Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 45: the final adventure


__ADS_3

"Ichigo!"


Ichigo menoleh malas. Diihatnya Rangiku Matsumoto berlari ke arahnya, membawa dua buah tas kertas dengan ekspresi kesal.


"Apaan?"


"Lihat Taicho?"


"Harusnya dia bersamamu, 'kan?" ujar Momo.


"Dia kabur! Lagi!" kata Rangiku dramatis. "Aku sudah menyiapkan baju keren untuknya…"


"Tidak heran," celetuk Renji. "Pantas saja dia kabur…"


"Matsumoto!"


Rangiku langsung terlonjak kaget, langsung berdiri tegak seperti perwira yang mendapat aba-aba dari pimpinannya. "Ya, Komandan!" sahutnya otomatis.


Tapi, yang didengar mereka setelahnya adalah kekeh senang yang sangat tidak asing. Rangiku menoleh. Ternyata bukan komandannya, melainkan si kembar Weasley yang tertawa riang sambil memegang perut mereka.


"Fred! George! Jangan main-main!" tegur Mrs Weasley, sementara beberapa penyihir dan shinigami tertawa; Yumichika jelas yang paling senang.


"Aku tak percaya…" engah George di antara tawanya.


"… kau tertipu semudah itu!" sambung Fred. Ia mengacungkan tongkat sihirnya ke lehernya, ada kilatan mantra dan kemudian Fred bicara lagi, dengan suara taicho-nya. "Matsumoto! Kerjakan tugasmu!"


Rangiku berkacak pinggang dengan jengkel, "Beraninya kalian mempermainkanku!"


"Biasanya dia yang mengusili orang," kata Renji menyeringai sementara Rangiku mengomel. Byakuya menghela napas melihat kekonyolan di depannya. Di tambah lagi, Kon langsung melompat ke arah Rangiku, mengharap wanita itu akan memeluknya. Tapi Rangiku menghantamkan tinjunya dengan gerakan malas, membuat Kon jatuh menghantam piring emas dan membuat pai apel beterbangan ke mana-mana.


"Matsumoto."


"Ha! Itu tidak akan bekerja!" kata Rangiku, mengangkat dagunya dengan angkuh tanpa melihat Fred dan George.


"Matsumoto."


"Aku tak akan tertipu yang kedua kalinya!"


"Bagus. Tapi saat orang bicara, bijak jika kau melihat siapa lawan bicaramu."


Rangiku tersentak kaget. Dilihatnya Fred dan George tertawa lebih keras. Dengan gugup ia menoleh ke belakang. Toushiro Hitsugaya berdiri di sana, menyilangkan kedua tangannya dan mengangkat sebelah alis.


"Taicho!" serunya kaget. "Kau mengagetkanku! Kenapa kau mengendap-ngendap begitu?! Aku tidak merasakan hawa kehadiran… Sialan dengan komandan dan penyembunyian reiatsu mereka," tambahnya pelan.


"Aku tidak mengendap-ngendap," tukas Toushiro.


"Dan kenapa kau kabur begitu?" protes Rangiku.


"Jangan ajukan pertanyaan dengan jawaban yang jelas," kata Toushiro datar, membuat Rangiku cemberut.


"Ini bagaimana?" Rangiku menggoyangkan tas kertas di tangannya.


"Taruh saja di tumpukan." Toushiro menghela napas. "Berhentilah membeli barang tak berguna. Komandan jarang turun ke Dunia Manusia. Aku tidak butuh banyak benda yang seperti itu."


Tapi Rangiku sepertinya tak mendengarkan. Ia menatap Toushiro dengan tatapan penuh penilaian, tangannya di dagunya penuh gaya. "Tidak buruk, sebetulnya. Ah, beberapa sentuhan akhir." Rangiku mencari-cari sesuatu di tas kertas itu, sebelum memaksa sebuah kalung yang terbuat dari anyaman tali berwarna hitam dengan liontin berbentuk seperti daun perak melewati kepala Toushiro. Wanita itu membuka tiga kancing teratas kemeja merah Toushiro. Sebelum Toushiro memprotes, Rangiku mendorong sebuah kacamata untuk dipakai si komandan mungil. Shinji tertawa terkekeh saat Rangiku mengacak rambut Toushiro, membuatnya lebih berantakan dari sebelumnya.


"Idiot!" bentak Toushiro jengkel, mengusap pangkal hidungnya yang tertabrak kacamata. "Apa-apaan kau ini?!"


Rangiku tertawa senang, mengacungkan ibu jarinya, "Sempurna!"


Mrs Weasley berdeham. "Mungkin harusnya kau memasukkan kemejamu, Nak."


"Tidak! Tidak! Begini lebih keren!" kata Rangiku ceria. "Jangan lepas kacamatanya!" seru Rangiku, melihat tangan Toushiro bergerak ke gagang kacamata itu. "Samarkan bekas luka itu, Taicho! Kalau kau sampai di rumah Shiba taicho, jangan buat Yuzu-chan menangis saking kagetnya."


"Ha! Aku sudah beritahu dia tentang itu," kekeh Ichigo. "Tapi dia tak mendengarku. Kacamatanya lumayan. Kau jadi kelihatan pintar…"


"Dibandingkan denganmu, sudah jelas IQ-nya lebih tinggi darimu," desis Uryuu, sementara Toushiro yang menggerutu jengkel mencoba merapikan rambutnya lewat pantulan di gelas perak Neville.


Sebelum Ichigo membalas Uryuu, kedatangan Profesor McGonagall mengalihkan perhatiannya. Kepala Asrama Gryffindor itu mengucapkan selamat pagi dengan agak acuh, sebelum memberikan amplop bersegel pada Ichigo dan Toushiro.


"Apa ini?" tanya Ichigo heran.


McGonagall tersenyum samar. "Hasil ujian OWL kalian. Kami mempercepat proses penilaiannya untuk kalian berdua, karena kami rasa akan sulit menghubungi kalian setelah ini."


"Tapi kurasa tak sesulit itu," kata Ichigo, mengamati amplop perkamennya. "Aku masih tinggal di Kota Karakura…"


"Dan anda tidak perlu merepotkan diri. Sekolah hanya penyamaran untuk kami tinggal di sini," kata Toushiro.


"Tetap saja kami tak bisa mengabaikan kerja keras kalian." McGonagall mengangguk takzim. "Semoga hasilnya memuaskan. Selamat pagi."


"Apa itu OWL?" tanya Rangiku ingin tahu setelah McGonagall kembali ke meja guru.


"Singkatan dari Ordinary Wizarding Level – Level Sihir Umum," kata Sirius. " Ujian akhir di tingkat lima untuk mata pelajaran wajib dasar di Hogwarts. nilai terbaiknya O untuk Outstanding – sempurna, lalu E untuk Exceeds Expectation – di luar dugaan, dan terakhir A untuk Acceptable – cukup."


Toushiro mengerling ke arah letnannya. Mata biru Rangiku terpaku pada amplop perkamen OWL-nya yang diletakkannya di atas meja.


Toushiro menghela napas. "Kalau mau kau buka, buka saja."


"Yay!" seru Rangiku riang begitu mendapat izin. Beberapa penyihir yang melihat tingkah Rangiku menggelengkan kepala mereka dengan heran. Sepertinya ada yang tertukar kepribadiannya. Tidakkah Toushiro yang terlalu muda bersikap terlalu dewasa dan Rangiku yang lebih tua terlihat terlalu kekanak-kanakan?


Rangiku membuka amplop perkamen itu dengan antusias. "Mari kita lihat! 'Hasil Ujian Ordinary Wizarding Level – Level Sihir Umum. Toushiro Hitsugaya berhasil mencapai: Arithmancy…'" Rangiku berhenti mendadak. Mata birunya melebar menatap barisan kata-kata di pemberitahuan itu. Ia menatap komandannya, lalu ke arah perkamen. Komandannya, perkamen lagi.


"Kenapa?" tanya Shinji.


Rangiku menggelengkan kepalanya tak percaya. "Tidak mungkin…"


"Dia dapat T alias Troll untuk," kata Fred, nyengir.


"… semua mata pelajaran?" sambung George, dengan seringai yang sama.


Rangiku menatap si kembar. "Enak saja." Rangiku menatap perkamen lagi. "Ini O untuk semua mata pelajaran!"


"Yang benar?!" seru beberapa anak Gryffindor bersamaan, terkejut. Seringai si kembar langsung berubah menjadi seringai shock.


"Lihat nih! Arithmancy: O, Astronomi: O, Herbologi: O, Mantra: O, Metode Pertahanan Klasik Jepang: O, Pemeliharaan Satwa Gaib: O, Pertahanan terhadap Ilmu Hitam: O, Ramuan: O, Rune Kuno: O, Sejarah Sihir: O, Transfigurasi: O!"


"Wah! Itu nilai sempurna untuk dua puluh tahun terakhir," komentar Lupin.


"Gila nih anak…" kata George.


"… melampaui OWL kita yang dijumlahkan!" sambung Fred. Si kembar bertukar pandang.


"Siapa peduli?!" seru mereka bersamaan, tertawa.


"Taicho! Kau menakutkanku!" seru Rangiku, melambaikan hasil ujian OWL Toushiro di depan wajah komandannya.


"Sudah kubilang, kejeniusannya kadang membuatku merinding," celetuk Shinji, tapi seringai kucing Chesire-nya muncul di wajahnya.


"Jangan konyol," kata Byakuya datar. "Itu hal yang bisa diduga untuk dia."


"Yeah, terserahlah," kata Shinji cuek. "Tetap saja…" Shinji menatap Toushiro, yang mengaduk seralnya dengan malas. "Kau belajar?"


"Hanya karena tak ada hal lain yang bisa dilakukan," kata Toushiro sambil lalu. "Aku sudah bilang sekolah membosankan…"


"Tapi ini 'kan OWL!" seru Hermione.


"Nah, itu untuk penyihir," kata Ichigo, membuka segel amplopnya. "Kami bukan, eh? Kami tidak tinggal di sini, lagipula. Dan Toushiro sudah punya pekerjaan tetap."


"Hn. Kontrak seumur hidup, hidup di alam roh, maksudku," kata Toushiro acuh. Rangiku terkikik.


"Bagaimana denganmu, Ichigo?" tanya Rangiku, melihat Ichigo membaca hasil OWL-nya.


"Tidak buruk," gumam Ichigo.


"Yeah, coba ayahmu yang mengagumkan ini melihatnya."


Isshin mendadak sudah muncul di belakang Ichigo, menjadikan bahu putranya yang duduk di bangku untuk sandaran dan melongok ke perkamen. "'Hasil Ujian Ordinary Wizarding Level – Level Sihir Umum. Ichigo Kurosaki berhasil mencapai…' Hm… hm…" Isshin manggut-manggut, mengacak rambut jingga putranya. "Kerja bagus, sonny-boy! E semua kecuali tiga O untuk Arithmancy, Metode Pertahanan Klasik Jepang, dan Mantra! Walaupun kau gagal di semua mata pelajaran, kau tahu aku tidak masalah dengan itu! Masa remaja tak perlu kau habiskan untuk belajar keras! Buat kesalahan! Jatuh! Bangkit dan perbaiki!" Isshin berkata dengan gaya orator, membuat beberapa anak di dekat mereka tertawa. Ia menepuk bahu Ichigo, berkata dengan nada serius walau matanya berkilat jahil, "Harusnya kau fokus cari calon menantu untukku…"


Ichigo langsung tersedak jus labunya. Fred, George, Ron, Sirius, Rangiku, Renji, dan Ikkaku meledak tertawa. Harry dan Neville hanya bisa menahan tawa mereka dengan seringai. Hermione tampaknya tak tahu harus tertawa atau diam, membuatnya terpaksa terbatuk-batuk menahan geli.


"Omonganmu selalu tak ada hubungannya!" geram Ichigo.


"Apaan? Ini hanya harapan orang tua!" kata Isshin tanpa dosa. Ia melirik Byakuya, menyeringai jahil. "Oh. Sepertinya bukan karena tidak bisa, tapi tidak mau… Jujur saja, 'Rukia Kurosaki' atau kau mau nama keluarga kita diganti jadi Shiba, dan 'Rukia Shiba' terdengar lumayan bagus bagiku…"


Ganti Rukia yang terbatuk. Dan Byakuya, mata setajam elangnya terarah pada Isshin sambil mematahkan sumpit di tangannya menjadi dua.


"Lihat?! Kau tahu siapa yang salah!" seru Ichigo. "Hajar saja dia sesuka hatimu! Aku ikhas! Ikhlas!"


"Ichigo! Bagaimana bisa kau bicara seperti itu pada ayahmu!" seru Isshin merengek.


"Ck, kalian membuat standar terlalu tinggi," kata Ron, mengabaikan kekonyolan lain Ichigo dan ayahnya.


"Jangan cemas, kita punya waktu untuk mencemaskannya selama musim panas." Harry terdiam sejenak. "Paling tidak ada satu surat yang bisa kutunggu nanti."


"Oh Harry! Kami janji kali ini kami akan mengirim surat padamu!" seru Hermione, tampak merasa bersalah.


"Ah! Benar juga!" Ichigo meninggalkan ayahnya yang masih mengomel tak jelas. Ia merogoh sakunya, menarik secarik perkamen dan pena bulu. Dengan cepat ia menulis sesuatu di sana. Setelahnya, ia menarik tonkat sihirnya dan bergumam, "Geminio!" Perkamen itu menggandakan diri menjadi beberapa lembar, diberikan pada Harry, Ron, Hermione, dan Neville, yang menerima dua. "Untuk Luna," kata Ichigo.


Mereka menunduk, membaca perkamen itu. Tulisan tangan itu menuliskan sesuatu yang sepertinya adalah alamat rumahnya: Klinik Kurosaki, nomor 24, Kota Karakura. Di bawahnya juga ada nomor teleponnya.


"Jangan lupa, kalau telepon pakai kode internasional," kata Ichigo. "Kirim surat dengan Hedwig atau Pig, aku yakin mereka bisa temukanku dengan mudah, atau aku akan kirim Miko."


"Siapa Miko?" sela Rukia.


"Burung hantu kami," kata Ichigo. "Dia tak akan bisa terbang ke Soul Society. Jadi kalau kalian punya surat untuk Toushiro kirim saja ke aku. Biar ayahku yang urus itu. Ayahku ****, tapi dia jadi komandan pasti karena otaknya tak sepenuhnya kosong,…"


"Masaki! Anak kita kasar sekali!"


Ichigo mengabaikannya. "Kirim-kirim kabar apalah, yang tidak penting sekalipun tak masalah." Ichigo merendahkan suaranya. "Aku ragu tidak ada yang tidak penting. Barangkali cukup menarik jika ada berita tentang Voldy-Baldy di sana…"


Bahkan Harry tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Apa yang kalian rencanakan?"


Harry menoleh. Ia melihat Toushiro menatap tajam ke arah si kembar Weasley yang sedang berbincang serius dengan si letnan Divisi 10. Rangiku menoleh ke komandannya, nyengir gugup.


"Taicho…" kata Rangiku dengan suara membujuk. Tapi, bahkan lensa kacamatanya tak mampu menyembunyikan tajamnya tatapan kedua iris turquoise itu, membuat Rangiku bertambah gugup. Ditambah lagi, cacat pada wajah rupawan itu memberi efek yang disebut Rangiku 'menyeramkan'.


"Aku menunggu," kata Toushiro datar.


"Hei, hei, Shiro-chan, jangan galak begitu," kata Isshin ceria.


"Apa aku kelihatan galak?" tanya Toushiro datar.


Harry harus menahan tawanya. Siapapun bisa melihat, sikap kakunya adalah bukti konklusif tanda bahaya.


"Hitsugaya-kun," kata Momo menegur, tersenyum halus. Toushiro menghela napas.


Harry bertukar pandang dengan Ron. Gadis itu, Momo Hinamori, berhasil 'menjinakkan' bahaya!


"Begini taicho," kata Rangiku memulai, tak menyembunyikan binar kejahilan di matanya. "Aku sudah dengar tentang si kodok Dolores Dumbridge…"


Mata Toushiro menyipit. Ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Rangiku tersenyum lebar.


"Kau tahu apa maksudku!"


"Dia tidak cukup berharga…"


"Dengan fashion disaster yang begitu parah, dia cukup berharga untuk diberi pelajaran," kata Yumichika. Toushiro melempar tatapan jengkel. "Komandan Hitsugaya, anda lihat sendiri, dari begitu banyak warna dia memilih pink! Dia seharusnya… well, malah seharusnya dia tidak muncul! Ganggu pemandangan saja! Apa anda tahu saya harus berjalan sambil memejamkan mata tiap ada dia? Mataku yang cantik ini menolak melihat segala hal yang tidak cantik sama sekali!"


"Kenarsisanmu perlu dikurangi, menurutku," komentar Ichigo, sementara Sirius menggelengkan kepalanya dengan geli.


"Ha! Aku juga tahu dia sedikit menyulitkan kalian selama ini," tambah Rangiku pelan, agar tak didengar orang lain. "Aku bisa melakukan pembalasan untuk anda. Kami sudah menyusun rencana semalam…."


"Apa kau pikir itu semua kesulitannya tak bisa ditangani?" kata Toushiro.


Selama beberapa menit berikutnya, mereka hanya bisa mendengar Rangiku mencoba membujuk komandannya. Entah apa yang dibicarakan karena Rangiku bicara dalam bahasa Jepang.


"Oke," kata Toushiro mendadak, tampak jengkel. "Terserah kau saja."


Rangiku meninju udara penuh kemenangan.


"Mark Twain benar," gerutu Toushiro. "Jangan pernah berdebat dengan orang dungu. Mereka akan memaksamu sejajar dengan level mereka, dan mengalahkanmu dengan pengalaman mereka."


Shinji terkekeh bersama Sirius. Lupin yang duduk di sampingnya menggelengkan kepalanya dengan geli.


"Siapa Mark Twain?" tanya Ron ingin tahu.


Toushiro menahan keinginan untuk memutar bola matanya.


"Dia letnanmu, kau mengenal wataknya," kata Shinji.


"Dan selalu sulit untuk membuatnya mendengarku. Jangan berlebihan!" kata Toushiro, mendengar kikik senang Rangiku di antara si kembar Weasley. "Kalau aku yang harus bereskan pekerjaan kotormu, kau kukurung di penjara bawah tanah Divisi 10 untuk seminggu hanya dengan semua laporanmu!"


Rangiku langsung menoleh dengan wajah horor. "Taicho!"


"Kurasa yang berlebihan itu anda," celetuk Ikkaku.


"Kau boleh temani dia kalau mau," kata Toushiro datar.


"Taicho! Anda tahu kalau penjara bawah tanah Divisi 10 itu gelap, dingin, bau, lembab!" Rangiku bergidik. "Bagaimana kau tega mengurung letnan tercantik di Soul Society di sana?! Dan taicho," tambah Rangiku dramatis, "mereka bilang ruang bawah tanah kantor kita itu berhantu! Penjara bawah tanahnya bekas ruang interogasi mengerikan…"


"Kita sudah mati, Matsumoto," kata Toushiro, membuat bebarapa penyihir bergidik mendengar keterusterangan tanpa tedeng aling-aling itu. "Secara teknis kita hantu. Untuk apa kau takut pada jenismu sendiri?"


"Hantu saja takut pada kita," kata Renji, terkekeh.


"Tapi kau tak cukup menakutkan, kalau kau tanya aku, Tuan Kepala Nanas."


Renji mendelik galak pada suara di atasnya. Peeves si hantu jahil melayang ringan di udara, memainkan topi loncengnya dengan seringai kurang ajar. Tampaknya setelah kepergian dua Arrancar yang 'membantu' para shinigami, para hantu di Hogwarts sudah cukup berani menampakkan diri. Dan untuk Peeves, meski ia segan pada para shinigami seperti rasa segannya pada para guru, bukan berarti keusilannya menguap begitu saja.


Dan, Toushiro menatap tajam si hantu jahil, lalu menatap si kembar Weasley yang tersenyum senang, seakan Natal datang lebih cepat.


"Dia juga bagian rencana kalian?"


"Aku punya janji penting, Komandan Es," kata Peeves, menurunkan topinya, memberi salam salut yang dibuat-buat pada si rambut putih. "Menyengsarakan Dolores Umbridge."


"Tentu. Terserah."


Peeves terkekeh senang. Ia mulai bersenandung riang lagu versi kurang ajar dari Twinkle-Twinkle Little Star, sambil melempar cemilan kacang bulukannya ke sembarang arah. Anehnya tidak satupun kacang yang terlempar jatuh ke arah para shinigami.


"Dia benar-benar menikmati hidup padahal dia sudah mati," kata Rukia, terdengar sangat heran.


"Dia juga bagian dari ide kalian?"


"Oh, itu belum bagian terbaiknya," kata Lee Jordan.


"Tapi kami…" kata George.


"… perlu sedikit bantuanmu…" sambung Fred.


"… atas ide brilian mantra yang kau berikan…" kata Fred.


"… pada produk lelucon kami!" seringai George.


"Kalian membuatku hampir menyesali apa yang sudah kulakukan," gerutu Toushiro, sementara Rangiku terkikik di sampingnya dan Momo menggelengkan kepalanya geli.


"Anda…" kata Ikkaku ragu, "membantu mereka?"


"Mereka bertanya, aku menjawab," kata Toushiro.


Toushiro menghela napas. Di depannya, si kembar Weasley menatapnya dengan cengiran lebar. Di sampingnya, Rangiku menarik-narik tangannya dengan ekspresi seperti anak kecil yang meminta permen. Beberapa meter darinya Byakuya Kuchiki juga menghela napas.


Kredibilitas dan otoritas seorang komandan terdengar tak begitu berpengaruh kali ini.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Toushiro datar.


Seringai Fred dan George melebar; Mrs Weasey menatap kedua putra kembarnya itu dengan putus asa. Ia yakin sewaktu mereka kecil tak ada satupun yang mengalami geger otak yang mengakibatkan kejahilan dan potensi biang keonaran akut, bahkan mampu membuat seorang komandan dari Dunia Roh berubah pikiran!


Dolores Umbridge menerima surat pembebasan tugas dari Sekolah Sihir Hogwarts beberapa hari yang lalu setelah Menteri Sihir resmi mengeluarkan pengumuman atas kembalinya Lord Voldemort. Ia, sebagai Asisten Senior Menteri Sihir tentu saja harus kembali ke Kementerian, membantu Pak Menteri mengatasi masa sulit yang akan segera terjadi. Itu artinya, ia harus melepas jabatannya sebagai Kepala Sekolah Hogwarts, Inkuisitor Agung Hogwarts, dan guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, dan usahanya untuk memastikan Hogwarts sejalan dengan tujuan dan pengawasan Kementerian Sihir. Keberadaan empat shinigami yang disusupkan oleh Albus Dumbledore ke sekolah jelas menjadi bukti bahwa Kementerian perlu mengawasi Hogwarts.


Saat ia memasuki Aula Besar untuk sarapan pagi di hari terakhirnya di Hogwarts, ia melihat para shinigami masih ada di sana, di antara para siswa. Ia menatap rambut putih yang paling mencolok di meja Gryffindor. Komandan berambut putih yang satu itu masih saja membuatnya jengkel. Ia tahu sekarang dari mana keangkuhan dan sikapnya berasal. Dunia Roh tempatnya berasal membuat kesalahan dengan mengangkatnya sebagai salah satu pemimpin pasukan, membuatnya menerima tanggung jawab yang tak seharusnya. Memang harus diakuinya bahwa bocah itu punya otak. Tapi itu tak cukup untuk membuktikan kemampuannya. Apa yang dipikirkan Soul Society, menjadikan bocah yang menurutnya tak lebih dari anak-anak yang baru masuk ke Hogwarts sebagai komandan? Kualifkasi macam apa yang membuatnya terpilih? Bahkan untuk standar Kementerian Sihir, ia yakin tak akan ada tempat untuk anak itu di sana!


"… segera setelah waktu dua minggu yang disarankan Shutara-san selesai, dia akan kembali ke Seireitei." Didengar oleh Umbridge suara Juushiro Ukitake yang sedang bicara dengan Severus Snape dan Albus Dumbledore. "Dan Kyouraku juga sudah bilang padanya, begitu dia sampai, dia harus datang ke Divisi 1; teh hijau hangat favoritnya akan menunggunya di sana…"


"Ehem, ehem."


Dehaman manisnya itu membuat McGonagall memejamkan matanya frustrasi, tapi cukup membuat Ukitake, Dumbledore, dan Snape memandangnya.


"Maaf, Mr Ukitake," kata Umbridge manis. "Aku masih bertanya-tanya tentang hal ini, aku tidak mendapatkan jawaban langsung sebelumnya."


"Apa itu?" tanya Ukitake ramah, sementara di sampingnya Pomona Sprout dan Minerva McGonagall bertukar pandang penuh arti. Tapi biarlah. Komandan Divisi 13 itu pasti tahu apa ynag harus dilakukan untuk mengatasi Dolores Umbridge.


"Tentang kualifikasi yang dimiliki Toushiro Hitsugaya yang membuatnya terpilih menjadi salah satu komandan…"


"Ah, tentang itu," ujar Ukitake, tersenyum. "Hampir semua orang menanyakan tentang itu. Dan aku akan memberi jawaban yang sama: banyak kualifikasi yang sudah dipenuhinya, dan itu sudah cukup membuktikannya."


"Tapi dia masih begitu muda!"


"Itu, banyak yang menjadikannya sebagai alasan." Ukitake masih tersenyum. "Terlalu muda! Cukupkah pengalamannya? Dan aku pribadi juga akan menjawabnya, tidak. Ini mungkin akan jadi kelemahannya. Tapi Komandan Hitsugaya berusaha memperbaikinya, dia tak harus mengalami segala hal, jadi dia belajar dari pengalaman orang lain. Terkadang dia menanyakan banyak hal padaku, Kyouraku, Komandan Kuchiki, dan yang lainnya."


"Dan bagaimana dia bisa terpilih?" sela Snape, sebelum Umbridge mengajukan pertanyaan lain.


"Ujian Kecakapan Komandan, tentu," kata Ukitake tenang. "Dia lulus ujiannya dengan mulus. Di ujian itu, dia harus memperlihatkan bankai-nya pada kami. Minimal tiga komandan, termasuk komandan tertinggi harus menjadi saksi dan memberikan pengakuan. Waktu itu jabatan komandan tertinggi masih dipegang oleh Genryuusai Shigekuni Yamamoto. Beliau sendiri langsung mengakuinya bahwa Toushiro Hitsugaya memiliki zanpakuto tipe hyousetsu terkuat yang pernah ada dalam sejarah Soul Society." Ukitake menyadari para guru mendengarkan penjelasannya dan takjub dengan informasi itu. "Komandan Tertinggi waktu itu memiliki letnan, dengan tipe hyousetsu juga, namanya Choujiro Sasakibe." Ukitake tersenyum. "Komandan Hitsugaya berabad-abad lebih muda dari beliau, tapi kemampuan yang langsung diakui oleh Komandan Tertinggi sendiri, itu adalah bukti yang cukup untuk kualifikasi yang dimilikinya."


"Tapi usianya…"


"Bukanlah masalah untuk menunjukkan siapa dirinya," sela Ukitake halus. Ia memandang para shinigami di antara para siswa Hogwarts. "Itu justru menjadi inspirasi bagi para shinigami muda lain untuk berusaha keras, menembus batasan mereka, dan melindungi Soul Society."


"Hatsyi!"


Toushiro Hitsugaya menggosok hidungnya dan mengerjapkan matanya yang berair karena bersin mendadaknya.


"Eh? Flu?" tanya Ginny.


"Taicho tidak pernah kena flu," kata Rangiku. "Hujan air sampai hujan salju tidak akan membuatnya sakit! Mungkin ada seseorang yang membicarakanmu, taicho!"


"Mungkin," gerutu Toushiro. "Aku kira…"


"Ayo kita mulai!" seru Fred gembira, memotong kalimat Toushiro dan menarik kotak dari bawah meja, menjatuhkannya ke meja Gryffidor. Dari labelnya, berbunyi…


"Kebyar Konfigurasi-Transformasi Kembang Api Weasley!" seru George penuh gaya.


"Dengan ledakan terbaik dan desain kembang api tercantik yang pernah ada!" sambung Fred.


"Anak-anak, kalian tidak akan meledakkan itu di sini, 'kan?" kata Mr Weasley mengingatkan.


"Dad, kau tidak akan mematahkan hati kami…"


"… atau menghancurkan perasaan kami, bukan?"


"Toushiro akan meledakkan pemicunya…"


"… sebagai hadiah perpisahan untuk…"


"… profesor terbaik yang kita punya!"


"Aku ragu dia profesor terbaik," kata Ichigo, tapi matanya menatap kotak kembang api dengan tertarik. Bagaimana pun juga produk yang satu itu, ia tahu, ada campur tangan Toushiro di sana. "Tapi apa yang ini…"


"Lebih hebat dari yang kemarin," kata Lee antusias. "Lebih banyak variasi bentuk dan bisa tahan sampai dua belas jam!


"Dan, beberapa kejutan lain!" seru Fred. Ia membuka kotak itu. hanya ada satu kembang api, yang bentuknya seperti roket setinggi tiga puluh senti.


"Cuma satu?" tanya Ikkaku heran.

__ADS_1


"Dengan banyak sihir di dalamnya!" kata Fred. Ia menjentikkan tongkat sihirnya, membuat sumbu kembang api roket itu menyala.


3…


2…


1…


Dengan bunyi desing keras, bersamaan dengan habisnya sumbu itu, sang roket melesat ke udara. Hampir semua mata langsung mendongak terarah pada roket itu, yang selama melesat menghujani Aula Besar bukan dengan bunga api, melainkan…


"Kepingan salju?" ujar Shinji, mengerling Komandan Divisi 10, sementara di sekitarnya anak-anak menatap kepingan salju yang berkilau bak berlian dengan kagum; salah satu kepingan melayang ringan ke tangan Momo, yang tersenyum senang. "Ini gayamu…"


Toushiro menghela napas. Ia mengacungkan jarinya, membidik si roket yang hampir mencapai langit-langit sihiran, "Hadou ke-4: Byakurai."


Petir putih itu melesat cepat, dan menabrak sang roket dan membuatnya meledak dengan bunyi dentum keras. Banyak anak-anak yang menjerit kaget atau bersorak. Dan, kekacauan dimulai.


Begitu roket itu meledak, roket itu seakan memuntahkan semua ledakannya menjadi kembang api, bukan kembang api biasa seperti air mancur, melainkan berbagai macam bentuk. Roda-roda api menggelinding dalam berbagai ukuran, unicorn-unicorn yang berkilauan berlari dengan riang gembira, dan hippogriff-hippogriff mini yang terbang ke sana kemari dengan anggunnya.


"Wah, sihir bagus," komentar Ukitake. Sementara roket-roket dengan ekor cahaya berwarna emas dan perak melesat dengan berisik di langit-langit dan roda-roda api itu meledak, berubah menjadi sejumlah roda-roda kecil lain dan kelelawar-kelelawar yang melesat ke meja guru. Ukitake tertawa kecil ketika kelelawar-kelelawar sihiran itu hampir menabraknya; kembang api sihir itu tak memberi dampak apapun pada shinigami, seakan menembusnya. Para guru tampak tak keberatan, hanya Snape yang tampak agak terganggu. Tapi hanya dengan sedikit ayunan ringan tongkat sihirnya, benda-benda sihiran dari kembang api si kembar itu tak ada yang menyentuhnya, begitupula dnegan para guru yang lain.


Namun, Dolores Umbridge tak seberuntung itu. Ia gagal menerapkan mantra pengalih, membuatnya menjadi target empuk bagi para kembang api liar itu. Kelelawar sihiran itu beterbangan di sekitar kepalanya. Umbridge membuat ayunan ringan dengan tongkat sihirnya, yang meleset jauh dan meledakkan teko jus labu di meja Hufflepuff, membuat jus itu tumpah bercipratan kemana-mana dan anak-anak menjerit kaget.


"Oho! Ini hebat!" seru Lee Jordan di antara kebisingan.


"Ini berlebihan," kata Toushiro, nyaris tak terdengar di antara desing, ledakan, pekikan di sekitarnya.


"Jangan menyesalinya, taicho! Ini luar biasa!" seru Rangiku gembira. "Aku mau beli ini! Taicho, mereka pakai mata uang apa? Pound? Dollar?"


"Dua puluh lima Galleon untuk itu, Rangiku!" kata Fred antusias.


"Tapi karena kau letnan Toushiro, cukup lima belas Galleon saja!" kata George.


"Hebat! Tapi… taicho, aku tidak tahu apa itu Galleon… boleh kupinjam darimu? Aku janji kalau pulang nanti akan kuganti…"


Toushiro menatap Rangiku dengan alis terangkat.


"Taicho! Taicho! Taicho!"


Toushiro menepuk dahinya, sementara Momo yang duduk di sampingnya tertawa kecil. Ia dengan ekspresi luar biasa kesal melemparkan kantung uangnya dengan jengkel, "Kupotong gajimu, Matsumoto."


Entah mendengarnya atau tidak, Rangiku jelas mengabaikannya, dengan ceria merogoh kantung uang itu dan menyerahkan sejumlah koin emas pada Fred.


Harry tertawa, walau tahu tawanya tenggelam dalam gemuruh keramaian di sekitarnya dan kembang api yang meledak-ledak. Sepertinya Umbridge menyadari diam di tempat membuat dia semakin menderita karena kembang api sihiran itu, sehingga dia meninggalkan meja guru dan bergerak keluar Aula Besar. Sayangnya itu justru membuat keadaannya memburuk. Peeves menggunakan jauhnya Umbridge dari guru-guru yang lain dengan menderanya lebih parah dari kembang api sihiran itu. ia memukulinya dengan kaus kaki berisi kapur dan menghujaninya dengan cupcake yang diambilnya dari meja-meja asrama.


"Whoa… sepertinya hantu yang satu itu tahu sekali cara menyengsarakan orang…" kata Ikkaku, sementara Yumichika tertawa sambil memegang perutnya saat melihat Peeves menuang cairan hijau lumut entah apa di atas rambut Umbridge yang sewarna dengan bulu tikus, disambut dengan sorakan sebagian besar anak-anak yang meresponnya dengan gembira.


"Oh! Sepertinya hampir semuanya senang," kata Momo, tertawa kecil.


"Percayalah, dia guru yang benar-benar payah," kata Ichigo, menyeringai.


"Yah, paling tidak aku tidak dipecat dengan cara begitu," kata Lupin, tersenyum.


"Jangan bercanda! Anda guru Pertahanan Ilmu Hitam terbaik yang kami punya!" kata Ron. "Ouh! Harusnya Peeves tambahkan jatuhkan Tentakula Berbisa…"


Sepertinya, peristiwa 'perpisahan' yang satu ini akan masuk legenda Hogwarts, begitu kata George dengan riangnya. Harry sendiri melihat bahwa tak ada guru yang tampak bersusah payah menolong Umbridge; bahkan Dumbledore memberinya kedipan jahil yang sangat tak biasa. Byakuya Kuchiki yang menurut Harry adalah shinigami paling disiplin, kaku, dan dingin yang menyaingi Toushiro juga tak tampak keberatan dengan keramaian di sekitarnya. Kembang api yang melesat berisik dan meledak keras sama sekali dihiraukannya, masih bisa menyesap teh hangatnya dengan ketenangan yang sama seakan berada di upacara minum teh yang khidmat, bersama Toushiro yang sepertinya telah memutuskan untuk mengabaikan jejeritan girang letnannya yang dengan antusias membeli beberapa produk toko lelucon si kembar. Sejumlah besar murid-murid mengantar kepergian Umbridge yang berlari menyeberangi lapangan menuju gerbang – Peeves masih mengejarnya sambil melemparinya dengan lilin-lilin sambil memakinya – dengan menyorakinya, tak peduli larangan setengah hati para Kepala Asrama. Tak hanya itu, Ichigo meraung keras 'Jangan ketemu lagi!' yang bahkan sukses menembus bunyi ledakan petasan naga yang beterbangan sampai ke halaman sekolah mengejar Umbridge.


Menutup pesta tahun ajaran, Dumbledore mengumumkan beberapa pengumuman. Beberapa adalah hal biasa bahwa sekolah akan dimulai lagi pada tanggal satu September, sebelum beralih ke pemenang Piala Asrama. Anak-anak Gryffindor tak banyak mengharap, mengingat Dolores Umbridge membuat mereka nyaris kehilangan poin. Semua mata menatap empat perekam poin asrama yang di bawa ke depan meja para guru – batu-batu rubi Gryffindor yang paling sedikit, dibandingkan dengan safir Ravenclaw atau topas Hufflepuff, dan zamrud Slytherin memimpin jauh di antara yang lain. Secara tak terduga, Kepala Sekolah menambah angka di saat terakhir.


"… kurasa, pertempuran Hogwarts yang terjadi beberapa waktu lalu membuat aku harus mengapresiasi beberapa tindakan murid Hogwarts, yang meskipun tak salah lagi adalah sikap yang agak sembrono tapi gagah berani." Banyak kepala murid-murid langsung mendongak mendengar ini. "Kepada Miss Luna Lovegood," semua mata terarah pada gadis Ravenclaw itu, "aku memberikan enam puluh poin untuk Ravenclaw." Gemuruh tepuk tangan langsung menggema bersama ledakan kembang api. "Dan masing-masing enam puluh angka untuk Mr Harry Potter, Mr Ronald Weasley, Miss Hermione Granger, Mr Neville Longbottom, dan Miss Ginny Weasley, yang telah meninggalkan perlindungan kastil untuk maju ke medan perang…"


Tepuk tangan dan hentakan kaki nyaris meruntuhkan langit-langit sihiran; poin Gryffindor naik jauh dari sebelumya, membuatnya seketika berada di tempat kedua di bawah Slytherin.


"Wah, ini hebat!" puji Momo, bertepuk tangan bersama yang lain. Sirius Black menepuk punggung Harry dengan bangga, mengeluarkan tawa yang mirip gonggongan anjingnya.


Dumbledore membuat lambaian ringan dengan tongkat sihirnya, membuat suara ledakan kembang api teredam sehingga mereka bisa mendengarnya lebih jelas sekarag.


"Pertempuran yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi pengingat untuk kita bahwa Pihak Hitam masih berada di luar sana, menunggu untuk menghancurkan kita+++. Dan pertempuran itu juga, membuat kita tak bisa melupakan bantuan dan dukungan besar dari teman-teman kita," semua mata ganti terarah pada para shinigami. Dumbledore memberi anggukan takzim, "para shinigami dari Soul Society. Mereka telah melindungi kita ketika perlindungan yang kita harapkan berpaling dari kita. Aku rasa bahkan emas tak akan bisa membayar setiap ayunan senjata yang mereka gunakan untuk melindungi kita."


"Dia gunakan kata-kata yang sangat bagus untuk kita," komentar Shinji pelan.


"… dan terutama untuk Mr Ichigo Kurosaki, Mr Toushiro Hitsugaya, Mr Kisuke Urahara, dan Miss Yoruichi Shihouin, yang menjadi utusan dari Gotei 13 untuk menjaga Hogwarts…"


"Ini membuatku terharu," kata Isshin, mengusap air mata – yang susah diterka apakah itu asli atau palsu.


"Dia bahkan tidak menyebut namamu," komentar Kon.


"… meskipun mereka datang sebagai utusan misi, Hogwarts tak akan melupakan bahwa nama mereka telah tertulis dalam catatan sejarah Hogwarts. aku yakin kita tak pernah memberi angka untuk para guru, maka," Dumbledore tersenyum, "aku menganugerahkan kehormatan untuk keberanian, pengorbanan, dan persahabatan yang ditunjukkan kedua shinigami muda, Mr Ichigo Kurosaki dan Mr Toushiro Hitsugaya, seratus angka untuk masing-masing yang merupakan anggota asrama Gryffindor…"


Aula Besar meledak dalam tepuk tangan dan sorakan. Harry bertepuk keras bersama yang lain, merasakan luapan kebahagiaan yang untuk sementara menutupi semua kecemasannya. Ia ingin memberi selamat pada Ichigo dan Toushiro tapi si rambut jingga tenggelam di antara lautan anak-anak dan Toushiro dengan kacamata miring tampak megap-megap kehabisan napas dipeluk oleh Rangiku Matsumoto.


Dumbledore menjentikkan tongkat sihirnya, dan panji-panji Gryffindor langsung terentang di bagian belakang meja guru dan di pilar-pilar Aula. Tak hanya itu, konfeti merah dan emas menghujani mereka semua, mengakhiri tahun ajaran kali ini. Untuk sejenak, semua perasaan teror sebelumnya, ataupun yang akan datang terlupakan. Terlalu kejam, bukan, membiarkan anak-anak tenggelam terlalu dalam di kabut ketakutan dan ancaman?


Saat Harry dan Ron dan Hermione keluar Aula, mereka melihat para shinigami sedang berkumpul di halaman sekolah, bersama anggota Orde, Kepala Sekolah, McGonagall, dan Snape. Tak hanya itu, Ginny, Luna, dan Neville juga ada di sana. Harry bertukar pandang dengan Ron dan Hermione, yang mengangguk. Mereka meninggalkan koper mereka di undakan bawah Aula Depan dan bergegas menghampiri para shinigami itu.


"… sampaikan terima kasihku untuk Shunsui," terdengar suara Dumbledore yang bicara pada Ukitake. "Dan juga tolong katakan untuk mengurangi sake-nya."


"Oh, akan kusampaikan," kata Ukitake ramah. "Tapi aku tidak yakin dia akan mengurangi, apalagi berhenti minum…"


"Kalian sudah mau pulang?" tanya Harry pada Ichigo, yang sedang membujuk Miko masuk ke kandangnya. Renji menyeringai melihat burung hantu elang itu berkali-kali mematuk jari Ichigo sebagai tanda penolakan.


"Oh, yeah," kata Ichigo, "Ayolah, Miko, kenapa sekarang kau jadi rewel?!"


Miko ber-uhu pelan sambil mengepakkan sayapnya, seakan memprotes Ichigo, dan memberinya satu patukan lagi, kali ini agak keras sampai jarinya berdarah.


"Bukan begitu, Ichigo," kata Rukia, tersenyum geli. Ia menyikut minggir Ichigo dan membungkuk ke arah Miko yang bertengger di salah satu koper Ichigo. Gadis Kuchiki itu membelai lembut kepala si burung hantu, yang mengarahkan mata coklat kekuningannya pada Rukia. Miko ber-uhu senang dan mengizinkannya mengelus kepalanya.


Ichigo menatap Miko dengan tatapan jengkel, merasa dikhianati.


"Jangan pasang tampang **** begitu," cela Rukia, membuat Renji tertawa, "buka kandangnya."


"Iya, iya," gerutu Ichigo. Bersama Rukia, ia berhasil membuat Miko mau masuk ke kandangnya tanpa direpotkan lagi dengan patukan penolakannya. Setelah mengunci pintu kandangnya, Rukia berbaik hati menyembuhkan tangan Ichigo yang terluka dengan kidou penyembuh.


"Sepertinya," kata Hermione ragu, tersenyum gugup, "hanya sampai di sini…"


Baik Ichigo maupun Toushiro menatapnya, mengangkat alis.


"Yah, tapi tak bisa dibilang ini waktunya bilang selamat tinggal," kata Luna ceria, "Sampai nanti lebih tepat."


"Yeah, tapi apa kita bisa ketemu lagi?" tanya Ron sangsi.


"Nah, nah," kata Ukitake, berdiri di belakang Toushiro, meletakkan kedua tangannya di bahu Komandan Divisi 10 itu; Harry tak pernah berhenti mengapresiasi kemiripan kedua komandan itu walau beberapa hal jelas membuktikan tak ada hubungan darah di antara mereka. Barangkali, jika Toushiro dewasa nanti ia akan semirip Juushiro Ukitake, dengan harapan berkurangnya sifat kakunya itu. "Kita tak pernah tahu kesempatan apa yang akan muncul di masa depan. Selalu ada kemungkinan, meski itu setipis kertas."


"Weasley," kata Toushiro, membuat semua anggota keluarga Weasley yang ada di sana menoleh bersamaan. Toushiro menghela napas. Ini salah satu kesulitan akan kebiasaannya memanggil nama orang dengan nama belakang. Jika ada lebih dari satu orang yang memiliki nama belakang yang sama, itu sungguh merepotkan. "Ron."


Ron menatap Toushiro dengan heran. Ia terbelalak ketika Toushiro mengulurkan Firebolt-nya.


"Bloody hell!" seru Fred dan George bersamaan.


"Untukmu," kata Toushiro kalem. Ichigo mendengus geli melihat itu.


"A-a-apa?" gelagap Ron, menatap Toushiro seakan dia sudah sinting. "A-apa ma-maksudnya ini?"


"Aku tidak bisa bermain Quidditch lagi," kata Toushiro mengangkat bahu. "Dan kau tahu sendiri, aku tak perlu sapu untuk terbang, dan membawanya ke Seireitei juga tak ada gunanya. Kurasa sapu ini akan lebih berguna jika kuberikan ke orang lain."


"Tapi, Nak," kata Mrs Weasley, "sapu ini milikmu!"


"Nah, tidak lagi." Toushiro menjejalkan tangan Ron pada pegangan Firebolt. Ron tampak langsung memucat saking kagetnya.


"I-ini sa-sapu standar internasional!" katanya dengan suara tercekat.


Toushiro mengangguk. "Aku tahu. Nah, pakai itu untuk turnamen tahun depan. Jangan sampai kalah atau kukutuk kau lewat sapu itu."


Ron mengucapkan terima kasih berkali-kali dengan suara gemetar. Baginya yang hampir selalu menerima barang bekas dari saudara-saudaranya, barang bekas kali ini di luar semua impiannya, barangkali barang bekas senilai harta karun terbaik yang pernah ia terima.


Toushiro memberi anggukan sekali. Dilihatnya Harry tersenyum senang, tak salah lagi melihat sahabat berambut merahnya itu jelas sangat bahagia. Mr dan Mrs Weasley tampaknya juga kehilangan kata-kata, hanya menatapnya penuh terima kasih.


Tepat saat itu Urahara mengaktifkan alatnya. Sebentuk pintu gaib dengan bingkai kokoh muncul di depan mereka. Setelahnya, Ukitake menarik zanpakuto-nya, membuat gerakan seperti menusuk udara, hanya saja ujung katana-nya seakan tertelan materi tak kasat mata. Komandan Divisi 13 itu membuat gerakan memutar dengan gagang Sougyo no Kotowari, dan cahaya putih meluas dari ujung zanpakuto-nya, dan sebuah pintu bergaya Jepang muncul di samping gerbang buatan alat Urahara.


"Nah, waktunya pulang," kata Ukitake. Ia tersenyum pada para penyihir. "Sampai berjumpa lagi. Dan Komandan Hitsugaya, kami menunggumu."


Toushiro mengangguk sekali. Ia mengawasi rekan-rekannya yang satu per satu memasuki Senkaimon setelah mengucapkan selamat tinggal atau sekedar mengangguk tanda perpisahan. Momo tersenyum padanya, memberi lambaian singkat sebelum bergegas menyusul Shinji. Rangiku, seperti yang diduganya memeluknya dengan kencang membuatnya merasa paling tidak dua tulang rusuk gigai khususnya retak; Kon mengeluh penuh iri padanya. Dengan lambaian berlebihan, letnannya itu menarik kopernya yang berisi sebagian besar keperluan Hogwarts-nya bersamanya. Dan kemudian, Senkaimon menuju Soul Society itu menutup.


"Kau tidak apa-apa?" tanya McGonagall agak cemas.


"Tidak apa," kata Toushiro, agak terengah. Ia menatap galak ke arah Isshin yang tersenyum senang di dekatnya, "Tapi seseorang jelas senang dengan penderitaan…"


"Oh! Jangan berlebihan, Shiro-chan! Ayo kita segera pulang! Aku sudah merindukan dua malaikat cantikku! Putri-putriku! Ayahmu ini datang~"


Isshin melompat lebih dulu memasuki gerbang, sementara Ichigo merasa ada kedutan di bawah matanya, tanda kejengkelan.


"Aku hampir tak percaya dia ayahmu," celetuk Sirius. "Kalian tidak mirip."


"Nah, aku juga tidak," kata Ichigo, terdengar agak putus asa. Dia menoleh ke Rukia, yang ternyata tidak ikut kembali ke Soul Society. "Kau tidak ikut kakakmu pulang?"


Rukia menggeleng. "Laporan misi di Karakura tertinggal di kamarmu. Aku akan pulang segera setelah mengambilnya."


"Tidak menginap?" tanya Ichigo, menarik kopernya.


"Ada pertemuan dengan Tetua Kuchiki nanti malam," kata Rukia singkat, membantu Ichigo menenteng kandang Miko. Rukia menatap para penyihir, tersenyum sopan. "Sampai jumpa lagi." Di sampingnya, Ichigo memberi salam salut, sebelum bersama-sama dengan Rukia memasuki Senkaimon yang disiapkan Urahara itu. Setelahnya, Orihime memberi bungkukan sopan, dan memasuki Senkaimon, dengan Uryuu di belakangnya.


Toushiro menatap para penyihir, mungkin untuk yang terakhir kalinya sebelum kesematan yang lain datang. Pandangannya jatuh ke Neville, yang tersenyum gemetar padanya. Toushiro menghela napas.


"Aku belum bilang padamu," katanya pelan, tersenyum, "terima kasih."


"Harusnya aku yang bilang begitu," gumam Neville.


"Jaga diri baik-baik," Toushiro menatap para penyihir, "dan sampai jumpa lagi."


Dengan anggukan terakhir, Toushiro menarik kopernya dan melangkah memasuki Dangai yang membawanya ke Dunia Manusia. Urahara dan Yoruichi mengucapkan salam perpisahannya dan menyusul komandan mungil itu. Harry dan yang lain menatap gerbang itu bercahaya putih terang, sebelum memudar perlahan, seakan menelan gerbang antar dimensi itu.


Sebuah petualangan baru saja berakhir. Dan ada cerita baru yang siap dilakoni di masa depan. Akankah kesempatan memang membuat mereka bertemu kembali dengan para pelindung roh itu?

__ADS_1


__ADS_2