baca buku apa saja yang aku mau," gerutu Ichigo tersinggung.


"Nah, nah, nah," Ukitake menenangkan mereka. Ia mengeluarkan sebuah kotak pipih, lalu memberikannya pada Toushiro.


"Apa ini?"


Toushiro mengernyit. Dibukanya kotak itu, mendapati paling tidak lima belas botol kerdil dan lengkap dengan alat injeksinya.


"Kau mau aku memakai ini?" tanya Toushiro, nadanya agak tinggi. Ia menutup kotak itu. "Aku baik saja dan tidak butuh obat apa-"


Toushiro mendapat tatapan ganjil dari Ukitake. Entah kenapa, Harry melihat ada peringatan di tatapan Ukitake, yang membuat Toushiro bungkam seketika. Sekalipun mereka sama-sama komandan, jelas Ukitake lebih tua dari Toushiro, dan Toushiro pasti akan menghormati koleganya itu.


"Baik. Terserah saja."


Ukitake tersenyum puas. "Ada lima belas, satu hari satu dosis. Tanpa efek samping, Urahara-san bilang begitu."


"Hn."


Ukitake hanya menggelengkan kepalanya, tersenyum sendiri melihat Toushiro yang mengaduk-aduk tehnya dengan sebal. Beberapa anak menonton interaksi itu dengan bengong. Toushiro Hitsugaya yang dingin bisa juga takluk oleh 'ayahnya'.


"Jadi," Ukitake memandang berkeliling. Ia melempar senyum ramah pada anak-anak yang bersirobok dengan matanya, membuat mereka buru-buru memalingkan wajah dengan malu, takut membuat pria itu tersinggung. Beberapa cukup sopan untuk membalas dengan anggukan atau senyuman. "ini Hogwarts. Apa semua baik saja selama kalian berdua di sini?"


"Yeah, lumayan seru juga," kata Ichigo. Ia yakin pertanyaan itu untuknya karena pastilah selama liburan Ukitake telah bertanya banyak hal pada Toushiro.


"Kudengar dari Toushiro kau berkelahi dengan anak lain, Kurosaki-kun?" tanya Ukitake ringan. Dari nadanya, tak ada nada marah, malah geli, seakan hal itu sudah biasa di dengarnya.


"Well, anda tahu, kadang sulit menahan diri… tapi anda tak akan bilang pada siapapun, 'kan?"


Ukitake menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sejujurnya, Kurosaki-kun, aku tak perlu memberitahu siapapun. Teman-temanmu di Karakura maupun di sekolah, pasti sudah bisa menebaknya; sebetulnya aku mendengar kalau mereka bertaruh berapa kali kau menghajar anak lain dalam sebulan…"


"Mereka lakukan itu?" tanya Ichigo terkejut. Mana dia tahu kalau teman-teman shinigami-nya menjadikannya bahan taruhan. Ukitake hanya tersenyum mengiyakan.


Setelahnya, sisa makan malam diisi Toushiro dan Ukitake untuk bicara, dalam bahasa Jepang, tentu, sehingga tak ada yang mengerti apa gerangan yang dibahas. Meskipun demikian, Harry harus kagum dengan bagaimana kedua komandan itu berinteraksi dengan gestur yang sama sekali tak mencurigakan. Sekalipun tak ada satupun ucapan yang bisa dipahami dari mereka, baik Toushiro maupun Ukitake berbicara seakan dalam acara minum teh yang santai – Harry hampir yakin yang jadi bahan pembicaraan adalah tentang dunia mereka. Sesekali Harry mengerling ke meja guru. Dilihatnya Umbridge juga tak sering melempar tatapan curiga pada duo rambut putih itu, tanda ia menganggap semua berjalan normal.


Harry menoleh tepat ketika Angelina mendatangi mereka, duduk di seberang Toushiro.


"Liburan Natal-mu menyenangkan Toushiro?" sapanya berbasa-basi. Ia menatap Ukitake, "dan, er…"


"Johnson," kata Toushiro segera, "ini ayahku, Juushiro Ukitake. Dan tou-san, ini Angelina Johnson, kakak kelasku, kapten tim Quidditch Gryffindor."


Ichigo terbatuk pelan mendengar Toushiro menyebut Ukitake dengan tou-san. Untung saja tak ada yang memandangnya heran. Angelina memberi sahutan sopan pada pria paruh baya itu. Dalam benaknya, Angelina agak heran; nama belakang Toushiro dan ayahnya berbeda.


"Dan untuk menjawab pertanyaan pertamamu: tidak juga," kata Toushiro datar.


"Ah, yeah. Aku dengar soal kau yang diserang itu. Aku ingin tahu apa kau, well, kau tahu, baik-baik saja."


"Ya. Aku bak-baik saja," sahut Toushiro.


"Kau yakin? Kita akan mulai latihan begitu semester baru dimulai. Kalau kau belum sembuh dan tidak bisa terbang-"


"Oh, sebentar," sela Ukitake. "Terbang?"


"Toushiro belum cerita pada anda kalau dia bergabung dalam tim?" tanya Ichigo. "Tapi anda tahu Quidditch, 'kan?"

__ADS_1


"Ya. Urahara-san menceritakannya padaku. Tapi kau bergabung dalam tim?" Ukitake menatap Toushiro, lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa kau tidak cerita?"


"Aku tak harus menceritakan segalanya, 'kan?"


"Ah, seharusnya begitu. Aku ayahmu."


Toushiro menghela napas. Drama ayah-anak ini sungguh menyebalkannya. Lihat bagaimana beberapa anak menatapnya heran sekarang. Pastilah mereka menganggapnya anak pemberontak sekarang.


"Jadi ada apa, Johnson," kata Toushiro.


"Terakhir kali kucek, kau belum punya sapu sendiri. Kupikir kau harus segera pesan, kalau tidak kau akan pakai sapu sekolah, dan percayalah, itu hal terakhir yang akan kau – kita – pilih."


"Nah, akan kubelikan untukmu," kata Ukitake ceria.


"Tidak perlu, tou-san, aku sudah memesannya sebelum liburan," kata Toushiro kalem.


"Hah?" Ukitake memandang Toushiro dengan agak terkejut. "Kukira aku bisa memberikanmu sesuatu; aku belum memberi hadiah untuk ulang tahunmu!"


"Aku bukan anak kecil yang perlu hadiah…"


"Dan kau juga tidak perlu menggunakan tabunganmu untuk hal begitu!"


"Yeah, mentang-mentang punya banyak uang," timpal Ichigo.


"Sudahlah," kata Toushiro, agak kesal. "Aku bisa urus diri sendiri, oke?"


Ukitake mengerjap. "Baiklah." Kekeraskepalaan Toushiro Hitsugaya bukan hal yang mudah untuk ditundukkan sepenuhnya. "Kau tidak perlu menjadi dewasa sepenuhnya, kau tahu."


Toushiro mengerling sekilas pada pria di sampingnya, lalu bicara dalam bahasa Jepang. "Aku seharusnya begitu. Aku seorang komandan."


Harry tak mengerti kenapa kemudian Ukitake menatap Toushiro dengan pandangan prihatin. Mungkinkah apa yang dikatakan Toushiro dalam bahasa aslinya itu yang membuat Ukitake begitu?


"Ah, baiklah," kata Angelina, melihat ada keganjilan antara ayah-anak di depannya. "Kurasa kalau ada yang baru kita bicarakan dengan anggota lainnya saja.'


Toushiro mengangguk. Ia menghabiskan tehnya sebelum pamit pergi lebih dulu. Beberapa detik kemudian, Ukitake juga pergi menyusulnya.


"Apa semua baik-baik saja?" tanya Neville cemas, memandang pintu Aula Depan yang terbuka lebar, menampilkan malam yang telah turun. "Kelihatannya Mr Ukitake agak cemas."


"Yah, semuanya akan baik-baik saja," kata Ichigo pelan. Ia tahu Toushiro hanya tidak nyaman bersikap seperti anak-anak, hal yang sama sekali tak disukainya. Apalagi dengan Ukitake yang berperan sebagai ayahnya. Sejak dulu perhatian-bak-ayah itu membuatnya rikuh, entah apa alasannya. Mungkin karena secara teknis mereka adalah rekan kerja; sangat ganjil jika menganggap teman sendiri seperti orangtua. "Mungkin Toushiro hanya tidak suka karena membuat Ukitake-san cemas atau merepotkannya."


"Apa benar dia ayahnya?" tanya Angelina hati-hati. "Kok nama belakangnya beda?"


"Ayah angkat," kata Ichigo datar. Golden Trio yang sudah mendengar alibi ini tentu saja tak terkejut, beda dengan anak-anak Gryffindor lain yang berada dalam jarak dengar. "Toushiro yatim piatu, sebelum diambil oleh Ukitake-san sebagai anaknya, begitu."


"O-oh, begitu," kata Neville pelan. Ini hal yang baru diketahuinya dari Toushiro. Tapi, jika mengingat seperti apa kepribadian si rambut putih, rasanya jelas sekali kalau ia tak akan menceritakannya pada siapapun.


"Dia tidak ingin terlalu membebani Ukitake-san," kata Ichigo berimprovisasi. "Karena itu kalau ada sesuatu yang bisa diurusnya sendiri akan dia lakukan sendiri. Walau kadang itu membuat Ukitake-san bingung juga; Toushiro 'kan anaknya, eh?"


Selama beberapa menit tidak ada yang berbicara di antara Toushiro dan Ukitake. Kedua shinigami itu berjalan di koridor yang sepi menuju kantor Urahara. Tak ada siswa yang berkeliaran di sekitar mereka, bahkan para hantu tak berpapasan dengan mereka. Sesampainya di kantor guru Metode Pertahanan Klasik Jepang itu, mereka telah ditunggu oleh yang punya ruangan. Kisuke Urahara duduk di atas bantal sutra, di atas meja bundarnya telah menunggu sepoci teh yang mengepulkan uap panas. Yoruichi Shihouin meninggalkan wujud kucingnya kali ini, juga duduk di atas salah satu bantal sambil membaca koran sihir; ia mengangkat kepalanya dan menyeringai melihat kedatangan mereka. Mantan Komandan Divisi 2 itu melipat korannya dan melemparnya di atas meja.


"Datang juga akhirnya," katanya riang, sementara Toushiro menutup pintu di belakangnya dan menyihirnya agar tak ada yang mencuri dengar. "Apa kata Kementerian soal kasusmu, Hitsu-chan?"


"Omong kosong yang biasa," kata Toushiro. Ia sudah memutuskan untuk membiarkan orang-orang seperti Yoruichi, Ukitake, dan juga Ichigo memanggilnya dengan embel-embel chan atau dengan nama depannya seenak jidat. "Tak ada yang baru. Kuiyakan saja kata mereka untuk mengusut siapa penyerang yang tak akan mereka temukan lagi itu."


"Sayang sekali kau tidak mendapat informasi lebih dari Arrancar itu selain namanya," kata Urahara menyayangkan.


"Dia tidak memberiku kesempatan untuk ngobrol banyak," kata Toushiro, mengernyit.


"Tapi lumayan juga Arrancar ini, sebelum mati dia memastikan tak ada yang tahu tentangnya dengan cara mencoba membunuhmu," komentar Yoruichi.


"Aku yakin ini kali ke enam kau bilang begitu," gerutu Toushiro. "Aku tahu aku sedikit ceroboh dan tak memperhatikan serangannya…"


"Kau bisa ceroboh juga ternyata," kekeh Yoruichi. Toushiro cukup bijak untuk tidak membalasnya, memilih menyesap teh panasnya, berharap akan melunturkan kekesalannya.


"Kau harus lebih berhati-hati, Hitsugaya-kun," nasihat Ukitake. Ia memandang dua shinigami yang lain. "Kemungkinan kedatangan Arrancar itu ke Hogwarts adalah pergerakan pertama mereka. Selain itu, aku menerima laporan bahwa beberapa serangan hollow terjadi di lima distrik di Rukongai pada hari yang sama dengan kedatangan Arrancar itu."


"Hari yang sama?" tanya Toushiro waspada.


Ukitake mengangguk. "Sungguh mengganggu pikiran saat kita tahu ada yang terjadi tapi kita tidak tahu bagaimana dan kenapa. Kita bisa melawan hollow-hollow itu, tentu. Tapi, jika mereka datang terus, mati satu balik seratus, dan dengan konpaku lain yang perlu dilindungi, itu sungguh merepotkan."


"Memang iya, sih," kata Urahara membenarkan. "Apa Onmitsukido belum menemukan apa-apa?"


Ukitake menggeleng.


"Aneh sekali," kata Urahara serius. "Entah apa yang para Arrancar itu rencanakan, mereka membuatnya sangat rapi dan rahasia. Aku sudah menjelaskan pada Dumbledore-sama tentang ini, dan beliau setuju menambah proteksi sihir di sekitar Hogwarts. Dan aku juga sudah melapisinya dengan dinding kidou. Mungkin tidak terlalu berguna jika hanya mengandalkan kidou, karena jika dihantam cero sekuat Kurosaki-san yang mengalami holowfikasi saja bisa hancur, tapi paling tidak itu memberi kita waktu jika ada serangan."


Ukitake menghela napas. "Untuk sementara, itu hal terbaik yang bisa kita lakukan. Aku akan kembali ke Seireitei besok pagi, dan akan kulaporkan semua ini pada Kyouraku."


Keesokan paginya, saat Harry, Ron, Hermione, dan Ichigo tiba di Aula Depan untuk sarapan, mereka melihat Toushiro dan Dumbledore berdiri di undakan depan bersama Urahara dan Ukitake. Ichigo sudah menmberitahu mereka bahwa Ukitake akan kembali ke Soul Society hari ini.


"Selamat pagi," sapa Ukitake hangat, saat melihat mereka bergerak mendekat. Golden Trio menjawabnya dengan sopan. "Akan memulai semester baru?"


Hermione menjawabnya dengan gumaman sopan. Setelahnya, mereka mengucpkan selamat jalan pada 'ayah' Toushiro itu sebelum masuk ke Aula Besar lebih dulu. Ichigo dan Toushiro masih tertinggal, dapat didengar Harry beberapa pesan dari pria itu untuk keduanya.


"… jaga diri baik-baik kalian berdua; Kurosaki-kun, jangan berkelahi lagi. Dan-ah, Umbridge-san."


Harry melihat Umbridge ada di sana, tak salah lagi ingin menunjukkan keramahan palsu untuk Ukitake. Harry segera mengajak Ron dan Hermione menjauh dari tempat itu.


Ichigo mengernyit melihat Umbridge bergerak ke arah mereka. Ia menyapa Ukitake dan berbasa-basi tak penting dengan Komandan Divisi 13 itu, yang mana Ukitake dengan tenangnya meladeninya. Kesabaran Juushiro Ukitake selalu membuat Ichigo kagum.


"… terima kasih atas kunjungan anda, Mr Ukitake," kta Umbridge manis. "Saya berharap anda menikati kunjungan anda ini."


"Tentu, tentu," kata Ukitake dengan senyum ramah.


"Dan kami akan mengusut kasus yang menimpa putra anda. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas kejadian yang sangat disayangkan ini."


Kalau saja Umbridge melihat Urahara menyeringai di balik kipasnya atau Ichigo yang memutar-mutar bola matanya, dia akan tahu ada yang tidak beres. Beruntung saat itu sang Inkuisitor Agung sibuk memberi kesan baik pada tamunya.


"Oh, terima kasih, Umbridge-san. Tapi sungguh, jangan merepotkan diri anda. Saya sudah sangat senang karena Toushiro baik-baik saja…"


Setelah berbincang sebentar, Ukitake pun pamit pergi. Mereka mengawasinya berjalan cepat meninggalkan halaman Hogwarts. Setelah sosoknya menghilang di balik gerbang besi tempa Hogwarts, Urahara menyuruh Ichigo dan Toushiro kembali ke sarapan mereka.

__ADS_1


Semester baru. Dan mungkinkah itu berarti masalah dan musuh baru?


__ADS_2