
Dunia berputar. Warna-warna berpusar. Suara menjerit. Udara memadat.
Segalanya seakan bermaksud meremukkannya. Ia sama sekali tak mengerti. Sekali saja, bisakah dunia tak melakukan itu padanya? Menghancurkannya dari dalam… menghancurkannya dari luar…. Pertarungan itu melelahkannya….
Pertarungan!
Ya! Rasanya baru beberapa saat yang lalu ia berdiri di tengah medan pertempuran. Sebuah tugas lain yang diberikan Gotei 13 padanya. Padanya dan sejumlah shinigami lainnya. Melindungi para penyihir di Hogwarts dari para Arrancar yang setia pada pengkhianat Sousuke Aizen. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa para Arrancar itu menginginkannya, menggunakannya untuk balas dendam pada Soul Society!
Hal yang mustahil akan dilakukan Toushiro Hitsugaya pada tempat yang begitu berharga baginya.
Daripada mengorbankan diri demi Aizen, dia memilih mengorbankan diri demi Soul Society.
Inikah sebabnya… dunia berputar, warna-warna berpusar, suara menjerit, udara memadat? Apakah akhirnya ia bisa menyerah pada kematian, kematiannya yang kedua?
"Bocah *****. Kau kira aku akan membiarkanmu mati?"
Dan Toushiro memaksa dirinya membuka kedua matanya.
Ia ternyata berbaring di atas salju, di dalam inner world-nya. Ditatap olehnya langit biru gelap yang selalu memayungi tundra beku itu, menjatuhkan lebih banyak salju yang turun perlahan ke tempat yang tak pernah ia ketahui batasannya. Perlahan, ia bangkit, memandang sekelilingnya. Inner world-nya masih sama dari yang terakhir ia kunjungi. Yang berbeda, ia belum melihat sosok zanpakuto-nya di sana. Ia juga merasakan perasaan ganjil yang tak bisa ia jelaskan.
Dan kemudian Toushiro menyadari sesuatu.
Ia yakin pertempuran memberinya luka yang cukup fatal. Namun, ia melihat dirinya sendiri tanpa semua luka itu. Yang ia rasakan hanyalah kelelahan yang amat sangat, yang membuatnya kembali terduduk di atas salju.
"Hyourinmaru," panggilnya dengan suara berbisik. Tak ada jawaban. Hanya suara halus dari butiran sallju yang jatuh ke permukaan. "Hyourinmaru."
"Dia tak akan menjawabmu."
Mata Toushiro terbelalak. Ia tak mengenali suara itu. Suara berat, sedikit serak, dan terdengar seakan si pembicara bicara dari kaset rusak. Namun, suara itu membuatnya bergidik. Itu suara yang tak pernah di dengarnya ada di inner world-nya. Ada sesuatu, seseorang yang memasuki inner world-nya. Penyebab perasaan ganjil yang menjalarinya.
"Siapa di situ?" tanya Toushiro waspada, menatap sekelilingnya. "Kau seharusnya tidak berada di sini!"
"Oh, percayalah, aku seharusnya berada di sini!" kata suara itu, kelicikan terdengar di setiap katanya.
"Tempat ini adalah milikku!" kata Toushiro, mencari-cari asal suara itu. Tapi, ia tak melihat siapapun.
"Kau bilang apa?" Suara itu terdengar dari sisi kirinya, di belakangnya. Toushiro langsung menoleh. Di dengarnya langkah kaki yang memecah suara salju yang jatuh perlahan. Dan dia melihatnya. Sesosok anak laki-laki yang sangat mirip dengannya. Tidak. Siapapun itu memiliki wajahnya. Persis seperti dirinya. Tidak sama persis, memang.
Toushiro berdiri, mengabaikan seluruh sel tubuhnya yang menjerit kelelahan. Ia menghadapi si pendatang yang berdiri hanya tiga meter di depannya, sekaan menghadapi cermin, dengan warna terbalik.
Sosok itu tidak memiliki rambut putihnya, tapi berwarna hitam. Shihakuso dan hakama hitam yang dikenakan Toushiro, menjadi berwarna putih di sosok itu. Haori komandannya yang berwarna putih, berwarna hitam di sosok itu. Dan, alih-alih mendapati iris turquoise, yang balik menatapnya adalah sepasang mata kuning emas, yang memancarkan kedengkian dan kebengisan. Dan sosok itu tersenyum. Senyum tanpa keramahan, lebih tepat disebut senyum terkejam yang pernah ia lihat dimiliki oleh wajah itu – mungkin Kenpachi Zaraki akan menyambut gembira hal ini sebagai tantangan duel.
"Siapa… kamu?" tanya Toushiro tak percaya, dengan kebingungan memenuhi otaknya.
Senyum sosok itu berubah menjadi seringai. "Aku? Aku ini kamu."
Toushiro menatap sosok itu tak percaya. Dia? Jika ada 'dia' yang lain, itu adalah roh zanpakuto-nya!
"Apa maksudnya itu?! Siapa kau?!"
"Duh," sosok itu membuat tawa aneh, mirip gonggongan anjing. "Aku sudah bilang aku ini kamu." Sosok itu mengirimkan seringai jahatnya, "Lebih tepatnya, sisi gelapmu."
Mata Toushiro melebar terkejut. "Apa yang-?!"
"Hougyoku di dalam tubuhmu, benda itu yang membuatku menjadi nyata!" Sosok itu menunjukkan senjatanya; sebuah katana yan sama persis dengan Hyourinmaru. Perbedaan yang paling mencolok, bilah pedangnya bukan keperakan, melainkan hitam legam. Sebetulnya, seluruh bagian katana itu berwarna hitam pekat. "Aku adalah hollow-mu, Toushiro Hitsugaya. Dan, Hyourinmaru terlihat lebih baik dengan warna ini, ya 'kan?"
"Jangan sebut namanya! Dia milikku!" geram Toushiro.
Si hollow tertawa ganjil lagi. "Jangan serakah, dia juga milikku, aku ini kamu, kamu itu aku. Bukankah aku sudah katakan itu padamu? Oh, sebentar," si Hollow menyeringai. "Jika menurutmu berbagi itu buruk, berikan saja dia padaku."
Toushiro menghunuskan zanpakuto-nya, menggeram marah, "Tidak akan."
"Che'," Hollow itu mendecakkan lidahnya tak sabar. "Kau keras kepala."
"Enyahlah dari tempat ini!"
"Mana mungkin, Bocah," kata si Hollow tak peduli. "Aku diciptakan di sini, maka aku akan tetap tinggal di sini. Mustahil untuk kita saling bunuh, karena kita berdua pasti mati. Ah, kau harusnya berterima kasih padaku, aku menggunakan kemampuanku untuk menyelamatkan hidupmu yang menyedihkan itu."
"Kalau begitu menurutmu lebih baik aku mati!"
"Kau menginginkannya, tapi kau kira aku tidak tahu kau sama sekali tak memaksudkannya?" kata si Hollow licik. "Siapa gadis itu, Momo Hinamori? Kau menyadari kalau kau mati tak ada yang melindunginya, eh? Jadi aku tahu, kau sama sekali tidak menginginkan kematianmu, walau sepertinya kau siap saja untuk mati. Huh, dasar bocah *****."
Bocah *****?! Dia?! Semua orang tahu kalau dia adalah jenius!
"Walau sebenarnya cukup menjengkelkan karena kau ada di sini, tapi aku tak bisa membiarkanmu mati…. Kau mati, maka aku juga mati…. Aku tidak bisa mengambil alih tubuh mati, tahu. Paling tidak, jika kau hidup, aku bisa merebutnya darimu dengan caraku sendiri…."
"Itu tidak akan terjadi!"
"Tunggu saja, Bocah," seringai si hollow, juga menghunuskan pedangnya. "Mari kita lihat siapa yang berhak merajai tempat ini. Kau, atau aku."
Toushiro mengeratkan kedua tangannya pada gagang Hyourinmaru. Jika pertarungan yang diinginkan hollow itu, ia akan memberikannya. Tempat ini adalah miliknya. Ia tak akan menyerahkannya pada orang lain. Hanya dirinya dan Hyourinmaru.
"Kau benar," desis Toushiro gusar. Sial! Bagaimana bisa ia memiliki hollow?! "hanya ada satu raja di langit ini."
Genjiro Shitara tak menyangka 'kasus' kali ini sungguh rumit. Kasus pengkhianatan Aizen tampaknya akan punya pesaing dari tingkat kerumitan yang dihadapinya dan Centra 46 sekarang. Toushiro Hitsugaya, Komandan Divisi 10 Gotei 13 mengalami hollowfikasi dan ditetapkan menjadi Vizard. Dan, Hougyoku Kedua buatan para Arrancar berada di dalam tubuhnya. Dan, dia adalah reinkarnasi Penjaga Surga. Vonis mati yang telah disusun oleh Centra 46 menjadi kacau karena informasi terakhir ini. Ditambah lagi, Gotei 13 melindungi anak itu. Mereka berusaha meyakinkannya bahwa anak itu 'masih bisa dikendalikan', bahwa Centra 46 tidak boleh melakukan kesalahan yang sama dengan Centra 46 seratus tahun yang lalu yang telah membuang sejumlah komandan dan letnannya ke Dunia Manusia karena kasus yang hampir mirip.
Ia tak punya pilihan lain selain menunggu, sesuai saran Shunsui Kyouraku. Menunggu untuk memastikan bahwa Toushiro Hitsugaya tak akan kehilangan akal sehatnya.
Sial. Perlindungan mendiang Genryuusai Shigekuni Yamamoto terhadap para Vizard yang diterima kembali setelah Winter War masih diteruskan oleh Shunsui Kyouraku. Ini membuat peluang lolosnya Toushiro Hitsugaya lebih besar dari yang diperkirakan. Semua shinigami bisa saja menganggap hukum yang ditegakkan Centra 46 itu payah dan kejam. Tapi itulah harga yang harus dibayar untuk menjaga keseimbangan seluruh dunia.
Genjiro Shitara menghela napas.
Ya. Semua ini benar-benar rumit.
Sementara itu, Gotei 13 langsung menyusun rencana untuk membantu komandan muda itu. Beberapa shinigami dipersiapkan untuk kembali ke Soul Society beberapa jam kemudian. Shinigami yang kembali adalah Komandan Soi Fon, Komandan Muguruma, Letnan Kira, dan Letnan Hisagi.
Komandan Soi Fon diberi misi untuk memimpin langsung perburuan Arrancar pemberontak yang masih ada di Kota Karakura. Adapun Letnan Kira dan Letnan Hisagi ditugaskan untuk membantu perlindungan di Seiretei bersama shinigami di sana. Komandan Muguruma mendapat permintaan khusus dari Komandan Hirako, untuk memberitahukan kondisi Komandan Hitsugaya pada Vizard yang lain.
"Jika kita mau membantu Hitsugaya, kita perlu pastikan bahwa dia akan mendapat dukungan dari kita, dan kita akan memastikan bahwa kita bisa melatihnya untuk mengendalikan hollow di dalam dirinya," begitu kata Shinji Hirako.
"Kalian memang berniat menolong si komandan cebol itu, ya," seringai Grimmjow Jeagerjaques, setelah para shinigami yang diutus kembali Seireitei menghilang bersama Senkaimon. "Cukup serahkan dia padaku, dia akan kujadikan hollow-"
"Berisik, Kucing!" gertak Shinji. "Tak ingat Ichigo yang baru sadar punya kekuatan hollow hampir memenggal kepalamu?! Masih untung di hanya memberimu itu!" Shinji menunjuk bekas luka di dada Grimmjow. Mantan Sexta Espada itu menggeram gusar. "Hollow Hitsugaya bisa jadi lebih kuat dari itu karena dia masih baru dan tak terkontrol! Mau mati lagi?"
"Siapa yang kau sebut kucing?!" bentak Grimmjow.
"Kau," kata Shinji dan Ichigo bersamaan.
__ADS_1
Ichigo menyeringai senang melihat tampang Grimmjow yang harus menahan diri untuk tidak menantang siapapun bertarung selama ia ada di wilayah Hogwarts. Ini hampir tak seperti dirinya, mematuhi siapapun dan tidak berduel.
Grimmjow mengarahkan mata birunya ke Ichigo, yang balas mendelik padanya. Ia bisa melihat kemarahan dan dendam berkobar di sana.
"Tahan dirimu atau kupatahkan kakimu," kata Ulquiorra datar.
"Brengsek kau, Ulquiorra!" Grimmjow melotot murka pada Ichigo dan Shinji. "Bukan kucing! Aku ini Panther! PANTHER-!"
"Aku tahu, aku tahu. Panther, alias Panthera pardus disebut juga dengan kucing besar," kata Ichigo, menahan tawanya setengah mati, "itu artinya kau masih keluarga kucing, ****!"
Tangan Grimmjow langsung melayang ke gagang zanpakuto-nya, ekspresinya murka luar biasa. Di sampingnya, Ulquiorra hanya menatapnya dengan datar, tapi bisa dikatakan kalau si pucat itu tampak muak dengan argumen tidak penting di depannya.
"Apa mereka selalu begitu?" tanya Hermione cemas, menatap si mantan Espada berambut biru itu yang tampaknya sudah dipenuhi aura duel yang kuat. Namun, tampaknya tak ada satu shinigami-pun yang tertarik menghentikannya.
"Oh, kalau bertemu mereka memang begitu, maunya saling penggal kepala yang lainnya," kata Renji acuh, tak menyadari Hermione yang bergidik. Tentu saja Rukia langsung menyodok rusuknya. "Gah! Apaan sih?"
"Hati-hati kalau bicara, Renji," gerutu Rukia. Gadis itu menatap Hermione dengan ramah, "Jangan cemas, mereka tidak akan macam-macam di sini. Grimmjow memang kepala panas, tapi kalau Ulquiorra ada di sini, semua akan baik-baik saja."
"Apa benar si vampir itu lebih kuat dari si Grimmjow itu?" tanya Ron, tampak separo takjub separo takut.
Rukia mengangguk, tersenyum tipis. "Apa dia sebegitu miripnya dengan vampir?"
Para penyihir mengangguk. Yoruichi mendengus geli.
"Untungnya, makhluk yang satu itu adalah salah satu makhluk yang paling tidak peka sedunia. Dia tidak akan merasakan apa-apa, Jadi mau dikatai seperti apapun, dia akan tidak peduli sama sekali. Bocah itu angkuhnya bukan main, dan kalau bicara, bukan main tajamnya bahkan dengan suara tanpa nada." Yoruichi menggelengkan kepalanya. "Aku tak tahu harus merasa kasihan atau apa karena dia tidak merasakan apa-apa."
"Ku-kurasa tidak seperti itu juga," kata Orihime pelan. Ulquiorra-kun, dia berubah, tambah Orihime dalam hati. Ia tahu itu benar.
Dulu, sewaktu di Las Noches, Ulquiorra adalah satu-satunya Espada yang paling sering berada di sampingnya. Walaupun kebisuan lebih dominan di antara mereka, ia cukup mengenali sosok mantan Cuatro Espada itu. Setiap ada di dekatnya, ia hampir selalu merasakan aura yang ada padanya; kehampaan. Kehampaan yang menyembunyikan penderitaan dan kesedihan dengan nyaris sempurna. Kehampaan yang congkak, menutupi kekuatan dan insting liarnya.
Namun kali ini, aura yang dimiliki Ulquiorra Cifer berbeda dari yang terakhir ia lihat. Kehampaan itu masih melingkupinya, masih terpancar di kedua iris zamrudnya. Tapi aura pekat bernama kegelapan itu tak seberat sebelumnya. Ada sesuatu, dan ia tak tahu apa itu, yang menunjukkan seakan satu beban di jiwa yang jatuh itu telah terangkat darinya.
Dilihat oleh Orihime, Ulquiorra menjauhi Grimmjow yang masih tak terima dikatai kucing. Pemuda pucat itu bergerak tanpa suara meninggalkan keramaian Aula Depan, menyusuri koridor. Orihime perlahan juga meninggalkan tempat itu, mengikuti Ulquiorra.
"Mau kemana, Inoue-san?" tanya Rukia.
"Sebentar! Aku akan kembali nanti!"
Mengabaikan para murid Hogwarts di sekitarnya, Orihime bergegas melewati mereka. Dilihatnya Ulquiorra berbelok di ujung koridor. Orihime belum mengenal kastil ini dengan baik, tapi ia cukup tahu bahwa koridor yang dituju Ulqiorra adalah koridor menuju Menara Barat.
Orihime yakin bahwa Ulquiorra tahu bahwa ia mengikutinya. Mungkin karena itu ia berhenti di tengah koridor yang sepi.
"Onna."
Orihime sedikit berjengit mendengar itu. Panggilan yang selalu digunakan Ulquiorra selama ia ada di Las Noches. Perlahan, Orihime berjalan mendekati sosok jangkung mantan Quatro Espada itu. ia sebetulnya berharap Ulquiorra berhenti memanggilnya dengan sebutan itu. tapi, itu tidak terlalu penting sekarang.
"Eng… Ulquiorra-kun…."
"Kenapa kau mengikutiku?" tanyanya datar, tanpa berbalik untuk menatap gadis di belakangnya.
Orihime memainkan jarinya dengan gugup "A-ano… e-eto…"
Ulquiorra berbalik, sedikit membuat Orihime terkejut. "Kau masih melakukannya."
"Er… eh? Apa?"
Ulquiorra hanya menatapnya. Pemuda pucat itu memejamkan matanya, dan kemudian membukanya. "Kau masih tak banyak berubah, onna."
Selama beberapa detik berikutnya, beberapa detik yang seakan bertahun-tahun, hanya diam di antara manusia dan Arrancar itu. Orihime memiliki banyak pertanyaan, tapi lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan satu suarapun. Ia menyimpan banyak cerita, tapi otaknya entah kenapa seperti tak mau berpikir.
Apa kau baik-baik saja?
Mata Ulquiorra menjawabnya, kenapa dengan pertanyaan itu?
Aku hanya ingin tahu… Apa kau hidup dengan baik?
Mata Ulquiorra menjawabnya lagi, apa yang bisa kau harapkan dari jawaban seorang hollow, seorang Arrancar, seorang Vasto Lorde?
Banyak hal. Banyak hal, Ulquiorra-kun.
Orihime bergerak mendekati Ulquiorra. Tangannya yang gemetar terulur ke wajah pucat itu. Ulquiorra hanya diam, tak mengerti kenapa gadis di depannya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dan jari-jari lentik gadis itu menyentuh kulit pucatnya. Orihime merasakannya, kulit halus bak pualam, menyimpan kekuatan sekeras karang.
"Ini… nyata… kau be-benar-benar hidup… k-kau kembali," kata Orihime lirih, bibirnyya bergetar.
"Onna," kata Ulquiorra. "Kau-"
"Syukurlah…" Orihime menarik tangannya, menundukkan wajahnya. Ia tak ingin memperlihatkan airmata di depan mantan Quatro Espada itu. Mantan pelindungnya di kerajaan para hollow. "Syukurlah…"
Ulquiorra menatap gadis itu tak mengerti. Bahu Orihime bergetar dalam isakan yang gagal di sembunyikannya. Kenapa? Kenapa gadis itu menangis? Menangis untuknya?
"Onna, angkat wajahmu," kata Ulquiorra datar.
Orihime menggeleng. "A-aku ti-tidak mau k-kau melihatku…"
"Tapi kau datang padaku," kata Ulquiorra. "Kenapa kau menangis?"
Orihime terisak. "A-aku.. aku senang…. Aku senang melihatmu… melihatmu kembali…"
Mata Ulquiorra melebar. Ia, seorang Arrancar, dan Orihime, seorang manusia. Dan manusia itu bahagia karena ia kembali?
Mendadak Ulquiorra dihentak kesadaran. Benar. Ia seharusnya sudah mati. Pertarungannya dengan Ichigo Kurosaki di Las Noches berakhir dengan kekalahannya. Ichigo tidak menghabisinya saat itu. Waktu dan kekuatannya yang melemah yang menghabisinya. Dan kini, ia kembali. Percobaan pembuatan Hougyoku yang dilakukan di Hueco Mundo berdampak pada sisa reishi dan reiryoku-nya di tempat itu, menghidupkannya kembali. Menghidupkannya kembali melalui keinginan terdalamnya. Keinginan terdalamnya untuk bertemu dengan gadis itu, Orihime Inoue. Manusia pertama yang memberinya sebuah pemahaman besar atas perasaan. Atas kehidupan. Atas makna dari hati. Dan itu semua alasan kenapa ia ingin bertemu dengannya lagi. Walau ia adalah hollow dan gadis itu adalah manusia, ia tak peduli. Walau mungkin teman-teman shinigami gadis itu tak akan membiarkannya dengan mudah mendekati gadis itu, ia tak peduli.
Dan gadis itu, justru datang kepadanya. Bahkan menangis untuknya.
"A-aku senang… Aku bertemu denganmu lagi… Aku belum me-mengatakan terima kasih padamu… a-atas segalanya…"
Tidak, onna. Akulah yang harus berterima kasih padamu.
"Tatap aku, onna."
Ada sesuatu pada suara Ulquiorra yang membuatnya mendongak. Permohonan. Tapi, Ulquiorra tak pernah memohon. Dia terlalu angkuh untuk itu.
Airmata masih mengalir di pipinya, dan pemuda pucat itu menghapusnya, mengejutkan Orihime.
"Ulqiorra-kun?" bisiknya.
"Terima kasih."
__ADS_1
Mata Orihime terbelalak. Dan mata zamrud itu juga memancarkan hal yang sama seperti yang dikatakan pemiliknya. Ia tahu seperti itu. Kata-kata itu pertama kalinya didengar oleh mantan Espada paling tak berperasaan yang ia tahu.
Tidak. Dia bukan lagi Arrancar tanpa perasaan.
Dan kemudian, Orihime menyadarinya. Hal yang membuat ia merasa bahwa satu beban yang ditanggung oleh jiwa pemuda di depannya terangkat. Ia sudah tahu beban apa itu.
"Aku sudah mengerti sekarang," kata Ulquiorra, "apa itu hati. Aku berterima kasih padamu karena itu, onna. Dan terima kasih, kau sudah membebaskanku."
Matahari sore di musim panas itu menyinari kastil tua Hogwarts. di salah satu koridornya yang sepi, tapi dihujani oleh cahayanya, seorang manusia dan seorang Arrancar bicara tanpa kata-kata. Memahami tanpa kata-kata.
Rangiku dan Momo berulang kali meminta, tidak, memohon pada Isshin dan juga Madam Pomfrey agar diizinkan melihat langsung Toushiro. Berjam-jam mereka melakukan itu, membuat Ichigo, Renji, dan Rukia sampai tak tega dan turut 'membantu' meyakinkan bahwa tidak masalah membiarkan dua orang terdekat Komandan Divisi 10 itu mengunjunginya. Akhirnya, walaupun Madam Pomfrey jelas sangat keberatan, persetujuan Isshin membuatnya 'terpaksa' mengizinkan keduanya masuk, dengan catatan menyembunyikan reiatsu mereka dengan sempurna.
"Shiro-chan," bisik Momo sedih. Dengan sedih ia mendekati komandan mungil yang masih menutup matanya itu. Ia tahu ini bukan pertama kalinya ia melihat teman kecilnya itu terluka. Tapi Toushiro selalu bisa menyembunyikannya dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Toushiro selalu menyembunyikannya, tak ingin membuat Momo terlalu mencemaskan dirinya.
Tapi Momo Hinamori selalu mencemaskan Toushiro. Selalu. Sejak masih bersama di Junrinan, sangat menyakitkan baginya melihat Shiro-chan-nya dijauhi oleh yang lain. Sangat menyakitkannya melihat kesepiannya. Sangat menyedihkannya meninggalkan Toushiro untuk pergi ke Shinou, berlatih menjadi shinigami. Tapi, saat itu ia harus pergi, karena dengan begitu ia bisa lebih kuat dan melindunginya, terutama melindungi si rambut putih dari kesepiannya.
Waktu ternyata sedikit mengubahnya. Ia mengejar hal lain selain menjadi kuat untuk Toushiro. Ia ingin menjadi lebih kuat untuk seseorang yang dikaguminya, seseorang yang sekarang ia malu diakuinya sebagai yang pernah dikaguminya. Ia bahkan menyakiti Toushiro karena mempercayai orang itu. Ia membuat Toushiro terbebani oleh semua kenaifannya. Toushiro yang selalu melindunginya, membuatnya teringat bahwa ia juga seharusnya melindungi komandan mungil itu.
Momo terisak, memegang tangan pucat Toushiro yang serasa beku dipegangannya. Toushiro selalu ada untuknya. Toushiro yang selalu disakitinya, selalu ada di sampingnya. Tapi, ia merasa ia tak selalu ada di samping Toushiro setiap kali si rambut putih itu terluka, atau kesepian, atau sendirian.
Apa yang sudah ia lakukan?
"Momo," bisik Rangiku, menepuk pelan bahu gadis itu.
"R-Rangiku-san," isak Momo. "H-Hitsugaya-kun… dia… dia…."
"Kita harus percaya dia akan baik-baik saja," kata Rangiku. Itu juga kata-kata yang ditujukan untuk dirinya sendiri. "Taicho selalu bersikap seakan dia kuat setiap di depanmu, karena itu akan menguatkanmu. Kuatlah, untuk Taicho."
"A-aku mencoba," bisik Momo gemetar, mengeratkan pegangannya pada tangan pucat itu, seakan mengharap kekuatan. "T-tapi aku t-tak pernah sekuat Hitsugaya-kun… A-aku tak pernah ada untuknya… t-tapi dia… dia selalu a-ada untukku… Apa yang s-sudah kulakukan padanya…"
Rangiku tersenyum gemetar. "Tapi kau adalah alasan kenapa Taicho ingin menjadi lebih kuat."
"A-aku tak cukup berharga untuknya," isak Momo.
"Kau sangat berharga untuknya," tegas Rangiku. "Dengar, Momo, kau tahu Taicho bukan orang yang bisa mengungkapkan perasaan dengan langsung. Dia memilih diam dan menyimpannya sendiri. Baka," tambah Rangiku, menghela napas. "Di tambah lagi, kalian berdua punya elemen yang berbeda. Dia adalah es, dan kau adalah api. Semua orang tahu es dan api seharusnya tidak bersama."
"Rangiku-san?"
Rangiku menatap ke mata coklat itu. Kebingungan terlihat di sana. Rangiku menggelengkan kepalanya, sedikit jengkel.
"Kalian berdua sama-sama tidak peka," gerutunya pelan.
"Apa yang kau bicarakan, Rangiku-san?" tanya Momo bingung.
Rangiku menghela napas lagi. Tentu saja, Komandan-nya dan Letnan Divisi 5 itu masih terlalu muda! Dan, mengungkapkan itu sekarang, dimana asyiknya? Biar saja mereka menafsirkan sendiri perasaan itu!
"Aku tak bisa katakan banyak hal, sebetulnya. Kau dan Taicho harus cari tahu sendiri. Yang jelas, walau api dan es tak bisa menyatu, bukan berarti tak bisa bersama. Kau adalah satu-satunya api yang bisa mencairkan kebekuan hatinya, dan dia bisa menjadi es yang mendinginkan api di dirimu."
Momo masih menatap Rangiku. Rangiku tersenyum padanya.
"Aku percaya padamu, Momo. Taicho selalu ingin melindungimu, dan aku percaya yang bisa melindunginya adalah dirimu…."
"A-aku tidak tahu…"
"Aku memang letnan-nya, dan kewajibanku adalah melindungi punggungnya saat dia menghadapi musuh di depannya. Tapi aku tak bisa melindunginya dari segala arah. Yang bisa melakukannya hanyalah kau."
"S-seperti yang kau bi-bilang tadi, a-aku hanya alasan… alasan kenapa Hitsugaya-kun ingin lebih kuat…."
"Alasan itulah yang membuat dia bertahan sampai saat ini. Kau melindunginya, Momo, dengan cara unik yang tak bisa dilakukan orang lain. Kau melindunginya, menjadi api di hatinya agar tak pernah menyerah."
Tangan pucat dalam genggaman Momo berbalik menggenggamnya.
Momo menatap tangan itu dengan terkejut, lalu menatap wajah Toushiro. Wajah itu mengernyit, seakan kesakitan.
"S-Shiro-chan?" bisik Momo ketakutan.
"Taicho?" panggil Rangiku cemas.
Perlahan, kedua kelopak mata itu membuka. Sepasang iris turquoise yang lelah itu menatap mereka. Bibir Toushiro bergerak, gemetar, "Hi… namori… Matsu.. mo.. to…"
"Apa itu?"
Hermione menatap sebentuk boneka singa yang berdiri tegak dengan sangat heran. Ia, Harry, dan Ron memutuskan untuk mengunjungi rumah sakit untuk menghindari makan malam di Aula Besar, dan sedikit dikejutkan dengan kehadiran si boneka aneh yang sekarang tengah marah-marah pada Ichigo. Ya. Marah-marah. Walau boneka itu marah-marah dalam bahasa yang tak salah lagi adalah bahasa Jepang, siapapun yang mendengar nada tinggi, tak beraturan, dan penuh emosi akan tahu bahwa boneka itu marah-marah.
Ichigo sendiri tampak acuh di bawah omelan si boneka. Dan, si rambut jingga tak lagi mengenakan shihakuso-nya, atau membawa kedua zanpakuto-nya. Justru, ia sekarang berpakaian seperti Muggle; t-shirt abu-abu di bawah kemeja hitam dan celana jins biru gelap, dengan sepatu boot hitam.
"Namanya Kon," kata Rukia menjelaskan. "Dia adalah mod soul atau sering disebut juga sebagai roh artifisial. Biasanya dia dan mod soul yang lain digunakan untuk mengisi gigai shinigami ketika shinigami bertugas. Kau tahu, shinigami tak bisa dilihat manusia biasa. Jika mereka meninggalkan gigai sembarangan, bisa gawat jadinya. Manusia bisa mengira bahwa gigai itu tubuh asli. Untuk menghindari kucurigaan, kami menggunakan mod soul. Biasanya bentuknya terkonsentrasi dalam wujud seperti pil. Dan Kon itu biasanya digunakan Ichigo untuk menggantikannya." Rukia tersenyum tipis. "Selama dia pergi misi ke Hogwarts ini, Kon menyamar jadi dia."
"Gyah! Cewek cantik Inggris!" Kon berteriak antusias saat melihat sekeliling, menjatuhkan pandangannya pada Ginny. Boneka itu langsung mengambil ancang-ancang untuk melompat pada si bungsu Weasley. Tapi, ia kalah cepat dengan Ichigo yang menyambar lehernya dengan gerakan cepat-tapi-malas.
"Tidak secepat itu, Otak Mesum." Ia mengangkat Kon yang meronta-ronta. "Jaga tingkahmu atau kau akan pakai gaun Marie Antoniette lagi. Dengar?"
"NO WAY! Tidak dengan gaun menjijikkan itu!" protes Kon. "Dan ini di luar negeri! Tidak bisakah aku sedikit bersenang-senang? Kau kira tidak capek pura-pura jadi kau sepuluh bulan ini?! Hell, sok jaim dengan cewek-cewek Karakura… Dan terutama alis itu! Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tahan mengerutkan dahimu! Aku melakukannya setiap hari dan itu melelahkan, Kepala Jeruk!"
"Lihat? Sudah kubilang hilangkan tampang bersungut-sungutmu, Ichigo," kekeh Reji.
"Tapi itu sama mungkinnya dengan menyuruhnya mewarnai rambutnya jadi hitam," komentar Rukia.
"Kalau begitu, Nee-saaaaan!"
Kon melompat dengan lincah ke arah Rukia. Sayangnya, ia tak pernah mencapai gadis Kuchiki itu, lebih tepatnya Rukia mencapainya lebih dulu. Gadis itu menendang Kon tepat di wajahnya, dan menginjaknya ke lantai dengan tampang datar.
"Tidak berubah juga," komentar Renji, sementara Kon mengeluarkan suara teredam ganjil yang tak bisa mereka pahami kata-katanya.
"Rasakan itu, Kon! Dan sekali lagi, kau tidak akan keluyuran bikin masalah di sini!"
"Ichigo! Kau jahat!
"Kau membuatku memakai boot favoritku; solnya sekeras besi. Mau coba?!"
"Mr Kurosaki! Pelankan suaramu!" desis Madam Pomfrey galak.
"Maaf, Madam," sahut Ichigo pelan, mengambil Kon pada kakinya dan meremasnya dengan jengkel; Kon yang langsung menggelepar tak terima.
Sebelum ada yang sempat berkata lagi, pintu ruangan di samping kantor Madam Pomfrey menjeblak terbuka. Rangiku keluar dari ruangan itu dengan ekspresi tegang. Tentu saja ini membuat penyihir dan shinigami yang ada di bangsal rumah sakit lengsung menatapnya cemas.
"Rangiku-san, apa yang-?"
__ADS_1
"D-dia bangun!" kata Rangiku, suaranya gemetar. "Taicho bangun! D-di mana Komandan Shi-Shiba? O-Orihime?"
"Aku akan cari Inoue," kata Renji, melesat keluar dari rumah sakit, sementara Madam Pomfrey bergegas masuk ke dalam ruangan.