
Pukul setengah delapan, pada malam harinya, Harry, Ron, dan Hermione meninggalkan ruang rekreasi Gryffindor lebih dulu dari anak-anak Gryffindor yang mendaftarkan diri untuk ikut latihan pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam ilegal pertama mereka. Ichigo, Toushiro, Neville, dan Dean menunggu beberapa menit untuk memberi interval pada kepergian mereka, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi orang di luar rencana ini. Sebelum mereka berempat meninggalkan ruang rekreasi, Toushiro melihat Dean melempar tatapan ganjil ke arah Seamus yang tampak murung. Tatapan antara prihatin dan rasa bersalah. Prihatin karena Seamus masih tak mau meruntuhkan egonya untuk melihat Harry secara obyektif. Rasa bersalah karena Dean 'meninggalkannya' untuk belajar Pertahanan pada Harry, yang mungkin malah melukai perasaan Seamus.
Tapi Toushiro tahu, ini hanya soal waktu untuk Seamus mengerti.
"Aku ingin tahu kapan perang dingin Harry versus Seamus berakhir," kata Ichigo pelan, saat mereka berjalan si koridor menuju lantai tujuh. Beruntung mereka tak bertemu dengan siapapun, bahkan Mrs Norris, kucing si penjaga sekolah yang entah bagaimana selalu menampilkan sorotan menuduh yang biasanya muncul secara mendadak. Toushiro juga mengandalkan kemampuannya mendeteksi reiatsu yang mirip dengan energi sihir, mengetahui bahwa mereka dalam kondisi aman. "Kita yang di sekitar mereka 'kan juga jadi korbannya."
"Kau benar," kata Neville pelan. "'Korban' perang-lah yang paling menderita, eh? Kuharap tidak akan lama. Rasanya ganjil sekali kalau teman seasrama bertengkar begitu…"
Mereka akhirnya tiba di koridor kosong lantai tujuh. Mereka berempat menghadapi dinding kosong di seberang permadani hias yang menggambarkan usaha tak berguna Barnabas the Barny yang mengajari troll menari balet.
"Jadi, sekarang kita di sini," kata Ichigo, memandang teman-temannya. "Apa kata Harry? Lewati dindingnya tiga kali dan konsentrasi pada apa yang kita butuhkan…"
Mengabaikan salah satu troll di permadani hias yang berhenti dari usahanya memukuli guru baletnya, keempat murid Gryffindor itu berjalan tiga kali melewati koridor kosong itu; dari jendela di ujung lorong sampai vas besar yang bahkan lebih tinggi dari Ichigo yang jangkung. Tepat ketika Neville yang terakhir menyelesaikan putarannya, pintu tinggi berpelitur muncul di dinding kosong itu.
"Wow," bisik Dean pelan, namun matanya waspada.
"Yeah, wow."
Keempat pemuda itu menoleh. Ginny, Luna, Parvati, dan Lavender baru saja tiba. Gadis-gadis itu memandangi pintu berpelitur itu dengan takjub.
"Kalian sudah membukanya, ternyata," kata Ginny riang. "Itu artinya kami tidak perlu mondar-mandir seperti yang dikatakan Harry, seperti orang gila."
Toushiro mendelik pada Ginny yang melangkah lebih dulu melewati mereka, bersama Lavender dan Parvati yang terkikik geli. Luna hanya tersenyum.
"Perempuan lebih dulu, hm," kata gadis berambut pirang itu kalem.
"Entah kenapa rasanya dia mengingatkanku pada seseorang," gerutu Ichigo, setelah para gadis masuk ke Kamar Kebutuhan lebih dulu.
"Kuchiki?" gumam Toushiro.
"Paling tidak dia tak sebrutal dia."
Akhirnya mereka menyusul para gadis memasuki Kamar Kebutuhan itu. Ruangan itu luas dengan dinding berstruktur serupa dengan ruangan pada umumnya di kastil itu. Obor-obor menyala, menerangi seluruh ruangan, yang dinding-dindingnya berderet diisi oleh sejumlah rak buku. Ruangan itu juga ditebari oleh bantal-bantal sutra empuk alih-alih kursi. Selain itu satu set rak di ujung ruangan yang lain berisi berbagai peralatan ganjil yang ditebak Toushiro adalah alat-alat detektor ilmu hitam.
"Wah, ini keren," komentar Dean antusias. Ia menunduk untuk mengamati Teropong-Curiga, sementara yang lainnya memilih duduk di bantal-bantal sutra sambil mengamati sekitar mereka dan menunggu anak-anak lain tiba. Ichigo melihat mata Toushiro dengan tajam meneliti ruangan itu. tak salah lagi, komandan mungil itu tengah menyelidiki cara kerja ruangan itu. Mungkin setelah pertemuan ini usai Toushiro akan melakukan riset kecil tentang Kamar Kebutuhan ini.
Akhirnya, pada pukul delapan tepat, semua anak telah menempati semua bantal sutra di lantai. Harry berjalan ke pintu untuk menguncinya, lalu menghadapi teman-temannya.
"Nah, ujar Harry agak gugup. "Ini tempat yang kami temukan untuk berlatih, dan kalian – eh – berhasil menemukannya."
"Fantastis sekali!" puji Cho, dan beberapa anak bergumam setuju.
"Ini aneh sekali," kata Fred, memandang berkeliling sambil mengernyit. "Kami pernah bersembunyi dari Filch di sini, ingat, George? Tapi dulu ini cuma lemari sapu."
"Nah," kata Harry, "aku sudah memikirkan apa yang harus kita lakukan lebih dulu dan – eh – apa, Hermione?"
Tangan Hermione teracung ke atas ternyata. "Menurutku kita harus memilih pemimpin."
"Harry pemimpin kita," kata Cho segera, memandang Hermione seakan dia sinting.
"Aku setuju dengan Granger," kata Toushiro, membuat semua anak memandangnya. "Dengan voting, kita secara resmi memilih Potter sebagai pemimpin, yang akan membuatnya punya kekuasaan di sini."
"Jadi, siapa yang setuju Harry jadi pemimpin kita?" Tanya Ichigo kalem, mengangkat tangannya sendiri. Toushiro juga mengangkat tangannya, begitu pula anak-anak yang lain, sekalipun Zacharias Smith tampak agak enggan. "Hebat. Selamat Harry," cengir Ichigo.
"Eh, trims," ujar Harry, tersenyum canggung. "Apa lagi, Hermione?" tanya Harry, melihat tangan Hermione masih teracung.
"Menurutku kita harus punya nama," kata Hermione riang. "Itu akan meningkatkan semangat dan rasa persatuan tim!"
"Bisakah kita jadi Liga-Anti-Umbridge?" tanya Angelina penuh harap.
"Atau Grup Kementerian Sihir *****?" usul Fred.
"Tidak. Persatuan Konspirasi Anti-Teori Slinkhard lebih keren," ujar George.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Association of Dumbass Dumbridge-Haters?" tanya Ichigo.
"Ada nama lain yang lebih hancur?" tanya Toushiro datar, sementara banyak anak tertawa kecil.
"Yang kubayangkan," kata Hermione serius, "adalah nama yang tak mengungkap apa yang kita lakukan, supaya kita bisa menyebutnya dengan aman di luar pertemuan."
"Latihan Duel," usul Cho Chang. "Disingkat LD agar tak ada yang tahu apa yang kita bicarakan.?"
"Yeah, LD boleh juga. Hanya saja itu singkatan dari Laskar Dumbledore, karena itu yang paling ditakuti Kementerian, 'kan?"
Terdengar banyak gumam dan tawa setuju. Dengan riang Hermione mengambil perkamen dengan tanda tangan semua anggota dan pena bulu. Ia lalu menuliskan nama grup itu dengan huruf kapital di bagian atasnya: LASKAR DUMBLEDORE.
"Baik," kata Harry setelah Hermione duduk. "Kita bisa mulai latihan pertama kita, kurasa. Menurutku kita mulai dari yang paling mudah, Mantra Pelepas Senjata – Expelliarmus. Aku tahu ini mantra yang dasar sekali, tapi dari pengalamanku, mantra ini benar-benar berguna…"
"Aku sudah menggunakannya untuk melawannya," kata Harry pelan. "Mantra itu menyelamatkan nyawaku bulan Juni lalu."
Smith ternganga *****. Seluruh ruangan menjadi sunyi.
"Kalau kau merasa mantra itu tak berguna untukmu, kau tahu di mana pintunya," kata Harry lagi, agak lebih dingin. Namun tak ada yang bergerak pergi dari tempat itu. "Baiklah. Kita berpasangan dan mulai berlatih."
Semua anak langsung bergerak; bangkit berdiri dan mencari partner masing-masing. Seperti yang diduga Harry, Neville tidak mendapat pasangan; Toushiro berpasangan dengan Ichigo.
"Kau bisa berlatih denganku," kata Harry kepadanya.
Kemudian, ruangan itu dipenuhi teriakan Expelliarmus. Tongkat-tongkat sihir beterbangan ke segala arah; mantra-mantra yang salah sasaran mengenai obyek-obyek di dalam ruangan itu, contohnya mantra yang menabrak rak buku dan menumpahkan isinya ke lantai.
Harry akhirnya memutuskan untuk berkeliling, memberi arahan pada teman-temannya yang melakukan kekacauan, meninggalkan Neville untuk berlatih bersama Ron dan Hermione.
Hampir tak ada yang bisa dikritik dari performa Toushiro dan Ichigo. Sekalipun keduanya masih tergolong baru dengan sihir, keduanya bisa melakukan Expelliarmus dengan sangat baik. Bergantian, mereka melucuti senjata partnernya. Hanya saja, Ichigo perlu lebih konsentrasi untuk tidak membuat rambut Toushiro rebah seperti terguyur air; selain wajah pucat si rambut putih jadi seperti dipaksa minum Skele Gro, gaya-rambut-menuruti-gravitasi tidak cocok untuknya.
Fred dan George juga oke, terbukti keduanya masih punya waktu untuk mengusili Zacharias Smith. Luna Lovegood harusnya bisa melucuti tongkat sihir Justin Finch-Fletley jika ia tidak terlalu antusias sampai menyebabkan jubah Justin membelit pemiliknya sendiri. Namun selebihnya, kacau balau. Harry membutuhkan peluit yang ditiupkannya dengan nyaring untuk menghentikan sementara, memberi beberapa saran, dan meminta mereka mempraktekkannya lagi sebelum diuji olehnya.
Hingga akhir pelajaran, pada pukul sembilan lewat sepuluh menit, semuanya telah berhasil melakukan Mantra Pelepas Senjata dengan benar. Yang harus diperhatikan hanyalah konsentrasi dan lebih banyak berlatih.
"Lebih cepat!" seru Dean bersemangat, dan banyak anak mengangguk setuju.
"Musim pertandingan Quidditch sudah dimulai dan kita harus berlatih," sanggah Angelina.
"Hari Rabu malam, kalau begitu," tegas Harry, "kita bisa putuskan hari tambahan setelah itu."
Dan kemudian, mereka keluar dari Kamar Kebutuhan, bertiga atau berempat, untuk menghindari kecurigaan. Golden Trio maasih tinggal untuk memastikan mereka kembali ke ruang rekreasi masing-masing asrama. Harry menatap ke depan, mendapati Ichigo dan Toushiro masih ada di tempat.
"Lho? Kalian tidak kembali?" tanya Hermione heran.
"Kami masih mau menyelidiki tempat ini," kata Ichigo. "Sebenarnya Toushiro, sih. Kalian kembali saja duluan."
"Menyelidiki tempat ini? Kamar Kebutuhan?' tanya Ron.
"Yap," kata Ichigo.
Golden Trio bertukar pandang.
"Memang kalian mau ngapain?" tanya Ron penasaran.
"Hanya ingin tahu apa tempat ini bisa dipakai buat latihan kami," kata Ichigo kalem. "Lebih baik tidak lihat, itu bisa berbahaya."
"Baiklah. Tapi hati-hati kembalinya, ya. Filch bisa mendamprat kalian," kata Harry.
"Jangan cemaskan kami," kata Ichigo santai. "Oh, ya, terima kasih untuk pelajarannya. Tadi asyik sekali."
"Yah, bagus juga," kata Toushiro, memandang galak si rambut jingga. "Tidak masuk hitungan dengan yang kau lakukan pada rambutku."
"Gitu aja ngambek…"
__ADS_1
Namun Ichigo langsung memalingkan wajah dari tatapan sangar Toushiro. Tak punya pilihan lain, Golden Trio pun pergi meninggalkan duo shinigami itu.
"Nah," kata Ichigo memulai, begitu pintu menutup di belakang Hermione, "mau apa kau sekarang?"
Toushio memandang ruangan luas di sekitarnya. "Pikirkan, Kurosaki. Tempat ini akan memberikan apa yang kita butuhkan…"
"Termasuk jika kita perlu ruang latihan berlapis kekkai seperti yang di bawah kantor Urahara, tanpa ketahuan siapapun! Eh, kira-kira kamar ini bisa membawa kita ke Hueco Mundo atau Soul Society tidak, ya?"
"Kurasa tidak. Mekanisme perpindahan antar dimensi tidak sesederhana itu untuk diproses secara sihir. Aku yakin, sihir sekalipun juga punya batasan. Meskipun begitu, ide ruangan yang bisa memeberikan apapun yang dibutuhkan penemunya cukup impresif bagiku."
"Wah, kau bisa memuji juga, ternyata," komentar Ichigo, nyengir.
"Kurosaki, kau bisa kembali ke ruang rekreasi lebih dulu."
Ichigo menatap Toushiro dengan kaget. "Apa?! Kukira kita akan latihan bareng?!"
"Tidak. Aku hanya ingin bicara dengan Hyourinmaru dengan menggunakan jinzei."
Ichigo ternganga selama beberapa detik. Sementara itu, Toushiro telah duduk bersila dalam wujud shinigami-nya; katana panjang bernama Hyourinmaru itu telah berada dalam pangkuannya. Toushiro diam, menatap Ichigo yang berdiri di depannya seakan baru ditampar.
"Kalau cuma jinzei kau bisa lakukan itu di ruang rahasia Urahara-san!" kata Ichigo. Sialan, tadi sikap Toushiro serius sekali untuk mengatakan kalau dia akan tinggal sebentar di Kamar Kebutuhan ini. Mana dia tahu kalau si rambut putih itu hanya mau berkomunikasi dengan roh zanpakuto-nya.
Tunggu…
Ichigo menatap Toushiro dengan curiga. Yang ditatap malah balas menatapnya dengan kalemnya. Kalau Ichigo tak segera menghentikan adu tatap itu, bisa dipastikan ia akan kalah karena ia kalah pengalaman. Lagipula Ichigo bisa melihat ada keganjilan di mata itu.
Toushiro merahasiakan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Ichigo. "Jika hanya melakukan jinzei saja kau memilih menjauhi Urahara-san, itu berarti kau tidak ingin dia tahu, ya 'kan?"
Toushiro mengangkat sebelah alisnya. "Kau mengejutkanku, Kurosaki. Tak kusangka kau berpikir begitu."
"Jadi benar? Memangnya ada apa, sih?"
"Bukan apa-apa. Ini hanya antara aku dan Hyourinmaru. Orang luar tidak perlu tahu."
Toushiro mendengus pelan melihat kedutan samar di pelipis Ichigo. Ia tak perlu memberi tahu Ichigo alasan kenapa ia memilih Kamar Kebutuhan dan bukannya ruang rahasia yang disediakan Urahara dengan murah hati. Ichigo benar, ia tak ingin mantan Komandan Divisi 12 ataupun Mantan Komandan Divisi 2 itu tahu apa yang ingin dia lakukan secara pribadi.
Ichigo menghela napas. "Baiklah. Terserah kau saja mau ngapain. Tapi apapun itu, jangan memaksakan diri."
"Hm." Hanya itu sahutan Toushiro. Ichigo pun berbalik pergi.
"Jangan beritahu siapapun, Kurosaki," kata Toushiro mengingatkan, saat Ichigo akan menutup pintu Kamar Kebutuhan.
"Iya. Rahasia aman. Sampai nanti."
Pintu terbanting menutup. Toushiro menarik napas pelan, lalu memejamkan matanya, membiarkan pikirannya memasuki inner-worldnya. Kamar Kebutuhan ini akan aman untuknya bicara dengan Hyourinmaru. Ia membutuhkan tempat yang memblokir reiatsu sedingin esnya hingga keluar, dan Kamar ini telah memberikannya.
'Master.'
Toushiro menatap mata merah darah sang naga es yang berdiri menjulang di depannya dengan sayap terentang penuh keangkuhan. Sekalipun menampilkan kesan berwibawa, Hyourinmaru tahu bahwa di inner world ini bukan ia yang berkuasa sepenuhnya. Separuh padang es ini juga milik Toushiro Hitsugaya. Saat ini, master mungilnya berdiri dengan tatapan yang sangat ia kenal. Tuntutan.
Toushiro Hitsugaya menginginkan kekuatan.
'Sudah waktunya, Hyourinmaru,' kata Toushiro.
'Ya, Master.' Hyourinmaru menunduk. 'Waktunya untuk anda membiasakan diri dengan kekuatan kita yang sesungguhnya.'
Ichigo melangkah cepat di sepanjang koridor menuju Menara Gryffindor. Ia tak ingin memperbesar kemungkinan jika ia tertangkap basah oleh Argus Filch dengan alasan berkeliaran lewat dari jam malam. Setelah menyebutkan kata kunci untuk si Nyonya Gemuk, Ichigo memasuki ruang rekreasi yang mulai lengang. Daripada langsung naik ke kamar anak laki-laki, ia memilih mengenyakkan diri ke kursi berlengan tua di dekat perapian, mengabaikan beberapa anak kelas tujuh yang sepertinya begadang untuk menyelesaikan tugas kelas mereka.
Pikirannya dipenuhi rasa penasaran. Ya. Ia sebenarnya ingin tahu apa gerangan yang dilakukan Toushiro sampai ia tak ingin Urahara, Yoruichi, dan dia mengetahuinya. Apakah ia tengah berlatih teknik tertentu yang berbahaya?
Ichigo menggeleng dalam hati. Kalaupun berbahaya ia yakin Hyourinmaru tak akan membiarkan master yang disayanginya itu bunuh diri dengan cara itu.
__ADS_1
Ichigo menghela napas. Ia menyadari kalau apa yang dilakukan Toushiro sama sekali bukan urusannya, apalagi jika tentang ia dan Hyourinmaru. Ichigo mengenali apa yang ada di mata turquoise Toushiro, keinginan untuk menjadi kuat. Bukankah dulu ia sendiri juga begitu? Tidak pulang sampai seminggu untuk melatih inner hollow-nya bersama para Vizard? Semua orang pasti punya cara sendiri untuk menjadi kuat. Lagipula Toushiro Hitsugaya adalah seorang komandan. Di balik tubuh anak-anaknya, Toushiro memiliki pikiran, emosi, dan sikap orang dewasa. Yang bisa dilakukan Ichigo sebagai sahabat-baik-yang-terkadang-tak-dianggap adalah menunggu, melihat, dan mendukungnya.