Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 37


__ADS_3

Pertempuran itu berlangsung hingga fajar menjelang. Para shinigami sukses menghabisi para hollow yang muncul dan mendesak Arrancar yang tersisa melarikan diri lewat garganta. Dan Nel bertanggung jawab atas kematian Gilbert Ciro yang merencanakan penyerangan ke Hogwarts itu, yang mana dengan bantuan dari Grimmjow yang benar-benar mencabik-cabik Arrancar itu menjadi beberapa bagian.


Sementara itu, kedatangan Lord Voldemort untuk menghabisi Harry berhasil digagalkan Dumbledore setelah duel yang mengerikan. Sebelum para Auror Kementerian Sihir datang bersama Menteri Sihir sendiri tiba di halaman Hogwarts yang porak poranda, Voldemort meninggalkan area sekolah sihir itu bersama Bellatrix Lestrange – sebagian lain kabur, dan sebagian yang lebih besar tertangkap oleh anggota Orde.


Ichigo menatap geram pada para hollow yang masih terus berdatangan dari garganta yang terbuka, hasil pekerjaan para Arrancar musuh. Ia menarik bilah kedua zanpakuto-nya.


"Oi, Kurosaki!" seru Uryuu, menoleh setelah menembakkan panah dan memunahkan selusin Adjuchas. Ia menyadari, jika bilah kedua dilepaskan, Ichigo sedang cukup jengkel. "Yang benar saja!"


"Kau urus saja mereka yang masih di sini; aku akan paksa garganta menutup-!"


"Uh-oh, para Menos sedang menuju kemari," komentar Shinji.


"Tidak secepat itu! Semuanya! Mundur!" seru Ichigo lantang. Semua rekan shinigami-nya menoleh, melihat Ichigo dengan kedua Zangetsu-nya, bergerak mundur. Ketiga mantan Espada yang memang berada di sisi lain garganta menatap Ichigo dengan tertarik – kecuali Ulquiorra, tentu, yang masih tanpa ekspresi. Ichigo melesat ke arah para hollow, melihat sosok raksasa para Menos yang mencoba merangsek masuk lewat garganta yang sempit itu.


Ichigo memegang zanpakuto di tangan kanannya, yang lebih besar dalam posisi vertikal, lalu menyilangkan yang lebih pendek di depannya. Energi berwarna merah-hitam-biru terbentuk di sana.


"Anak itu sinting," kata Yoruichi. "Teknik sebesar itu-!"


"Getsuga Juujishou!" Semua yang belum memahami maksud 'teknik besar' langsung mengerti saat itu juga. Tak seperti Getsuga Tenshou yang sebelumnya, teknik itu jauh lebih besar dengan gelombang energi yang juga jauh lebih kuat. Bentuk energinya yang seperti salib cahaya merah-hitam-biru itu menelan para hollow dan garganta tanpa ampun. Saking kuatnya energi yang ditimbulkan, sejumlah besar pepohonan Hutan Terlarang tercabut dari akarnya. Dan saat gelombang itu mencapai langit, awan pagi yang ada tersibak membentuk celah salib di angkasa.


"Frekuensi serangan yang mengagumkan," komentar Kensei.


"Shinigami pengganti itu jadi kuat," seringai Grimmjow senang. "Aku harus duel dengannya lagi!"


"Sebelum itu," sela Ulquiorra, menatap beberapa Arrancar yang lolos dari Getsuga Juujishou Ichigo. Mereka menatap para mantan Espada dengan ngeri sebelum bersonido pergi. "kita urus mereka dulu."


"Kau telan saja para kecoa tak berguna itu," kata Grimmjow tak peduli. "Aku punya urusan dengan Ichigo."


"Kau tidak lihat apa yang terjadi dengan Kawai Taicho itu?" kata Nel jengkel.


"Tidak peduli," kata Grimmjow acuh.


"Itsygo tidak akan mau lakukan apa-apa dengan temannya Kawai Taicho dalam kondisi begitu! Kau pergi dengan Ulquiorra dan bereskan mereka. Kembali lagi ke sini kalau sudah selesai, tapi jangan ganggu siapapun!"


"Kenapa aku harus patuhi perintah darimu, Perempuan?!"


"Kau tahu kami bisa membunuhmu," kata Ulquiorra datar. "Sekarang diamlah. Jika kau merasa tak sanggup mengurus sampah Arrancar itu, aku masih bisa selesaikan sendiri."


Dan Ulquiorra ber-sonido pergi, tak melihat wajah gusar Grimmjow.


"Kalong sombong! Awas saja kau meremehkanku!"


Dan ia juga ber-sonido pergi menyusul si mantan Cuatro Espada. Nel menghela napas. Dipandanginya sisa pertempuran di halaman kastil sihir itu. Ia bisa merasaka reiatsu lemah dari komandan mungil berambut putih telah meninggalkan tempat itu, berada di dalam kastil.


"Neliel-san."


Nel menoleh, mendapati Juushiro Ukitake telah ber-shunpo di dekatnya dengan ekspresi muram. Ia mengedikkan kepalanya sekali ke arah kastil, tanda bahwa ia mengikutinya masuk.


Ichigo menatap halaman Hogwarts yang nyaris tak dikenali dalam diam. Cahaya matahari pagi mulai menerangi tempat itu, membuat segalanya menjadi jelas. Tak hanya tanah yang tak rata atau terbelah dan bebatuan yang berserakan, bercak-bercak darah pun terlihat di sana-sini.


Tak heran Cornelius Fudge tampak sangat shock.


Ah. Persetan dengan Menteri Sihir yang sangat tidak cakap itu.


Ichigo menunduk, menatap Zangetsu yang berada dalam genggamannya. Mereka berhasil melindungi Hogwarts. Harry Potter masih hidup dan tak ada korban jiwa di antara para penyihir – walau sebagian besar harus menderita luka-luka.


Ichigo mencengkram gagang zanpakutou-nya, teringat wajah pucat pasi Toushiro Hitsugaya. Temannya itu sekarat karena rencana para Arrancar pendukung Aizen keparat itu. ia tak cukup cepat untuk menolongnya…


"Ichigo."


Si rambut jingga itu menoleh. Isshin Kurosaki berdiri tak jauh darinya. Sulit ditebak bagaimana ekspresi ayahnya itu. ia tak bisa melihat emosi apapun di sana.


"Ayah."


"Ayo masuk."


Ichigo menatap halaman untuk yang terakhir kali, sebelum mengikuti ayahnya ke kastil. Ichigo mengenali koridor ini, dan sedikit heran bagaimana ayahnya bisa tahu jalan menuju sayap rumah sakit. Tapi toh ia mengikutinya juga, tak mempedulikan tatapan sejumlah murid yang berpapasan dengan mereka di beberapa titik. Keduanya akhirnya tiba di bangsal rumah sakit.


Dan belum pernah Ichigo melihatnya sepenuh ini. Semua yang semalam bertarung, entah anggota Orde atau para shinigami, hampir semuanya ada di sana. Beberapa, seperti Ukitake, tapi juga tidak berada di bangsal itu.


"Kau luka?" tanya Isshin pelan.


"Menurutmu?"


Isshin mengerling untuk menatap putra sulungnya. Ada beberapa lebam di sana, tapi bisa dikatakan tak ada satupun yang terlihat membahayakan hidup.


"Kalau begitu kau bisa membantuku," kata Isshin. "Mereka kekurangan orang…"


"Baik." Ichigo menghela napas. "Kebetulan aku tahu beberapa mantra kontra-kutukan untuk para penyihir ini. Tapi pertama, aku butuh tongkatku."


Ichigo menyandarkan kedua zanpakuto-nya di sudut ruangan, sebelum menghampiri Luna yang pergelangan kakinya yang patah tengah ditangani Madam Pomfrey.


"Maaf mengganggumu, Luna," kata Ichigo. "Boleh aku minta bantuan kecil?"


Luna menatapnya dengan mata abu-abunya yang menonjol, lalu menjawab dengan nada melamunnya yang biasa, "Tentu saja. Apa itu?"


"Bisa tolong gunakan Mantra Panggil untuk tongkatku? Aku memerlukannya, tapi aku meninggalkannya di ruang rekreasi Gryffindor…"


"Ah, tentu saja," kata Luna ceria. Ia mengambil tongkatnya yang tergeletak di meja, lalu mengacungkannya ke jendela yang terbuka, "Accio tongkat sihir Ichigo!"


Beberapa detik kemudian, sebuah tongkat sihir berwarna hitam legam melesat masuk ke bangsal rumah sakit dengan bunyi desing keras. Beberapa kepala menolah terkejut, melihat Ichigo dengan sigap menangkap tongkat sihirnya.


"Trims, Luna."


"Sama-sama."


"Mau apa kau dengan benda itu?" tanya Renji heran.


"Membereskan beberapa hal." Dengan tenang Ichigo mengacungkan tongkat itu ke arah dirinya sendiri. "Scourgify." Semua noda darah dan debu menghilang. "Reparo." Dan shihakuso yang dikenakan Ichigo kembali seperti baru, tanpa robekan atau noda sedikitpun. "Nah. Ada yang bisa saya bantu, Madam Pomfrey?"


"Dia membuat dirinya terlihat seperti penyhir," komentar Ikkaku.


"Paling tidak dia benar-benar belajar," ujar Kensei. Ia memandang ke sisi terjauh ruangan itu. Sebuah tempat tidur telah dibatasi dengan selubung kidou dan tirai, menghalangi pandangan untuk siapa saja selain Orihime Inoue dan Kisuke Urahara yang berusaha keras menyelamatkan hidup Toushiro Hitsugaya. "Yang kita perlukan sekarang adalah kedatangan Tessai."


"Tidak lama lagi," kata Yoruichi. Ia baru saja memasuki barak rumah sakit. "Dia di Dangai. Beberapa menit lagi dia sampai. Dan aku sudah mengirim kabar tentang kejadian ini ke Seireitei." Yoruichi tampak sangat serius. "Tapi aku cemas Centra 46 akan mengetahui tentang hal ini."


"Tentu saja mereka akan tahu," kata Kensei, mendengus jengkel. "Mereka seperti anjing; mengendus banyak hal. Ini malah akan menyulitkan posisi Hitsugaya."


"Apa pendapat Centra 46 bukan hal yang terpenting sekarang," kata Isshin, sedang melakukan kidou penyembuhan untuk Hisagi. "Toushiro sekarat."


"Kau tahu apa masalahnya, Isshin," kata Shinji datar. "Jika mereka tahu potensi apa yang bisa terjadi padanya, Centra 46 akan membunuhnya."


"Jangan bicarakan soal seperti itu sekarang," kata Ichigo, nadanya dingin setelah mendaraskan mantra dengan tongkat sihirnya untuk membantu Sirius. Pewaris Black itu masih sadar, menatap Ichigo sambil mendengarkan percakapan di antara para shinigami.


"Kita tetap harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, Ichigo," kata Shinji, matanya menyipit.


"Aku tak keberatan menghentikan eksekusi konyol lagi," kata Ichigo jengkel. "Bukan salah Toushiro dia jadi seperti itu!" Ichigo mengayun-ayunkan tongkat sihirnya dengan marah.


"Selamat pagi."


Mereka semua menoleh. Seorang pria paruh baya jangkung berdiri di ambang pintu bangsal rumah sakit. Sekilas, bagi para penyihir, pria itu terlihat seperti Muggle, karena ia memakai t-shirt putih yang tertutupi jaket kulit dan celana panjang. Gaya rambutnya agak aneh, seperti gaya retro, apalagi dengan kumis dan kaca mata hitam begitu.


"Pagi, Tessai. Kurasa kau bisa langsung saja. Kisuke di sana." Yoruichi menunjuk ke ujung bangsal tempat Toushiro berada.


"Kelihatannya lumayan buruk," kata Tessai. Suaranya dalam dan berat, terkesan sangat serius. "Reiatsu Hitsugaya-san belum pernah setipis ini sebelumnya. Dan kenapa zanpakuto-nya tidak bersamanya?"


Mata semua orang tertuju ke zanpakutou yang tergeletak di atas meja di dekat pintu. Bilah pedangnya yang keperakan tampak dikotori bercak darah. Dan Tessai bergerak ke arahnya, lalu mengambilnya. "Dia harus berada di dekat Master-nya."


"Hah?" Shinji menatap mantan Komandan Korps Kidou itu dengan heran.


"Seekor naga tidak bisa terbang hanya dengan sebelah sayap," kata Tessai tenang.


"Kau… bicara apa sih?" tanya Kensei tak mengerti.


"Nanti saja," kata Tessai, berjalan ke arah pasien yang telah menunggunya. Pria itu segera menghilang di balik tirai.


"Kita juga perlu membereskan beberapa hal," kata Byakuya. Ia memandang rekan-rekan shinigami-nya. Pandangannya jatuh kepada satu-satunya Arrancar yang ada di sana, Neliel Tu Oddersvank.


"Ah, benar juga," kata Kensei.

__ADS_1


Nel berdeham dan menegakkan diri. "Baiklah, begini, tentang bagaimana kami bisa di sini. Tia-chan berpendapat kalau apa yang dilakukan para pendukung Aizen itu di luar batas. Mereka akan mengganggu keseimbangan antara shinigami, manusia, dan hollow. kita semua tahu kalau shinigami, manusia, dan hollow harus dalam jumlah yang proporsional. Lagipula, kalau hollow musnah, shinigami tidak punya kerjaan yang menantang, 'kan?" tambah Nel jenaka. Ia menghela napas, kali ini sikapnya agak serius. "Tia-chan sendiri juga tidak suka pada pendukung Aizen, kalian tahu. Mereka diusir dari Las Noches, tapi malah bertingkah…"


"Jadi Harribel sendiri juga sebenarnya benci pada mereka?" tanya Renji, di sambut anggukan Nel. "Dan dia mengirimmu dan dia kemari untuk membereskannya?"


"Yep. Tia-chan perlu membereskan kekacauan yang ditimbulkan mereka di Hueco Mundo juga."


"Bagaimana dia bisa kembali?" tanya Ishida serius, menatap Nel sementara para penyihir tampak bingung. "Dia harusnya sudah…"


"Nah, itu juga mengejutkan," kata Nel tenang. "Kami semua juga tahu dia sudah menghilang. Reiatsunya lenyap sama sekali. Tapi dia muncul sekitar sepuluh bulan yang lalu di depan gerbang Las Noches. Hidup. Reiatsu yang masih sama besarnya dengan dulu. Dan tampang datar yang sama. Kami hanya bisa memperkirakan kalau dia kembali karena Hougyoku juga kembali."


"Kalau begitu ada yang lain juga?" tanya Renji.


Neliel menggeleng. "Aku sudah berkeliling Hueco Mundo selama ini, melacak jika ada mantan Espada atau fraccion-nya yang juga kembali setelah kedatangan Ulqui. Bahkan aku juga datang ke Dunia Manusia. Tapi, aku tak temukan siapapun lagi. Grimmy kembali karena saat Nnoitra 'membunuhnya', dia tidak benar-benar mati. Sekarat, tapi berhasil bertahan seperti Tia-chan. Aku yakin ada alasan tertentu kenapa Ulqui bisa kembali ke Hueco Mundo." Nel tampak berpikir sejenak. "Bahkan sikapnya sedikit berubah belakangan ini... Ada apa dengannya, ya?" Nel memandang Ichigo. "Kau melihat dia menghilang, 'kan?"


"Ya. Lebur jadi abu. Kenapa?"


"Apa dia mengatakan sesuatu sebelum dia menghilang?" tanya Nel lagi.


"Kenapa kau tanya begitu?" tanya Shinji.


"Mungkin saja itu ada hubungannya, 'kan?" Neliel menghela napas. "Hollow itu ada karena mereka memiliki hal yang membuat mereka bertahan dalam wujud itu. Hal yang yang menahan mereka dalam kegelapan."


"Nah... aku rasa dia mengatakan sesuatu... tapi waktu itu Inoue yang paling dekat dengannya sebelum dia lenyap..."


"Hime-chan?" Nel tampak berpikir-pikir. "Nah, aku baru dengar tentang bagian itu... Mungkin nanti kutanyakan saja... Yang jelas," Nel kembali ke pembicaraan, "kami merasa cukup yakin bahwa kehadiran Hougyoku membuat Ulqui kembali."


"Kekuatan Hougyoku itu masih saja sebegitu hebatnya," kata Shinji. "Apa itu sebabnya kau juga kembali ke wujud aslimu?" Shinji mengangkat sebelah alisnya untuk menatap si Arrancar wanita itu.


"Kurasa begitu," kata Nel tenang. "Akhirnya aku bisa kembali ke wujud asliku. Untuk untuk misi ini, tubuh anak-anak menyulitkan pergerakanku soalnya."


"Dari banyak makhluk yang ada, kenapa harus dia yang kembali?!" gerutu Ichigo gusar, masih jengkel atas kehadiran Grimmjow Jeagerjaques.. "Kayak Kenpachi masih kurang saja…."


"Kau hanya harus bunuh dia sekali lagi kalau begitu."


Ichigo menoleh. Mantan Quatro Espada itu berdiri di ambang pintu. Mata hijau emeraldnya masih sama hampanya dengan yang mereka, para shinigami kenal.


"Oh? Sudah selesai?" tanya Nel.


"Grimmjow bereskan mereka. Kau tahu dia senang bermain-main dengan makanannya. Menjijikkan," kata Ulquiorra datar.


"Aku tidak membunuhnya," kata Ichigo, menyipit. "Dia diurusi si Nomor 5. Tapi tetap saja, kalau dia tahu di mana aku, dia pasti akan mencariku. Persis seperti Kenpachi."


"Pertarungan dua kubu Arrancar?" celetuk Ikkaku, kembali ke persoalan. "Menarik sekali. Dan kau setuju dengannya juga? Kalian tidak sampai berebut posisi?"


Semua shinigami tahu kalau Neliel Tu Oddersvank dan Tia Harribel menempati rangking yang sama sebagai Espada, dulu.


Neliel menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak ada Espada lagi di dunia ini. Nomor Espada juga sudah hilang dari kami. Lagipula Tia-chan mengurus Hueco Mundo lebih baik dari siapapun, bahkan daripada si Barragan. Dia sebenarnya menawariku menjadi pemimpin, tapi aku rasa dia lebih cocok menjadi ratu di Hueco Mundo. Aku sedang menikmati kebebasanku. Lagipula kalau aku jadi ratu, bagaimana aku bisa ketemu Itsygo, Ori-chan, dan yang lain?"


"Dan kami tak menemukan atau berpikir tentang dua kubu Arrancar yang bertentangan seperti itu," kata Shinji. "Waktu aku ke Hueco Mundo tidak ada hal yang aneh di sana. Kurotsuchi juga bilang begitu."


Nel tersenyum tipis. "Tia berpendapat urusan hollow bukanlah urusan shinigami." Nel menghela napas. "Tapi kita ternyata hadapi masalah yang sama, hm? Kita tak tahu kalau ternyata masalah ini menghubungkan Arrancar dan shinigami."


"Dan masih ada beberapa dari mereka yang berkeliaran di luar sana," dengus Ikkaku.


"Paling tidak kita akan punya kegiatan baru: berburu Arrancar pemberontak," kata Kensei.


"Lebih cepat kita bereskan mereka lebih baik," kata Byakuya.


"Aku akan meminta izin dari Komandan Tertinggi, kalau begitu," kata Soi Fon, berdiri. "Aku akan kirim Pasukan Khusus Onmitsukido-ku untuk memburu mereka."


"Kalau begitu aku juga harus kembali ke Hueco Mundo," kata Nel. "Aku harus mengatakan ke Tia-chan kalau shinigami yang ambil alih di sini. Tapi Ulqui-kun dan Grimmy-kun akan tinggal-"


"Kenapa dia harus tinggal?" protes Ichigo. "Tendang dia bersamamu kembali ke Hueco Mundo!"


"Dia mau tinggal, jadi kubiarkan saja," kata Nel kalem. Ia menatap Ulquiorra. "Awasi Grimmy, ya. Dan kalau ada yang menyusup kamari kau boleh memburunya. Kalau ada info baru aku akan datang lagi. Bye, Itsygo~"


Nel melesat pergi dengan sonido-nya. Ichigo memandang tempat tadinya perempuan Arrancar itu berada beberapa detik yang lalu dengan ekspresi bengong.


"Kenapa?" tanya Renji.


"Bukannya aku mengeluh, tapi tadi dia sama sekali tidak melakukan pelukan mautnya; yang terakhir aku hampir patah leher…Ah, biarlah. Ngomong-ngomong, mana Harry?"


"Dia dengan Kepala Sekolah," kata Sirius muram. "Tampaknya Dumbledore akhirnya memberitahukan semuanya."


"Dan Neville?"


"Dia di Menara Gryffindor," kata Luna. Nada melamunnya yang tak biasa itu jelas membuat beberapa shinigami memandangnya dengan heran, bahkan Ulquiorra menatapnya, mungkin meragukan kewarasannya. "Setelah Madam Pomfrey memperbaiki hidungnya yang patah dia langsung ke sana tanpa bilang apa-apa. Kuharap Nargle tidak akan mendatanginya. Dia sudah cukup bingung tanpa diganggu mereka."


Bahkan beberapa penyihir harus bertukar pandang dan menahan keinginan untuk tidak memutar bola mata mereka. Para shinigami, tentu saja tidak begitu mengerti.


"Jangan tanya," kata Ichigo pelan, pada Rukia yang hampir membuka mulut untuk menanyakan apa itu Nargle pada si gadis Ravenclaw. "Luna punya, eh, pandangan yang sedikit berbeda dengan orang lain, bahkan untuk ukuran penyihir. Tapi," Ichigo memandang Rukia lagi, "aku juga tidak lihat Momo dan Rangiku-san…"


"Paling baik jika menjauhkan mereka untuk sementara dari Hitsugaya," kata Shinji muram. "Agak jahat, sih, tapi mau bagaimana lagi…"


"Mereka harusnya mengerti bahwa ini adalah salah satu risiko besar menjadi shinigami," kata Soi Fon dingin. "Sebagai komandan."


"Ara, Soi-chan, jangan kaku begitu," kata Yoruichi segera. "Maklumi saja; Rangiku kehilangan Ichimaru dan Momo-chan dikhianati Aizen. Mereka tak akan bisa bertahan tanpa Hitsu-chan."


"Maka mereka juga harus tahu untuk tidak bergantung pada Komandan Hitsugaya," kata Soi Fon lagi. Ia masih tak habis pikir bagaimana dua letnan itu begitu sentimental, padahal mereka adalah shinigami. Shinigami harusnya bisa mengesampingkan emosi pribadi bukan?


"Ck, tidak persis begitu, Soi Fon," kata Shinji. "Hitsugaya melakukan apa yang seorang teman lakukan. Dia membuat Rangiku dan Momo bisa bergerak lagi. Sungguh di luar dugaan kalau orang sedingin dia bisa melakukan hal seperti itu, apalagi menyangkut dua orang yang paling dibencinya, yang membuat Rangiku dan Momo menderita."


"Kalian shinigami masih saja memiliki sifat manusia," komentar Ulquiorra datar. "Tak peduli kalian pejuang, kalian masih menyimpan naluri manusia."


"Itu yang membuat kami berbeda dari hollow," kata Byakuya dingin.


"Ya. Walaupun kalian menyembunyikannya. Seperti yang kau lakukan, Komandan Divisi 6."


"Nah, nah," sela Yoruichi, berdiri di antara dua pria itu, menyadari bahaya yang bisa jadi terjadi, "kalian berdua, Para Tuan Berdarah Dingin, hentikan itu. Ini bukan waktu yang tepat memperdebatkan tentang perbedaan shinigami dan hollow."


Sementara itu, di Kantor Kepala Sekolah, Albus Dumbledore memberitahukan tentang ramalan itu pada Harry. Pada saat yang sama, Sirius juga menjelaskan pada anak-anak penyihir dan shinigami lebih jelas apa yang terjadi.


"Jadi," kata Hermione, tampak masih tidak percaya, "Profesor Trelawney yang membuat ramalan itu?"


"Ya," sahut Sirius pendek.


"Tapi," kata Ron bingung, "Trelawney tak pernah membuat ramalan! Semuanya tentang membaca daun teh… membaca isi-perut-burung… garis tangan… bola kristal itu semua omong kosong! Dia bahkan meramalkan kematian Harry setiap minggu!"


"Kita setuju kalau itu hanya dramatisasi, Ron," gerutu Hermione.


"Yeah, dikatakan oleh orang yang menendang pintu kelasnya dan bilang tidak ikut lagi, kita tahu itu pelajaran tak berguna," gerutu Ron.


"Tapi sepertinya Dumbledore tahu bahwa ramalan yang satu itu memang benar," kata Lupin serius. "Itulah sebabnya Kepala Sekolah tak membiarkan Sybill pergi setelah dipecat Umbridge."


"Tapi bagaimana ramalan itu bisa berarti si Potter ini?" tanya Uryuu. "Dari yang kau katakan tadi, ramalan itu merujuk pada anak yang lahir di akhir bulan Juli."


Sirius menghela napas. "Kau benar, ramalan itu bisa berarti siapa saja. Dan saat itu, ada dua anak yang bisa dibilang menjadi petunjuk siapa yang di maksud dalam ramalan itu. ini membuat ramalannya sempat beberapa kali diganti ulang, sebelum jelas pada penyerangan keluarga Potter."


"Hah?" Renji mengerjap bingung. "Kalau satunya si Harry ini, lalu satunya lagi siapa?"


"Neville Longbottom," kata Mr Weasley. Jelas ini membuat beberapa terutama Ichigo, cukup kaget. "Ya. Neville lahir di hari yang sama dengan Harry."


"Dan bagaimana itu berarti Harry, bukannya si Neville ini?" desak Rukia.


"Agak rumit juga sebetulnya," kata Sirius. "Kedua orang tua mereka sama-sama Auror yang menentang Voldemort, mereka juga nyaris terbunuh tiga kali di tangan Voldemort sendiri."


"Kalau begitu mungkin saja itu bukan Harry?" ujar Ichigo.


"Ingat kata-kata berikutnya… 'Pangeran kegelapan akan menandainya sebagai tandingannya'…"


"Bekas luka itu…" ujar Ichigo perlahan. Sirius mengangguk kaku.


"Voldemort sendiri yang memutuskan siapa yang akan menjadi tandingannya di masa depan. Bukan Neville, tapi Harry."


"Tapi kenapa?" tanya Renji.


"Karena Harry adalah penyihir berdarah campuran," kata Mr Weasley. Semua mata terarah padanya. "Dumbledore bilang itulah alasan kenapa dia memilih Harry, karena Harry sama dengannya, dalam hal Status Darah."


"Si Voldy ini sebenarnya juga berdarah campuran?" tanya Ikkaku.

__ADS_1


"Benar. Voldemort mendapatkan darah sihir dari pihak ibunya dan darah Muggle dari pihak ayahnya. Tapi Harry adalah sebaliknya; ibunya penyihir kelahiran Muggle dan ayahnya darah murni. Berbeda dengan Neville yang memang penyihir berdarah murni. Bagi Voldemort, penyihir berdarah murni adalah sesuatu yang berharga dan layak dikenal. Tapi dia melihat Harry seperti dirinya; campuran dan berbahaya, walau dalam hal ini berbahaya untuk dirinya. Karena itu dia berusaha membunuh Harry empat belas tahun lalu, yang berakhir dengan kegagalannya," jelas Sirius.


"Dan anda tak memberitahukan pada saya hal seperti ini sejak awal?" kata Harry hampa, menatap mata biru Dumbledore. "Jika saya sudah tahu apa yang terjadi, saya tidak perlu mengorek berita di tempat sampah, dan saya punya alasan yang lebih kuat untuk belajar Occlumency!"


"Maafkan aku Harry," kata Dumbledore pelan. "Aku tahu aku harusnya melakukan itu. tapi aku terus menerus dihantui kecemasan bahwa kau tak akan sanggup menerimanya. Ketakutan orangtua," Dumbledore mendesah muram. "Aku tak memberimu kesempatan untuk belajar, aku terlalu cemas dengan kecemasanku. Aku cemas kau belum siap menerima semuanya. Mr Hitsugaya benar…"


"A-apa?" perhatian Harry teralih. "Apa hubungannya Toushiro dengan hal ini?"


"Mr Hitsugaya ada di sini untuk menjagamu, Harry, dan sekolah ini, begitu juga dengan Mr Kurosaki, Mr Urahara, dan Miss Shihouin. Tentu saja mereka tahu apa yang terjadi, tak seperti aku yang merahasiakan ini darimu. Mr Hitsugaya terus menyarankanku untuk memberitahumu segalanya, tapi aku bersikeras untuk menunggu. Dia selalu memberiku alasan bagus, bahwa jika kau mengetahui tentang ramalan, entah kau percaya atau tidak, kau tahu bahwa kau harus tetap berlatih dan menjadi lebih kuat…"


Jadi, Harry berkata dalam hati dengan sangat menyesal, Toushiro selama ini berusaha membantunya… Tanpa ia tahu Komandan Divisi 10 itu memperjuangkan haknya untuk mengetahui kebenarannya… Dan banyak di waktu-waktu Harry adalah bersikap apatis padanya, menganggapnya tak lebih dari penjaga yang dikamuflase menjadi teman.


…bahwa jika kau mengetahui tentang ramalan, entah kau percaya atau tidak, kau tahu bahwa kau harus tetap berlatih dan menjadi lebih kuat…


Tidakkah itu berarti bahwa Toushiro percaya padanya, bahwa jika Harry diberi kesempatan ia akan bisa lebih kuat?


"Hah, semuanya hanya karena ramalan," kata Shinji, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Si bocah Potter itu dan Hitsugaya. Karena ramalan, hidup mereka jadi sedikit kacau."


"Toushiro juga?" celetuk Ron. Para shinigami bertukar pandang, seakan mempertimbangkan jawabannya.


"Well, kurang lebih…" kata Yoruichi.


"Maksudnya?" tanya Tonks.


"Tidak bisa disebut ramalan sebetulnya," kata Isshin. "Lebih tepat disebut dengan legenda. Legenda kuno Soul Society, tentang pejuang roh hebat yang hidup beribu-ribu tahun yang lalu. Dikatakan bahwa dia adalah shinigami yang menjaga keseimbangan Dunia Roh dan Dunia Manusia, bersama dengan Soul King itu sendiri. Tak ada yang tahu nama aslinya, tapi dia dikenal dengan Heavenly Guardian – Penjaga Surga. Pada akhirnya, dia membuat dirinya menghilang, menjadikan dirinya sendiri sebagai partikel roh yang menaungi Soul Society."


"Walaupun diceritakan bahwa dia sudah mati, esensi jiwa Penjaga Surga itu akan bereinkarnasi, terus berputar selama berabad-abad. Dan kali ini," Yoruichi menghela napas, "semua ciri menunjukkan bahwa Hitsugaya-kun adalah reinkarnasinya."


"Apa?" Ichigo memandang teman-teman shinigami-nya, sama bingungnya dengan para penyihir. Tentu saja Ichigo tidak tahu tentang hal ini. Ia hidup di Dunia Manusia dan dibesarkan jauh dari Soul Society dan segala isinya. Tak hanya dirinya, Ulquiorra juga memperhatikan, tanda bahwa ini adalah hal baru baginya. "Apa yang-? Ciri apa-?"


"Tentu saja kau tidak tahu, Ichigo," kata Yoruichi, menggelengkan kepalanya. "Bahkan mungkin Hitsu-chan juga tidak tahu…"


"Dia tahu," kata Kira pelan, membuat pandangan terarah pada Letnan Divisi 3 itu. "Komandan Hitsugaya tahu tentang itu."


"Lagipula apa yang bisa diharapkan dari bocah jenius macam dia," gerutu Shinji.


"Dari mana dia tahu, ya?" ujar Yumichika. "Buku?"


"Mungkin saja," kata Kira. "Tapi dia juga tahu ketika Komandan Hitsugaya duel dengan… I-Ichimaru Gin," kata Kira ragu. "Dia mengatakan kalau dengan kemampuannya itu, tak salah lagi dia adalah reinkarnasi Penjaga Surga… Tapi Komandan Hitsugaya sedang marah besar waktu itu, aku tak tahu apa dia menanggapinya serius atau tidak."


"Yang bisa kuduga, dia bertambah benci pada Gin Ichimaru," komentar Kensei. "Orang itu membuat dirinya gampang dibenci. Menyampaikan hal seperti itu di tengah duel, pastilah Hitsugaya tidak percaya padanya." Kensei menatap Ulquiorra. "Apa Gin memang memberi tahu ini pada Aizen? Dan juga semua Arrancar-nya"


Ulquiorra mengangguk. "Saat dia memberitahukan pada kami tentang Gotei 13. Dia memberitahukan informasi untuk kalian, dengan perintah 'bunuh jika bertemu', terutama untuk para komandan."


Kendati hampir semua penyihir bergidik mendengar hal itu, para shinigami tetap tenang.


"Mengingat sifat Toushiro, dia tidak percaya pada legenda itu," kata Isshin. "Dia pastilah tahu tentang ciri-cirinya; rambut putih dan warna matanya, juga kemampuannya itu…"


"Kemampuan? Apa maksudnya mengendalikan Hyourinmaru?" tanya Ichigo.


"Teknik paling dasar sekaligus terkuat yang dimiliki Komandan Hitsugaya," kata Byakuya datar, "adalah Tensho Juurin."


"Lalu apa yang-" Ichigo membelalak.


"Tensho Juurin; Penguasaan Surga," kata Isshin serius. "Kemampuan dasar sekaligus terkuatnya."


"Tepat sekali," kata Yoruichi. "Memang belum sempurna, mengingat Hitsu-chan masih begitu muda. Beberapa abad lagi, aku yakin dia akan jadi salah satu shinigami terhebat di Soul Society. Akan. Jika Centra 46 tidak memutuskan eksekusi mati untuknya."


"Kenapa harus sampai melakukan eksekusi?" tanya Mrs Weasley ngeri.


"Hal terburuk yang mungkin adalah, Hougyoku membuat shinigami memiliki potensi kekuatan hollow," kata Byakuya, masih tanpa emosi. Tentu saja, sekali lagi, informasi ini membuat para penyihir sangat terkejut. "Salah satu hukum Soul Society menegaskan bahwa shinigami dilarang memiliki kekuatan hollow. jika itu sampai terjadi, hukumannya diasingkan, atau mati. Posisi Komandan Hitsugaya tidak menguntungkan, karena Hougyoku tertanam dalam dirinya. Salah satu kemampuan hougyoku, yang paling hebat sekaligus paling berbahaya, adalah kemungkinan membuat pemiliknya abadi."


"Jika itu keinginan di hati Toushiro," kata Isshin pelan.


"Seperti Aizen," dengus Shinji. "Dan Kurotsuchi akan senang sekali punya alasan baru untuk menjadikan Hitsugaya sebagai kelinci percobaan."


"Mereka tidak akan lakukan itu," kata Ichigo tegas.


"Kau yakin sekali, ya," cetus Renji.


"Tentu saja," Ichigo mengernyit, membuat kerutan di antara alisnya semakin dalam. "Beri aku penjelasan kenapa aku," ia menunjuk dirinya sendiri, "kau," ia menunjuk Shinji, "dan kau," menunjuk Kensei, "masih hidup sampai detik ini."


"Ah, benar juga," kata Rukia.


"Apa?" Lupin memandang Ichigo dengan bingung, begitu pula para penyihir. Ichigo menggaruk belakang kepalanya.


"Kalian tahu kalau Dumbridge benci makhluk setengah manusia?" kata Ichigo.


"Yeah. Lihat tampangnya waktu melihat Firenze…" celetuk Luna.


"Jangan jadikan dirimu contoh, Ichigo," kata Shinji. "Kau tidak persis setengah manusia. Kau manusia dengan kemampuan shinigami, berdarah Quincy, dan berbagi tempat dengan hollow-mu. Dan jangan lupakan kalau kau pernah jadi fullbringer."


"Apa maksudmu sebenarnya?" tanya Lupin.


"Well, aku tidak sepeuhnya disebut sebagai manusia setengah shinigami, untuk sementara itu saja yang bisa kukatakan," kata Ichigo mengangkat bahu.


Tepat saat itu seekor kupu-kupu neraka melayang masuk dari salah satu jendela yang terbuka. Serangga bersayap hitam dengan sedikit nuansa ungu di bagian ujung sayapnya itu terbang rendah dan hinggap di jari Byakuya. Selama beberapa detik, mereka mengawasinya, yang seakan berkonsentrasi.


"Komandan Tertinggi akan datang," kata Byakuya datar, "bersama perwakilan dari Centra 46. Mereka bermaksud memastikan keadaan Komandan Hitsugaya."


"Terjemahan, memutuskan vonis hukuman," kata Shinji pelan.


"Berharap saja Centra 46 yang baru itu tidak seburuk seratus tahun yang lalu," kata Yoruichi. Wanita itu memandang tirai yang membatasi mereka semua dari sang pesakitan. "Dan berharap dia bisa bertahan."


"Dia bisa," kata Shinji, mengikuti arah pandangan Yoruichi. "Bocah itu bisa lebih kuat dari yang pernah diharapkan orang lain. Kurasa aku harus cari Momo sekarang, dan mungkin Rangiku. Aku agak cemas kalau Ran menemukan anggur entah bagaimana."


"Ini sekolah, bukan bar," kata Soi Fon, walau kedengaran agak tidak yakin.


"Ah! Benar juga!" seru Ichigo. "Kalau dia temukan dapur dan peri rumah, mereka akan berikan apa saja yang dia minta! Apa… kalau Rangiku-san minum bisa… gawat?" tambah Ichigo, agak panik.


"Lumayan," kata Kira. "Biasanya hanya Komandan Hitsugaya yang bisa menanganinya. Tapi…"


"Oke. Lebih baik dicegah saja. Dobby!" Ichigo mengucapkan nama itu sedikit agak keras. Dan detik berikutnya terdengar suara keras seperti lecutan cemeti. Sesosok makhluk ganjil – bagi para shinigami, tentu – muncul begitu saja di tengah ruangan. Yumichika berjengit kecil melihat penampilan peri rumah itu, terutama pada topi-topi wol yang ditumpuk tinggi di kepalanya, dan bahkan mata Ulquiorra menyipit memandangnya. Mata besar si peri rumah melebar penuh ingin tahu ke arah para shinigami, sebelum tertuju pada Ichigo dan membungkuk rendah sekali sampai nyaris menempelkan hidungnya yang mancung ke lantai.


"Geez, Dobby, sudah kubilang jangan membungkuk begi- astaga! Jangan pukul dirimu sendiri!" kata Ichigo, melihat tinju si peri terangkat.


"Maaf, Mr Ichigo, sir, Dobby hanya…"


Ichigo melambaikan tangannya dengan malas. "Sudahlah, sudahlah. Oh, aku mau minta bantuan darimu, kalau kau tidak keberatan."


"Sama sekali tidak, sir," kata Dobby antusias, "Dobby akan lakukan apa saja untuk teman Harry Potter, walaupun dia adalah Dewa Kematian!"


"Nah, nah, aku ingin tahu, apakah… ada perempuan, shinigami juga, cantik… dan rambutnya strawberry blonde datang ke dapur?"


"Ya, sir, ya," sahut Dobby segera. "Wanita malang… dia menangis sejak dia tiba…" Telinga Dobby yang seperti kelelawar tampak turun, dan suara Dobby terdengar muram, "Dia mengatakan sesuatu tentang Mr Toushiro. Apa dia baik-baik saja? Para peri rumah tahu tentang pertempuran di depan Hogwarts, sir."


"Aku juga berharap Toushiro baik-baik saja… Tapi, tentang perempuan ini, apa dia meminta sesuatu dari kalian, sesuatu seperti minuman alkohol?"


"Ya, sir, dia sudah habiskan satu botol anggur."


"Ah, ini gawat," celetuk Ikkaku.


"Aku minta tolong, Dobby, aku tahu akau tidak seharusnya memberimu perintah, tapi tolong, apapun yang terjadi, jangan berikan lagi minuman keras ke dia, apapun jenisnya, apapun alasannya. Katakan ini…" Ichigo mengerling ke ayahnya, "katakan ini perintah ayahku, dia akan dengar."


"Kok aku?" Isshin mengangkat alis.


Tapi Ichigo mengabaikannya. "Bisa, Dobby?"


"Tentu saja, Ichigo, sir!" kata Dobby. Dobby memberi bungkukan rendah lagi, sebelum menghilang dengan bunyi seperti lecutan cemeti


"Apa… itu tadi?" tanya Renji, menatap Ichigo dengan sangat heran.


"Itu Dobby, si peri rumah," kata Ginny. "Ada ratusan seperti dia di kastil ini. Tugas mereka memelihara kastil dan semua penghuninya."


"Dan sepertinya dia cukup respek padamu," kata Rukia.


"Dia hormat hampir pada semua orang," kata Ichigo, mengangkat bahu. "Mereka teman yang menyenangkan sebetulnya, para peri rumah itu. bahkan Toushiro menyukai mereka." Ichigo menghela napas, menatap tirai di sudut ruangan.


'Kau harus bertahan. Kami bisa membantumu bertahan hanya jika kau juga bertahan.'

__ADS_1


__ADS_2