Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 16


__ADS_3

Kendati suasana masih tidak enak setelah Toushiro pergi, ditambah dengan pengumuman Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Empat yang masih jadi bahan perbincangan, Ichigo melihat ekspresi Kisuke Urahara adalah kebalikannya. Jika ia tak kenal sifatnya yang sungguh anomali untuk hampir semua elemen, maka ia akan amat sangat heran. Dengan ceria ia berdiri di depan podium, setelah memberi bungkukan sopan ke arah para guru.


"Nah, selamat pagi semuanya," sapanya dengan suara keras bernada riang, mendapatkan perhatian seluruh siswa di Aula Besar. "Hanya sebuah pengumuman kecil sebelum kalian memulai hari kalian ini. Yah, tentang pelajaranku, Metode Pertahanan Klasik Jepang, sudah berlangsung selama satu bulan. Aku sudah memberikan kalian penjelasan tentang teorinya. Dan aku berpendapat, sudah waktunya kalian mendapat pelatihan fisik secara nyata. Jadi," Urahara menepukkan tangannya. Secara sihir, di depan semua murid muncul lipatan kain dengan dua warna; putih dan biru untuk anak laki-laki dan putih dan merah untuk anak perempuan. "aku sudah mempersiapkannya, dengan bantuan para peri rumah yang baik hati itu, untuk membuatkan kalian seragam untuk pelajaranku! Jadi, mulai minggu ini, jika kalian masuk ke kelasku, aku mau kalian memakai seragam itu. Seragam sekolah kalian tak dirancang untuk bergerak bebas, soalnya."


Harry menatap seragam baru untuk kelas Urahara. Modelnya tidak familiar baginya, tapi tidak untuk Ichigo.


"Seperti seragam Shinou, tapi tanpa lambangnya," gumamnya pelan. Tapi ia mengangkat bahu."Paling tidak ini lebih baik daripada bergerak dengan seragam Hogwarts."


"Hei, Ichigo," kata Hermione pelan, memandang seragamnya dengan cemas. "Apa kau yakin dengan ini?"


"Apa?"


"Rencana Urahara-sensei untuk mengajari kita pertahanan-"


"Tentu saja iya," kata Ichigo sambil lalu.


"Tapi Umbridge…"


Ichigo nyengir. "Urahara-san tidak takutkan Dumbridge atau Kementerian, jika itu yang kau takutkan, Hermione. Dia tahu apa yang dia lakukan. Lihat saja nanti."


"Tapi kau tahu Umbridge… Dan Urahara-sensei sepertinya terlalu percaya diri…"


"Kalau tidak begitu bukan Kisuke Urahara namanya. Ngomong-ngomong kita harus segera siap-siap sekarang kalau tidak mau terlambat ke kelas Binns…"


Toushiro sudah ada di dalam kelas Sejarah Sihir, duduk diam bagai patung di tempatnya yang biasa, di bangku di dekat jendela, dua bangku dari meja guru. Dia bisa saja dikira tidur jika jari-jarinya yang mengetuk-ngetuk pelan meja dalam bunyi pelan. Harry melihat ekspresi wajahnya dingin seperti biasa, tanpa tendensi emosi berlebihan yang membuatnya meninggalkan Aula sebelumnya. Ichigo langsung mengambil tempat duduk di kursi kosong di samping Toushiro dan mengajaknya berbincang. Harry tak tahu apa yang mereka bicarakan karena ia, Ron, dan Hermione mengambil tempat duduk di barisan paling belakang.


Hari itu Profesor Binns meneruskan materi tentang perang raksasa yang sungguh amat membosankan. Hampir semua siswa kehilangan fokusnya untuk menyimak dan mencatat, apalagi sekedar mendengarkan. Beberapa malah sudah tertidur. Harry yang menggambar-gambar asal dengan perkamennya melihat hanya Toushiro yang masih 'melek' dan mencatat; Ichigo di sampingnya menguap lebar sambil mengacak rambut jingganya hingga makin berantakan saking bosannya dia. Harry melamun sejenak sampai tiba-tiba ia merasakan sesuatu menyodok rusuknya dengan keras. Ia mendongak marah pada pelakunya, Hermione.


"Apa?"


Hermione menunjuk jendela, membuat Harry mengikuti arahnya. Hedwig si burung hantu hinggap di ambang jendela yang sempit, menatapnya lewat kaca jendela yang tebal, ada surat yang terikat di kakinya. Harry baru menyadarinya; burung hantu lain mengantarkan surat pada para siswa sewaktu sarapan, kenapa Hedwig baru muncul sekarang?


Dan sekarang banyak temannya yang menunjuk-nunjuk Hedwig. Perhatian seluruh kelas tak lagi pada uraian monoton Binns yang tampaknya tak menyadari bahwa semakin sepi yang mendengarkan kuliahnya.


Harry diam-diam bangkit dari kursinya, merunduk, dan bergegas ke jendela; ditariknya gerendelnya dan membuka jendela nyaris tanpa suara.


Ia agak heran karena Hedwig melompat masuk dan ber-uhu sedih. Dengan perlahan ia mengangkat si burung hantu dan menutup jendela, lalu kembali ke tempat duduknya. Harry bermaksud mengambil surat yang ada di kaki Hedwig, saat menyadari sesuatu yang salah. Bulu-bulu Hedwig amburadul, beberapa malah menekuk ke arah yang salah; sebelah sayapnya lemas.


"Dia luka!" bisik Harry cemas. Hermione dan Ron ikut menunduk memandang Hedwig. "Lihat – ada yang tidak beres dengan sayapnya…"


Hedwig gemetar ketika Harry menyentuh sayapnya; ia melompat kecil dan bulu-bulunya mengembang gelisah, matanya yang kuning besar menatap Harry seakan menyalahkan.


"Potter." Harry nyaris terlonjak kaget mendengar suara Toushiro. Ia tak menyadari Toushiro sudah ada di sampingnya; gerakan cepat si mungil itu masih saja mengejutknnya. "Kenapa burung hantumu?"


"Eh… itu…" Harry agak bingung; ia tak menyangka Toushiro akan bicara padanya. Tapi ini bukan waktunya mementingkan ego pribadi. "Lihat ini… Bulu Hedwig aneh… Sayapnya tidak normal…"


Toushiro menunduk, mengamati sayap Hedwig. Dengan perlahan ia mengangkat si burung hantu dari tangan Harry ke pangkuannya. Dengan gerakan lembut ia menyentuh sayap yang lemas, memeriksanya dengan hati-hati; Hedwig ber-uhu sedih lagi.


"Sayapnya patah," bisik Toushiro. "Kelihatannya ada yang menyerangnya… aku mendeteksi ada aliran energi ganjil padanya, kemungkinan diserang mantra."


"Apa?!" bisik Harry agak keras, terkejut.


"Bisa kuurus." Toushiro meletakkan tangannya di atas sayap patah Hedwig. Harry mengawasi dengan cemas saat pendar putih pucat menyelubungi sayap Hedwig; banyak murid yang meninggalkan perhatian mereka pada Binns sama sekali.


Harry melihat sayap Hedwig secara perlahan kembali ke bentuk semula. Beberapa menit kemudian, Toushiro menarik tangannya, penyembuhannya sudah selesai. Ia mengelus pelan kepala Hedwig, yang mengepakkan sayapnya pelan.


"Bagus sekali," kata Toushiro pelan. "Tapi dia tidak boleh terbang jauh untuk beberapa hari sampai pulih benar. Lebih baik dia tetap di Kandang Burung Hantu untuk beberapa waktu, antar dia ke sana setelah pelajaran ini."


"Terima kasih," kata Harry sungguh-sungguh.


Toushiro mengangguk dan beranjak berdiri. Untuk sekilas, matanya terarah pada surat di kaki Hedwig saat burung hantu seputih salju itu ber-uhu penuh terima kasih sambil mematuk tangan Toushiro penuh sayang, tanda terima kasih. Toushiro mengembalikan Hedwig ke tangan Harry.

__ADS_1


"Hati-hati, Potter. Komunikasi dari dan ke Hogwarts mungkin diawasi."


Harry menatap Toushiro dengan kaget. Pemuda berambut putih itu hanya mengangguk sekali sebelum melesat kembali ke kursinya. Harry mengambil surat yang terikat di kaki Hedwig, dan membukanya, mendapati enam kata dalam tulisan tangan Sirius Black.


Hari ini, waktu sama, tempat sama.


Harry, Ron, dan Hermione bergegas ke Kandang Burung Hantu untuk mengantar Hedwig setelah pelajaran Binns selesai. Ketiganya mendiskusikan kemungkinan bocornya surat dari Sirius dan apakah ada yang tahu apa maksud surat itu dan siapa pengirimnya di mata orang lain. Mereka menerka-nerka pula siapa gerangan yang menyerang Hedwig. Mempertimbangkan kemungkinan ini juga membuat mereka cemas. Tak satupun dari mereka bertiga tahu bagaimana mengirim peringatan pada Sirius tanpa peringatan itu dicegat juga.


Saat mereka tiba di ruang bawah tanah untuk kelas Ramuan, semua siswa Gryffindor dan Slytherin sudah berada di sana. Draco Malfoy sedang bercerita dengan sombongnya bahwa tim Quidditch Slytherin diberi izin untuk tetap eksis oleh Umbridge.


"Aku memintanya tadi pagi," katanya keras-keras. "Otomatis sih. Maksudku, dia kenal baik ayahku. Ayahku 'kan sering keluar masuk Kementerian… menarik untuk mengetahui apakah Gryffindor diizinkan tetap bermain, ya."


Harry dan Ron memandang Malfoy dengan wajah tegang dan tinju terkepal. Sementara itu, hampir semua anak Gryffindor menatap Malfoy dengan tidak senang; bahkan kernyitan Ichigo semakin dalam pertanda tak suka dan mata Toushiro menyipit berbahaya.


"Maksudku," kata Malfoy dengki, menatap Harry, Ron, dan anehnya, Toushiro, dengan angkuh, "kalau ini soal pengaruh dengan Kementerian, kurasa mereka tak punya kesempatan… dari apa yang dikatakan ayahku, mereka sudah bertahun-tahun mencari-cari alasan untuk memecat Arthur Weasley… Yeah, sekalipun kau kenal dengan pihak pemerintah macam Hitsugaya itu, dia tetap saja tak akan punya harapan, darah lumpur selalu begitu… sedangkan Potter, cuma tinggal tunggu waktu sampai Kementerian mengirimnya ke St Mungo… rupanya mereka punya bangsal khusus untuk mereka yang otaknya kacau gara-gara sihir.


Malfoy membuat tampang bloon, mulutnya menganga dan bola matanya berputar-putar kurang ajar. Crabbe dan Goyle mendengkur tertawa, dan Pansy memekik kesenangan.


Tiba-tiba saja ada yang menabrak keras bahu Harry, membuatnya terdorong ke samping. Neville baru saja melewatinya dengan tinju terarah ke wajah Malfoy…


PLAK!


Mereka semua terkesiap kaget. Secara tidak terduga, Toushiro Hitsugaya telah berdiri di depan Malfoy, tangan kanannya terulur ke depan untuk mencengkram tinju Neville, mencegahnya untuk menghantamnya pada si pirang Slytherin.


"Minggir," kata Neville terengah. Toushiro mengernyit. Baru kali ini ia melihat tak ada kecanggungan ataupun kegugupan yang biasanya terihat di mata Neville. Sekarang matanya berkilat aneh, tampak marah, sekaligus sedih. Kepalan tangan si wajah bundar itu agak gemetar di tangan Toushiro.


"Tenangkan dirimu," kata Toushiro datar.


"Kubilang minggir, Toushiro!" gertak Neville, mencoba melepaskan diri dari cengkraman Toushiro. Sungguh mengherankan bagi Neville karena tubuh kecil temannya itu bisa menahan gerakannya. "Dia perlu diberi pelajaran! Dia juga menghinamu!"


"Kurosaki," kata Toushiro pelan, mengacuhkan Neville yang terpaku di tempat. Detik berikutnya Neville merasa ada tangan kokoh yang menariknya menjauh dari Toushiro; Ichigo.


Neville meronta, berusaha membebaskan diri dari Ichigo. Si rambut jingga akhirnya melepaskannya, menerima delikan dari Neville. Ichigo menyadari sesuatu. Ia tahu Neville tidak terima saat Toushiro dihina oleh Malfoy, tapi ia tahu, ada alasan lain. Alasan yang tidak ia ketahui.


"Kau kira Longbottom bisa memukulku?" ejek Malfoy pada punggung Toushiro yang masih menghadapinya. Sejujurnya, ia juga agak heran bagaimana Toushiro bisa menahan Neville dengan satu tangan, juga geram melihat Ichigo menuruti kata-katanya begitu saja untuk menjauhkan Neville darinya. "Si ***** itu tak ada apa-apanya-"


"Aku tidak berpikir begitu," Toushiro mengerling ke arah Malfoy, tatapannya dingin. "Aku tahu memang begitu."


"Apa?!" Malfoy memandang Toushiro dengan murka. "Darah lumpur macam kau-"


"Jaga mulutmu, Malfoy!" bentak Ron, telinganya memerah.


"Jika menjadi 'darah lumpur' berarti tidak sesombong orang sepertimu, aku akan memilih jadi darah lumpur selamanya," kata Toushiro datar, nadanya tak peduli. "Ah, satu lagi, Malfoy. Kau benar tentang aku yang kenal orang pemerintahan. Kenal sekali, malah, untuk tempatku berasal. Tapi aku diajarkan untuk tak memanfaatkan koneksi untuk kepentingan pribadi, karena itu jauh lebih terhormat."


Tepat saat itu pintu kelas Ramuan terbuka. Snape berdiri di ambang pintu dengan tampang dingin, menyuruh mereka masuk. Anak-anak di sekitar mereka berbisik-bisik tentang apa yang baru saja terjadi, baru berhenti saat Snape menutup pintu kelas. Ternyata, Snape bukan satu-satunya guru yang ada di ruangan dingin itu. Umbridge ada di sana, siap akan tugasnya sebagai Inkuisitor Agung Hogwarts untuk menginspeksi kelas Snape.


"Oi, Toushiro," kata Ichigo pelan, saat mereka mulai bersiap melanjutkan pembuatan Larutan Penguat mereka. Ichigo mengawasi Neville yang duduk di samping Hermione, jelas menghindari Toushiro. "Ada perkiraan kenapa Neville aneh begitu?"


"Tidak," kata Toushiro pendek, membaca instruksi si buku Ramuannya. Namun, sekali ia mendongak untuk mengawasi Neville, yang wajah bundarnya tampak tertekan. "Tidak mungkin hanya karena Malfoy mengejekku dia jadi begitu; sebelumnya si Malfoy juga sering begitu dan dia tidak seagresif itu."


"Hm…" Ichigo tampak berpikir.


"Biarkan saja," kata Toushiro pelan. "Kalau dia mau cerita dia pasti akan cerita. Kalau tidak, yah, itu hak dia 'kan."


Ternyata Neville tidak mengatakan apa-apa pada mereka. Ia berusaha bersikap seakan tidak terjadi apa-apa, walau sikapnya agak kaku. Paling tidak, dia tidak mencoba berusaha untuk menjauh dari dua teman barunya. Baik Ichigo maupu Toushiro juga tidak memaksanya untuk mengatakan alasan Neville bermaksud menyerang Malfoy. Alasan, terkadang adalah sebuah rahasia yang tak bisa dibicarakan secara gamblang. Ichigo dan Toushiro tahu tentang hal itu, mengingat mereka juga sering kali tak membicarakan tentang 'alasan' tindakan mereka, alasan mereka mengangkat senjata. Ichigo akan mengatakan bahwa sudah kewajibannya untuk melindungi, dan Toushiro akan mengatakan bahwa itu memang sudah menjadi tugas seorang shinigami. Padahal semua frasa itu adalah selubung bagi kepedulian dan rasa sayang mereka untuk hal-hal yang ingin mereka lindungi. Dan mungkin, Neville 'melindungi' sesuatu yang lain juga.


Pada hari Senin, Kisuke Urahara menjanjikan pada murid-murid kelas Pertahanan Klasik Jepang bahwa mereka akan menerima pelajaran praktek. Tak ada yang senang dengan kenyataan yang diberikan oleh guru baru yang nyentrik itu. pelajaran praktek mereka adalah, lari sepuluh putaran mengelilingi lapangan Quidditch!


"Apa gunanya itu?" protes Malfoy berang. "Setelah menyuruh kami memakai seragam konyol ini kau menyuruh kami melakukan olahraga Muggle? Yang benar saja!"


Urahara tersenyum geli di balik kipasnya; Yoruichi dalam wujud kucingnya duduk di atas bahunya dengan kalem dan ekor mengibas malas. Ia menatap para muridnya yang memakai kimono yang mirip dengan seragam Shinou itu. hanya Ichigo dan Toushiro yang tenang-tenang saja, sedangkan yang lainnya tampak agak tak nyaman, masih belum familiar dengan pakaian itu.

__ADS_1


"Ara, Malfoy-san, lari bukan hanya olahraga Muggle. Lari, bisa menjadi aktivitas dasar untuk mengetahui sejauh mana daya dan kemampuan fisik kalian sebagai manusia. Lari juga bisa memicu kinerja jantung dan otak untuk menjadi lebih baik, ne? Lagipula, sebaiknya kau tidak menyebutnya seragam aneh. Kau juga akan dianggap aneh jika pakai seragam Hogwarts-mu di Shinou, Malfoy-san. Sekarang, bagaimana kalau kalian berhenti mengajukan pertanyaan aneh dan lakukan saja yang kusuruh."


"Tapi… sepuluh!" erang Ron, menarik-narik lengan kimono-nya dengan canggung. "Kenapa banyak sekali?"


"Urahara-sensei," kata Toushiro, membuat Urahara memandangnya. "Tidakkah sepuluh terlalu banyak untuk mereka? Lapangan ini terlalu luas juga."


"Aih, Hitsugaya-san, biasanya juga kau lari lima puluh putaran di tempat yang jaraknya sama dengan tempat ini, ne? Itu juga kau masih sanggup lari naik limaratus anak tangga Bukit Soukyoku," Urahara menahan tawa saat Yoruichi bercerita kejadian dimana Toushiro mengejar letnan-nya yang kabur setelah tidak sengaja menumpahkan sebotol sake di atas tumpukan perkamen setinggi satu meter yang baru saja diselesaikan Toushiro. Saat ia mendengar cerita itu, hanya membayangkannya saja membuat dia tertawa dan sulit berhenti sampai satu jam lamanya


Toushiro mengernyit kesal, sementara para penyihir muda menatap si rambut puttih dengan kaget. Lima puluh putaran?


"Itu beda. Aku juga pakai shunpo. Dan mereka tidak bisa…"


"Ehem, ehem."


Perhatian mereka teralih saat Umbridge melangkah tenang dan berdiri di samping Urahara. Wajah kodoknya menatap para murid, agak mendelik saat menyadari seragam mereka.


"Selamat sore, Profesor Urahara," sapa Umbridge manis.


"Selamat sore, Profesor Umbridge," sahut Urahara riang. "Kami baru akan mulai. Nah, semuanya, aku mau kalian lari lima putaran saja! Setelah itu beri aku push-up dua puluh kali, sit-up dua puluh kali! Ayo, ayo!"


Dengan banyak keluhan dan gerutuan, terutama anak-anak Slytherin, mereka pun mulai berlari. Harry melihat Umbridge sedang bicara dengan Urahara, entah tentang apa. Ia tak akan bisa menguping karena ia harus berlari, bersama teman-temannya yang lain.


Lapangan Quidditch bukan tempat yang asing bagi Harrry. Sejak kelas satu, ia sering sekali ada di sana, untuk terbang di atasnya, mengitari tribun penonton. Namun, baru kali ini ia benar-benar berada di hamparan rumput, bukan melayang tinggi di atasnya. Baru kali ini pula ia bisa merasakan luasnya melalui tiap langkah larinya yang diiringi engahan saat ia mencapai dua putaran. Ia melihat semuanya temannya sama sepertinya. Wajah mereka memerah dan bersimbah keringat, napas mereka pendek-pendek, juga langkah lari mereka semakin menyempit. Ichigo dan Toushiro berlari paling depan dan paling dulu. Ayunan kaki mereka tenang dan santai, bahkan tak terlihat tanda-tanda kelelahan di wajah mereka. Harry agak heran karena Toushiro mampu mengimbangi langkah-langkah panjang Ichigo dengan baik.


Ichigo dan Toushiro menyelesaikan lari mereka lebih dulu dari yang lain. Banyak yang iri, termasuk Harry, melihat wajah keduanya bahkan tak berkeringat. Mereka, setelah para gadis yang ternyata menjadi rombongan paling akhir berlari, menyelesaikan putaran mereka, melanjutkan dengan push-up. Banyak yang kesulitan menyeimbangkan tubuh mereka hanya dengan telapak tangan dan ujung jari kaki mereka, menekuk siku mereka dan mempertahankannya untuk memberi dorongan yang tepat saat mereka mengangkat tubuh mereka dengan rata. Bahkan, Harry, dan beberapa siswa lain yang notabene masuk ke tim Quidditch dan telah melatih fisik mereka sulit melakukannya. Lagi-lagi, hanya Ichigo dan Toushiro yang berhasil melakukannya, bahkan sambil mengobrol!


Entah apa yang diperbincangkan, Harry tak tahu karena ia berkonsentrasi untuk menghitung jumlah push-up nya sambil menyeimbangkan dirinya. Sesekali ia mengerling duo siswa pindahan itu yang tampak santai, malah mereka menambah sendiri porsi push-up mereka, push-up dengan satu tangan, masing-masing dua puluh kali!


"Kukira," kata Umbridge, mengawasi para siswa yang sedang sit-up dengan susah payah. "anda mengajarkan Metode Pertahanan Klasik Jepang? Ini seperti aktivitas Muggle bagiku."


"Ah, Profesor Umbridge, justru karena 'klasik' itulah saya bermaksud mengajarkan mereka dari dasar, eh? Saya sudah berikan mereka tentang teorinya, dan ini waktunya mereka mengalami sendiri bagaimana melatih fisik mereka, mempersiapkan diri mereka."


"Melatih fisik? Boleh kutahu untuk apa kau bermaksud mempersiapkan diri mereka?" tanya Umbridge manis berbahaya.


Urahara mengulum senyum. Sepertinya Umbridge mencurigainya. "Aku hanya prihatin tentang betapa mereka sangat kurang dalam melatih stamina mereka dengan gerakan aktif, melatih semua saraf motorik mereka. Anda tahu, jika diteruskan begini akan tidak sehat untuk mereka."


"Hanya itu?" selidik Umbridge.


"Dan mempertahankan diri, tentu saja!" kata Urahara ceria, mengabaikan ekspresi tak suka Umbridge. "Anda tahu, Hogwarts memang mengandalkan penggunaan mantra dalam mempertahankan diri, melupakan bahwa selain luncuran kutukan dan mantra ada hal lain yang bisa menjadi senjata ampuh, senjata alami, yakni diri mereka sendiri. Nah, jika mantra diperuntukkan untuk melawan penyihir lain, bentuk pertahanan macam apa yang akan digunakan jika mereka dihadapkan pada situasi dimana mereka tidak bisa menggunakan sihir atau tidak diizinkan, contohnya saat mereka bertemu dengan Muggle yang jahat. Terakhir kali ku cek, penyihir tidak boleh menggunakan sihir pada Muggle kecuali dalam kondisi mengancam nyawa. Bukankah sangat tidak terhormat jika penyihir dikalahkan Muggle dengan cara Muggle?"


"Ah, ya," senyum Umbridge. "Aku bisa mengerti pandangan itu. tapi, apakah benar-benar perlu? Apa bisa dipertanggung jawabkan?"


"Perlu atau tidaknya, sanggup atau tidaknya tergantung dari anak-anak itu," kata Urahara tenang. "Jangan cemas, Profesor, saya tak hanya mengajarkan teori dan bagaimana caranya, saya juga mengajarkan prinsip menggunakan kekuatan."


Umbridge menatap Urahara dengan keraguan yang tak dapat disembunyikan. Pria ini membuatnya merasakan keganjilan yang tak dapat dijelaskan, ada sesuatu darinya yang membuatnya tak aman. Tapi, ia tak tahu apa itu. Mungkin bijaksana jika mengawasi orang Jepang ini…


"Jadi, Profesor Urahara, aku ingin bertanya tentang Akademi Shinou…"


Selama sepuluh menit, Umbridge mengajukan banyak pertanyaan tentang Shinou. Urahara menjelaskanya dengan sabar, memberi jenis informasi yang sama dengan yang diberikan kepada para murid lain yang ingin tahu tentang akademi itu. tentu saja Urahara tak akan memberitahukan secara rinci; manusia juga seharusnya tidak mengetahui keberadaan mereka.


"Shinou sepertiya tempat yang menarik," komentar Umbridge, walau Urahara tahu betul kalau maksud perkataan itu justru sebaliknya. Bukan arti dari sebaliknya kalau Shinou tidak menarik. Ia tahu Umbridge menganggap Shinou 'berbahaya dan mencurigakan'. "Dan aku menangkap kesan kalau Shinou adalah sekolah militer…"


"Kelihatannya memang begitu, Profesor Umbridge, tapi kami menyebutnya sekolah para calon pelindung dunia kami."


Umbridge mengernyit, sebelum mengarahkan pandangan pada para siswa yang menyelonjorkan kaki, kelelahan. Ia melihat Ichigo Kurosaki nyengir melihat teman-temannya yang tepar, sedangkan Toushiro Hitsugaya tampak agak bosan.


"Bagaimana dengan anak-anak itu?" Umbridge mengedik pada Ichigo dan Toushiro. Kedua siswa pindahan itu cukup menyita perhatiannya, terutama Toushiro Hitsugaya. Anak itu memiliki kecemerlangan yang menurutnya menyaingi Hermione Granger. Ia juga mendengar dari guru-guru lain tentang prestasinya di pelajaran yang luar biasa. Ia pribadi berpendapat bahwa si kecil itu memahami Teori Pertahanan Sihir dengan sangat baik. Anak itu juga cukup sopan, ia jarang bertingkah dan catatan kenakalannya bersih. Justru dialah yang menyumbangkan banyak angka untuk Gryffindor karena kecerdasannya. Namun, sama halnya dengan Urahara, ada sesuatu pada si rambut putih yang membuatnya merasa ganjil. Toushiro Hitsugaya anak yang cerdas, juga kritis. Dalam beberapa kesempatan ia mengutarakan pendapatnya, yang mana ia tak setuju tentang pandangan Umbridge tentang pertahanan sihir. Jika sudah begitu, Umbridge merasa seakan bocah itu sedang mengujinya, walau setelah dijawab dia akan menerima dan diam. Yang membuatnya tak nyaman adalah bagaimana kedua iris turquoise-nya yang berkilat seakan mengetahui segalanya. Namun ia menyembuyikan itu dengan sangat baik dengan sikapnya yang dingin. Kedewasaan yang tak seharusnya dimiliki oleh si kecil berambut putih.


"Kurosaki-san dan Hitsugaya-san?" Urahara tersenyum ganjil; jadi benar, Umbridge mencurigai mereka. "Apa yang bisa kukatakan, mereka termasuk siswa terbaik yang dimiliki Shinou. Kurosaki-san agak ceroboh dan keras kepala, tapi dia pekerja keras dan ulet. Kalau Hitsugaya-san orangnya pendiam, tapi dia jenius di angkatannya. Anak-anak berbakat… aku senang mereka ada di sini untuk belajar hal baru…"


Namun bagi Dolores Umbridge, itu adalah tugas tambahan baginya untuk mengawasi mereka. Seseorang yang penuh determinasi atau punya otak brilian tidak selalu merupakan hal baik. Jika tidak hati-hati, mereka tak ubahnya seperti bidak yang bisa berpikir sendiri, yang balik menyerang raja saat sang raja bermaksud mengorbankan mereka.

__ADS_1


__ADS_2