
"Pertahanan terhadap Ilmu Hitam? Harry?!"
Hermione langsung tampak mengerut di bawah tatapan tajam Ichigo dan Toushiro setelah ia menyampaikan rencana 'mengurus sendiri pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam' di ruang rekreasi yang sepi karena semua anak sudah turun untuk sarapan. Harry dan Ron yang berdiri di belakang Hermione berjengit gelisah. Golden Trio membaca penolakan di ekspresi kedua shinigami itu.
"Ya," kata Hermione pelan, tampak ragu sekarang. "Kau tahu, tak ada yang berguna di pelajaran Umbridge, dan kami pikir – aku pikir – dengan Harry yang tahu banyak tentang mantra pertahanan karena dia mengalaminya langsung, siapa saja yang ingin belajar pertahanan yang sebenarnya bisa tahu lewat Harry."
"Itu sangat tidak bijaksana," kata Toushiro tajam. "Dengan Umbridge yang seharusnya kita hindari…"
"Tapi kami punya hal lain yang lebih serius untuk dihindari selain Umbridge," kata Hermione tak putus asa. "Bagaimana mungkin kami diam saja tanpa tahu apa-apa dari Pertahanan terhadap Ilmu Hitam?"
"Bagaimana, Toushiro?" Ichigo memandang si rambut putih yang memasang ekspresi kaku. "Mereka punya alasan bagus."
"Itu ilegal, 'kan?" ujar Toushiro, memberi pernyataan dalam pertanyaan. Hermione langsung tampak muram.
Dan kemudian baik Ichigo dan Toushiro memandang Harry, yang langsung gugup.
"Aku tak berpikir itu ide bagus," kata Harry pelan. "Tapi Hermione bilang…"
"Itu ide bagus," sambar Ron segera, diikuti anggukan bersemangat Hermione.
"Jangan mulai lagi," gumam Harry tajam.
"Kita sudah diskusikan ini, Harry, tolong," kata Hermione lelah.
"Kalau kalian tahu bagaimana sulitnya… aku sama sekali tidak yakin bisa mengajarkan itu semua pada kalian! Pada siapa saja!" seru Harry frustrasi. "Mantra-mantra itu sama sekali berbeda dengan pelajaran di kelas, Hermione! Kau tak tahu bagaimana rasanya…"
"Harry…" Hermione tampak takut sekarang, melempar tatapan minta tolong pada Ron yang tercengang di tempat. Ichigo dan Toushiro menatap mereka dengan serius.
"Ya!" kata Harry marah. "Kau tak tahu bagaimana rasanya saat kau menghadapi detik-detik saat kau akan disiksa, melihat temanmu kemudian mati! Bahkan sepersekian detik saja, bisa saja kau yang akan mati! Semua itu tak mereka ajarkan di kelas! Bagaimana kau bisa mempertahankan diri saat-"
__ADS_1
"- waktu begitu sempit sampai dia bahkan bisa membunuhmu," kata Toushiro dalam. Mereka semua sekarang menatapnya. "Tak ada batasan antara kematian yang tinggal sejangkauan jari jaraknya. Rasanya.. seperti dia merampas napas dan hidupmu perlahan… kesakitan yang menusuk sampai ke setiap sel otakmu… ketakutanmu membesar, bukan karena kematian itu sendiri, tapi karena kematian akan mencabikmu dari semua yang kau sayangi, yang akan kau tinggalkan, bahkan kesakitan kemudian meninggalkanmu…."
Suara Toushiro dalam dan tanpa emosi, seakan ia bicara dari tempat yang sangat jauh. Tapi Harry dan Ichigo bisa melihat iris turquoise itu menyiratkan sesuatu. Pengalaman. Pengalaman akan kematian.
Dan kemudian mata itu mengerjap, memandang Harry lurus. Harry senang saat ia bicara kemudian nadanya dingin seperti biasa.
"Apa aku benar?"
Harry mengangguk perlahan. "Bagaimana… kau tahu?"
"Aku sudah mati satu kali," kata Toushiro terus terang, tanpa nada; Hermione berjengit mendengarnya. "sebagai manusia. Dan aku juga merasakannya, nyaris, dalam beberapa pertempuran, sebagai shinigami."
Ichigo mengernyit menatap si rambut mungil. Rasanya ia kembali terbawa ke kilasan saat Winter War, di mana Toushiro bersimbah darah, lengan dan kakinya nyaris putus karena ditebas Aizen. Dan beberapa bulan lalu, saat ia menemukan Toushiro sekarat, pucat pasi bagai mayat setelah melawan Cang Du, salah satu perwira Quincy. Tentu saja Toushiro mengalami saat-saat kematian nyaris merampas hidupnya, bahkan setelah ia melampaui kehidupan manusianya.
Ichigo merasa es yang sangat dingin membanjiri ulu hatinya melihat sosok mungil di sampingnya. Ia tak melihat seorang komandan, detik itu. Ia melihat bocah manusia dari masa lalu, yang terlalu muda mendekap dan didekap oleh kematian.
Ironikah karena saat ini bocah itu adalah seorang shinigami? Hanya Soul King-lah yang tahu.
"Kau tak bisa melindungi semua orang, Potter," kata Toushiro pelan. Ichigo menatap Toushiro dengan mata melebar kaget; Ron ternganga; Hermione terkesiap; Harry tak mempercayai apa yang baru dikatakan si rambut Putih.
"Oi, Toushiro-!"
"Tak ada yang bisa mencegah kematian, itu hanya soal waktu…"
"Kau ini bicara apa, Toush-!"
"Sekalipun kau mencoba melindungi, jika waktu sudah mengklaim dia harus pergi bersama kematian, tak ada yang bisa kau lakukan."
Kemarahan menggelegak di dasar perut Harry. Mulanya ia mengira Toushiro berkata begitu karena pernah merasakan posisi yang sama dengan Harry. Tapi cara bicaranya yang dingin dan tak peduli itu, Demi Nama Merlin! Apa yang sebenarnya dia pikirkan?!
__ADS_1
"Jangan bicara seolah-olah kau tahu," kata Harry dengan suara bergetar.
"Aku tahu. Lebih dari yang kau tahu." Sekali lagi, suara itu dalam dan tanpa emosi.
"Cukup, Toushiro," geram Ichigo. Toushiro mengerjap cepat, lalu memandang Ichigo, sebelum ke arah Harry yang tampak gemetar karena amarah. Perlahan, Toushiro mundur ke arah lubang lukisan, menghela napas; baru disadari Harry kalau Toushiro mengepalkan tangannya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Biarkan orang-orang yang kau sayangi mengetahui cara melindungi diri mereka sendiri, itu adalah cara terbaik untuk melindungi mereka. Aku tak akan menghentikanmu meneruskan rencana itu."
Diikuti desiran jubah dan debam pelan saat lukisan menutup, sosok kecil Komandan Divisi 10 itu lenyap, meninggalkan Golden Trio yang mematung di tempat dan Ichigo yang masih menatap bagian belakang lukisan si Nyonya Gemuk.
"Blimey," desis Ron pelan, separo takut separo terkesima. "Kenapa dia?"
"Aku tak percaya dia bilang begitu," kata Harry, masih terguncang. "Dia…"
"Percayalah, dia memahami posisimu," kata Ichigo, menepuk bahu Harry, kendati matanya masih terarah di tempat yang sama.
"Kalau dia mengerti kenapa-"
Ichigo mengernyit mendengar nada tinggi suara Harry. "Dengar, Harry, jangan mengira yang tahu tentang kehilangan hanya kau saja. Yang tahu tentang hampir menyongsong kematian hanya kau saja. Kami tahu, dan untuk Toushiro, dia lebih banyak mengalami lebih dari aku, bahkan lebih dari yang aku tahu!"
Harry mundur selangkah; baru kali ini ia melihat Ichigo terlihat marah.
"Kalau kau mau tahu, dia juga tak punya orang tua – jarang ada konpaku yang punya orang tua setelah mereka ada di Soul Society. Dia tidak punya siapapun, dan semua orang menjauhinya karena dia terlalu berbeda! Hampir semua orang merendahkannya! Kau lihat jadi apa dia sekarang? Salah satu komandan pasukan elit Seireitei! Salah satu shinigami terkuat yang pernah kukenal! Jangan berani-berani bilang dia tidak tahu apa-apa! Dulu salah satu temannya juga dibunuh di depan matanya sendiri! Dan menurutmu berapa kali dia kehilangan rekannya sendiri dalam misi berbahaya, hah?! Maaf, kau memang kehilangan orang tuamu, kau juga melihat temanmu dibunuh oleh si Voldy entah siapa itu, tapi pernahkah kau berpikir ada orang-orang di luar sana yang mengalami hal serupa sepertimu, malah lebih parah? Jangan mengira hanya kau! Terakhir kali kulihat, alam semesta tak berpusat padamu, Harry Potter!"
Ron dan Hermione tercengang di tempat. Harry menatap Ichigo tak percaya. Dan Ichigo, dia berusaha mengatur napasnya, baru sadar ia berteriak kepada Harry. Ia terkejut sendiri bagaimana bisa ia semarah itu. Menggelengkan kepalanya pelan, ia menatap Harry yang terguncang, tampak terluka.
"Gomen, maaf, Harry, maaf," kata Ichigo segera. Harry melihat si rambut jingga tampak menyesal. "Aku tak bermaksud…"
"Tidak… kau benar," kata Harry gemetar. "Kau benar, Ichigo… egois sekali aku.. berpikir seperti itu…"
__ADS_1
Keheningan melingkupi mereka selama beberapa menit. Keheningan yang tak wajar. Ron dan Hermione memandang cemas Harry, yang masih berdiri dengan gemetar yang semakin berkurang. Harry sendiri dipenuhi rasa bersalah, pada Toushiro, terutama. Dia lupa fakta penting tentang si rambut putih. Sosoknya yang sepert anak-anak menyamarkan dirinya yang sebenarnya. Ia lupa kalau si rambut putih telah mengalami kehidupan yang lebih lama darinya. Dan mungkin, Harry menelan fakta baru yang ditemukannya begitu mendadak, kehidupan itulah yang membentuk pribadi dingin Toushiro Hitsugaya.