Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 29


__ADS_3

Baru diketahui Toushiro kalau Harry ternyata juga berusaha memperbaiki apa yang telah dia lakukan. Namun, Snape bergeming, tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan kembali mengajar Occlumency pada Potter terakhir itu.


Ternyata ada juga orang yang keras kepalanya nyaris menyainginya.


Dan, tanpa diketahui duo shinigami, apa yang coba Harry selesaikan tak hanya masalahnya dengan Snape, tapi juga tentang kepercayaannya pada mendiang ayahnya. Tapi, dengan siapa ia akan bertanya, sementara yang bisa menjawab pertanyaannya dari tangan pertama sudah lebur menjadi abu? Maka opsinya adalah bertanya pada orang yang mengenal baik James Potter, yakni Sirius Black.


Permasalahannya adalah, bagaimana mengontak Sirius di Grimmauld Place jika saluran komunikasi diawasi. Ia tak mau ambil risiko mengirim Hedwig atau burung hantu lain, karena pasti akan dibajak lagi. Ia mendapat perasaan kalau dua shinigami itu tahu cara mengontak orang di luar kastil tanpa ketahuan, tapi ia terlalu malu untuk meminta bantuan mereka. Ia sudah membayangkan reaksi keduanya jika ia bertanya:


"Aku perlu bantuan kalian untuk membuatku bicara dengan Sirius tentang ayahku tanpa ketahuan Umbridge." Kernyitan dalam Ichigo Kurosaki dan tatapan sedingin es Toushiro Hitsugaya saja – baru muncul dalam otaknya – sudah membuatnya gentar. Jujur saja, ia juga tak siap jika dikritik oleh si rambut putih lagi. Dan kemudian ide gila itu muncul; menggunakan bubuk Floo lewat perapian di kantor Dolores Umbridge yang jadi satu-satunya perapian di Hogwarts yang tidak diawasi.


Bantuan tak terduga datang dari si kembar Weasley. Fred dan George telah menyusun sebuah rencana pengalih perhatian (dan Harry mendapat firasat kalau ini sesuatu yang jauh lebih besar dari kejadian kembang api itu). Menyadari mungkin ini peluang terbaiknya, ia setuju, tak peduli pada peringatan Hermione dan ancamannya untuk memberitahu Ichigo dan Toushiro ataupun keraguan Ron antara menyetujui tindakan Harry atau Hermione.


Harry mendapat firasat kalau Ichigo dan Toushiro curiga padanya. Namun, keduanya tak bertindak apapun untuk mencari tahu. Mungkin mereka sependapat sedang tak ingin ikut campur.


Maka, berjalanlah rencana itu. Harry berhasil menyelinap ke kantor Umbridge, menggunakan perapiannya untuk bicara dengan Sirius dan Lupin tentang 'kenakalan' masa lalu James Potter dan geng kecilnya terhadap Severus Snape. Harry mendapat jawaban, meskipun itu tak memuaskannya. Lagipula ia harus memutus kontak; Fred dan George hanya menjamin dua puluh menit untuknya.


Harry lalu bergegas keluar dari kantor itu dan pergi ke keramaian yang tercipta akibat ulah si kembar Weasley. Suasananya di depan Aula Depan seperti déjà vu, bagi yang melihat pemecatan Trelawney. Anak-anak berdiri melingkar, beberapa di antara mereka berlumur lumpur coklat kehijauan. Tak hanya para siswa, beberapa guru dan hantu juga ada di sana; Peeves tampak melayang naik-turun di atas mereka dengan sikap sangat kurang ajar, menunduk ke arah Fred dan George yang berdiri di tengah kerumunan itu, menjadi pusat perhatian.


Umbridge, yang berdiri di depan mereka dengan senyum kemenangan. "Jadi kalian pikir lucu mengubah koridor sekolah menjadi rawa, begitu?"


"Lumayan lucu, yeah," kata Fred, memandang Umbridge tanpa kegentaran sedikitpun. Ia dan kembarannya sama sekali tak menunjukkan rasa takut saat Argus Filch muncul dengan formulir hukuman untuk mereka.


"Kalian berdua akan segera tahu apa yang terjadi pada para pengacau di sekolahku," kata Umbridge puas.


"Masa sih?" kata Fred. "Sepertinya kau salah."


"Dan satu kesalahan saat kau bilang 'sekolahku'," tambah George dengan ekspresi serius yang tak wajar di wajahnya.


Fred memandang saudara kembarnya, "Kurasa kita sudah cukup mendapat pendidikan formal, George."


"Ya, kurasa juga begitu," sahut George ringan.


"Sudah waktunya untuk kita keluar dari neraka ini menuju dunia yang sesungguhnya," kata Fred lagi.


"Setuju lagi, saudaraku."


Sebelum Umbridge sempat mengatakan apapun, si kembar Weasley sudah mengangkat tongkat sihir mereka dan merapal Mantra Panggil untuk sapu mereka. Kedua sapu yang dirantai di kantor Umbridge itu muncul; salah satunya membawa rantai dan kait besi yang berat. Fred dan George dengan sigap menaiki sapu masing-masing.


"Kalau ada yang mau beli Rawa Portabel seperti yang telah diperagakan," kata Fred berpromosi, "datanglah ke Diagon Alley nomor sembilan puluh tiga di Sihir Sakti Weasley, toko baru kami!"


"Diskon khusus untuk murid-murid Hogwarts yang bersumpah akan menggunakan produk-produk kami untuk kelelawar tua ini," tunjuk George pada Umbridge, yang wajahnya berkeriut keunguan.


"TAHAN MEREKA!" jerit Umbridge sia-sia. Regu Inkuisitorial-nya gagal mencapai si kembar yang telah melayang lima meter di atas mereka.


Fred memandang si hantu jahil yang melayang di depannya, "Sengsarakan dia untuk kami, Peeves."


Jawaban Peeves, sangat tak terduga. Ia melepas topi loncengnya, lalu membungkuk hormat pada si kembar tanda setuju. Anak-anak bertepuk tangan riuh, mengantar kepergian si kembar Weasley keluar dari kastil menuju langit sore yang bersemburat jingga keunguan.


Selepas aksi pelarian yang dramatis dari Fred dan George Weasley, keadaan Hogwarts tidak lagi setenang yang bisa diharapkan siapapun. Kekacauan dan keonaran terjadi di hampir setiap detik dan di setiap sudut kastil. Anak-anak sekarang berani meledakkan Bom Kotoran atau menembakkan Peluru Bau di koridor, bahkan mengkonsumsi Kudapan Kabur di kelas Umbridge secara massal untuk menghindari masuk kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam-nya. Singkatnya, hari-hari menjadi Kepala Sekolah bagi Dolores Umbridge adalah hari-hari yang – sangat mungkin – adalah hari terburuk dalam hidupnya. Apalagi tak ada petunjuk baginya untuk melenyapkan rawa yang dibuat Fred dan George sebelum kepergian mereka, sehingga ia hanya bisa membuat garis pembatas agar tak dilewati oleh anak-anak. Harry yakin para guru bisa melenyapkannya dengan mudah, tapi ketidaksukaan mereka pada Umbridge membuat mereka membuat kesepakatan tak tertulis untuk membiarkan saja Umbridge 'mencoba' menangani semua masalahnya sendiri.


Meskipun demikian, bukan berarti semua itu sudah cukup buruk untuk Umbridge. Yang paling buruk adalah aksi si hantu jahil, Peeves, yang menanggapi serius permintaan Fred padanya. Ia menjadi pelopor keonaran di kastil Hogwarts, dan hebatnya, tanpa ada protes dari guru manapun bahkan Minerva McGonagall. Peeves dengan riang gembira membalikkan meja-meja dan kursi-kursi di kelas, memporak-porandakan kelas, memecahkan lentera, menulis kalimat kurang ajar di papan tulis, serta menghabiskan waktu luangnya dengan meniupkan permen karet di dekat Umbridge ketika ia sedang bicara, dan banyak hal lain yang pasti membuat Umbridge menyusun surat pengusiran Peeves dari Hogwarts untuk dikirim ke Divisi Hantu di Kementerian Sihir – belakangan diketahui bahwa usahanya percuma karena Hogwarts adalah area merdeka untuk para hantu.


Sudah tidak ada lagi daerah aman di sudut Hogwarts untuk Umbridge. Jika ada, ia pun tak akan merendahkan harga dirinya untuk berada di sedikit tempat yang bisa dibilang aman dari jangkauan Peeves; kantor McGonagall, kantor Snape, dan kantor Urahara. Peeves memang paling berhati-hati untuk tidak mengganggu tiga guru ini selain Albus Dumbledore. Terutama, pada Urahara dan kedua 'muridnya'. Ia masih ingin eksis sebagai hantu jahil, bukannya pergi ke Soul Society setelah di-konshou oleh salah satu dari mereka.


"Nah, nah," kata Urahara pada saat pelajarannya, setelah memberi tugas sparring pada murid-murid kelas lima secara acak. Harry menyeka keringat di dahinya. Ia tadi berpasangan duel dengan Justin Finch-Flethley, dan berhasil mengalahkannya. "aku senang kalian sudah dapat poin utama dari berduel tangan kosong. Hasil duel hari ini menambah nilai kalian di pelajaranku. Dan…"


"Tunggu dulu," sela Malfoy mencela. Ia menatap berkeliling. "Kurosaki dan Hitsugaya tidak ada di sini, bagaimana kau menilai mereka?"


Urahara tersenyum ganjil, seperti biasa. Bocah ini, ternyata belum paham juga. Dan tidak belajar dari pengalamannya. Ckckck. "Bukankah sudah pernah kubilang kalau mereka berada di level yang berbeda dengan kalian? Tentu saja aku menilai mereka dengan berbeda, standar yang berbeda juga; lebih sulit dari kalian, jadi jangan cemas kalau ini tidak adil."


"Maaf, sensei," sela Hermione. "Kalau mereka tidak di sini jadi mereka ada di mana?"


Urahara tersenyum, menunjuk ke lantai. Semua anak menatapnya heran.


"Er… Sir?"


"Mereka ada di ruang bawah tanahku, berlatih," kata Urahara. Ia mengerling ke kucing hitam yang berdiri di bahunya, yang dipanggilnya Yoruichi. "Aku harap mereka tidak menghancurkan ruangan itu."


Banyak anak bertukar pandang bingung. Mereka juga baru tahu kalau Urahara punya ruang bawah tanah, disuarakan oleh Parvati.


"Anda punya ruang bawah tanah, Sir?"


"Ya, tentu saja," kata Urahara ramah. "Aku perlu ruang untuk menenangkan diri, 'kan? Apalagi dengan Hogwarts yang sedang mengalami krisis ketenangan saat ini…"


Beberapa anak tertawa mendengarnya.


"Yang jelas, karena ujian kalian tinggal sebulan lagi, kurasa bijaksana jika membiarkan kalian tahu apa yang akan diujikan dalam mata pelajaranku, jadi kalian bisa mempersiapkan diri dengan baik. Untuk Metode Pertahanan Klasik Jepang tidak ada ujian tulis…"


Sebagian besar anak bersorak gembira.


"Aku hanya akan memberi kalian ujian praktek. Aku akan membuat kalian bekerja sama dengan satu orang teman kalian, berpasangan untuk menyelesaikan tugas yang kuberikan dalam ujian itu. Ujianku akan mengetes tak hanya fisik, tapi juga kemampuan mental dan inteligensi kalian dalam pemahaman kalian tentang Metode Pertahanan yang sudah kalian pelajari. Di ujian lapangan ini," Urahara menarik layar yang terpasang di papan tulis, menampilkan denah-denah dan diagram entah apa. "akan menguji kemampuan bekerja sama kalian, dan aku juga akan menilai kemampuan individu untuk keluar dari arena ujian yang aku buat."


Urahara menampilkan gambar baru. Menunjukkan tempat yang familiar bagi mereka semua. "Lokasinya di lapangan Quidditch. Dan aku sudah mendapat izin, juga bantuan dai Profesor McGonagall untuk merancang arena ujianku. Lihat," Urahara menunjuk denah yang terbentuk di tengah lapangan. Harry sedikit bergidik karena denah itu mirip maze, tapi tidak serumit yang diingatnya di tahun lalu. Ada beberapa tanda merah, tanda biru, dan titik hitam di bagian peta maze itu. "Kalian akan mendapat rintangan untuk mencapai garis finish." Urahara menunjuk titik akhirnya. "Titik merah berarti halangannya. Aku membuat lawan artifisial untuk kalian kalahkan. Lalu titik biru ini adalah tes, berisi soal, entah tertulis atau non-tertulis, untuk kalian pecahkan. Jika kalian berhasil menangani titik merah dan biru ini, kalian akan mendapat poin dan bisa melanjutkan ke perjalanan kalian berikutnya, terus sampai ke garis finish."


"Bagaimana kalau kami gagal?" tanya Neville dengan suara mencicit.


Urahara tersenyum misterius. "Jika kalian tidak bisa mengalahkan lawan, menembus rintangan, atau memecahkan kuis-nya, tembakkan bunga api merah ke udara, tanda menyerah. Maaf, kalian gagal. Tapi jangan cemas, aku menghargai usaha kalian ikut ke kelasku, jadi akan ada tes sendiri bagi kalian yang gagal. Tapi aku mau kalian berusaha sebaik mungkin untuk berhasil di ujianku."


Hermione mengangkat tangannya.


"Ya, Granger-san?"


"Apa yang bisa kami gunakan untuk melewati semua rintangannya? Apa kami boleh memakai tongkat sihir?"

__ADS_1


Urahara membuka kipasnya, menyembunyikan sebagian wajahnya di sana. "Kalian kuperbolehkan membawa tongkat sihir dan menggunakannya; karena itu tadi kubilang jika kaLian menyerah kalian tembakkan bunga api merah ke udara." Banyak anak menghela napas lega. "Tapi ada kompensasinya."


"Eh?"


"Ya. Nilai kalian kan dikurangi."


Sekarang banyak yang mengeluh kecewa.


"Aku tidak peduli bagaimana cara kalian bisa melewati maze ini sampai ke garis finish, selama itu adalah tindakan jujur dan terhormat – aku akan mengawasi kalian dari luar, memastikan kalian akan mendapat nilai yang adil. Gunakan semua kemampuan kalian untuk melewatinya. Dan sekarang, aku sudah menyusun daftar pasangan untuk ujian itu, jadi kalian punya waktu untuk membangun chemistry dan menyusun strategi."


Semua anak memandang ke papan tulis, tepat Urahara memasang gulungan lain berisi nama-nama pasangan ujian mereka.


Ichigo Kurosaki – Toushiro Hitsugaya


Hermione Granger – Ronald Weasley


Harry Potter – Neville Longbottom


Dean Thomas – Parvati Patil


Lavender Brown – Seamus Finnigan


Padma Patil – Isabel McDougal


Terry Boot - Lisa Turpin


Anthony Goldstein - Sarah Fawcett


Mandy Brocklehurst - Michael Corner


Su Li - Kevin Entwhistle


Stephen Cornfoot - Hannah Abbot


Justin Finch-Fletchley - Susan Bones


Ernie Macmillan - Zacharias Smith


Draco Malfoy - Theodore Nott


Vincent Crabbe - Blaise Zabini


Gregory Goyle - Pansy Parkinson


Millicent Bulstrode - Daphne Greengrass


"Nah, ingat pasangan masing-masing, dan mulai kenali mereka. Oh, ya. Granger-san, tolong sampaikan pesanku untuk Profesor McGonagall: Kurosaki-san dan Hitsugaya-san tidak bisa ikut pelajarannya hari ini."


"Apa… mereka baik-baik saja, Sensei?" tanya Neville cemas.


"Yare, yare." Urahara menggelengkan kepalanya begitu tiba di ruang bawah tanah yag disulap menjadi area latihan. Ia dan Yoruichi, yang sudah dalam wujud manusianya, menatap separo lapangan berkoral yang telah hancur. Bukit-bukit kecil batu kapur banyak yang runtuh, rata dengan tanah. Torehan-torehan dalam juga terbentuk di permukaan tanah. Debu pun ikut ambil andil di udara di sekitar mereka. Di sana-sini juga terlihat bongkahan-bongkahan es besar yang terserak tak rata, menguarkan hawa dingin yang familiar bagi mereka. Dan kemudian, kedua mantan komandan itu mendengar dentang pedang beradu, serta sapuan dua reiatsu yang saling bertabrakan.


"Mereka benar-benar tahu cara bersenang-senang," kekeh Yoruichi, menatap dua sosok shinigami muda yang tengah berduel di depannya.


Ichigo dan Toushiro memakai wujud shinigami mereka, dan dalam kondisi bankai masing-masing. Katana hitam Ichigo dengan agresif menyerang bilah Hyourinmaru, yang dipegang oleh tangan Toushiro yang berselubung es berbentuk kepala naga. Pertarungan itu kelihatannya sudah berlangsung cukup lama, jika melihat hyouka alias bunga es yang ada di belakang sayap es Komandan Divisi 10 yang tinggal satu. Namun, keduanya tak menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah ataupun mengalah dari yang lainnya, tak peduli kalau kondisi fisik mereka tidak terlalu baik. Ada torehan dalam di lengan kanan Ichigo, yang membuat lengannya itu berlumur darah. Selain itu, ada lapisan es yang membungkus kaki kirinya, membuat gerakannya melambat. Toushiro juga tak lebih baik. Dari pelipis kanannya membuat aliran darah merah kehitaman yang mengalir hingga ke dagunya. Lengan kirinya pun bersimbah darah.


"Gunchou tsurara!"


Belati-belati es terbentuk di udara, dan melesat ke arah Ichigo dengan kecepatan jet. Namun teknik itu gagal mencapai Ichigo yang memunahkannya dengan satu tebasan bankai-nya. Kemudian, Toushiro terbang dengan sangat cepat, beradu pedang dengan Ichigo, memercikkan bunga api dari pertemuan dua logam itu.


"Tidak cukup bagus, Toushiro!" seru Ichigo, memancing reaksi balik dari si rambut putih. Tepat saat itu satu dari empat kelopak bunga es yang tersisa lebur di udara, membuat Ichigo menyeringai senang. "Aku akan mengalahkanmu sebelum hyouka-nya hancur!"


"Kayak itu bakal terjadi saja," komentar Toushiro dingin. Ia melompat mundur, mengambil jarak, lalu mengangkat Hyourinmaru ke udara. Bersamaan dengan itu, suhu di sekitar mereka menurun drastis, tanda yang sangat familiar bagi yang mengenali teknik dasar Hyourinmaru, Tensho Juurin.


"Uh, oh," gumam Ichigo, agak panik. Toushiro tidak akan melakukan itu, 'kan?


"Ini…" kata Yoruichi pelan. Ia memandang Urahara yang justru tampak agak geli. "Apa dia serius mau gunakan Hyouten Hyakkasou di sini? Aku tahu tempat ini dilapisi kidou sangat kuat. Tapi, mengingat dia yang sekarang…"


"Kenapa tidak kita lihat saja dia mau apa," kata Urahara kalem


Di kelas Transfigurasi, Harry dan hampir seluruh siswa heran sendiri, merasakan udara turun menjadi lebih dingin dari yang sebelumnya. Padahal, musim panas sudah dimulai.


Urahara terkekeh geli melihat dua shinigami muda di depannya yang tergeletak di tanah yang berdekorasi bongkahan batu dan es serta efek debu yang melayang ringan di atas mereka. Nafas keduanya memburu, tanda kelelahan pasca duel yang bertanggung jawab pada kerusakan ruang latihan yang sekarang nyaris tak dikenali sama seperti aslinya.


"Damn," umpat Ichigo, terengah. "Kukira… Hyouten… hyakkasou… ternyata… Ryuusenka… biasa… Sialan… aku tertipu…"


Yoruichi menggelengkan kepalanya, seringai kucingnya terarah pada Toushiro yang memejamkan matanya sambil berusaha mengatur nafasnya. Tadi ia dan Kisuke juga terkecoh pada teknik yang akan digunakan Toushiro untuk mengakhiri duel itu. Dikiranya ia akan menggunakan teknik mematikan yang cantik itu pada Ichigo. Ichigo yang sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk pun bersiap, dan melakukan serangan lebih dulu untuk mencegah dirinya dikalahkan. Namun ternyata, itu jebakan dua lapis. Pertama, ia teralihkan oleh kemungkinan terburuk dari Tensho Juurin. Kedua, ia dijebak dengan boneka es yang mirip aslinya, alias teknik Zanhyō Ningyō, yang membuatnya terlambat menyadari kalau Toushiro sudah ada di belakangnya dan melancarkan Ryuusenka yang sukses menjatuhkannya, tepat ketika kelopak hyouka yang terakhir gugur.


Sulit dikatakan apakah duel itu dimenangkan oleh Toushiro secara mutlak atau tidak, karena Toushiro juga jatuh ke tanah setelah teknik itu karena kelelahan, juga kehilangan keseimbangan karena luka di kepalanya.


"Jadi," kata Urahara santai, "siapa yang menang nih?"


"Bawel!" bentak Ichigo. "Bantu kami kenapa sih? Capek nih!"


"Ara, mintalah yang sopan," celetuk Urahara.


"Toushiro mana bisa bilang," komentar Yoruichi, menunduk di atas si rambut putih. Ichigo bangkit, menatap komandan mungil yang diam tak bergerak. "Pingsan, nih."


"Hah?!" Ichigo membelalak kaget.


"Sepertinya kau menghajarnya cukup keras, Ichigo," kata Urahara, memeriksa Toushiro. "Jangan cemas, dia tidak apa-apa. Hanya kecapekan. Sepertinya, untuk bisa mengimbangimu dia perlu memakai hampir seluruh kemampuannya."


Urahara mengambil gelang perak yang tergeletak tak jauh dari Toushiro, lalu memakaikannya ke tangan si rambut putih. Seketika, wujud shinigami-nya digantikan sosok penyamarannya, namun tak menutupi luka yang didapatnya setelah duel. "Aku akan bawa dia ke rumah sakit; aku tak punya cukup waktu dan keahlian untuk mengobatinya. Kau juga, Kurosaki-san, pakai gelangmu dan ikut aku temui Madam Pomfrey."

__ADS_1


"Dia tidak akan senang, Madam Pomfrey itu," keluh Ichigo, mencari-cari gelang gigai portabelnya, menemukannya tertindih sebuah balok es.


"Kita semua tahu itu," kekeh Yoruichi.


Harry dan yang lain baru bertemu dengan Ichigo dan Toushiro saat makan malam. Kedatangan keduanya disambut dengan tatapan sangat heran dari hampir seluruh hadirin di Aula Besar. Keduanya masih memakai seragam kelas Urahara, yang saat itu tampak kotor dan robek di sana-sini. Perban putih membalut di sepanjang lengan kanan Ichigo, juga di bagian dadanya yang sedikit terhalang kimono-nya. Plester juga tertempel di pelipis dan pipi kirinya. Saat si rambut jingga berjalan, langkahnya agak terpincang. Toushiro juga tak kalah babak belurnya. Perban putih yang sama melingkar di sekeliling dahinya. Kendati cara berjalannya tampak normal, kedua lengannya tampak diselubungi perban juga. Toushiro tampak lebih pucat dari biasanya, dan luka di sudut bibirnya tampak belum sembuh benar.


"Blimey," kata Ron kaget, saat kedua siswa transfer itu duduk di depan Golden Trio dan mulai mengambil makanan tanpa menghiraukan tatapan takjub anak-anak. "Kalian kenapa? Bagaimana bisa kalian balik kemari dengan kondisi separo mumi begitu?"


"Apa yang kalian lakukan dengan latihan kalian?" tanya Hermione cemas.


"Bukan urusanmu," gumam Toushiro, mulai memakan bistiknya, sedikit berjengit saat membuka mulutnya.


Hermione ganti menatap Ichigo, yang meniup ramen dan memakan mie-nya dengan sumpit di tangannya. Sebelum Hermione sempat meluncurkan pertanyaan, Ichigo langsung menjawabnya.


"Kami duel sampai lupa diri; aku hajar Toushiro dan dia balas menghajarku. Kami sama-sama tepar dan harus ke rumah sakit. Tamat."


Hermione menatap kedua siswa pindahan itu dengan tampang tak puas. Tapi ia cukup pintar untuk mengerti kalau sia-sia bertanya lebih jauh pada mereka.


Untunglah keduanya masih hidup. Bukankah itu sudah cukup menjadi hal yang patut disyukuri? Ah, berlebihan deh.


"Mr Kurosaki? Mr Hitsugaya?"


Kedua siswa berkimono itu menoleh. Harry berusaha keras menahan tawanya saat melihat keduanya memandang Umbridge dengan pipi menggembung penuh makanan. Apalagi, keduanya sama-sama memasang ekspresi tanpa dosa, membuat keduanya tampak seperti anak kecil.


"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Umbridge tajam.


Ichigo dan Toushiro bertukar pandang. Hampir bersamaan, keduanya menelan makanan di mulut masing-masing, dan Toushiro menjawab lebih dulu.


"Seperti biasa, Profesor, duel di kelas Urahara-sensei."


"Sampai sekacau ini?" tanya Umbridge manis.


"Tidak terlalu kacau, kok," kata Ichigo enteng. "Kali ini tidak ada satupun dari kami yang menderita patah tulang." Toushiro mengangguk sekali.


"Apa maksudmu de-!"


Tepat saat itu Peeves si hantu jahil muncul dari langit-langit sihiran. Sambil tertawa gila, hantu itu menjatuhkan sekotak besar laba-laba besar ke meja Ravenclaw, membuat anak-anak perempuan menjerit ketakutan. Tak hanya itu, Peeves menyambar lilin-lilin yang melayang dan melemparnya ke sembarang arah, menciptakan kekacauan yang sebenarnya.


"Ah, good timing," kata Ichigo senang.


Toushiro mengangguk setuju. Ia lalu mengambil piring pai daging dengan tangan kirinya sambil beranjak berdiri, dan memakan satu pai sambil menawarkan isi piringnya pada Ichigo. Ichigo mengambil juga. Ron, yang wajahnya langsung pucat begitu melihat laba-laba yang bergerak ke meja Gryfindor bergegas mengikuti duo shinigami itu keluar Aula. Harry, Hermione dan Neville menyusul di belakang mereka, meninggalkan keramaian di Aula Besar yang dicoba Dolores Umbridge untuk ditanganinya.


Pertandingan final Quidditch tahun ajaran ini berlangsung pada akhir pekan terakhir bulan Mei. Kendati Harry tak mengharapkan banyak hal dari performa Ron di pertandingan terakhir ini, ia tetap berharap Gryffindor bisa menang. Hermione juga berpendapat sama dengannya, namun harapannya lebih besar karena menurut pendapatnya Ron menemukan optimismenya tanpa adanya kakak kembarnya yang lebih banyak mencela daripada mendukung.


Terlebih, menurut Hermione lagi, Toushiro menjadi salah satu alasan kenapa Ron harus berhasil di pertandingan terakhir musim ini. Si rambut putih itu telah di daulat oleh sang Kapten, Angelina, sebagai master taktik untuk pertandingan ini. Tak tanggung-tanggung, Toushiro merombak total cara latihan mereka selama tiga bulan terakhir menjadi apa yang disebut Ron 'sesi latihan di neraka', dengan si rambut putih itu berperan sebagai Hades-nya.


Toushiro menuntut mereka memiliki modal terbang yang baik. Untuk yang satu ini, semua anggota tim lolos tes menurut versinya. Yang kedua, seluruh anggota tim sudah tahu peran masing-masing dan tugas mereka. Nah, untuk yang satu ini, Ron dan dua Beater kurang memenuhi syarat. Jadilah fokus utama latihan selama satu bulan pertama adalah mematangkan kemampuan ketiganya. Alicia Spinnet menyarankan setengah hati untuk mengganti saja, setelah melihat Andrew Kirke menangis putus asa setelah dibentak Toushiro karena memukul Bludger kepada Katie alih-alih menjauhkannya. Tapi, Tousiro menolaknya, berpendapat kalau mengganti anggota malah membuang waktu mereka.


"Semua anggota tim harus memulai dari awal lagi untuk membangun chemistry." Begitu kata Toushiro. "Jika perlu kukatakan, sebenarnya mereka sudah punya modal bagus. Jauh lebih efektif jika melatih mereka sampai sesuai standar daripada menendang mereka keluar dari tim. Mendisiplinkan latihan dan memaksimalkan kemampuan mereka sekarang bisa menjadi bekal jangka panjang untuk masa yang akan datang."


Alasan itu bahkan akan membuat Oliver Wood menjadikan Toushiro Hitsugaya sebagai dewa Quidditch yang baru.


Kompensasi dari keputusan itu adalah satu Keeper dan dua Beater yang harus berlatih ekstra keras, ditambah dengan menempa mental mereka agar tidak tumbang di bawah kesangaran siswa pindahan jenius itu. Mereka tak akan bisa menghindari jadwal latihan dengan alasan apapun. Jika mereka bolos, Toushiro tak akan segan 'memburu' mereka dan memaksa mereka hadir di lapangan Quidditch untuk latihan. Ron bercerita bahwa Jack Sloper berusaha menghindari latihan Quidditch di minggu kedua setelah Toushiro setuju menjadi ahli strategi untuk tim Gryffindor, beralasan kalau dia kena mantra salah kaprah yang membuat telinganya ditumbuhi daun bawang. Toushiro berhasil menemukannya di ruang rekreasi Gryffindor, sedang bermain Gobstones. Sloper, dengan sangat tidak hormat di depan anak-anak lain berada di bawah ancaman tongkat sihir putih Toushiro, yang bersumpah akan menyihir kepala Beater itu menjadi bawang jika tidak tiba di lapangan Quidditch dalam waktu tujuh menit. Ini membuat Sloper ketakutan dan segera menuruti si rambut putih. Kenapa si kecil itu bahkan bisa lebih menyeramkan daripada Hippogrif pemarah, masih misteri bagi semua makhluk hidup.


Harry agak bersyukur karena ia tidak merasakan apa yang dialami Ron atau anggota tim Gryffindor. Ia bergidik sendiri memikirkan bagaimana kondisi para shinigami yang bekerja di bawah komando si mungil berambut putih itu. Saat ia menyuarakan pendapatnya itu pada Ichigo, Ichigo malah menertawakannya. Menurutnya, Toushiro masih lebih lunak dan baik hati daripada komandan lain yang disebut bernama Kenpachi Zaraki, sang Komandan Divisi 11, yang melakukan disiplin dalam bentuk tindakan brutal, menantang anggota divisinya sendiri tiga kali sehari seperti minum obat, dan Byakuya Kuchiki sang Komandan Divisi 6, yang mengedepankan sikap terhormat. Dan kemudian, Harry memutuskan untuk berhenti memaksa imajinasinya menjadi lebih liar.


Sayangnya Harry dan Hermione tidak bisa melihat pertandingan-hasil-latihan-mengerikan itu selain gol pertama Roger Davies. Rubeus Hagrid datang ke bangku penonton dan mengajak mereka ke Hutan Terlarang. Mana mereka tahu kalau ternyata Hagrid memutuskan untuk memberitahu mereka dari mana luka-lukanya itu berasal; ternyata misinya menarik kaum raksasa ke pihak yang melawan Lord Voldemort tidak berakhir tangan kosong. Hagrid menemukan adik-beda-ayahnya yang bernama Grawp, si raksasa setinggi lima meter. Mana mereka tahu pula kalau maksud Hagrid memberitahu keduanya tentang adik tirinya itu adalah untuk menjadi teman baru Grawp jika ia terpaksa pergi karena ia terancam dipecat oleh Umbridge.


Setelah sesi perkenalan yang 'ramah' – Grawp nyaris menyambar jatuh Hermione – Hagrid membawa mereka keluar dari Hutan, langsung ke lapangan Quidditch. Pengawas binatang liar Hogwarts itu langsung pergi setelah mengantar mereka.


"Weasley raja kami


Weasley raja kami,


Tak satu pun Quaffle masuk lagi


Weasley raja kami…"


Harry dan Hermione nyaris terlonjak mendengar nyanyian familiar itu. Hermione yang masih shock dengan kehadiran Grawp di otaknya langsung sewot.


"Kenapa sih mereka tak mau berhenti menyanyikan lagu **** itu? Belum cukup senangkah mereka?!"


Dilihat oleh mereka serombongan besar anak-anak yang bergerak mendaki padang rumput landai lapangan Quidditch.


"Ayo kita kembali ke ruang rekreasi saja," ajak Hermione merana.


"Weasley hebat sekali,


Tak satu pun Quaffle masuk lagi,


Maka semua anak Gryffindor bernyanyi,


Weasley raja kami!"


"Hei."


Harry dan Hermione terpaku di tempat. Toushiro baru saja turun dari Firebolt-nya. Wajahnya yang pucat tampak dihiasi kepuasan samar. Rambut putihnya berantakan, jelas karena tertiup angin sewaktu memburu Snitch, yang disadari Harry sayap pada bola emas kecil itu mengepak lemas di tangan Toushiro.


"Dari mana saja kalian?" tanya Toushiro. "Kalian melewatkan kemenangan kami."


"Me-menang?" tanya Hermione terbata, tak percaya.


Toushiro menatap Hermione dengan tatapan yang sangat dikenal Harry sebagai tentu-saja-begitu. Tapi toh, ia menjawab juga. "Strategi berhasil. Semua bergerak sesuai taktik; Weasley bisa menangkap sisa Quaffle setelah gol pertama Davies dan Kirke dan Sloper menembak Bludger ke lawan dan bukannya kawan... Tapi, kulihat tadi kalian pergi dengan Hagrid. Ada apa?"

__ADS_1


Harry dan Hermione bertukar pandang muram.


"Ayo ke ruang rekreasi. Kami ceritakan sambil jalan," kata Harry muram. Harry menatap seragam Quidditch tim Gryffindor yang dipakai Toushiro, Firebolt di tangan kirinya, dan Snitch di tangan kanannya dengan perasaan merana. Andai saja ia yang menangkap Golden Snitch kemenangan untuk final tahun ini.


__ADS_2