Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 2: Menyusun Rencana


__ADS_3

"Seperti yang anda katakan dalam surat anda yang dikirimkan lewat Kisuke Urahara untuk Soul Society, anda membutuhkan beberapa shinigami dalam penyamaran untuk menjga Hogwarts," kata Kyouraku tenang. "Maaf karena saya tak bisa memberi delapan, seperti yang anda minta. Soul Society sendiri masih memperbaiki diri pasca perang itu. Jadi kami mengutus mereka," Kyouraku mengedikkan kepala pada Ichigo dan Toushiro," yang kunilai sangat cocok dengan tugas ini."


"Begitu," kata Dumbledore.


"Hanya... dua shinigami?" tanya Sirius ragu. Ia menatap dua shinigami muda itu tak percaya. Baginya, Ichigo dan Toushiro terlihat seperti anak-anak biasa, terlepas dari senjata yang ya ampun itu yang keduanya miliki.


"Ya, mereka berdua," kata Kyouraku kalem. Melihat pandangan tak yakin para penyihir, Kyouraku langsung berkata, "Jangan cemas, mereka lebih dari mampu. Kekuatan yang setara dengan level komandan-well, Komandan Hitsugaya memang komandan, sih-jadi mereka tak perlu diragukan lagi. Aku juga sudah mempertimbangkan kemampuan mereka dengan misi ini. Mereka kombinasi yang tepat. Pikiran yang tajam," Kyouraku mengerling ke arah Toushiro, lalu mengerling ke Ichigo, "dan kekuatan fisik yang baik. Walau kepribadian mereka sepertinya bertolak belakang."


"Bukannya sudah jelas," gumam Toushiro, yang hanya bisa didengar Kyouraku, yang mendengus geli.


Selanjutnya, mereka mendiskusikan tentang cara penyamaran dan masuknya Ichigo dan Toushiro ke Hogwarts. Mereka akan memainkan peran sebagai siswa pindahan dari Jepang, dari sekolah sihir Akademi Shinou. "Itu akademi pelatihan para calon shinigami," kata Kyouraku, saat Mad-Eye Moody bertanya. "Tempat mereka yang memiliki potensi sebagai shinigami dilatih mengendalikan reiatsu mereka, melatih kemampuan tempur mereka, dan kualitas lain yang dituntut dimiliki seorang shinigami. Kukira ini akan jadi alibi paling mendekati benar, karena repot jika harus mengarang nama sekolah. Lagipula, jika ada yang menyadari kemampuan istimewa mereka," Kyouraku mengerling Ichigo dan Toushiro, "mereka bisa berimprovisasi dengan jauh lebih mudah."


"Tapi aku tidak pernah ke Shinou," kata Ichigo, mengernyit. "Toushiro sih gampang, dia memang alumni Shinou. Tapi aku? Yang kutahu ya, aku masih siswa SMA Karakura."


"SMA?" celetuk Sirius heran. "Kau Mugg- maksudku manusia biasa?"


"Shinigami pengganti," kata Ichigo kalem. "Aku masih hidup, kau tahu, tapi aku punya kekuatan shinigami. Jadinya ya, begini ini. Dua kehidupan dalam satu tubuh."


"Bagaimana-?"


"Nanti saja," kata Toushiro datar, menghentikan pertanyaan ingin tahu Sirius Black. Ia memandang Ichigo. "Kau tak perlu cemas, kami sudah membuat dokumen palsu tentang kehadiranmu di Shinou, berikut dengan data-data tentang kegiatan akademikmu, sehingga kau benar-benar terlihat seperti siswa Shinou."


Toushiro memberikan sebuah amplop coklat besar pada Ichigo. Ichigo yang penasaran langsung menarik beberapa lembar kertas di dalamnya dan membacanya. Ia menatap isinya tak percaya. Namanya memang tertera di kertas itu, sebagai siswa Akademi Shinou, bahkan lengkap dengan transkrip nilai-nilai subyek pelajaran di akademi itu. Ia menatap foto dirinya yang memakai seragam akademi shinigami itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Astaga. Kalian sampai sejauh ini" komentarnya.


"Tak sulit membuat yang begituan," kata Kyouraku santai. "Asalkan dapat persetujuan dari Centra 46, semua gampang. Lagipula kepala sekolah Shinou adalah salah satu guru lamaku, dan dia dengan senang hati mau membantu."


"Tunggu. Bagaimana kalian bisa dapat fotoku?" Ichigo melambaikan kertas pendaftarannya. "Aku ingat betul ini foto untuk daftar masuk ke SMA dua setengah tahun lalu!"


Kyouraku nyengir senang. "Kau tentunya menduga ayahmu ambil bagian dalam rencana ini, 'kan? Dia yang dapat fotonya dan Kisuke yang mengeditnya. Bagus, eh?"


Kedutan samar muncul di pelipis Ichigo.


"Bagaimana dengan Toushiro?" tanya Ichigo.


"Dia lebih mudah lagi," senyum Kyouraku. "Semua data akademiknya selama di Shinou masih tersimpan rapi. Arsip pribadi, data dari Shinou, sampai Perpustakaan Besar Seireitei di Pusat Data Divisi 12. Yang kami ubah cuma tanggal, jadi, selesailah semua."


"Namamu ada di Perpustakaan Besar?" tanya Ichigo, menyipitkan mata memandang rekan berambut putihnya.


"Apa lagi yang ada dalam pikiranmu? Aku komandan, lagipula," sahut Toushiro datar.


"Yeah, benar," kata Ichigo menggut-manggut.


"Nah, untuk mendukung cerita, aku rasa kau perlu belajar kidou, Kurosaki-kun," tambah Kyouraku riang.


"Apa?!"


"Ya, belajar kidou. Dengan begitu kecurigaan yang mungin timbul akan semakin kecil. Kau ingat kalau seorang shinigami menguasai empat kompetensi dasar, yaitu zanjutsu, houhou, hakuda, dan kidou. Zanjutsu-mu tak perlu dipertanyakan," Kyouraku mengerling Zangetsu. "Kau berkembang dengan sangat baik untuk yang satu ini. Houhou dan hakuda sudah satu paket, dengan Yoruichi Shihouin sebagai gurumu, ditambah lagi sebelum jadi shinigami pengganti kau dapat sabuk hitam karate, jadi aku juga tak meragukanmu. Tapi untuk kidou, kau nol besar."


"Tapi aku... oke," Ichigo menyerah dibawah tatapan menggelikan Kyouraku. "Siapa yang mengajariku?"


"Komandan Hitsugaya, tentu saja," kata Kyouraku riang.


Para penyihir bisa melihat kekagetan di wajah Ichigo, yang menoleh ke arah Toushiro yang tanpa ekspresi.


"No way," kata Ichigo lemas. "Aku pasti mimpi buruk."


"Jangan berlebihan, Kurosaki-kun," kata Kyouraku, masih bernada riang. "Komandan Hitsugaya pro tentang kidou walau jarang digunakan di pertempuran-Hyourinmaru toh pada dasarnya adalah tipe kidou sehingga menggunakannya bersamaan hanya buang-buang tenaga."


Ichigo tampak tak begitu yakin. Jika mau jujur, ia bukan bermaksud meragukan kemampuan Toushiro. Yang ia cemaskan adalah apa yang akan dilakukan Toushiro selama latihan itu.


"Aku tidak akan bisa membunuhmu dengan kidou, Kurosaki, jika itu yang kau takutkan," kata Toushiro kalem, membuat beberapa penyihir tampak agak terkejut. Ichigo mengangkat alis.

__ADS_1


"Aku ragu," gumamnya pelan, tapi cukup untuk didengar mereka semua, "kau punya lebih dari satu motif untuk itu. Dan bagaimana bisa au tahu apa isi pikiranku?"


"Tebakan beruntung," timpal Toushiro tenang.


Diskusi kembali berlanjut tentang mekanisme pendaftaran dua shinigami itu ke Hogwarts. Mengingat Ichigo dan Toushiro berasal dari Jepang, otomatis keduanya harus diregistrasi ke Kementerian Sihir, agar tidak menimbulkan kecurigaan atas kehadiran mereka di Hogwarts. Belum lagi, kecurigaan Kementerian Sihir yang besar karena Dumbledore telah memberi tahu kembalinya Voldemort, yang ditolak validitasnya oleh mereka. Karena itu, nanti mereka akan pergi ke Kementerian Sihir untuk mengurus kepindahan mereka.


"Apa tidak apa membiarkan mereka berdua mengurus sendiri?" tanya Mrs Weasley cemas. "Bagaimanapun juga, mereka tetap terlihat sebagai anak sekolah, akan mencurigakan jika mereka ke Kementerian tanpa pendamping."


"Aku tahu itu," kata Kyouraku ramah. Ia memandang Ichigo dan Toushiro dengan senyum lebar. Ichigo langsung mengerti, ada sesuatu yang tidak bagus disini. "Aku sebenarnya berencana mengirim Ukitake sebagai, eh, wali kalian, mengingat dia ,eh," kentara Kyouraku menahan diri untuk tidak tertawa, "sekilas akan dikira ayah Komandan Hitsugaya. Tapi belakangan kesehatannya memburuk dan aku meminta Komandan Kuchiki untuk-"


"No way!" seru Ichigo, membuat Mundungus Fletcher terlonjak kaget. Ia memandang Kyouraku tak percaya; Toushiro memberinya tatapan mencela. "Siapa saja asal jangan Byakuya! Dia akan membunuhku tangan pertama!"


"Komandan Kuchiki tidak akan begitu," kata Kyouraku terkekeh, sementara para penyihir tampak agak bingung. Siapa gerangan Komandan Kuchiki ini yang membuat Ichigo takut seperti itu. "Dia akan datang besok lusa ke Grimmauld Place ini dan mengurus semuanya. Sebenarnya aku memintanya untuk datang besok, tapi dia harus menghadiri rapat dengan Tetua Bangsawan Keluarga Kuchiki, dan dia tidak bisa melewatkannya."


"Kenapa tidak yang lain saja..." keluh Ichigo.


"Well, Komandan Soi Fon masih belum kembai dari misinya, dan kau tahu betapa kompaknya Komandan Hirako, Otoribashi, Muguruma, dan Aikawa, jika mereka berurusan dengan urusan diplomatis. Komandan Kurotsuchi mendepakku dari laboratoriumnya bahkan sebelum aku bilang 'selamat pagi', dan tentunya kau tidak mengharap Zaraki mengurusnya, kan? Kandidat terbaik, ya Komandan Kuchiki itu."


"Pertimbangan bagus," kata Ichigo sarkastik.


"Berhentilah bersikap konyol," kata Toushiro datar. "Kuchiki tidak bodoh, dia tidak akan membunuhmu sekalipun dia benar-benar ingin-"


"Terima kasih atas bantuanmu, Toushiro," ujar Ichigo sinis.


"-kalaupun itu terjadi, kau kira aku akan membiarkan kalian duel dan membuka penyamaran?" lanjut Toushiro seolah tak ada interupsi. Ichigo memandangnya dengan alis nyaris menghilang ke anak-anak rambutnya. Ichigo lalu nyengir.


"Benar juga. Tapi," Ichigo memandang Kyouraku, "kau tak bermaksud menjebakku dengan dua komandan kutub, 'kan?"


"Komandan Kuchiki dan Komandan Hitsugaya? Tidak, tidak. Semuanya sudah diatur, ya 'kan Komandan Hitsugaya?"


Toushiro menjawab dengan anggukan, dan Ichigopun berhenti memprotes. Diskusi pun kembali berlanjut. Dumbledore memberitahu mereka, bahwa setelah mengonfirmasi kehadiran mereka di Inggris, mereka akan menerima surat pemberitahuan dari Hogwarts untuk menjelaskan apa-apa saja yang mereka perlukan selama di sekolah. Setelah urusan tentang mengurus transfernya dua siswa palsu itu selesai, rapat pun usai. Dumbledore menutup rapat dan undur diri lebih dulu. Ia menyalami Kyouraku sambil meminta maaf karena harus pergi lebih dulu, yang disambut dengan santai oleh sang Komandan Tertinggi.


"Komandan Tertinggi," Toushiro angkat bicara setelah Dumbledore menutup pintu dapur di belakangnya, dan ia dan Ichigo memasang kembali zanpakuto masing-masing di punggung mereka,"selama kami di Hogwarts, apa kami perlu menggunakan gigai?"


"Oh, ya, aku hampir lupa tentang hal itu," kata Kyouraku riang.


"Tubuh pengganti," kata Ichigo menjelaskan. "Biasanya digunakan oleh shinigami yang sedang bertugas di Dunia Manusia dalam waktu yang cuku lama dan perlu melakukan interaksi untuk mengumpulkan informasi. Kau tahu, dalam wujud shinigami berarti dengan wujud roh, manusia biasa tidak bisa melihat wujud kami."


"Kalau begitu kalian seperti hantu, begitu?" tanya Mundungus.


"Yah, kurang lebih begitulah. Nah, bagaimana, Kyouraku-san? Kalau kami perlu aku akan minta Urahara-san membawa tubuhku kemari."


"Tidak perlu, Kurosaki-kun. Memang, kalian perlu wujud solid, soalnya zanpakutou kalian peru disembunyikan." Kyouraku mengerling ke arah Hyourinmaru dan Zangetsu. "Bisa-bisa dikira ada parade pembantaian nanti. Tapi kalian tidak akan pakai gigai biasa. Ini." Kyouraku memberikan dua gelang perak masing-masing untuk Ichigo dan Toushiro. Saat ia bicara lagi, Kyouraku lebih menyoroti Ichigo yang masih mengamati gelang itu dengan heran, sedangkan Toushiro langsung memakainya. "Ini penemuan baru Divisi 12, Gelang Gigai Otomatis Penyembunyi Eksistensi Shinigami-"


"Gak kreatif amat bikin nama," komentar Ichigo.


"-yah, kau benar," timpal Kyouraku. "Aku lebih suka menyebutnya Gelang Gigai Portabel. Nah, gelang itu berfungsi untuk menyegel reiatsu shinigami, seperti gigai biasa. Bedanya, penyegelan tidak di-cover oleh tubuh buatan, melainkan mantra pada gelang, yang bisa membuat wujud shinigami menjadi solid, menyegel zanpakuto, dan menekan reiatsu kalian sampai delapanpuluh persen."


"Eh?"


"Fungsi yang sama dengan Segel Pembatas," kata Toushiro. "Kita tidak memakai kekuatan penuh selama misi, Kurosaki. Duapuluh persen, kecuali ada keadaan mendesak dimana Limit Lift diizinkan. Gelang akan aktif dengan kata perintah yang sama dengan pengaktifan mode shikai, tapi sederhananya sebut saja nama zanpakuto-mu. Pelepasannya juga sama."


"Tunggu," sela Sirius. "Apa maksudmu dengan 'tidak memakai kekuatan penuh'?"


"Itu akan sangat berbahaya, Black," kata Toushiro datar. "Reiatsu kami bisa bersifat destruktif terhadap kondisi manusia, secara fisik maupun mental."


"Tapi apa tidak apa-apa kalau cuma duapuluh persen? Kau ingat waktu kau pertama ke Karakura dulu juga begitu dan kau babak belur, nyaris tewas malah," kata Ichigo, membuat beberapa penyihir menatap Toushiro ingin tahu.


"Situasinya berbeda. Itu pertama kali aku berhadapan dengan Arrancar. Yang jelas," Toushiro menatap Ichigo dengan tajam, "kita akan pakai gigai ini walaupun aku tahu dengan jelas baik aku maupun kau sama sekali tidak akan menyukainya."


"Aku tidak suka karena aku punya tubuhku sendiri," kata Ichigo mengernyit, menatap Kyouraku. "kenapa aku tidak pakai tubuh asliku saja?"


"Kau perlu menjalankan kehidupan normalmu, dan Mod Soul itu yang melakukannya," kata Kyouraku santai. "Tapi dari tadi kau banyak protes, ya."

__ADS_1


"Tentu saja! Siapa yang bisa tenang kalau Mod Soul mesum gak jelas itu menggantikanku? Imejku bisa rusak nanti."


"Jangan cemas, Kurosaki-kun, kau tentunya tahu kalau selama kau disini Letnan Kuchiki akan mendampingi Kon untuk menggantikanmu, memastikan dia bersikap sepertimu."


"Kuharap begitu." Ichigo menatap Kyouraku dengan serius. "Aku sudah bersusah payah menaikkan rangkingku di sekolah dari 32 ke rangking 11, kalau nilai-nilaiku terjun bebas gara-gara aku tidak ada di Karakura, awas saja."


"Kau mengancam Komandan Tertinggi?" Toushiro mengangkat alis.


"Bukan! Bukan begitu! Maksudnya si Kon!" kata Ichigo buru-buru. "Aku akan menghajarnya sampai puas! Ha!"


"Nah, lebih baik kalian pakai gelangnya sekarang," saran Kyouraku.


"Bagaimana cara mengaktifkan mantranya?" tanya Ichigo sambil memasang gelang perak itu. Para penyihir sekarang menatap mereka dengan tatapan tertarik.


"Alirkan reiatsumu ke gelang dan sebut nama zanpakuto-mu. Seperti ini. Hyourinmaru." Toushiro terdiam sejenak, berkonsentrasi. Selama waktu itu, tubuh shinigaminya berpendar dengan chaya putih yang sangat familiar bagi dua shinigami lain, warna reiatsu Toushiro. Cahaya itu semakin terang sampai membuat Toushiro tak terlihat. Dua detik kemudian cahaya itu menghilang dan Toushiro berdiri, masih di tempatnya tadi dengan penampilaan yang berbeda. Ia tak lagi memakai shihakusou dan haori-nya, bahkan katana-nya menghilang. Ia sekarang memakai blazer merah marun di atas kemeja hitam, celana jins hitam, dan sepatu kets putih.


"Wow," komentar Tonks, nyengir.


"Giliranmu, Kurosaki," kata Toushiro kalem, melenturkan lengannya yang agak terasa ganjil baginya.


"Iya," kata Ichigo malas. Ia berkonsentrasi, membiarkan reiatsu-nya menguar untuk berpusat di gelang perak di pergelangan tangan kirinya. "Zangetsu."


Sensasi aneh yang seolah menekan tubuhnya sungguh tidak nyaman, sementara warna reiatsu-nya yang kebiruan menyelubungi tubuhnya, semakin tebal dan membutakannya Ia merasa udara tersedot dari paru-parunya, dan ia merasa beban logam zanpakuto di punggung dan pinggangnya lenyap, diiringi protes yang tak asing di belakang pikirannya. Sensasi itu menghilang beberapa detik kemudian, dan Ichigo menarik napas dalam, merasa seluruh persendian tubuhnya agak kaku. Ia menggerakkan jari-jarinya, merasakan keratak ganjl dari sana. Ichigo menyadari ia tak lagi dalam wujud shinigami-nya. Ia memakai pakaian kasual, kemeja biru tua yang lengan panjangnya digulung sampai ke siku dan celana jins hitam, dengan sepatu kets berwarna biru-putih, tapi ia menatap Toushiro dengan kesal.


"Kau tidak bilang prosesnya sungguh tidak enak!"


Toushiro hanya mengangkat bahu. "Sekarang kau tahu bagaimana rasanya shinigami dalam gigai, hm? Apalagi buatan Kurotsuchi."


Ichigo menggelengkan kepalanya. "Itu sebabnya kau tidak menyukainya."


"Yep. Dia jenius, tapi sinting."


"Nah, urusan disini sudah selesai, kalau begitu," kata Kyouraku senang, memasang topi capingnya. "Kalau ada kabar penting, kirim saja lewat Kupu-Kupu Neraka atau Soul Pager. Ini milikmu, Kurosaki-kun." Kyouraku memberikan ponsel model smartphone berwarna hitam pada Ichigo.


"Kukira alat komunikasi Muggle tidak berfungsi di Hogwarts," kata McGonagall.


"Ini berbeda dengan ponsel biasa," kata Toushiro, menunjukkan ponsel miliknya yang bermodel sama, tapi berwarna putih. "Soul Pager dirancang untuk alat komunikasi shinigami, juga untuk deteksi hollow, dan beberapa fungsi lain. Teritori sihir tidak menghalangi cara kerjanya."


"Tapi bijaksana jika tidak menunjukkannya pada khalayak," kata Kyouraku. "Jadikan ini sebagai cara komunikasi rahasia. Karena itu, nanti kalian harus punya burung hantu, untuk kamuflase." Toushiro mengangguk. "Dan Kurosaki-kun, aku sedah memasukkan semua nomor penting di Soul Pagermu; nomor telepon rumahmu, Urahara-san, para komandan, dan teman-teman dekatmu di Karakura. Tapi hati-hati, jangan sebarkan nomormu ke orang yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan shinigami-mu."


"Oke."


"Dan Komandan Hitsugaya, tak lebih dari yang kuharapkan darimu, laporan setiap minggu." Toushiro mengangguk. "Dan jangan cemas, kau akan bebas dari paperwork harianmu."


Toushiro memandang Kyouraku dengan mata melebar kaget. "Dan membiarkan Matsumoto mengurus semua itu?"


Kyouraku tersenyum lebar. Ia menepuk bahu Toushiro. "Kau harus mempercayai letnan-mu sendiri, ya 'kan? Dia bawahan yang loyal dan menyenangkan, kalau kau tanya pendapatku"


"Tapi-"


"Sudahlah, Toushiro. Apa susahnya sih berhenti memikirkan soal paperwork sialanmu itu barang sebentar?" kata Ichigo mengernyit, tapi kentara ia menahan tawanya. "Rangiku-san bisa mengurus Divisi 10, dia 'kan letnan, sudah berdekade-dekade lebih lama daripada kau jadi komandan, malah."


"Lagipula kau perlu sedikit pengurangan beban kerja," kata Kyouraku dengan senyum kebapakan. "Belakangan kau, eh, apa istilahnya, menenggelamkan diri dalam pekerjaan? Anggap saja misi ini sebagai liburan untukmu." Toushiro tampak tak setuju. Kyouraku menghela napas. Ia mengenal sifat keras kepala komandan muda di sampingnya ini. "Jangan memaksakan diri, Komandan Hitsugaya. Setelah perang selesai kau memaksakan dirimu mengejar 'batas' itu. Latihan keras dan selingannya cuma paperwork. Kau sampai lupa istirahat, eh? Ukitake benar, kau membuat dirimu jadi lebih kurus."


Kyouraku menelengkan kepalanya ke kiri seolah menilai penampilan Toushiro. Ichigo baru menyadari teman shinigaminya itu memang tampak lebih kurus dari dulu, paling tidak sebelum Winter War. Ia ingat, sebelum bertransformasi ke gigai-nya, haori komandan miik Toushiro tampak agak terlalu besar untuk si rambut putih. Bahkan sekarang Ichigo bisa melihat wajah Toushiro tampak lebih tirus.


Toushiro tampak agak tak nyaman, dengan beberapa penyihir yang memandangnya ingin tahu. Ia menggeleng pelan, tanda ia tak peduli dengan kondisi fisiknya.


"Aku merasa benar-benar baik-baik saja," katanya datar.


"Tentu saja kau akan bilang begitu!" kata Kyouraku riang. Tapi kemudian ia berkata dengan nada pelan dan serius, sehingga para penyihir tak mendengarnya, kecuali Sirius yang berdiri paling dekat dengan mereka. "Semuanya perlu proses, Nak. Kau masih muda, jalanmu masih panjang, dan banyak yang bisa kau pelajari. Dan jangan pernah mendengarkan apa yang dikatakan Aizen kepadamu." Ichigo melihat bahu Toushiro tampak kaku. "Kemudaanmu bukan kelemahanmu, kau hanya perlu untuk berkembang. Nah, gunakan waktu sebaik-baiknya selama disini. Lgipula luka setelah perang yang lalu itu 'kan belum pulih benar. Kau bisa menyembuhkan dirimu selama ada disini." Kyouraku menegakkan diri. "Waktunya pulang! Atau Nanao-chan akan mendampratku karena meninggalkan semua laporan itu untuknya. Jaga diri dan pikiran baik-baik, kalian berdua. Semoga sukses dengan misinya."


Kyouraku memberi salam salut dan bungkukan sopan kepada para penyihir. Tapi sebelum ia melangkah keluar dari pintu dapur, ia berhenti dan memandang Toushiro.

__ADS_1


"Jangan cemaskan Letnan Hinamori," katanya dengan senyum pengertian; Toushiro tampak agak terkejut. "Divisi 4 akan melakukan yang terbaik untuknya. Kau mendapat janjiku."


Ichigo melihat bahu Toushiro tak sekaku saat nama Aizen disebut. Komandan Divisi 10 itu menjawab dengan suara pelan, "Terima kasih, Komandan Tertinggi"


__ADS_2