
Setelah eyepatch-nya rusak dalam duel dengan Urahara, Harry mendapat indikasi kalau Toushiro tak bermaksud menggantinya. Si rambut putih tak mempedulikan banyaknya pandangan ataupun bisik-bisik yang terarah padanya – tepatnya tiga bekas luka vertikal di bagian kiri wajahnya.
"Apa bekas lukanya tidak bisa dihilangkan?" tanya Hermione ingin tahu saat mereka sedang makan malam di Aula Besar. "Kelihatannya itu luka yang cukup dalam… pasti sakit ya?"
Toushiro mengangkat bahu. "Aku bisa tahan dengan rasa sakit. Apa pula yang mau dikeluhkan, toh aku masih hidup dan tidak buta. Bekasnya? Ada lebih banyak, kalau kau mau tahu, jadi ini bukan apa-apa. Lagi pula ini bukan pertama kalinya aku luka…"
"Lebih banyak?" tanya Ginny kaget.
"Bukan pertama kalinya?" tanya Hermione terbelalak.
"Seberapa sering kau dihajar?" tanya Ichigo geli.
"Kau tak pantas bicara begitu padaku." Toushiro menatap Ichigo galak sebelum menyendok saladnya. "Memang siapa yang dengan bodoh menantang Kuchiki di pertama ketemu…"
"Hei…" Ichigo melempar tatapan jengkel pada temannya itu. Tapi kemudian seringai melebar di wajah si rambut jingga itu. "Aku ingin tahu apa kata Rangiku-san jika melihat apa yang sudah kau lakukan dengan wajah itu."
Toushiro membeku sejenak, lalu menggerutu sesuatu yang kedengaran seperti aku-sudah-dengar-itu-tiga-kali-darimu.
Ichigo terkekeh geli. Senang hatinya akan prospek 'penderitaan' si rambut putih. Ia tahu kalau Letnan Divisi 10 akan uring-uringan begitu melihat yang wajah imut komandan mungilnya memiliki bekas luka seperti Hisagi dan Zaraki. "Aku tak akan beritahu dia, biar dia tahu sendiri dan kau yang diomeli… Ha!"
"Brengsek," kutuk Toushiro gusar.
"Ya, jerk."
Hermione melempar tatapan tak senang mendengar umpatan itu. Sebelum Hermione sempat menceramahinya, Angelina Johnson datang dan menyeruak duduk di antara si kembar Weasley.
"Kabar baik, Toushiro? Senang kau sudah keluar dari rumah sakit."
"Yeah. Tak bisa lebih senang dari itu," gerutu Toushiro sarkastik.
"Siap latihan lagi? Apa matamu baik saja?"
"Normal seperti biasa," kata Toushiro kalem.
"Bagus sekali," kata Angelina senang. "Kukira sampai parah sekali; bekas luka itu menipu. Tapi tak masalah. Semoga saja bekas luka itu menakuti Chang dan dia jadi tidak fokus mencari Snitch…"
Sayang sekali Angelina tak melihat kedua alis Toushiro terangkat tinggi sekali sampai nyaris menghilang di antara poni rambutnya.
"Apa wajahku semengerikan itu?" tanya Toushiro, sangat heran. Ia mengamati bayangan wajahnya di permukaan piala perak di depannya. Ichigo terkekeh, sedangkan si kembar Weasley dan Lee dan Ron tertawa.
"Baru sadar? Apa kau tidak pernah lihat cermin?" sindir Seamus.
"Yuzu bisa pingsan melihatmu," komentar Ichigo terengah, seringainya melebar. "Coba saja datang ke rumahku setelah kita pulang nanti. Berani taruhan, aku pasti benar."
Toushiro mendengus kesal. Yah, masa bodohlah soal tampangnya. Ia menatap Ichigo sekilas, sebelum merendahkan suaranya dan bicara dalam bahasa Jepang agar tak ada yang mendengar mereka.
"Apa yang kau lakukan pada Malfoy?"
"Eh? Apa?" Ichigo menatap Toushiro.
"Kau tahu apa maksudku."
Sialan. Nih anak apa tahu segalanya sih?! Ichigo menghela napas. "Hanya bertanya dan memastikan sesuatu. Dan ternyata kau benar."
"Begitu." Hanya itu komentar Toushiro.
Yah, diskusi berakhir. Kasus ditutup.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti yang seharusnya. Ujian OWL dan NEWT yang semakin dekat membuat anak-anak kelas lima dan kelas tujuh harus belajar ekstra keras sampai mabuk. Bahkan Hannah Abbot dari Hufflepuff harus mendapat Cairan Penenang dari Madam Pomfrey setelah menangis putus asa setelah pelajaran Herbologi.
Harry agak sebal juga karena baik Ichigo maupun Toushiro tenang-tenang saja dalam menyambut semakin dekatnya ujian OWL. Keduanya bahkan masih punya waktu untuk main catur sihir sementara yang lainnya keteteran menyelesaikan PR yang minta ampun banyak dan sulitnya.
"Ujian kalian tidak berguna untuk kehidupanku," begitu kata Ichigo saat Harry bertanya – tanpa ada anak lain yang tahu tentang dunia shinigami, tentu. "Jadi lulus tidak lulus, peduli amat deh. Hanya saja, Urahara berpendapat kami harus tetap belajar. Untung juga partner misiku Toushiro, dia bantuan yang menguntungkan walaupun dia menganggapku gangguan menyebalkan."
"Beruntung sekali," kata Ron iri.
"Lagipula aku sudah pernah tahu yang namanya ujian," kata Toushiro sambil membaca buku Mantranya. "Itu jauh lebih sulit daripada semua teori sihir macam ini. Sekarang, waktunya kalian mengalami penderitaan yang mirip."
"Kau kejam sekali," komentar Ron.
"Beberapa orang berpendapat begitu."
Tak ada gunanya memikirkan kalimat sinis Toushiro terus, apalagi repot-repot mengakui kebenarannya. Semua tugas dan PR dan latihan mantra menuntut untuk dibereskannya. Jika bukan karena latihan LD yang sudah dimulai itu, Harry berpikir kalau ia tak bisa bahagia lagi. Ia bangga pada teman-temannya yang sudah mengalami kemajuan pesat dalam latihan, mmbuatny tidak heran jika beberapa dari mereka akan mendapatt "Outstanding" di Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, dan tak sabar melihat reaksi Umbridge karena itu. Ditambah lagi, latihan fisik yang diberikan Urahara ternyata cukup berguna jika dikombinasikan dengan mantra-mantra pertahanan. Mereka sekarang memiliki refleks yang lumayan dalam menghindari luncuran mantra.
Dan, akhirnya, mereka mempelajari Patronus. Semuanya semangat untuk berlatih mantra ini, tak menyesali kalau penguasaannya lumayan rumit. Namun, selama kurang lebih setengah jam, hampir semua anggota LD sudah bisa memunculkan gumpalan asap keperakan di ujung tongkat sihirnya. Dan menjelang akhir latihan, sudah lebih dari separuh yang berhasil memunculkan wujud fisik Patronus mereka.
"… apa kau tak bisa berhenti bermain-main?" Harry mendengar Ichigo berkata pada Toushiro saat ia sedang berkeliling mengamati hasil kerja teman-temannya. Si rambut putih sedari tadi hanya memunculkan gumpalan kabut putih keperakan di ujung tongkat sihir putihnya. Rasanya agak mustahil jika Toushiro belum bisa menguasainya; Ichigo saja sudah bisa, dengan elang perak yang bertengger gagah di bahunya.
Toushiro mengangkat bahu tak peduli. Ia mengamati Neville yang wajah bundarnya berkeringat karena berkonsentrasi. "Santai sedikit, Longbottom. Kau tidak bisa pasang tampang tersiksa jika yang seharusnya kau lakukan adalah mengingat hal yang membahagiakan…"
"Yeah, dengarkan orang yang juga belum bisa memunculkan Patronus," celetuk Fred. Ia dan saudara kembarnya tertawa, saling ber-high five.
Mata Toushiro menyipit kesal. Diangkatnya tongkat sihirnya ke udara. Seenaknya saja mereka ini… baiklah kalau begitu. Benar, ia harus berhenti bermain-main.
Sebetulnya, ia bukan bermain-main. Sebelumnya Harry menjelaskan bahwa jika berhasil memunculkan Patronus badaniah, yang bentuknya akan berbeda, unik, bagi setiap penyihir yang menciptakannya. Toushiro langsung tahu apa bentuk yang akan muncul, dan itu sedikit merisaukannya. Agak tidak nyaman jika membuat dirinya terlihat 'lebih' dari yang sudah dia lakukan. Tapi, mau bagaimana lagi. Sejak awal ia ditakdirkan untuk terlalu menarik perhatian. Jadi, cuek sajalah…
Ia berkonsentrasi, mengingat hal paling menyenagkan yang terjadi padanya. Diingatnya saat merasakan beban sayap es dipunggungnya ketika Hyourinmaru mengizinkannya menguasainya sepenuhnya; hari dimana ia berhasil mencapai bankai-nya, menjadi satu dengan naga es itu. "Expecto patronum!"
Banyak anak yang menjerit kaget saat sesuatu yang besar melesat keluar dari ujung tongkat sihir Toushiro. Seekor naga perak setinggi tiga meter bersinar lebih terang dari Patronus yang lain di ruangan itu. Semua anak menatap Toushiro tak percaya, atau pada si naga yang bentuknya lebih mirip ular daripada kadal seperti yang pernah dilihat Harry dari Norbert dan si Punggung Bersirip Norwegia. Patronus naga itu terbang rendah, lalu mengelilingi Toushiro dengan sikap protektif.
"Impresif," komentar Ichigo, nyengir
"Bloody…" kata Fred, tampangnya bloon aneh.
"… briliant," tutup George, ekspresinya sama.
__ADS_1
Ichigo hanya terkekeh geli karena melihat kepuasan samar di wajah yang biasanya sedingin es batu itu. Dasar sok jaim.
"Naga?" kata Neville dengan suara lemah. "Bagaimana bisa?"
"Pikirkan hal yang membahagiakan," kata Toushiro kalem.
"Benar sekali," timpal Ichigo. "Ayolah, Neville, si Balok Es galak tukang bersungut-sungut ini saja punya hal menyenangkan untuk dipikirkan, masa kau tidak?"
"Apa maksudnya itu?" kata Toushiro tajam, sementara Fred dan George tertawa terbahak-bahak.
"Lho? Kau 'kan memang Tuan Balok Es, galak, suka bersungut-sungut…"
Toushiro membelalak jengkel. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu, ia menoleh cepat ke arah pintu. Mereka semua mengikuti pandangannya, melihat sosok mungil peri rumah yang sangat tidak asing bagi Golden Trio.
"Dobby?" tanya Harry heran "Apa yang – ada apa?"
Si peri rumah itu hanya berdiri gemetar, matanya yang besar melebar penuh kengerian. Anak-anak LD bergerak mendekati si peri rumah; semua Patronus memudar dalam kabut perak sebelum lenyap sepenuhnya. Hanya Patronus naga milik Toushiro yang masih bertahan, menguarkan hawa hangat yang menenangkan untuk si peri rumah yang ketakutan itu.
"Harry Potter, Sir," cicit Dobby. "Sir… Dobby datang untuk memperingatkan anda… tapi peri rumah sudah dilarang untuk…"
Tiba-tba saja Dobby berlari ke arah dinding dan mulai membenturkan kepalanya. Banyak anak perempuan menjerit. Namun sebelum Harry yang sudah berpengalaman dengan kebiasaan mantan peri rumah keluarga Malfoy itu, Ichigo sudah melesat dan menyambar Dobby, menjauhkannya dari dinding.
"Apa yang terjadi, Dobby?" tanya Harry.
"Harry Potter… dia… dia…"
Tangan si peri rumah membentuk kepalan dan bermaksud meninju wajahnya sendiri, namun Ichigo lagi-lagi menggagalkannya.
"Siapa 'dia', Dobby?"
Namun, melihat ketakutan di mata Dobby, Harry langsung mengerti siapa 'dia'. Tak perlu si peri rumah mengucapkan nama tanpa suara itu.
"Umbridge?" ulang Ichigo, terkejut. Ia memandang Toushiro, yang seketika Patronus-nya menghilang dalam kabut perak. Kehangatan yang dipancarkannya lenyap, digantikan rasa dingin yang tak nyaman dan menusuk tulang.
"Dobby, dia tidak tahu tentang ini – tentang kami – tentang LD?"
Dobby mengangguk ngeri, berusaha melepaskan diri dari pegangan Ichigo yang gagal dilakukannya.
"Dia datang kemari," kata Toushiro dalam. Ia memandang teman-teman LD-nya. "Pergi dari sini, sekarang!"
Tak perlu diperintah dua kali, semua anak segera melesat menuju pintu, keluar dari Kamar Kebutuhan. Harry bisa mendengar mereka semua berlari di sepanjang koridor dan berharap semuanya tidak akan tertangkap…
"Kita tidak boleh terlihat," kata Toushiro cepat. "Ayo, Kurosaki."
Ichigo melepasakan Dobby dan menyusul Toushiro yang sudah di ambang pintu. Golden Trio bergegas bergerak. Sebelum Harry ikut keluar, ia menyambar Dobby yang berusaha menghantamkan kepalanya ke lantai.
"Aku tahu aku tidak berhak memberi perintah. Tapi tolong, Dobby, kumohon, kembali ke dapur bersama peri rumah lain, katakan kau tidak memberi tahu apapun padaku ke Umbridge, dan jangan melukai dirimu sendiri!"
"Y-ya, Harry Potter, terima kasih," cicit Dobby, sebelum berlari pergi. Harry melihat semua teman-temannya telah pergi. Ia segera bergegas, ada toilet anak laki-laki di ujung koridor. Ia bisa berpura-pura berada di sana jika ia bisa mencapainya…
"Menurutmu bagaimana dia bisa tahu?" tanya Ichigo, setelah semua anak Gryffindor yang bergabung di LD berhasil sampai di Menara Gryffindor dengan selamat, kecuali Harry. Mereka semua bergabung di ruang rekreasi, menunggu dengan cemas.
"Aku perlu sedikit waktu," gumam Toushiro. Ia duduk di sofa tua di dekat jendela, berpikir serius. Banyak anak menatapnya ingin tahu. Neville berharap Toushiro tidak berlama-lama, kedua alisnya yang nyaris menyatu di wajahnya yang berada dalam bayangan sedikit mengerikan. Kedua matanya menutup, dan beberapa saat kemudian terbuka, menampilkan iris turquoise yang menyala gusar.
"Marietta Edgecombe," katanya pelan.
"Eh?"
"Apa?"
Ichigo menatap Toushiro dengan heran. "Apa maksudmu?"
"Dia yang melaporkan LD pada Umbridge," ujar Toushiro datar. "Dia tidak datang di pertemuan hari ini," kata Toushiro.
"Hanya karena dia tidak datang kau menuduhnya?" tanya Hermione kaget.
"Pikirkan, Granger," kata Toushiro agak tajam. "Sejak awal setelah Dekrit Pendidikan nomor dua puluh empat itu keluar, Umbridge sudah tahu tentang LD, tapi dia tidak punya bukti untuk menangkap kita, mengungkap apa yang kita lakukan. Kesaksian Willy Widdershins di Hog's Head tidak bisa sepenuhnya dipercaya karena dia hanya melihat kita merencanakannya, bukannya melaksanakannya…"
"Apa hubungannya Widdershins dengan LD?" tanya Lee heran. "Dia cuma tersangka kasus toilet muntah itu, 'kan?"
"Dan bagaimana menjelaskan kasusnya yang ditutup tanpa tuntutan terhadapnya, padahal kasus begitu cukup besar, 'kan?" ujar Toushiro. "Dia melakukan pertukaran dengan Kementerian, mata-matai Harry Potter di Hogsmeade - aku melihatnya di sana – dan berikan informasi bagus, dengan begitu ia bebas dari tuntutan. Tapi itu tidak cukup bagi Umbridge. Dia tahu kita tetap menjalankan LD sekalipun dilarang. Tapi dia, sekali lagi tidak bisa membuktikannya. Keuntungan yang besar di pihak kita karena pola latihan kita yang tidak tentu. Tapi dia cukup licik juga. Jika ia tidak bisa mencari tahu sendiri, maka dia kan menyuruh orang lain untuk bicara, dan pilihannya adalah Edgecombe."
"Kenapa kau menyimpulkan begitu?" tanya Alicia bingung.
"Umbridge orang Kementerian, 'kan? Dan Madam Edgecombe juga orang Kementerian…"
"Yeah," kata Ron, seakan baru teringat sesuatu. "Aku pernah dengar Dad bicara tentang Madam Edgecombe. Dia bekerja di Departemen Transportasi Sihir, kantor Jaringan Floo!"
"Nah, pastilah Madam Edgecombe orang yang percaya pada Fudge, dan Edgecombe juga pasti dibujuk oleh Umbridge untuk bicara tentang LD, yang dilakukannya dengan segera. Bukankah sejak awal Edgecombe juga tidak terlalu tertarik dengan LD?"
Semua anak terdiam, mencerna informasi ini.
"Bagaimana…" tanya George, terdengar sangat kagum
"… kau bisa…" sambung Fred, terlihat sama terpesonanya.
"… menyimpulkan sebaik itu?" ujar keduanya bersamaan.
"Berpikir," sahut Toushiro sederhana.
"Dan darimana kau tahu tentang kasus Willy Widdershins dan pekerjaan Madam Edgecombe?" tanya Dean heran.
"Ada koran sihir bernama Daily Prophet," kata Toushiro datar, namun tak menyembunyikan kesan sinis di sana. "Koran itu sampah, tapi bukan berarti tidak berguna sama sekali. Kalau kau cukup pintar, ada beberapa berita implisit di dalamnya, termasuk kasus Widdershins."
"Tapi kurasa, Edgecombe menyesalinya sekarang," kata Ichigo lambat.
__ADS_1
"Hah? Menyesal?" tanya Angelina tak percaya. "Seharusnya memang begitu, dia mengkhianati kita!"
Toushiro menatap Hermione. "Mantra itu mungkin bekerja padanya sekarang."
Mata Hermione melebar kaget, lalu ia menutup mulutnya dengan tangannya. Banyak anak menatap Toushiro, lalu Hermione.
"Mantra?" tanya Neville.
"Mantra apa?" tanya Parvati penasaran.
"Aku… aku memantrai perkamen yang kita tandatangani…"
"Kau-APA?!"
Banyak anak terbelalak kaget.
"Cuma untuk jaga-jaga," kata Hermione buru-buru. "Mantranya hanya akan berfungsi jika kalian membicarakannya dengan orang lain yang bukan anggota LD, guru, terutama Umbridge…"
"Kenapa kau tidak bilang pada kami?" tanya Fred.
"… kami bisa mengusulkan beberapa mantra bagus!" sambung George.
Banyak anak yang memandang si kembar seakan mereka berdua sinting, sebelum sadar kalau si kembar Weasley memang sinting.
"Mantra apa?" tanya Ginny ingin tahu.
"Yah, begini," kata Hermione hati-hati," kira-kira, er… kalian akan menganggap masalah kulit bernama jerawat masih lebih baik daripada efek mantra itu… Kalian tidak akan mengeluh punya jerawat ataupun bekasnya di wajah kalian."
"Yang kupunya adalah bekas cakaran hollow, jadi menurutmu bagaimana?" tanya Toushiro sarkastik.
Tak ada yang mau mengomentari hal ini. Kecuali Ichigo yang mendengus geli, yang lainnya bergidik ngeri.
Keesokan harinya, kegemparan terjadi di kastil Hogwarts. apa perkara? Pengumuman besar telah ditempel di setiap penjuru sekolah sihir itu, yang berisikan bahwa Dolores Umbridge diangkat menjadi Kepala Sekolah menggantikan Albus Dumbledore. Meskipun disahkan dengan tanda tangan Menteri Sihir, pengumuman itu tidak menjelaskan apa yang terjadi; bagaimana Dumbledore bisa kabur setelah mengatasi duo Auror Kementerian, Inkuisitor Agung, beserta Menteri Sihir dan Asisten Junior-nya. Tentu saja ini memunculkan banyak spekulasi di antara anak-anak. Ichigo heran sendiri pada imajinasi liar para siswa Hogwarts, yang menurutnya lebih parah daripada kerjaan pemodifikasi ingatan buatan Divisi 12. Rumah ditabrak truk masih wajar, bandingkan dengan dugaan bahwa kepala Fudge berubah menjadi labu, hasil imajinasi anak kelas dua Hufflepuff.
Namun, beberapa anak tahu bahwa saksi mata kejadian itu adalah Harry dan Marietta. Karena yang belakangan disebut masih di rumah sakit akibat apa yang disebut Umbridge 'mantra salah kaprah', maka anak-anak membombardir Harry dengan pertanyaan. Betapa herannya anak-anak Gryffindor karena yang dikatakan Harry sama persis dengan hipotesis Toushiro.
"Dengan tidak adanya Dumbledore di Hogwarts, aku sedikit meragukan keamanan rencana kita," kata Toushiro saat mereka – ia, Ichigo, Urahara, dan Yoruichi berdiskusi malam harinya di ruang rahasia Urahara.
"Oh, jangan cemaskan itu berlebihan," tukas Yoruichi, mendongakkan kepala kucingnya ke arah Toushiro. "Dumbledore tahu kalau hal seperti ini mungkin saja terjadi, dan dia menyapkan rencana cadangan. Lagipula dia tidak benar-benar meninggalkan kastil kok."
"Maksudmu?" tanya Ichigo.
"Dia ada di bukit di dekat Hogsmeade," lapor Yoruichi. "Dia mengawasi dan menjaga Hogwarts dari sana. Kalau ada apa-apa, aku bisa menjadi pembawa berita untuk dan darinya."
"Begitu." Toushiro menghela napas. "Lalu, second in command-nya-?"
"McGonagall-san, tentu saja," kata Urahara santai. "Jika ada yang kau butuhkan tentang tugas kita di sini, kau bisa temui dia, atau kirim pesan langsung ke Dumbledore atau bisa juga lewat Yoruichi."
"Umbridge jadi kepala sekolah," kata Ichigo, mendengus tak suka. "Apa ada hal yang lebih buruk dari ini, ya?"
"Well," kata Urahara, menyembunyikan senyum gajilnya yang biasa di balik kipasnya, "kau tak akan mengira apa yang akan terjadi, Kurosaki-san."
Benar kata Urahara kalau mereka tak akan mengira apa yang bisa terjadi setelahnya. Termasuk hitungan dengan kekacauan yang diciptakan si kembar Weasley dengan meledakkan satu peti besar kembang api sihir di koridor pada hari pertama tugas Umbridge sebagai Kepala Sekolah Hogwarts. Sungguh mengherankan bahwa suara ledakan super dari kembang api yang bahkan tak bisa dilenyapkan Mantra Pelenyap itu tak jadi masalah untuk para guru sekaliber Minerva McGonagall. Tentu saja Umbridge tidak bisa menangkap dan membuktikan Fred dan George sebagai tersangka (lagi pula tidak ada barang bukti; si kembar Weasley menggunakan semua cadangan kembang api mereka di Hogwarts untuk ledakan itu). Lolosnya si kembar dari hukuman membuat keduanya menjadi pahlawan di asrama Gryffindor malam itu.
Meskipun demikian, bukan berarti yang mereka alami hanya kesenangan belaka. Harry, mengalami sebuah masalah pelik terkait dengan pelajaran Occlumency-nya dengan Snape. Ia masih belum menguasainya, dan sekarang Snape tidak mau lagi mengajarinya.
Jika mengingatnya lagi, Harry merasa amat sangat merana. Penolakan Snape bukan tanpa sebab, dan itu karena kesalahan Harry sendiri. Keingintahuannya yang terlalu besar membuat Snape murka; ia tidak sengaja masuk ke Pensieve yang merekam sepotong kenangan Severus Snape. Mana ia tahu kalau itu mungkin adalah salah satu kenangan terburuk guru Ramuan itu, dan akan jadi kenangan buruk untuk Harry juga. Ia mengetahui salah satu alasan ketidakakraban mendiang ayahnya, Sirius, dan Remus dengan Snape. Mana ia tahu kalau Snape benar tentang ayahnya, bahwa James Potter muda adalah sosok angkuh yang cerdas, punya hobi mengganggu orang, yang dalam kasus ini adalah Severus Snape.
Yang membuat Harry sangat heran, bukan hanya Snape yang marah padanya. Toushiro, yang mengetahui kalau Harry tak lagi belajar Occlumency pada Snape juga membelalak jengkel padanya.
"Kau benar-benar harus belajar menahan diri," kata Toushiro tajam. Untung saja saat itu ruang rekreasi sedang sepi karena liburan Paskah. Ichigo menggelengkan kepalanya tak sabar di latar belakang; kali ini ia abstain, tak membenarkan ataupun menyalahkan Harry. "Apa tidak ada yang memberitahumu kalau ingatan seseorang itu privasi? "
"Maaf," gumam Harry, menunduk ke buku Transfigurasinya yang terbuka.
Toushiro mendecakkan lidah dengan kesal. "Aku akan bicara dengan Snape."
"Aku juga sudah bicara dengannya," kata Harry pelan, muram. "Tapi dia tidak mau bicara, apalagi mendengarkanku…"
"Mungkin dia juga tidak akan mendengarkanku," kata Toushiro dingin. Ia menatap Harry, yang menunduk dan merasa bersalah. Memang sudah sepantasnya begitu. "Tapi sangat penting untukmu menutup pikiran dari Voldemort. Dengan tidak adanya Dumbledore di kastil, hanya Snape opsi terbaik untukmu belajar Occlumency – bahkan saat Dumbledore ada saja dia yang ditunjuk untuk mengajarimu."
"Aku tidak tahu," kata Harry putus asa. "Aku sama sekali tak bisa melakukannya!"
"Kau tak mencoba cukup keras!" kata Toushiro galak.
"Kau tidak tahu rasanya!" bentak Harry balik, kesal luar biasa. Kenapa Toushiro sekarang memojokkannya juga? Ia sudah cukup merasa bersalah!
"Tidak tahu bagaimana rasanya?" suara Toushiro meninggi dingin. Ichigo menghela napas. Sungguh, ini bukan hal bagus.
"Kau tidak tahu bagaimana sulitnya menutup pikiran! Kau kira enak jika dia mencoba menembus pikiranmu, membaca semua yang ada dalam otakmu-"
"Apa perlu kuingatkan lagi kalau aku berbeda denganmu, Potter?" ujar Toushiro tanpa nada, namun Harry merasa setiap katanya sedingin es, membuatnya bergidik.
Harry menatap mata turquoise itu, mendapatkan penjelasan tanpa kata di sana. Toushiro tahu bagaimana rasanya. Tahu betapa sulitnya. Tahu bagaimana susahnya. Shinigami berambut putih itu telah mengalami dan mempelajari bagaimana menjaga pikirannya, lebih dari yang telah ia, Harry Potter, tahu dan lakukan.
Ia mengalihkan pandangan dari iris mata Toushiro, merasa malu sendiri. Yang ia sadari, ia menggumamkan maaf yang tak jelas.
Kejengkelan Toushiro sama sekali tak terobati begitu ia bicara dengan Snape. Snape bersikeras tak mau lagi mengajari Harry.
"Dia akan belajar untuk menghargai orang lain dulu sebelum merasa dirinya begitu penting," kata Snape pedas
"Dan anda bersikap kekanak-kanakan," kata Toushiro dingin, lebih dingin dari ruang bawah tanah yang menjadi kantor guru Ramuan itu. "Harry Potter hanya bocah, dengan-"
"-segala potensinya untuk bersikap sok pahlawan dan ikut campur urusan orang," cemooh Snape benci.
"Kami-sama," desis Toushiro kesal. Bagaimana ia bisa mau-maunya terlibat dengan dendam masa lalu seorang guru dengan orang tua muridnya? Kayak dia tidak punya urusan lain untuk diselesaikan saja! "Baik," kata Toushiro akhirnya. Ia tidak tahu bagaimana menjadi mediator untuk kedua kubu. Ayolah, dia saja belum berhasil menangani Matsumoto dengan kemalasannya mengerjakan paperwork! "Terserah anda saja. Itu dendam anda, itu urusan anda. Tapi saya ingatkan kalau ketidakmampuan Potter menjaga pikirannya sendiri bisa menjadi pedang bermata dua yang membahayakan dirinya."
__ADS_1
Dan, tanpa kata-kata lagi, Toushiro pergi meninggalkan kantor yang suram itu. Snape hanya berdiri di belakang mejanya. Mata hitamnya menatap pintu tempat shinigami mungil menghilang dari hadapannya.