Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 31


__ADS_3

Pada malam harinya, anak-anak kelas lima ujian praktek Astronomi. Harry lega ini ujian praktek yang terakhir. Hanya disuruh membuat peta bintang, jelas tak akan sesulit ujian praktek sore tadi yang masih menyisakan beberapa memar dan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Rasanya agak tidak sabar segera menyelesaikan ujian ini dan tidur… Oh, tidak. Masih ada ujian tertulis Sejarah Sihir besok pagi. Mana bisa tidur nyenyak kalau begitu…


Namun, sekira satu jam berlalu dalam keseriusan semua anak melengkapi peta bintang masing-masing, Harry melihat ada yang tidak beres di halaman kastil di bawah sana. Ragu-ragu, ia mengarahkan teleskopnya ke bawah alih-alih ke langit. Ia mengenali siluet gemuk pendek itu. Apa gerangan yang dilakukan Dolores Umbridge bersama lima orang lain di jam lewat tengah malam begini?


Sialnya, Harry tidak bisa hanya berfokus pada entah apa yang akan dilakukan guru PTIH itu sementara peta bintangnya belum selesai. Agak enggan, ia kembali mengarahkan teleskopnya ke langit malam, mencari lagi di mana posisi Venus yang tadi teralih dari ingatannya.


Namun, beberapa menit kemudian, perhatiannya teralih lagi ke arah pondok Hagrid tempat Umbridge dan kelompok kecilnya berada. Dan kali ini, bukan hanya dia yang tertarik perhatiannya. Hampir semua anak mengarahkan teleskop mereka ke bawah, dan bukannya ke atas. Harry juga melihat Ichigo dan Toushiro meninggalkan peta bintang mereka untuk melihat apa yang terjadi. Ekspresi keras di wajah dingin Toushiro menandakan bahwa ada sesuatu yang buruk akan, malah sedang terjadi.


Dan saat mendengar raung murka si setengah raksasa yang menggelegar bahkan sampai ke puncak Menara Asrtronomi, Harry langsung dihentak kesadaran, mengetahui apa yang sedang dilakukan Umbridge.


Ia berusaha memecat Hagrid dengan cara kasar. Lima orang yang bersamanya jelas Auror yang didatangkan dari Kementerian Sihir untuk menjatuhkan Hagrid. 'Pemecatan tidak hormat' itu dilakukan di tengah malam agar tidak menimbulkan kegemparan yang sama seperti yang dilakukannya pada Trelawney.


Harry memegang teleskopnya dengan tangan gemetar, ngeri melihat kilatan-kilatan mantra meluncur ke arah Hagrid. Sungguh menakjubkan semua Mantra Bius itu tak berarti untuknya.


Dan kemudian, mereka melihat pintu depan kastil menjeblak terbuka. Sosok jangkung Minerva McGonagall berjalan cepat ke arah kericuhan yang terjadi. Ia tak sendirian. Harry mengenali bentuk topi itu, topi bergaris hijau-putih milik Kisuke Urahara. Pria itu berjalan agak di belakang McGonagall.


"Lancang benar kalian!" teriak McGonagall marah. "Beraninya kalian-!"


Empat dari lima Auror itu berbalik dari Hagrid, mengacungkan tongkat sihir mereka ke arah guru Transfigurasi itu sambil berteriak, "Stupefy!"


"Tidak!" jerit Hermione dan Lavender bersamaan.


Harry langsung dijalari ketakutan yang amat sangat. Namun, empat Mantra Bius itu tak berhasil mencapai McGonagall. Sesosok jangkung lain mendadak sudah ada di depan McGonagall, mengarahkan telapak tangannya seakan menangkis mantra itu.


Sebentuk bidang tak kasat mata terbentuk di depan Kisuke Urahara, menghalangi empat mantra itu, menabraknya dengan bunyi ledakan keras. Harry lega bukan kepalang; ada Urahara di sana.


Sementara itu, di bawah sana, kelima Auror dan Umbridge tercengang, kaget melihat kedatangan Urahara yang tak terduga. Terutama, pada kemampuannya untuk berpindah secepat itu.


"Itu tadi," kata Urahara dingin. McGonagall terkesiap; baru pertama ini didengarnya Urahara bicara dengan nada seperti itu. "tindakan pengecut rendahan, menyerang satu orang dengan empat senjata sekaligus. Sangat tidak bijaksana, tuan-tuan."


"Profesor Urahara," kata Umbridge manis, "ini sama sekali bukan urusan anda. Jika anda bersedia, silakan mundur agar kami bisa menyelesaikan tugas kami."


"Kenapa tidak kita selesaikan dalam damai?" Nada bicara Urahara kembali ke nada santainya, tapi siapapun bisa menyadari peringatan di baliknya. Sayangnya, Umbridge terlalu keras kepala untuk menerima saran orang lain.


"Lebih baik anda tidak ikut campur, Profesor."


"Ara, maafkan saya kalau begitu, karena saya tidak bisa." Urahara tersenyum ganjil. "Apakah anda tahu kalau anda melakukan pelanggaran, Kepala Sekolah?"


"Pelanggaran? Pemecatan Rubeus Hagrid sudah disetujui oleh Pak Menteri…"


"Kalaupun begitu, apa kesalahan Hagrid-san sampai harus pergi dengan cara seperti ini? Saya yakin jika anda memintanya baik-baik, Hagrid-san juga akan pergi dengan sukarela. Kekerasan semacam ini tidak bisa diterima."


"KAU! Kau tahu kau dalam masa percobaan, Urahara!"


"Ah, ya, benar," kata Urahara dalam senyum. "Nah, bagaimana kalau kita selesaikan saja? Hagrid-san, kau bisa pergi sekarang."


"Tapi, Profesor…"


"Kisuke benar, Hagrid, pergilah," kata McGonagall, mencabut tongkat sihirnya. "Kami yang urus ini."


Melihat senyum ramah Urahara dan ekspresi tegas McGonagall, Hagrid sadar, inilah pilihan terbaiknya. Menunduk, ia mengambil Fang yang pingsan karena kena Mantra Bius yang sebelumnya ditembakkan secara liar. Ia lalu berlari pergi ke arah gerbang.


Umbridge menatap Urahara dengan marah. "Tangkap Hagrid!"


Kelima Auror itu beranjak pergi menuju arah yang sama dengan Hagrid. Namun, lagi-lagi Urahara sudah berada di depan mereka.


"Minggir!" gertak salah satu Auror itu.


"Duh," kata Urahara, menurunkan sedikit ujung topinya sehingga wajahnya terhalang bayangan topi bergaris itu. "Aku tidak ingin gunakan kekerasan, lho. Tapi kalau kalian memaksa…"


Harry memandang kejadian di bawah sana dengan takjub, begitu pula anak-anak yang lain. Setelah Hagrid pergi, tampaknya Umbridge menyuruh para Auror mengejar si setengah raksasa. Namun, mereka digagalkan Urahara lagi. Entah apa yang dilakukan guru nyentrik itu, yang jelas ia berhasil menaklukan lima Auror Kementerian Sihir tanpa tongkat sihir. Yang Harry lihat adalah luncuran cepat cahaya keemasan, diakhiri dengan McGonagall yang membawa lima tandu sihiran ke dalam kastil dengan tongkat sihirnya; Umbridge terdiam di tempat sementara Urahara ikut menyusul McGonagal dengan langkah ringan.


Setelahnya, semua anak buru-buru menyelesaikan peta bintang masing-masing – mengingat mereka menghabiskan sepuluh menit sebelumnya untuk menonton kejadian di bawah alih-alih ujian.


"Kira-kira apa gerangan yang dilakukan Urahara pada Auror itu, ya?" tanya Ernie Macmillan saat mereka semua menuruni Menara Astronomi, mendiskusikan kejadian tadi.


"Apa dia melakukan serangan fatal pada mereka?" tanya Hermione cemas.


"Itu cuma kidou pengikat," kata Toushiro kalem. "Tidak terlalu berbahaya. Lagipula Urahara bukan tipe orang yang sebrutal itu."


Tapi ia tetap perlu bicara dengan Kisuke Urahara tentang peristiwa ini.


Ichigo dan Toushiro harus menunggu hingga jam tiga dini hari setelah ruang rekreasi benar-benar kosong, untuk mereka bisa menemui Urahara.


"Aku yakin sekarang Hagrid bergabung dengan Dumbledore-san di gua di gunung dekat Hogsmeade," kata Urahara tenang. "Paling tidak, dia akan tenang dan aman di sana, tanpa Umbridge."


"Dan kau dalam masa percobaan," sela Ichigo.


"Dan kau kira itu akan mempengaruhiku?" seringai Urahara.


"Tidak," kata Ichigo dan Toushiro bersamaan.


"Ya! Sama seperti pertanyaan terakhir, tentang nama siapa yang kalian pilih untuk lewati pintu keluarnya…"


"Salahmu membuat pertanyaan konyol begitu," gerutu Ichigo.


"Tapi aku senang kalian tahu jawabannya, meski meledakkan pintunya memang ada dalam perkiraanku, sih… Nah, aku tahu sekarang kalau kalian tidak akan meninggalkan teman kalian. Pemikiran bagus…"


"'Kan kau yang buat teka-tekinya," gumam Toushiro.


"Nah, nah," kata Urahara, sementara Yoruichi menggeliat dengan tubuh kucingnya sambil menguap lebar – sangat tidak anggun jika dia memakai wujud manusianya dengan titel resminya sebagai seorang putri bangsawan. "Sudah hampir pagi. Aku yakin kalian perlu sedikit mengistirahatkan otak dan fisik barang sebentar sebelum ujian terakhir siang nanti."

__ADS_1


Toushiro tidak punya masalah dengan tidur terlambat dan bangun lebih awal – hasil seringnya dia lembur dan harus datang awal di kantor pada pagi harinya untuk tugas komandan – sehingga ia tak punya alasan untuk begitu capek. Begitu pula Ichigo yang pernah dilatih gila-gilaan oleh para Vizard. Tapi anak-anak lain tidak begitu. Kebanyakan anak kelas lima yang beberapa jam yang lalu mendiskusikan pemecatan Rubeus Hagrid tampak sangat letih. Dengan keterpaksaan yang nyata, sebagian besar anak membuka kembali catatan Sejarah Sihir setinggi satu meter sebagai amunisi ke medan perang terakhir bernama ujian Sejarah Sihir.


Mereka ujian pada pukul dua siang. Harry yang sulit mengenyahkan perginya Hagrid membuatnya sulit tidur di pagi harinya. Ditambah, semua hafalan Sejarah Sihir membuatnya pusing dan capek. Ia sungguh berharap setelah ujian selesai ia bisa tidur yang lama dan menyegarkan.


Begitu ujian dimulai dan kertas ujian dibalik untuk dikerjakan, rasa kantuk Harry semakin menjadi-jadi. Semakin banyak soal yang ia baca, semakin sulit ia memahami apa maksudnya. Konsentrasinya sulit dikendalikan… Dan panas matahari di musim panas siang itu sama sekali tidak membantu. Dengan letih, Harry mengerjap, lalu memandang berkeliling untuk mencari inspirasi. Semua temannya sedang sibuk menuliskan jawaban masing-masing, entah itu benar atau salah. Dilihatnya rambut jingga Ichigo yang cerah begitu mencolok hingga membuat matanya berair. Ia mengalihkan tatapannya ke arah Hermione, yang menunduk menuliskan kalimat untuk jawabannya, iri pada apapun yang dituliskan gadis itu. Tak jauh dari Hermione, Toushiro juga menjawab soal ujiannya dengan lancar, tapi ekspresinya tampak tak senang. Wajahnya yang biasanya pucat tampak agak memerah kali ini, tak salah lagi suhu yang tinggi di ruangan ini mengganggu Toushiro begitu rupa. Rambut putihnya tampak menyilaukan bagi Harry, membuatnya kembali menunduk ke kertas jawabannya yang miskin jawaban.


Harry memejamkan matanya, berusaha mengingat jawaban untuk pertayaan Mugwump Agung Konfederasi Internasional yang pertama adalah Pierre Bonaccord, tetapi pengangkatannya ditentang oleh komunitas sihir Liechtenstein karena… Ia cukup yakin jawabannya ada hubungannya dengan troll, maka dia menuliskan bahwa Bonaccord ingin menghentikan perburuan troll, tapi Liechtenstein punya masalah dengan troll pegunungan… Tapi, Harry merasa jawabannya tak cukup rinci, hanya dua kalimat, padahal ia yakin catatan Hermione tentang hal ini sampai sepuluh halaman…


Ia memaksa otaknya yang lelah untuk berpikir. Di meja pengawas di depan sana, jam pasir yang ada di atasnya menitikkan butiran pasir dari wadah di atas menuju wadah di bawahnya…


Begitu ia membuka mata, ia tak lagi berada di Aula Besar yang panas, melainkan koridor gelap dan sejuk menuju Departemen Misteri di Kementerian Sihir. Ia berjalan cepat, nyaris berlari dan masuk ke ruangan bundar dengan banyak pintu. Ia memilih pintu kedua dari dari kanannya, tahu ia memilih pintu yang tepat. Dan kemudian, ia berjalan hingga tiba di ruangan sebesar katedral yang dipenuhi rak berisi bola-bola kaca keemasan. Ia berjalan secepat yang dia bisa… jantungnya berdegup kencang… dan ia tiba di rak nomor 97, lalu berbalik ke kiri dan berjalan menyusuri lorong di antara dua rak…


Ada sosok hitam bergerak di lantai di ujung lorong, bergerak seperti hewan terluka…


Dan kemudian, Harry bicara, dengan suara tinggi melengking tanpa belas kasihan… "Ambilkan untukku… turunkan sekarang… Aku tak bisa menyentuhnya, tapi kau bisa…"


Sosok hitam itu hanya meringkuk di sana. Dan Harry, dengan tangan pucatnya yang seperti cakar mengambil tongkat sihirnya, dan menggunakan Crucio untuk menyiksanya… Itu sesuatu yang pantas untuk sosok itu… tak peduli walaupun laki-laki yang menggeliat itu menjerit kesakitn.


"Lord Voldemort menunggu…"


Laki-laki itu mengerang pelan, lalu mengangkat wajahnya yang tirus dan bersimbah darah. Meskipun demikian, pria itu tak menunjukkan kegentaran di matanya yang cekung


"Bunuh saja aku," bisik Sirius Black.


"Pasti, jika ini sudah selesai," kata suara dingin Lord Voldemort. "Tapi kau harus mengambilkannya lebih dulu untukku, Black… Kau kira kau sudah cukup merasakan kesakitan? Tidak… Dan kita masih punya waktu sampai beberapa jam, dan di sini tak akan ada yang mendengarmu…"


Begitu Harry terbangun, ia baru meyadari kalau ia menjerit, dengan bekas lukanya yang serasa terbakar. Sementara itu, kehebohan besar terjadi di Aula Besar.


Ichigo berdiri dari tempat duduknya, seperti sebagian besar anak kelas lima di sekitarnya, mengawasi Profesor Tofty yang membawa Harry keluar Aula. Seorang pengawas lain berusaha menenangkan anak-anak yang kasak-kusuk dan bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi pada Harry. Ichigo lalu menoleh ke arah Toushiro, yang wajahnya tampak serius. Matanya yang tajam mengirim pesan non-verbal yang sangat jelas, selesaikan ujiannya dan kita diskusikan ini setelahnya.


Maka, memaksa diri untuk duduk, Ichigo menyambar pena bulunya dan mulai menulis lagi. Konsentrasinya sekarang terbagi. Ia tahu betul apa yang terjadi pada Harry berhubungan dengan Voldemort. Ia mendapat firasat buruk, bahwa apa yang terjadi pada Harry bukan tindakan agresif yang biasanya jika ia mendapat penglihatan tentang Voldemort. Kali ini, bisa dibilang adalah reaksi terparah setelah mendapat penglihatan tentang penyerangan Mr Wesley.


Dan ia yakin Toushiro juga berpikir begitu.


Tapi sepuluh menit kemudian, setelah bel berbunyi tanda ujian telah usai, kedua shinigami itu tak menemukan Harry di Aula Depan.


"Dia ada di rumah sakit," kata Toushiro, tak salah lagi setelah melakukan pelacakan reiatsu. "Dan sepertinya Granger dan Weasley juga ke sana."


"Kita?" tanya Ichigo.


"Kupikir…"


"Mr Kurosaki, Mr Hitsugaya."


Holy shit.


Kedua siswa transfer itu menoleh. Dolores Umbridge berdiri di belakang mereka dengan senyum kodoknya yang biasa.


Harry menceritakan penglihatannya pada Ron dan Hermione semua yang diingatnya. Sekuat tenaga, ia juga menahan rasa panas yang menyakitkan di bekas luka di dahinya.


"Bagaimana kita bisa ke sana?" tanyanya dengan suara gemetar, seperti lututnya yang juga gemetar, ngeri untuk membayangkan apa yang terjadi pada Sirius.


Sejenak sunyi di antara mereka bertiga. Kemudian Ron berkata, "K-ke sana?"


"Ke Departemen Misteri, menyelamatkan Sirius!" kata Harry keras.


"Tapi – Harry…" ujar Ron ragu.


"Apa? Apa?" tanya Harry tak sabar. Tak mengertikah mereka kalau ini sangat penting?!


"Harry," kata Hermione takut-takut, "eh… bagaimana… bagaimana Voldemort masuk ke Kementerian Sihir tanpa ada yang sadar dia di sana?"


Dan, di sinilah mereka, di ruang kelas tak terpakai, berdebat tentang benar-tidaknya penglihatan yang dilihat Harry. Hermione bersikeras bahwa sangat mustahil baik Voldemort maupun Sirius ada di Kementerian Sihir sore itu, di tempat di mana Auror seluruh negeri menempati bangunan itu sebagai markas besarnya tanpa terdeteksi. Tapi Harry tak peduli, penglihatan itu sangat nyata baginya, dan Ron juga mendukung apa yang dilihatnya. Dan Harry jengkel bukan main saat Hermione malah menuduhnya memiliki kecenderungan-untuk-menyelamatkan-orang!


"Apa maksudnya itu?" geram Harry gusar. Kemarahan menggelegak di dalam benaknya.


"Maksudku, kau baik hati melakukannya," kata Hermione buru-buru. "Semua orang menganggap itu luar biasa…"


"Dan kau menganggapnya aku sok jadi pahlawan? Ini bukan pertama kalinya kudengar…"


"Tidak, tidak, tidak," sergah Hermione ketakutan. "Bukan itu maksudku!"


Tapi Harry merasa kesabarannya sudah jauh menipis. Hermione terus memberi alasan untuk mengabaikan penglihatannya itu…


"KALAU KAU MENGIRA AKU HARUS PURA-PURA TIDAK MELIHAT…"


"Kau seharusnya menutup pikiranmu! Itu juga yang diinginkan Sirius!"


"BICARANYA AKAN BEDA JIKA DIA TAHU AP-"


Pintu kelas terbuka, dan segera Golden Trio menoleh. Ginny dan Luna memasuki ruangan dengan tampang penasaran.


Uh-oh.


"Jadi begitu."


Umbridge menampilkan senyum kodok penuh pengertian yang jelas dianggapnya sebagai senyum keibuan. Ia mendiskusikan kembalinya Ichigo dan Toushiro ke Shinou di kantor Urahara sore itu. Tampaknya improvisasi tambahan dari Kisuke Urahara cukup meyakinkan bagi Umbridge, melihat bagaimana penyihir itu tak banyak melempar tatapan penuh curiga. Meskipun demikian, ketiga – empat, jika menghitung Yoruichi yang masih dalam wujud kucing – tahu kalau Umbridge menyimpan kepuasan samar akan prospek perginya mereka dari Hogwarts. pastilah Umbridge menyimpan ketidaknyamanan atas kehadiran mereka yang dianggapnya mengganggu stabilitas teritorinya di Hogwarts.


"Aku akan mengirimkan berkas kepindahan kalian ke Kementerian setelah ini. Dan, karena ujian sudah selesai, tentunya transkrip nilai ujian dan pelajaran juga akan segera disiapkan untuk administrasi kalian berdua kembali ke Shinou," kata Umbridge manis. "Sayang sekali kalian tak menghabiskan sisa pendidikan kalian di Hogwarts, mengingat prestasi kalian yang membuatku cukup terkesan."


Ichigo membuat gerakan ingin muntah, tapi dalam imajinasinya.

__ADS_1


'Basa-basi yang tidak penting,' komentar Ichigo dalam hati, jengkel bukan main. Ia sudah sangat tidak sabar melihat Umbridge angkat kaki dari kantor Urahara.


"Memang cukup disayangkan," kata Urahara, tersenyum. "Tapi aku yakin mereka memerlukan sertifikat kelulusan Shinou untuk mendukung masa depan mereka. Meskipun demikian, aku juga yakin apa yang mereka dapat di Hogwarts sangat membantu menambah pengalaman mereka."


'Yeah, pengalaman untuk tidak melibatkan diri pada orang-orang macam Umbridge,' kata Ichigo dan Toushiro kompak, dalam hati.


"Nah, aku…"


Ucapan Umbridge terpotong saat terdengar ketukan di pintu kantor Urahara.


"Masuk," kata Urahara ceria.


Ternyata itu Filch. Wajahnya yang keriput menampakkan kepuasan yang tak dapat disembunyikan.


"Permisi, Profesor Urahara, saya mencari Profesor Umbridge," kata Filch terengah. Urahara hanya mengedik dengan senyumnya yang biasa. "Kepala Sekolah! Anda harus lihat ini…"


"Ada apa, Argus?"


"Harry Potter dan teman-temannya, Ma'am, mereka menyelinap ke kantor anda…"


Ichigo dan Toushiro bertukar pandang.


"Kurasa kita akan bicara lagi nanti," kata Umbridge. Ia tampak bergairah mendengar kabar ini. "Aku akan mengurus pelanggaran ini lebih dulu. Selamat sore."


Dan Umbridge segera keluar dari kantor itu, disusul Argus Filch yang terpincang-pincang di belakangnya.


"Astaga," kata Urahara, menurunkan topi bergarisnya dengan ekspresi geli. "Sepertinya Harry Potter tahu sekali cara melibatkan diri dalam masalah."


"Lebih dari yang kau tahu," tambah Toushiro, agak kesal.


"Jadi," kata Ichigo, memandang rekan-rekannya, "apa yang kita lakukan sekarang?"


"Kita tak bisa mencapai Harry jika dia ada dengan Umbridge," kata Yoruichi. "Apa ini ada hubungannya dengan kejadian di Aula waktu ujian siang tadi?"


"Aku yakin begitu," kata Toushiro serius. "Kudengar dia menyebut nama Sirius… sepertinya penglihatannya itu ada hubungannya dengan Black."


"Kalau begitu kita juga harus bergerak," desak Ichigo. "Kita ambil Harry lebih dulu?"


"Tidak sekarang. Umbridge bersamanya," kata Toushiro. "Begini. Kita kontak Black di Grimmauld Place untuk pastikan apa dia ada di sana. Dan kita juga harus hubungi Dumbledore kalau Potter mendapat penglihatan lagi…"


"Biar aku yang pergi," kata Yoruichi segera. "Tapi aku perlu baju dulu…"


"Pergilah kalau begitu," kata Toushiro, dan Yoruichi melesat ke bagian dalam kantor, tak salah lagi untuk bertransformasi menjadi wujud manusianya. "Dan kita beritahu McGonagall…"


Toushiro terhenti mendadak, merasakan Soul Pager-nya bergetar. Segera, Toushiro merogoh saku jubahnya dan mengambil ponselnya. Dilihatnya pesan masuk Divisi 12, dibacanya agar rekannya yang lain tahu apa isi beritanya.


"Arrancar muncul di Kota Karakura dan menyiapkan portal menuju Sekolah Sihir Hogwarts. Mereka akan melakukan penyerangan total di sana…"


"APA?!" seru Ichigo kaget.


Toushiro menatap Ichigo dan Urahara, yang mana yang disebut terakhir memasang tampang seriusnya yang langka.


"Mereka tampaknya memulai agresi mereka," kata Urahara. "Timing yang tepat, atau malah tidak, bagaimana menurutmu?"


"Jangan konyol," desis Toushiro. "Aku senang mereka datang setelah semua selesai, tapi, kenapa di Hogwarts, memangnya ada apa di sini…" Toushiro terhenti mendadak. "Mungkinkah mereka… mengincar sihir?"


"Mereka bergabung dengan Voldy, mereka sudah dapatkan itu, 'kan?" kata Ichigo.


"Maksudku sihir yang ada pada anak-anak penyihir," kata Toushiro. "Begini, para Arrancar itu bekerja sama dengan Voldemort, dan sepertinya mereka menjalankan aksi mereka pada saat yang sama. Langkah pertama Voldemort adalah sesuatu yang ada hubungannya dengan penglihatan Potter itu. Apapun itu, kurasa dia bermaksud memancing Potter datang padanya. Sementara Voldemort mengurus Potter, Arrancar itu datang ke Hogwarts untuk mengurus kita, entah apa tujuan mereka. Mungkin mereka tahu kalau ada shinigami yang berjaga di Hogwarts, setelah mengirim Viendo waktu itu. Voldemort memanfaatkan para Arrancar untuk meloloskan Potter dari penjagaan kita."


"Tidak bisa kita biarkan," kata Ichigo berang. "Dan Arrancar menginginkan sihir? Dari anak-anak itu? Yang benar saja!"


"Ini baru dugaanku," kata Toushiro datar. "Mereka mungkin bermaksud menjadikan anak-anak itu sebagai calon pendukung gerakan Voldemort. Dan…"


"… kita masih belum tahu rencana mereka pada kita, shinigami," sela Urahara.


"Kau benar," kata Toushiro, agak tak sabar.


"Analisamu bisa jadi benar," kata Urahara, menyilangkan tangan di depan dada. Ia menghela napas. "Aku tidak percaya ini… kita tidak punya petunjuk sama sekali apa tujuan sebenarnya para Arrancar itu dan mereka sudah di depan mata…"


"Yang bisa dilakukan hanyalah serangan frontal," kata Ichigo.


"Dan jumlah mereka lebih banyak daripada Winter War," kata Toushiro, melihat ke Soul Pager-nya, lalu menatap dua rekannya, "tapi kekuatan mereka belum bisa dipastikan. Soul Society akan mengirim shinigami tambahan kemari. Aku benci mengatakan Hogwarts akan jadi medan perang."


"Ah, keadaan ini menyulitkan," keluh Urahara. Ia menepukkan tangannya, lalu memasang topinya lagi. "Kita harus bergerak juga kalau begitu. Aku yang akan beritahu McGonagall-san dan Snape-san, lalu menghubungi juga sudah pergi untuk menemui Dumbledore-san. Kau informasikan dan konfirmasikan saja hal-hal yang berhubungan dengan kejadian ini pada Seireitei, Hitsugaya-san. Dan Kurosaki-san…"


"Cari Potter," potong Toushiro tegas.


"Dia 'kan dengan Umbridge," gerutu Ichigo. "Dan dia ada di kastil! Kenapa aku harus cari dia? Dan bagaimana aku dapatkan dia?"


"Tidak lagi," kata Toushiro, yang sedang menghadap ke jendela. Ia melihat tiga sosok yang sangat dikenalnya berjalan ke arah Hutan Terlarang. "Dia dan Granger menuju Hutan dengan Umbridge. Aku tak peduli mau kau apakan Umbridge, bawa saja yang lain kembali ke kastil."


"Kau bicara seakan itu mudah dilakukan…" gerutu Ichigo.


Ini membuatnya menerima deathglare yang akan membuat Byakuya Kuchiki bangga pada Toushiro Hitsugaya.


"Ayolah," keluh Ichigo, "Hutan itu luas, bagaimana aku bisa temukan dia? Dia bisa ada di mana saja!"


"Kau pernah mengalahkan beberapa letnan, beberapa komandan, pimpinan Quincy, dan bahkan kau pernah ke neraka dan bisa keluar dari sana, dan kau minta keringanan dari mencari anak lima belas tahun di hutan beberapa hektar?"


Dan, Ichigo tak punya alasan untuk membantah. Ia jengkel pada Urahara yang terkekeh di latar belakang.

__ADS_1


__ADS_2