
Semua shinigami menatap Toushiro tak percaya, begitu pula para penyihir. Lalu mereka menatap Urahara, tak meyakini pula hipotesis gila itu. Ide itu membuat Harry bergidik.
"Jangan bercanda, Kisuke," cetus Yoruichi. "Dia tidak akan melakukan itu."
"Hitsugaya yang kita kenal tidak mustahil melakukan itu," kata Byakuya tanpa irama. "Dia shinigami yang setia pada Soul Society. Terpaksa bergabung dengan musuh atau mati, dia akan pilih yang terakhir. Sekalipun bunuh diri, itu tindakan terhormat daripada mengkhianati Gotei 13."
"Maksudmu," ujar Ichigo dengan suara menggeram, "dia melawan semua Arrancar itu sendirian untuk menguras reiatsu-nya, sambil menekan kekuatan Hougyoku sehingga benda itu akan meledakkan dirinya sendiri karena dia melemah, begitu?"
"Aku cemas begitu," kata Urahara getir. "Hitsugaya-kun mengetahui kekuatan Hougyoku. Betapa besarnya, betapa menakjubkannya, betapa berbahayanya. Aizen sebelumnya juga mengungkapkan kekuatan lain darinya, bahwa kemampuan Hyougoku bukan memisah batas antara kekuatan shinigami dan hollow, melainkan mengabulkan keinginan terdalam yang dimiliki pemegangnya. Jika di tangan yang salah, Hougyoku lebih banyak membawa kerusakan, seperti yang ditunjukkan Aizen dulu. Mengetahui apa tujuan para Arrancar itu yang menjadikannuya wadah Hyougoku, Hitsugaya-san tahu mereka akan lakukan apapun untuk menariknya ke pihak mereka. Itu membuatnya merasa jika menyimpan kekuatan itu, ia tak akan bisa mengendalikannya. Meskipun demikian, dengan kemampuannya yang sekarang benar bahwa bukan tidak mungkin dia menghabisi para Arrancar itu dengan cepat; dengan menggunakan Hyouten Hyakkasou*, aku yakin pertempuran ini selesai. Tapi dia tidak melakukan itu, dan malah membuatnya jadi lama. Tempat ini bukan tempat yang tepat untuk bertarung. Jika dia melepas kekuatannya, itu malah akan membahayakan para penyihir. Jadi dia mengulur waktu. Jika pertempuran berakhir, para Arrancar akan habis, begitu pula dia."
"Kalau begitu, bisa dibilang keinginannya adalah bunuh diri?" tanya Ichigo, mendengus jengkel. "Sekarang aku benar-benar yakin, orang jenius bukan berarti tidak bisa melakukan hal *****."
"Tidak persis begitu, menurutku," kata Urahara.
"Jadi apa?" tanya Yoruichi.
"Aku juga tidak tahu," ujar Urahara. "Aku bukan seseorang yang bisa membaca isi hati."
Ichigo mencengkram gagang Zangetsu dengan kedua tangannya. "Dan ini jelas bukan waktunya untuk menelantarkannya begitu saja." Ichigo mengangkat pedangnya. "Lihat saja, kutolong dia dan akan kutendang bokongnya…"
"Hei…" celetuk Shinji.
"Kalau dia sampai mati," kata Ichigo, matanya penuh tekad, "kutarik dia dari neraka dan kubunuh dia lagi!"
Dan Ichigo melesat kembali ke angkasa. Para shinigami yang ada di tempat terpaku sejenak.
"Aku lupa kalau Ichigo punya kepala yang sama kerasnya dengan Hitsugaya," komentar Kensei.
"Apa kita harus membantunya?" tanya Yumichika, mengibaskan rambut bobnya. "Harus diakui, Komandan Hitsugaya merencanakan kematian yang sama sekali tidak cantik. Heroik, tapi tidak artistik."
"Aku mengerti maksudmu," kata Ukitake serius.
"Dan mungkin kalian butuh senjata tambahan."
Mereka semua, yang tidak terlibat pertarungan menoleh. Harry melihat seorang pria paruh baya bertubuh jangkung muncul dari senkaimon yang menutup di belakangnya. Pria itu berambut hitam cepak, dan memakai shihakusou hitam yang sama dengan shinigami lainnya. Hanya saja, di lengan kiri atasnya terikat sebentuk kain putih yang sepertinya dirobeknya dari kain yang sama dengan kain haori komandan.
Dan, tak ada yang lebih terkejut menerima kedatangan pria itu selain Ichigo Kurosaki.
"Ayah?!"
Harry terbelalak kaget. Ayah Ichigo?
"Yo, first-sonny boy," sapa pria itu riang. "Aku datang untuk membantumu."
"Reiatsu-nya muncul," bisik Yoruichi, menatap Toushiro yang masih bertarung, masih dengan wajah beku tanpa ekspresi wajah dingin itu tak menunjukkan emosi apapun. Namun, reiatsu-nya bisa mereka rasakan. "Dan melemah… Aku juga bisa merasakan reiatsu Hougyoku-nya…"
"Rukia."
Letnan Divisi 13 itu menoleh menatap ayah Ichigo. "Ya?"
"Kau akan sangat membantu… Maukah kau melepas bankai-mu? Kemampuan Hakka no Togame** akan membantu Toushiro bertahan."
"Tapi…"
"Tidak apa-apa," kata Isshin tegas. "Reiatsu-mu tidak akan berdampak negatif padanya. Tipe hyousetsu sepertimu jauh lebih toleran daripada siapaun di antara kita semua. Kau akan gunakan bankai-mu untuk menghancurkan semua hollow itu. Gelombang dingin yang kau lepaskan merusak mereka, tapi suhu rendahnya familiar untuk Toushiro. Kau pernah melatih bankai-mu dengannya. Daiguren Hyourinmaru mengenali Hakka no Togame. Bankai-nya yang baru pasti masih mengenali bankai-mu. Mungkin tidak semua hollow akan terkena jangkauannya, mengingat kita dalam Segel Pembatas. Tapi itu akan cukup."
Rukia mengangguk.
"Bagus sekali. Sekarang, tinggal suruh anak bandel itu turun. Ichigo!"
Ichigo yang baru saja menebas seekor hollow yang seperti gorila berekor kalajengking menoleh jengkel. "Apaan?!"
"Turun sini!" teriak Isshin lagi.
Ogah-ogahan, Ichio menghindari dua hollow yang berusaha mennghantamnya dengan tinju mereka dan ber-shunpo turun. Hampir bersamaan, para Shinigami lain yang tadinya bertempur juga mendarat di tanah.
"Kita harusnya berusaha untuk menolong Toushi-!"
"Itu yang sedang akan kita lakukan," sela Isshin, memotong kalimat Ichigo, yang langsung gelagapan.
"A-apa?! Lalu kenapa aku dan yang lain disuruh turun?"
"Karena memang begitu rencananya," kata Isshin segera. Melihat ekspresi serius yang jarang diperlihatkan itu, Ichigo tahu kalau ini serius. "Rukia akan melepas Hakka no Togame untuk menghabisi para hollow itu. Itu serangan skala besar teraman yang bisa dilakukan. Jangkauannya tak akan mengenai kastil itu, tapi cukup destruktif untuk para hollow, dan toleran untuk Toushiro."
"Tapi tadi katanya Toushiro melemah…"
"Reiatsu beku bankai Rukia tetap dikenali olehnya, lagipula kemampuannya bukan dimaksudkan untuk melukainya," kata Urahara. "Dengan begini para hollow itu akan bisa disingkirkan dan kita bisa mendekati Hitsugaya-san dan membantunya." Mantan Komandan Divisi 12 itu menghela napas. "Sekarang saatnya. Ayo, Isshin."
"Apa yang mau kalian lakukan?" tanya Ichigo.
"Menolong Shiro-chan, tentu saja," kata Isshin agak tak sabar. "Kau pikir apa lagi?"
"Tapi bagaimana?"
"Trik kecil seperti yang kami gunakan untuk Masaki dulu, tapi telah dimodifikasi sehingga tak ada kekuatan shinigami yang hilang karena itu," kata Urahara kalem.
"Apa?!" seru Ichigo kaget. "Maksudnya kalian mau menyegel Hougyoku itu?"
"Tepat sekali," kata Urahara. "Sepertinya Hitsugaya-san memang bermaksud membuat dirinya lemah, tapi dia tidak tahu jika itu terjadi, dia malah akan membangkitkan insting hollow yang dihasilkan dari keberadaan Hougyoku itu. Dan saat ini, itulah yang terjadi." Urahara menunjuk Toushiro yang berkelit dari serangan seorang Arrancar yang telah babak belur. Es yang menyilang bak baju zirah di dadanya berubah warna menjadi abu-abu. "Jiwanya perlahan-lahan mulai diisi oleh hollow itu. Jika diteruskan, hanya ada dua kemungkinan, menjadi Vizard, atau mati. Dan aku berani taruhan, Hitsugaya-san lebih memilih yang terakhir, setuju dengan Komandan Kuchiki."
Harry dan teman-temannya berjengit mendengar hal ini.
"Dan tak ada dari kita yang mau kehilangan dia, 'kan?" kata Urahara.
"Tapi jika kalian mau menyegel Hougyoku-nya, bagaimana dengan hollow-nya?" tanya Hinamori cemas.
"Momo-chan," kata Isshin, tersenyum pengertian, "langkah pertama, kita harus menyelamatkan nyawanya dulu."
Sedikit gemetar, gadis itu mengangguk. Benar.
Yang paling penting mereka semua harus mencegah upaya bunuh dirinya itu.
Bagaimana menyelamatkan jiwanya, well, itu akan jadi hal yang harus mereka urus nanti. Dengan catatan, Toushiro Hitsugaya bisa bertahan.
Rukia lalu menjejakkan kakinya ke tanah, sebelum melesat kembali ke angkasa sambil mengacungkan zanpakutou putihnya ke udara, yang suhunya langsung turun beberapa puluh derajat, "Bankai, Hakka no Togame!"
Hawa dingin itu meluas seperti gelombang badai es. Harry bisa melihat, dari terpaan angin dingin yang membuatnya harus melindungi kedua matanya, sebuah pilar cahaya putih melebar dari tempat Rukia berdiri di atas sana. Pilar terang itu menelan para hollow yang berada dalam jangkauannya.
"Bahkan bentuk bankai-nya tetap jadi bankai tercantik yang pernah kulihat," komentar Yoruichi.
Para penyihir mengerti apa maksudnya 'tercantik' begitu Rukia melayang turun dengan anggunnya ke tanah. Gadis Kuchiki itu seakan berubah menjadi boneka kaca yang cantik. Ia mengenakan kimono putih berkerah tinggi, dengan pita di punggungnya yang seperti sayap semu. Kulitnya sekarang tampak seakan terbuat dari es, bahkan rambut hitamnya juga tertutupi oleh es, dengan hiasan seperti bunga, dari es juga, di bagian belakang kepalanya. Zanpakutou-nya juga berubah, bening, terbuat dari es, yang berkilau bak berlian.
Dan mendadak, sebuah retakan muncul di pipi beku Letnan Divisi 13 itu.
"Kerja bagus, Rukia." Ichigo sudah berdiri di depan Rukia, menangkup pipinya yang seperti kaca dengan telapak tangan kanannya. Ia merasakan tangannya seperti memegang es yang sangat dingin, tapi ia mengabaikannya. Tersenyum tipis, ia menatap mata violet yang dikaburkan oleh selapis tipis es dari Hakka no Togame yang menyelubungi gadis itu. diucapkannya terima kasih tanpa kata lewat mata itu. "Jangan melelehkannya terburu-buru. Sekarang, biar aku yang menyelesaikannya."
Rukia mengangguk. Ichigo melepaskan tangannya; retakan di wajah Rukia sudah menghilang. Si rambut jingga menatap langit; para hollow-pengalih-perhatian telah disapu bersih oleh bankai Rukia. Namun, tidak dengan para Arrancar.
Gilbert tampak geram dan langsung menerjang maju. Dapat dilihat oleh mereka Toushiro masih dengan wajah tanpa ekspresi, menghunuskan ujung zanpakuto-nya, "Shinkū no Kōri no Yaiba!"
__ADS_1
Pedang es raksasa melesat dengan kecepatan tinggi ke arah si Arrancar. Mata Gilbert melebar terkejut melihat datangnya serangan berbahaya itu, terlalu cepat untuk dihindarinya….
Ichigo juga terbelalak melihat serangan pedang es raksasa itu. melesat bak kilat dan menghantam si Arrancar tanpa ampun. Ia pernah melihat serangan ini sebelumnya dalam beberapa kesempatan saat sparring dengan Komandan Divisi 10 itu. Dan Toushiro pernah bilang bahwa teknik itu sebenarnya digunakan bersama kemampuan Haineko, dan ia masih melatih Shinkū no Kōri no Yaiba untuk dilatih dengan kemampuannya sendiri. Ichigo tahu pula bahwa teknik itu, terakhir kali ia melihatnya, tidak sekuat, secepat, dan sebesar itu.
Bankai baru Toushiro Hitsugaya sepertinya meningkatkan kemampuan pemiliknya hingga ke tahap tertentu.
Dan sesuatu masuk ke bidang pandang retina matanya.
Sekali lagi, tubuh kecil Toushiro terjun bebas dari ketinggian. Kali ini, Ichigo berusaha melesat cepat untuk menangkapnya, tak membiarkannya jatuh menghantam tanah lagi.
Toushiro telah mencapai batasnya.
Dan Ichigo masih kalah dengan gaya gravitasi atas sosok mungil itu. Es bak berlian berhamburan karena sayap es Toushiro kembali rusak akibat hantaman jatuhnya. Ia melihat seorang Arrancar melesat ke arah Komandan Divisi 10 yang jatuh itu, jelas bermaksud merebut Toushiro. Namun, ia terhalang oleh gelombang dingin yang menguar akibat reiatsu Toushiro yang masih meluap.
Tak hanya Arrancar saja yang jelas tertarik pada Toushiro. Paling tidak seratus Dementor muncul dari dalam hutan, meluncur mendekati si rambut putih.
"Damn it!" umpat Ichigo jengkel, menebas katana hitamnya kepada lima Adjuchas sekaligus, namun ia terhalang empat lagi. Ia tak bisa mengambil Toushiro dengan gangguan seperti ini!
Tak hanya Ichigo, para shinigami lain juga melesat maju membantai hollow yang muncul dari garganta yang terbuka dan Arrancar yang tersisa.
"Senbonzakura." Ribuan bilah pedang kecil berwarna merah muda melesat dengan cepatnya ke arah kumpulan para hollow dengan gerakan tangan Byakuya Kuchiki. Mengetahui datangnya bahaya yang dibawa oleh 'kelopak bunga sakura tipuan' itu, sejumlah besar hollow menembakkan cero mereka bersamaan.
"Nami kotogotoku waga tate to nare, ikazuchi kotogotoku waga yaiba to nare, Sougyo no Kotowari!)***" Katana di tangan Ukitake memisah menjadi pedang kembar, terhubung dengan seutas rantai merah, yang mana di rantai itu tergantung lima pelat perak. Komandan Divisi 13 itu maju, seakan menyambut datangnya cero raksasa hasil gabungan para hollow itu. Ia menyentuhkan ujung katana di tangan kirinya ke bola cero raksasa itu. Dan kemudian, seakan terhisap, cero itu menghilang, terserap ujung katana itu. Terdengar bunyi gemerincing drai lima pelat perak di rantai yang menghubungkan kedua katana di tangan Komandan Divisi 13 itu. lalu Ukitake menghunuskan katana di tangan kananya, menembakkan bola cero berukuran sma dengan yang tadi diserapnya ke arah para hollow, sukses menghabisi lebih drai seperempat dari mereka.
Namun, dua Dementor telah berada sangat dekat dengan Toushiro. Dalam keadaan selemah itu, Komandan Divisi 10 itu tak akan bisa menangani makhluk-makhluk kegelapan itu, yang perlahan menghisap semua energinya… reiatsu-nya semakin tipis… harapannya semakin pudar…
Ia bisa melihat langit malam yang hitam kelam. Dingin yang sangat tidak wajar ini bukan miliknya. Bukan pula milik Hyourinmaru. Atau milik Hakka no Togame yang tadi menolongnya. Dingin ini memberinya keputusasaan, sementara dinginnya dan Hyourinmaru selalu memberi kekuatan. Dingin ini memberinya ketakutan, sementara dinginnya dan Hyourinmaru selalu memberi keteguhan. Dingin ini memberinya ketidakberdayaan, sementara dinginnya dan Hyourinmaru selalu memberi keberanian.
Ia melihat dua sosok hitam berkerudung itu…. Para Dementor. Ia hampir bisa membaui busuknya kematian… kuatnya kelemahan… Tak ada yang tersisa darinya…. Mata turquoise-nya menatap hampa… Ia harusnya mati di padang esnya, bukan kebekuan seperti ini… Kebekuan yang perlahan menelannya dalam kegelapan… dengan rasa sakit yang mulai membakar seluruh tubuhnya…. Derak es yang meleleh perlahan… bankai-nya telah luruh…. Tapi ia bahkan terlalu lemah untuk berteriak…. Yang ia butuhkan saat ini adalah cahaya.
Tapi hitam merajai pandangannya.
Neville membelalak ngeri melihat dua Dementor itu melayang rendah di atas tubuh Toushiro yang tak bergerak. Ia tak tahu apakah Dementor bisa mempengaruhi shinigami. Tapi, yang ia tahu ia tak bisa membiarkan makhluk busuk itu mendekati sahabatnya! Tidak! Toushiro selalu melindunginya! Kali ini ia harus melindunginya!
Tapi apa yang bisa ia lakukan?
Neville menunduk tepat ketika Mantra Bius dari Rookwood nyaris mengenainya.
Pikir Neville! Pikir! Apa yang bisa mengalahkan Dementor?
Jawabannya mudah sekali; Mantra Patronus!
Neville mencengkram tongkat sihirnya dengan tangannya yang berkeringat. Ia tak pernah menghasilkan Patronus sebelumnya… Ia tak bisa…
Neville menatap sekelilingnya dengan putus asa. Semua penyihir masih sibuk dengan lawan masing-masing, begitu pula para shinigami; Ichigo mati-matian berusaha mengenyahkan hollow yang menghadang jalannya menuju Toushiro, berteriak memanggil nama si mungil itu.
Tapi Toushiro tak akan menjawabnya… tidak bisa… dengan kematian yang siap menyambutnya….
Tidak! Ia tak akan membiarkan itu terjadi! Toushiro Hitsugaya tidak boleh pergi!
"E-expecto… expecto patronum…" sesuatu yang berwarna putih keperakan mendesau di ujung tongkat sihirnya. Masih belum cukup… Ia harus memikirkan hal yang membahagiakan… tapi apa? Situasi seperti ini sangat tidak tepat mengingat sesuatu yang membahagiakan!
Lebih banyak Dementor yang mengelilingi Toushiro.
"Toushiro!" raung Ichigo keras.
"Komandan!" jerit Rangiku ngeri.
"Expecto patronum…" Tangan Neville gemetar hebat, berusaha tetap memegang tongkatnya. Tapi nyala keperakan itu justru semakin menyusut. Ia tidak bisa melakukan ini… ia tak bisa menolong Toushiro…
"Shiro-chan!" jerit Momo.
Mata Neville melebar. Kata-kata yang pernah diucapkan Toushiro padanya itu mendadak teringat olehnya. Kata-kata yang digunakan Toushiro untuk menyemangatinya saat ia merasa ia tak bisa melakukan sesuatu…
Toushiro menolongnya saat dia bahkan tidak mengenal siapapun kecuali Ichigo. Ia tidak ragu memberinya bantuan saat orang lain lebih suka menontonnya kesulitan dari jauh. Toushiro bahkan dengan sabar mengajarinya tentang sihir yang sulit, padahal ia baru mengenal sihir Inggris. Ia juga tak ragu menjadikan dirinya sebagai tameng saat Baron Berdarah mencoba menyerangnya.
Ia tak boleh ragu untuk menolong Toushiro!
"Expecto…" Pendar cahaya putih keperakan itu semakin besar di ujung tongkat sihir Neville. "Expecto patronum…" Semakin besar dengan besarnya tekadnya untuk menolong Toushiro. Toushiro harus tetap hidup! "EXPECTO PATRONUM!" raung Neville.
Sesuatu yang sangat besar meluncur keluar dari ujung tongkat sihirnya. Seekor singa perak seukuran aslinya – hampir sebesar beruang – yang bersinar lebih terang dari bulan, berdiri gagah dengan keempat kakinya yang kokoh.
Hampir semua petarung menoleh, terkejut melihat dan merasakan energi sihir yang begitu besar muncul begitu saja. Mata mereka tertuju pada singa jantan perak yang bersinar begitu terang di depan Neville Longbottom, yang mencengkram tongkatnya dengan wajah bundarnya yang tampak tegas, tanpa kebimbangan – hampir tidak seperti Neville yang dikenal para penyihir
"Ne-Neville?" bisik Hermione, terpana.
"Pergi," bisik Neville. "Lindungi Toushiro."
Seakan mengerti apa yang dikatakan Neville, singa perak itu melesat pergi. Ia berlari dengan kecepatan tak terduga, tanpa suara, ke arah kumpulan para Dementor. Lari singa Patronus itu tak terhenti, sekalipun beberapa penyihir meluncurkan sejumlah mantra penghancur. Singa itu bahkan bergerak gesit menghindari serangan jarak jauh beberapa hollow.
Seorang Arrancar menembakkan cero kepada Patronus Neville itu, membuat tanah berguncang dan asap tebal menguar. Namun, singa itu melesat keluar dari kepulan debu, tak hancur sama sekali, justru bersinar lebih terang.
"Kemauan Neville untuk melindungi Toushiro begitu besar, sampai cero Arrancar bahkan tak bisa mematahkan sihirnya," kata Lupin, separo takjub separo terkejut. "Belum pernah aku melihat Patronus sekuat itu, selain Patronus Harry…"
Tapi jumlah Dementor juga semakin bertambah. Hawa dingin yang menebarkan keputusasaan dan ketakutan semakin pekat saja.
"Makhluk sialan itu…" geram Ikkaku. Ia memenggal kepala seorang Arrancar tanpa ampun, lalu berbalik, bermaksud membantu Komandan Divisi 10 itu.
Ikkaku terbelalak, begitu pula sejumlah shinigami dan hampir semua penyihir. Singa perak itu sama sekali tak terhenti, menerjang barisan para Dementor seperti memburu mangsa.
Hampir bersamaan, Harry, Ron, Hermione, Ginny, dan Luna mengangkat tongkat sihir mereka, melontarkan mantra yang sama, "Expecto Patronum!"
Rusa jantan, anjing terrier, berang-berang, kuda, dan kelinci perak berlari seperti terbang, menerjang para Dementor, menyusul singa jantan yang bergerak agresif menyerang makhluk-makhluk sihir itu, menyebarkan sesuatu seperti kehangatan yang menenangkan di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Whoa," ujar Isshin, antara kagum dan kaget, "sihir yang luar biasa!"
"Kalian pikir itu bisa menghentikanku?!" seru seorang Arrancar, melesat ke arah Toushiro yang telah bebas dari kepungan Dementor. Namun, sosok jangkung shinigami pengganti menghalanginya dengan zanpakutou-nya.
"Kau pikir kau bisa melewatiku?" Ichigo berkata dengan gigi menggertak. "Getsuga tenshou!"
Arrancar itu terpaksa ber-sonido menghindari kuatnya serangan Ichigo. Ia berhasil selamat, tapi bukan tanpa kompensasi. Lengan kirinya terbakar akibat terkena sedikit gelombang energi dari Getsuga Tenshou itu.
"Brengsek!" umpat si Arrancar. Dilihatnya Ichigo Kurosaki yang membawa target misinya pergi; hewan-hewan sihiran berwarna perak masih melesat ke sana ke mari mengusir para Dementor, membuat jalan shinigami pengganti itu mulus ke arah kastil.
Sial! Ia tak bisa membiarkan buruannya lepas begitu saja!
Arrancar itu melesat, mengejar Ichigo Kurosaki. Gilbert ternyata lolos dari maut atas serangan teknik terakhir Toushiro. Berdarah-darah, ia melesat untuk mencoba mengambil buruannya.
Ichigo menggeram murka. Arrancar itu begitu keras kepala menginginkan Toushiro yang sekarat di tangannya ini!
Tapi ada sesuatu yang melesat cepat melewatinya. Kehadiran yang ia tak duga muncul di sana.
Seorang pria muda dengan kulit pucat nyaris seputih kertas berdiri di antara dirinya dan Arrancar itu. Pemuda itu masih sama dengan yang diingat Ichigo. Jangkung, walau tak setinggi dirinya, dan kurus, dengan pakaian serba putih yang sama dengan dulu. Rambutnya yang hitam kelam sedikit lebih panjang, tergerai melewati bahunya. Sebuah topeng berwarna putih tulang yang berbentuk separuh helm bertanduk menutupi sisi kiri kepalanya. Wajahnya tanpa ekspresi. Mata hijau emerald itu hampa tanpa emosi. Sebuah garis vertikal tipis bak air mata abadi tertoreh memanjang di bawah kedua matanya hingga ke rahangnya yang tegas. Sebuah katana terselip di obi pinggangnya. Bersamanya, berdiri seorang wanita cantik dengan tubuh sempurna, memakai jubah abu-abu gelap di atas gaun mini berwarna hijau yang dikenakannya. Rambut panjang bergelombang wanita itu berwarna hijau, sewarna dengan warna iris matanya, tergerai hingga ke pinggangnya. Di kepala wanita itu terdapat topeng hollow berbentuk tanduk domba yang melengkung spiral, dengan retakan di bagian tengahnya. Dan sosok yang ketiga muncul hanya satu meter di belakangnya, membuatnya terbelalak kaget, adalah seorang pria muda jangkung, dengan rambut sebiru langit yang sama dengan matanya. Wajahnya yang berahang tegas menunjukkan keberingasan yang tak susah payah disembunyikan. Sebentuk topeng yang menyerupai rahang tampak menempel di rahang kanannya. Ketiga pendatang itu sama-sama membawa katana.
"Ulquiorra?! Nel?!" seru Ichigo kaget. "Grimmjow?!
Tapi tak hanya itu. Orihime Inoue juga menatap tiga kehadiran tak terduga itu dengan mata terbelalak kaget. kedua tangannya membekap mulutnya, seakan menahan jerit kekagetannya. Wajahnya yang cantik terarah pada sosok si pemuda pucat, dan detik berikutnya matanya berkaca-kaca.
"Ha! Lama tak ketemu, Ichigo!" kata si rambut biru, menyeringai. "Setelah urusan ini beres, kupastikan duel denganmu, Sialan!"
__ADS_1
"Kalian!" seru si Arrancar, tak kalah terkejutnya.
"Bawa Chibi-Taicho pergi dari sini," kata wanita itu, suaranya terdengar agak dingin.
"Kami akan bereskan sampah-sampah ini," kata si pria pucat datar; para penyihir mendengar suara si pemuda pucat itu. Suaranya datar dan dalam tanpa perasaan
"E-eh… I-iya," kata Ichigo, masih kaget dengan kedatangan para mantan Espada itu. Ichigo segera turun dengan Toushiro di lengannya, lalu membaringkannya di tanah berumput; Orihime langsung berlari menyongsongnya dan memanggil peri-perinya untuk menyembuhkan Toushiro. Urahara dan Isshin langsung menjauh dari pertarungan, bergegas memeriksa Toushiro.
"Ke-kenapa Nel datang ke sini?" tanya Orihime heran, suaranya bergetar. "D-dan bagaimana di-dia…"
"Inoue," kata Ichigo pelan.
"Kau benar-benar membuat masalah, Gil-kun," kata Nel dingin. "Kau melukai teman Itsygo-ku."
"Masalah untukmu, Oddershvank?" geram Gilbert. "Apa maumu, hah? Menghentikanku?"
"Aku datang untuk membunuhmu," kata Nel. Arrancar perempuan itu menarik lepas katana yang ada di obi pinggangnya.
"Kau kira kau bisa melakukannya?" ejek Gilbert.
"Kenapa," kata Ulquiorra, masih tanpa irama, "kau berpikir dia tidak bisa membunuhmu?"
"Kalaupun dia tidak bisa, aku masih bisa mencabik-cabik si payah ini," kata Grimmjow sadis.
Gilbert melemparkan tatapan menghina pada para mantan Espada itu. "Tak ada yang meminta pendapatmu! Bagaimana kau bisa kembali dari neraka, hah?"
"Bah, cerewet!" Grimmjow menarik katana-nya dan menerjang sang Arrancar. "Kebetulan aku belum berburu!"
Kedua mantan Espada yang lain itu juga menghunuskan zanpakuto mereka. Ulquiorra menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke tsuba zanpakuto-nya; bola energi hitam seukuran bola golf terbentuk di depannya, menguarkan aura gelap yang pekat. "Cero."
Kualitas cero mantan Quatro Espada itu membuktikan perbedaan level kekuatannya dengan hollow-hollow rendahan dan juga para Arrancar biasa yang jadi musuhnya. Lengan kiri Gilbert dibuatnya luka parah dan bersimbah darah.
"Sepertinya masih kurang," kata Ulquiorra datar. Mata hijau emerald-nya mengerling pada dua Arrancar lain yang datang dengan wajah murka dan wujud resurrection mereka. "Sampah."
Dengan sonido, Ulquiorra berpindah dan balik menyerang dua Arrancar itu. Zanpakuto-nya Murcielago, terayun dengan anggun, digerakkan dengan tanpa emosi. Meski begitu, bukan berarti mereka tak bisa merasakan kuatnya energi spiritual ketiga pentolan mantan Espada itu. Meskipun Nel tampak tenang, Ulquiorra menghampa, dan Grimmjow bertarung seperti orang gila – tertawa senang sambal menebas musuhnya tanpa ampun – tak menyingkirkan fakta betapa berbahaya dan mematikannya mereka.
Untungnya mereka tidak berada di pihak musuh.
"Temanmu sudah jatuh, Harry Potter," kata Lucius Malfoy, mengalihkan perhatian Harry dari pertarungan di udara. Walaupun wajah ayah Draco itu terluka, ia masih bisa bicara dengan suara angkuh seperti diulur-ulur. "Kenapa kau tidak serahkan saja ramalan itu pada kami, dan kami mungkin akan pergi?"
"Bermipilah berpikir tentang itu!" Harry melempar bola kristal keemasan itu ke udara; mata Lucius Malfoy dan sejumlah besar Pelahap Maut terbelalak. Harry mengacungkan tongkat sihirnya ke arah bola itu, berseru lantang, "Reducto!"
Pecahan kaca pecah berhamburan, bersamaan dengan asap putih yang membentuk sosok ganjil dengan mata besar muncul dari sisa bola ramalan itu. Tak jelas apa yang dikatakan si sosok mengingat deru pertempuran di sekitarnya.
"Bocah sial! Stupefy!"
"Protego!" raung Harry, menangkis mantra itu dengan segera.
Ah. Menghancurkan bola ramalan itu memang menyelesaikan satu masalah. Tapi tidak dengan yang lainnya.
"Mencoba menyelamatkan teman kecilmu, Longbottom?" ejek Bellatrix, meluncurkan mantra berkali-kali ke arah Neville yang bersusah payah menghindarinya. Bagaimanapun juga, Bellatrix Lestrange adalah penyihir dewasa, yang telah sangat berpengalaman di Sihir Hitam. Bukankah wanita itu adalah salah satu tangan kanan favorit Voldemort? "Jangan mencemaskan berlebihan! Bocah shinigami itu akan mati!"
Neville menggeratakkan giginya dengan marah. "Crucio!"
Mantra itu telak mengenai Bellatrix, membuatnya menjerit dan terjatuh. Neville tampak kaget sekali. Kengerian tampak pula di wajah bundarnya.
"Pertama kali memakai kutukan Tak Termaafkan, Little Longbottom?" engah Bellatrix. Ia bangkit lagi, kali ini dengan seringai gila terpasang di wajah rupawannya yang terkikis waktu di Azkaban. "Saran untukmu, sekedar kemarahan tak cukup baik untuk menggunakannya! Kau harus memaksudkannya!" seringai Bellatrix bertambah lebar. "Benar memaksudkannya… Itu bagaimana aku benar-benar memaksudkannya… untuk membuat Frank dan Alice tak pernah waras lagi…"
"Jangan…" suara Neville gemetar saking marahnya. Ia mencengkram tongkat sihirnya dengan tangannya yang berkeringat. "Jangan… berani-berani kau… bicara tentang mereka…"
"Kalau begitu, aku menawarkan kesempatan untukmu… Kau darah murni, Little Longbottom…"
"Lalu kenapa?!" bentak Neville.
"Pangeran Kegelapan selalu menghargai darah murni… Kau mungkin akan mendapat pengampunannya jika kau bergabung dengannya…"
"Dan aku berpikir lebih baik menjadi kelahiran Muggle dan mati daripada harus bergabung dengannya! Setelah apa yang kau lakukan pada orang tuaku kau berpikir untuk jadi sampah sepertimu?"
"Bocah *****!" Bellatrix meraung murka. Ia meluncurkan mantra lagi. Saking kuatnya mantra itu, itu membuat Neville terdorong mundur.
"Ichigo," Isshin sejenak teralih perhatiannya dari Toushiro. Neville Longbottom sejak tadi membuat ia penasaran; bocah penyihir itu yang berinisiatif menolong Toushiro dari para Dementor. "Apa yang-? Anak itu-?"
"Kedua orangtuanya diserang mantra oleh perempuan itu sampai hilang ingatan," kata Ichigo, kemarahan tampak jelas di tiap katanya. Isshin terbelalak kaget. "Aku bertemu dengan mereka; mereka bahkan tak mengenali Neville sebagai anak mereka."
Ledakan keras membuat Ichigo menoleh kaget. Bellatrix menyerang Neville dengan mantra yang begitu kuat sampai membuatnya terpental. Ichigo terbelalak melihat tongkat Neville patah menjadi dua.
"Brengsek," desis Ichigo.
"Ichigo!" seru Urahara, menahan langkah shinigami pengganti itu. "Satu-satunya manusia yang boleh dibunuh hanyalah Voldemort, bukan Bellatrix!"
"Peduli setan! Urus Toushiro dan aku akan bereskan-!"
Tapi dilihat oleh Ichigo kalau Bellatrix bermaksud menghabisi Neville. Luncuran mantra hijau Avada Kedavra melesat mulus ke arahnya.
"Tidak!"
Sesuatu yang seperti nyala api mendadak melesat, menyongsong mantra itu. terdengar pekikan ganjil, dan nyala api itu membara dalam warna jingga.
"Fawkes!" seru Neville kaget.
Burung phoenix itu menghilang dalam nyala api dan abu yang teronggok di tanah. Neville menatap abu Fawkes dengan ngeri; burung phoenix Dumbledore baru saja menyelamatkannya. Dilihatnya bayi kecil phoenix yang mencicit di antara abu. Tentu saja. Phoenix adalah burung abadi.
Neville menatap wajah Bellatrix yang tampak agak terkejut karena kemunculan Fawkes. Tak hanya ekspresi kaget Pelahap Maut wanita itu yang masuk ke indera penglihatannya. Sebuah onggokan kain hitam kumal tergeletak tak jauh dari jangkauan tangannya. Neville meraih kain itu; Topi Seleksi.
"Diselamatkan burung bodoh itu, eh?" cemooh Bellatrix. "Tapi tak ada kesempatan kedua, Nak. Kurasa tak ada salahnya menghabisi satu Longbottom lagi. Bukankah Nenekmu terbiasa dengan kehilangan anggota keluarga? Kurasa ini tak akan terlalu menyakitkannya, kehilangan cucu satu-satunya…"
Neville mencengkeram Topi Seleksi dengan tangannya yang gemetar. Ia tidak takut dengan kematian… Yang ia takutkan adalah kesempatan yang akan hilang jika ia mati. Ia tak bisa menjaga Neneknya… Ia tak bisa bertemu orang tuanya lagi… Ia tak bisa bertemu teman-temannya lagi…. Ia harusnya tetap ada untuk menjaga mereka!
"Jangan berani-berani kau memantrainya, Bellatrix!" seru Ichigo murka, menebas sejumlah hollow yang menghalangi jalannya.
Bellatrix mengeluarkan tawa gila. "Avada Kedavra!"
Sesuatu yang berat mendadak tergenggam di tangan Neville. Yang bisa ia pikirkan begitu melihat luncuran kilatan hijau itu adalah menarik keluar apapun itu, dari Topi Seleksi. Benda itu ia ayunkan, membuatnya menabrak Mantra Kematian itu dengan bunyi keras seperti halilintar.
Beberapa petarung teralih lagi perhatiannya. Dilihat oleh mereka sebuah pedang perak berbentuk salib dengan batu rubi menghiasi gagangnya digenggam oleh Neville Longbottom yang tampak sangat kaget.
Ichigo ternganga kaget. "Apa itu?!"
"Pedang Godric Gryffindor!" seru Sirius, tampak sama kagetnya. "Salah satu dari peninggalan empat pendiri Hogwarts!"
"Wow," komentar Yumichika.
"Kau kira bisa melawanku dengan itu," geram Bellatrix. "Itu hanya pedang…"
"Pedang Gryffindor bukan pedang biasa," kata Dumbledore tenang. "Ditempa oleh perak terbaik goblin berabad-abad yang lalu. Kau tahu sihir goblin yang luar biasa, Bella? Mereka membuat barang-barang yang tak bisa dirusak dengan mudah, begitu pula pedang itu. Pedang itu menyerap apapun, bahkan mantra yang bisa membuatnya lebih kuat. Kalau kau mau tahu, Bella, pedang itu yang membunuh Basilisk tiga tahun yang lalu. Sejarah tahu betapa mematikannya bisa ular itu."
"Kau sengaja," geram Bellatrix marah. "Kau mengirim burung ***** itu untuk membawa pedang sial itu kepada Longbottom."
"Mari kita anggap ini keberuntungan," kata Dumbledore tenang. "Aku tak menyangka Mr Longbottom-lah pada akhirnya menarik pedang itu dari Topi Seleksi. Dan," Dumbledore menoleh, tersenyum seakan menyambut sosok jangkung berjubah hitam yang muncul nyaris tak diketahui oleh siapapun, "selamat datang, Tom."
__ADS_1
Lord Voldemort akhirnya muncul di medan perang.