
"Dilarang," kata Angelina dengan suara hampa, saat Harry, George, dan Ichigo kembali ke ruang rekreasi pada malam harinya. "Tak ada Seeker dan Beater… apa yang akan kita lakukan?"
Tak ada tampang bahagia di ruang rekreasi Gryffindor, sekalipun mereka memenangkan pertandingan hari ini. Semuanya tampak sedih dan marah; anggota tim-lah yang tampak paling lemas, walau Ron tak ada di sana, menghilang sejak pertandingan usai dan belum kembali.
"Sungguh tidak adil," keluh Alicia sedih. "Mereka tak menghukum Malfoy dan Crabbe sepantasnya; kudengar mereka hanya menyuruh Crabbe menulis kalimat…"
"Dan melarang Fred padahal dia tidak melakukan apa-apa!" tukas Katie gusar.
"Bukan salahku kalau aku tidak melakukan apa-apa," kata Fred sebal. "Kupukul si brengsek itu sampai jadi bubur kalau kalian bertiga tak menahanku."
"Yeah, tak ada yang adil di keadilan," gerutu Ichigo jengkel.
Harry menatap merana ke jendela yang gelap, dimana Toushiro berdiri diam menghadap jendela itu, menatapi salju yang sedang turun dengan derasnya. Tadi, Umbridge-lah yang telah melarangnya dan si kembar Weasley untuk bermain Quidditch lagi dan menyita sapu mereka.
Ichigo sendiri dihukum membersihkan semua piala di ruang trofi dan penghargaan tanpa sihir. Si rambut jingga tak berkata apapun tentang hukuman itu, sekalipun Umbridge menyunggingkan senyum manis kekanak-kanakannya yang jelas dimaksudkan untuk menantang Ichigo. Dan saat ini, si jangkung itu menatap punggung Toushiro yang masih tak memandangnya dengan agak kesal. Ia dihukum karena membelanya juga, dan kenapa Toushiro malah tak bicara padanya.
Dan kemudian, satu per satu anak Gryffindor naik ke kamar masing-masing. Hanya tinggal Harry, Hermione, Ichigo, dan Toushiro yang tinggal. Neville meninggalkan mereka dengan cemas, seakan takut kalau mereka berempat akan bertempur.
"Bisakah kau hentikan itu?" tanya Ichigo, memecah keheningan. Harry menatap Ichigo dengan heran. Si rambut jingga mengedikkan kepalanya pada Toushiro, memberi tanda bahwa ia bicara pada si rambut putih.
"Er… apa yang-?" Hermione menatap keduanya dengan heran.
"Saljunya," kata Ichigo, masih menatap shinigami mungil itu. Harry dan Hermione menatap jendela. Benar saja, salju semakin lebat, padahal musim dingin baru saja dimulai. "Kau selalu bicara tentang mengendalikan diri, kau juga perlu lakukan hal yang sama."
Toushiro berbalik, dan langsung menatap Ichigo. Secara tak terduga, butiran salju yang turun melambat; badai reda secara mendadak. Harry curiga Toushiro ada hubungannya dengan ini.
"Kau yang harus berhenti bertindak begitu," kata Toushiro dingin.
"Bertindak apa?" tanya Ichigo heran.
Toushiro menatap Ichigo seakan Ichigo sudah gila. Tunggu, dia tahu kalau memang ada yang tidak beres dengan otak si jingga itu. Pasti ada hubungannya dengan gen bawaan dari Isshin Shiba.
"Bertindak brutal pada siapapun, sekalipun kau dapat provokasi yang jelas."
"Heh? Mana bisa aku…"
"Kau lupa pada apa yang pernah kau katakan? 'Kalian semua punya otak, tapi apakah satu-satunya penyelesaian masalah kalian hanya dengan bertarung?'"
Ichigo tercengang mendengar hal itu. Ya. Ia ingat pernah mengatakan itu sewaktu menolong Toushiro dengan masalah peliknya dengan Kusaka.
"Well, kau tahu…"
"Aku tahu," potong Toushiro dingin. "Kau tak perlu lakukan hal itu lagi. Dan tentang apa yang dikatakan Malfoy padaku, itu tak ada hubungannya denganmu."
"Tunggu. Tidak ada?! Bagaimana kau bisa tahan dengan itu?" tanya Harry kaget.
"Benar! Jangan kira aku tak tahu kalau di Soul Society pun kau sering diremehkan; saat kau di Junrinan. Bagaimana kau bisa terima diremehkan lagi bahkan saat tak ada yang tahu siapa kau sebenarnya?!"
"Nah, mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya, jadi biarkan saja…"
"Hah?!" Ichigo menatap Toushiro tak percaya. Sepertinya elemen dasar Toushiro benar-benar berpengaruh pada pembentukan karakternya. Tapi kalau begini sih bahaya juga! Toushiro terlalu dingin!
"Kurosaki," kata Toushiro dalam. "jika kau menerima hal yang sama sejak awal hidupmu, kau akan terbiasa dengan hal itu seumur hidupmu."
Ketiganya tercengang mendengar hal itu.
Tepat saat itu terdengar derit di belakang mereka saat lukisan si Nyonya Gemuk mengayun terbuka. Ron memanjat masuk dengan lemas, wajahnya pucat da nada salju di rambutnya.
"Dari mana saja kau?" tanya Hermione cemas.
"Jalan-jalan," gumam Ron tanpa nada.
"Kau kelihatannya beku," kata Hermione. "Sini, duduk sini!"
Ron berjalan ke arah gadis itu, lalu mendudukkan diri di kursi dekat perapian yang paling jauh dari Harry. Dengan putus asa, Ron berkata pelan tentang keinginannya keluar dari tim.
"Mana bisa," tukas Ichigo segera. "Kalau begitu kalian hanya akan punya sisa tiga, dan itu Chaser semua."
"Apa?!" dengking Ron.
"Aku dan Fred dan George dilarang bermain seumur hidup oleh Umbridge," kata Harry getir.
Hermione dan Ichigo pun menjelaskan pada Ron tetang hukuman itu. Harry sendiri tak akan tahan menceritakan hal itu untuk kesekian kalinya. Selesai bercerita, Ron tampak lebih merana dari sebelumnya.
"Ini semua salahku…"
"Kau tidak membuatku memukuli Malfoy," kata Harry gusar.
"… kalau saja aku tidak separah itu…"
"… tak ada hubungannya dengan itu."
"… lagu itu membuatku tegang…"
"… lagu itu akan membuat siapa saja tegang."
"Ternyata tak hanya kalian saja yang bisa bertengkar," komentar Hermione, mengerling Ichigo dan Toushiro yang diam menatap pertengkaran itu dan berjalan ke arah jendela.
"Dengar, hentikan! Sudah cukup buruk tanpa kau menyalahkan dirimu atas semua kejadian!" seru Harry geram.
Ron tak berkata apapun. Ia mengenyakkan diri di sofa sambil menatap tetesan air di ujung jubah Quidditch-nya yang basah. Setelah beberapa saat, ia berkata muram, "Belum pernah aku merasa semerana ini sebelumnya."
"Sama," kata Harry getir.
"Nah," kata Hermione dengan suara bergetar. "Ada satu hal yang mungkin bisa membuat kalian agak terhibur."
Keempat anak laki-laki itu memandang Hermione ragu.
"Oh, yeah?" tanya Harry tak yakin.
"Yeah," kata Hermione, berbalik membelakangi jendela yang tertutup salju. Senyum lebar menghiasi wajahnya. "Hagrid sudah pulang."
Hening sejenak.
"YANG BENAR?!" Harry dan Ron melonjak berdiri. Sungguh mengherankan bagaimana sebagian besar kegalauan itu menguap begitu cepat. Bahkan mereka tak menghiraukan pertanyaan Ichigo.
"Siapa Hagrid?"
"Dumbledore pernah bilang, 'kan," kata Toushiro, menatap Harry dan Ron yang berlari ke kamar anak laki-laki dengan segera, Hermione juga menaiki tangga ke kamar anak perempuan dengan gembira. "salah satu orangnya yang diutus untuk menjadi wakilnya untuk para raksasa, namanya Rubeus Hagrid."
"Oh ya?" Ichigo menggaruk belakang kepalanya. Ia tidak ingat sama sekali tentang itu. Mungkin itu salah satu informasi yang terlewat saat ia ketiduran di dapur Grimmauld Place saat Dumbledore mem-briefing mereka. "Yah, biarlah."
__ADS_1
Ichigo menguap lebar, tak melihat tatapan galak Toushiro padanya. Kalau sikap dingin Toushiro adalah masalah bagi Ichigo, maka sikap masa bodoh Ichigo-lah masalah untuk Toushiro.
Golden Trio kembali ke ruang rekreasi. Harry tampak membuka Peta Perampoknya dengan hati-hati; Ron telah mengganti seragam Quidditch-nya dengan jubah biasa.
"Kalian mau ikut?" tanya Harry pada dua shinigami itu; Toushiro sedang mengetik sesuatu di ponselnya. "Kurasa Hagrid akan senang ketemu kalian."
"Trims, tapi tidak," kata Ichigo. Ia mengerling ke Toushiro. "Urahara baru saja kirim pesan, kami harus temui dia sekarang."
"Ada masalah?" tanya Hermione ingin tahu sekaligus cemas.
"Oh, entahlah," kata Ichigo kalem. "Paling dia mau menceramahiku soal kejadian tadi siang."
"Kalaupun iya, kayak kau akan mendengarkan saja," kata Toushiro datar. Namun itu cukup untuk menohok perasaan. Ichigo menangkap kesan kalau Toushiro sedang mengkritiknya, dari tajamnya kata 'mendengarkan' baginya.
Maka ketiga anak itu keluar dari lubang lukisan setelah mengucapkan selamat malam. Ichigo dan Toushiro juga keluar beberapa saat kemudian. Keduanya berjalan cepat dan waspada untuk mencapai kantor Urahara. Nyaris saja mereka berpapasan dengan Filch di ujung koridor lantai tiga.
Urahara menyambut mereka dengan riang di kantornya. Ia sedang duduk di belakang meja bundar berlapis penghangat bersama Yoruichi, yang duduk di atas bantal sambil bergulung dalam wujud kucingnya. Kepala kucing hitam itu terangkat saat Toushiro mengunci pintu di belakangnya, lalu berkata dengan suara baritone palsunya.
"Ah, anak urakan itu sudah datang."
"Maksudmu aku, ya 'kan?" gerutu Ichigo. Urahara terkekeh pelan sambil menuangkan teh panas ke dalam dua cangkir baru untuk menyambut mereka.
"Tentu saja kau, baka," kata Yoruichi, menggoyangkan ekornya dengan malas, "Hitsu-chan itu anak teladan, mana mungkin buat masalah."
Ichigo hanya bersungut-sungut tak puas. Sementara itu, Toushiro langsung menatap Urahara, mengabaikan kepulan uap teh panas yang ada di depannya.
"Ada apa?" tanya Toushiro.
"Ara, haruskan se-to the point ini?" kata Urahara tenang, menyesap tehnya dengan tenang.
"Aku mendapat perasaan yang akan kau sampaikan adalah sesuatu yang penting," kata Toushiro tajam.
Dengan tenang, Urahara meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. Ia lalu menyilangkan kedua tangannya di dalam lengan kimono-nya. "Nah, kau selalu punya intuisi yang bagus, Hitsugaya-san. Memang benar. Ada sesuatu yang penting."
"Nah, apa, kalau begitu?" desak Ichigo.
"Tessai mengirim kabar padaku kalau Arrancar menyerang Karakura," ujar Urahara serius. Seperti yang diduganya, ekpresi Ichigo langsung mengeras. "Kuchiki-san memang ada di sana untuk mendampingi Kon berhasil membereskannya. Hiyori dan Hacchi juga membantunya, jadi tak ada masalah yang tertinggal. Hanya saja…"
"Ada apa?" tanya Toushiro dengan mata menyipit.
"Aneh sekali, menurutku. Arrancar yang datang sampai tiga, datang di tiga tempat yang berbeda lewat tiga garganta, seakan…"
"… mereka memiliki tiga tujuan yang berbeda," sambung Toushiro. "Berdasarkan pengalamanku sewaktu bertugas di Karakura dulu, Arrancar yang datang ke Karakura melewati Garganta yang sama; kedatangan pertama mereka adalah Ulquiorra Cifer dan Yammy Riyalgo, lalu si Sexta Espada, yang datang dengan fraccion-fraccionnya itu? Yang menunjukkan kalau mereka memiliki tujuan yang berbeda adalah kedatangan Grimmjow Jeagerjaques dengan para fraccion-nya, yang dihalangi oleh Ulquiorra Cifer…"
"Tepat sekali," kata Urahara. "Menurut Tessai, dari keterangan Kuchiki-san, Hiyori, dan Hacchi, masing-masing Arrancar memiliki tujuan yang berbeda; yang melawan Rukia bermaksud mencarimu, Kurosaki-san."
"Hah?" Ichigo tercengang.
"Mungkin karena mereka pendukung Aizen mereka bermaksud menghabisi siapapun yang menjatuhkan panutan mereka," kata Yoruichi. "Mereka tahu kau tidak ada di Karakura. Mengingat mereka sudah beraliansi dengan Voldemort, sangat mungkin mereka tahu di mana kau sekarang."
"Dan Arrancar yang dilawan Hacchi sepertinya hanya sebagai pengalih perhatian. Hacchi bilang cara bertarungnya aneh, terkesan main-main namun bisa dikalahkan dengan mudah. Kesannya, dia hanya umpan."
"Yang dihadapi Sarugaki?" tanya Toushiro.
"Tak ada petunjuk," kata Urahara, menghela napas. "Yang dilakukannya hanya bertarung, tapi aku curiga ada sesuatu di balik penyerangan ini. Jika incaran mereka hanya Kurosaki-san, kenapa mereka tak menyerang langsung kemari, dengan keuntungan dari aliansi mereka itu? Apakah benar hanya itu tujuan mereka, atau ada hal lain."
"Kalaupun ada, apa itu," tambah Yoruichi.
Hening sejenak.
"Bagaimana kalau Arrancar itu berusaha membebaskan Aizen?" tanya Ichigo.
"Nah, itu bagian terburuk yang lain. Tapi aku yakin itu akan jadi hal terakhir yang perlu kita cemaskan. Mugen tak mudah ditembus, dan aku yakin sangat sulit untuk Arrancar itu bisa melewatinya dengan semua shinigami Soul Society yang tak akan membiarkan Aizen bebas."
"Iya, sih," kata Ichigo manggut-manggut.
"Lalu Urahara," kata Toushiro, menatap si mantan Komandan Divisi 12 itu. "Tadi aku merasakan keberadaan ganjil di tengah Hutan Terlarang…"
"Mungkin itu si Rubeus Hagrid; aku ketemu dengannya di koridor, dia melapor kepulangannya pada Dumbledore-sama tadi," ujar Urahara.
"Kalau itu aku tahu. Maksudku ada yang lain, bukan si Hagrid ini."
"Wah, entahlah," kata Urahara santai. Tak ada tanda-tanda kecemasan sama sekali, apalagi curiga. Toushiro tahu kalau hawa kehadiran itu bukan Arrancar, namun ia juga perlu waspada, 'kan?
"Malam ini saljunya turun cukup deras," kata Yoruichi riang, "kenapa kau tidak cek keluar sambil bersenang-senang sedikit, eh?"
Toushiro membelalak sebal pada usulan itu.
"Ngomong-ngomong, Ichigo, soal kau di lapangan Quidditch itu," kata Urahara memulai. Ichigo mengernyit jijik. Sudah dapat ditebaknya sejak awal kalau Urahara pasti akan sok menasihatinya, mengatakan untuk menjaga sikapnya, padahal tahu kalau itu semua sia-sia.
Berarti benar apa kata Toushiro. Ia tidak mendengarkan.
Hari minggu, keesokan harinya diisi oleh sebagian besar anak Gryffindor untuk mengerjakan PR yang bertumpuk. Sebagian lagi mengisi hari itu untuk ber-skating di permukaan danau, menaiki kereta luncur, dan yang paling menyebalkan menyihir bola-bola salju agar melesat naik ke Menara Gryffindor dan menghantam jendelanya keras-keras.
"Oi!" raung Ron dengan tidak sabar, menjulurkan kepalanya keluar jendela. "Aku Prefek dan kalau sekali alagi ada bola salju menghantam jendela ini – ADUH!"
Ron menarik kepalanya kembali ke dalam, wajahnya dipenuhi salju.
"Fred dan George," kata Ron gusar, membanting jendela di belakngnya hingga menutup. "Menyebalkan sekali."
Hermione kembali ke Menara Gryffindor tak lama kemudian, agak gemetar kedinginan dengan jubah basah sampai ke lutut. Hal itu sangat kontras dengan Toushiro yang datang bersamanya, tampak tenang dan cerah.
"Nah," kata Ron, menatap Hermione yang duduk di kursi de sebelah Harry dan mencabut tongkatnya untuk mengeringkan jubahnya. "Kau bilang akan membuatkan rencana pelajaran untuk Hagrid, jadi, bagaimana?"
Hermione tidak menjawab untuk beberapa saat, masih sibuk membuat air di jubahnya menguap. Maka, Ron menanyai Toushiro.
"Dan kau kelihatannya senang betul. Kenapa?"
Toushiro mengangkat bahu. Tak perlu dijelaskan kalau mood-nya sedang baik, didukung turunnya salju di bulan ini.
"Toushiro suka musim dingin, makanya dia senang begitu," kata Ichigo, sambil mengutak-atik rumus entah apa untuk PR Arithmancy-nya. "Oi, Toushiro, bagaimana membagi ini?" Ichigo mengulurkan soal PR-nya yang hampir selesai, menunjuk soal terakhir yang belum diselesaikannya. Toushiro menunduk, mengamati soal itu, sebelum menjelaskan perhitungannya pada Ichigo. Harry dan Ron memilih menulikan diri mendengar penjelasan matematik Toushiro, yang anehnya dipahami oleh si kepala jingga itu. Beberapa saat kemudian, Ichigo telah menyelesaikan penghitungannya, dengan kata lain, selesai sudah PR yang membelenggunya.
"Sudah kucoba," kata Hermione lelah, menjawab pertanyaan Ron. "Dia bahkan tak ada di pondoknya saat aku tiba. Aku mengetuk sampai setengah jam sebelum dia muncul dari Hutan Terlarang."
"Apa kalian membicarakan tentang Hagrid yang semalam kalian kujungi itu?" tanya Ichigo sambil membereskan buku-buku pelajarannya.
"Ya," kata Harry pendek.
"Kenapa kau bermaksud membuatkan rencana pelajaran untuknya?" tanya Toushiro heran.
Golden Trio bertukar pandang. Hermione lalu merendahkan suaranya, seakan takut jika di dengar oleh anak-anak lain di ruangan itu.
__ADS_1
"Ini masih berhubungan dengan Umbridge," kata Hermione gelisah. "Dia juga mendatangi Hagrid semalam, dan kami tahu kalau dia akan mencari cara untuk menyingkirkan Hagrid."
Baik Ichigo maupun Toushiro mengangkat alis tak percaya.
"Umbrige itu Inkuisitor Agung, ingat?" kata Hermione, disahuti dengan anggukan Ichigo. "Seperti yang kita tahu itu cuma alibi untuk memastikan tak ada guru Hogwarts yang memihak Dumbledore, atau palig tidak mengawasi guru-guru Hogwarts yang memihaknya. Nah, Hagrid bisa dibilang orang yang setia padanya, jadi…"
"Ah, aku mengerti," kata Toushiro
"Bukan hanya itu," kata Ron pelan. "Dia juga tak suka Hagrid karena Hagrid setengah raksasa. Coba kau dengar sendiri pendapat Siri-Snuffles tentangnya, Umbridge tak suka siapapun yang setengah manusia…"
Harry sangat heran melihat Ichigo meledak tertawa. Toushiro malah menatap si rambut jingga dengan alis nyaris bertaut, apalagi saat Ichigo memegangi perutnya kegelian.
"O-oi!" kata Ron heran. "Kau ini kenapa?"
Ichigo berhenti tertawa dengan terpaksa, itu juga setelah Toushiro menendang tulang keringnya. Dengan terengah ia bicara, sisa tawa masih terdengar dalam suaranya, "Kuharap dia tidak tahu siapa aku sebenarnya… aku juga setengah manusia, eh?" Tidak sepenuhnya benar juga kalau ia setengah manusia. Ia seperempat manusia, seperempat shinigami, seperempat Quincy, dan seperempat hollow. Ia geli memikirkan bagaimana tampang Umbridge jika tahu, apalagi jika melihatnya dalam wujud begitu.
Hermione bergidik sedikit mendengar hal itu, sementara Ron langsung pucat. Tawa Ichigo kembali pecah, baru berhenti setelah Toushiro melemparkan buku Sejarah Sihir ke wajahnya. Beberapa anak yang melihat, walau tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan, tertawa. Harry juga harus menahan keinginan keras untuk tidak tertawa keras; tipe pertemanan Ichigo dan Toushiro agak sedikit kasar.
"Yah, yang jelas kita harus mencegah Umbridge menjatuhkan Hagrid, atau memecatnya, tapi Hagrid bilang dia sudah siapkan pelajaran, dari Hutan…"
Harry dan Ron kompak mengeluarkan suara putus asa.
"Kenapa?" tanya Ichigo, menatap keduanya ingin tahu.
"Makhluk-makhluk di Hutan yang punya potensi membuat dia dipecat," kata Harry lemas. "Hagrid punya, eh, selera aneh tentang hewan-hewan sihir.'
"Dan dia masih belum mau memberitahuku dari mana dia mendapat luka-luka itu," kata Hermione muram.
Ichigo dan Toushiro bertukar pandang. Harry bisa memahami ketidak mengertian kedua shinigami itu yang belum bertemu Hagrid.
Harry saja yang tidak tahu kalau kedua shinigami itu sudah tahu siapa Hagrid dan apa yang disembunyikannya di Hutan Terlarang. Namun, karena keduanya – yang mana Hagrid belum bertemu dengan mereka – menghargai Hagrid, jadi mereka diam saja. Toh untuk sementara ini Grawp si raksasa belum menunjukkan tindakan yang berbahaya untuk siapapun.
Ichigo dan Toushiro bertemu Hagrid secara langsung tanpa mengendap-ngendap pada keesokan harinya. Kedatangannya disambut gembira oleh si kembar Weasley dan Lee Jordan, yang dengan antusias menjabat tangan besar Hagrid.
Barulah kedua shinigami muda itu bertemu dengan lebih formal pada hari Selasa, di pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib. Anak-anak Gryffindor berjalan dengan susah payah, pada awalnya, di halaman sekolah menuju kelas terbuka Hagrid di tepi pondoknya yang terletak di tepi Hutan Terlarang. Tapi secara ajaib, Toushiro membuat salju di depannya luruh tanpa perlu menggunakan mantra dengan tongkat sihirnya, seakan salju melumer begitu saja dalam jangkauan si rambut putih. Hermione langsung menanyakan hal ini, namun ia tak mendapatkan jawabannya. Ichigo tahu, Toushiro tak akan buka mulut tentang kemampuannya sebagai Lord of Winter.
Harry sendiri memiliki hal lain untuk dipikirkan. Ia takut jika Inkuisitor Agung Hogwarts muncul di pelajaran pertama Hagrid ini. Ia yakin kedatangannya bukan hal baik. Mereka semua melihat Hagrid menunggu mereka di tepi hutan. Ia masih sama babak belurnya dengan terakhir kali ia melihatnya. Luka-lukanya malah, menurut Harry, bertambah. Dan kali ini, Hagrid memanggul sesuatu yang tampaknya seperti setengah bagian tubuh sapi mati.
"Kita belajar di sini hari ini!" seru Hagrid riang dengan suaranya yang menggelegar. Ia mengedikkan kepala ke arah rerimbunan pepohonan di belakangnya. "Agak terlindung! Tapi mereka memang suka yang lebih gelap."
"Apa yang lebih suka gelap?" semuanya mendengar suara Draco Malfoy, yang baru datang bersama anak-anak Slytherin yang lain. Suaranya yang diulur-ulur tak menyembunyikan kepanikan yang dirasakannya.
Sekalipun prospek bertemu makhluk asing entah apa itu juga mencemaskan Harry, tetap saja, apapun yang menakutkan Malfoy membuatnya senang.
"Aku telah siapkan perjalanan ke Hutan untuk anak kelas lima. Kupikir kita akan lihat makhluk-makhluk ini dalam habitat aslinya. Yang akan kita pelajari hari ini cukup langka, dan kurasa aku barangkali satu-satunya orang di Inggris yang berhasil latih mereka."
Meskipun demikian, banyak anak yang meragukan ini. Ichigo dan Toushiro, yang belum tahu banyak tentang Hagrid, hanya bertukar pandang. Kemudian Hagrid memimpin mereka memasuki Hutan yang gelap seperti petang hari, paling tidak sampai sepuluh menit lamanya. Saat berjalan Hagrid mengerling dua wajah baru di antara anak-anak Gryffindor.
"Ah, pastilah kalian dua anak baru yang diceritakan Dumbledore itu," kata Hagrid ramah. "Itchi-gou Ku-roma-ki dan To-hiro Hitsu-guy-ah?"
Malfoy mendengus tawa keras sekali. Harry melihat Toushiro mengernyit kesal mendengar namanya yang salah disebut.
"Ichigo Kurosaki," koreksi Ichigo kalem. "Dan hati-hati kalau salah menyebut nama Toushiro Hitsugaya; dia pernah menendangku jatuh dari tangga karena salah baca karakter namanya."
Banyak anak yang tertawa mendengar hal ini.
"Aku tak pernah menendangmu jatuh dari tangga," kata Toushiro mengernyit. "Baru rencana saja, kok. Kuchiki melakukannya lebih cepat dari aku."
"Eh? Jadi yang waktu itu bukan kau?!" Ichigo menatap Toushiro. Kejadian itu terjadi waktu Toushiro memimpin beberapa shinigami untuk menjaga Karakura dari Aizen. Para shinigami itu menyamar sebagai siswa SMA, dan saat itu ada pembagian kelompok untuk tugas sejarah. Keigo salah menulis karakter nama Toushiro, yang berakibat salah diucapkan oleh Ichigo saat ia membaca salinan nama kelompok di mereka, mendiskusikannya dalam perjalanan ke atap sekolah. Alhasil, yang empunya nama tersinggung. Dan Ichigo selalu yakin kalau Toushiro membalasnya dengan menendangnya jatuh dari dua puluh anak tangga. Mana ia tahu kalau pelaku sebenarnya adalah Rukia, soalnya yang menyemprot Ichigo dengan omelan tak cuma si komandan mungil itu. Rukia, Renji, dan Rangiku berbarengan menggertaknya, dilatari tawa mencemooh Ikkaku dan komentar Yumichika tentang hal yang tidak nyambung sama sekali; menurutnya posisi jatuh-mencium-lantai-dengan-kaki-terbelit bukan posisi yang elit.
Toushiro mengedikkan kepala, lalu berkata dengan nada datar, "Aku tak perlu melakukan apa-apa untuk membalas eh? Karma yang akan membalasnya untukku."
Ichigo yakin ada urat jengkel berkedut di pelipisnya. "Dasar Balok Es."
Toushiro berpura-pura tak mendengar hal itu.
Mereka akhirnya sampai di petak tanah di antara pepohonan rapat. Hagrid menurunkan setengah bangkai sapi itu ke tanah sambil menggerutu pelan, lalu melangkah mundur untuk menghadapi murid-muridnya. Sebagian besar dari anak-anak berdiri berdekatan, memandang berkeliling dengan gugup seakan mengira di serang setiap saat.
"Kumpul sini, kumpul sini," kata Hagrid menyemangati. "Nah, mereka akan tertarik dengan bau daging, tapi aku akan tetap panggil mereka, karena mereka akan senang begitu tahu aku yang datang."
Hagrid berbalik sambil menyibakkan rambutnya yang gondrong dari wajahnya. Ia lalu melontarkan teriakan ganjil yang bergaung di antara pepohonan. Sebagian besar memandang Hagrid dengan takut-takut, sementara ia berteriak dua kali lagi.
Dan kemudian, Harry melihatnya, agak kalah cepat dengan dua shinigami yang juga melihatnya. Di antara celah gelap di dua bonggol cemara, sepasang mata putih kosong yang berkilau terlihat semakin besar dalam keremangan saat makhluk entah apa itu bergerak mendekat nyaris tanpa suara. Sesaat kemudian, sebentuk wajah yang mirip seperti deskripsi naga dalam buku terlihat, dengan postur tubuh yang mirip kuda besar, hitam, bersayap seperti kelelawar muncul dari keremangan pepohonan. Sambil mengibaskan ekornya yang panjang dan hitam, makhluk itu memandang semuanya dengan mata kosongnya, yang kemudian terpaku pada Ichigo dan Toushiro.
Harry lega bukan kepalang. Ternyata selama ini ia tak mengkhayalkan makhluk itu. Hagrid tahu tentangnya, Ichigo dan Toushiro, yang menatap kuda seperti reptil itu dengan waspada juga mengetahuinya. Dan ternyata bukan hanya mereka. Neville juga memandang si kuda ganjil, dengan wajah agak takut, serta seorang anak Slytherin bertubuh kurus yang memandangi si kuda dengan jijik.
Seekor kuda hitam kedua muncul di balik pepohonan lagi, berjalan sambil menatapi Ichigo dan Toushiro, baru berhenti di samping temannya. Hagrid memandang keganjilan ini dengan sangat heran. Apalagi dua kuda lain juga muncul, dan melakukan hal yang sama, adu pandang dengan dua siswa baru.
Dan kemudian secara mengejutkan, keempat makhluk itu menekuk kaki depan mereka. Tak salah lagi, itulah cara mereka memberi penghormatan. Cara yang sangat anggun untuk hewan mengerikan setengah kuda setengah naga malnutrisi itu.
Hagrid ternganga heran melihatnya. Neville menatap dua teman Gryffindornya dengan sangat takjub. Ichigo dan Toushiro bertukar pandang.
"Apa? Ada apa?" tanya Ron pelan, bingung. "Kenapa Hagrid tak memanggil lagi? Dan kenapa dia memandang Ichigo dan Toushiro seperti itu?"
"Well," kata Hagrid berdeham, "ini pertama kalinya kulihat mereka bersikap seperti ini. Mereka makhluk yang cukup angkuh, walau tidak seangkuh Hippogrif. Keangkuhan mereka adalah sikap tak pedulian mereka; tak biasanya mereka membungkukkan badan pada manusia."
Ichigo dan Toushiro menatap makhluk-makhluk itu, yang masih dalam posisi salah satu kaki depan tertekuk dan wajah reptil mereka menunduk. Mengerti tujuan mereka, Ichigo dan Toushiro membalas salam itu dengan membungkukkan sedikit punggung mereka. Setelahnya, makhluk-makhluk itu mundur, merunduk untuk menyantap daging sapi yang dibawa Hagrid tadi.
"Ehem," deham Hagrid. "Jadi, angkat tangan untuk siapa saja yang bisa melihat mereka."
Harry, Neville, Ichigo, Toushiro, dan si anak Slytherin mengangkat tangan mereka.
"Yeah, aku tahu kau bisa lihat mereka, Harry… Dan Neville, eh? Lalu…"
"Maaf," kata Malfoy mencemooh. "Apa tepatnya yang harus kami lihat?"
Sebagai jawaban, Hagrid menunjuk ke bangkai sapi yang sedang dimakan oleh para kuda ganjil itu. Seluruh kelas menatapnya selama beberapa saata, dan berapa anak memekik kaget. Pastilah potongan-potongan daging yang merobek sendiri, menjauh dari tulang, dan lenyap begitu saja adalah keanehan yang nyata.
"Apa yang melakukannya?" pekik Parvati takut. "Apa yang memakannya?"
"Thestral," jawab Hagrid dengan bangga, Hermione mengeluarkan pekikan "Oh!" pelan tanda mengerti. "Hogwarts punya sekawanan di sini. Nah, siapa tahu…?"
"Tapi mereka pembawa celaka!" sela Parvati ketakutan. "Penyebab berbagai bencana mengerikan, Profesor Trelawney bilang begitu…"
"Tidak, tidak," kata Hagrid terkekeh. "Itu hanya takhayul. Mereka tak bawa bencana, mereka malah sangat pintar dan berguna! Sayangnya tak banyak pekerjaan mereka di sini kecuali tarik kereta sekolah, atau jika Dumbledore mau pergi jauh dan tidak mau ber-Apparate. Nah, sekarng siapa yang bisa jelaskan kenapa ada yang bisa melihat dan ada yang tidak?"
Hermione mengangkat tangannya.
"Jelaskan kalau begitu."
"Yang bisa melihat Thestral adalah," kata Hermione, "mereka yang sudah pernah melihat kematian."
__ADS_1