
Baik Ichigo maupun Toushiro absen di sisa pelajaran hari itu. Seluruh sekolah membicarakan kejadian yang terjadi beruntun menimpa Toushiro dengan penuh antusiasme, diselimuti banyak tanda tanya besar. Tanda tanya seperti bagaimana Baron Berdarah bisa berubah, sihir menakjubkan yang dilakukan Toushiro untuk menaklukkannya, juga tentang wujud Boggart yang menampilkan ketakutan-ketakutan siswa pindahan berambut putih itu
Toushiro terpaksa harus setuju untuk menginap di rumah sakit selama beberapa waktu, desakan dari Madam Pomfrey. Patron rumah sakit itu kaget bukan kepalang menerima kedatangan Toushiro yang bersama Ichigo dan Urahara dalam keadaan sebelah wajah berlumuran darah. Namun dengan segera ia melakukan penyembuhan, dibantu oleh Urahara. Setelah paling tidak satu setengah jam yang sangat lama bagi Ichigo yang tengah menunggu, Toushiro akhirnya bisa ditemuinya, sedang bersandar di bantal-bantal di salah satu tempat tidur rumah sakit, dekat dengan jendela. Ichigo tak heran melihat tampang tak puasnya, pasti – dapat ditebak dengan mudah – karena ia harus berada di tempat ini selama beberapa hari ke depan.
"… ini tidak akan terlalu buruk," kata Urahara dengan nada ceria, saat Ichigo mendekatinya dan duduk di kursi di samping tempat tidur si rambut putih.
"Tapi aku tidak suka di sini," gerutu Toushiro.
"Dan kau juga tidak mau berada di luar sana, 'kan?" kata Ichigo. "Dengan semua yang baru terjadi, aku berani taruhan kau tidak akan memunculkan diri selama beberapa waktu. Melenyapkan diri agar tak ada satupun yang bisa menemuimu. Terima saja, berada di sini bisa jadi tempat teraman untukmu sendirian dan… eh? Apa?"
Toushiro baru saja melempar pandangan galak dengan satu matanya – mata kirinya ditutupi perban, soalnya. "Aku? Sendirian?"
Ichigo dan Urahara bertukar pandang, dan kemudian keduanya meledak tertawa. Bagaimana mungkin dia bisa sendirian jika ada dua shinigami di depannya sekarang?
"Jujur saja, Hitsugaya-san," kata Urahara terkekeh. "Untuk sementara, kami sepakat tidak akan membiarkanmu sendirian…"
"Tapi aku tidak apa-apa!"
Urahara menghela napas. Mulai lagi menghadapi sikap sok kuat komandan muda ini. "Kau selalu bilang tidak apa-apa bahkan saat kau hampir mati," katanya menggelengkan kepalanya. "Sesekali, jangan sembunyikan apa yang kau rasakan, nanti kau jadi manusia es betulan…"
Toushiro mendengus kesal.
"Baiklah, bagaimana kalau begini saja," Urahara berdeham. "Aku tidak akan melaporkan kejadian ini pada Seireitei, tapi kau harus mau ada di rumah sakit sampai Madam Pomfrey bilang kau sudah cukup sehat untuk pergi. Bagaimana?"
Toushiro membuka mulut untuk protes, tapi ditutupnya lagi. Sial betul, Urahara tahu 'senjata rahasia' untuk menghadapi dirinya. Jika Seireitei tahu ia terluka, maka Rangiku Matsumoto akan tahu dan itu berarti dia akan digerecoki sampai… well, entah sampai kapan.
"Baik. Setuju." Hanya itu jawaban Toushiro, yang kemudian menyilangkan tangan di depan dada dan menatap jendela, menolak menatap satupun dari mereka.
"Bagus sekali," kata Urahara senang. "Baiklah, aku pergi dulu sekarang. Aku perlu memberitahu Kepala Sekolah dan guru-guru lain kalau kau masih hidup. Dan, selama kau di sini, Yoruichi setuju untuk menjagamu. Sekarang dia sedang menyelidiki apa yang terjadi Baron Berdarah. Begitu selesai, dia akan langsung kemari. Jangan protes," tambah Urahara sebelum Toushiro sempat melempar tatapan galaknya. Mantan Komandan Divisi 12 itu segera pergi, tak ingin mendapat protes yang siap dilontarkan Toushiro.
"Orang itu," geram Toushiro, "seenaknya saja."
Beberapa saat kemudian, hanya keheningan yang berada di antara Toushiro dan Ichigo. Toushiro hanya diam sambil menatap jendela, sementara Ichigo membuka buku Sejarah Sihir-nya dan membaca dengan kurang bersemangat. Bahkan saat makan malam datang, diantar oleh dua peri rumah yang sangat ramah, keduanya makan dalam diam. Toushiro tak akan pernah mengakuinya, tentu saja, kalau kehadiran si sulung Kurosaki membuatnya merasa tidak sendirian ataupun kesepian. Mungkin Urahara tidak salah juga, setelah menghadapi deretan ketakutan yang sebetulnya rapat-rapat ia sembunyikan, penyembuhan paling awal adalah tidak sendirian.
Pukul sembilan malam, jika melihat jam yang tergantung di dinding di atas pintu rumah sakit. Ichigo menutup bukunya dan menguap lebar.
"Kau boleh pergi kalau kau mau, Kurosaki," kata Toushiro datar. "Sebentar lagi Yoruichi juga akan datang…"
"Kalau begitu kutunggu dia," kata Ichigo. Ia memandang berkeliling. Bangsal itu sudah diterangi lilin-lilin yang nyala apinya menari dalam kegelapan. Ia lalu menatap Toushiro, yang masih menatapi jendela yang gelap. "Dan kau boleh cerita padaku apa yang mengganggumu."
Toushiro mengalihkan tatapannya dari jendela. Dilihatnya raut serius dari si rambut jingga di sampingnya. "Tidak ada apa-apa."
"Yang benar?" kata Ichigo sangsi. Ia tahu betul kalau komandan yang satu ini termasuk yang paling ahli dalam menyembunyikan apa yang dirasakannya. Sukar ditebak. Misterus, begitu pendapat ayahnya saat menceritakan tentang mantan Kursi Ketiganya itu. Namun kali ini, Ichigo tak perlu susah-susah berspekulasi. Apa yang telah dilihatnya siang tadi sudah menjadi bukti konklusif.
"Kau tak perlu tahu tentang apapun, Kurosaki. Selama aku bisa menanganinya sendiri, kau tak perlu ikut campur."
Ichigo mengumpat dalam hati. Tapi ia tak bisa menyalahkan sikap keras kepala, angkuh, dan dingin itu. Tanggung jawab besar yang dimilikinya menuntutnya untuk bersikap tangguh dan keras pada dirinya sendiri; seorang pemimpin tak boleh lemah karena itu akan melemahkan para bawahannya. Mengesampingkan diri sendiri adalah hal wajar bagi para komandan. Meskipun demikian, Ichigo yakin ada saatnya bahwa hal semacam itu adalah sesuatu yang kejam. Bukankah sangat kejam untuk seseorang membunuh perasaan atas dirinya sendiri?
"Aku tidak ikut campur. Aku hanya ingin membantu."
"Aku sedang tidak butuh bantuan, kecuali tolong tutup mulutmu."
"Aku tidak akan tutup mata, tutup telinga, dan tutup mulut jika kulihat temanku butuh bantuan," kata Ichigo tajam. "Apa semua ketakutan yang kau hadapi membuatmu memutuskan untuk membunuh semua perasaanmu? Kau bukan roh tanpa perasaan, Toushiro, hadapilah. Kau roh manusia biasa."
"Aku tidak…"
Tapi Ichigo mengangkat tangannya, mnenghentikan argumentasi si kecil. "Apa kau tidak capek dengan semua itu?"
Toushiro terdiam. Capek? Tentu saja ia capek. Ia lelah. Ia muak. Setiap waktu ia harus bersikap layaknya manusia baja, atau menurut Ichigo, manusia es. Tapi sejak awal dia sudah memutuskan untuk menerimanya, bukan? Inilah konsekuesi terbesar dari pilihannya menjadi seorang shinigami… tidak, menjadi seorang komandan. Ia harus siap untuk mengorbankan dirinya sendiri pada Soul Society. Hatinya, rohnya, hidupnya. Ia bukan dia yang sesungguhnya lagi.
Ichigo menghela napas. "Aku benar, kalau begitu."
Toushiro memilih menatap jendela lagi. Ichigo bersandar pada kursinya, mendongak menatap langit-langit rumah sakit. "Ternyata menjadi komandan tidak mudah, ya…"
'Memang tidak,' sahut Toushiro dalam hati, agak jengkel. 'Dan kau selalu memanggilku 'Toushiro' bukannya 'Komandan'…'
"… menurutku para komandan itu kuat, juga rapuh pada saat yang sama," kata Ichigo lagi. Ia berbicara sendiri tentang perspektifnya tentang para komandan dan Soul Society, tak memperhatikan kalau Toushiro tak mendengarnya lagi.
"Ngapain kau ngomong sendiri begitu?"
Ichigo menoleh terkejut. Yoruichi melompat ke salah satu tempat tidur dalam wujud kucingnya. Mata emasnya berkilau jenaka.
"Ngomong sendiri? Nih, ada Tou- eh?"
Ichigo ternganga. Ternyata benar ia bicara sendiri. Toushiro sudah tidur; matanya yang tak tertutup perban terpejam rapat dan irama napasnya teratur, tanda ia sudah terlelap. Jelas dalam kondisi begitu ia tidak mendengar ocehan Ichigo.
"Sialan," gerutu Ichigo.
Yoruichi tertawa terkekeh, namun pelan karena tak ingin membangunkan Toushiro. "Aku ambil alih sekarang. Kalian berdua sama-sama capek kelihatannya."
Ichigo berdiri sambil menguap. "Ya. Ya, tentu."
Yoruichi lalu melompat ke atas tempat tidur Toushiro, bergulung di samping tangan Toushiro yang pucat. Ia mendongak, mendapati Ichigo yang menatapnya.
"Apa?" tanya Yoruichi heran.
"Hanya ingin tahu," kata Ichigo pelan. "Apa hal paling sulit saat kau menjadi komandan?"
Yoruichi menatapnya dengan terkejut. Diangkatnya kepala kucingnya yang berambut hitam. "Kenapa kau tanya begitu?"
Ichigo hanya mengangkat bahu.
Yoruichi menatap Ichigo, lalu ke pemuda mungil di sampingnya. Ia mengerti sekarang. "Menurutmu apa?"
"Entahlah," gumam Ichigo.
"Ichigo, setiap komandan punya jawabannya sendiri. Tapi, kalau kau tanya aku, hal tersulit yang dihadapi seorang komandan adalah," kata Yoruichi serius, "kau menjadi milik Soul Society."
Hanya selang beberapa menit setelah Ichigo pergi, Toushiro membuka matanya. Tentu saja Yoruichi langsung mendongak bangun.
"Kau pura-pura tidur untuk mengabaikan Ichigo, eh?" kekeh Yoruichi.
"Aku tidak tahu dia bisa secerewet itu," gerutu Toushiro.
"Aku menyebutnya naluri seorang kakak," kata Yoruichi, dan Toushiro mengenali tawa di balik kata-kata itu, dan itu membuatnya jengkel.
"Dia bukan kakakku!" geram Toushiro.
"Aneh juga, aku melihat beberapa kemiripan di antara kalian berdua…"
Toushiro meragukannya. Ia tak melihat apalagi menyadari di bagian mananya dari ia dan Ichigo memiliki kesamaan. Kecuali keras kepala, mungkin.
"Jadi," ujar Toushiro, mengalihkan pembicaraan ke yang lebih penting daripada persaudaraan khayalan Yoruichi antara Ichigo dan dirinya, "apa yang kau temukan tentang transformasi Baron Berdarah?"
"Ah, tentang itu," kata Yoruichi, nadanya berubah serius. "Yeah, aku menemukan beberapa hal penting. Transformasi Baron Berdarah sebenarnya sudah dimulai setelah kedatangan Arrancar itu."
"Apa?" Toushiro menatap Yoruichi dengan kaget.
"Hantu Menara Griyffindor, si Nick itu yang mengatakannya padaku. Dia bilang para hantu bisa merasakan kedatangan si Arrancar; energi negatif yang dia punya mempengaruhi para hantu. Tapi efek paling buruk diterima oleh Baron karena suatu alasan. Kau tahu, bukan, kalau para hantu di Hogwarts bisa tetap tinggal di dunia daam waktu yang lama karena proteksi sihir kuno di kastil ini." Toushiro mengangguk. "Meskipun demikian, ada sesuatu yang membuat proteksi itu memudar untuk Baron Berdarah, yang justru menerima energi negatif dari Arrancar itu dan bertransformasi secara bartahap."
"Apa… alasannya?" tanya Toushiro, mengernyit.
Mata emas kucing hitam di depannya melebar. "Kejahatan yang dilakukan Baron di masa lalu.*) Itu dosa yang terus dibawanya bahkan setelah dia mati. Tapi dia memilih tetap tinggal di Dunia Manusia, di bawah perlindungan mantra di kastil ini. Itu membuatnya bertahan di dunia ini tanpa takut menjadi hollow, atau diincar oleh mereka. Tapi, saat Arrancar itu muncul, semuanya berubah."
"Begitu," gumam Toushiro serius. "Tapi… bagaimana kita bisa tak menyadarinya…?"
"Para hantu yang melakukannya," kata Yoruichi serius. "Mereka menyembunyikan transformasi Baron dari orang lain. Tujuan mereka baik sebetulnya. Para hantu tidak ingin jika Baron menyerang anak-anak. Dan kau tahu di mana tempatnya? Kamar Kebutuhan.**) Mereka perlu tempat menyembunyikan sesuatu tanpa diketahui orang lain, temasuk kita shinigami, dan ruangan itu memberikannya."
"Tapi anak-anak itu juga menggunakannya untuk latihan LD," kata Toushiro. "Bagaimana kami bisa tetap memakainya jika ada yang berada di dalam kamar itu?"
"Hukum sihir," kata Yoruichi, masih sama seriusnya. "Yang ada di dalam Kamar adalah orang hidup, dan Baron tak bisa dikatakan hidup secara harfiah."
"Ah, benar juga." Toushiro berpikir lagi sejenak. "Tadi kau bilang para hantu terpengaruh…"
"Ah, tak perlu cemaskan mereka," kata Yoruichi, nadanya berubah santai. "Mempengaruhi dalam arti mereka merasakan energi negatifnya. Tapi aku sudah memastikan kalau semuanya tak terkontaminasi atau berpotensi menjadi hollow. kau juga berperan menyalamatkan mereka, tahu. Kau mengalahkan Arrancar itu segera, jadi energi negatifnya tidak bertahan lama di sekitar Hogwarts."
Toushiro menghela napas lega. Bisa repot jika para hantu benar-benar bertransformasi seperti Baron Berdarah. Ia tak yakin, bahkan dengan Ichigo, Yoruichi, dan Urahara bisa menangani mereka tanpa membuka penyamaran mereka.
"Oh, ya," kata Yoruichi, ia mendongakkan kepala kucingnya dan menatap lurus ke Toushiro, lalu bicara dengan gaya serius. "Apa yang kau dan Ichigo obrolkan sampai dia menanyakan hal aneh padaku tadi?"
Toushiro mengerjap. "Pertanyaan apa?"
"Kau dengar, Hitsu-chan," kata Yoruichi, setengah merengek setengah menggoda, "Jangan pura-pura *****, tidak cocok untukmu."
Toushiro menarik selimutnya, membuat Yoruichi mendengking kesal karena nyaris jatuh dari temat tidur. "Aku ngantuk. Selamat tidur."
"Geez… Kaku sekali," gerutu Yoruichi. Ia mengawasi Toushiro yang tidur memunggunginya. "Dasar bocah, egonya tinggi sekali…"
"Berisik," geram Toushiro dengan suara teredam.
Yoruichi terkekeh kecil. Ia lalu bergulung nyaman di samping Toushiro. Mata kuning keemasannya masih terbuka. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Hitsugaya. Kendalikan rasa takutmu itu menjadi kekuatanmu. Kita, shinigami, memiliki jalan yang tidak mudah."
Toushiro tak menjawabnya. Bukan karena dia sudah tidur. Matanya masih terbuka. Tapi, ia hanya bisa menjawabnya dalam hati.
'Aku tahu.'
Ichigo tak heran mendapati koridor menuju Menara Gryffindor sudah sepi. Tak satupun makhluk hidup yang ditemuinya, bahkan makhluk mati. Yang ia dengar dari Yoruichi, para hantu Hogwarts sedang berkabung untuk Baron Berdarah. Para hantu itu cukup beradab juga ternyata.
Namun begitu ia masuk ke ruang rekreasi Gryffindor, betapa herannya ia mendapati seluruh penghuni asrama masih terjaga. Semuanya duduk di kursi atau sofa yang ada di sana, atau duduk di karpet di tengah ruangan sambil mengobrol dalam suara rendah. Mereka semua menoleh begitu melihat Ichigo muncul.
"Akhirnya!" seru Fred dan George bersamaan, melompat berdiri. Anak-anak lain pun ikut bangkit dari duduknya, dan mulai memberondong Ichigo denga banyak pertanyaan.
"Whoa! Pelan-pelan, guys!" seru Ichigo. Menghentikan banjir pertanyaan yang tak bisa ditangkapnya. Setelah semua anak diam, ia memandangi wajah-wajah cemas bercampur ingin tahu mereka. Siapa yang menduga kalau ternyata Gryffindor menerima kehadiran Ichigo dan Toushiro sebagai anggota mereka yang sebenarnya? "Nah, aku tahu kalian ingin tahu apa yang terjadi pada Toushiro dan…"
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ginny segera.
__ADS_1
"Ya! Sepertinya dia luka lumayan parah!" seru Alicia cemas.
"Satu per satu dong tanyanya," kata Ichigo. Ia menghela napas, lalu duduk di sofa tua di dekat perapian. Akhirnya, ia merasa sedikit hangat juga. Selama di rumah sakit, ia merasa seperti di dalam lemari es, buah dari mood Toushiro yang sedang sangat jelek. "Pertama, Toushiro tidak apa-apa. Itu bukan jenis luka yang membahayakan hidup…"
Banyak anak yang menghela napas lega.
"Ta-tapi," cicit Neville, wajahnya yang bundar pucat pasi dan tampak sangat ketakutan, "aku melihatnya… monster itu melukai matanya…"
"Tidak apa," kata Ichigo menenangkan. "Dia berhasil menembakkan Byakurai tepat pada waktunya, dan Urahara-san juga langsung menyembuhkannya." Ichigo mengangkat bahu, "Mata kirinya lolos dari ancaman kebutaan paling tidak. Dan, waktu kutinggal dia sudah bisa tidur, kok."
"Syukurlah," kata Hermione, namun ia menggigit bibir bawahnya dengan cemas,. "Ichigo, tentang Boggart itu…"
"Oh," Ichigo mengernyit. Harry bisa melihat kegeraman di raut wajah si rambut jingga. "Itu- tapi bagaimana bisa ada Boggart di sana?"
"Itu Malfoy," kata Ron pelan. "Di membawa peti berisi Boggart itu, dengan Crabbe dan Goyle, dan kurasa-"
"Malfoy?!" suara Ichigo meninggi marah.
"Ya," ujar Hermione pelan. "Apa… Toushiro tidak apa-apa… dengan itu?"
Ichigo menatap Hermione dengan muram. "Mana kutahu. Dia ahli menutupi dirinya sendiri." Ichigo menggaruk belakang kepalanya, frustrasi. "Tapi dia mengatasinya selama bertahun-tahun… Barangkali, dia lebih tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengatasinya lagi…"
Hening sejenak.
"Jadi," kata Hermione perlahan, "apakah yang dilihatnya itu… hanya dibayangkannya atau…" Hermione menelan ludah dengan gugup, "benar-benar terjadi?"
Mereka semua menatap Ichigo. Pemuda berambut jingga itu menatap nyala api di perapian yang menari dengan liarnya, tapi pandangannya kosong. Harry bisa menebak jawabannya, dan ia merasa bulu kuduknya meremang.
"Itu kenyataannya," kata Ichigo hampa. "Mereka bertiga… barangkali adalah teman terdekat Toushiro, jauh sebelum aku mengenalnya. Kau lihat betapa berbedanya dia dengan anak lain? Hampir tak ada yang mau berteman dengannya, kecuali, waktu itu, mereka bertiga… Toushiro tidak punya orangtua, jadi hanya teman-temannya yang dia miliki, yang selalu dia lindungi."
"Apa… yang terjadi?" tanya Angelina hati-hati. "Apa… mereka meninggal?"
Ichigo menggeleng, sekali. "Hanya laki-laki itu. Soujiro Kusaka namanya. Dia dibunuh di depan matanya sendiri."
Banyak anak yang terkesiap ngeri.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Ginny dengan wajah pucat.
"Lebih baik kalian tidak tahu detailnya," kata Ichigo muram. "Itu seperti mimpi buruk. Hanya saja, itu kenyataannya."
"Dan… dua gadis itu?" tanya Lee penasaran.
"Mereka masih hidup," kata Ichigo. "Tapi yang dialami mereka juga sudah pernah terjadi. Toushiro selalu berusaha untuk melindungi mereka. Jika ia gagal dan mereka sampai terluka, dia akan menyalahkan dirinya yang tak bisa lebih kuat. Kurasa itulah kenapa dia memiliki ketakutan itu …"
"Dan dia yang takut pada dirinya sendiri?" tanya Seamus.
"Kita semua pasti takut pada diri kita sendiri, 'kan?" ujar Ichigo sambil bersandar ke punggung sofa, menatap langit-langit, "Takut kalau kita tak bisa mengendalikan diri sendiri, takut jika kita tak cukup kuat untuk menjaga yang lain, bahkan takut jika kita terlalu kuat sampai itulah yang akan melukai orang yang seharusnya dilindungi… Huh, merepotkan," dengus Ichigo pelan. Dalam hatinya ia mengumpat lebih banyak lagi. Rasanya ia bisa memahami bagaimana perasaan Toushiro. Ia sendiri pernah mengalami hal-hal itu.
Keheningan kembali menguasai mereka semua. Sebagian besar tak begitu mengerti maksud kata-kata Ichigo.
"Bagaimana dia bisa memiliki ketakutan macam itu?" bisik Neville tak percaya.
"Kami hidup di dunia yang berbeda dengan kalian, kami menghadapi musuh yang berbeda dengan kalian," kata Ichigo.
"Seperti yang terjadi pada Baron Berdarah?" ujar Lavender.
"Yeah," kata Ichigo hati-hati. Sepertinya tidak ada salahnya jika sedikit membicarakan tentang hollow. Lagipula, hampir semua siswa di Hogwarts sekerang sudah tahu bentuk makhluk itu. "Jika yang kalian hadapi saat ini adalah ancaman dari kembalinya Voldy entah siapa itu, kami sejak dulu memerangi makhluk – monster – itu, yang kami sebut dengan hollow."
Golden Trio dan anak-anak Weasley bertukar pandang penuh arti, sementara yang lainnya tampak sangat terkejut.
"Kalian… memerangi mereka?" tanya Parvati kaget.
"Ya. Para hollow adalah makhluk kegelapan, yang sifatnya mirip dengan Dementor. Tapi mereka punya beberapa ciri khas. Satu, mereka punya topeng putih dengan bentuk-bentuk tertentu; dua, ada lubang kosong di badan mereka, bisa di bagian jantung atau ulu hati – karena itu mereka disebut hollow; ketiga, mereka memakan jiwa manusia-"
Banyak anak yang menjerit ngeri.
"Memakannya?" ulang Alicia, tampak mual.
Ichigo mengangguk kaku. "Tanpa jiwa, otomatis tanpa hidup. Itu artinya mati. Masih lebih baik kalau kau mati begitu saja. Tapi hollow punya kemampuan untuk merekam ingatan jiwa yang ditelannya, dan mengambil bentuk tubuh jiwa itu untuk memburu yang lainnya. Karena itulah kami ada. Kami, para – eh – penyihir dilatih untuk mensucikan mereka; memisahkan energi negatif yang mengontrol mereka, jadi mereka bisa mati dengan tenang."
"Apa mereka berbahaya juga untuk kalian?" tanya Collin ingin tahu
"Selama kami masih punya jiwa, tentu saja mereka berbahaya untuk kami. Apalagi, kami para penyihir memiliki intensitas rei – eh – energi sihir yang lebih tinggi dari manusia biasa, otomatis jiwa kami seperti pesta besar bagi mereka. Tapi jangan cemas," kata Ichigo buru-buru, melihat ekspresi teman-temannya, "kalian sudah lihat apa yang dilakukan Toushiro; kami bisa mengalahkan mereka."
"Apa yang dilakukannya itu?" tanya Dean.
"Itulah kidou yang sudah dijelaskan Urahara waktu di kelas. Penggunaannya rumit sekali; aku saja masih belum bisa menguasainya."
"Aku mendengarnya," kata Hermione pelan. "Dia bisa gunakan hingga nomor delapan puluh… bukankah Urahara-sensei bilang kalau semakin tinggi angkanya semakin sulit penguasaannya?"
"Nah, Toushiro itu jenius. Dia sudah menguasai semua mantra kidou yang ada, bahkan bisa merapalnya tanpa mantra penuh," jelas Ichigo. Ia lalu menghela napas. "Yang jelas, kalian tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Aku tahu," kata Ichigo segera, melihat beberapa ekspresi temannya yang tampak tak setuju. "Aku tahu bagaimanapun juga kalian akan tetap mencemaskannya. Tapi jika kalian bersikap seakan dia orang lemah dengan mencemaskannya berlebihan, dia tidak akan suka itu. Yang dibutuhkannya adalah bagaimana kita bisa percaya dia bisa mengatasi hal ini, itu akan menguatkannya."
"Tapi bagaimana jika dia perlu bantuan kita? Atau dia tak bisa mengatasi hal itu sendirian?" tanya Neville.
"Kita akan tahu jika dia membutuhkan bantuan," kata Ichigo yakin. "Untuk sekarang, aku yakin kita yang membutuhkan bantuan." Ichigo menatap jam besar di ruang rekreasi. Sudah hampir tengah malam. "Sudah jauh malam. Waktunya tidur, semuanya."
"Yeah! Bgaimanapun juga kami ingin tahu keadaan Otak-Rencana-Sihir-Keonaran-kami!" ujar Fred.
"Tunda saja dulu dan-APA?" Ichigo menatap si kembar Weasley dengan kaget.
"Lho? Dia tidak cerita padamu…" kata George, perhatiannya teralih.
"… kalau dia yang memberitahu kami…" sambung Fred.
"… beberapa mantra bagus untuk Lelucon Sihir kami?" kata George.
"Yeah. Dia yang memecahkan masalah bagaimana menangani Pastiles Pemuntah, memberitahu cara menentukan durasi untuk Permen Pingsan, menyarankan beberapa mantra untuk Gebyar Kembang Api Weasley, juga menyempurnakan mantra di Rawa Portabel mereka," jelas Lee Jordan. Banyak anak yang cukup terkejut, termasuk Ichigo.
"Cebol sialan itu…" geram Ichigo. "Ah, masa bodohlah! Ayo! Semuanya! Tidur!"
"Bagaimana kau bisa mengatur-ngatur kami?" protes George.
"Yeah! Kau bukan Prefek Ronnie!" tambah Fred.
Ichigo melotot galak. "PERGI TIDUR!" raungnya, membuat banyak anak terlonjak kaget dan buru-buru kabur ke kamar masing-masing; si kembar tertawa di sepanjang perjalanan.
"Dasar," gerutu Ichigo. Ia menoleh, mendapati Golden Trio dan Neville masih ada di sana. "Kalau mau jujur, sebenarnya aku juga mau tidur dan…"
"Hanya satu pertanyaan," kata Harry. Ichigo mengangkat alis, menunggu pertanyaan itu datang. "Kenapa kau malah memukulnya?"
"Oh itu." Ichigo menguap lebar. "Itu bagaimana laki-laki – ksatria – bicara, Harry. Satu tinjuan bisa mengatakan banyak hal, eh? Tapi aku tak sarankan kau lakukan itu setiap ingin bicara; gunakan itu jika temanmu tak bisa pahami kata-kata, kalau kau tahu maksudku."
Tak ada satupun yang melihat Toushiro Hitsugaya muncul di Aula Besar atau kelas yang dihadiri anak-anak kelas lima asrama Gryffindor selama dua hari kemudian. Bukan berarti tidak ada yang berusaha mencari tahu, sebetulnya, tentang apa yang terjadi padanya. Beberapa anak telah mencoba masuk ke rumah sakit, bahkan ada yang sengaja menggunakan mantra salah sasaran pada temannya agar bisa masuk ke rumah sakit. Namun Madam Pomfrey tak mengizinkan siapapun melihat Toushiro; tempat tidurnya dibatasi dengan tirai berlapis sihir agar si rambut putih tidak terusik.
Namun bukan berarti Toushiro menolak semuanya. Hanya Ichigo, Urahara, Yoruichi, dan Kepala Sekolah yang bisa diterimanya (itu juga karena ia tahu sangat sia-sia melarang mereka datang). Ichigo datang setelah makan siang untuk memberikan ponsel Toushiro yang tertinggal di Menara Gryffindor.
"Aku harus berbohong dengan Rangiku-san tentang kau yang tak menjawab panggilannya," kata Ichigo. "Dia meneleponku semalam, waktu semuanya sudah tidur. Gila tuh perempuan; sepertinya dia tahu saja kalau ada apa-apa denganmu, ya. Dia itu ibumu atau letnanmu sih."
"Lalu kau bilang apa?" tanya Toushiro, mengecek ponselnya, menemukan beberapa panggilan masuk yang semuanya adalah nama letnan jelita itu.
"Yah kubilang saja kalau kau sedang mengerjakan tugas sekolah yang bertumpuk, yang datang bersamaan dengan serangan Arrancar itu, jadi kau sedang bad mood dan tak mau diganggu- Aku tidak bilang tentang itu kok," tambah Ichigo, mengedik ke arah perban yang menutupi mata kiri sahabatnya itu. "Tapi kapan kau keluar dari sini? Neville cemas karena tak bisa menemuimu. Sepertinya dia agak merasa bersalah…"
"Mungkin besok," kata Toushiro datar sambil mengetik sesuatu di Soul Pager-nya. "Madam Pomfrey berpendapat aku harusnya ada di sini sampai seminggu lagi. Yang benar saja…"
"Lukamu sudah tidak apa-apa?"
"Hn."
"Malfoy yang menjebakmu dengan Boggart, 'kan?" ujar Ichigo.
"Ya."
Ichigo mengerjap. Hanya begitu?
Namun tampaknya Toushiro mengetahui apa yang dipikirkan Ichigo. "Dia manusia. Hanya bocah. Tak tahu siapa aku sebenarnya. Dikiranya aku hanya anak biasa, dengan ketakutan yang biasa…"
"Aku tahu. Tapi yang dilakukannya itu bukan sekedar lelucon! Aku yakin dia mencoba mempermalukanmu di depan semuanya!"
"Walau alih-alih mempermalukanku yang didapatnya adalah horor," kata Toushiro sarkastik. Toushiro menghela napas, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. "Aku yakin dia melakukan itu karena suatu alasan. Apapun itu, aku tak akan mengusiknya. Terserah saja dia mau lakukan apa…"
"Dan apapun itu kau tak berpikir untuk membalasnya," kata Ichigo, agak geregetan. "Baik benar kau. Padahal dulu kau bakal bilang 'Panggil aku Komandan Hitsugaya!'" tiru Ichigo dengan cukup mirip. "Sekarang kau sepertinya akan membiarkannya begitu saja."
"Karena aku tahu percuma memperingatkan orang ***** macam kau, ya sudah kubiarkan saja," kata Toushiro datar. Ichigo menahan lidahnya untuk tidak mengumpat; Madam Pomfrey baru saja melewati mereka. "Kau lebih menyebalkan dari Malfoy, gampang saja kubiarkan."
"Kurang ajar," desis Ichigo jengkel.
"Daripada membencinya, kurasa aku lebih mengasihaninya."
Ichigo menatap Toushiro dengan bingung. "Kok begitu?"
"Aku sudah tahu latar belakang Draco Malfoy, jadi aku sudah bisa menebak kenapa dia begitu." Toushiro mengangkat bahu. "Apa alasannya, juga bisa kutebak, walau entahlah jika itu salah."
"Apa maksudmu?"
"Kalau kau mau tahu, cari tahu saja sendiri sana," kata Toushiro datar. "Dengan begitu kau bisa lebih mengerti dari tangan pertama."
"Lalu, bagaimana kau menangani semua orang yang melihat hal itu? Mereka bisa bicara apa saja yang tidak-tidak tentangmu."
Ichigo bisa melihat kalau Toushiro tampak sedikit tegang. Namun dengan cepat ekspresinya kembali datar. "Bahkan sebelum jadi shinigami banyak orang bicara yang tidak-tidak tentangku. Ini bukan pertama kalinya."
"Dan Umbridge?"
Toushiro menghela napas. "Urahara bilang dia yang bereskan itu untukku. Dia bilang aku pernah mengalami teror dan trauma. Terserah sajalah apa yang mau dia katakan."
Ichigo sebenarnya agak tidak puas dengan jawaban Toushiro yang terkesan tak peduli. Tapi waktu berkunjungnya sudah habis, dan Madam Pomfrey mengusirnya dengan galak. Maka tak ada pilihan lain baginya untuk pergi kembali ke Menara Gryffindor untuk mengambil buku-buku untuk pelajaran selanjutnya.
__ADS_1
Sementara itu, sepeninggal Ichigo, Toushiro kembali mengutak-atik ponselnya. Dengan ragu, ia menekan tombol dial untuk sebaris nama.
"Taicho~" suara letnannya yang bernada seakan bernyanyi itu langsung menusuk telinganya. Buru-buru ia menjauhkan speaker dari telinganya.
"Geez, Matsumoto! Bisakah kau tidak sekencang itu?" gerutu Toushiro.
"Aku senang Taicho akhirnya menelepon! Kemana saja hampir dua hari ini? Aku merasa ada sesuatu yang terjadi…"
"Aku sibuk, Matsumoto," sela Toushiro segera. Ia tak ingin letnannya itu bersikap berlebihan jika tahu ia luka dalam pertarungan.
"Urahara-san dan Ukitake taichou melaporkan kalau Taicho melawan Arrancar yang muncul di sekolah sihir itu," ujar Rangiku. "Juga tentang hantu penyihir yang berubah jadi hollow – apa Taicho tidak apa-apa?"
"Aku benar-benar baik saja, berhentilah bersikap begitu. Aku ini komandan, jangan kelewat-"
"Ya,ya, Sir." Karena ia mengenal watak Rangiku, ia yakin wanita itu mengatakan 'Sir' dengan sarkastik.
"Kau ada di mana? Dan apa yang sedang kau lakukan?" tanya Toushiro. Ia tahu ada perbedaan waktu antara Jepang dan Inggris.
"Well, aku di kantor…"
"Kau… bekerja?" Ini bukan hal biasa yang dikerjakan seseorang yang dikenal sebagai letnan termalas di Soul Society. Agak mustahil jika Rangiku Matsumoto mau begadang mengerjakan paperwork tanpa pengawasan komandannya.
"Taicho jahat!" rengek Rangiku, pura-pura tersinggung. "Aku beneran kerja lho…"
"Dengan beberapa botol sake di mejamu, apa aku benar?"
Toushiro mendengar pekik kecil terkejut dan bunyi denting pelan. Tebakannya benar. Kalaupun Rangiku bisa mengerjakan paperwork tanpa pengawasan, bukan berarti itu tanpa kompensasi. Memaksa seluruh pengenalian dirinya, Toushiro berpura-pura tidak mengetahui apapun. Namun, sebelum Toushiro bicara, Rangiku angkat bicara lebih dulu. Nadanya sedikit ganjil. Ada sedikit ketidaksabaran di balik nadanya yang ceria.
"Taicho, aku punya kabar baik."
"Hn? Ada apa?"
"Hinamori-chan sudah sadar dan…"
Toushiro langsung duduk dengan tegak. Jantungnya berdegup kencang. Ia hampir tak menyadari kalau ia mencengkeram Soul Pager-nya dengan kencang.
"… Isane sudah memindahkannya ke ruang perawatan biasa. AKU TAK PERCAYA INI!" jerit Rangiku kesenangan. "Dia akan segara sembuh, Taicho! Oh, aku senang sekali!"
Mendengar semangat yang tinggi di suara letnannya itu, Toushiro merasakan kehangatan menjalari ulu hatinya. Beban entah apa yang menahannya selama beberapa waktu sedikit terangkat, membuatnya merasa jauh lebih ringan.
"Apa ini benar?" tanya Toushiro, menjaga suaranya agar tetap netral. Meskipun demikian ia tahu Rangiku mengetahui kalau ia juga sama senangnya, bahkan malah lebih.
"Serius, Taicho! Malah aku sudah kunjungi dia! Hinamori-chan menanyakanmu, lho. Ya ampun, di antara sekian banyak orang kenapa dia menanyakanmu, sih, yang tidak ada di sana?!" kata Rangiku bercanda. "Kubilang saja kau sedang ada misi, jauh banget! Dia kelihatannya agak tidak senang… Tapi Taicho telepon saja sendiri. Dia agak bosan sepertinya. Dia 'kan belum boleh kemana-mana dan tidak ada yang menemaninya – paling-paling Hanataro yang menemaninya, tapi tidak lama, sedangkan kami semua agak sedikit sibuk gara-gara aliansi hollow dengan penyihir itu dan…."
Toushiro hanya mendengarkan celoteh Rangiku Matsumoto yang nyaris tanpa akhir. Dibiarkannya saja perempuan itu bicara, sesekali ditanggapinya dengan 'hn', 'ya', 'uh-huh', 'hem'. Beberapa kali ia memberi komentar pendek atau kalimat pedas-tersembunyi-dalam-sarkastik tentang kedai sake baru, paperwork yang tanpa akhir, atau strict-nya Komandan Kuchiki yang menurutnya shinigami paling pelit senyum yang pernah ada dalam sejarah.
Setelah satu jam lebih berkicau – Toushiro selalu heran bagaimana perempuan bisa bicara sebanyak itu hanya dalam waktu segitu – Rangiku akhirnya menutup panggilannya. Menghela napas, Toushiro memutuskan kalau ia ingin mengetahui sendiri berita yang dikatakan letnannya.
Ia menempelkan speaker-nya di telinganya. Ditunggunya selama beberapa saat. Dan akhirnya, ia mendengarnya. Suara yang sangat dikenalnya menjawab panggilan itu. Suara yang paling ingin di dengarnya setelah perang melawan para Quincy itu usai. Hanya saja, suara Hinamori terdengar agak rapuh dan lemah akibat koma selama beberapa bulan yang sedikit mengacaukan kemampuannya dalam berbicara.
"Shi..ro-chan?"
Untuk kali ini, ia tidak akan kesal ataupun marah dipanggil begitu. Ia terlalu senang untuk diusik dengan nama kekanak-kanakkan itu. Hinamori sudah membuka matanya. Dia baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja.
Sore itu bagi Harry adalah sore yang cukup menyiksa dengan Snape sebagai guru pelajaran Occlumency-nya. Ia masih sama sulitnya untuk menguasai sihir yang satu ini. Ia sedikit senang karena pelajaran itu terhenti di tengah jalan. Suara jeritan perempuan di atas ruang bawah tanah kantor Snape mengacaukan pelajaran itu. Walau agak cemas juga kalau-kalau ada yang gawat terjadi, Harry mengikuti Snape keluar kantor, dan menemukan sumber jeritan itu yang juga bertanggung jawab atas terbentuknya kerumunan besar di Aula Depan. Ternyata Profesor Trelawney yang tadi berteriak, menolak pemecatan yang dilakukan Profesor yang telah menggunakan haknya sebagai Inkuisitor Agung. Bahkan ia mengusir guru Ramalan itu dari Hogwarts. Beruntung Profesor Dumbledore datang dan mencegah hal itu. Beliau mengizinkan Trelawney tetap di kastil walaupun tak mengajar. Ia pun telah menyiapkan guru pengganti untuknya, yakni Firenze si centaurus. Mengingat Harry tahu kalau Umbridge tidak suka makhluk setengah manusia, ia bisa menangkap tatapan kaget bercampur jijik yang nyata saat melihat centaurus bertubuh kuda berambut putih itu.
Keesokan harinya, anak-anak yang ikut pelajaran Ramalan cukup bersemangat dengan pelajaran pertama dengan Firenze. Namun Harry masih belum melihat Toushiro muncul di Aula Besar untuk ikut sarapan pagi itu – walaupun Toushiro tidak mengambil kelas Ramalan. Ichigo memberitahunya kalau Madam Pomfrey mengizinkannya keluar sore nanti.
Tapi perkataan Ichigo sedikit meleset. Toushiro sudah ada di depan kelas Mantra setelah mata pelajaran pertama hari itu usai. Kedatangannya cukup mengejutkan sebagian besar siswa. Ia memakai seragam Hogwartsnya, yang warna hitamnya sangat kontras dengan kulitnya yang masih tampak agak pucat dari biasanya. Yang menyita perhatian adalah penutup mata – agak mirip penutup mata yang dipakai bajak laut di film yang pernah ditonton Harry, walau penutup mata itu terbuat dari kain putih alih-alih kulit – yang menutupi mata kirinya. Poni rambut yang bahkan satu tingkat lebih bersih dari eyepatch itu sedikit memberi bayangan, memberi kesan kalau Toushiro tak ingin luka akibat cakaran monster di sana terlihat. Harry agak lega melihat Toushiro tampak sudah sehat; mata turquoise-nya yang terlihat tampak bercahaya dan tidak kosong seperti yang terakhir dilihatnya. Ekspresi wajahnya pun adalah ekspresi yang biasa, tanpa ada rasa canggung atau tanda apapun kalau ia secara tidak sengaja telah membuat kegemparan beberapa hari sebelumnya.
Sungguh menakjubkan Harry kalau Ichigo benar. Toushiro bisa menangani ketakutannya.
"Kau bilang baru keluar sore nanti? Madam Pomfrey mengizinkanmu pergi begitu saja?" tanya Ichigo setelah pelajaran usai. Keduanya bersama anak-anak Gryffindor lain bersiap untuk ke pondok Hagrid untuk ikut Pemeliharaan Satwa Gaib. Selama di koridor, banyak anak yang berpapasan di jalan yang penasaran pada si rambut putih, berkali-kali melempar tatapan menyelidik namun terlalu canggung untuk bertanya sendiri. Toushiro sendiri dengan tampang datar mengabaikan mereka. Itu adalah metode favoritnya untuk menjauhkan diri dari gosip yang akan memburuk jika ia kelewat banyak bicara (kayak Toushiro mau buang tenaga untuk bicara panjang lebar saja).
"Dia tidak akan menerima aku sudah pergi kecuali aku sudah pergi," kata Toushiro, terdengar agak jengkel. "Perempuan merepotkan."
Ichigo menggelengkan kepalanya sambil berdecak tak sabar.
"Apa? Aku 'kan sudah tidak apa-apa," kata Toushiro, mendelik pada Ichigo yang memberinya tatapan seakan menghadapi anak TK yang sangat badung.
"Kau harus berhenti punya hobi kabur dari rumah sakit."
"Orang-orang harus berhenti menganggapku anak kecil," gerutu Toushiro. Ichigo, sekali lagi menggelengkan kepalanya, tapi tak berkata apa-apa lagi. Ia tak ingin merusak mood si rambut putih yang dengan adu argumen lebih panjang dengannya.
Pelajaran Satwa Gaib sedikit kacau dari yang diharapkan oleh Golden Trio. Hagrid menjadi gampang gugup dan lupa apa yang sedang mereka bahas dengan adanya Dolores Umbridge di kelas terbuka itu. Umbridge sendiri sering melempar tatapan seperti kodok yang mengincar lalat besar gemuk pada Toushiro. Tak salah lagi Inkusitor itu sedang bersiap merencanakan introgasi sehubungan dengan insiden Boggart beberapa hari lalu.
Semakin banyak anak yang entah terang-terangan atau sembunyi-sembunyi melempar pandangan ataupun bisik-bisik pada Toushiro di Aula Besar. Harry prihatin melihat si rambut putih, tapi juga kagum melihat bagaimana ia menghadapi itu. Harry tak yakin jika ia berada dalam posisi Toushiro ia bisa bersikap begitu: makan dalam diam, punggung tegak, wajah datar, dan mata tajam yang sesekali menyapu seluruh meja asrama – yang mana jika mata para penghuninya bersirobok dengan mata turquoise itu akan segera berpaling, gentar pada dingin dan tak ramahnya tatapan itu. Tak perlu banyak kata untuk mereka semua.
Jika ada yang tidak berbicara dengan nada kepo padanya, itu adalah Ichigo, Golden Trio, anak-anak Weasley, dan Neville. Neville awalnya juga tampak agak takut untuk mendekati Toushiro, yang mana si rambut putih juga tak terlihat berusaha memaksa Neville bicara padanya. Neville merasa bersalah untuk cacat di wajah sahabat barunya itu. Namun Neville tak tahan melihat Toushiro hanya diam saat Pansy Parkinson berbisik pada Milicent Bullstrode dengan penuh penghinaan tentang kedatangan Toushiro, bahwa si rambut putih tak akan mendapat siapapun yang bisa membelanya kecuali orang yang itu-itu saja. Maka, Neville segera menghampiri Toushiro dan menanyakan kabarnya. Ia tak peduli apa yang membuat Toushiro memiliki teror yang menakutkannya, siapa Toushiro sampai ia mendapatkannya, atau alasan lainnya. Ia tahu Toushiro temannya, dan itu sudah lebih dari cukup.
"Nah, nah." Urahara muncul dari dalam kantornya, saat seluruh anak kelas lima telah tiba di kelas Urahara, membuat perhatian para siswa teralih. Ternyata ia tidak sendiri. Bersamanya, Profesor Umbridge yang berdiri di sampingnya sambil membawa clipboard, siap bertugas sebagai Inkusitor Agung di pelajaran hari ini. "Semua sudah berkumpul? Bagus sekali. Kali ini kita kedatangan tamu lagi; Profesor Umbridge ingin melihat kalian belajar. Dan kalau dia ingin melihatnya, mari kita perlihatkan apa yang sudah kalian capai. Sekarang, berpasangan dengan partner kalian dan aku mau lihat bagaimana dasar bela diri yang sudah kuajarkan pada kalian satu per satu."
Maka, mereka pun memulai. Urahara memanggil mereka berpasangan untuk maju satu per satu dan menunjukkan performa mereka. Bergantian, partner mereka akan menyerang sementara yang lain menangkis alias bertahan. Jika perlu – sebetulnya semua pasangan – tak luput dari Urahara yang memberi arahan atau instruksi. Jika ada yang bebas saran, komentar, dan arahan, itu dalah pasangan Ichigo-Toushiro. Keduanya duel hand-to-hand dengan sangat baik.
"Nah, walau kalian masih perlu banyak belajar dan berlatih, (Harry mengeluh dalam hati; hand-to-hand combat memberi banyak kelelahan fisik yang lebih parah dari latihan Quidditch) aku lihat kalian sudah mengalami banyak kemajuan. Yang paling kuharapkan kalian latih adalah stamina fisik kalian. Setelahnya, latih tanding dengan lawan yang kompeten untuk melatih refleks kalian. Tapi, perlu sekali kuingatkan agar kalian tetap mengingat prinsip-prinsip dasar pertarungan. Aku…"
"Ehem, ehem."
Dehaman manis palsu Dolores Umbridge itu, sekali lagi sukses menghentikan seseorang yang sedang bicara. Urahara menoleh, mendapati guru PTIH itu menatapnya dengan senyum kodok yang kalau mau jujur membuatnya eneg. Ini membuatnya merasa senyum rubah Gin Ichimaru yang misterius jauh bisa dihadapinya daripada yang ini; parafrase-nya adalah lebih enak dilihat si mantan Komandan Divisi 3 itu. Untung saja ia sudah biasa dengan hal-hal aneh dan membaca yang terdalam dari yang terdalam (Dia cukup menyadari kalau dirinya sendiri juga aneh, sebetulnya).
"Ya, Profesor Umbridge?" tanyanya sopan.
"Aku bertanya-tanya, Profesor Urahara," katanya manis. "Anda mengajari mereka dengan cukup baik." Harry yakin Urahara memahami nada sinis di balik kata-kata itu. "Tapi tadi aku mendengar anda berkata tentang prinsip-prinsip dasar pertarungan."
"Ah, ya," kata Urahara ceria. "Prinsip-prinsip dasar pertarungan, tentu saja. Dalam pertarungan kita tidak boleh melupakannya, 'kan? Berprinsip bahkan saat kita sedikit ah, menjadi tidak manusiawi. Prinsip-prinsip ini yang membedakan kita dari binatang."
"Boleh kutahu apa saja itu?" tanya Umbridge.
"Ada banyak sekali," kata Urahara, masih sama santainya. "Hampir setiap petarung memiliki prinsip yang berbeda. Namun, di sini kita ambil yang paling umum yang digunakan para penyihir putih. Macmillan-san," Ernie mendongak kaget. "bisa tolong sebutkan prinsip pertama yang kukatakan dulu?"
"Er… jangan meremehkan musuhmu?" ujar Ernie tak yakin.
"Tepat sekali," kata Urahara senang. Harry bisa menebak apa isi pikiran Umbridge; prinsip pertama tak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan Kementerian Sihir-nya tercinta. "Yang kedua, Boot-san?"
Terry Boot dari Ravenclaw mengerjap cepat, lalu menjawabnya, "Jangan memperlihatkan kelemahan di depan musuh."
"Benar lagi," kata Urahara riang. "Ketiga, Longbottom-san?"
Neville tampak agak gugup. "Me-mengontrol emosi?"
Urahara mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menatap Umbridge yang mempertahankan senyum palsunya, "Masih banyak hal lain, Profesor, tapi semua itu terlihat saat kita bertarung langsung. Namun yang prinsip yang paling penting adalah bahwa kita bertarung untuk melindungi apa yang harus dilindungi."
Selama beberapa detik, Umbridge diam. Namun, senyum kembali merekah di wajahnya. "Kurasa aku perlu gambaran nyata untuk itu, Profesor. Kenapa anda tidak mendemonstrasikan teknik bertarung penyihir Shinou kepada saya – kita semua?"
Golden Trio bertukar pandang.
"Demonstrasi?" ulang Urahara, menyembunyikan senyum ganjilnya di balik kipas putihnya.
"Ya. Anda berkata kalau Shinou memiliki empat keahlian dasar dalam pertarungan. Namun sayangnya, saya belum pernah melihat kelas anda mempelajari keempatnya…"
"… karena waktu dan kondisi mereka tak memungkinkan," sela Urahara sopan.
"Tapi anda dalam kondisi yang memungkinkan, bukan?" kata Umbridge manis. "Kenapa tidak tunjukkan teknik-teknik itu; zanjutsu, kidou, hakuda, dan hoho? Salah satu muridmu bisa menjadi partner bertarungmu, kurasa." Umbridge menatap Ichigo dan Toushiro. "Tapi sebelum itu, aku ingin tahu jika muridmu itu sedikit menunjukkan performanya dengan siswa Hogwarts. Hanya sebagai gambaran tentang keefektifan kelasmu."
"Ah, tentang itu…"
"Aku merekomendasikan Mr Malfoy," sela Umbridge manis.
Banyak anak yang berbisik-bisik pelan setelahnya. Urahara tampak masih sama tenangnya, wajahnya separo tersebunyi di balik kipas putihnya yang terbuka.
"Dan saya merekomendasikan Hitsugaya-san. Akan cukup jika mereka duel dengan bokutou ini." Urahara membawakan masing-masing dari mereka katana kayu, setelah Toushiro dan Malfoy telah berdiri berhadapan di tengah area duel yang disiapkan Urahara di tengah ruangan. Anak-anak lain berdiri di pinggir, siap menonton duel yang bisa dibilang agak tak biasa ini. Urahara tak pernah memasangkan Ichigo maupun Toushiro dengan anak lain. Alasannya, kedua siswa pindahan itu berada dalam level yang berbeda dengan anak-anak Hogwarts. Ia tak ingin ambil risiko jika entah Ichigo atau Toushiro 'terlalu bersemangat' dan malah menimbulkan masalah.
Namun bagi Draco Malfoy, itu adalah penghinaan. Ditatapnya lawannya yang berdiri di depannya. Draco menyembunyikan kegentarannya yang terus menghantuinya sejak kejadian Boggart itu pada si rambut putih. Untuk saat ini, ia tak punya waktu untuk menjatuhkan harga dirinya di depan si darah lumpur ini.
"Huh, kau bisa sesombong ini sekarang, Hitsugaya," cemooh Draco keras.
Baik Ichigo maupun Urahara menghela napas. Mereka membaca tandanya. mata kanan Toushiro yang menyipit berbahaya bukanlah pertanda baik. Mood Toushiro menjadi jelek. Siapapun tahu – bagi yang mengenal Toushiro Hitsugaya, tentu – bahwa sebuah hukum kepribadian terbentuk dari kasus ini: perubahan mood berbanding lurus dengan perubahan temperamen sikap seseorang.
"Hanya karena kau bisa bagus di kelas ini, kau bisa merasa kau lebih tinggi dari orang lain. Aku yakin yang bisa begitu bukan cuma kau," ejek Malfoy lagi.
Halooo? Memang siapa dia, bicara tentang 'lebih tinggi dari yang lain'? Lagipula Toushiro gak tinggi-tinggi amat, 'kan? Oke, yang terakhir itu tidak nyambung…
"Nah, mungkin kau bisa mencobanya, Malfoy-san," kata Urahara, nada liciknya tersembunyi sempurna dengan nada riangnya. Ia menjejalkan gagang bokutou ke tangan Draco, yang agak kaget. "Coba kau ayunkan pedangmu kepada Hitsugaya-san. Anggap saja ini duel ringan.
"Apa yang kau lakukan?!" protes Malfoy tak senang.
Toushiro mengambil bokutou juga, lalu membuat gerakan mengayun beberapa kali, seakan melakukan pemanasan.
"Ini masih bokutou, hanya tiruan dari senjata yang asli. Apa kau baru tahu kalau pedang itu memang berat, Malfoy-san?" kekeh Urahara. "'Kan mereka terbuat dari logam! Dan kalau kau mau tahu, katana lebih ringan dari pedang gaya Inggris yang bentuknya seperti salib. Katana dibuat lebih tipis."
"Tidak percaya," kata Malfoy sinis.
"Mau coba duel denganku?" tanya Toushiro datar, walau Harry yakin sudut bibir Toushiro nyaris terangkat dalam senyum sinis.
"Kau kira aku takut?" geram Malfoy jengkel. "Aku terima tantanganmu."
"Keputusan yang sangat tidak bijaksana," komentar Ichigo, berusaha keras menahan tawa.
"Kau bukan orang yang tepat bicara tentang hal bijaksana, Kurosaki," kata Toushiro.
Beberapa anak terkikik, sementara Ichigo merasa ada urat yang berkedut di pelipisnya. Pasti itu urat kekesalannya.
Harry tak tahu apakah Malfoy pernah melakukan kesalahan konyol yang begitu parah sebelumnya. Jika belum, maka ia telah mengalaminya sekarang. Benar kata Ichigo bahwa menerima tantangan Toushiro adalah hal yang tidak bijaksana. Sangat tidak bijaksana. Kalau saja Draco Malfoy tahu kalau Toushiro Hitsugaya adalah anggota elit pelindung Dunia Roh, ia akan berpikir dua kali, atau malah tak akan berpikir untuk bertindak macam-macam dengannya.
Singkatnya, Malfoy gagal melakukan serangan apapun pada Toushiro. Semua ayunan pedangnya ditangkis dengan ayunan-ringan-satu-tangan Toushiro. Harry berpendapat Toushiro hanya bermain-main, sebagai balas dendam atas kejadian Boggart itu.
__ADS_1
Toushiro sedikit menambah tenaga saat ia membuat gerakan menebas. Bokutou di tangan Malfoy melayang lepas, jatuh berkeletak sepuluh meter darinya. Saat ia menatap ke depan, ujung bokutou Toushiro sudah ada di depan lehernya. Draco Malfoy hanya bisa terpaku. Bulu kuduknya meremang, saat ia membayangkan kalau saja mereka duel dengan pedang asli…
Ia telah mencoba mem-bully orang yang salah.