Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 6


__ADS_3

Ichigo membangunkan Toushiro setelah Draco memberitahu mereka bahwa kereta akan segera berhenti dan mereka harus berganti pakaian ke seragam Hogwarts mereka. Toushiro langsung terbangun, dengan sikap waspada seakan-akan ada yang menyerangnya dengan pedang menempel di lehernya.


"Refleks bagus," gerutu Ichigo, setelah Toushiro melepaskan cengkraman di lehernya. "Tapi aku bersumpah sepenuh hati aku tidak akan membunuhmu, Brother."


"Hanya reaksi-"


"Paranoid," potong Ichigo segera, membuat Toushiro yang tadinya mengucek matanya dengan punggung tangannya yang terkepal – mirip sekali dengan anak kecil – langsung mengernyit galak padanya. Hilanglah kesan innocent itu, seketika. Untung Draco dan kroni-kroninya sedang berganti pakaian di toilet dan tidak melihat aksi kedua shinigami itu. "Kita harus pakai seragam sekarang. Kereta hampir sampai."


"Tunggu, kau tadi panggil aku apa?" tanya Toushiro dengan alis terangkat dan mata menyipit tajam. Tanda bahaya. Ichigo langsung menyambar jubahnya dan keluar kompartemen, tak ingin didamprat lagi.


Akhirnya, sekitar sepuluh menit kemudian, kereta mulai melambat dan terdengar keributan saat anak-anak mulai bangun untuk mengambil koper-koper dan binatang piaraan mereka, siap turun. Draco dan Pansy memimpin teman-teman Slytherinnya untuk keluar lebih dulu karena dia adalah Prefek. Kereta pun benar-benar berhenti, dan baik Ichigo maupun Toushiro menyeret koper masing-masing keluar dari kompartemen; Ichigo menenteng sangkar Miko, burung hantu elang mereka.


Angin musim panas yang terguyur hujan malam itu menyambut mereka saat menuruni kereta, mengikuti anak-anak Hogwarts lain memenuhi peron. Bau pohon-pohon pinus segar yang berjajar sampai ke danau tak jauh dari tempat itu memenuh udara. Toushiro melihat Harry dan Ginny, lalu menjawil Ichigo untuk mengikuti mereka, menjauhi anak-anak kelas satu yang berkumpul ke arah danau.


Mereka sampai di luar stasiun, bersama rombongan besar siswa-siswa lainnya. Di sana berderet sekitar seratus kereta kayu yang akan membawa mereka ke kastil. Makhluk-makhluk ganjil berdiri di antara kuk penyambung kereta. Makhluk itu menyerupai kuda, dengan nuansa reptil yang sangat jelas. Mereka kurus dan berbulu hitam. Sayap hitam yang menyerupai sayap kelelawar muncul di punggung mereka, dan mata besar, putih, dan tanpa pupil memandang kosong ke depan sementara mereka berdiri diam, menunggu anak-anak yang tampaknya acuh saja pada kehadiran makhluk itu.


"Apa itu?" tanya Ichigo heran; salah satu dari makhluk itu, yang paling dekat dengannya menolehkan kepala reptilnya ke arah si rambut jingga.


"Thestral, menurut deskripsinya dalam Hewan-Hewan Fantastis dan Dimana Mereka Bisa Ditemukan, halaman seratus sembilan puluh empat," kata Toushiro datar.


Ichigo memandang Toushiro mendapati mata turquoise itu berkilat cerdas, sedang memandang pada kuda ganjil. Sungguh, apakah si mungil itu menelan semua isi buku-buku sihir yang mereka punya?


Mereka akhirnya naik ke dalam salah satu kereta. Bau jerami lama yang apak memenuhi bagian dalam kereta yang gelap. Bersama mereka masuk tiga anak kelas dua yang bertampang malu-malu. Tak ada yang bicara sampai kereta bergerak ke arah kastil yang terang benderang.


Kereta bergemerincing dan berhenti di dekat undakan batu yang menuju pintu depan dari kayu ek. Anak-anak kelas dua itu turun lebih dulu, baru kedua shinigami itu. Menarik koper mereka dan meninggalkannya di Aula Depan seperti yang lain, Ichigo dan Toushiro memandang berkeliling sejenak. Aula Depan diterangi cahaya obor dan gaung langkah para murid yang akan memasuki Aula Depan. Harry, Ron, dan Hermione melambaikan tangan saat melewati mereka.


Dan kemudian, Profesor McGonagall menghampiri mereka, menerobos lautan anak-anak yang ada di sekitar mereka. Matanya yang seperti elang memandang kedua shinigami itu dengan agak muram.

__ADS_1


"Kita perlu bicara sebelum kalian masuk ke Aula Besar. Ayo ikut aku."


Keduanya berjalan mengikuti McGonagall menjauhi Aula Depan yang ramai dan terang, ke koridor kanan Aula yang sepi dan suram. McGonagall lalu berbalik, menatap mereka dengan tajam.


"Jadi," katanya pelan, "kalian sudah di Hogwarts."


"Misi dimulai," kata Toushiro kalem.


"Ya," kata McGonagall, tampak agak tak nyaman. Baginya agak sulit dipercaya bahwa dua pemuda di depannya akan menjaga kastil sampai beberapa waktu ke depan. Mereka berdua mungkin jauh lebih ahli daripada yang ia duga, entah dalam menjaga atau bertarung. Yang terakhir ini membuatnya bergidik, teringat pertama kali ia bertemu dengan mereka, dengan senjata itu. Terutama, ia sulit membayangkan sosok semungil Toushiro Hitsugaya mengayunkan katananya terhadap musuh entah apa. "Aku yakin kalian akan mengetahui apa yang harus kalian lakukan sehubungan dengan misi kalian."


Terdengar langkah-langkah kaki dari koridor di bawah tangga di dekat mereka. McGonagall menghela napas.


"Tapi langkah awal untuk berada di Hogwarts adalah seleksi. Kalian akan di seleksi setelah anak-anak kelas satu, setelah Kepala Sekolah memperkenalkan kalian berdua ke seluruh sekolah. Tak lebih dari yang bisa kuharapkan, dimanapun asrama kalian nanti kalian kan bersikap seperti anak biasa."


"Baik," kata Ichigo kalem, sementara Toushiro mengangguk. Bersikap seperti anak biasa, asal tak ada yang menggerecoki tentang warna rambut dan tinggi badan.


"Anak-anak kelas satu, Minerva," katanya dengan suara yang tegas.


McGonagall mengangguk. "Terima kasih, Wilhelmina. Kau boleh ke Aula lebih dulu, kalau begitu."


Penyihir itu mengangguk. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi ia menjauh pergi, masuk ke Aula Besar. McGonagall lalu berbalik untuk bicara pada anak-anak kelas satu untuk memberi instruksi. Beberapa dari mereka mencuri-curi pandang, penasaran sekaligus asing pada Ichigo dan Toushiro yang tampak berbeda dengan ciri Kaukasian orang Inggris.


Dan kemudian, McGonagall menginstruksikan mereka semua untuk mengikutinya, menuju Aula Besar. Ichigo dan Toushiro berjalan di barisan paling belakang, melewati pintu kayu ek yang terbuka lebar.


Semua mata terarah pada barisan yang dipimpin McGonagall. Pada wajah-wajah pucat dan berkeringat anak-anak kelas satu yang tertimpa cahaya lilin yang melayang di udara. Pada dua sosok asing yang berada di bagian belakang barisan. Mereka yang mengenal Ichigo dan Toushiro tak terlalu terkejut melihat keduanya, yang tampak kalem saja dibanding anak-anak di depan mereka. Namun bagi yang belum mengetahuinya pastilah akan heran dan bertanya-tanya. Apalagi warna rambut mereka yang mencolok dan Ichigo yang menjulang di antara sosok-sosok kecil anak kelas satu.


Dengung percakapan di Aula mereda. McGonagall meletakkan topi penyihir berwarna hitam yang telah kusam dimakan usia, bertambal dan bertisik di banyak tempat dengan robekan lebar dekat tepinya yang berjumbai di atas bangku kayu berkaki tiga di depan meja guru, menghadap seluruh murid. Untuk sesaat hanya hening sementara semua mata terarah pada si topi. Dan kemudian robekan dekat tepi topi itu membuka, seperti mulut, dan ia mulai bernyanyi.

__ADS_1


Ichigo membelalak memandang si topi. Toushiro juga sebetulnya agak heran juga, tapi reaksinya tentu saja tak seperti Ichigo. Ia sekarang berkonsentrasi memperhatikan lirik lagu yang dinyanyikan si Topi Seleksi. Setelah ia selesai dengan lagunya, sorak riuh dan tepuk tangan memenuhi Aula, setelah jeda beberapa detik. Bisik-bisik dan gumaman menyebar di seluruh Aula, baru menghilang setelah McGonagall menyebarkan pandangan tajam. McGonagall lalu menurunkan pandangannya ada perkamen di tangannya, dan memanggil nama pertama dalam daftar itu.


"Abercrombie, Euan."


Dan satu demi satu, anak-anak dalam barisan itu dipanggil untuk diseleksi. Topi Seleksi akan meneriakkan asrama mana anak tersebut akan di tempatkan setelah diam sejenak di atas kepala mereka. Kedua shinigami itu tidak tahu bagaimana si topi bisa melakukan hal itu, kecuali berpikir bahwa itu adalah sihir. Lagipula mereka akan tahu beberapa saat lagi, 'kan.


Akhirnya nama terakhir, Zeller, Rose diseleksi masuk Hufflepuff, dan Ichigo dan Toushiro adalah murid terakhir yang perlu diseleksi. Semua mata sekarang terarah pada keduanya, yang sekarang, menurut Harry tampak bosan; Ichigo mengucek matanya dengan mengantuk. Dumbledore lalu bangkit berdiri, setelah McGonagall menyingkir ke ujung meja guru. Senyum Kepala Sekolah menyapa seluruh Aula. Namun, sebelum ia mulai bicara, Argus Filch, si penjaga sekolah muncul di depan pintu ek, bersama seorang pria asing.


Baik Ichigo maupun Toushiro, yang tadinya memandang Dumbledore menoleh ke belakang, merasakan reiatsu yang sama sekali tak asing bagi keduanya. Dan kedua shinigami muda itu menatap si pria dengan keterkejutan yang nyata; Ichigo ternganga kaget.


Pria yang bersama Filch bertubuh jangkung. Rambut dirty blonde sebahunya di tutupi topi bertepi lebar dengan motif garis hijau-putih. Ia mengenakan kimono hijau tua dan mantel hitam. Sandal kayunya berkelotak saat ia berjalan, dengan tongkat kayu di tangan kanannya. Sulit membaca ekspresi wajahnya yang sebagian besar tertutupi bayangan topinya, namun senyum ganjil itu tak bisa disembunyikan. Seekor kucing hitam bermata keemasan bertengger angkuh di bahu kanannya, menatap seluruh Aula dengan pandangan cerdas yang sangat aneh.


"Aku ucapkan selamat datang kepada guru baru untuk mata pelajaran baru tahun ini, yang sehubungan dengan kedatangan dua siswa transfer dari Shinou Academy of Magical Battle Arts, Jepang, Profesor Kisuke Urahara. Beliau akan mengajar Metode Pertahanan Klasik Jepang di Hogwarts."


Hening menyusul sambutan itu, sama seperti kedatangan Mad-Eye Moody setahun lalu. Hanya saja, menurut Harry, penampilan guru baru ini tak seeksentrik Moody. Ia tampak sama sekali normal, kecuali pakaiannya dan senyum ganjil itu.


Dumbledore memberi senyum ramah pada Kisuke, dan mempersilakannya datang ke meja guru untuk menempati kursi kosong di sebelah Snape. Saat berjalan melewati Ichigo dan Toushiro yang membeku di tempat, Kisuke menyapa mereka dengan suara ramah.


"Ah, Kurosaki-kun, Hitsugaya-kun, genki desu ka?"


Toushiro mengernyit, sementara Ichigo masih membelalak, menjawab dengan suara ragu, "Ha-hai,"


Kisuke terus berjalan ke arah meja guru dengan tenang, tak terpengaruh seluruh mata terarah padanya. Harry melihat Umbridge memandang Kisuke dengan curiga. Namun seluruh perhatian teralih darinya begitu Dumbledore angkat bicara.


"Sekarang, waktunya seleksi terakhir. Sebelum itu, perlu kusampaikan bahwa ini adalah momen yang jarang terjadi di Hogwarts, bahwa sekolah ini menerima murid transfer dari sekolah lain. Dan walaupun mereka berasal dari tempat yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, budaya yang berbeda, aku mengharapkan kalian bisa menerima mereka dengan baik sebagai bagian dari Hogwarts. Dan dimanapun Topi Seleksi akan menempatkan mereka, aku harap asrama tempat mereka akan menghabiskan waktu di Hogwarts ini akan memperlakukan mereka layaknya teman sendiri, anggota keluarga sendiri. Kedua siswa transfer ini akan menghadiri kelas untuk tahun kelima Hogwarts."


Dumbledore lalu duduk. McGonagall melangkah maju ke tengah, di samping Topi Seleksi, dan memanggil nama pertama, "Hitsugaya, Toushiro."

__ADS_1


__ADS_2