
"Kita harus lakukan sesuatu," bisik Harry pada Ron dan Hermione. Beruntung perhatian semua orang tertuju ke pertempuran. "Dan apa kalian sadar kalau tidak ada Snape di sini?"
"Mungkin dia berjaga di tempat lain?" usul Hermione pelan.
"Oh, kau bisa jadi lugu sekali, 'Mione! Bagaimana jika dia pergi ke Kau-Tahu-Siapa?" keluh Ron.
"Dumbledore percaya padanya," kata Hermione tegas. "Kita harus percaya apa yang dipercayanya, atau kita tak bisa percaya apapun atau siapapun. Lagipula-Harry? Kau baik saja?"
Harry mencengkram kepalanya, mendesis perih pada bekas lukanya yang mendadak serasa menyengatnya. Dan sekali lagi, ini terjadi, lagi.
Ia berkali-kali, dalam tiap tidurnya, menyusup ke dalam pikiran Lord Voldemort. Ia merasakan panas membara di dahinya, tapi itu tak mengganggunya untuk melihat. Dalam pikirannya, ia melihat Pangeran Kegelapan itu ada di dalam ruangan berpenerangan temaram. Jari-jarinya yang kurus seperti kaki laba-laba tampak memelintir tongkat sihirnya. Harry bisa rasakan ketidaksabaran menggelegak dalam benaknya, tahu itu bukan miliknya. Perasaan itu milik pria bermata merah itu.
"Tu-Tuan…" cicit Peter Pettigrew, yang bersimpuh di dekat kaki Voldemort, yang berdiri di samping jendela rusak di ruangan berpapan lusuh yang dihiasi kertas dinding yang telah tua dan robek itu. Harry mengenali ruangan itu – kamar atas Shierking Shack. "Su-sudah hampir lewat te-tengah malam…"
"Aku tahu, Peter," kata Voldemort dengan suara melengking yang dingin. "Kau tak perlu memberitahuku."
"La-lalu, Tuan… Ke-kenapa anda membiarkan para A-Arrancar itu bergerak sa-sampai selama ini? Angkatan pe-perang kita bi-bisa saja terluka…"
"Aku tak peduli," kata Voldemort tanpa belas kasih. "Yang aku mau adalah aliansi kita membuat perlawanan sebrutal mungkin sebelum kita datang. Itu akan membuatku mencapai Harry Potter lebih mudah, dengan pertahanan Hogwarts yang melemah."
"Ta-tapi Tuan…"
"Lagipula, Peter," kata Voldemort licin, "aku sedang sedikit berbaik hati pada Hogwarts dan aliansi kita yang berharga… Biarkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan Monster Bertopeng itu akan menyadari betapa aku bisa mereka percaya… Para Arrancar itu ingin waktu yang cukup untuk bermain-main dengan para shinigami itu…"
"Tujuan me-mereka, Tuan?"
"Ya," Harry harus menahan bekas lukanya yang terbakar saat merasakan kehausan dan kegairahan Voldemort akan hal itu. "Kau memang tak mengetahui secara persis apa yang mereka inginkan, tapi aku tidak…"
"Ya-Yang Mulia…?"
Harry bisa melihat keingintahuan terpancar di wajah Peter Pettigrew yang seperti tikus. Dan mendadak Harry diselubungi ketakutan yang amat besar, melihat sekelebat potongan ingatan Voldemort yang muncul dalam pikirannya. Seorang Arrancar pria berambut coklat menunjukkan padanya sebuah lembaran data, dengan foto dari sebuah wajah yang sangat tak asing baginya. Sepenggal kalimat terdengar olehnya dari pembicaraan di masa lampau itu, diucapkan oleh si Arrancar bertampang licik itu, 'Kita dapatkan The Heavenly Guardian, dan semua tujuan kita kan jadi kenyataan.' Kegairahan Voldemort semakin memuncak, membuat Harry harus membuka matanya saat itu juga.
Dan ia baru sadar kalau ia berbaring di lantai pualam Aula Besar. Suara pertarungan di luar sana bisa terdengar oleh gendang telinganya.
"Harry!" engah Hermione cemas, membantunya duduk. "Kau baik saja?!"
"Jangan bodoh, 'Mione," kata Ron gemetar, "dia tidak pernah baik setelah mendapat penglihatan, 'kan…"
Harry memandang berkeliling, Yang ada di dekatnya hanya Ukitake dan Orihime, yang memandang Harry dengan campuran ingin tahu dan cemas. Dan, Harry fokus pada shinigami pria berambut putih itu, berusaha membuat gemetar pada suaranya tak mengganggu pesan yang harus disampaikannya.
"Me-mereka menginginkannya… dia…"
"Maaf?" Ukitake menatap Harry dengan agak bingung.
"Anda harus… me-menariknya dari… pe-pertempuran…" engah Harry.
"Harry, apa maksudmu?" tanya Hermione ketakutan.
"Para Arrancar itu!" seru Harry, hampir kehilangan napasnya, "Mereka mengincarnya!"
"Siapa?" tanya Orihime bingung.
"Toushiro!"
Harry melihat keterkejutan di mata coklat Juushiro Ukitake, yang menatap langit lewat jendela gelap itu, tak salah lagi ke titik di mana komandan mungil masih bertarung di sana. Ukitake menatap Harry lagi, ketidakpercayaan ada di sana.
"Potter-san, aku tak melihat alasan kenapa mereka menginginkan Komandan Hitsu-"
"Saya mohon," kata Harry gemetar. "Percayalah pada saya!"
"Harry," kata Hermione, masih sama cemas dan takutnya, "ingat penglihatanmu yang sebelumnya; itu palsu…"
"Yang ini tidak palsu!" bantah Harry, dan ia yakin ia benar. "Aku tahu itu, Hermione! Dan," Harry menatap Ukitake penuh permohonan, "tolong, percayalah…"
"Potter-san…"
"Toushiro dalam bahaya," kata Harry gemetar, dan ia melihat Ron, Hermione, dan Neville yang ada di sana tampak bingung dan takut luar biasa. "A-aku melihat, mereka… Arrancar itu dan Voldemort… mereka membicarakan itu… mereka menginginkan Toushiro…"
"Kenapa?" tanya Ukitake agak mendesak.
"A-aku tak tahu," bisik Harry, mencengkeram kepalanya, mengingat kembali potongan penglihatannya tadi. "Arrancar itu… dia mengatakan sesuatu… tentang… The Heavenly… Guardian…"
"Apa?"
Harry mendongak. Kali ini, ia melihat keterkejutan yang lebih besar dari sebelumnya di mata Ukitake. Pria itu, sekali lagi, menatap langit.
"Tidak mungkin…" kata Ukitake pelan, suaranya sarat kecemasan bercampur ketidakpercayaan. "Bagaimana mereka tahu…"
"U-Ukitake-san?" ujar Orihime pelan, tampak bingung. "Apa yang anda…?"
"Jika para Arrancar tahu tentang Heavenly Guardian dan menginginkannya, maka Komandan Hitsugaya memang dalam bahaya," kata Ukitake cepat, ekspresinya mengeras.
"Apa maksud anda?" tanya Neville ketakutan. "Dan apa itu Heavenly Guardian?"
"Kita tidak punya cukup waktu untuk itu. Tetap di sini, Harry. Aku harus keluar sekarang."
Dan Komandan Divisi 13 itu bergegas keluar dengan langkah cepat, menutup pintu kayu ek Aula di belakangnya. Para murid langsung kasak-kusuk di Aula, berkali-kali mengerling Harry.
"A-apa yang…" Neville berkata gemetar.
"Kita harus bantu mereka!" engah Harry.
"Kita tidak boleh keluar dari Aula, Harry!" seru Hermione panik. "Lagipula mereka semua tahu bagaimana untuk bertempur!"
Harry menggeratakkan giginya kesal. Tak peduli dengan di sekitarnya ia menerobos gerombolan anak-anak dan membuka pintu ganda Aula Besar, dengan Hermione, Ron, Ginny, Neville, dan Luna mengikuti di belakangnya. Orihime Inoue bergegas keluar bersama mereka.
"Mereka keluar Aula!" seru seorang anak Slytherin.
"Mr Potter!" seru Profesor Flitwick yang mendapat tugas menjaga anak-anak tetap di dalam Aula. "Apa yang kau- Tidak, anak-anak! Kalian tidak boleh keluar juga!"
Guru Mantra itu terpaksa membiarkan lima penyihir muda itu lepas. Sejumlah siswa lain tampaknya ingin keluar dari perlindungan mereka. Ia harus menyegel pintunya saat itu juga.
Urahara saat itu baru saja menumbangkan seorang Arrancar wanita dengan meledakkannya, dan mendarat di dekat Ukitake. Pria itu tak tampak kelelahan setelah bertarung, tapi ekspresinya serius.
"Ada apa?" tanya Urahara segera.
"Harry Potter bilang dia mendapat penglihatan," kata Ukitake cepat, "tentang tujuan gerakan Arrancar. Lebih dari sekedar balas dendam untuk Aizen, Urahara-san, mereka bermaksud memanfaatkan Komandan Hitsugaya."
Kalau saja mereka bisa melihat di balik bayang-bayang topi lebar Urahara, mereka bisa melihat keterkejutan di sana.
"Kenapa?" tanya Urahara, kedengarannya heran. "Kenapa mereka menginginkan orang yang bahkan paling membenci Aizen? Lagipula, apapun alasannya, Hitsugaya-san tidak akan sudi bergabung…"
"Aku tahu. Tapi ini sepertinya tentang legenda itu," kata Ukitake muram "Mereka tahu."
__ADS_1
"Oh." Ada nada penuh pemahaman di sana. "Tapi bagaimana tepatnya…"
"Kita tarik Komandan Hitsugaya dari pertarungan lebih dulu, atau…"
Ledakan reiatsu mendadak terasa menghantam mereka semua. Ukitake dan Urahara memandang pertempuran di atas sana. Harry dan teman-temannya tak bisa bergerak; besarnya energi dingin yang tak asing itu memaksa mereka terjatuh ke tanah.
Tapi Harry masih bisa melihat. Di atas sana, Toushiro tampak melawan Arrancar pria yang dilihatnya dalam penglihatannya. Tapi saat itu penampilan si rambut putih sedikit berbeda. Sepasang sayap es yang bernuansa reptil seakan muncul dari punggungnya. Lengan kanan Toushiro berselubung es tebal yang menyerupai kepala naga, dengan mata merah bak rubi, mencengkram Hyourinmaru yang tsuba-nya menjadi bintang delapan titik. Adapun tangan kiri dan kedua kaki Toushiro juga berselubung es yang menyerupai cakar. Ekor bersisik es mengayun pelan di belakangnya. Penampilan Toushiro itu membuatnya terlihat seperti manusia setengah naga es; secara harfiah memang begitu.
"Menggunakan bankai-mu Komandan Kecil? Apa aku membuatmu terdesak?" kata si Arrancar mencemooh. "Elemenku api; tidakkah kau tahu kalau kita berlawanan?"
"Aku pernah hadapi api yang lebih kuat dari itu. Dan bankai ini, aku hanya ingin menyelesaikannya lebih cepat," desis Toushiro.
"Ah," seringai si Arrancar, "aku juga ingin menyelesaikan ini lebih cepat. Dan ngomong-ngomong, bentuk bankai-mu cukup impresif."
"Aku tak butuh pujianmu," geram Toushiro.
Seringai si Arrancar makin melebar. "Tak ada salahnya untuk kau terima. Patut disayangkan memang, itu belum sempurna, tapi tak masalah…"
"Apa maksudmu?" Toushiro mengernyit curiga.
Si Arrancar mengangkat katana-nya. "Mungkin kau harus ucapkan selamat tinggal pada teman-temanmu, Komandan Kecil."
Dan si Arrancar menerjang maju, melemparkan gelombang api merah membara ke arah Toushiro.
"Ryoujin Hyouheki!" Sebuah dinding es tebal terbentuk di depan Toushiro dari ayunan zanpakuto-nya, melindunginya dari gelombang api itu. Dan selanjutnya, si Arrancar tampaknya memutuskan untuk menjajal kemampuan berpedang si komandan mungil itu.
Harry menatap adu pedang itu dengan kecemasannya yang bertambah besar. Jelas sulit menarik komandan mungil itu dari pertempuran yang sedang sibuk ditanganinya. Harry melihat para shinigami lain sibuk juga menangani lawan masing-masing. Urahara memang langsung melesat, mendekati Toushiro, bermaksud menjauhkannya dari pertarungan. Tapi ia langsung dihadang dua Arrancar sekaligus.
Renji juga tampak menghadapi seorang Arrancar. Awalnya ia agak yakin bahwa Arrancar pria berambut pirang ini bisa memberinya tantangan yang berarti untuk mengasah kemampuannya. Bahkan si Arrancar tadinya berani melakukan provokasi.
"Suatu kehormatan, bertempur melawan letnan sepertimu, Renji Abarai. Mari kita lihat apakah gelarmu itu cocok untukmu, atau," si Arrancar menghunuskan zanpakuto-nya, "itu hanya omong kosong dan kesalahan."
"Ide bagus," kata Renji, menyiapkan Zabimaru di tangannya, "Bisa kubuktikan siapa yang omong kosong di sini. Hoero, Zabimaru!"
"Kenapa," kata Renji, mengayukan Zabimaru, membuat bilah-bilah pedangnya bergerak seperti cambuk menghalau gerakan seorang Arrancar yang dilawannya, "kalian tidak balik saja sana ke Hueco Mundo?!"
"Tidak setelah urusan kami di sini selesai, Kepala Nanas!" ejek si Arrancar, membuat kejengkelan Letnan Divisi 6 itu bertambah beberapa derajat mendengarnya.
Sementara para shinigami sibuk dengan para hollow dan Arrancar, para penyihir dewasa juga tengah sibuk melawan para Pelahap Maut.
"Princessa," kata salah satu dari Arrancar kembar yang jadi lawan Rukia, wanita muda berambut hitam dengan seringai licik, "senang akhirnya bertemu denganmu."
"Cantik, tapi aku ragu dia cukup kuat untuk kita berdua, saudariku," kata kembarannya mencemooh.
"Kalau begitu izinkan aku memperlihatkannya pada kalian," kata Rukia. "Mai, Sode no Shirayuki! Some no Mai, Tsukishiro!"
Pilar es muncul dan mengurung salah satu dari Arrancar kembar itu, menjulang hingga ke langit sebelum es itu pecah berkeping-keping, menghancurkan musuh yang ada di dalamnya.
"Perempuan sial!" umpat kembaran si Arrancar murka.
Rukia segera menyiapkan serangan berikutnya. Berdasarkan pengalamannya, semakin marah seorang Arrancar, semakin ganas dia.
"Harry! Apa yang kau lakukan di sini?!" seru Sirius, sambil meluncurkan mantra ke arah Pelahap Maut yang ia kenai sebagai Dolohov. "Kembali ke kastil!"
Tepat saat itu sebuah Mantra Bius hampir saja menyerempet bahu kirinya. Dilihatnya Lucius Malfoy menatapnya dengan kebencian.
Ini waktunya ia mengangkat tongkat sihirnya.
"Kau tak akan punya kesempatan, Kecil!"
"Kurasa aku tahu," seringai si Arrancar yang ia tahu bernama Gilbert Ciro. "Kau mengayunkan zanpakutou-mu dengan kebencian di sana. Tidakkah kau tahu kemana kebencian itu akan membawamu?"
"Diam," desis Toushiro. Kemarahannya menggelegak mendengar kata-kata Ciro. Ia, entah mengapa merasa seperti ditarik ke masa lalu, ke hadapan pria yang paling dibencinya. Ia seharusnya tidak mengingatnya, membiarkan dirinya dibanjiri kebencian itu lagi. Tapi apa yang dikatakan Arrancar di depannya seakan memanifestasikan Aizen itu sendiri.
"Tuan Aizen mungkin akan senang jika kami menyingkirkanmu," kata Ciro licik. "Atau mungkin, kami bisa memberimu kekuatan lebih dari yang bisa kau bayangkan."
Toushiro menggeram
"Coba kita lihat." Ciro menyeringai licik lagi. "Kami sudah menyimpan semua data shinigami dari arsip yang ditinggalkan Tuan Aizen, termasuk tentangmu, Komandan. Data tempur Toushiro Hitsugaya: serangan, 80;" Mata Toushiro melebar terkejut mendengarnya. "- pertahanan, 80-"
"Apa-apaan itu?" ujar Ichigo, sedikit terkejut.
"- kelincahan, 90-"
"Mereka sudah mempelajari kemampuan para shinigami," kata Byakuya.
"- reiatsu, 90; kecerdasan, 80; kekuatan fisik, 80. Hmm, tidak buruk." Tapi seringai _ bertambah lebar. "Bagaimana jika kami membuatnya berlipat ganda?"
Toushiro mencengkram gagang Hyourinmaru dengan kedua tangannya, "Hyōryū Senbi!"
Ayunan bilah Hyourinmaru secara linear itu menciptakan semburan es berbentuk bulan sabit, terarah ke _. Tangan kiri _ terperangkap, tapi ia berhasil menariknya paksa, dengan kompensasi luka robek yang cukup dalam.
"Tampaknya aku hanya bisa bicara dengan bertarung denganmu, Kecil!"
Dan _ menerjang maju dengan zanpakutou terhunus. Tak hanya itu, seorang Arrancar lain juga menyerangnya dari belakang. Toushiro tak bisa mengandalkan Rangiku untuk melindungi punggungnya sekarang, yang mana letnan-nya itu sedang sibuk menangani seorang Arrancar lain. Sekilas dilihatnya raut cemas Rangiku, sebelum ia melancarkan Gunchou Tsurara ke arah musuh barunya, dan meluncurkan Ryōjin Hyōheki untuk melindunginya dari kilatan petir keperakan, elemen zanpakuto _.
(distraction)
"Terlambat, Komandan Es."
Mata Toushiro membelalak. Yang ia sadari ia memang terlambat. Dan semuanya pun serasa ikut melambat. Rasa panas yang bercampur dengan kesakitan yang luar biasa menjalarinya, berpusat di tempat mata zanpakuto Ciro menusuknya, nyaris mengenai jantungnya. Lebih dari itu, ia tahu sesuatu terjadi padanya. Gelombang energi asing seakan mendesak dirinya dari dalam, menciptakan perasaan ganjil seperti seluruh udara di paru-parunya tersedot habis, membuatnya tak bisa bernapas. Pandangannya mengabur, dan ia merasa dirinya melayang jatuh….
"Tidak!" jerit Rangiku, bersamaan dengan Hinamori yang menjeritkan nama Toushiro.
Untuk sejenak, perhatian semua petarung teralihkan. Para shinigami dan penyihir menatap kaget dan tak percaya saat sosok kecil Toushiro terjatuh ke rerimbunan pepohonan Hutan dengan bunyi debam dan keresak keras. Sayap es-nya pecah berhamburan akibat tabrakan itu. Berlawanan dengan ekspresi shock lawan mereka, para Arrancar serentak menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
"Energi ini…." kata Urahara perlahan, tampak tak percaya, "Hougyoku.…"
"Tepat sekali, Kisuke Urahara," kata Ciro puas, berbalik dari lawannya yang telah jatuh. "Apa sekarang kau bisa menerka apa tujuan kami? Aku yakin kau sudah tahu… Aizen-sama selalu memuji kejeniusanmu…"
"Kau…" Urahara menggeratakkan giginya geram, "kau bermaksud menggunakan Hitsugaya-san untuk membalas dendam pada Seireitei? Dengan Hougyoku tiruan yang kalian buat?!"
"Apa?!" seru Ichigo dan beberapa shinigami lain dengan kagetnya. Si Arrancar berambut coklat itu tersenyum sadis, menjawab pertanyaan Urahara.
"Bagaimana bisa…?!" bisik Hinamori dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Hougyoku hanya bisa digunakan sepenuhnya dengan baik oleh shinigami asli," kata si _ licik. "Shinigami dengan level komandan, lebih baik lagi dengan dia yang memahami kekuatannya. Soul Society memang sudah menghancurkan Hougyoku yang sebelumnya. Namun, satu kesalahan dibuat saat benda itu dihancurkan. Kalian menghancurkan fisiknya, tapi tidak dengan energinya."
"Apa?" mata Ukitake terbelalak kaget.
"Energi sisa Hougyoku itu memang tak banyak. Tapi, kami, Arrancar yang setia pada Aizen-sama berhasil mengumpulkannya, mengkristalisasinya, dan menyimpannya selama kami membuat Hougyoku yang baru berdasarkan data yang di dapat Aizen-sama. Kami berhasil berhubungan dengan para penyihir, yang memiliki Sihir Hitam untuk mempercepat proses penyelesaianya. Bagian tersulitnya adalah mengumpulkan tambahan reiatsu untuk Hougyoku itu. Hougyoku yang lama di sempurnakan Aizen-sama dengan mengumpulkan energi roh dari para konpaku di Rukongai. Aku tak bisa melakukan hal yang sama karena itu justru mengungkap apa rencana kami. Tapi kemudian aku mendapat ide brilian."
"Tidak mungkin…" kata Urahara pelan.
__ADS_1
"Aku pernah mendengar Gin Ichimaru memberitahu Aizen-sama tentang Toushiro Hitsugaya, bahwa dia adalah reinkarnasi dari The Heavenly Guardian – Penjaga Surga." Mereka semua terbelalak kaget, kecuali Urahara dan Ukitake.
"Itu hanya legenda kuno," bentak Soi Fon. "Atas dasar apa kau…?!"
"Legenda kuno berdasar fakta," kata Ciro tegas, ada nada senang di kata-katanya. "Dan Aizen-sama membenarkannya… Itulah sebabnya komandan kecil itu punya reiatsu yang begitu besar… Dan kenapa tidak memanfaatkan kelebihannya itu untuk keuntungan kecil kami? Lagipula, Hougyoku mengingat jenis reiatsu dimana dia menghabiskan waktu cukup lama untuk disembunyikan…"
"Di Rukia…" kata Ichigo pelan.
"Benar sekali, Shinigami Pengganti," kata si Arrancar licin. "Hougyoku mengenali reiatsu dengan dasar hyousetsu… Dan aku cukup bingung, menggunakan Rukia Kuchiki atau Toushiro Hitsugaya? Keduanya sudah memiliki bankai, itu berarti kontrol atas kekuatan mereka telah dimiliki… Lalu setelah kupikir lebih jauh, menggunakan Rukia Kuchiki justru akan membuka celah diketahuinya rencana kami. Lagipula," seringai Ciro kembali melebar, "bukankah lebih baik lagi jika mendapatkan yang paling baik sekalian? Bukankah Toushiro Hitsugaya adalah shinigami tipe hyousetsu terkuat se-Soul Society?"
"Kau brengsek…" geram Ichigo murka.
"Shiro-chan…" isak Hinamori, mencengkram Tobiume di tangannya dengan gemetar. Ketakutan menyusup ke benaknya.
"Sayang sekali dia sudah bukan milik kalian lagi," tawa si Arrancar.
Ledakan reiatsu beku kembali menyapu mereka. Kali ini, ada perbedaan besar yang dideteksi oleh para shinigami yang telah familiar dengan reiatsu Toushiro Hitsugaya. Energi spiritualnya lebih besar, sekaligus goyah, seakan kehilangan kontrolnya. Mereka semua menatap titik tempat Toushiro terjatuh. Dan di sana, sosok kecil Komandan mungil itu berdiri di udara, terlihat di tengah uap dingin yang terbentuk akibat pancaran reiatsu-nya. Sayap es di punggung Toushiro masih ada tapi rusak parah, dan sisa es di lengannya masih bisa di lihat, berkilau dalam cahaya bulan kuartal. Bercak darah terlihat mengotori bagian depan haori-nya. Sulit melihat bagaimana ekspresinya, wajah itu menunduk.
"Toushiro," ujar Ichigo pelan. Semua shinigami menatap Komandan Divisi 10 itu dengan waspada. Benarkah ini bukan lagi Toushiro Hitsugaya yang sama?
"Bankai."
"Dia mau mengaktifkan bankai-nya lagi?!" ujar Ishida tak percaya.
"Saakuru no Souka ten Hyourinmaru."
"Eh?"
Para shinigami terbelalak kaget. Itu bukan mantra pelepasan bankai yang biasa diucapkan Komandan Es itu.
Mereka semua menatap Toushiro. Sayap es kembali terbentuk di punggungnya. Bentuknya masih sama, kecuali tiga bunga es berkelopak empat yang ada di belakangnya, yang digantikan satu bunga yang bentuknya lebih besar. Kepala naga es di lengan kanannya lenyap. Kedua tangan dan kakinya berselubung es yang membentuk cakar. Lapisan es juga terbentuk di leher dan bahunya, juga membentuk silangan di bagian dadanya. Wajah pucat Toushiro dibingkai es yang menyerupai kepala naga yang menutupi kepalanya, kecuali wajahnya itu. dan wajah itu, sekarang bisa mereka lihat, tanpa ekspresi. Hampa tanpa emosi. Dan yang membuat beberapa shinigami bergidik, mata turquoise itu tampak kosong dan mati. Namun, bekas luka cakaran di wajahnya menimbulkan kesan lain; kebengisan yang samar.
"Bankai baru…?" ujar Shinji, mengerjap tak percaya.
"Sepertinya bukan hanya Zabimaru yang menyembunyikan wujud aslinya," kata Renji, mengamati Komandan Divisi 10 itu.
"Tapi aku tidak pernah tahu…" bisik Rangiku.
"Jangan-jangan," kata Ichigo perlahan, "ini yang dia latih diam-diam selama ini di Kamar Kebutuhan?"
"Apa?" tanya Yoruichi, agak terkejut.
"Kau tidak tahu?" tanya Kensei, heran sekali. "Geez, bocah itu benar-benar pintar menyembunyikan sesuatu, ya…"
Meskipun demikian, si Arrancar berambut coklat terlihat sedikit bingung. Toushiro Hitsugaya mengacungkan pedang padanya, bukan untuknya.
"Seharusnya kau tidak bisa bergerak untuk sementara waktu," kata si Arrancar. "Tidak sampai Hougyoku mengambil alih tubuhmu. Dan bankai itu… apa-apaan dengan itu?"
Saat bicara, mereka semua bisa mendengar nada sedingin es tanpa emosi dari Toushiro, tertuju pada para Arrancar. "Daiguren Hyourinmaru-ku bukanlah bentuk bankai sempurnanya. Dia tidak memberitahu bagaimana mencapai bentuk ini secara langsung, dan hanya memberitahuku tentang menguasai Daiguren…"
"Apa?" si Arrancar terbelalak kaget. Ia tahu tentang penguasaan Toushiro Hitsugaya dengan Daiguren Hyourinmaru, dan telah menyiapkan rencana untuk mengatasinya. Tapi bentuk baru ini, dia sama sekali tidak tahu; bagaimana kekuatannya, bagaimana kemampuannya, bagaimana melawannya.
"Ternyata Hyourinmaru juga menyembunyikan hal begitu," kata Renji. "Tidak kusangka."
"Hyourinmaru tidak ingin aku tahu dan mengejarnya sebelum waktunya," kata Toushiro lagi, masih sama dinginnya. "Dia tahu jika aku memaksa, ini akan membunuhku. Tapi ketika aku berada di Kediaman Soul King, Hyourinmaru memberiku kesempatan. Saakuru no souka ten Hyourinmaru belum sempurna, tapi ini akan jadi uji coba paling tepat untuk mengasahnya."
"Hougyoku-nya…."
Mereka melihat kilatan ganjil di mata turquoise itu. "Sayang sekali, kau memilih orang yang salah."
"Ah, senang dia belum mengubah pikirannya," kata Shinji, senyumnya terangkat.
"Tapi kita tak tahu apa yang bisa dilakukan Hougyoku padanya," kata Urahara serius. "Reiatsu-nya memang meningkat drastis setelah menerima benda itu… tapi…"
"… bagaimana bisa dia menahan Hougyoku untuk tidak menguasainya," kata Ukitake melanjutkan. "Bahkan Aizen, ada tandanya, bagaimana Hougyoku mempengaruhinya."
"Dan mengubahnya," kata Ichigo, memandang Toushiro, " memiliki kekuatan hollow. Tapi… aku tidak merasakannya."
"Ini hal baik atau tidak?" tanya Ikkaku.
"Entahlah," ujar Urahara serius. "Jika melihatnya memiliki topeng hollow, itu jelas sesuatu yang berbahaya. Tapi, paling tidak, aku tahu apa yang harus dilakukan. Dan kondisi Komandan Hitsugaya saat ini tak menunjukkan reaksi yang seharusnya… Tak ada topeng hollow… Aku tidak yakin…"
"Aku memang belum bisa mendeteksi reiatsu dengan baik," kata Ichigo, "tapi karena aku sudah hapal dengan reiatsu-nya dan dia ada sedekat ini… aku tak bisa merasakan apapun… seperti Aizen dulu."
"Kisuke," kata Yoruichi serius, "apakah Hougyoku itu telah memilih?"
Semua shinigami menatap mantan Komandan Divisi 12 itu. Harry dan yang lain menatapnya tak mengerti.
"Aku tidak tahu," kata Urahara, wajahnya tersembunyi bayangan topinya. "kalau benar begitu, situasi akan jadi semakin rumit…"
"Hyoryuu senbi!"
Sementara di atas sana, Toushiro dengan bankai barunya sudah memulai pertarungan dengan tiga Arrancar sekaligus, yang mana ketiga lawannya itu sudah melepas resurrection masing-masing. Ekspresi hampa itu masih bertahan di wajah Toushiro. Pergerakannya dalam bertarung semakin cepat dan mematikan. Tapi lebih dari itu, Toushiro tampak tak segan-segan membunuh musuhnya dengan cara brutal, termasuk memenggal atau mencabik dengan cakar esnya. Melihat hal itu, Ichigo langsung melesat maju untuk membantunya. Sayang, seorang Arrancar lain yang bertubuh besar menghalangi jalannya. Shinigami lain juga tergerak untuk membantu komandan muda itu, tapi semuanya tak bisa mendekatinya lebih dekat, terhalangi oleh Arrancar atau kumpulan hollow berbagai rupa yang muncul untuk membantu para Arrancar itu.
"Kisuke! Lakukan sesuatu!" seru Yoruichi sambil melakukan shunkou bersama Soi Fon untuk menghabisi para hollow. "Kita tidak tahu apa efek Hougyoku pada Hitsugaya!"
"Shibari Benihime," ujar Urahara, menciptakan jaring seperti tangga tali berwarna merah kehitaman yang menjerat dua Arrancar dan meledakkannya. "Aku tahu, Yoruichi. Tapi aku sedang agak sibuk sekarang…" Memang benar, dua selesai, tiga hollow besar lain muncul di depannya.
"Kalau mereka bermaksud melemahkanya dan membawanya ke Hueco Mundo, aku akan menyalahkanmu!" geram Soi Fon. Ia mulai bersiap melakukan shunkou pada sejumlah besar hollow berbagai rupa dan ukuran yang ada di depannya.
"Apa? Kenapa?" tanya Urahara.
"Karena kau yang pertama menciptakan benda terkutuk itu, Idiot!" bentak Soi Fon.
Sekali lagi, pertarungan kembali memanas. Semua shinigami mengangkat senjata mereka lagi, menebas nyaris tanpa ampun.
"Apa-apaan ini?!" seru Ikkaku kaget.
Mereka semua bisa melihat bagaimana semua Arrancar berbalik dari mereka dan mengepung Toushiro Hitsugaya. Sementara itu, mereka semua terhalang oleh sejumlah besar hollow yang muncul lebih banyak dari sebelumnya.
"Mereka bermaksud menjatuhkannya dengan serangan bertubi-tubi," kata Byakuya. Semua rekannya tampak tercengang. "Sepertinya dengan serangan seperti itu akan membuat Komandan Hitsugaya menguras semua tenaganya, melemahkannya, dan menjatuhkannya. Para hollow itu, digunakan untuk mencegah kita mengganggu mereka."
"Aku tidak bisa gunakan Getsuga Tenshou yang lebih besar di sini," geram Ichigo.
"Dan Hitsugaya-kun sepertinya justru meningkatkan daya serangnya," kata Urahara pelan. Memang teknik yang digunakan masih sama. Namun bukan itu yang jadi perhatiannya. Ia harus mengakui bahwa kuantitas dan kualitas serangan es yang dilakukan komandan mungil itu jauh lebih besar. Ia berhasil menjatuhkan beberapa Arrancar, tapi jumlah mereka masih tetap tidak seimbang dengan pertarungan banyak-lawan-satu. Daripada itu, melihat bagaimana serangan Komandan Divisi 10 yang tak menunjukkan tanda menyerah, dan bagaimana mereka tak bisa membantunya dengan dinding ratusan hollow yang mengganggu mereka, Urahara dihantam sebuah pemahaman.
Kedatangan para hollow itu memang digunakan uuntuk mencegah para Shinigami menolong Toushiro Hitsugaya. Dan si rambut putih juga memanfaatkan mereka untuk satu tujuan yang jelas. Jelas untuk dilihat oleh mantan Komandan Divisi 12 itu.
"Dengan jumlah reiatsu yang dilepaskannya, dan serangan skala besar seperti ini… aku rasa aku tahu apa yang sedang dilakukan Hitsugaya-kun."
"Apa?" tanya Ichigo segera.
"Dia memang membuat dirinya lemah," kata Urahara perlahan, "bukan agar para Arrancar bisa menawannya, tapi untuk senjata akhir yang digunakan untuk dirinya sendiri."
__ADS_1
"APA?!
"Benar." Urahara menurunkan topi bergarisnya hingga bayangan pinggiran topi itu menutupi matanya, sementara para Shinigami dan beberapa penyihir menatap Urahara dengan ngeri. "Dia berencana melakukan bunuh diri."