
Senin pertama mereka berjalan seperti biasa. Binns masih sama membosankannya, Ramuan masih sama suramnya, Arithmancy masih sama menantangnya untuk Ichigo, Toushiro, dan Hermione, sedangkan Ramalan masih sama menjemukannya untuk Harry dan Ron. Untuk Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, semua siswa setuju kalau pelajaran itu sama menjemukannya dengan pelajaran Binns sekarang. Setiap jam PTIH tiba, yang mereka lakukan hanyalah membaca bab-bab hasil tulisan Slinkhart yang sulit diserap otak sebagian besar para siswa.
Tak hanya pelajaran-pelajaran di hari pertama yang memusingkan Harry – karena para guru kompak mendera para siswa dengan PR-PR yang lain. Anggota LD tak hentinya menuntut jawaban kapan latihan dimulai. Harry tentu saja tak bisa memberitahukan pada mereka, kecuali Ron, Hermione, Ichigo, dan Toushiro kalau ia ada latihan memblokir pikiran bersama Profesor Snape. Dan pelajaran itu ternyata sulit bukan main.
Snape melatih Harry dengan cara menembus pertahanan pikiran Harry, dan Harry harus berusaha, entah bagaimanapun caranya, untuk tak membiarkan Snape melihat ke dalam pikirannya terlalu jauh. Sulitnya untuk fokus adalah masalah besar bagi Harry. Ia berkali-kali gagal, membuat Snape jengkel dan kepalanya berdenyut menyakitkan dari waktu ke waktu.
Baru diketahui Harry kalau sakit kepalanya memberi petunjuk baru. Di halaman depan Daily Prophet yang dikirimkan untuk Hermione menampilkan berita utama yang cukup mengejutkan. Toushiro yang juga berlangganan koran sihir itu tak kalah serius mencermati halaman depan.
PELARIAN BESAR-BESARAN DARI AZKABAN
KEMENTERIAN MENDUGA BLACK ADALAH "TEMPAT BERKUMPUL" PARA PELAHAP MAUT LAMA
"Wah," komentar Ichigo, ikut membaca halaman depan dari bahu Toushiro. Si rambut jingga mengernyit sambil membaca beritanya dan mengamati wajah sepuluh Pelahap Maut yang kesemuanya memiliki ekspresi yang nyaris sama; licik dan kurang ajar. "Sepertinya kekacauan sudah dimulai. Tunggu…" Mata Ichigo tertuju pada satu-satunya penyihir wanita di antara buronan itu, lalu membacanya tanpa suara. Bellatrix Lestrange, dihukum karena penyiksaan dan menyebabkan ketidakmampuan permanen Frank dan Alice Longbottom.
Sedetik kemudian, yang masuk ke dalam retina Ichigo adalah keterkejutan di mata Toushiro, yang memberi tanya tanpa suara padanya. Tak salah lagi, otak cerdas Komandan Divisi 10 itu menemukan sesuatu.
"Longbottom?" tanyanya dalam bisikan.
"Orangtua Neville, yeah," kata Ichigo pelan, dalam bahasa Jepang. "Maaf belum memberitahumu sebelumnya. Aku ketemu dengan mereka waktu menjenguk Mr Weasley di St Mungo. Mereka hilang ingatan akibat disiksa oleh dia." Ichigo mengedik ke arah foto Bellatrix.
"Jadi waktu itu," teringat saat Neville ingin memukul Draco, "dia…"
"Yep." Hanya itu sahutan Ichigo. Tapi ia tahu kalau Toushiro sudah lebih dari sekedar mengerti. Tak perlu penjelasan lebih tentang hal ini, membuat tak ada yang berbicara di antara Ichigo dan Toushiro untuk beberapa waktu kemudian. Toushiro membaca korannya lebih serius, dan Toushiro, mencerna informasi di balik hal-hal yang jelas berusaha ditutupi oleh Kementerian.
Ichigo sendiri kembali ke sarapannya, semangkuk sereal, sambil menatap sekelilingnya. Tak banyak anak-anak Hogwarts yang berlangganan Daily Prophet, sehingga yang mengetahui berita kaburnya sepuluh Pelahap Maut belum diketahui langsung oleh mereka. Namun, hal itu berbeda dengan meja guru. Para guru tampak lebih serius dari biasanya. Tampak Profesor Dumbledore sedang bicara serius dengan Profesor McGonagall; Profesor Flitwick sedang berbincang dengan Profesor Sinistra; Profesor Sprout sedang membaca korannya, sendoknya terhenti di tengah udara dan meneteskan kuning telur ke pangkuannya. Urahara juga membaca Daily Prophet, namun, Ichigo tak heran kalau pria itu satu-satunya yang bisa menghadapi kekacauan dalam bentuk apapun, bahkan serangan **** liar Ganju Shiba, dengan senyum riang yang ganjil dan suara ala perbincangan di acara minum teh sore. Umbridge juga absen melempar tatapan menuduh ke seluruh Aula, cemberut sambil memakan buburnya.
Berita tentang kaburnya para Pelahap Maut itu baru terasa kegemparannya setelah mendekati makan siang. Para siswa kasak-kusuk menggosipkan berita ini. Tak hanya itu, mereka yang anggota keluarganya mengalami tindak kriminal dari para buronan itu turut jadi bahan perbincangan. Selain itu, berita ini turut pula memunculkan ketidakpuasan bagi banyak pembaca Daily Prophet, yang tidak menjelaskan lebih rinci tentang pelarian besar itu. Hal ini membuat mereka yang ragu mulai menanyakan kembali kesaksian Harry akan kebangkitan Lord Voldemort.
Di tengah kebingungan para penyihir muda ini, Hermione Granger menemukan cara cerdas untuk mengekspos kebenaran tentang Voldemort tanpa campur tangan Kementerian atau Daily Prophet. Saat akhir pekan Hogsmeade, ia meminta Harry untuk datang ke Three Broomstick pada tengah hari. Mulanya Harry bingung, apa gerangan yang direncanakan oleh sahabatnya itu. Namun, daripada bermuram durja pasca kencannya dengan Cho yang gagal total, maka ia memilih untuk mendatangi Hermione. Lagipula ia sendirian di desa sihir itu; Ron dan Toushiro sedang latihan Quidditch dan Ichigo entah dimana, mungkin sedang mengelilingi desa dengan dalih patroli.
Ternyata yang ditemui Harry tidak hanya Hermione Granger, yang duduk bersama teman minum teh paling ganjil yang bisa dibayangkannya tentang gadis itu; Rita Skeeter dan Luna Lovegood. Ternyata rencana Hermione adalah memberitakan kebangkitan Lord Voldemort dan para Pelahap Mautnya ke media, bukan Daily Prophet, melainkan The Quibbler yang dieditori oleh ayah Luna. Dengan senang hati Harry melakukan ide ini. Ia ingin melakukan sesuatu, entah itu berhasil apa tidak.
"Aku tidak mengawasimu selama beberapa jam dan ini yang kau lakukan?"
Ichigo menggelengkan kepalanya tak sabar. Harry dan Hermione telah kembali ke Hogwarts untuk makan malam. Ichigo sudah ada di sana, tapi Ron dan Toushiro belum. Mungkin masih latihan Quidditch. Begitu menceritakan apa yang baru saja terjadi, teman-teman sekelasnya – kecuali Seamus, tentu – tampak agak kagum. Tapi Harry heran melihat Ichigo tampak agak kesal. Ia langsung mendelik galak begitu yang lainnya tidak melihat mereka.
"Kukira ini ide bagus," kata Harry pelan, tak ingin didengar yang lainnya. "Ini akan memberikan masyarakat sihir kebenarannya."
"Kau tahu apa resikonya?" tanya Ichigo tajam. Harry bungkam. Ia sudah pikirkan ini. Ia akan menghadapi Umbridge, dan siapa saja yang namanya ia sebutkan sebagai Pelahap Maut.
"Yeah…" kata Harry perlahan.
"Semuanya?" desak Ichigo.
Harry menelan ludah. Benarkah ia sudah memikirkan semuanya?
"Lihat?" Ichigo menghela napas. "Ini lebih dari sekedar memberitahu kebenaran. Kau harus bisa membuat mereka yang mendengarnya percaya dan bukan meragukanmu. Belum lagi apa yang akan kau terima setelahnya, kepercayaan mereka atau justru kemarahan mereka. Jadi…"
"Apa yang kalian bicarakan?"
Ron dan Toushiro memasuki Aula, dan keduanya berlumuran lumpur. Toushiro mengernyit menatap Ichigo, tampak agak jengkel. Sedangkan Ron memilih duduk di samping Harry, mulai mengambil makanan ke dalam piringnya dan menolak menatap siapapun. Toushiro menatap Ichigo menuntut jawaban.
"Well, Harry tadi diwawancara oleh wartawan entah siapa untuk memberitahu seluruh penyihir tentang kembalinya si Voldemort itu dan siapa saja Pelahap Mautnya dan…"
"Kau lakukan itu?" Toushiro menatap Harry dengan galak. "Dasar *****!" desisnya sengit.
"Tapi…" repet Hemione cemas.
Toushiro menghela napas, seakan sedang menahan diri untuk tidak meledak marah. Dia mengambil pai daging dan berdiri. "Terserah sajalah. Resikonya kau tanggung sendiri."
Dan si rambut putih meninggalkan Aula Besar, menyisakan jejak berlumpur di belakangnya. Harry agak tak enak hati. Kekesalan Toushiro terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata. Setahunya, semakin jengkel ia, semakin sedikit ia bicara.
"Jadi," kata Hermione, memecah keheningan, "bagaimana latihan Quidditch-nya?"
"Mimpi buruk deh pokoknya," jawab Ron getir. "Dua Beater baru itu lebih parah dariku; Angelina sampai nyaris nangis karena mereka benar-benar payah. Toushiro sih enak, dia tidak dimarahi sama sekali. Tapi," Ron menelan kunyahannya. "dia bikin strategi untuk pertandingan! Gila tuh anak! Kayak bakal berhasil saja dengan anggota tim macam aku…"
"Jangan bicara begitu, Ron," tegur Hermione.
"Heh, kalau Toushiro buat strategi, dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Ikuti saja, dan kalian akan menang," kata Ichigo, sesekali ia melempar tatapan tajam pada Harry. Mungkin ia masih kesal dengan wawancara itu.
"Tapi aku ragu kalau itu akan berhasil," kata Ron muram. "Kami tim terpayah tahun ini…"
"Yah, terserah kau sajalah," gerutu Ichigo. "Kalau kau mau jadi payah selamanya, teruslah begitu."
Dan Ichigo juga pergi meninggalkan meja Gryffindor. Golden Trio terdiam dan tercengang. Kedua shinigami muda kompak dalam keadaan bad mood.
Pertandingan Quidditch Gryffindor versus Hufflepuff berlangsung pada akhir pekan berikutnya. Ron masih gagal dalam menangkap Quaffle yang ditembakkan oleh para Chaser Hufflepuff dan dua Beater baru Gryffindor benar-benar mengerikan; benar kata Ron kalau mereka berdua bahkan lebih parah darinya. Sloper menghantamkan pemukulnya ke arah Angelina alih-alih Bludger dan Kirke gampang kaget; ia menjerit di udara saat Zacharias Smith melesat melewatinya untuk menangkap Quaffle. Meskipun demikian, performa Seeker baru Gryffndor melebihi apa yang bisa diperkirkan Harry. Benar kata Angelina kalau Toushiro berbakat untuk terbang. Ia mampu menghindari Bludger dari dua Beater Hufflepuff yang berusaha menjatuhkannya atau Bludger dari dua Beater Gryffindor yang tidak tahu apakah mereka menghantam lawan atau kawan. Yang jelas, Toushiro menjadi penyelamat muka Gryffindor dalam pertandingan kali ini.
Toushiro ternyata membeli Firebolt sebagai partnernya untuk menangkap Golden Snitch. Sapu itu baru datang ketika sarapan sebelum pertandingan, membuat banyak anak terpana. Harry sendiri yakin Draco Malfoy dan kroni-kroninya ternganga melihat sapu standar untuk Piala Dunia itu dimiliki si rambut putih. Dan Harry sendiri juga takjub, karena ia ingat betul kalau Toushiro membeli sapu itu dengan uangnya sendiri, menolak bantuan dari Ukitake. Mungkin, shinigami juga punya gaji tetap, dan pastilah pemasukan Toushiro lumayan besar mengingat posisinya yang tinggi di jajaran Gotei 13.
__ADS_1
Toushiro menyelamatkan muka Gryffindor di menit ke dua puluh dua. Ia melesat lebih cepat dari siapapun, bahkan Seeker Hufflepuff, Summerby, gagal menyusulnya. Snitch di tangkap di ketinggian seratus meter dalam kecepatan jet. Jadilah Gryffindor menang dengan skor tipis 240-230.
"Terbangmu bagus sekali," puji Harry setelah mereka semua kembali ke Menara Gryffindo untuk merayakannya; walaupun perayaan kemenangan kali ini sama sekali kehilangan antusiasmenya.
Toushiro hanya mengangkat bahu, tampak kurang puas.
"Lain kali," kata Angelina, nimbrung ke percakapan sambil membawa botol Butterbeer-nya, "kita pakai strategimu saja. Kita kacau sekali, dan dua Beater idiot itu perlu diatur."
"Strategi?" tanya Harry, memandang Angelina dengan heran. "Aku ingat Ron bicara tentang Toushiro yang membuat rencana untuk pertandingan… Apa kalian tidak jalankan itu?"
"Well," Angelina berdeham, tampak agak salah tingkah, ditambah Toushiro menatapnya agak kesal. "Aku tidak berpikir kalau rencana itu akan berhasil. Tapi aku tak menyangka Toushiro bisa memprediksi semua pergerakan Hufflepuff dengan tepat; hampir semua tebakannya benar, seperti si Smith yang akan jadi penyerang utama."
"Aku 'kan sudah bilang kalau aku sudah menonton latihan dan pertandingan tim Hufflepuff, jadi aku dapat referensi tentang pola gerakan mereka…"
Sekarang hampir seluruh penghuni asrama mendengar percakapan itu. Anggota tim Gryffindor, plus Fred dan George menatap Toushiro tak percaya.
"Kau lakukan itu?" tanya Lee sangat kaget.
"Itu… curang, 'kan?" tanya Hermione ragu.
Toushiro mengangkat alis. "Curang?"
"Aku yakin istilah yang tepat adalah licik tapi cerdik," komentar Ichigo, nyengir.
"Untungnya, Granger," kata Toushiro kalem, mengibaskan tangannya menolak Kue Kenari dari Fred, "Turnamen Quidditch Hogwarts tidak seekstrem yang kau duga. Tiap tim boleh menonton latihan tim lain, dan tak ada larangan untuk mengamati gerakan tim lain juga. Jika kalian cukup pintar, kalian bisa memanfaatkan kelonggaran ini untuk menganalisa tim lawan sebelum pertandingan dan menyusun langkah untuk mengalahkan mereka. Peraturan itu agak berbahaya soalnya, tapi jika cukup pintar juga, tim yang diamati sudah menyiapkan rencana B. Sayangnya," Toushiro mengerling ke Angelina, "kalian tidak percaya padaku."
"Aku hanya tidak menyangka kau bisa membuat rencana semacam itu," kata Angelina membela diri. "Kami tidak pernah mengamati tim lain sebelumnya, dan apa yang kau lakukan adalah hal baru. Dan sejujurnya, aku lebih tidak menyangka kau bisa membuat strategi yang bagus sekali, kukira kau main-main…"
"Mana mungkin Toushiro main-main," kata Ichigo, duduk santai menyelonjorkan kakinya di sofa sambil membaca buku Transfigurasinya. "Dia orangnya serius, tahu. Bahkan hal macam Quidditch saja akan dilakukannya dengan sungguh-sungguh walau dia tidak terlalu suka. Dan tambahan, dia ahli taktik di… Shinou. Coba saja main shogi, dan hitung berapa kali kau akan dibantai. Shogi itu catur Jepang," tambah Ichigo melihat tatapan bertanya Hermione.
"Aku hanya tidak suka membuang waktuku," kata Toushiro datar. "Kau sudah membuatku setuju masuk dalam tim, maka akan kupastikan aku tidak sia-sia ada di sini…"
"Tuh, kan. Kau membuatnya jadi serius sekali," sela Ichigo. "Santai sedikitlah. Itu 'kan cuma permainan."
Toushiro melempar tatapan galak pada temannya itu. "Kalau prinsipku seperti Urahara, mungkin aku akan sedikit santai. Tapi sayangnya, Kurosaki. Aku tidak seperti itu. Tidak puas? Selamat datang di duniaku."
Fred, George, dan Lee tertawa terbahak mendengar hal itu. Beberapa anak juga tertawa tertahan, sedangkan Ichigo menggerutu sambil berkata sebal, "Dasar Balok Es."
Harry menatap berkeiling. Anak-anak sudah mulai sedikit sibuk dengan percakapan masing-masing. Dilihatnya Ron yang duduk sendirian di sudut ruangan, tampak muram. Harry tahu betul kenapa ia begitu. Pastilah ia kecewa pada dirinya sendiri yang meloloskan empat belas gol di depan matanya. Hanya beberapa menit Ron ada di sana, sebelum menyelinap naik ke kamar anak laki-laki.
"Aku tahu Ron sebetulnya bisa jadi Keeper bagus," kata Angelina, menghela napas. "Itu kalau dia mau berhenti mendengarkan nyanyian dan ejekan dan intimidasi Slytherin…"
"Tapi bukan berarti tidak mungkin, 'kan?" kata Katie memberi semangat.
"Kita harus bereskan itu, dan memenangkan Piala Quidditch tahun ini," kata Angelina tegas.
"Berikutnya Ravenclaw, ya," kata Toushiro, tampak berpikir sejenak. "Bisa dibilang mereka tim terbaik Hogwarts saat ini…"
"Apa?!" seru beberapa anak terkejut.
"Semuanya bilang kalau Slytherin yang akan memenangkan Turnamen," kata Alicia.
"Yeah, dan kau bilang malah Ravenclaw," ujar Dean.
"Slytherin bukan apa-apa dibanding Ravenclaw. Pola gerakan mereka kacau, sedangkan Ravenclaw lebih terukur dan rapi. Sepertinya Ravenclaw pintar juga untuk mempersiapkan semua pergerakan mereka. Kalau Slytherin terkesan asal terbang, asal lempar, dan asal pukul. Menurutku Chaser Ravenclaw, si Davies itu adalah otak tim, hanya saja dia menyamarkan perannya dan mengandalkan dua Chaser yang lain sementara ia mengamati permainan, menunggu saat yang tepat untuk memberi instruksi pada anggota timnya. Dan Chang juga Seeker yang cukup andal dan- eh? Apa?"
Toushiro memandang teman-teman seasramanya yang sekali lagi menatapnya terpesona. Astaga. Apa mereka tidak tahu apa itu 'menyusun strategi'?
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Alicia sangat heran.
Toushiro memijit pangkal hidungnya. "Itu yang kusebut dengan melihat dan mengamati."
Keesokannya di Aula Besar, Golden Trio masuk untuk sarapan pagi tepat ketika pos burung hantu berdatangan untuk menyampaikan surat-surat. Hermione segera duduk di meja Gryffindor untuk menerima Daily Prophet-nya. Harry, yang tak mengharapkan surat apapun datang padanya dibuat heran saat seekor burung hantu mendarat di depannya. Ternyata tak hanya seekor. Lima burung hantu lain mendarat di depannya dan mengepak-ngepakkan sayap mereka dengan berisik dan berebut untuk menjatuhkan surat lebih dulu. Begitu armada penerbangan pertama pergi, tujuh burung hantu lain turun untuk mengantarkan surat mereka untuknya.
"Wah," komentar Ichigo geli, sementara banyak anak menoleh heran. "Tidak biasanya kau dapat surat sebanyak itu."
"Memang iya," kata Harry terengah.
"Kurasa aku tahu apa artinya ini, Harry," kata Hermione bersemangat. Ia mengambil bungkusan panjang berbentuk silinder yang dibungkus kertas coklat. "Buka ini dulu!"
Harry pun segera merobek kertas pembungkus gulungan itu. The Quibbler edisi Maret menggelinding keluar. Begitu Harry membuka sampulnya, ia menghadapi foto wajahya sendiri, dan huruf-huruf merah besar tertulis di atas foto itu:
HARRY POTTER AKHIRNYA BICARA: KEBENARAN TENTANG DIA YANG NAMANYA TAK BOLEH DISEBUT DAN MALAM AKU MELIHATNYA KEMBALI
"Selamat," kata Ichigo sarkastik. Meskipun demikian, tak ada raut kesal lagi di wajahnya, begitu pula dengan Toushiro yang hanya mengangkat alisnya. "Kurasa surat-surat itu dari para pembaca…"
"Begitu juga dugaanku," kata Hermione. "Harry, apakah kau keberatan jika kami membacanya?"
"Silakan saja," ujar Harry.
__ADS_1
Maka Ron dan Hermione mulai membuka amplop-amplop surat itu, diikuti si kembar Weasley yang dengan antusias melakukannya. Sepertinya ada yang mempercayai cerita Harry di wawancara itu, dan ada pula yang masih menganggapnya pembohong. Sesi membuka surat itu terhenti saat Dolores Umbridge mendatangi mereka.
Ichigo dan Toushiro diam saja melihat Umbridge menanyai Harry, yang berujung pada potong lima puluh angka dari Gryffindor, detensi tambahan untuk seminggu, dan dilarangnya untuk datang ke Hogsmeade lagi.
Sepeninggal Umbridge, Harry melihat kedua shinigami di depannya tampak agak tak peduli. Sepertinya baik Ichigo maupun Toushiro serius saat mengatakan bahwa Harry harus menanggung resiko tindakannya seorang diri. Ia tak tahu harus kesal atau tak senang karena hal ini.
Itu baru dampak yang dialami Harry. Beberapa jam setelahnya pengumuman besar telah disebar dan dipasang hampir di seluruh sekolah. Isi dari pengumuman itu adalah pelarangan badi seluruh siswa untuk membaca ataupun memiliki The Quibbler. Namun pelarangan itu bukan halangan bagi siapa saja untuk membacanya. Para pelajar telah satu langkah lebih maju darinya, memantrai The Quibbler agar tak bisa dibaca orang lain selain mereka. Dan, segera saja, menjelang tengah hari, semua anak di Hogwarts telah mengetahui isi wawancara Harry dengan Rita Skeeter itu. Hermione, dengan mata berbinar senang, merasa sangat yakin kalau usaha mereka berhasil; semua orang sekarang mulai mempercayai Harry.
Harry juga merasakannya. Bisik-bisik yang didengarnya jika ia lewat tak lagi bernada benci atau tak suka. Mereka sekarang melempar tatapan penuh tanya, tercabik dalam keraguan apakah mempercayai ceritanya atau versi Kementerian yang banyak celahnya. Jika ada hal yang menambah rasa puasnya, itu adalah Seamus Finnigan yang sekarang mau bicara padanya dan percaya padanya.
Satu-satunya hal yang mengganggunya adalah bagaimana anak-anak Slytherin memandangnya. Malfoy memimpin mereka melempar tatap dengki padanya. Harry, tentu saja tahu alasannya. Ia menyebutkan nama ayah sebagian besar penghuni asrama Slytherin dalam wawancaranya sebagai Pelahap Maut yang muncul di hari kebangkitan Voldemort. Menurut Hermione, kemarahan mereka juga karena mereka tak bisa membalas secara langsung, karena mereka tak bisa mengakui telah membaca The Quibbler.
Puncak dari kebahagiaannya adalah pesta besar di ruang rekreasi Gryffidor. Fred dan George dengan gembira menyihir halaman depan The Quibbler membesar memenuhi salah sudut ruangan, yang mana gambar Harry meneriakkan kalimat seperti "ORANG-ORANG KEMENTERIAN ***** SEMUA!" atau "MAKAN KOTORAN, UMBRIDGE!"
Toushiro yang pecinta ketenangan hanya bisa mengernyit kesal, tak bisa melakukan apapun selain duduk di sudut terjauh dengan tampang seakan terguyur Stinksap. Ichigo masih bisa menolerir keramaian ini, malah ia asyik mengobrol penuh antusias dengan Dean tentang sepak bola. Harry mulai merasa pusing mendenar teriakan fotonya sendiri yang mantranya mulai pudar, meninggalkan kamar rekreasi lebih cepat.
Namun, baru saja ia menutup pintu kamar anak laki-laki, tiba-tiba saja bekas lukanya terasa panas membara. Begitu ia jatuh ke tempat tidur, segalanya berubah.
Dan yang ia tahu beberapa saat kemudian, ia mendengar ada yang berteriak.
Harry membuka matanya. Ia tidak berada di ruangan gelap dengan wajah pucat seperti ular Voldemort yang memandangnya. Ia ada di kamar anak kelas lima Gryffindor, dengan Ron, Ichigo, dan Toushiro di dekat tempat tidurnya.
"Ada apa sih?" tanya Ichigo heran, membantu Harry untuk duduk. "Kau kenapa? Bekas lukamu sakit lagi?"
"Apa ada yang diserang lagi?" tanya Ron ketakutan.
"Tidak – semua baik saja," engah Harry, memegangi dahinya yang serasa ditempeli bara api. "Yah… Avery tidak… dia dalam kesulitan… Avery memberi informasi yang salah dan Voldemort marah sekali…"
"Kau ini bicara apa?" tanya Ron ngeri. "Apa kau… apa kau melihat Kau-Tahu-Siapa?"
"Aku baru saja menjadi dia," kata Harry gemetar. "Dia bersama Rookwood… Pelahap Maut yang kabur itu, ingat? Rookwood membeeritahunya kalau Bode tidak bisa memindahkannya…"
"Memindahkan apa?" tanya Toushiro tajam.
"Entahlah, sesuatu," kata Harry. Ia melihat kewaspadaan di mata turquoise itu. "Dia bilang Bode tak akan bisa melakukanya, bahkan dibawah Kutukan Imperius sekalipun. Dia di St Mungo setelahnya 'kan? Karena itu…"
"Siapapun yang menyihirnya adalah orang yang sama yang merencanakan pembunuhannya," kata Toushiro segera. Baik Harry maupun Ron menatapnya ngeri, menyadari betapa dinginnya suara Toushiro. Si rambut putih menatap Harry. "Ada lagi yang kau dengar?"
"Eh… yeah… Dia bilang dia akan mulai dari awal lagi untuk mengambil 'itu'," kata Harry pelan.
"Mungkinkah 'itu' adalah…" ujar Ron pelan.
"Senjatanya? Ya. Aku yakin begitu," kata Harry getir.
Hening sejenak. Harry melihat Ichigo dan Toushiro bertukar pandang. Dan kemudian, Toushiro merendahkan suaranya, begitu mendengar suara langkah kaki mendekati kamar. "Dengar, Potter," katanya agak tergesa, "aku tahu sulit untukmu menutup pikiranmu. Tapi, lakukan sekeras yang kau bisa untuk melakukannya…"
"Tapi itu sulit sekali!" protes Harry pelan, tak ingin didengar teman-temannya, apalagi setelah Seamus baru saja berhenti menganggapnya mengalami gangguan mental.
"Aku tahu," kata Toushiro. Harry merasa ada kilatan aneh di mata Toushiro. Entah kenapa itu membuatnya sedikit bergidik. "Coba saja melakukan yang terbaik yang kau bisa. Jangan biarkan dia memasuki pikiranmu." Toushiro menegakkan diri "Aku akan beri tahu Dumbledore tentang ini…"
"Jangan!" bisik Harry.
Baik Ichigo mupun Toushiro menatapnya tajam.
"Dia sudah tahu kau bisa melihatnya," kata Ichigo pelan.
"Tapi yang kau lihat itulah yang harus diketahuinya," ujar Toushiro. "Lakukan saja bagianmu dengan baik."
"Tapi…"
Bukan penglihatan itu yang membuatnya cemas. Apa yang direncanakan Lord Voldemort-lah yang menakutkannya. Bagaimana jika yang terluka lebih dari yang ia bayangkan? Bagaimana jika lebih banyak yang menderita karenanya?
"Jangan cemas," kata Ichigo, menepuk bahunya dengan bersahabat. "Kami akan melindungimu."
Ruang rekreasi Slytherin gelap, hanya diterangi perapian yang menyisakan bara api. Draco Malfoy berjalan mondar-mandir di tengah ruangan, sendirian. Semua penghuni asrama telah naik ke tempat tidur masing-masing, kecuali dia. Pikiran Draco dipenuhi banyak hal, termasuk kegusarannya pada Harry Potter.
Ya. Bagaimana si Potter itu bisa melakukan wawancara sampah itu dan menyebutkan nama ayahnya? Berani betul dia! Sungguh kurang ajar!
Draco menendang gumpalan perkamen bekas di lantai, langsung meluncur ke perapian dan terbakar dalam nyala besar. Ia merasa gusar bukan kepalang. Potter harus menerima akibatnya!
Tapi bagaimana? Jika ia menyerang Potter secara frontal, itu hanya akan merepotkan dirinya. Mana bisa ia mengakui kalau ia telah membaca majalah sampah si Lovegood itu. Bisa-bisa ia terjerat Dekrit Pendidikan nomor Dua Puluh Tujuh. Tidak. Ia harus memikirkan cara lain. Cara cerdas yang bisa membuat Harry Potter merasakan kesakitan secara tidak langsung, yaitu lewat teman-temannya. Jika ia mengerjai salah satu teman Potter, ia pasti bisa tahu kalau temannya itu celaka karena dia. Potter juga tidak terlalu ***** lagipula.
Tapi siapa? Ron Weasley? Tidak. Dia dan anak-anak Slytherin sudah sering mengerjainya, terutama di lapangan Quidditch. Hermione Granger? Tidak. Gadis itu juga sudah sering menjadi objek, dan selalu cukup pintar untuk tidak menggubrisnya. Lalu siapa?
Segera terlintas di pikiran Draco akan dua nama. Dua anak baru itu. Ichigo Kurosaki dan Toushiro Hitsugaya. Keduanya cukup dekat dengan trio sial itu. Dan, yang mana yang lebih baik menerima balas dendamnya.
Draco menyeringai. Ia sudah tahu jawabannya. Bukankah ia belum memberikan perlawanan yang sesungguhnya pada Toushiro Hitsugaya? Ia yakin ia belum cukup mempermalukan Hitsugaya di depan umum. Ia harus menyusun rencana yang lebih besar dampaknya untuk si rambut putih itu.
Dan ia tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan senyum puas, Draco Malfoy menaiki tangga menuju kamar anak laki-laki, meninggalkan ruang rekreasi Slytherin yang gelap dan kosong.
__ADS_1