Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 33


__ADS_3

Beberapa shinigami memandang berkeliling.


"Wah, senang ada di sini lagi," kata Ukitake, melangkah maju lebih dulu untuk memberi bungkukan sopan pada Dumbledore; para komandan yang lain hanya memberi anggukan tanda salam, sedangkan shinigami lain meniru sikap Ukitake. "Halo, Shiro-chan, Kurosaki-kun, baik saja?"


"Jangan panggil aku begitu, Ukitake," kata Toushiro datar, namun ada urat di pelipisnya yang berkedut kesal. Ichigo tenang-tenang saja, memberi salam salut pada semua rekannya. Shinigami lain memberi bungkukan sopan pada Hitsugaya; gadis berambut hitam pendek dengan mata violet menyapa pelan, 'Komandan Hitsugaya', yang semua salam itu dijawab dengan satu anggukan singkat. Toushiro bergerak mendekati rekan-rekannya.


"Kalian berempat sepertinya sehat-sehat saja," kata komandan dengan rambut abu-abu berpotongan cepak, mengamati Toushiro, lalu Ichigo, Kisuke, dan Yoruichi; dua yang terakhir tersenyum riang.


"Tunggu dulu." Wanita jelita berambut strawberry blonde melesat maju, mencengkram kedua bahu Toushiro dan mengamati wajahnya dengan kernyitan dalam, mata biru keabu-abuannya menyusuri tiga garis vertikal, bekas luka akibat cakaran hollow yang memanjang dari alis hingga tulang pipi kirinya; ia menyibak poni rambut seputih salju yang gagal menyembunyikan bekas luka itu. "Apa yang kau lakukan dengan wajahmu?!" pekiknya keras. Para shinigami ikut memandang Komadan Divisi 10 itu seakan-akan baru menyadari perbedaan di wajahnya.


"Bukan apa-apa," kata Toushiro cepat, mengibaskan lengannya dari si wanita, lalu menjauhkan diri darinya.


"Sepertinya, terakhir aku melihatmu kau belum dapat luka itu," kata Ukitake, bergerak mendekat. "Dan setelahnya aku tak mendapat laporan apapun tentang dampak serangan apapun." Kata terakhir yang diucapkan pria itu terdengar ganjil, agak sedikit menuduh.


"Ini bukan apa-apa, cuma kecelakaan kecil…"


"Ichigo?" tanya si wanita nyaring, pada si rambut jingga yang berguncang menahan tawa; beberapa penyihir menatap mereka dengan heran. Toushiro langsung melempar tatapan memperingatkan. Namun, Harry yakin, penuntutan penjelasan para shinigami lain lebih penting daripada kekesalan Toushiro.


"Ya, cuma kecelakaan kecil, Rangiku-san," kata Ichigo, terkekeh, "dia diserang hollow yang muncul mendadak; salah satu hantu di sini bertransformasi begitu saja, laporan serangan terakhir itu lho. Tapi waktu itu ada terlalu banyak orang untuk melakukan serangan balik skala besar. Dia beruntung tidak sampai buta, Toushiro langsung menembaknya dengan Byakurai, sih, selamat deh mata kirinya."


"Tapi kau tidak bilang apa-apa…" protes Rangiku.


"Toushiro yang minta," kata Ichigo segera. "Dan kau tahu betapa menyebalkannya dia kalau sudah menyuruh-nyuruh seperti itu. Dia bilang dia mau bilang sendiri…" Ichigo nyengir senang, lalau menambahkan dengan gaya sok pada si rambut putih. "Sudah kubilang, 'kan?


Rangiku menggeleng-gelengkan kepalanya kepada Toushiro dengan gaya seakan mendapati anaknya yang ketahuan mencuri. "Apa yang kubilang tentang berhati-hati? Lihat, sekarang Komandan jadi seram…"


"Aku tak terlalu peduli seperti apa tampangku," kata Toushiro cuek, menyilangkan tangan di depan dada. Si gadis bercepol menggelengkan kepalanya sambil menahan senyum. "Dan jangan bersikap aneh begitu. Memangnya kau apa? Ibuku?"


"Ibu?" ulang Rangiku dramatis, membuat Toushiro berjengit. "Tidak, tidak. Aku terlalu muda untuk jadi ibu! Lihat, seksi begini juga…"


Toushiro menghela napas.


"Tapi aku 'kan cocok jadi kakakmu! Dengar, 'kakakku adalah letnanku', keren 'kan?! Jadi aku tetap bisa mengawasimu seperti yang seharusnya dilakukan seorang kakak perempuan yang baik dan cantik ini…"


Mata turquoise Toushiro menyapu cepat ke arah rekan-rekan shinigami-nya, mengabaikan letnannya. Lalu matanya terarah ke Ukitake, "Zaraki tidak datang, kalau begitu?"


Ukitake menggeleng ramah, sementara komandan rambut pirang yang wajahnya mengingatkan Harry pada kucing Chesire berpotongan bob menjawabnya dengan nada cuek, "Komandan Tertinggi berpendapat tidak bijaksana mengikutkannya dalam misi ini. Akan ada kerusakan yang terlalu besar jika dia ikut bertarung, kalau kau tahu maksudku."


"Lagipula menurutku ini juga sudah terlalu banyak," kata komandan berambut abu-abu, tampangnya malas dengan kedua tangan menyilang di depan dada. "Di sini juga ada dua komandan, dua letnan, dan satu shinigami pengganti yang dilatih langsung oleh Zero Division. Tak perlu menambah penderitaan para penyihir dengan kerusakan yang bisa kalian timbulkan."


Yoruichi tertawa, dan beberapa shinigami menatap Byakuya, Toushiro, Ichigo, pemuda jangkung berambut merah, dan gadis bertubuh mungil bermata violet dengan tatapan aneh, separo geli separo prihatin. Para penyihir, kecuali Dumbledore, hanya menatap mereka dengan bingung.


"Aku tidak sedestruktif itu," gerutu Ichigo pelan.


"Oh, yeah?" tanya pemuda berambut botak dengan suara malas. "Siapa yang terjun bebas dari King's Realm dan menabrak menara jam sampai rata dengan tanah?"


"Sebenarnya," kata pemuda berkacamata, yang mendorong kacamatanya dengan gaya serius, "hampir di setiap pertarungan kau bertindak destuktif."


"Oi…"


"Kalau mau protes nanti saja; lagipula tak ada gunanya menyanggah itu" kata Toushiro tajam, menghentikan sanggahan yang gagal keluar dari pikiran dan mulut Ichigo. "Kita perlu bicara."


Para shinigami itu berdiri berdekatan, dan langsung berdiskusi serius dalam bahasa Jepang, bersama Dumbledore dan beberapa guru.


Harry sekarang tak meragukan tentang Toushiro ataupun Ichigo sebagai seorang shinigami. Sebelumnya ia sering kali, menganggap si rambut putih, terutama, hanya bersikap angkuh karena seorang dewa kematian. Tapi sekarang Harry bisa mengerti kenapa ia bersikap dingin. Dibandingkan dengan komandan yang lainnya, Toushiro memang terlihat seperti anak-anak. Tak salah lagi, sikap kakunya adalah alternatifnya untuk menunjukkan wibawa. Sungguh mengaggumkan bagaimana ia bisa memposisikan dirinya sebagai salah satu dari petinggi pelindung Soul Society dengan sangat baik. Tak tampak kecanggungan darinya berdiri di antara para shinigami yang jelas lebih tua darinya. Bahkan para shinigami tanpa haori bersikap hormat padanya. Bukan jenis ketakziman hasil keangkuhan, menjilat minta perhatian seperti yang dilakukan para Pelahap Maut pada Lord Voldemort.


"Kalian pasti tidak menyangka tentang mereka berdua, hm?"


Harry menoleh. Pemuda berkacamata sudah berdiri di sampingnya, bersama gadis sebaya dengannya yang rambut panjangnya berwarna strawberry blonde. Gadis itu tersenyum ramah, membuat wajahnya yang cantik semakin manis; beberapa siswa terpesona memandangnya.


"Well," kata Hermione gugup, "mereka sudah mengatakan pada kami kalau mereka shinigami, sih… Hanya saja…"


"Bisa dimengerti. Tampang urakan Kurosaki bisa menipu, begitu juga sosok anak-anak Hitsugaya-san," kata pemuda itu datar. Mata birunya menunjukkan kegusaran saat menyebut 'Kurosaki'.


"Ishida-kun, jangan bilang begitu," tegur si gadis. "Ah, maaf. Mungkin sebaiknya kami memperkenalkan diri dulu. Namaku In-eh, maaf, Orihime Inoue. Dan ini temanku, Uryuu Ishida. Kami teman Kurosaki-kun, juga Hitsugaya-kun, juga para shinigami itu."


"Siapa yang sudi berteman dengan shinigami itu," desis Ishida pelan sekali, sehingga Orihime tidak mendengarnya.


"Ishida-kun dan aku teman sekelas Kurosaki-kun di SMA Karakura," tambah Orihime ceria.


"Bagaimana dengan para shinigami itu?" tanya Sirius.


"Ah, mereka," kata Orihime manis. "Mari kita lihat… Shinigami yang memakai haori adalah para komandan. Ada enam di sini. Yang itu," Orihime menunjuk satu-satunya komandan wanita di sana, si wanita berwajah dingin. "Komandan Divisi 2, Soi Fon. Lalu itu," Orihime menunjuk komandan berambut pirang bob, "Komandan Divisi 5, Shinji Hirako. Lalu yang itu," Harry tak perlu diberitahu siapa pria aristokrat itu, "Komandan Divisi 6, Byakuya Kuchiki. Dan itu," Orihime menunjuk shinigami berotot dengan rambut abu-abu, "Komandan Divisi 9, Kensei Muguruma. Dan kalian pasti tahu yang itu, tapi kalau tidak tahu, baiklah. Toushiro Hitsugaya, Komandan Divisi 10. Dan yang terakhir, yang rambut putih panjang itu, Komandan Divisi 13, Juushiro Ukitake."


Orihime juga memperkenalkan shinigami yang lainnya. Izuru Kira, letnan Divisi 3 yang berwajah sendu; Momo Hinamori, letnan Divisi 5 yang berwajah baik hati yang rambutnya dicepol; Renji Abarai, letnan Divisi 6 dengan rambut merah terang panjang yang di-ponytail; Shuuhei Hisagi, letnan Divisi 9, si shinigami bertato 69 di pipi kirinya; Rangiku Matsumoto, sang letnan Divisi 10 yang cantik jelita dan bertubuh bak model; Ikkaku Madarame, Kursi Ketiga Divisi 11 dan Yumichika Ayasegawa Kursi Kelima yang berambut bob; Rukia Kuchiki, letnan Divisi 13 dengan mata violet lebar yang cantik.


"Wow, pasukan elit semua," komentar Bill. "Komandan dan letnannya, kecuali dua orang itu," Bill mengedik pada Ikkaku dan Yumichika, "dan kalian berdua."


"Meskipun bukan letnan, mereka berdua bisa dibilang memiliki kekuatan setingkat letnan, apalagi dengan Zaraki sebagai komandan mereka," kata Ishida. "Divisi 11 dikenal sebagai Divisi Petarung, semuanya brutal," tambah Ishida serius.


"Kenapa kalian ikut kemari?" tanya Hermione ingin tahu. "Kalian bilang kalian bukan shinigami…"


"Urahara-san yang menyuruh kami datang," kata Orihime. "Aku penyembuh, sedangkan Ishida-kun… well…"


"Aku punya perjanjian khusus dengan para shinigami itu," kata Ishida pelan. "Jangan tanya," tambahnya segera melihat ekspresi beberapa penyihir.


"Tapi, ada apa sebenarnya sampai shinigami datang ke Hogwarts?" tanya Neville heran.


"Dumbledore jii-san ingin kami menjaga Hogwarts," kata Ichigo, bergerak mendekati Harry dan teman-temannya, meninggalkan diskusi. "Mereka rapat strategi dadakan," kata Ichigo, melihat pandangan bertanya Hermione. "Toushiro Raja Taktik Seireitei, jadi dia yang pegang kendali. Sementara itu mereka ingin aku menjelaskan pada kalian, begitu. Padahal sudah kubilang aku tak bisa jelaskan dengan baik."


"Menjaga Hogwarts?"


"Dari Voldemort," kata Ichigo. "Selain itu musuh kami juga sepertinya bergabung dengan Voldemort, jadi mau tidak mau Seireitei harus terlibat."


"Musuh kalian?" tanya Lee Jordan.


"Ingat waktu kita temukan Toushiro babak belur?" Ichigo memandang Golden Trio, tapi yang lainnya terkejut. "Waktu liburan Natal, Ukitake-san datang kemari?" tanya Ichigo. Para penyihir muda mengangguk. "Yep, waktu itu. Ukitake-san mengecek keadaan, dengan kamuflase menjenguk Toushiro yang dalam skenario penyamaran kami adalah anak angkatnya, begitu. Arrancar datang menyerang, dan kami punya bukti konklusif kalau arrancar memang bergabung dengan Voldemort…"


"Bukti konklusif apa?" tanya Zacharias heran.


"Sebelum Toushiro menghabisi arrancar itu, si arrancar mengatakannya."


"Dengan hanya dia sebagai saksi?" tanya Theodore Nott.


"Tak perlu ada yang meragukan kata-kata seorang komandan sekaliber Toushiro Hitsugaya," kata Ichigo dingin. Di sampingnya, Orihime mengangguk setuju.


"Komandan? Yang benar saja! Bocah itu mana mungkin-"


"Jaga mulutmu, Malfoy," kata Ichigo dengan nada rendah; beruntung para shinigami sedang sibuk sehingga tak mendengar mereka. Beberapa guru yang tidak mendengarkan diskusi para shinigami, beserta para siswa dan Orde Phoenix bisa mendengar peringatan di balik nada bicara Ichigo. Mendadak saja si rambut jingga tampak menyeramkan. "Seluruh Seireitei mengakui kemampuannya sebagai seorang komandan. Kau bisa saja mengatainya dengan penghinaan sebagai seorang siswa di sini, tapi tidak jika dia sebagai shinigami. Para komandan menghargainya, dan semua letnan ataupun shinigami lain menghormatinya. Dan aku yakin kau tidak mau berurusan dengan mereka."


Draco Malfoy melempar tatapan menghina pada Ichigo. "Sekali darah lumpur tetap darah lumpur."


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya," kata Sirius, memandang keponakannya – Draco – dengan kegusaran yang nyata.


Tepat saat itu, para shinigami telah selesai berdiskusi. Dumbledore mengangguk setuju. Setelahnya, ia bersama para komandan menaiki undakan tempat para guru biasanya duduk di Aula. Ia mulai menjelaskan pada seluruh Aula akan apa yang terjadi bahwa Hogwarts akan menjadi medan perang karena dua musuh yang berkoalisi akan datang dalam waktu dekat. Mereka akan melakukan evakuasi terhadap para siswa dan menambah proteksi sihir di sekeliling kastil, di tambah beberapa mantra kidou pelindung. Anggota Orde akan memandu para siswa untuk dievakuasi dan menjaga mereka, begitu pula para shinigami. Kemudian, Ukitake dipersilakan menjelaskan lebih rinci tentang pertahanan dan evakuasi mereka, setelah memperkenalkan nama semua komandan yang ada.


"Komandan Kuchiki dan Letnan Abarai akan menjaga arah utara, Komandan Muguruma dan Letnan Hisagi akan menjaga arah timur. Komandan Hitsugaya dan Letnan Matsumoto akan menjaga arah selatan. Komandan Hirako dan Letnan Hinamori akan berada di barat. Sementara mereka menjaga dari empat arah mata angin, sisa shinigami dan anggota Orde akan melindungi kalian menuju titik evakuasi. Jangan sampai terpisah dari rekan-rekan kalian, apalagi sampai keluar dari halaman Hogwarts. Dan untuk strategi pertempuran," Ukitake menghela napas. "kami, para shinigami tidak familiar dengan cara bertarung penyihir. Komandan Hitsugaya yang sudah mengetahui tentang penggunaan pertahanan sihir kalian tidak bisa menjelaskan lebih detail, karena tak ada lawan penyihir sejauh ini bagi kami. Jadi, kami akan bertarung dengan musuh kami, sedangkan penyihir akan bertarung dengan penyihir."


"Kenapa begitu?' tanya Tonks.


"Seperti yang dikatakan tadi, teknik kalian gunakan berbeda dengan kami," kata Toushiro datar.


"Tapi kau tahu bagaimana menggunakannya, bagaimana menghindarinya," kata Harry, teringat performa luar biasa Toushiro selama latihan LD.


"Aku diuntungkan," kata Toushiro, masih sama tenangnya, sama datarnya, "dengan refleks dan pengalaman bertarung menggunakan zanpakutou dan kidou. Gerakanku dalam menghadapi mantra sihir adalah karena kebiasaan. Tapi gerakan penyihir berbeda denganku."


"Kami juga tak diizinkan membunuh manusia," kata Ukitake, mata coklatnya menyapu wajah-wajah pucat para penyihir muda. "Kewajiban kami adalah melindungi mereka, tak peduli mereka baik ataupun jahat. Peradilan manusia berbeda dengan kami. Manusia mengadili manusia, bukan kami, Dewa Kematian, yang memutuskannya. Dan kami harus mempercayakan pertarungan penyihir dengan kalian, para penyihir, dan membantu yang kami bisa untuk melawan Voldemort…"

__ADS_1


"Lho? Bukannya namanya Goldywart?" celetuk Ikkaku.


"Bukan. Kurasa Wolymart," sanggah Rangiku serius.


Para penyihir tercengang.


"Kupikir namanya Moldygart," tambah Renji.


Para penyihir terbelalak kaget. Mereka bisa salah ingat nama penyihir hitam paling ditakuti abad ini?!


"Kalian *****. Namanya Dordymort," kata Yumichika sambil mengibaskan rambutnya anggun.


Dumbledore mengeluarkan suara seperti tawa kecil tertahan, sementara Sirius tampak berusaha keras untuk tidak tertawa.


"Mari kita panggil dia Tommy," seringai Ichigo.


"Chappy?" celetuk Rukia.


"Jangan samakan dia dengan kelinci anehmu," sanggah Ichigo, membuatnya menerima hantaman di ulu hatinya.


"Jangan bilang Chappy itu aneh!"


"'Kan memang aneh!" bantah Ichigo sambil memegang tempat Rukia memukulnya. "Dan kau itu cewek! Pukulanmu seperti gorila, tahu!"


"Ehem."


Yang berdeham bukan hanya Toushiro yang wajahnya mengernyit jengkel. Byakuya Kuchiki juga, ditambah dengan tatapan tajam bak elang yang mengincar mangsa yang tertuju lurus ke arah Ichigo. Ichigo tahu betul itu adalah peringatan tanpa kata yang ia tahu apa artinya: jangan-menyamakan-adikku-dengan-primata-yang-inteligensinya-justru-selevel-denganmu. Ia tak ingin berseteru sekarang dengan Byakuya, jadi ia memilih bungkam. Di sampingnya, Rukia tersenyum anggun, tapi hatinya puas.


"Namanya Lord Voldemort," geram Toushiro, tapi cukup jelas untuk di dengar oleh para shinigami yang tadi berdebat konyol, "Nama baru yang diambil dari huruf-huruf yang menyusun nama aslinya, Tom Marvolo Riddle. Ingat itu atau kukirim kalian ke Divisi 12 untuk mengubah susunan otak kalian agar sedikit berguna…"


"Kasar sekali," komentar Shinji, sementara Ikkku, Yumichika, Renji, dan Rangiku bergidik. "Tapi aku mungkin setuju…"


"Taicho tega~" rengek Rangiku. "Kau tahu betapa mengerikannya tempat itu…"


Setelah itu, mereka semua mulai bergerak. Para prefek dan Ketua Murid mengumpulkan semua anak asrama masing-masing ke Aula Depan. Para shinigami masih di tempat untuk menunggu semua siswa berkumpul. Harry, Hermione, dan anak-anak Weasley juga masih di tempat, terutama karena Harry menuntut penjelasan kenapa Voldemort menginginkannya datang ke Kementerian. Sirius menolak menjelaskan, bahwa ia harus menunggu karena situasi ini bukan waktunya menjelaskan lebih jauh.


"Dia agak tidak sabaran, eh, Komandan," kata Rangiku, mengamati Harry yang berusaha membujuk walinya sambil berdiri si samping si rambut putih.


"Yeah, memang," kata Toushiro tak peduli, mengetik sesuatu di Soul Pager-nya. Rangiku menoleh, memandang komandan mungilnya dengan senyum cerah.


"Aku kangen sama Komandan!" serunya seperti menyanyi, membuat sejumlah anak yang melintas memandangnya heran. "Kantor benar-benar sepi tanpa Komandan!"


"Berisik," gertak Toushiro. "Dan jangan peluk-peluk! Memangnya aku boneka?" tambah Toushiro saat Rangiku mengambil ancang-ancang dengan kedua lengannya.


"Komandan lebih imut dari boneka! Jangan tega gitu, ah, Komandan juga kangen aku, ya, 'kan? Kita tidak ketemu hampir sepuluh bulan! Ayo, ngaku aja! Aku senang kok!"


"Tidak. Yang aku senangi adalah jauh dari kemalasanmu."


"Komandan tega~"


"Hm."


"Dan Komandan, bekas luka itu…"


"Sudah kubilang aku tidak peduli!" geram Toushiro jengkel.


"Bagaimana kau bisa tidak peduli pada wajah itu, berkah dari Kami-sama?"


"Mulai ngaco dia," komentar Renji, mengamati celotehan Rangiku pada komandan mungilnya dengan geli; Toushiro menepuk dahinya keras sekali, frustrasi. "Semua hanya karena bekas luka."


"Mau bagaimana lagi, Rangiku-san adalah sumber utama dari pengirim foto Komandan Hitsugaya untuk Seireitei Magazine. Dia salah satu dari tiga besar shinigami pria yang masuk rating terfavorit oleh polling yang dibuat di salah satu rubrik yang diurus Asosiasi Shinigami Wanita," kata Hisagi.


"Kau tahu banyak, ya," komentar Ichigo.


"Aku editor-nya, ingat? Komandan Muguruma tidak mau ambil pusing dengan urusan majalah… Dia sudah repot dengan paperwork, katanya."


Banyak yang melempar tatapan heran komikal ke arah Yumichika.


"'Bekas luka yang pada tempatnya'?" ulang Ikkaku sangat heran. "Seleramu makin aneh saja, Yumichika."


"Apa perlu kuberitahu foto-fotomu adalah barang langka di antara Asosiasi Shinigami Wanita; benda yang rela didapat dengan taruhan nyawa?! Dan sekarang kau membuat nilai seninya jadi berkurang!" Rangiku geleng-geleng kepala dengan berlagak; Toushiro membelalak galak; banyak shinigami menatap sang komandan mungil dengan campuran antara geli dan prihatin. "Tapi jika kau sudah tumbuh jadi laki-laki dewasa, itu cerita lain… Komandan barangkali lebih hot… Dan lingkaran mata itu harus dihilangkan juga! Komandan tambah seram~"


"Tumbuh? Itu butuh waktu beberapa dekade," kata Shinji, menyeringai.


"Atau tepatnya beberapa abad," tambah Ichigo, wajahnya berguncang menahan tawa.


Detik berikutnya Shinji dan Ichigo melayang sampai menghantam dinding sisi lain Aula sampai retak; Toushiro menghantamkan pukulan tepat ke perut keduanya dengan kekuatan yang menakjubkan untuk ukuran sekecil itu. Renji dan Ikkaku berusaha keras untuk tidak tertawa sampai wajah mereka memerah; Soi Fon tampak senang, menggumamkan 'bagus sekali' dengan nada puas; Kensei menggelengkan kepalanya tapi seringai melebar di wajahnya; para penyihir, kecuali Dumbledore terbelalak kaget. Toushiro sendiri langsung bersikap seolah tak terjadi apa-apa, membelakangi dua shinigami yang susah payah bangkit sambil memegangi rusuk masing-masing dengan ekspresi tak peduli. Byakuya dan Ukitake menggelengkan kepalanya.


"Kau mengajarinya, Yoruichi," kata Kensei, pada wanita cantik dengan rambut ungu panjang yang di-ponytail tinggi yang tersenyum riang melihat hidung Shinji yang berdarah karena wajahnya menghantam tembok.


"Dia berbakat!" kata Yoruichi ceria. "Aku lupa bilang sebaiknya jangan mengganggu dia berlebihan, sekarang hoho dan hakuda-nya lumayan bahaya soalnya…"


"Terima kasih peringatannya, Yoruichi," kata Shinji sarkastik, terdengar agak sengau. "Dan kulihat dia masih tak berubah... Galaknya masih ada juga rupany-"


Dan mendadak saja hawa dingin menyapu seluruh aula. Para shinigami memandang Toushiro yang menunduk, wajahnya terhalang poni rambut putihnya. Harry merasa ini hawa yang mirip dengan kehadiran Dementor, hanya saja ada hal lain yang membedakannya begitu jelas. Ada sesuatu yang lebih kuat dari yang dibawa para Dementor, yang membuat sebagian besar anak-anak langsung jatuh berlutut di lantai, dan hawa dingin itu tidak menghembuskan ketakutan dan keputusasaan, melainkan wibawa dan kekuasaan. Lapisan es tipis mulai terbentuk di bawah kaki Toushiro, begitu pula di kaca jendela.


"Komandan Hitsugaya, kendalikan dirimu," kata Byakuya dalam. Dan kemudian, hawa dingin itu perlahan-lahan mulai pudar. Toushiro menghela napas. "Dan Komandan Hirako, berhenti main-main."


"Ya, Yang Mulia," kata Shinji sarkastik. "Mohon maaf, Tuan Muda," tambahnya pada Toushiro.


"Sudah cukup," kata Soi Fon dingin.


"Ara, waktunya pergi, para penjaga-mata-angin," kata Ukitake ramah, pada rekan-rekan shinigami-nya. Para komandan dan letnan yang mendapat tugas jaga itu pun berjalan menuju ke pintu.


Harry melihat Toushiro bergerak cepat, menyambar tangan Momo yang langsung menoleh, agak terkejut. Namun, gadis itu kemudian tersenyum ramah. "Ada apa?"


Untuk beberapa detik, Toushiro hanya memandangnya, tak menyadari kalau wajah Momo sedikit merona atau beberapa penyihir menatapnya ingin tahu.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.


Mata Momo melebar. Ia melihat kecemasan di mata turquoise si rambut putih itu. "Aku tidak apa-apa, Hitsugaya-kun."


"Benarkah?"


Momo mengangguk. "Divisi 4 merawatku dengan baik. Aku sudah sehat sekarang. Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Au ini Letnan, kau tahu itu."


Toushiro menatap Momo penuh selidik, seakan mencari-cari bukti kalau gadis itu tidak baik-baik saja. Namun, Shinji tiba-tiba saja menyeruak di antara mereka, membuat pegangan Toushiro pada Momo terlepas.


"Maaf mengganggu momen romantis kalian," katanya jenaka. "Tapi aku perlu pinjam pacarmu sebagai letnanku untuk mendampingiku, Komandan Hitsugaya."


Ron melongo mendengar hal itu, sementara wajah Toushiro dan Momo merah padam; Toushiro karena jengkel dan Momo karena malu.


"Apa maksudnya itu, Hirako?!" bentak Toushiro berang.


"Aih, aih," Hirako menggaruk belakang kepalanya dengan cuek. "Jangan berteriak begitu, aku mengizinkanmu, kok, untuk mengencani letnanku. Tapi jangan sekarang, ya. Tahan sampai perang ini selesai. Ayo, Momo."


Momo memberi salam sopan dengan wajah merona pada Toushiro, mengikuti atasannya keluar Aula. Toushiro yang masih di tempat tampak kesal luar biasa, menoleh untuk membelalak galak pada Ichigo, Rangiku, dan Yoruichi yang menertawakannya.


"Oh, Shiro-chan sudah besar," kekeh Yoruichi menggoda.


"Tidak ada apa-apa antara aku dan Hinamori!" bantah Toushiro.


"Ckckck… Taicho tidak perlu malu," kata Rangiku ceria.


"Aku benci kalian semua," geram Toushiro.


"Kami tahu, kami juga menyayangimu," kata Rangiku tanpa dosa. Harry tidak tahu harus tertawa atau menahan diri melihat Toushiro menghantamkan dahinya ke dinding beberapa kali dengan frustrasi.

__ADS_1


"Apa Toushiro… benar-benar…?" Hermione bertanya pada Rangiku.


"Oh, aku sendiri juga tidak tahu, sebetulnya," kata Rangiku, berbisik dengan nada riang. "Taicho bukan tipe orang yang terbuka tentang kehidupan pribadinya. Tapi yang kutahu dia sangat perhatian dengan Momo. Entah apa yang sebenarnya, rasanya lucu saja jika melihat wajah Taicho jika kami menggodanya tentang hubungannya itu…"


Saat Toushiro dan Rangiku hampir mencapai pintu ganda itu, langkahnya terhenti karena Neville mendekatinya dengan tampang ragu, bersama Luna yang tampak tenang.


"Ada apa, Longbottom?" tanya Toushiro dalam suara rendah. Beberapa rekan komandannya memandang sekilas; Neville sedikit bergidik saat Byakuya memandangnya dengan mata menyipit. Rangiku yang berdiri di sampingnya memandang Neville dan Luna penuh ingin tahu.


"Temanmu, Komandan?"


"Yeah, semaca-"


"Woohoo!" seru Rangiku riang, membuat beberapa penyihir atau shinigami dalam jarak dengar menoleh. "Komandan punya teman! Komandan Ukitake benar tidak bohong kalau begitu! Wah, ini kabar bagus! Momo juga pasti bakal senang sekali!"


"Abaikan dia," kata Toushiro mengernyit memandang letnannya, "dia hampir selalu bertingkah berlebihan."


"Dia baik," kata Luna, memandang Rangiku yang menari-nari di tempat dengan riang. "Kau beruntung memiliki teman seperti dia. Dia punya elemen yang berlawanan denganmu, tapi kalian saling melindungi satu sama lain."


Toushiro mengerjap. Luna selalu mengejutkannya dengan pandangan-pandangan ganjilnya atas sesuatu. Kadang sulit dipercaya, tapi dibalik kata-katanya itu ada makna. Dan kali ini perkataan Luna memang benar. Rangiku bukan sekedar bawahan di bawah komandonya. Walau tak pernah mengatakannya, Rangiku adalah temannya, sahabatnya, sedikit orang yang ia percaya selain Hyourinmaru.


"Jadi," kata Neville memulai. Ia agak ragu menatap langsung mata Toushiro, "kau… seorang… Death Reaper-Pencabut Nyawa?"


"Secara bahasa shinigami berarti 'Death God', tapi Inggris punya pemahaman berbeda tentang kami," kata Toushiro pelan.


"Aku tak berpikir tentang itu… hanya saja, sulit dipercaya kau…" Neville menelan ludah. Matanya terarah ke katana di punggung Toushiro, membuatnya mengetahui satu hal yang sangat jelas. Toushiro akan bertarung. Bertarung untuk Hogwarts. Untuk melindungi para penyihir, mereka yang diketahuinya selama sepuluh bulan terakhir.


"Kau seorang pejuang," kata Luna, mengutarakan apa yang ada dalam pikiran Neville. Mata Toushiro langsung terarah padanya; Rangiku memandang gadis itu ingin tahu. "Kenapa kau dan teman-temanmu mau mengangkat senjata kalian untuk kami?"


"Ini bukan hanya untuk penyihir," kata Toushiro. "Seorang shinigami mengayunkan pedang untuk tugas mereka."


"Maaf," gumam Neville, menunduk.


Toushiro mengangkat alis. "Untuk?"


"Luka itu… aku…"


"Jangan mulai lagi," kata Toushiro datar, namun Neville membaca nada memperingatkan disana; Rangiku menatap keduanya dengan ingin tahu. "Itu bukan salahmu."


Mendadak saja, seluruh shinigami, yang mana belum semua meninggalkan Aula bersikap waspada; tangan mereka melayang ke arah gagang pedang masing-masing. Para penyihir memandang mereka dengan cemas.


"Ada apa?" tanya Neville bingung. "Apa yang-?!"


Selama sepersekian detik, Toushiro menghilang dari tempatnya berdiri, disertai suara desiran saat haori-nya tersibak dan kilatan perak. Semua mata menoleh, Toushiro sudah ada di belakang Neville, menusuk obyek tak terlihat ke lantai dengan katananya. Es melebar dari tempat ujung pedang itu menancap.


"Ada ap-?!"


Sebagian besar mata sekarang terarah padanya; para penyihir terkejut luar biasa sementara para shinigami waspada. Dan kemudian, es itu memanjang, terus menjalar sampai menuju ke dinding kiri Aula, lalu berbelok ke pintu Aula, membentuk jalur es.


"Hollow," kata Toushiro pelan. "Dia menyembunyikannya nyaris sempurna… Mereka di Hutan Terlarang."


Hening sejenak.


Toushiro menusukkan katananya lebih dalam dan bergumam, "Ryuusenka."


Hawa dingin kembali menyerang, tapi terpusat pada jalur es, yang melesatkan gelombang cahaya putih hingga keluar. Detik berikutnya terdengar raungan memekakkan telinga di kejauhan, sebelum Toushiro menarik zanpakutounya; jalur es itu langsung menghilang dalam kabut keperakan, seperti butiran berlian.


"Ryuusenka jarak jauh? Bahkan tanpa melepas segel Hyourinmaru… Impresif," komentar Kensei.


"Batalkan Rencana A," kata Toushiro segera. "Bawa murid-murid kembali ke Aula."


"Apa?" tanya Sirius kaget.


"Hollow itu tipe penyadap. Walau sudah kuhabisi, dia sudah mengirim informasi ke hollow lain – Arrancar lain." Toushiro mengembalikan Hyourinmaru kembali ke wadahnya. Mengabaikan tatapan ngeri banyak penyihir saat ia mengucapkan 'menghabisi'. "Terlalu berisiko jika tetap menggunakan rencana awal, terutama untuk mengirim mereka," Toushiro mengedikkan kepala ke arah anak-anak, "untuk keluar dari kastil. Mereka bisa saja menjadikan mereka target untuk balik melawan kita."


"Setuju," kata Soi Fon. "Tapi aku tidak yakin Rencana B bisa cukup aman untuk mereka."


"Tambah proteksi di Aula Besar, dengan sihir dan juga kidou, seperti rencana," kata Byakuya datar.


"Kastil ini cukup besar," sela Rukia, "Tidakkah ada kemungkinan ada jalan masuk lain selain gerbang utama? Jalan lain yang mungkin bisa digunakan tanpa terpengaruh proteksi sihir?"


"Yang namanya kastil pasti ada jalan masuk-keluar rahasia, Nona," kata Fred.


"Tapi itu adalah keahlian kami," sambung George.


"Eh?"


"Bicara soal jalan rahasia, kau bertanya pada ahlinya," kata Ichigo, sementara si kembar Weasley tersenyum jenaka.


"Kami akan tunjukkan…" kata George.


"… titik-titik jalan rahasia…" sambung Fred.


"… keluar dan masuk kastil," tutup George.


"Mungkin kita harus menyebar?" usul Lupin. "Dan mempertimbangkan metode komunikasinya? Juga pengawasannya?"


"Harus ada yang tetap di Aula sebagai pusat informasi, kalau begitu," kata Ukitake.


"Untuk pengawasan, mungkin kalian akan butuh ini," kata Harry, mengeluarkan Peta Perampok-nya, membuat semua mata tertuju pada perkamen tua itu.


"Apa itu?" tanya Renji heran. "Apa yang bisa dilakukan perkamen lusuh itu?"


"Itu bukan perkamen lusuh," kata Sirius riang. "Penemuan brilian kami, sebetulnya."


"Jenggot Merlin!" seru Fred dan George bersamaan, memandang Sirius penuh kagum. "Mestinya kami tahu!"


"Apa tepatnya-?" tanya Shinji agak tidak sabar.


"Itu peta sihir yang tak hanya menunjukkan lokasi di area Hogwarts dan sekitarnya, tapi juga menunjukkan semua penghuni yang ada di dalamnya," kata Sirius, sementara Harry membuka lipatan peta itu di atas meja. "Bahkan hantu saja akan muncul di peta ini, mestinya shinigami juga akan tercantum di sana." Sirius mencabut tongkat sihirnya dan mengetukkan ke perkamen itu dan bergumam pelan, sehingga hanya para shinigami yang ada di dekatnya dan beberapa penyihir lain yang bisa mendengarnya, "Aku bersumpah dengan sepenuh hati bahwa aku orang tak berguna."


"Hah?"


"Hanya orang yang cukup rendah hati yang akan mengatakan hal itu," komentar Kensei. "Password cerdas."


"Selamat menggunakan," kata Sirius ramah.


Para shinigami segera melesat keluar untuk memantau para hollow. Ukitake yang tinggal menjadi pusat informasi untuk pergerakan para shinigami dan penyihir, menggunakan kidou sebagai cara berkomunikasi mereka; beberapa anggota Orde dan guru telah menuju titik-titik tempat jalan rahasia untuk memblokirnya agar tak bisa dimasuki musuh. Toushiro juga bersiap pergi, Rangiku berjalan di sampingnya dengan ekspresi serius, sikap ringannya menguap.


"Tunggu." Neville kaget sendiri karena ia berkata begitu sambil menyambar tangan Toushiro. Teman berambut putihnya itu tampak heran.


"Apa lagi? Aku harus segera pergi sekarang," ujar Toushiro.


Neville menatap wajah pucat Toushiro. Ini di luar segala yang ia bayangkan tentang teman pertama yang benar-benar melihatnya. Ia ingin Toushiro mengatakan bahwa semua ini hanya lelucon. Tapi determinasi di kedua iris turquoise itu berkata lain. Toushiro bukan anak biasa. Dia malah mungkin bukan anak-anak lagi. Dia seorang ksatria.


Bagaimana ini semua bisa terjadi? Dan kenapa ia tak melihat ketakutan di mata itu? Kenapa malah dia yang sekarang merasa sangat takut?


"Longbottom…"


Neville melepas cengkramannya. Ia merasa kosong secara mendadak. Yang bisa diucakannya hanya dua kata. "Berhati-hatilah."


Mata Toushiro melebar. Ia mengerti sesuatu. Namun, untuk saat ini bukan situasi yang tepat untuk mencari tahu lebih jauh. Ia berbalik menghadap pintu depan. "Maaf, Longbottom," ujarnya pelan. Dan nadanya langsung berubah tegas saat bicara dengan letnannya. "Ayo, Matsumoto."


Toushiro ber-shunpo pergi lebih dulu. Rangiku mengerjap cepat. Ia menatap Neville sejenak, membuat remaja berwajah bundar itu agak gugup. "Terima kasih sudah jadi teman Komandan."


"Tapi…"


"Jangan cemas," kata Rangiku sungguh-sungguh. "Komandan itu kuat. Dia tidak akan kalah begitu mudah di pertempuran. Dan aku akan berusaha semampuku untuk menjaganya. Sampai nanti."

__ADS_1


Dan Rangiku melesat keluar menyusul komandan mungilnya. Neville hanya terdiam di tempat. Memandang pintu kayu ek Aula Besar yang menelan para shinigami ke kegelapan malam.


__ADS_2