
Tentu saja ada beberapa hal yang terjadi selama sisa liburan di Grimmauld Place nomor 12. Mereka meneruskan pekerjaan bersih-bersih rumah tua itu. Saat burung hantu sekolah datang membawa daftar buku untuk anak-anak Weasley, Harry, dan Hermione, seekor burung hantu membawa pemberitahuan khusus dan juga keperluan sekolah untuk dua shinigami itu. Jadi, sore hari setelah burung hantu itu datang, Ichigo dan Toushiro pergi ke Diagon Alley, setelah Toushiro berhasil merampungkan setengah dari gunungan paperwork super banyak – bahkan Mr Weasley yakin laporannya dalam setahun hanya separo dari seluruh laporan yang dikirimkan untuknya - untuk berbelanja bersama Mrs Weasley. Dan berbelanja itulah yang cukup 'berkesan', karena bagi keduanya itu bukan jenis aktivitas favorit mereka. Dengan pengalaman Toushiro bersama Rangiku dan Ichigo dengan adiknya, mereka cukup mengerti belanja tidak cocok dengan mereka yang bergender laki-laki.
Beberapa peristiwa saat belanja jelas tak akan mereka lupakan. Ichigo harus mati-matian menahan tawa di depan Toushiro yang wajahnya berkeriut kesal seperti saat Yachiru merengek minta permen padanya sambil memanggilnya dengan sebutan 'Snowy'. (Ichigo selalu heran kenapa Letnan Divisi 11 itu selalu lolos dari kemurkaan Toushiro, tapi setelah dipikir pastilah Toushiro tak mau ambil risiko duel dengan Kenpachi. Bukan karena ia takut, tapi karena setelah duel, ada lebih banyak paperwork dan menipisnya kas masing-masing divisi sebagai dampak 'pertandingan persahabatan' itu.) Saat membeli jubah di Madam Malkin, si pemilik toko mengomentari betapa kecilnya Toushiro, bahkan untuk ukuran kelas satu. Madam Malkin tak menghiraukan penjelasan Toushiro bahwa ia anak kelas lima, dan dengan sangat aneh ia meyakinkan diri bahwa Ichigo adalah kakak si komandan mungil itu, menyarankan agar Ichigo – yang mengangguk mengiyakan sambil bergetar menahan tawa – menjaga 'adik laki-lakinya' dengan baik dan memastikan dalam pengawasannya. Padahal, yeah, siapapun tahu tak ada sedikitpun kemiripan sifat dan fisik di antara keduanya, kecuali satu hal, kekeraskepalaan. Tampaknya poin yang satu itu bakal dimiliki siapa saja yang berhubungan dengan Isshin Shiba yang sekarang menjadi Isshin Kurosaki.
Mereka juga tidak lupa saat ke Florrish and Blotts untuk membeli buku-buku sihir. Terutama, pada bagian membeli Buku Monster tentang Monster. Si manajer terperanjat saat Ichigo mengatakan mereka membutuhkan dua buku. Tak bisa mereka enyahkan dari pikiran bagaimana si manajer bergulat untuk mengikatkan si buku yang mengatupkan sampul seperti buaya mengatupkan moncongnya dengan agresif, dengan seutas tali. Well, itu 'Buku Monster tentang Monster', lagipula.
Nah, bagian tak terlupakan tentu saat membeli tongkat sihir. Ollivander terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada keduanya. Baik Ichigo maupun Toushiro memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan tongkat sihir masing-masing; Toushiro membutuhkan waktu lima belas menit dan dua puluh tiga tongkat percobaan dan lampu gantung pecah disertai badai salju di dalam ruangan untuk mendapatkan tongkat sihir yang cocok. Kayu cherry, tiga puluh setengah senti dengan inti nadi jantung naga menjadi 'jodohnya'. Tongkat sihir berwarna putih dengan pegangannya yang berwarna icy blue membuat badai mereda dalam pusaran salju keperakan sebelum menghilang. Sementara itu, Ichigo mendapatkan tongkat sihir berwarna hitam legam dari ebony, tiga puluh dua senti, dengan inti bulu phoenix dalam percobaan ke dua puluh tujuh, memecahkan kaca depan toko dan menjatuhkan satu rak tongkat sihir untuk mendapatkannya.
Sekembalinya dari Diagon Alley, Ichigo juga kembali rajin menghapalkan beberapa mantra kidou nomor rendah, dan menjadikan salah satu kamar besar di lantai dua sebagai tempat latihan. Kamar itu belakangan diketahui sebagai kamar orangtua Sirius. Namun sang pewaris rumah sama sekali tak keberatan, justru senang saat melihat mantra Hadou ke-4 : Byakurai yang ditembakkan Ichigo meleset dari papan sasaran dan membakar panji-panji Slytherin besar di dinding kamar – sebenarnya Sirius menyalaminya dan sangat berterimakasih. Sirius juga tak ambil pusing saat Ichigo tanpa sengaja melubangi – baca, menghancurkan - pintu kamar saat merapal mantra Shakkahou untuk pertama kalinya (padahal Toushiro tampak sangat tidak senang, membuat Ichigo harus begadang semalaman untuk menghapal mantra setelah meditasi selama tiga jam untuk dites lagi keesokan harinya). Belakangan intensitas kerusakan semakin berkurang karena Toushiro turun tangan melapisi kamar dengan kidou, walau bunyi ledakannya sama sekali tak bisa disembunyikan dari seluruh rumah. Namun, seluruh penghuni Grimmauld Place nomor dua belas sudah maklum dengan hal itu. Jika terdengar dentuman ledakan, asap yang menguar, dan getaran di seluruh dinding rumah, itu berarti Ichigo sedang praktek kidou.
Dan akhirnya, hari keberangkatan ke Hogwarts. Di luar dugaan kedua shinigami itu, suasana hiruk pikuk mewarnai pagi itu. Toushiro dan Ichigo sudah mempersiapkan keberangkatan sejak jauh-jauh hari, hanya tinggal mengepak peralatan sihir mereka; Ichigo harus diomeli setengah jam oleh Toushiro untuk membereskan sisa barang-barangnya yang bertebaran di kamar keduanya karena si rambut jingga yang terlalu asyik melatih kidou mengabaikan hal lain termasuk kerapian yang dijunjung tinggi oleh si komandan Divisi 10. Keduanya sekarang berdiri di aula bersama koper-koper mereka dan sangkar berisi burung hantu elang mereka yang bertengger diam nan anggun, menonton keramaian dengan sweatdrop komikal di pelipis mereka. Mrs Weasley bolak-balik aula-dapur sambil membawa nampan berisi sandwhich sarapan sambil meneriakkan instruksi pada anak-anaknya, memastikan tak ada bawaan yang tertinggal. Fred dan George berteriak untuk menambah suasana, mencari-cari dimana pasangan kaus kaki atau jubah mereka. Tonks yang keluar rumah lebih dulu secara ceroboh menabrak jatuh tempat payung kaki troll, membuatnya jatuh dengan bunyi kelontang keras, memicu bangunnya lukisan Mrs Weasley. Tak ada yang mau repot-repot mendiamkannya, karena mereka semua terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.
Puncak dari kericuhan ini adalah saat si kembar Weasley menyihir koper-koper mereka menuruni tangga agar mereka tak perlu susah-susah mengangkatnya. Akan tetapi, koper-koper itu tak sengaja menabrak Ginny yang ada di bawahnya, membuat gadis itu jatuh terguling sampai ke aula. Toushiro dan Ichigo langsung dengan sigap memeriksa Ginny. Pengetahuan Ichigo sebagai relawan dadakan di klinik ayahnya cukup membantu mengidentifikasi kemungkinan cedera, sehingga Toushiro bisa langsung menangani dengan kidou penyembuhannya. Mrs Weasley memarahi si kembar habis-habisan karena hal ini.
"Tinggalkan koper dan burung hantu kalian!" kata Mrs Weasley keras, mengalahkan umpatan-umpatan Mrs Black setelah semuanya telah berkumpul di aula. "Alastor akan mengurus barang-barang-Oh, astaga, Sirius, Dumbledore bilang tidak!"
Seekor anjing besar mirip beruang muncul di sebelah Harry, melompati koper-koper dengan lincah. Jika bukan karena mereka mengenal Yoruichi Shihouin yang bisa berubah menjadi kucing, transformasi macam ini akan sangat mengejutkan kedua shinigami.
"Ya ampun..." desah Mrs Weasley putus asa. "Yah, risikonya kau tanggung sendiri!"
Mereka pun keluar dari rumah keluarga Black, memasuki cahaya matahari suram bulan September. Pintu terbanting menutup di belakang mereka, memotong pekikan-pekikan Mrs Black.
Tak banyak yang terjadi selama perjalanan ke King Cross. Sirius menghibur Harry dengan berlarian mengejar sepasang kucing. Dan Tonks tampak asyik berbincang dengan Ichigo tentang sekolah Muggle-nya di Karakura, walau sesekali matanya menyapu tempat area berjalan mereka dengan waspada, sama dengan Toushiro.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di King Cross. Mereka lalu bergiiran dan berpasangan bersandar pada tembok penghalang, dan tiba di sisi lain stasiun secara sihir, di peron sembilan tiga perempat. Hogwarts Express yang berwarna merah terang mengepulkan asap berjelaga di atas peron yang dipenuhi para pelajar dan keluarga yang mengantar mereka.
__ADS_1
"Wow, klasik," komentar Ichigo, memandang gerbong-gerbong baja yang mulai diisi oleh para siswa dan bawaan mereka. "Jepang sudah tidak punya kereta api begini."
"Oh, ya?" tanya Ron tertarik. "Apa yang kalian punya, kalau begitu?"
"Kereta listrik," sahut Ichigo. "Dengan kecepatan lebih dari lima ratus kilometer per jam. Jadi siapa saja yang naik kereta bisa tiba dengan cepat. Efisiensi waktu, soalnya."
"Untung Dad berangkat kerja pagi-pagi sekali," kata Ginny. "Kalau tidak dia akan menahanmu disini dan bertanya seperti maniak tentang kereta listrikmu itu."
Toushiro dan Ichigo terpisah dari anak-aanak Weasley dan Harry dan Hermione saat mereka menaiki gerbong. Tapi keduanya tahu itu bukan sesuatu yang perlu dicemaskan. Lagipula Toushiro bisa merasakan reiatsu mereka yang telah berada satu kereta dengan mereka.
Ichigo mengikuti Toushiro memasuki sebuah kompartemen kosong, membawa serta koper-koper dan kandang burung hantu mereka. Setelah meletakkan koper di rak atas kompartemen, Toushiro mengambil tempat duduk di samping jendela, dan Ichigo di seberangnya, mengamati kesibukan di peron di luar sana.
Keheningan di antara mereka dipecahkan oleh terbukanya pintu kompartemen, disusul masuknya serombongan bocah penyihir. Yang paling depan adalah remaja laki-laki dengan rambut pirang pucat dan dagu runcing, wajahnya angkuh bukan main. Ia diapit oleh dua orang anak laki-laki lain dengan tubuh besar dan tampang *****. Satu-satunya gadis di antara mereka, gadis berambut pendek dengan wajah seperti anjing pug membelalak pada Icigo dan Toushiro.
"Kompartemen ini milik kami," kata gadis itu dingin.
"Ya," sahut Toushiro pendek.
Senyum angkuh melebar di wajah pucat itu. "Aku dengar tentang kalian dari ayahku. Dia punya koneksi bagus dengan Kementerian Sihir. Namaku Draco Malfoy."
Draco memperkenalkan semua teman-temannya pada Ichigo dan Toushiro. Ia mengambil tempat duduk di samping Toushiro, sementara pemuda jangkung-tapi tidak setinggi Ichigo-duduk di samping si rambut jingga. Dan, tak lama kemudian kereta api itu mulai melaju meninggalkan peron, dan Draco memulai cerita liburan musim panasnya, kalau dia tur ke Prancis untuk melihat-lihat sejarah sihir di sana.
Dari ekspresi kaku Toushiro yang menatap pemandangan lewat jendela, Ichigo tahu tak ada satupun isi cerita itu yang sesuai dengan selera Toushiro. Draco begitu menyombongkan kemewahan yang dimilikinya, mengagungkan kebangsawanan dan kesempatan yang didapatnya untuk mengunjungi tempat-tempat high class itu. Dan kemudian, kepala Draco menoleh ke arah pemuda di sampingnya.
"Aku tahu kalian baru di Inggris ini, juga dengan adatnya. Tapi, ada yang mau kutanyakan pada kalian, jika kalian tidak keberatan."
__ADS_1
Toushiro hanya diam, sedangkan Ichigo mengangkat bahu. Draco menganggap itu sebagai persetujuan.
"Well, apa orangtua kalian penyihir juga?"
Toushiro dan Ichigo bertukar pandang.
"Well," kata Ichigo memulai, "ayahku, eh, penyihir, begitu juga ibuku."
"Darah murni?" tanya Draco penuh selidik.
"Yeah."
Draco memandang Toushiro, menuntut jawaban, yang diberikan dengan datar oleh si rambut putih, "Tak punya orangtua."
Sebelum Draco membuka mulut untuk bicara, Ichigo langsung buru-buru berkata, "Itu bukan topik favoritnya, percaya padaku."
"Aku cuma ingin tahu," gerutu Draco. Ia beringsut sedikit menjauhi Toushiro.
"Dia tinggal dengan pamannya yang eh, Kepala Departemen di, yah, semacam Kementerian Sihir kalau disini."
"Pamannya Darah Murni?" tanya Pansy ingin tahu.
Bicara Darah Murni melulu!
"Yep," sahut Ichigo pendek.
__ADS_1
"Bagus kalau begitu," kata Draco angkuh. Sekilas Ichigo menangkap tatapan meremehkan Draco pada Toushiro. "Kalau pamanmu Darah Murni, kemungkinan begitu juga statusmu. Seharusnya memang begitu, 'kan. Aku yakin kalian sependapat denganku (Tentu saja tidak, adalah sahutan Ichigo dan Toushiro, dalam pikiran mereka) kalau mereka yang ber-Darah Lumpur tak sepantasnya ada di Hogwarts. Mereka menodai sejarah dan…."
Kedua shinigami itu mengosongkan pikiran mereka daripada mendengarkan ocehan Draco yang berlangsung berjam-jam kemudian. Pemuda Slytherin itu mengeluarkan pendapat angkuhnya tentang bagaimana seharusnya Dunia Sihir bebas dari para kotoran bernama 'Darah Lumpur'. Ichigo memandang Draco, walau tatapannya kosong, sementara Toushiro, well, dia tertidur bersandar ke jendela, hasil terjaga sampai jam dua pagi untuk menyelesaikan sisa laporan divisinya yang sudah dikirim ke Seireitei via Kupu-Kupu Neraka. Menurut Ichigo itu bukan posisi yang nyaman, karena getaran kereta pastilah sangat mengganggu jika pelipismu menempel di pinggiran bingkai jendela. Tapi karena Ichigo mengenal si komandan mungil yang bahkan punya kebiasaan tidur di atap, pastilah itu bukan masalah untuknya. Yeah, mending diganggu bunyi kereta daripada suara licin yang diulur-ulur Draco Malfoy.