
Harry dan Hermione memandang arah perginya Grawp yang mengejar para centarurus dan Umbridge dengan lesu. Sementara derap kaki-kaki kuda para centaurus dan debam langkah besar si raksasa semakin samar, bekas luka Harry terasa berdenyut menyakitkan.
Keduanya terdiam sejenak. Harry merasa mereka telah membuang banyak waktu disini. Dan tanpa tongkat sihir, keduanya benar-benar tak berguna. Harry juga tak tau bagaimana ia bisa ke Kementerian Sihir jika mereka terjebak di tengah hutan terlarang tanpa transportasi apapun.
"Kita harus kembali ke kastil," kata Hermione lirih.
"Pada saat kita kembali ke kastil barangkali Sirius sudah mati!" tukas Harry berang, menendang tunggul pohon di dekatnya dengan marah.
"Yah, kita tak bisa melakukan apa-apa tanpa tongkat sihir," kata Hermione putus asa. "Tapi, Harry, bagaimana tepatnya rencanamu pergi ke London?"
"Yeah, kami juga baru bertanya-tanya," kata suara yang akrab, dari belakang Hermione.
Ron muncul, bersama Ginny, Neville, dan Luna di belakangnya. Semuanya tampak berantakan dan mendapat beberapa luka, lebam, atau lecet, namun tampak sangat puas.
"Nah," kata Ron sembari menyerahkan tongkat sihir Harry dan Hermione, "ada ide?"
Tapi Harry menanyakan lebih dulu bagaimana teman-temannya itu bisa kabur dari Regu Inkuisitorial. Ron pun menjelaskan dengan singkat bahwa keterampilan mereka dalam mantra pertahanan yang dilatih di LD sangat membantu. Ron dan yang lainnya pun terheran-heran pada para centaurus tak ramah yang meningalkan dua siswa tersesat di tengah hutan dan membawa pergi Umbridge, sampai Harry menambahkan keterangan tentang Grawp.
Mereka mulai berdebat tentang bagaimana dan siapa yang akan pergi ke Kementerian, saat bunyi keresak ganjil terdengar di belakang mereka. Serentak mereka mengangkat tongkat sihir yang menyala. Wajah yang sangat tidak asing yang dibingkai rambut jingga itu muncul dari balik semak-semak, ekspresinya serius.
"Ketemu juga akhirnya," katanya puas. "Kalian tahu, aku tidak pernah ahli melacak reiatsu! Ngapain coba Toushiro menyuruhku menjemput kalian..."
"Ichigo!" seru Harry kaget, bersamaan dengan teman-temannya.
"Yeah, yeah, aku tahu namaku, kok," kata Ichigo, melangkah ke lingkaran cahaya tongkat sihir mereka, dan membuat semuanya tercengang.
Penampilan Ichigo sama sekali berbeda dari apa yang pernah diketahui Harry. Si jangkung itu memakai kimono hitam. Ada sesuatu seperti tato di bagian bawah leher, pergelangan tangan, dan pergelangan kakinya, berbentuk X. Ia membawa sebuah pedang besar di punggung dan pedang lain yang serupa tapi berbeda ukuran yang diselipkan di obi pinggangnya. Tidak salah lagi, beginilah wujud shinigami Ichigo Kurosaki.
"Ka-kamu..." bisik Hermione.
"Penjelasan menunggu kalian di kastil," kata Ichigo tegas.
"Tapi... Sirius..."
"Penglihatan itu cuma tipuan," kata Ichigo, mengernyit. "Sirius-san baik-baik saja, kok. Kami berhasil mengontaknya."
"A-apa?" seru Harry kaget. "Bagaimana? Apa yang-?"
"Sungguh, aku tidak begitu pintar dalam memberi penjelasan. Tapi baiklah, kuberitahu sedikit yang bisa kuberi tahu," kata Ichigo, menghela napas. "Voldemort memberi penglihatan palsu untuk memancingmu mendatanginya."
"Bagaimana kau mengetahui itu palsu?!"
"Bukan aku, tapi Toushiro. Dia memprediksi itulah yang terjadi, setelah kau mendapatkan penglihatan itu waktu ujian, begitu kami memastikan Sirius-san ada di Grimmauld Place. Toushiro bilang penglihatan itu cuma umpan untuk membuatmu mendatangi Voldy. Kami bermaksud mencarimu setelah ujian selesai, tapi Umbridge menahan kami, sampai akhirnya Filch datang dan bilang kalau kalian tertangkap olehnya…"
"Yeah, dan anggota Regu Inkuisitorial-nya," tambah Ron sebal.
"Nah, sementara kami memanfaatkan ditahannya kau oleh Umbridge – itu keuntungan tak disangka, tindakan Umbridge akan mengulur sedikit waktu soalnya – dan kami berbagi tugas, termasuk mengontak Grimmauld Place, dan Sirius-san aman disana. Tapi kemudian kau malah pergi ke hutan bersama si Umbridge dan Hermione, jadi kami harus bergerak cepat, soalnya musuh kami juga mendatangi tempat ini."
"Hah?!"
__ADS_1
"Ya," kata Ichigo, tak ingin diinterupsi untuk sementara. "Kami bagi tugas, aku menjemput kalian, Urahara-san memberitahu McGonagall-san dan Snape-san yang langsung mengontak Orde Phoenix, dan Toushiro mengontak Seireitei. Dan kalau kalian mau tahu, semuanya sudah ada di sini, di Aula Besar, termasuk Sirius-san, dan teman-teman shinigami-ku juga akan datang."
Kemudian, mereka mengikuti Ichigo menembus pepohonan untuk keluar dari hutan itu. Harry agak heran karena betapa ringannya Ichigo berjalan, tak terpengaruh pada duri semak belukar, dan melangkahi dengan santai akar pohon yang menonjol di tanah. Kimono-nya sama sekali tak tercabik ranting atau duri, seperti Harry dan yang lainnya. Bicara tentang yang lainnya, tampak Ron menatap Ichigo, tepatnya pedangnya, dengan terpesona. Neville dan Ginny tampak agak takut, sedangkan Luna tampak penasaran.
"Kami punya metode komunikasi yang tidak diketahui oleh kalian," kata Ichigo saat Hermione bertanya bagaimana Ichigo dan Toushiro mengontak Grimmauld Place tanpa terdeteksi. Ichigo menunjukkan ponselnya. "Kami tak bisa gunakan Soul Pager ini karena Orde Phoenix tidak punya, jadi kami gunakan ini untuk mengontak Seireitei. Kami memberitahu Orde dengan Kupu-Kupu Neraka. Aku tidak punya karena aku bukan shinigami resmi, jadi Toushiro yang melakukannya."
"Kupu-Kupu... Neraka?" tanya Luna ingin tahu.
"Serangga roh, bentuknya seperti kupu-kupu biasa, sih, cuma warna mereka sama semua, hitam. Mereka biasanya digunakan untuk mengirim pesan, bahkan barang."
"Kupu-kupu bisa melakukan itu?" celetuk Ron heran.
Ichigo menoleh, menyeringai tipis. "Kalian punya sihir kalian, shinigami juga punya sihir mereka sendiri, eh?"
Akhirnya mereka tiba di tepi hutan. Lampu-lampu kastil masih menyala, pertanda malam baru saja dimulai. Ichigo langsung memimpin mereka ke undakan depan. Harry tiba-tiba saja teringat sesuatu.
"Ichigo, jika kau bilang semuanya ada di Aula, bagaimana dengan anak-anak Hogwarts?" tanya Harry segera.
"Ah," kata Ichigo, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Soal itu... well, sepertinya tak bisa disembunyikan lagi, tentang keberadaan kami. Kau tahu, tepat setelah aku menemukanmu di hutan tadi, sebelum aku muncul di depan kalian, sih, aku mendapat kontak dari Toushiro kalau Voldemort tahu kau tak mendatanginya. Dia malah mengirim sihir yang memproklamirkan kalau dia akan datang ke Hogwarts. Kepalang tanggung, semua orang sekarang tahu dia sudah bergerak. Karena itu Orde kemari, termasuk Sirius."
Harry terbelalak kaget. Voldemort akan mendatangi kastil?! Yang benar saja!
"Kami tak akan biarkan dia mendapatkanmu," kata Ichigo dalam, sungguh-sungguh, sebelum ia membuka pintu ek ganda Aula Besar, melihat kecemasan dan ketakutan Harry. "Kami akan melindungimu dan semua teman-temanmu."
Ichigo mendorong pintu itu dengan kedua tangannya. Harry yang dan yang lainnya tercengang. Aula nyaris penuh. Semua murid, guru, dan para hantu berkumpul disana dengan gelisah. Tak hanya itu, disana juga ada wajah-wajah anggota Orde Phoenix; Mr dan Mrs Weasley, Bill, Lupin, Moody, Tonks, dan Sirius! Yang belakangan disebut langsung melesat ke arah Harry, tak mempedulikan tatapan takut-takut sejumlah besar siswa.
"Dia hampir saja pergi dengan Thestral," kata Ichigo kalem.
"Tapi penglihatan itu... Ichigo bilang itu cuma jebakan..."
"Memang iya," kata Sirius segera.
"Ichigo bilang Voldemort akan kemari…" kata Harry. Banyak penyihir yang langsung bergidik mendengar nama itu. Harry melihat wajah Sirius menjadi lebih muram sekaligus serius.
"Yeah, tepat begitu anggota Orde yang ada sampai di sini. Entah bagaimana, dia tahu kau tidak akan datang padanya, dan kedengarannya dia marah sekali…"
"Aku tahu," gumam Harry. Pantas saja bekas lukanya bertambah panas dan menyakitkan.
"Lalu dia mengirim sihirnya," kata Lupin getir, "mengatakan kalau dia akan datang bersama pasukannya untuk bertempur. Tidak dikatakan secara frontal, sih, tapi dia mengatakan bahwa 'serahkan Harry Potter sebelum tengah malam dan aku akan meninggalkan Hogwarts tanpa pertumpahan darah'…"
"Tipuan lama," kata Ichigo jengkel, cukup keras sehingga seluruh Aula mendengarnya, "menyerahkanmu dan dia akan pergi begitu saja? Tidak. Mendapatkanmu dan pergi setelah kastil rata dengan tanah, baru iya." Ichigo memandang berkeliling. "Lalu, mana Toushiro? Urahara-san juga?" tanya Ichigo, memandang berkeliling.
"Sepertinya masih dengan Kepala Sekolah," sahut Lupin. "Mereka tadi bilang perlu melakukan persiapan untuk membuat gerbang antar dimensi untuk teman-temanmu bisa diakses langsung ke Hogwarts tanpa terpengaruh proteksi sihir di sini."
"Kisuke sudah tahu caranya, tenang saja" kata Yoruichi tenang, mengejutkan mereka semua, kecuali Ichigo. "Untung saja dia punya otak."
"Siapa anda?" tanya Bill heran.
"Yoruichi Shihouin, salam kenal," kata Yoruichi riang, tersenyum memamerkan giginya yang runcing.
__ADS_1
"Yo-Yoruichi?" ulang Hermione kaget. "Kucing hitam Urahara-sensei? Ka-kalau begitu anda Animagus?"
"Yah, untuk istilah penyihir begitu sih, untuk sementara kuterima saja."
"Kukira hanya kalian bertiga," kata Hermione bingung.
"Mereka setuju aku jadi agen-tambahan-rahasia," seringai Yoruichi, sementara Ichigo mendengus. Yoruichi menoleh ke arah Ichigo; rambutnya mengibas mengikuti gerakannya. "Hati-hati sikapmu, Boy, kalau tidak ada aku siapa yang akan membuat kemampuan shinigami itu tetap terasah? Seseorang perlu membuat kalian berdua bisa babak belur untuk membuktikan kalau kau dan Hitsu-chan masih bocah… Oh, hei, Kisuke. Sudah selesai?"
Bunyi kelotak sandal kayu itu membuat semua mata memandang ambang pintu. Guru Metode Pertahanan Klasik Jepang itu memasuki Aula Besar dengan tenang, tongkat kayunya seirama dengan bunyi langkahnya. Albus Dumbleore berjalan di sebelah kanannya, mata birunya berkilat. Sementara itu, Toushiro berjalan di samping kiri Urahara, ekspresinya serius. Dan si rambut putih bertubuh mungil itulah yang langsung menjadi pusat perhatian.
Ini pertama kalinya Harry melihat Toushiro dalam wujud shinigaminya, pertama kalinya untuk seluruh siswa dan sebagian besar guru melihat sosok aslinya. Si rambut putih juga memakai shihakuso hitam, bersama haori putih tanpa lengan di atasnya. Ia juga memakai scraf berwarna hijau, sewarna dengan matanya, yang melingkari lehernya. Sebuah katana panjang menimbulkan banyak mata terpaku ke senjata yang dibawa di punggungnya itu, disangga rantai hitam berkilat dengan bros perunggu berbentuk bintang di bagian tengahnya.
"Ya," Urahara menjawab pertanyaan Yoruichi dengan santai. "Mereka dalam perjalanan; beberapa waktu lagi mereka akan keluar dari Dangai."
"Dan siapa yang kau bilang bocah, Shihouin?" gerutu Toushiro jengkel. Yoruichi hanya menyeringai senang.
"Siapa saja yang akan datang?" tanya Ichigo segera, tampak ingin tahu.
"Sedikit lebih banyak dari yang kuperkirakan," kata Toushiro, mengernyit. "Aku tak tahu siapa persisnya, tapi kurasa aku bisa memprediksinya; aku cukup tahu sifat Komandan Tertinggi."
"Memang segitu mudahnya ditebak?" celetuk Ichigo, yang kemudian menatap sekelilingnya. Ia mengangkat alis melihat ekspresi sebagian besar penghuni Aula yang tampak sangat tercengang.
"K-kau benar-benar…" bisik Ron, menunjuk katana Toushiro dengan jari gemetar. "Pakaian itu… Pedang itu…"
"Baru pertama kali melihat wujud asli shinigami?" ujar Toushiro tenang. "Kau akan lihat lebih banyak, Weasley." Toushiro terdiam mendadak, merogoh bagian depan shihakuso-nya dan menarik benda yang menurut Harry adalah ponsel – Soul Pager.
"Ya?" ujar Toushiro pelan, menempelkan speaker ponsel ke telinganya. Mr Weasley menatapnya ingin tahu, sedangkan hampir seluruh siswa dan atau guru memandangnya heran sekaligus takjub, heran bagaimana alat komunikasi Muggle bisa digunakan di Hogwarts. Ichigo sendiri tampak agak geli melihat tatapan sebagian besar penyihir pada teman berambut putihnya, beberapa masih memandanginya, tepatnya pedang besar yang di bawa di punggung Ichigo. Toushiro sendiri mengabaikan yang lainnya. Ia bicara dengan cepat dalam bahasa Jepang, atau menjawab dengan kata-kata singkat semacam 'Hm', 'Yep', 'Ha', atau 'Hn'.
"Bagaimana ponsel itu bisa bekerja di sini?" tanya Hermione pada Ichigo.
"Itu bukan ponsel biasa, seperti yang kubilang tadi; Soul Pager, buatan Divisi 12, Departemen Riset dan Teknologi Soul Society. Dia tidak bekerja karena baterai yang sama dengan ponsel biasa, tapi partikel roh, jadi tidak perlu di-charge seperti ponsel manusia, otomatis juga tak terganggu oleh medan sihir di Hogwarts ini," jelas Ichigo, juga mengeluarkan Soul Pager-nya sendiri yang berwarna hitam.
"Inilah salah satu cara shinigami berkomunikasi," kata Urahara ceria. "Kami menggunakannya untuk bertukar informasi dengan Seireitei tanpa diketahui oleh Umbridge atau Kementerian; burung hantu itu hanya kamuflase untuk mereka."
Harry harus mengagumi ide itu. menggunakan metode alternatif untuk berkomunikasi dan gunakan metode biasa sebagai pengalih perhatian.
"Tadi Ichigo bilang tentang Kupu-Kupu Neraka…" kata Ginny pelan.
"Itu cara yang lain lagi," kata Toushiro, menutup ponselnya dan mengembalikannya ke balik shihakuso-nya. "Kupu-kupu gaib itu digunaakan untuk bertukar pesan, tapi hanya shinigami resmi Seireitei yang mendapatkannya. Dia juga digunakan sebagai 'tiket aman' melintasi Dangai tanpa perlu cemas dilindas Koutotsu…"
"Apa itu?" celetuk Sirius.
"Pembersih," seringai Yoruichi. "Bentuknya seperti kereta, tapi fungsinya untuk menelan semua obyek asing yang ada di Dangai atau jalan masuk antara Dunia Roh dan Dunia Manusia. Bisa bahaya kalau ditelan, karena kau tidak akan bisa kembali. Itulah sebabnya jika melewatinya shinigami membutuhkan Kupu-Kupu Neraka. Kalau tidak punya, harus bisa lari lebih cepat dari kereta sinting itu."
Tepat saat itu, mereka semua merasakan sensasi ganjil menguar di Aula Besar. Entah kenapa, udara tiba-tiba terasa seakan menipis. Hanya para shinigami yang tampak tenang. Dan kemudian,sebentuk garis horizontal berwarna merah muncul di tengah Aula, yang melebar seakan celah itu terbentuk begitu saja di udara kosong. Lalu, sebentuk pintu geser muncul di sana, dan diiringi asap putih tebal, pintu itu menggeser terbuka.
Serombongan orang – shinigami – yang sangat asing bagi para penyihir melangkah keluar dari pintu ganjil itu. Yang pertama muncul adalah seorang wanita muda bertubuh ramping dan kecil, namun lebih tinggi dari Toushiro, dengan rambut hitam yang dikepang dua. Ia juga memakai haori, seperti Toushiro. Bersamanya, ada empat shinigami lain yang juga memakai haori. Harry mengetahui kalau mereka yang memakai mantel putih itu adalah para komandan; ia mengenali Byakuya Kuchiki dan Juushiro Ukitake di antara mereka. Setelah para komandan, ada delapan shinigami tanpa haori dan dua sosok lain dalam pakaian manusia. Harry mengenali dua di antara mereka, yang muncul dalam kejadian Boggart Toushiro; seorang wanita cantik berambut strawberry blonde dan gadis berwajah baik hati yang rambut coklatnya dicepol. Tampaknya bukan hanya Harry, banyak penyihir lain yang mengenali dua perempuan itu; Harry melihat mata Toushiro terarah langsung pada si gadis bercepol, yang tersenyum ramah padanya kendati Toushiro hanya mengangguk sekali.
"Selamat datang," sapa Dumbledore ramah, membuat semua pendatang baru itu menoleh memandangnya, suaranya seakan bergema di Aula yang sunyi senyap, "di Sekolah Sihir Hogwarts."
__ADS_1