Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 12


__ADS_3

Harry benar-benar bersyukur akhir pekan telah tiba. Baginya, minggu pertama di Hogwarts-nya kali ini adalah minggu terburuk yang pernah ada, untuk saat ini. Ia senang detensinya dengan Umbridge sudah berakhir, dan Ron berhasil lolos seleksi Keeper Gryffindor – yang ia sesali tak bisa ia hadiri. Jadi, saat ia terbangun di hari Sabtu yang cerah, ia segera bangkit dan mulai berganti pakaian. Mulanya ia hampir yakin hanya ia yang baru keluar dari alam mimpi, ditinjau dari kesunyian yang ada selain kicau burung di kejauhan dan napas-napas pelan dan dalam teman-temannya. Tapi ia melihat kelambu ranjang Tousiro dan Ichigo sudah terbuka, rapi, dan kosong. Ia baru tahu kedua teman barunya itu tipe bangun pagi di hari libur.


Harry membuka tas sekolahnya dengan hati-hati dan menarik perkamen, pena bulu, dan botol tinta dari sana. Kemudian, ia membuka pintu kamar dengan perlahan dan turun ke ruang rekreasi, dan langsung duduk di kursi berlengan empuk favoritnya di dekat perapian, mulai merangkai kata-kata untuk surat kepada Sirius.


Sementara itu, ternyata Ichigo dan Toushiro sedang berada di ruang kerja Kisuke Urahara, yang berada di belakang kelas Metode Pertahanan Klasik Jepang. Mantan Komandan Divisi 12 itu membuat ruang bawah tanah portabel di bawah kantornya, membuat sebuah lapangan tanding yang berdekorasi dan berluas sama dengan ruang bawah tanah tokonya di Karakura.


"Ini 'kan bisa dipakai untuk kalian berlatih!" katanya membela diri saat Ichigo berdecak tak sabar melihat Urahara memamerkan ruangan itu. "Sama seperti di Karakura, aku juga membuat tempat ini kedap reiatsu, jadi sekalipun kalian berdua menggunakan bankai, tidak ada satupun orang di kastil ini yang merasakan apalagi terpengaruh reiatsu kalian! Bagus, eh?"


Tak perlu ada pengakuan, toh seringai di wajah Urahara itu bakal tetap tersungging. Lagipula, baik hati juga si ilmuan itu mau membuat ruang latihan ini. Ichigo bahkan menyadari kalau Toushiro sama sekali tak keberatan.


"Nah," Yoruichi muncul di belakang mereka dalam wujud manusianya, dan untungnya – Ichigo senang melihatnya begitu – ia memakai pakaian. "bagaimana kalau kita coba latihan di sini, eh, Ichigo?"


Maka, jadilah Ichigo dan Yoruichi yang pertama kali menggunakan ruang latihan itu untuk adu kekuatan. Yoruichi melatih Ichigo untuk mematangkan teknik hand-to-hand combat-nya, sehingga ia perlu keluar dari gigai. Toushiro dan Urahara mengawasi di pinggir arena; Urahara dengan santainya menyeret gigai Ichigo pada kakinya dan wajah Ichigo mencium tanah.


"Bagaimana minggu pertama kalian di sini?" tanya Urahara, duduk bersila sambil berkipas santai.


"Lumayan," kata Toushiro, duduk bersandar di salah satu batu kapur. "Aku tak akan hitung pelajaran Umbridge dengan lumayan. Aku lebih suka menghadapi Matsumoto mabuk berat daripada pelajaran sampahnya."


"Diucapkan olehmu, itu membuat segalanya jadi jelas," komentar Urahara, meyembunyikan wajahnya yang tersenyum lebar. Toushiro tak tampak kesal, tapi kata-katanya menunjukkan kalau dia tidak menyukai Umbridge. "Coba kau lihat waktu dia ketemu aku di kantor guru…"


"Kenapa?" Toushiro memandangnya tajam. "Dia mencurigaimu?"


"Hahaha!" tawa Urahara riang. "Tentu saja! Dia mencoba mengorek info tentang aku, tentang Shinou, tentang sihir kita. Tapi tak ada yang didapatnya." Urahara mengambil sebutir batu sebesar kelereng. "Jika membandingkan informasi tentang Soul Society dengan ruang latihan ini, yang diketahuinya hanyalah batu ini."


"Tetap waspada, Urahara," kata Toushiro serius. "Dia tak akan menyerah sampai mendapat yang dia inginkan."


"Aku tahu, aku tahu," kata Urahara ringan. "Ngomong-ngomong kau tidak latihan? Sudah beberapa minggu sejak kalian di Inggris dan tidak melepas reiatsu kalian."


Toushiro menatap Urahara. Senyum ganjil itu berarti sesuatu. Ditambah lagi, ia mengetukkan tongkat kayunya ke permukaan berbatu. Yah, tak ada salahnya menjajal kemampuan dengan seorang mantan komandan.


Akhir minggu itu ditutup dengan kerja keras bagi siswa OWL dan NEWT untuk mengerjakan PR-PR yang menumpuk selama seminggu pertama tahun ajaran baru itu. Harry dan Ron cukup keteteran dengan jumlah tugas mereka yang menggunung, sesekali memandang penuh nafsu pada tas Hermione yang berisi semua PR-nya yang telah selesai. Tapi mana bisa, dengan si kucing Crookshanks yang menjaga tas majikannya dengan mata mendelik galak. Harry juga heran bagaimana Ichigo dan Tousiro sudah menyelesaikan semua PR mereka, dan sekarang sedang bermain catur sihir – tepat saat itu menteri putih Toushiro membantai kuda hitam Ichigo. Keduanya tampak kalem saja menghadapi minggu pertama Dunia Sihir mereka.


Harry sungguh berharap minggu kedua nanti tidak seburuk yang sebelumnya. Sirius Black yang muncul di perapian Gryffindor pada tengah malam dalam rangka menjawab surat Harry sedikit menaikkan semangatnya. Namun, sayang sekali, itu harapan yang tak menjadi kenyataan

__ADS_1


Minggu kedua mereka dibuka dengan berita yang mengejutkan sehubungan dengan kehadiran Dolores Umbridge di Hogwarts, yang muncul di halaman depan utama Daily Prophet di hari Senin yang cerah :


KEMENTERIAN MENCARI PERBAIKAN SISTEM PENDIDIKAN


DOLORES UMBRIDGE DITUNJUK MENJADI INKUISITOR AGUNG PERTAMA


"Dumbridge? Inkuisitor Agung? What the hell is that?" ujar Ichigo membelalak menatap koran yang dipegang Toushiro.


Mata turquoise itu membaca cepat halaman depan, sehingga Ichigo nyaris yakin untuk sesaat mata itu mengabur saking cepatnya Toushiro membaca. Ichigo menunggu jawaban dan menoleh ke Golden Trio yang juga membaca koran, mendiskusikan halaman utama dengan ekspresi gusar sekitar lima meter dari kedua shinigami itu.


"Langkah Kementerian untuk memastikan Hogwarts dalam pengawasannya," kata Toushiro pelan. "Mereka memastikan, terutama para guru, tidak memihak Dumbledore. Inkuisitor punya hak memecat guru yang dianggap tidak kompeten, rupanya."


"Penilaian obyektif, eh? Suka-suka dia kalau begitu," komentar Ichigo, menggigit sandwich dengan geram. Ichigo merendahkan suaranya. "Apa menurutmu Urahara akan dalam masalah?"


"Aku hampir yakin begitu," kata Toushiro, menutup korannya dan menarik cangkir teh ke arahnya. "Tapi tak perlu cemaskan dia, dia tahu apa yang harus dilakukannya."


"Kuharap begitu," kata Ichigo sarkastik. "Aku ingin tahu seperti apa inkuisitor agung beraksi, siapa tahu dia di kelas Binns."


Tapi Umbridge tak ada di kelas Sejarah, yang masih sama membosankannya dengan minggu lalu. Ia pun tak ada di kelas Ramuan setelahnya, yang mana Snape masih menjadi satu-satunya guru di kelas ruang bawah tanah itu, membuat Neville, lagi-lagi, menerima bantuan Toushiro untuk menjaga kualinya tidak meledak.


"Tidak apa, Longbottom," kata Toushiro datar, walau Ichigo bisa melihat ia agak kesal karena bosan menerima maaf berkali-kali. "Berhentilah meminta maaf, ini bukan masalah besar." Toushiro mencabut tongkat sihirnya dan menggumamkan mantra, mengeringkan jubahnya. "Lihat? Sudah beres."


"Ma- Oh, baik," ujar Neville, menunduk saat Toushiro menghentikan maaf Neville yang ke-17 dengan deathglare yang bisa melubangi sendok. Neville mengikuti Toushiro dan Ichigo, yang terguncang menahan tawa, duduk di meja Gryffindor untuk makan siang.


"Jangan diambil hati galaknya Toushiro," kata Ichigo pada Neville sambil mengambil iga panggang. "Dia galak hampir pada semua orang. Tapi aslinya dia baik kok. Cuma ini, nih," Ichigo menunjuk mata Toushiro dengan garpu, membuat si rambut putih menepis tangan Ichigo dengan galak. "Sori," ujar Ichigo buru-buru. "Sifat alaminya saja yang dingin."


"Bi-bisa kulihat," gumam Neville pelan. Toushiro berusaha keras tidak memutarbola matanya. Nada berikutnya, saat Neville bicara kedengarannya seolah dia malu. "Tapi aku benar-benar berterima kasih. Sebelumnya tidak ada yang … membantuku… seperti ini… kadang Hermione…"


Ichigo terhenti dari gerakannya menyuap; Toushiro memandang lurus ke arah Neville, yang menghindarinya.


"Tak ada yang membantumu?" tanya Ichigo heran. "Kau punya satu asrama sebagai temanmu! Dan sepertinya kau dekat dengan Dean dan Seamus. Bagaimana dengan Harry?"


"Aku tidak sedekat itu," kata Neville pelan. "Kadang aku pikir aku hanya jadi pengganggu, aku gugupan, soalnya."

__ADS_1


"Itu bukan alasan," kata Toushiro, mengernyit.


Neville mengaduk pastanya dengan muram. "Mau bagaimana lagi, memang begitu. Aku tidak terkenal seperti Harry… atau pintar seperti Hermione… Mereka kadang-kadang membantu, sih. Tapi sepertinya mereka punya dunia yang berbeda denganku…"


Ichigo dan Toushiro bertukar pandang. Mendengarkan curhatan teman sekelas yang baru mereka kenal seminggu di Hogwarts ini baru bagi mereka.


Kalau saja kau tahu, Neville, dua orang yang mendengarkan ceritamu juga berasal dari 'dunia' yang berbeda denganmu.


"Well," kata Ichigo memulai, meletakkan garpunya, untuk menatap Neville, "kuberitahu kau, Neville, pertemanan itu tidak butuh syarat."


Neville mendongak, menatap Ichigo dengan terkejut. Ia mendapati mata hazel itu menegaskan pernyataannya tadi. Toushiro yang di sampingnya mengangguk sekali, setuju.


"Tak perlu terkenal, pintar, kaya, punya tampang… Kau berhak memiliki teman, siapa saja, di mana saja, dari mana saja."


"Tapi…"


"Begini saja gampangnya." Ichigo duduk tegak di bangkunya, menghadap ke Neville, lalu membungkuk singkat, "Kita ulangi perkenalan kita; watashi wa Ichigo Kurosaki, yoroshiku desu."


Neville tergagap kaget, sementara Toushiro mengangkat sebelah alisnya. Tapi, Toushiro juga memandang Neville, tampak resmi, "Toushiro Hitsugaya, yoroshiku."


"Ap-apa yang-?"


"Mengulangi perkenalan," kata Ichigo, menyeringai senang. "Kita teman sekarang, eh?"


"Tapi kalian-"


Ichigo mengibaskan tangannya dengan malas. Toushiro mengangkat bahunya. Keduanya kembali ke makan siang mereka. Neville menatap Ichigo dan Toushiro dengan takjub. Belum pernah ia merasa seringan ini sebelumnya.


Di meja Slytherin, Draco Malfoy menatap Neville dengan mata menyipit berbahaya. Harry Potter dan dua temannya adalah obyek favorit untuk direndahkan. Namun, Neville Longbottom adalah hal lain. Anggota Gryffindor yang satu itu yang paling mudah dikerjai. Terlalu polos. Pemalu. Ceroboh. Tak memiliki kebanggaan yang pantas sebagai Darah Murni. Pantas saja ia jarang terlihat dengan teman dekat, satu pun. Dan sekarang, dua anak baru dari Shinou itu malah berteman dengannya!


Draco sudah mendengar reputasi kedua siswa pindahan itu dari ayahnya, berkat Kementerian Sihir. Ia mendapat informasi kalau Ichigo Kurosaki berdarah murni, sesuatu yang akan dihargai Malfoy, tentu saja. Cukup berbakat dengan sihir yang diajarkan di Shinou, juga modal status darah yang membuatnya berhasil sampai di Hogwarts ini. Sayang sekali dia ada di Gryffindor. Sedangkan untuk si kecil Hitsugaya, ia baru tahu kalau ternyata ia cuma penyihir rendahan yatim piatu yang tinggal dengan pamannya yang pegawai Kementerian di tempat asal mereka, persis Harry Potter. Bedanya, Hitsugaya itu punya otak brilian yang membuatnya menjadi salah satu yang dipilih untuk ditansfer ke Hogwarts. Ayahnya bilang si rambut putih itu punya catatan akademik yang luar biasa bagus. Tak heran pula ia berhasil menyerap ilmu sihir Hogwarts, dilihat dari banyaknya guru yang memuji kerjanya. Draco ingat bagaimana ia berbagi kompartemen dengan kedua anak baru itu, dan sekarang ia agak menyesalinya, karena keduanya adalah Gryffindor. Dan berteman dengan si Longbottom! Sekarang apa? Memberi mereka pelajaran? Yeah… itu ide bagus… tapi siapa yang dikerjai? Kurosaki?


Draco mengamati sejenak si rambut jingga. Dia bahkan lebih jangkung darinya, berotot maskulin seperti atlet Quidditch profesional dan bukannya otot gorila seperti Crabbe dan Goyle. Bukankah Kurosaki itu sudah menunjukkan performa baik sewaktu pelajaran si Urahara dalam pertahanan diri minggu lalu? Jelas dia bukan sosok yang bisa dipermainkan dengan gampang.

__ADS_1


Hitsugaya?


Draco memandang si mungil yang sedang membaca buku Numerologi dan Gramatika dengan alis bertaut. Darah Lumpur seperti Granger, cocok untuk ditindas. Seringai tipis mengambang di wajah Draco Malfoy, menemukan alasan bagus. Selain itu, ia muak pada Toushiro Hitsugaya yang merebut perhatian banyak orang, baik para guru yang menyukai kecemerlangannya, maupun para gadis yang menganggap dia prince charming dengan sikapnya yang dingin dan cuek! Hanya ada satu orang yang boleh menggunakan 'dingin' sebagai topeng dan kekuatan. Dan itu bukan si rambut putih Gryffindor itu.


__ADS_2