
Harry memilih untuk menghindari siapapun kali ini. Ia tahu kalau hampir semua orang akan ada di Aula Besar atau rumah sakit pasca pertempuran semalam. Memilih mengabaikan rasa lelah dan kantuk yang mulai menyerangnya, ia mencoba memikirkan di mana gerangan tempat tersepi yang bisa ia datangi, jauh dari keramaian.
Dan pilihannya adalah Kandang Burung Hantu.
Ia harus mengendap-endap dari anak-anak Hogwarts yang masih tampak ketakutan dan cemas setelah kekacauan yang baru usai beberapa jam yang lalu. Matahari musim panas pagi itu serasa muram baginya, dengan pikirannya yang masih dipenuhi semua penjelasan yang diberikan Dumbledore padanya. Otaknya juga dijejali berbagai macam potongan-potongan pertempuran semalam. Kilatan mantra… ayunan pedang… darah….
Harry menggelengkan kepalanya, merasakan dingin menjalari ulu hatinya. Ketakutan membayanginya.
Egoiskah ia tak ada di tempat di mana orang-orang yang melindungi Hogwarts berkumpul? Memilih menyendiri dengan semua perasaannya sendiri?
Kandang burung hantu sepi. Hanya ada para burung hantu di sana, seperti seharusnya. Tampak olehnya Hedwig langsung terbang rendah menghampirinya, bertengger di salah satu tumpuan dan memandangnya dengan kedua mata kuningnya yang lebar.
"Hai, Teman," sapa Harry dengan suara serak. Hedwig ber-uhu pendek. Harry mengelus kepala putih si burung hantu. Dan, ia jatuh terduduk.
Ia akhirnya mengatahuinya. Alasan kenapa Lord Voldemort datang ke rumah keluarga Potter empat belas tahun yang lalu. Alasan kenapa ia memburunya. Alasan kenapa orang tuanya meninggal. Tak hanya itu, tapi ia juga mengetahui jalan yang terbentang di depannya. Hanya ada Lord Voldemort di ujung jalan itu. Dan ia tidak bisa berbalik dari jalan itu. Tidak ada kesempatan untuk lari darinya.
"Harry?"
Harry menoleh, sedikit terkejut. Dilihatnya Sirius Black berdiri di ambang pintu. Walinya itu tampak sedikit pucat dan langkahnya agak terpincang. Jubahnya robek di sana-sini, dan ada beberapa luka yang tampak mulai menutup di beberapa bagian wajahnya. Lengan kanannya berselubung perban. Harry senang melihatnya tidak dalam keadaan membahayakan hidup. Tapi kali ini Harry tak ingin melihatnya. Ia ingin sendirian.
"Yoruichi memberitahuku kau ada di sini," kata Sirius, berjalan menghampirinya dengan langkah perlahan. "Mereka benar-benar hebat, bisa melacak hanya dengan mengenali energi sihir."
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Harry pelan.
"Yeah," kata Sirius, duduk di samping Harry, sedikit berjengit. "Ichigo benar-benar belajar, eh? Dia tahu banyak kontra kutukan; dia menyembuhkanku." Sirius menyentuh perban di sepanjang lengan kananya. "Dan ayahnya ternyata dokter Muggle, dia tangani beberapa luka non-sihir, ditambah dengan sihir shinigami itu, kidou, begitu mereka menyebutnya. Tonks mungkin perlu sedikit waktu lebih lama sebelum dia bisa berjalan lagi, tapi selebihnya, semuanya oke."
"Ba-bagaimana dengan T-Toushiro?" tanya Harry gemetar.
Sirius menghela napas. Harry langsung menyesal menanyakan itu, karena gelombang rasa bersalahnya menerpanya lebih besar.
"Kisuke dan si Orihime itu masih menanganinya. Dan teman mereka, kalau tidak salah namanya Tessai juga datang untuk membantunya. Aku tidak tahu…"
"Sangat buruk, ya?" gumam Harry muram.
"Aku tak bisa menyembunyikan apapun Harry, aku tak bisa juga mengatakan kebohongan," kata Sirius.
"Kau sudah tahu… selama ini?"
Sirius menghela napas lagi. "Ya." Sirius melihat kesedihan dan luka di mata hijau itu. "Maafkan aku, Harry."
Ya. Ia hanya bisa mengatakan itu, tak tahu apakah Harry menerimanya atau tidak. Ia tidak bisa menyalahkan keputusan Dumbledore. Ia juga tak bisa mengingatkan pembelaan untuk dirinya yang mengesampingkan fakta bahwa Harry berhak mengetahui segalanya. Segalanya telah terjadi. Tak ada gunanya memberikan alasan apapun.
Segalanya telah terjadi.
Sekolah Sihir Hogwarts.
Shunsui Kyouraku bukan pertama kalinya menginjakkan kaki ke tempat ini. Kastil ini. Sebuah sekolah sihir yang terlindung dari jangkauan manusia yang bukan penyihir. Mengajarkan pada para penyihir muda untuk mengendalikan kekuatan sihir mereka. Memberi kesempatan untuk anak-anak itu mempelajari bakat mereka. Di sini. Di bangunan batu kokoh yang telah berdiri selama berabad-abad sebagai perlindungannya.
Selama berabad-abad pula, kastil itu telah memberi kesan tertentu padanya. Mistik. Anggun. Angkuh. Tak pernah ada yang bisa menguak seluruhnya, apa yang tersembunyi di balik dinding-dindingnya. Apa yang tersembunyi di dalam lorong-lorongnya. Apa yang tersembunyi di bawah ruang bawah tanahnya.
Namun, untuk pertama kalinya, kastil yang megah itu membuatnya, Komandan Tertinggi Kyouraku Shunsui, tidak ingin ada di sana.
Bekas pertempuran masih terlihat jelas di halaman sekolah. Tanah yang retak dan membentuk ceruk-ceruk dalam. Sejumlah pohon yang tumbang atau tercabut dari akarnya. Berbongkah-bongkah batu dalam berbagai ukuran yang terserak di mana-mana. Bahkan debu pun masih melayang dengan tidak peduli di udara pagi yang suram itu. Yang lebih memuakkannya, adalah bercak-bercak darah di tanah, yang menolak menyerap cairan merah gelap yang amis itu.
Sekolah Sihir Hogwarts didirikan untuk melindungi anak-anak di dalamnya. Lihatlah apa yang terjadi untuk melindungi mereka.
Kyouraku menghela napas. Ia mengerling sekilas pada pria paruh baya yang berjalan agak di belakangnya. Genjiro Shitara. Anggota Centra 46 yang diutus untuk meliht kondisi salah satu pimpinan Gotei 13 yang terluka dalam tugasnya. Ia tahu kenapa Cenra 46 mau merepotkan diri ikut campur dengan kasus kecelakaan macam ini, padahal biasanya mereka tak akan ambil pusing. Mereka baru akan bergerak jika seorang komandan benar-benar tewas, mencari-cari kandidat penggantinya. Tapi kali ini, seorang komandan luka dalam tugasnya dengan penyebab yang tidak biasa. Penyebab yang diindikasikan sebagai ancaman bagi keseimbangan Gotei 13. Dan ia, Kyouraku, tidak menyukai alasan itu. Tidak sama sekali.
Tapi, walaupun ia Komandan Tertinggi, ia tak bisa menghentikan keputusan Dewan Peradilan Soul Society itu. Kali ini, ia harus memikirkan cara untuk menyelamatkan Toushiro Hitsugaya dari 'lubang jarum' hukum Centra 46. Apapun itu dia akan mencari caranya. Ia bosan dengan penggantian wajah para pemimpin Gotei 13. Terlalu banyak ***** bengek bernama laporan yang harus diurus karena itu. Padahal, setelah perang berdarah melawan Quincy itu usai, ia sangat berharap memiliki hari-hari yang damai untuknya tidur siang setelah minum sebotol sake.
Apakah permintaan itu bahkan terlalu berat?
"Kyouraku."
Dilihat olehnya Juushiro Ukitake berdiri di undakan bawah menuju Aula Besar. Wajahnya yang pucat tampak lelah dan muram. Jika sudah tahu situasinya, tak perlu jadi jenius untuk menerka apa penyebabnya.
"Dan Shitara-san." Ukitake memberi anggukan sopan, yang dibalas dengan kendikan kepala yang kaku dari utusan Centra 46 itu. "Selamat datang di Hogwarts."
"Bagaimana pertempurannya?" tanya Kyouraku walau ia sudah tahu hasilnya; Soi Fon langsung mengabarkan yang terjadi tiga puluh menit setelah pertempuran usai.
"Mereka semua melakukan yang terbaik untuk melindungi tempat ini," kata Ukitake.
"Bahkan dengan bayaran yang begitu mahal," komentar Kyouraku. "Bagaimana Shiro-chan?"
Ukitake menghela napas. "Kau bisa menanyakannya langsung dengan Kisuke. Sepertinya mereka sudah selesai."
"Dia masih hidup?" tanya Genjiro kaku.
Ukitake mengangguk. "Untunglah. Dia beruntung; Inoue-san ada di sini."
Ukitake membawa keduanya menuju bangsal rumah sakit. Sepanjang perjalanan, mereka berpapasan dengan sejumlah murid Hogwarts yang memandang mereka dengan tatapan campuran antara takut dan ingin tahu. Ini cukup menarik sebetulnya, jika tidak ada urusan sepelik ini.
Mereka bertemu dengan Urahara di depan pintu menuju bangsal rumah sakit. Wajah mantan Komandan Divisi 12 itu tampak serius kali ini. Namun, ia masih bisa menyapa Kyouraku dan Genjiro dengan nada santainya yang biasa.
"Langsung ke pokok masalah, kalau begitu," kata Genjiro segera. "Anggota Centra 46 yang lain ingin segera mendapat konfirmasi tentang keadaan Komandan Divisi 10 itu."
"Aku tahu, aku tahu," kata Urahara, mempetahankan suara tenangnya. "Tapi akan menyulitkanku jika harus menceritakan hal yang sama berulang kali, itu sebabnya aku belum memberitahukan ini pada yang lainnya. Bagaimana jika kita berkumpul lebih dulu? Minimal cukup dengan para komandan."
"Aku setuju," kata Kyouraku.
"Baiklah. Aku akan beritahu yang lain dulu."
Dan Urahara menghilang ke dalam bangsal rumah sakit. Saat ia kembali, semua komandan yang dikirim dalam misi itu berjalan bersamanya.
"Siapa yang-?"
"Jangan cemas," kata Urahara, menenangkan Ukitake. "Isshin menjaga Hitsugaya-san saat ini. Sekarang, ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan, seperti yang sudah kujanjikan tadi. Kantorku ada di dekat sini."
Maka, dipimpin Urahara, mereka semua meninggalkan barak rumah sakit.
"Aku tak percaya Centra 46 benar-benar turun tangan dalam masalah ini," celetuk Yumichika.
"Mereka bergerak karena hukum tertinggi yang dibut untuk Gotei 13," kata Renji serius. "Shinigami dilarang memiliki kekuatan hollow. Kita semua tahu itu."
"K-kalau begitu," kata Hermione gugup. "T-Toushiro… dia…."
"Komandan Tertinggi pasti akan melakukan sesuatu untuk membantunya," kata Renji. Ia memandang Hermione. "Kau memanggil Komandan Hitsugaya dengan nama depannya?"
"I-iya."
Para shinigami, kecuali Ichigo dan Yoruichi bertukar pandang keheranan. Tentu saja ini membuat beberapa penyihir juga heran.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Bill ingin tahu.
"Di Seireitei, Komandan Hitsugaya tidak mengizinkan siapapun memanggilnya dengan nama depan," kata Rukia. "Kami bisa memakluminya; walau usianya masih muda, posisinya tetap lebih tinggi dari kami."
"Atau paling tidak memanggilnya dengan nama belakang," kata Renji. "Kalau tidak, well, aku lebih suka tidak membayangkannya. Kadang Komandan Hitsugaya bisa sangat temperamental. Aku terkejut juga dia membiarkan kalian memanggilnya dengan nama depan. Biasanya hanya Hinamori dan Komandan Ukitake yang bisa ditoleransinya. Dan si Kepala Wortel ini…."
"Oi!"
"Yeah, mungkin Komandan Hitsugaya bosan berurusan dengan kepala batu orang itu," timpal Rukia.
"Oi!"
Sementara itu, di kantor Urahara.
"Kondisinya untuk saat ini stabil," kata Urahara, menjelaskan keadaan Komandan Divisi 10. "Reiatsu-nya memang masih lemah, tapi karena bantuan Inoue-san, semua luka fisiknya bisa disembuhkan dalam waktu relatif singkat. Selain itu, Hougyoku dalam tubuhnya juga memberi sedikit keuntungan baginya; pemulihan super cepat. Hanya saja, daripada luka fisiknya, aku lebih cemaskan keadaan mentalnya."
"Tidak heran. Jika ada yang menyusup ke dalam inner world-mu, pastilah ada yang salah dengan otakmu," kata Shinji.
"Apa maksudmu?" tanya Genjiro.
"Hollowfikasi," kata Urahara muram, membuat utusan Centra 46 itu membelalak terkejut. Meskipun demikian, para komandan yang ada di sekitarnya tampak seakan sudah mengetahui bahwa hal itu akan terjadi. "Hitsugaya-san mengalami hollowfikasi karena pengaruh Hougyoku itu. Tidak seperti hollowfikasi sementara yang kuciptakan untuknya dalam perang melawan para Quincy untuk bankai-nya, tak ada yang bisa dilakukan untuk menyingkirkannya."
"Ah, ini jadi semakin rumit saja," kata Kyouraku, menurunkan caping jeraminya. Satu lagi komandan yang terinfeksi kekuatan hollow. Ya. Jadi semakin rumit.
"Selama kami – aku, Tessai, dan Inoue-san – menyembuhkan luka-lukanya, ia mengalami hollowfikasi. Tapi perlu kukatakan bahwa perubahannya tidak dimulai dari fisiknya, seperti yang terjadi pada Shinji dulu. perubahannya terjadi lebih dulu di inner world-nya, baru fisiknya berubah tanpa dia sadari…"
"Berapa lama?" sela Kensei.
"Sembilan menit tiga puluh tujuh detik," kata Urahara muram. Teringat bagaimana ia dan Tessai berusaha menangani perubahan drastis selama hollowfikasi yang terjadi pada Toushiro. Sungguh aneh sekaligus beruntung untuk mereka karena Toushiro Hitsugaya sama sekali kehilangan kesadarannya dan luka-luka yang dialamiya melemahkannya, sehingga ia tak menyerang mereka dengan buas seperti yang terjadi dengan para Vizard seratus tahun yang lalu. Namun demikian, reiatsu gelap hollow yang mulai terbentuk di dalam dirinya sungguh membuat sesak napas. Jika bukan karena dia dan Tessai adalah shinigami dengan jumlah reiatsu di atas rata-rata, dan Orihime memiliki tekad untuk menyelamatkannya, mereka memilih menyerah saja. Mengamati bagaimana topeng hollow yang serupa wajah naga terbentuk di wajah pucat Komandan Divisi 10 itu sungguh membuat kecil nyali. Dan mereka tak bisa melakukan apapun kecuali membiarkan komandan muda itu bertempur sendirian melawan hollow di dalam inner world-nya, sementara mereka berusaha menyembuhkan luka fisiknya. "Aku hampir yakin dia tidak akan bertahan lebih dari lima menit. Dia berhenti bernapas dua kali; tidak heran, Arrancar itu merusak paru-paru kirinya dan jantungnya juga terluka. Ini seperti keajaiban dia masih bisa bertahan."
"Bagaimana dengan Hougyoku-nya?" tanya Soi Fon.
Urahara menghela napas. "Untuk saat ini, kami belum bisa mengeluarkan benda itu darinya tanpa membahayakan nyawanya. Reiatsu-nya memang stabil, tapi masih jauh di bawah batas normalnya, setelah reiatsu hollow-nya menguar dan nyaris membunuhnya."
"Itu tidak mempengaruhi yang lain?" tanya Kyouraku.
"Kami memasang kidou pelindung di sekitarnya. Tessai juga menambah perlindungannya. Bisa sangat berbahaya jika sampai dirasakan oleh yang lainnya, apalagi para penyihir, hidup atau mati."
"Apa maksudnya itu?" tanya Genjiro.
Maka Urahara menjelaskan tentang salah satu peristiwa yang terjadi selama misinya dan tiga shinigami lain di Hogwarts, yakni transformasi Baron Berdarah si hantu ruang bawah tanah Slytherin. Analisa yang telah disusunnya, hantu itu berubah menjadi hollow setelah munculnya Arrancar di Hogwarts di malam sebelum Natal. Ia berasumsi bahwa saat itu si Arrancar yang bernama Viendo itu dikirim untuk menyelidiki siapa shinigami yang ditugaskan untuk menjaga Hogwarts. Namun, kedatangan si Arrancar dengan reiatsu hollow-nya mempengaruhi salah satu hantu, yang memiliki 'dosa' yang lebih besar dari hantu yang lain. Membuat hantu itu bertransformasi menjadi hollow.
"Kalau begitu, bukankah lebih baik jika kita membawanya kembali ke Seireitei?" tanya Byakuya. "Di sana, dengan konsentrasi reishi yang lebih padat dan murni, dia akan mendapatkan penyembuhan lebih baik tanpa berisiko terhadap manusia di sini."
"Begitu juga kata Isshin," kata Urahara. "Tapi dalam kondisi selemah itu, dia tidak akan bisa bertahan dalam perjalanan melewati Dangai, dan artinya, tak akan bisa mencapai Seireitei."
"Dia mungkin tidak akan punya tempat di Seireitei," kata Genjiro dingin.
Semua mata langsung terarah pada pria itu.
"Kau tidak bisa memutuskan hal itu begitu saja," kata Ukitake.
"Hukum yang sudah kalian tahu, shinigami dilarang memiliki kekuatan hollow," kata Genjiro.
"Dan itu bukan kesalahan Hitsugaya karena menerimanya!" gertak Kensei. "Para Arrancar itu yang membuatnya begitu!"
"Shinigami yang mengalami hollowfikasi, dan itu baru beberapa menit yang lalu dia benar-benar terkonfirmasi memilikinya! Jaminan apa yang bisa kalian berikan bahwa dia bisa mengendalikannya dan tidak berbahaya?" kata Genjiro kaku.
"Seorang Vizard," kata Kensei.
"Seorang Vizard yang tak terlatih," desis Genjiro. "Sama berbahayanya seperti hewan buas…."
"Entahah. Hitsugaya-kun selalu jauh dari kata buas," sela Kyouraku. Ia menghela napas. "Aku sudah memberi pendapatmu, Shitara, bahwa eksekusi mati yang direncanakan Centra 46 terhadap Komandan Hitsugaya akan ditentang oleh Gotei 13."
"Kalian tahu peraturannya! Peraturan itu dibuat oleh Soul King untuk keseimbangan dunia!"
"Tapi kalian membiarkan kami ada di Gotei 13," kata Shinji, matanya menyipit. Ia menatap perwakilan Centra 46 itu dengan amarah yang tersembunyi di balik kekakuannya. "Kalian hanya diam dengan keberadaan kami. Kalian diam ketika Komandan Tertinggi Yamamoto mengizinkan kami memimpin kembali Gotei 13. Kenapa kalian ributkan tentang itu sekarang, saat Hitsugaya sama dengan kami?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan kalian," desis Shitara.
"Oh, ada saja." Kensei menyilangkan tangan di depan dada, tampak bosan. "Apakah lima komandan yang ternyata memiliki kekuatan hollow mengancam hukum sialan itu?"
Hening sejenak setelah kata-kata Kensei itu.
."Ah, itu sedikit kasar, Kensei," kata Urahara.
"Itu faktanya, 'kan?" kata Kensei tak peduli.
"Lebih dari sekedar hollowfikasi, dia punya Hougyoku dalam tubuhnya! Jika dia sama imortalnya dengan Sousuke Aizen, itu hal yang tak bisa diterima oleh Soul Society!"
"Kita masih belum punya bukti kalau benda itu membuatnya abadi," kata Soi Fon dingin.
"Benar, apalagi keinginan Hitsugaya-kun dalam pengaruh Hougyoku adalah mengakhiri hidupnya," kata Ukitake muram. Ia menatap Shitara dengan sungguh-sungguh. "Menurutku, sampai keadaan Hitsugaya-kun bisa dipastikan sepenuhnya, juga mempertimbangkan pendapat Hitsugaya-kun sendiri, Centra 46 tidak bisa memutuskan sesuatu sebrutal itu."
"Brutal atau tidak," kata Shitara, menatap para shinigami di depannya dengan tajam dan tegas, "itulah yang sudah ditetapkan. Soul King sendiri, menjadikan kami mengatur semua hukum, peraturan, dan semua urusan kewenangan sebagai perwakilannya."
"Aku yakin ada sebuah peraturan bahwa Centra 46 mendengarkan alasan," kata Kyouraku serius. "Benar kata Kisuke, jangan membuat kesalahan yang sama seperti seratus tahun yang lalu yang dilakukan kepada para Vizard. Atau kesalahan seperti yang Centra 46 lakukan pada Hitsugaya-kun sebelumnya sewaktu dia masih di Akademi Shinou."
"Apa maksudnya kejadian zanpakuto kembar itu?" celetuk Shinji.
"Benar," kata Ukitake, nadanya sedikit dingin. "Pendahulu kalian membuat kesalahan. Centra 46 tidak seharusnya mencampuri apa yang ada di Akademi. Saat kejadian zanpakuto kembar itu Centra 46 ketahui, baik Toushiro Hitsugaya maupun Soujiro Kusaka masih berstatus sebagai siswa Shinou."
"Mereka berurusan dengan hukum tua Soul Society; tak boleh ada dua shinigami yang memegang satu zanpakuto yang sama…."
"Yang membuat salah satu harus mati dan lainnya menanggung semua bebannya," kata Ukitake, masih dengan nada dingin. "Dan kalian akan membuat kesalahan yang sama lagi, membuat seseorang harus bertanggung jawab pada hal yang sama sekali bukan kesalahannya."
"Whoa, Ukitake sepertinya mulai marah," celetuk Shinji, pelan sekali.
"Sudah dari tadi, *****," desis Soi Fon pedas.
"Intinya," kata Kyouraku, menyadari debat kali ini akan berpotensi berujung pada bahaya, yang munkin akan menyebabkan situasi menjadi lebih rumit dan merepotkan. "Kami, Gotei 13, tak menyetujui rencana eksekusi atas Komandan Divisi 10. Tambahan lagi, aku capek mengurus laporan tentang pimpinan divisi yang berganti, dan aku belum temukan komandan untuk Divisi 8, dan kalian malah bermaksud melenyapkan satu komandan dari Gotei 13? Ya ampun… Paperwork-ku sudah cukup banyak…."
Maka, setelah beberapa kalimat debat kemudian, perwakilan Centra 46 itu setuju untuk menunggu. Untuk sementara, ini membuat para shinigami bisa bernapas lega.
Tahapan pertama untuk meyakinkan Genjiro Shitara bahwa Komandan Divisi 10 bukanlah ancaman adalah membiarkan perwakilan Centra 46 itu melihat sendiri bagaimana keadaan Toushiro. Maka, setelah pertemuan itu diakhiri, Urahara membawa Kyouraku dan Genjiro kembali ke rumah sakit. Ternyata, tempat perawatan Toushiro dipisahkan dengan para pasien lain.
"Kami tetap tidak boleh ambil risiko tentang beberapa hal," kata Urahara, menunjukkan ruangan lain di samping kantor matron rumah sakit, tempat komandan mungil itu berada. "Di sini. Kamar ini sudah dilapisi dengan beberapa mantra kidou dan mantra sihir."
Saat Kyouraku memasuki kamar itu bersama Urahara dan Shitara, hawa dingin langsung terasa menggigit kulitnya. Di lihatnya di tempat tidur di samping jendela yang tirainya terbuka, Toushiro Hitsugaya terbaring tak sadarkan diri. Kulitnya tampak sepucat kertas, nyaris menyamai rambut putihnya. Ekspresi wajah komandan muda itu tak tenang; alisnya menyatu dalam kernyit dalam seakan sangat kesakitan. Yukata berwarna putih yang dipakainya membuatnya terlihat sangat tidak sehat, ditambah selimut biru pucat yang menutupi tubuh mungilnya. Sekilas, Toushiro tampak seperti anak kecil yang sakit parah. Namun, sebagai shinigami, ia bisa merasakan ketidakberesan dari energi spiritual sang pesakitan. Ia yang berabad-abad mengenali pertempuran, reiatsu, shinigami, dan hollow bisa merasakannya.
Kegelapan mulai menggerogoti Toushiro Hitsugaya.
__ADS_1
Mulai? Malah mungkin sudah.
"Memang agak dingin." Isshin Shiba yang duduk di kursi di samping tempat tidur si rambut putih menatap Kyouraku dan Shitara tanpa berkedip. "Rangiku-chan datang selama kalian rapat tadi. Dia bilang Toushiro bisa pulih lebih cepat di tempat bersuhu rendah. Salah satu guru di Hogwarts ini memantrai ruangannya." Isshin menatap Urahara. "Dan benar, dia sedikit lebih baik; dia bisa bernapas normal sekarang."
"Ah, bagus sekali," kata Urahara senang. Ia berbalik untuk menghadapi Shitara yang menatap Toushiro dengan tatapan penuh selidik. "Lihat, dia sama sekali tidak berbahaya, 'kan? Dia bahkan tak bisa menggerakkan satu jaripun!"
"Kita tetap tidak tahu apa yang terjadi jika dia sudah sadar," desis Shitara.
"Oh, jelas, menurutku; shock berat," kata Isshin sarkastik. "Apa kalian sudah memutuskan sesuatu?"
"Ya. Sesuatu seperti menunggu dan melihat," kata Kyouraku. Isshin mendengus jengkel.
Sementara itu, di bangsal rumah sakit.
Suasana sudah tidak seramai tadi. Selain beberapa komandan tidak ikut kembali ke rumah sakit setelah rapat, yang ada di sana adalah beberapa penyihir dan shinigami lain. Ron dan Hermione sudah diizinkan pergi keluar memilih mencari Harry dan Sirius. Ichigo juga sudah menghilang, pergi ke Menara Gryffindor untuk mencari Neville. Ulquiorra meninggalkan rumah sakit ketika para komandan sedang melakukan rapat, memastikan Grimmjow tidak melakukan kekacauan. Rangiku dan Momo, sebaliknya mendatangi rumah sakit. Mata mereka yang sembab membuktikan bahwa mereka menangis sejak tadi, masih menyisakan kesedihan di wajah mereka. Sayangnya, mereka berdua masih belum diperbolehkan melihat keadaan Toushiro. Rangiku mencoba memaksa Isshin untuk mengizinkannya masuk, tapi gagal. Maka yang bisa dilakukannya hanya menyarankan ruangan bersuhu di bawah nol derajat – seperti biasa jika komandan mungilnya itu harus menginap di barak Divisi 4 – dan menunggu di depan kamar. Ia sedikit gentar melihat perwakilan dari Centra 46 yang datang mengunjungi Toushiro. Ia yakin Momo juga sama takutnya. Wajah kaku dan tegas Genjiro Shitara seakan telah membawa vonis terhadap Komandan Divisi 10.
"Jangan cemas, Momo."
Letnan Divisi 5 itu menoleh. Shinji Hirako memasuki bangsal rumah sakit dengan tampang tak puas. Ia berdiri di samping Momo, namun matanya menatap pintu tempat Toushiro berada.
"Kami akan temukan cara untuk membantunya. Lagipula, Kyouraku tidak akan diam saja. Dia bilang dia bosan mengurus ujian komandan lagi. Tapi aku tahu dia tidak akan melepaskan Hitsugaya dari Gotei 13."
"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Lupin ingin tahu.
Shinji menghela napas. "Entahlah. Banyak hal yang mungkin." Ia menatap beberapa shinigami yang ada di sana. "Mungkin Kyouraku akan menyuruh kita untuk kembali ke Seireitei. Terlalu riskan meninggalkan Seireitei lebih lama tanpa beberapa komandan dan letnan-nya."
"Benar juga," kata Hisagi setuju. "Tapi bagaimana dengan Komandan Hitsugaya?"
"Terlalu berbahaya untuknya pergi, begitu kata Kisuke," kata Shinji. "Mungkin di Seireitei dia bisa lebih cepat pulih, tapi dengan kondisi seperti itu, dia akan mati sebelum sampai di Seireitei. Tak seperti kami dulu, dia punya luka membahayakan hidup."
"Tak seperti kalian dulu?" tanya Bill heran. "Dan sebelumnya Ichigo mengatakan sesuatu bahwa dia setengah manusia, begitu juga dengan kalian. Apa maksudnya itu?"
"Shinigami yang memiliki kemampuan hollow," kata Shinji datar, mengejutkan mereka. "Itulah aku, Kensei, dan beberapa yang lain. Kami memiliki kekuatan hollow juga karena Hogyoku, Bedanya, kami berubah karena pancaran kekuatannya, sementara Hitsugaya karena kontak langsung." Shinji menatap para penyihir. "Karena perubahan kami itu, Centra 46 membuang kami ke Dunia Manusia. Kisuke dituduh sebagai orang yang bertanggung jawab atas itu, karena dia adalah pembuatnya, dan diancam dengan hukuman mati. Padahal, kami tahu betul Kisuke bukan orang yang akan mengorbankan rekan-rekannya sendiri untuk itu. Justru dia yang menyelamatkan kami, dan melarikan diri ke Dunia Manusia bersama Yoruichi dan Tessai. Dan kami memulai hidup kami dengan rahasia dari Soul Society sejak saat itu. Yah, kira-kira seratus tahun yang lalu."
"Wow, cerita yang tragis," kata Tonks, separo takjub separo takut.
"Kalau kalian bilang kalian di-dibuang, bagaimana kau bisa jadi Komandan?" tanya Mr Weasley.
"Ah, ironis sekali," kata Shinji, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Aku pada awalnya sama sekali tak berniat kembali. Oh, dan aku bukan 'jadi Komandan', tapi aku mendapatkan posisiku kembali. Sebelum Centra 46 menendangku dan yang lain dari Seireitei, aku Komandan Divisi 5. Dan si Aizen brengsek pengkhianat busuk itu adalah letnanku."
"Aizen? Orang yang ingin para Arrancar itu bebaskan? Orang yang jadi alasan balas dendam itu?" tanya Lupin tak percaya.
"Yep. Tapi dia dihukum penjara selama dua puluh ribu tahun di Mugen, penjara terdlam, tergelap, ter- bah, pokoknya terendah di Soul Society atas semua tindak kriminalnya." Shinji mendengus. "Kalau bukan karena kekuatan Hougyoku yang membuatnya abadi, aku yakin dia dihukum mati, atau minimal Ichigo bisa menghabisinya setelah duel di Winter War itu."
"Kalau begitu, bagaimana dengan Toushiro…."
"Komandan Hirako," kata Momo lirih. Shinji menatap letnannya yang menunduk putus asa. Setelah bekerja dengan gadis itu selama hampir dua tahun ini, dia cukup mengetahui sifatnya. Cerdas, setia, dan baik hati. Gadis ramah yang bisa menunjukkan ketegasan dan kepemimpinan di saat-saat yang terduga. Momo menyadari bahwa ia tak sekuat sejumlah besar letnan yang lain, apalagi mereka yang memiliki bankai. Meskipun demikian, dia menutupi kelemahannya dengan penguasaan kidou yang mengagumkan. Kelamahan yang lain, barangkali adalah dia yang sedikit naif. Kenaifannya yang dimanfaatkan dengan sangat kurang ajar oleh Sousuke Aizen. Bisa dilihat oleh Shinji bagaimana tadi, saat menyebut nama Aizen ia melihat kesedihan, penyesalan, rasa malu, dan kesakitan di mata cokelat itu. Perasaan sedih karena Aizen-lah yang melukai teman-temannya, penyesalan karena menjatuhkan kesetiaan pada orang yang salah, rasa malu karena mempercayai seorang pengkhianat, kesakitan karena membebani orang-orang dengan pikiran naifnya. Sepertinya, ini salah satu alasan kenapa Toushiro Hitsugaya selalu melindunginya. Komandan Divisi 10 itu ingin mengobati semua luka Momo.
Shinji mendengus pelan.
Komandan Hitsugaya benar-benar lebih dewasa dari yang ia duga. Ah, tapi masih menyisakan sifat polosnya.
"Aku berjanji apa yang kami alami tidak akan terjadi padanya," kata Shinji sungguh-sungguh, tak ada nada main-main dalam suaranya.
Momo menatap atasannya itu dengan mata memerah. Ia benar-benar melihat kesungguhan di sana. Ia berharap, dengan segenap hatinya, tak ada yang menipunya dengan janji yang lain.
Pintu kamar terbuka, dan Kyouraku keluar dari ruangan itu bersama Genjiro Shitara yang tampak tak senang. Tampaknya mereka mendiskusikan sesuatu yang serius.
"… jangan main-main, Kyouraku! Ini bukan waktunya untuk bicara yang tidak-tidak!" desis Shitara.
"Aku sama sekali tidak bicara yang tidak-tidak," kata Kyouraku tenang. Tapi, Shinji yang telah cukup mengenal watak Komandan Tertinggi itu tahu kalau di balik ketenangannya, ia menyembunyikan semua emosinya; kewaspadaan, kemarahan, kebingungan, rencana, dan kasihan. "Apa yang sudah di katakan para komandan padaku, aku sama sekali tak meragukannya."
"Tentang apa kali ini?" tanya Shinji malas.
Shitara menatap Komandan Divisi 5 itu dengan tatapan tak suka. "Kau tahu apa yang terjadi Hirako; ini tentang Penjaga Surga."
"Ah, ya. Aku tahu," kata Shinji enteng, berdiri menutupi Momo yang masih terpukul. "Lalu kenapa?"
Shitara mendengus pelan. Ia menatap Kyouraku, lalu berkata dengan tak sabar, "Setelah cerita hollowfikasi, sekarang tentang legenda kuno itu? Berapa banyak lagi informasi tentang bocah itu yang mau kau katakan?"
Kyouraku meletakkan tangannya di dagu, berpura-pura berpikir, "Hm, kau sudah tahu kalau dia adalah pemilik zanpakuto tipe hyousetsu terkuat se-Soul Society? Bagaimana dengan julukannya sebagai anak ajaib dari Junrinan? Atau si Jenius dari Gotei 13?"
"Ah, kau tahu, ada satu hal yang benar dari kata-katanya tadi, jangan main-main, Kyouraku," kata Shinji, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Aku tahu, aku tahu," kata Kyouraku, mtenurunkan sedikit topi jeraminya. Sungguh, pikir para penyihir, pribadi santai-cenderung-malas ini adalah pemimpin pelindung Dunia Roh dan Dunia Manusia? Namun, saat ia bicara kemudian, suaranya terdengar serius. "Aku sengaja mengatakan semua itu, Shitara."
"Maaf?" Shitara mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Mengatakan siapa Toushiro Hitsugaya sesungguhnya."
"Dan mengubah pendapat Centra 46?" kata Shitara datar. Rangiku tampak seakan siap menampar wajah Shitara.
"Mencoba untuk mengungkapkan bahwa Toushiro Hitsugaya akan jadi aset besar bagi masa depan Soul Society. Petarung dengan kemampuan strategi yang luar biasa, keahlian berpedang setingkat master, dan – well, dan lain-lain. Kalian mau menyingkirkan Komandan Divisi 10 yang menjadi inspirasi shinigami muda untuk menjadi lebih kuat?"
"Terus terang, salah satu alasanku belajar bankai karena berpikir tentang Komandan Hitsugaya yang bisa mencapainya dalam waktu singkat," kata Hisagi pelan, pada Kira.
"Ada lebih banyak shinigami muda berbakat lain di luar sana yang bisa menggantikannya!"
"Bisa kau berhenti menganggapnya seperti bidak catur?"
Isshin Shiba berdiri di depan pintu kamar Toushiro yang baru ditutupnya. Ekspresi wajahnya tampak kaku.
"Madam Pomfrey bisa marah jika mereka berdebat di sini," bisik Tonks pelan.
"Dengar, dengar," kata Fred dan George pelan, namun kompak dan tak menyembunyikan antusiasme di wajah dan suara mereka.
Isshin menatap Genjiro Shitara dengan keseriusan yang tak biasa, membuat Renji terheran-heran; sepertinya ini pertama kalinya baginya tak ada ekspresi bodoh di wajah ayah Ichigo itu. "Kau bisa saja menganggap kami hanya sebagai bidak. Membunuh atau dibunuh. Tapi tidak selamanya, Shitara. Kalian justru membuang harga diri kalian sebagai manusia."
Hening langsung menyusul kalimat dingin Isshin.
"Belum cukupkah apa yang sudah Toushiro berikan utuk Soul Society?" kata Isshin tajam. "Hukum-kuno-terhormat-demi-keseimbangan-Dunia-Roh kalian membuatnya kehilangan temannya, membuatnya nyaris hancur, tapi dia tetap menjaga sumpahnya untuk melindungi Soul Society! Perang yang dia datangi membuatnya harus membayar dengan darah, daging, dan tulang agar lolos dari maut, dan dia masih tak menyerah untuk menjaganya! Dia bahkan tidak takut mengorbankan nyawanya demi Soul Society, masih kurang juga?! Masih kurang juga apa yang sudah shinigami lain berikan?!"
"Isshin," kata Kyouraku mengingatkan. Ia tahu, sejak Toushiro Hitsugaya berada di bawah kepemimpinan Isshin Shiba yang waktu itu menjadi Komandan Divisi 10, pria itu melindungi, menjaga, melatih, dan peduli pada Toushiro layaknya putranya sendiri. Bahkan bertahun-tahun tak bertemu, perasaan dan kepedulian itu tak berubah satu derajatpun. Tapi, saat ini, adu argumen dengan emosi bukan hal yang diinginkan Centra 46.
"Semua itu," kata Shitara, dingin, "adalah hal yang harus dibayar sebagai seorang shinigami, sebagai komandan."
"Yang kuajarkan pada Toushiro," kata Isshin, berbalik, "adalah bahwa shinigami, dan juga seorang komandan mengayunkan pedangnya karena tugas dan kewajibannya; melindungi para roh yang ada di Dunia Roh dan Dunia Manusia. Bukan demi hukum dan peraturan."
Dan Isshin meninggalkan rumah sakit.
"Komandan Shiba," bisik Rangiku, sebutir airmata bergulir dari matanya. Pancaran kebanggaan terlihat untuk mantan atasannya itu. Kata-kata Isshin itu membuatnya melihat harapan. Bahkan Momo menghapus airmata di pipinya; matanya bercahaya penuh keyakinan.
__ADS_1
Shinji mendengus, seringai kucing chesire-nya kembali. "Aku suka kata-kata itu."