
Golden Trio dan Toushiro pergi lebih dulu ke Aula Besar untuk makan siang setelah pelajaran Transfigurasi usai keesokan harinya. Koridor menuju Aula dipenuhi anak-anak yang berbondong-bondong menuju ke arah yang sama, memanfaatkan waktu istirahat ini untuk melepas kepenatan dengan mengisi berjenis-jenis makanan ke piring masing-masing dan menelan isinya – kecuali piringnya, tentu. Namun, sebelum mereka mencapai ujung koridor yang akan membawa Harry, Ron, Hermione, dan Toushiro ke Aula Depan, sebuah suara yang tak asing menghentikan mereka.
"Oi, Hitsugaya!"
Toushiro berbalik, begitu pula Golden Trio. Draco Malfoy dan dua kroninya berdiri di ujung lain koridor; Crabbe dan Goyle menggotong sebuah peti kayu tua dan meletakkannya menghadap Toushiro. Si rambut putih mengernyit heran, sementara sebagian besar siswa menyingkir, seakan menyadari potensi kekisruhan
"Apa yang-?"
"Terima ini, Anak Aneh."
Kernyitan di antara alis Toushiro semakin dalam mendengar kalimat ejekan itu. Namun perhatiannya teralih pada peti kayu di depannya, yang gerendel besinya terbuka begitu Malfoy menjentikkan tongkat sihirnya. Tutup peti itu menjeblak terbuka dengan bunyi derik karena karat pada engselnya.
Untuk sesaat tidak ada yang terjadi. Hanya bola gas putih yang meluncur keluar, melayang di depan Toushiro yang tampak waspada. Dan kemudian, segalanya berubah. Menjadi sebuah tontonan tragedi.
Dengan bunyi letusan keras, bola gas itu berubah wujud menjadi lebih padat, membentuk sesosok remaja laki-laki berambut hitam. Pemuda itu memakai kimono yang mirip dengan seragam untuk pelajaran Metode Pertahanan Klasik Jepang. Namun ekspresi wajah pemuda tampan itu tampak seakan menghadap ke tiang gantungan, memegang sebentuk katana yang dipegangnya dengan tangan gemetar. Mungkin hal itu disebabkan luka besar yang tertoreh di dadanya, mengotori bagian atas kimononya yang berwarna putih.
"Kusaka," bisik Toushiro, matanya melebar kaget. Namun kekagetan itu belum apa-apa dibandingkan seluruh siswa yang melihat kejadian itu. Di tambah lagi, entah dari mana datangnya, muncul sesosok lain yang berpakaian serba hitam, menghunuskan senjatanya ke jantung si pemuda, mencipratkan darah merah kehitaman ke mana-mana; banyak anak perempuan menjerit ngeri.
"Aku… bertarung… untuk Soul Society…" kata pemuda itu, mengangkat senjatanya yang tak berguna sementara darah menetes dari luka-lukanya yang terbuka. "Kenapa… harus aku… yang mati…?"
Tar!
Sosok Kusaka menghilang, digantikan wujud seorang wanita yang terbaring di lantai batu di depan Toushiro. Baru kali ini Harry melihat wanita secantik itu, yang wajahnya yang berbentuk hati dibingkai rambut strawberry blonde sebahu. Namun mata wanita itu terbuka, menampilkan iris biru keabu-abuan yang menampilkan ketakutan yang membeku, kosong. Wanita itu memakai kimono serba hitam yang robek di sana-sini. Ada luka besar yang mengucurkan darah hingga ke lantai dari dada si wanita yang agak terbuka; Hermione membekap mulutnya dengan ekspresi ngeri, menahan jeritannya. Saat Harry mengerling ke Toushiro, ia melihat si rambut putih terpaku di tempat. Keterkejutan dan ketakutan tampak jelas di matanya.
Tar!
Sosok itu berganti lagi. Kali ini seorang gadis muda dengan wajah baik hati yang paling tidak seusia dengan Toushiro. Untuk beberapa detik, gadis berambut coklat gelap bercepol itu hanya berdiri di depan si rambut putih, tersenyum dengan lembut, sementara Toushiro yang memandangnya justru tampak tersiksa, mengucapkan namanya tanpa kata. Dan mendadak saja, sebilah pedang menusuk di gadis dari belakang, menembus jantungnya; lebih banyak yang menjerit kali ini, dan Hermione terisak di balik tangannya. Wajah Toushiro memucat, tampak sangat terpukul.
Tar!
Boggart itu berubah menjadi bola gas, sebelum membentuk sosok keempat. Betapa terkejutnya Harry melihat sosok itu, yang tak lain adalah Toushiro sendiri, yang memakai kimono serba hitam yang sama dengan dua sosok sebelumnya. Namun baru kali ini Harry melihat ekspresi dingin penuh kebencian ditampilkan di wajah seorang Toushiro, yang menatap yang asli yang shock luar biasa.
"Kau lemah," kata Boggart-Toushiro perlahan. Nadanya dingin, hampa, dan menimbulkan perasaan seakan melihat lubang hitam dalam tanpa dasar. Suaranya seakan memantul di koridor yang hening karena ngeri melihat deretan ketakutan Toushiro. "Kau membiarkan mereka terluka dan mati."
"A.. aku…" Toushiro berkata dengan suara kering. Mata turquoise-nya menyiratkan penderitaan.
"Semua yang kau lakukan hanyalah kegagalan," kata si Boggart licik, berjalan mendekati Toushiro yang terpaku. Hawa dingin yang tak ramah dan mengancam menyebar, berpusat dari si Boggart. Harry benci melihat Toushiro terlihat putus asa. Ia lebih membenci dirinya sendiri yang juga tak bisa bergerak. Si Boggart itu mengangkat tangannya. Selama sepersekian detik, Harry mengira kalau si Toushiro palsu bermaksud mencekik yang asli. Namun ternyata tidak. Sebentuk belati es muncul dari udara kosong, digenggam oleh si Boggart. "Kau selalu gagal melindungi mereka semua… Kau kira kau kuat?" Ada kilatan liar di mata si Boggart. "Kau bahkan tak mau menghadapi kekuatanmu sendiri… Kau lari dari kekuatan itu… Dan... kau kira kau pantas untuk tetap hidup?"
Kali ini, Toushiro berdiri gemetar. Harry melihat sekelilingnya dengan panik. Namun di sekitarnya adalah para siswa yang membeku dalam kengerian, tak bisa diharapkan. Harry semakin bertambah ngeri saat Toushiro mengulurkan tangannya yang gemetar, menerima belati es yang tajam itu.
"Begitu," seringai si Boggart, sementara Toushiro mencengkeram belati itu dengan erat hingga melukai telapak tangannya. "Kau harus membayar kegagalanmu… dengan kematianmu…"
"TOUSHIRO!"
Harry nyaris terlojak kaget mendengar suara Ichigo yang menggelegar. Pemuda berambut jingga itu menyeruak maju dari gerombolan anak perempuan kelas tiga Hufflepuff yang terisak ketakutan. Ekspresi wajahnya keras. Dengan cepat, Ichigo mendorong Toushiro menjauh dari si Boggart yang membeku.
Melihat kesempatan itu, Harry memaksa dirinya maju, menghadapi si Boggart-Toushiro, yang kemudian meledak dengan bunyi tar keras. Dementor melayang di tempat tadinya Toushiro palsu berdiri, jubahnya yang hitam beriak sekan tertiup angin, sementara hawa dingin yang menyebarkan kemuraman dan keputusasaan merayapi mereka semua. Harry memfokuskan pikirannya, meyakini diri bahwa Toushiro baik-baik saja…
"Riddikulus!"
Dementor itu lenyap, berubah menjadi bola gas lagi yang meluncur kembali ke dalam peti. Harry mendengar Hermione membisikkan mantra untuk menyegel peti itu. Semuanya menatap kekalahan si Boggart dengan ekspresi terguncang. Harry menyadari kalau kejadian menggemparkan ini telah membuat para guru berdatangan. Tampak paling depan adalah Profesor Dumbledore yang berwajah muram, lalu Profesor McGonagall, Profesor Sprout, dan Profesor Flitwick yang tampak shock. Ia tak bisa membaca ekspresi Snape, yang matanya menatap peti Boggart yang diam. Umbridge juga ada di sana, dan Harry benci melihat senyum kemenangan tersungging di wajahnya yang seperti kodok.
"Toushiro!" Harry menoleh, melihat Ichigo sedang menggucang bahu si rambut putih dengan kasar, membuat pegangan Toushiro pada belati es itu terlepas. Belati beku yang tak rata itu terjatuh ke lantai, langsung hancur dalam butiran keperakan, hanya menyisakan luka toreh dalam di telapak tangan si rambut putih. Harry bisa melihat kegusaran bercampur kepanikan di wajah Ichigo. Namun, Toushiro hanya diam, matanya tampak kosong dan mati.
"Toushiro! Itu cuma Boggart!" seru Ichigo keras, "Kau tahu tentang mereka! Kau tahu itu hanya tipuan! Mereka semua baik-baik saja! Tak ada yang perlu kau takutkan!"
Toushiro mengerjap, menatap Ichigo yang berhenti mengguncang bahunya. "Kau salah, Kurosaki…" suara Toushiro terdengar hampa.
Ichigo tampak seakan baru saja ditampar. "A-apa?"
"Itu bukan tipuan…" bisik Toushiro. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, darah mengalir di sela-sela jarinya.
Harry hampir yakin ia mendengar gigi-gigi Ichigo yang menggertak. "Kalaupun bukan tipuan, jangan biarkan itu menenggelamkanmu lagi!"
"Tapi itu benar kalau yang bisa kulakukan hanyalah kegagalan!" bentak Toushiro, ekspresi wajahnya terluka.
"Kau tidak gagal!" balas Ichigo gusar. "Kau selalu berusaha untuk melindungi mereka-"
"Tidakkah kau lihat apa yang kulakukan?! Apa yang sudah terjadi?! Kusaka mati! Mati, Kurosaki!"
Duakh!
Toushiro terdorong mundur akibat hantaman tinju Ichigo di pipinya. Bercak darah muncul di sudut bibirnya. Beberapa guru dan anak perempuan terpekik kaget.
"Mr Kurosaki!" seru Umbridge. "Kau-"
"Diam," desis Ichigo, nadanya mengintimidasi seperti ular yang marah. Sulit dikatakan apakah 'diam' yang dikatakannya ditujukan untuk Toushiro atau Umbridge. Umbridge sendiri terdiam, tapi melempar tatapan tersinggung pada si rambut jingga. Ichigo tak menatapnya, ia menyipitkan mata pada Toushiro yang menyeka darah dengan punggung tangannya. "Sudah bangun sekarang?" tanyanya datar, menyembunyikan emosinya.
Toushiro berdiri tegak. Ia menatap Ichigo. Harry agak ngeri melihat wajah si rambut putih kembali tanpa ekspresi. Semua shock atas empat sosok yang menakutkannya menghilang, kecuali matanya yang masih tampak menanggung kesedihan. Mata turquoise-nya terarah pada peti yang berisi Boggart. Ichigo menatap peti itu juga. Untuk beberapa detik, semuanya hening.
__ADS_1
"Hancurkan makhluk itu," kata Ichigo datar. "Anggap itu semua ketakutanmu dan…"
"Urusai." Toushiro mengerling Ichigo dengan tajam. "Kau tak perlu mengatakannya." Toushiro mengangkat tangannya yang terluka. "Tapi terima kasih sudah memukulku, Kurosaki."
Harry sama sekali tak mengerti apa maksudnya itu. Namun detik berikutnya, ia melihat Toushiro mendaraskan mantra entah apa, mengurung dirinya dan Ichigo bersama peti kayu Boggart dalam kubus transparan berwarna jingga pucat.
"A-apa ini?" tanya Hermione kaget.
"Hadou ke 31," kata Toushiro pelan, dan bola api terbentuk di depan telapak tangannya yang berdarah. "Shakkahou!"
Bola api itu melesat ke arah peti kayu yang tiba-tiba saja bergetar, seakan makhluk di dalamnya menyadari bahaya yang akan terjadi. Begitu mantra itu menabrak peti, ledakan besar yang memekakkan telinga terjadi. Mereka yang melihat ledakan itu harus mengangkat lengan jubah masing-masing untuk melindungi mata mereka dari silaunya cahaya ledakan. Dan saat mereka mencoba melihat apa yang terjadi pasca ledakan, dilihat oleh mereka asap tebal nyaris menutupi pandangan mereka untuk melihat apa yang terjadi di dalam kubus gaib itu, yang dua detik kemudian luruh perlahan. Mereka semua sekarang bisa melihatnya, Toushiro dan Ichigo berdiri di depan apa yang tadinya adalah peti berisi Boggart. Peti itu sekarang hanya potongan kayu dan logam yang hangus, tanpa isi. Boggart itu pastilah ikut hancur karena kuatnya mantra itu. Bahkan lantai di bawahnya sampai meretak.
"Mr Hitsugaya! Mr Kurosaki!" seru Umbridge murka. "Potong lima puluh angka dari Gryffindor untuk penggunaan mantra di koridor dan merusak properti sekolah! Kalian juga-!"
Bunyi raungan mengerikan yang terdengar mendadak membuat Umbridge terhenti di tengah kalimatnya. Banyak anak bertukar pandang ngeri mendengar suara itu. Jeritan-jeritan panik juga terdengar tak jauh dari mereka.
"Apa itu?" tanya Parvati dengan suara lemah.
"Aku yang akan urus ini," kata Toushiro tanpa nada, berbalik ke arah Aula Depan.
Ichigo berdecak tak sabar. "Tidak. Kau tidak perlu…"
"Jangan hentikan aku, Kurosaki." Toushiro berkata dengan suara teredam, seakan menahan diri agar tak berteriak pada sahabatnya itu.
"Kalau begitu pergilah."
Urahara sudah datang. Kali ini tak ada senyum ganjil yang biasanya menghiasi wajahnya. Sebaliknya, kali ini guru Metode Pertahanan Klasik Jepang itu tampak serius. Toushiro menatapnya, tampak ada sedikit keraguan. "Baron Berdarah bertransformasi menjadi hollow – monster." Banyak anak terpekik kaget. "Level Gillian. Kalau mau mengatasinya, kau harus bergerak lebih cepat, dan mantra kidou yang lebih kuat, sebelum ada yang terluka. Tapi tetap hati-ha-"
Toushiro sudah melesat pergi. Urahara memandang perginya si rambut putih yang menyeruak di antara kerumunan anak-anak sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Ichigo, mengernyit menatap Urahara seakan telah memberi instruksi tugas yang berbahaya pada Toushiro.
"Well, dia perlu pengalih perhatian, eh?" kata Urahara, nada bicaranya kembali santai.
"Dia sedang terguncang…" kata Hermione dengan suara mencicit.
"Ah, benar juga," kata Urahara, tampak berpikir sambil mengusap dagunya yang bercukur tak rata.
Harry yakin ia melihat pelipis Ichigo berkedut kesal, sebelum berteriak marah pada gurunya itu dalam bahasa Jepang. "Idiot! Kalau ada apa-apa bagaimana?!"
"Itu dia," kata Urahara, berbalik menuju ke Aula Depan. "Kurasa aku harus mengawasinya, atau aku akan dibantai jika kita pulang nanti oleh 'para pecinta Toushiro Hitsugaya'…"
Draco Malfoy menatap peti berisi Boggart tadinya berada. Hanya anak-anak Slytherin yang masih tinggal, sementara yang lainnya mulai bubar karena penasaran apa yang terjadi pada Baron Berdarah.
"Draco, itu tadi ide brilian yang-" kata Pansy Parkinson dengan suara dimanis-maniskan, bermaksud bergelayut manja di lengannya. Tapi, Draco menepisnya kasar, mengabaikan ekspresi kaget gadis itu. Tanpa kata, Draco berbalik dan meninggalkan teman-temannya yang keheranan, pergi ke ruang rekreasi Slytherin.
Ia mengira menggunakan Boggart adalah ide yang bagus sekali. Sempurna. Biarkan semua orang melihat apa yang bisa menakuti si kecil Toushiro Hitsugaya. Itu lebih dari cukup untuk mempermalukannya di depan umum.
Tapi ia salah. Sekarang, setelah melihat ketakutan yang dimiliki Toushiro Hitsugaya, ia baru sadar kalau ia salah besar. Draco tak mengira jenis ketakutan yang dimiliki si rambut putih sama sekali berbeda dengan anak lain. Hitsugaya tak takut pada badut konyol, hewan-hewan ganjil, hantu, atau hal-hal remeh lainnya. Yang ditakuti Toushiro melampaui ketakutan seorang bocah lima belas tahun; kehilangan, kegagalan untuk melindungi, dan kematian. Bukan kematiannya sendiri yang ditakuti Toushiro, tapi kematian orang lain. Tunggu, bahkan Tosuhiro takut pada dirinya sendiri. Kenapa bisa begitu?
Draco terhenti di depan dinding yang menjadi pintu masuk ke ruang rekreasi asramanya. Ada lebih banyak pertanyaan memenuhi otaknya. Bagaimana bisa Hitsugaya memiliki ketakutan macam teror itu? Kenapa pula si Boggart-Hitsugaya menyebutkan kalau Hitsugaya takut pada kekuatannya sendiri? Kekuatan macam apa yang dimiliki anak itu? Perasaan tak nyaman memenuhi benaknya. Rasa bersalahkah itu?
Tidak. Bukan itu.
Tapi ketakutan.
Ia justru menghadapi ketakutan baru, terhadap Toushiro Hitsugaya. Ya. Kemungkinan kekuatan yang dimiliki si anak pindahan itu. Bagaimana Hitsugaya mencengkram belati es itu menakutkannya. Ia masih ingat kehampaan di mata itu. Ia bisa melihat kepasrahan di sana. Ia siap untuk mengakhiri dirinya sendiri. Tak seperti anak-anak lain yang ia tahu, tak pula seperti para penyihir dewasa yang ia kenal, Toushiro Hitsugaya tak takut pada kematiannya.
Sementara itu, di Aula Depan, sejumlah siswa dengan ketakutan mendorong teman-temannya untuk menjauhi area itu. Namun sebaliknya, Toushiro berjalan dengan cepat, nyaris berlari, melawan arus anak-anak yang justru meninggalkan Aula Depan. Kerumunan mulai menipis, dan Toushiro bisa melihatnya. Di bawah undakan menuju Aula Depan, sesosok makhluk bertubuh ganjil berdiri di sana. Tubuhnya tinggi besar, paling tidak lima meter tingginya. Wajah monster humanoid itu tertutupi topeng putih tulang yang berbentuk seperti tengkorak manusia, dengan rambut hitam yang acak-acakan seperti surai singa. Kulit hollow itu berwarna biru pucat. Kedua kaki dan tangannya lebih mirip cakar yang kurus dan panjang, seperti kaki laba-laba, yang mana rantai hitam membeliti kaki dan tangannya, bentuk rantai yang sama bagi yang mengenal hantu Slytherin, Baron Berdarah. Lubang hollow-nya terlihat di bawah ulu hatinya.
Toushiro mendesis gusar. Benar apa kata Urahara kalau hollow ini level Gillian. Tapi, bagaimana bisa hantu Hogwarts berubah menjadi hollow? Mereka adalah hantu penyihir, ada kontrak khusus yang bisa membuat mereka bisa bertahan di Dunia Manusia tanpa takut akan ancaman para hollow. Energi sihir para penyihir tidak akan mati bersama mereka, menjadi perlindungan bagi mereka yang ingin tinggal di Dunia. Tapi, bagaimana Baron Berdarah bisa berubah, sekarang?
Hollow itu meraung seakan kesakitan, mengibaskan cakarnya dengan liar; Ginny Weasley berada terlalu dekat dengannya!
Dengan shunpo, Toushiro bergerak cepat untuk menarik Ginny, lalu berpindah ke atas undakan. Beberapa siswa terkesiap kaget melihat Toushiro yang berpindah secepat itu.
"To-Toushiro?" bisik Ginny terkejut. Ia hanya melihat tampak samping dari wajah pucat teman kakaknya itu. Wajahnya pucat tanpa ekspresi, matanya lurus terarah pada monster yang berjarak beberapa meter dari mereka.
Toushiro melepaskan pegangannya pada Ginny, lalu berdiri di depannya. "Menjauh dari sini."
"Eh?"
Monster itu menggeram melihat sosok bocah berambut putih di depannya. Instingnya mengatakan bahwa bocah itu adalah musuh. Ia seharusnya menjauhi anak itu. Namun, instingnya merasakan pula bau ganjil yang mengusik seluruh inderanya, memunculkan perasaan yang menggodanya karena rasa lapar yang tak terperikan. Bau salju segar yang tak seharusnya ada di awal musim semi itu seperti candu. Ya… mungkin jika ia menelan anak itu perasaan itu akan terpuaskan… Rasa laparnya jauh lebih penting daripada keharusannya untuk pergi.
Toushiro mengernyit, merasakan reiatsu hollow di depannya naik satu tingkat. Berbahaya jika ini membahayakan para penyihir. Ia tak bisa bertarung dengan wujud shinigami-nya, penyamarannya bisa terbuka. Ia hanya bisa bertarung dengan teknik yang lain. Dan kemudian, ia melompat maju; Ginny menjerit di belakangnya, terlalu takut untuk mengejarnya. Si hollow menyadari kedatangan musuh kecilnya, berusaha menghalaunya dengan cakarnya. Toushiro dengan gesit menghindar.
"Hadou ke-31: Shakkahou!"
Bola api merah kembali ditembakkan Toushiro, mengenai bahu si hollow. Hollow itu mundur sambil menggerung marah. Ternyata mantra itu tak cukup kuat sekalipun bisa menghabisi Boggart. Tapi untuk saat ini, langkah pertama adalah menjauhkan hollow dari para penyihir muda, baru ia bisa menyerang lebih bebas.
__ADS_1
"Hadou ke-33: Soukatsui!"
Energi spiritual berwarna biru yang lebih mirip bola api, seperti Shakkahou muncul di depan tangan Toushiro yang terluka. Bola api itu melesat ke arah si hollow, yang meraung kesakitan karena bara api yang panas itu. Toushiro tak heran melihat mantranya masih tak cukup kuat. Urahara benar. Ia harus gunakan mantra yang lebih tinggi.
"Hadou ke 58: Tenran!"
Angin topan terbentuk di depan kedua tangan Toushiro yang terarah pada si hollow. Angin itu sukses memaksanya mundur lebih jauh ke tengah halaman.
"Toushiro?"
Mata Toushiro melebar terkejut. Dilihatnya Neville Longbottom berdiri tak jauh darinya. Dilihat dari arah datangnya, sepertinya Neville baru saja dari rumah kaca. Ini bukan waktu yang tepat untuk kedatangannya!
Hollow itu menolehkan kepalanya yang menyeramkan ke arah penyihir muda yang baru datang itu. Bisa dirasakannya kalau bocah berambut putih itu terkejut, perhatiannya teralih. Ini kesempatan bagus…
Hollow itu melesat cepat ke arah Neville, yang membelalak kaget. Monster mengerikan apa itu?! Ia hanya bisa berdiri membeku saking ngerinya, menatap mata kosong di balik lubang di topengnya yang seputih tulang. Cakar panjang itu akan membunuhnya!
Untuk beberapa detik yang panjang, beberapa peristiwa terjadi pada saat yang hampir bersamaan. Neville merasa tubuhnya terdorong mundur, membuatnya jatuh terduduk, dan ada yang menjerit di kejauhan; suara berat Toushiro juga meneriakkan sesuatu. Neville terengah. Ia tak merasakan ada benda tajam dari si monster yang menghantamnya. Ia masih hidup…
Neville mendongak dengan gemetar, dilihatnya sosok yang sangat tak asing berdiri di depannya. Toushiro berdiri di depannya, dengan punggung yang dilihatnya, menjadi tameng untuknya.
Neville terbelalak ngeri, melihat tetesan darah mengotori tanah berumput di depan Toushiro. Monster bertopeng itu mundur selangkah, lehernya tampak terbakar.
"To-Toushiro-?" bisik Neville ngeri.
"Tak ada yang boleh melukai teman-temanku," kata Toushiro dingin ada si monster. Neville tak bisa melihat Toushiro yang berdiri membelakangi dirinya.
Monster itu meraung murka.
"Kubilang," kata Toushiro, nadanya tajam penuh amarah, "tak ada yang boleh melukai teman-temanku! Tidak lagi! Bakudou ke-63," sebuah tombak energi berwarna keemasan muncul di tangan Toushiro, yang mengangkatnya ke udara, "Hyapporankan!"
Begitu tombak itu meluncur di udara, secara ajaib ia memecah, menjadi paling tidak sepuluh tombak lain dan menghantam si monster yang menggerung kesakitan. Toushiro melangkah maju, tangannya terangkat, siap merapal mantra lagi.
"Hadou ke-63: Raikohou!"
Kali ini energi berbentuk listrik melesat dari ujung jari Toushiro, menyambar si hollow yang meraung memekakkan telinga.
Dan kemudian, hollow itu membuka rahangnya. Sebentuk bola energi berwarna hitam terbentuk di depan rahangnya yang terbuka lebar. Cero!
"Bakudo ke-81," kata Toushiro, begitu bola energi itu terlontar ke arahnya, "Danku!"
Pelindung gaib terbentuk di depan Toushiro, membentuk bidang lebar tak kasat mata, melindungi dirinya dari cero si hollow. Bunyi tabrakan keras terdengar seperti suara gemuruh badai yang sangat buruk.
"Toushiro…" bisik Neville tak percaya.
"Dia menggunakan mantra terlalu banyak."
Neville menoleh kaget. Urahara dan Ichigo sudah berdiri di sampingnya. Ichigo tampak muram, membantu Neville berdiri.
"A-ada apa ini? Apa yang - apa yang terjadi?" tanya Neville panik. Ia menatap Toushiro yang menembakkan bola api lagi kepada monster itu. "Bantu dia!"
"Dia tidak mau dibantu," kata Ichigo gusar. "Dia mau selesaikan ini sendiri."
"Lagipula sangat tidak sopan mengganggu pertarungan orang lain, Longbottom-san," kata Urahara tenang. Neville tak percaya apa yang didengarnya. Bagaimana bisa mereka bicara setenang itu?!
"Akan kuceritakan padamu detailnya nanti," kata Ichigo sebelum Neville membuka mulut untuk memprotes. "Setelah ini selesai dan si cebol sial itu dikurung di rumah sakit."
Toushiro kembali menggunakan mantra kidou untuk menyempitkan bidang gerak si hollow. Ia menambah lapisan kidou lain, agar energi spiritual yang dilepaskannya maupun si hollow tidak akan terasa di luar dinding pelindung itu.
"Bakudou ke-63, Sajou Sabaku."
Rantai pasir berwarna keemasan meluncur dari lengan Toushiro, melesat dan membelenggu gerakan hollow itu ke tanah. Hollow itu menggelepar, berusaha membebaskan diri. Sekalipun terhalang oleh kidou, bukan berarti Urahara dan Ichigo tak bisa merasakan hawa membunuh memancar dari Komandan Divisi 10 itu.
Toushiro mengangkat tangannya. Bola energi seperti petir berwarna biru terbentuk di telapak tangannya yang bersimbah darah akibat memaksakan diri menyalurkan energi spiritualnya di sana. "Hadou ke-88: Hiryuu Gekizouku Shinten Raihou!"
Bola halilintar itu melesat cepat bak kekuatan jet, menghantam tubuh hollow yang terikat di tanah. Ledakan yang luar biasa terdengar dan menggetarkan tanah, sekalipun sudah dilindungi oleh kidou pelindung. Asap tebal mengganggu mereka melihat apa yang terjadi. Dan kemudian, begitu asap menipis, mereka melihat Toushiro berdiri, memunggungi mereka dan terengah. Di depannya, Baron Berdarah melayang berdiri. Baru kali ini mereka semua melihaat wajahnya tak menyeramkan dan berlumuran darah keperakan. Wajahnya bersih, seperti bangsawan Inggris tempo dulu. Rantai yang membeliti tubuhnya perlahan luruh dengan bunyi gemerincing lonceng. Hantu Ruang Bawah Tanah Slytherin itu menatap Toushiro dengan penuh terima kasih, memberi anggukan takzim sebelum menghilang dalam kabut keperakan.
"Selesai," kata Urahara ringan, berjalan ke arah Toushiro, yang kubus kidou-nya juga telah luruh, diikuti Ichigo dan Neville. "Hitsugaya-san. Apa kau baik-baik saja?"
Toushiro berbalik dan Neville terkesiap kaget. Sekarang baru diketahuinya apa yang mengenai cakar si monster saat Toushiro melindungi Neville. Tiga goresan dalam tertoreh di bagian kiri wajah Toushiro yang sekarang bersimbah darah. Dua dari torehan dalam itu melukai kelopak matanya yang menutup. Toushiro menyeka darah di dahinya, menatap Urahara dengan mata kanannya yang sehat.
"Menurutmu?" ujarnya datar.
"Jelek sekali," komentar Urahara.
"Rangiku-san akan mengomelimu," tambah Ichigo, ujung bibirnya berkedut menahan tawa yang tak sepantasnya dilontarkan di situasi begini.
"Ayo kita perbaiki," kata Urahara ceria. "Aku perlu mencegahmu hanya punya satu mata."
Ichigo menarik tudung jubah hitam Toushiro untuk menutupi wajahnya dalam bayangan. Ia dan Urahara lalu menggiringnya ke sayap rumah sakit, menerobos kerumunan anak-anak yang masih shock dengan pertarungan tunggal yang dimenangkan Toushiro, dengan tangan kosong itu.
__ADS_1
Neville menatap punggung Toushiro yang menjauh. Hanya jejak darah dari luka di wajah dan tangannya yang tertinggal di lantai batu yang dingin.