Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 9


__ADS_3

Keesokan harinya, baik Toushiro maupun Ichigo menyadari ada ketegangan di antara Harry dan anak Gryffindor sekelas dengan mereka yang bernama Seamus Finnigan. Menurut keterangan Ron, hal itu terjadi karena Seamus menjadi 'korban' provokasi Kementerian Sihir, tentang kembainya Voldemort adalah palsu dan Harry dan Dumbledore adalah pembohong. Ichigo dan Toushiro tak banyak berkomentar tentang ini. Lagipula Harry mendapat serangan sewot yang tak mau repot-repot dua shinigami itu kena getahnya.


Keduanya lalu turun ke Aula Besar, mengikuti Golden Trio yang berdebat entah apa, untuk sarapan. Selama perjalanan banyak anak yang masih memandang Ichigo dan Toushiro, masih tidak familiar dengan kehadiran mereka.


"Ini lumayan mengganggu," kata Ichigo pelan, saat serombongan kecil gadis kelas tiga Hufflepuff melewati mereka sambil berbisik seru dan mencuri pandang ke arah mereka dengan pipi merona.


"Tahu apa maksudmu," gumam Toushiro. "Dan jubah ini sama mengganggunya dengan mereka."


Ichigo tersenyum kecil. "Sudah mulai kepanasan, Toushiro?"


Deathglare Toushiro itu lebih dipilih untuk tidak dilihat oleh Ichigo, yang mendadak beranggapan bahwa kucing bermata ungu yang bermain bola wol di dalam lukisan jauh lebih menarik. "Jubahnya juga mengganggu gerakanku," kata Toushiro tajam.


Aula Besar sudah terisi hampir semua penghuni sekolah. Obrolan ditingkahi denting garpu, pisau, dan atau sendok mengisi udara pagi bulan September yang muram. Mereka mengambil tempat duduk tak jauh dari Golden Trio, dibatasi oleh si kembar Weasley.. Keduanya menikmati sarapan sambil mendengarkan percakapan di sekitar mereka, mengabaikan beberapa bisik-bisik yang ditujukan pada mereka.


"Bagaimanapun juga," kata George dengan nada berpuas diri. Golden Trio dan si kembar sedang membicarakan tentang ujian ternyata. "tahun kelima adalah tahun yang mengerikan, itu kalau kau peduli pada hasil ujianmu. Fred dan aku berhasil tetap tegar."


"Yeah, dengan masing-masing cuma dapat tiga OWL," kata Ron.


"Yep. Lagipula kami merasa kalau masa depan kami di luar pencapaian akademis," kata Fred kalem.


Hermione mengernyit tak setuju. Tapi alih-alih mendebat si kembar, ia menatap Ichigo dan Toushiro penuh ingin tahu. "Aku belum pernah tanya sebelumnya tentang Shinou pada kalian. Seperti apa di sana?"


Toushiro mengangkat wajahnya, lalu menyapu pandangan dengan cepat, memastikan tak ada orang tak diinginkan dalam jarak dengar.


"Aku tak pernah menginjakkan kaki ke Shinou, sebetulnya," kata Ichigo pelan, sehingga hanya lima penyihir muda itu yang mendengar. "Tapi Toushiro bisa jelaskan."


"Aku tidak tahu banyak tentang Hogwarts, tapi jelas ada beberapa perbedaan," kata Toushiro, menyesap tehnya dengan tenang. "Kami belajar selama enam tahun. Bisa kurang dari itu jika kau punya cukup kemampuan."


"Mereka benar-benar mengajarkan cara bertarung dengan pedang?" tanya Ron antusias, mengabaikan tatapan tak setuju Hermione.


"Ya, selain mempelajari mantra kidou, mengendalikan reiatsu, beladiri – tangan – kosong …Tapi baru bisa mendapatkan pedangmu sendiri saat tahun ketiga. Setelahnya harus berlatih mengendalikan zanpakutou miliknya sendiri." Toushiro berhenti sejenak. "Urahara mungkin akan menjelaskannya saat pelajarannya."


"Ujiannya?" tanya Hermione.


"Sembilan puluh persen adalah praktek," kata Toushiro; bahu Hermione lesu. Toushiro menatap gadis itu sekilas, sebelum mengaduk tehnya. "Apa yang kau harapkan, kami dipersiapkan untuk menjadi petarung."


Hening sejenak, sementara Ron memilih mengamati jadwal pelajarannya.


"Kita baru dapat Urahara di hari Rabu!"


"Sedikit kesabaran tidak akan membunuhmu, Weasley," kata Toushiro, menghabiskan sisa tehnya


Hari pertama untuk kelas lima diawali dengan Sejarah Sihir yang luar biasa membosankan. Sang guru hantu, Profesor Binns memberi kuliah monoton tentang perang raksasa yang berdarah, membuat serangan kantuk melanda seluruh keras. Harry dan Ron memilih bermain hangman sepanjang pelajaran, sementara Ichigo terkantuk-kantuk sambil meminkan pena bulunya, asyik menggambar sketsa gambar adik kembarnya. Hanya Toushiro dan Hermione yang diberkahi kemampuan khusus untuk menyerap pelajaran, entah bagaimana cara guru mengajarkannya, hidup atau mati.


Setelahnya, mereka turun ke ruang bawah tanah untuk pelajaran Ramuan. Kelas yang dingin dan sikap mengintimidasi Severus Snape cukup membuat seluruh kelas diam dan tercekam. Kedua shinigami yang telah mengenal Byakuya Kuchiki dan Kenpachi Zaraki tentu tak terpengaruh ketidakramahan Kepala Asrama Slytherin itu. Dan hari itu, mereka belajar membuat Ramuan Kedamaian yang rumit. Banyak anak menemui kesulitan untuk membuat ramuan itu dengan sempurna. Neville Longbottom yang satu meja dengan Ichigo dan Toushiro pucat pasi saking gugup dan cemasnya.


"Tidak, Neville," kata Ichigo, saat Neville akan memasukkan potongan kelopak hydrangea alih-alih bubuk batu bulan. "Kau akan merusak ramuannya!"


"Ma-maaf," gumam Neville panik. "Aku... aku tak pernah baik di Ramuan."


"Tenanglah sedikit," kata Toushiro dengan suara kalem.


"A-aku tidak bisa," kata Neville mencicit. Wajah bundarnya mengerling ke arah Snape dengan gelisah; ketakutan terpeta jelas di wajahnya. Jelaslah apa yang membuat Neville begitu takut. Snape menginginkan kesempurnaan, menolak kegagalan, namun menuntut dengan sikap yang dingin dan mengancam, sesuatu yang tak bisa dilakukan Neville.


Ichigo dan Toushiro bertukar pandang. Menghela napas, Toushiro mengangkat kualinya dan pindah di sampng Neville, yang keheranan.


"Pertama, tarik napas dan tenangkan dirimu," kata Toushiro datar.


"Ap-?"

__ADS_1


"Lakukan saja!" desis Toushiro tajam. Neville menelan ludah. Kelas Snape yang dingin kalah telak dengan sikap si anak baru di samping Neville ini. Apa boleh buat… Neville menarik napas dalam, mencoba mengabaikan bau-bauan ganjil dari kuali teman-teman sekelasnya dan mengenyahkan kecemasan dari kepalanya. "Begitu." Suara Toushiro yang datar anehnya menenangkan Neville. "Sekarang konsentrasi pada ramuanmu, abaikan Snape jika itu mengganggumu begitu besar."


"Tapi-?"


"Jangan rendahkan dirimu sendiri jika kau sebetulnya bisa lakukan lebih dari kau yang sekarang, Longbottom," kata Toushiro datar. Ia kembali ke ramuannya. "Lakukan saja. Aku akan mengawasimu."


Maka, berusaha keras untuk fokus membuat ramuannya menjadi lebih baik, Neville mati-matian mengabaikan tatapan tak ramah sekaligus meremehkan Snape setiap kali ia melewatinya. Toushiro, bersama Hermione dan Ichigo berhasil memunculkan uap keperakan di atas kuali mereka, sesekali mengingatkan Neville saat ia akan memasukkan bahan yang salah. Akhirnya, lima menit sebelum pelajaran berakhir, walau ramuannya belum sempurna, Neville berhasil mencapai tahap dimana uap abu-abu muda muncul di atas kualinya. Jika bukan karena waktu yang sudah habis, ia mungkin bisa mendapatkan hasil sempurna.


Mereka berpisah di pelajaran selanjutnya. Ichigo, Toushiro, dan Hermione pergi ke kelas Arithmancy, membuat Ron sangat heran.


"Aku tidak percaya pada Ramalan," kata Toushiro saat Ron menanyakan alasan memilih pelajaran itu. Ichigo, malah memberi jawaban yang lebih mengejutkan.


"Aku suka matematika."


Ron ternganga kaget mendengar hal itu.


Heaven forsake! Adakah orang waras yang suka matematika berwujud Arithmancy? Atau, itukah yang orang waras lakukan?


Mereka bertemu lagi di kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Profesor Umbridge sudah duduk di belakang meja guru, memakai kardigan beludru berwarna merah jambu cerah dan pita hitam di puncak kepalanya. Senyum kodok yang sangat tidak menyenangkan itu menyapa mereka, bersama suara manis kekanak-kanakan yang sama sekali di luar selera siapapun yang mendengarnya.


Pelajaran kali itu, benar-benar di luar dugaan. Pertama, mereka menerima instruksi 'singkirkan tongkat sihir dan keluarkan pena bulu.' Semua anak jelas mengira bahwa Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam berarti mengetahui mantra-mantra pertahanan dan mempraaktekkannya. Namun, yang dilakukan Umbridge adalah 'kembali ke prinsip-prinsip dasar' dan membuat mereka membaca bab menjemukan 'Dasar-Dasar untuk Pemula' di Bab 1 Teori Pertahanan Sihir, Wilbert Slinkhart.


Aktivitas membaca yang menyamai bosannya mendengarkan Profesor Binns terusik saat Hermione mengangkat tangannya ke atas, dan buku Teori Pertahanan Sihirnya tidak susah payah dibacanya.


"Apa kau ingin menanyakan sesuatu tentang bab itu, Nak?"


"Bukan tentang bab itu, bukan," sahut Hermione


"Kita sedang membaca sekarang," kata Umbridge dengan senyum kodoknya. "Jika kau punya pertanyaan lain, kita akan membahasnya di akhir pelajaran."


"Saya punya pertanyaan tentang tujuan pelajaran anda. Di sana tidak disebutkan tentang menggunakan mantra pertahanan."


"Menggunakan mantra pertahanan?" ulang Umbridge dengan suara penuh tawa, membuat kernyitan Toushiro semakin dalam. "Wah, aku tak bisa membayangkan situasi apa yang muncul di kelasku yang memaksamu menggunakan mantra pertahanan, Miss Granger. Tentunya kau tidak mengharap akan diserang sewaktu mengikuti pelajaran?"


"Kita tidak akan menggunakan sihir?" celetuk Ron keras.


"Murid harus mengangkat tangan kalau mereka ingin bicara di kelasku, Mr…?"


"Weasley," kata Ron, mengangkat tangannya ke atas. Pada saat yang bersamaan, Harry dan Hermione juga mengangkat tangan mereka. Tapi kemudian, Umbridge menolehkan kepala kodoknya pada Hermione.


"Ya, Miss Granger? Kau ingin menanyakan hal lain?"


"Ya. Tentunya tujuan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam adalah melatih mantra-mantra sihir?"


"Apakah kau ahli pendidikan hasil didikan Kementerian, Miss Granger?"


"Tidak, tapi…"


"Kalau begitu kau tidak memenuhi syarat untuk menentukan 'tujuan' pelajaran apapun. Penyihir-penyihir yang lebih tua dan lebih pintar darimu (Ichigo dan Toushiro bertukar pandang, berpikiran sama. Jelas 'ahli pendidikan hasil didikan Kementerian' tidak berpengalaman) telah menyusun program belajar baru kita. Kau akan mempelajari mantra pertahanan dengan cara aman, bebas risiko…"


"Apa gunanya itu?" kata Harry keras. "Kalau kami akan diserang, itu tidak…"


"Tangan, Mr Potter!"


Harry mengangkat tinjunya, tapi Umbridge berpaling darinya. Beberapa anak sudah mengangakat tangan, termasuk Ichigo.


"Dan namamu adalah?" Umbridge bertanya pada Dean.


"Dean Thomas."

__ADS_1


"Nah, Mr Thomas?"


"Seperti yang dikatakan Harry tadi, 'kan? Kalau kami akan diserang, itu tidak bebas risiko!"


"Kuulangi, apakah kalian berharap diserang sewaktu mengikuti pelajaranku?"


"Tidak, tapi…"


"Aku tidak ingin mengkritik cara pengelolaan sekolah ini (sekali lagi, jalan pikiran dua shinigami itu sama; kau sudah mengkritiknya). Kalian telah dihadapkan dengan beberapa penyihir tak bertanggung jawab dalam pelajaran ini. Sangat tidak bertanggung jawab, malah." Senyum menyebalkan tersungging di wajahnya. "belum lagi turunan-campuran yang luar biasa mengerikan dan berbahaya."


Ichigo menggeratakkan giginya dengan geram. Beraninya perempuan itu bicara tentang Lupin seperti itu!


"Kalau yang anda maksudkan Profesor Lupin," kata Dean marah, "dia guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam terbaik yang…"


"Tangan, Mr Thomas! Seperti yang kukatakan tadi, kalian telah diajari tentang mantra-mantra yang tak pantas kallian kuasai, dan kalian ditakut-takuti dengan kepercayaan bahwa kalian akan diserang kapan saja…"


"Kau tahu apa pendapatku?" gumam Ichigo pada Toushiro yang menyilangkan tangan di depan dada dengan wajah tanpa ekspresi, sementara anak-anak lain mulai mengajukan pertanyaan, beberapa yang langsung bertanya akan menerima 'tangan, Mr…' atau 'tanganmu tak terangkat, Miss…' "Ini konyol sekali. Bisa tambah buruk tidak, ya."


"Siapa yang kau bayangkan ingin menyerang anak-anak sepertimu?" tanya Umbridge dengan suara semanis madu, berbahaya.


"Hmmm, coba saya pikir," kata Harry berpura-pura berpikir; Toushiro mengangkat alis. "Barangkali… Lord Voldemort?"


Ron menahan napas; Lavender menjerit pelan; Neville merosot dari bangkunya. Tapi ekspresi puas tercetak di wajah kodok itu.


"Potong sepuluh angka dari Gryffondor, Mr Potter."


"Ini akan tambah buruk," gumam Ichigo, sangat pelan sehingga hanya Toushiro yang mendengarnya di kelas yang hening mendadak. Yah, bertambah buruk. Harry mempertahankan argumennya bahwa Lord Voldemort telah kembali, berujung pada pemberian detensi untuknya. Harry bergeming di tempat, matanya menyala gusar, dan kedua shinigami bisa melihat kesedihan , kekecewaan, dan kemarahan terkumpul di sana.


"Harry, jangan!" Hermione berbisik memperingatkan, menarik-narik tangannya. Tapi Harry menyentakkan tangannya.


"Jadi, menurut anda, Cedric Diggory meninggal atas kemauannya sendiri begitu?"


Toushiro dan Ichigo berdiri mendadak, membuat Hermione terkesiap kaget. Keduanya bergerak di kanan dan kiri Harry, yang gemetar saking marahnya.


"Sudah cukup, Potter," kata Toushiro dengan suara tanpa emosi. Ia memandang Umbridge yang tampak dingin.


"Yeah, cukup semua kekonyolan ini," gerutu Ichigo.


"Seseorang mati dan kau bilang ini kekonyolan?" gertak Harry dengan suara gemetar.


"Kubilang cukup!" kata Toushiro dengan nada tinggi.


"Kau tak mengerti! Kau tak tahu apa-apa!"


Tapi Toushiro menatap Umbridge, bukannya Harry yang wajahnya memerah, mengabaikan tatapan takjub yang lain. "Anda sebaiknya mengetahui kenapa pelajaran ini disebut Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, Profesor."


"Boleh kuingatkan sekali lagi tentang adakah salah satu dari kalian yang…"


"… ahli pendidikan hasil didikan Kementerian Sihir?" ujar Toushiro datar. Sebenarnya aku petarung hasil didikan Komunitas Roh, kata Toushiro dalam hati. "Tak perlu, Profesor, ingatan saya masih baik. Dan tak bermaksud membandingkan dengan Shinou, saya berharap Hogwarts bisa mengajarkan saya cara mempertahankan diri dari Ilmu Hitam."


"Kuharap kau sadari Mr…?"


"Hitsugaya. Toushiro Hitsugaya."


Ada nada dingin saat si rambut putih menyebutkan namanya. Harry mendapat kesan Toushiro sedang marah, walau wajahnya masih tanpa ekspresi, mata turquoise-nya cukup jelas menyampaikan emosinya. Ditambah dengan Ichigo mengernyit serius.


"Yah, Mr Hitsugaya, kuingatkan kau ada di Hogwarts. Bukan Shinou-mu."


"Yang saya harapkan tidak membuat saya menyesal ada di sini." Toushiro bergerak kembali ke tempat duduknya. Ichigo juga bergerak kembali ke tempat duduknya setelah memberi tepukan bersahabat ke bahu Harry.

__ADS_1


__ADS_2