
Walaupun Toushiro mengatakan bahwa 'itu' adalah pemanasan, bagi para penyihir muda, apa yang mereka lihat selanjutnya adalah hand-to-hand combat yang cukup serius. Ichigo dan Urahara-sensei melakukan duel dengan tangan kosong yang mengejutkan mereka. Harry berpendapat teknik itu mirip karate yang pernah ditontonnya di televisi Dudley saat musim panas. Namun, gerakan keduanya jauh lebih cepat, lebih kuat, dan lebih berbahaya. Ichigo menendang, berhasil dihindari; Urahara-sensei meninju, berhasil ditangkis. Walau gerakan mereka berbahaya, seringai Urahara-sensei dan tatapan sebal Ichigo menandakan bahwa keduanya tidak serius dalam duel itu.
Mereka hanya menunjukkan bahwa seperti itulah penyihir Shinou bertarung. Hanya saja, jika seperti itu saja tidak serius, bagaimana jika mereka serius.
"Damn."
Ichigo mengumpat sepanjang jalan menuju kelas Transfigurasi bersama anak-anak Gryffindor dan Hufflepuff yang menghadiri kelas yang sama, sambil mencengkram sisi kanan abdomennya. Pukulan terakhir tadi telak mengenainya, tepat ketika bel pertanda sepuluh menit terakhir berbunyi sehingga Ichigo tak punya kesempatan membalasnya. Meskipun demikian, mereka semua punya gambaran bahwa teknik seperti itu yang akan diajarkan oleh Urahara, walau Harry yakin untuk mencapainya tidak mudah. Padahal Ichigo jelas lebih berpengalaman dengan cara bertarung ala Shinou – walau dia tidak belajar disana, sebetulnya – ditambah postur tubuh si rambut jingga yang sudah seperti atlet Muggle, Urahara masih bisa menjatuhkannya. Harry memandang Toushiro yang berjalan di samping Ichigo dengan ekspresi ganjil, seolah ia menahan tawa. Ia tahu si mungil itu seorang komandan (walau masih sulit dipercaya), dan bertanya-tanya apakah ia bisa mengimbangi Urahara.
"Berhentilah mengeluh. Itu bukan pertama kalinya kalian duel," kata Toushiro kalem.
"Bah! Justru karena sering duel dia tahu gerakanku dan menyerang lebih banyak! Gampang saja kau bilang begitu karena kau tak akan repot-repot menghajar dengan hakuda jika keahlianmu adalah zanjutsu!"
"Yang benar?" tanya Ernie tertarik. "Hakuda itu menurutku cukup keren juga! Bagaimana dengan berpedang? Pasti seru, eh?"
Toushiro hanya mengangkat bahu. Ia menoleh pada Ichigo yang mengernyit sambil masih mencengkram rusuknya. "Kau akan berhenti merengek seperti anak perempuan jika tidak sakit lagi 'kan?"
"Siapa yang merengek?" geram Ichigo.
"Lebih baik kau ke rumah sakit dulu, Ichigo," kata Hermione cemas.
"Tidak perlu," kata Ichigo, bersamaan dengan Toushiro. Ichigo mendelik pada si rambut putih.
"Biar kutangani," kata Toushiro, menghela napas. "Tidak sebaik Tim Penyembuh Divisi 4, tapi aku bisa menyembuhkannya."
"Bagus!" kata Ichigo senang, duduk di depan pintu ruang kelas McGonagall. Toushiro mendengus pelan, sebelum berlutut di samping Ichigo dan meletakkan tangannya di atas rusuk kanan Ichigo.
__ADS_1
"Kau mau apa?" tanya Parvati heran. Banyak yang terkesiap kaget saat pendar sinar kebiruan muncul dan menyelubungi bagian rusuk Ichigo yang sakit.
"Kidou penyembuhan," kata Toushiro tenang. "Teknik kidou memang rumit untuk dikuasai, kecuali jika kami melatihnya dari dasar. Kidou sendiri memiliki fungsi menyerang, bertahan, bahkan menyembuhkan. Ada tiga jenis, yaitu hadou, khusus untuk mantra-mantra destruktif, dan bakudou, khusus untuk bertahan, atau pengikat. Jenis terakhir sering disebut Tak Bernama, kebanyakan mantra-mantranya untuk penyembuhan."
"Aku masih tak mengerti kenapa Urahara-sensei tak mau mengajarkannya. Maksudku," tambah Neville buru-buru, melihat tatapan tajam Toushiro, "itu akan berguna, seperti penyembuhan itu, misalnya."
"Bisakah kau melepaskan energi sihirmu tanpa tongkat? Bisakah kau meluncurkan mantra tanpa membaca rapalannya?"
Para siswa terdiam. Neville menggeleng pelan.
"Itulah sebabnya Urahara tak mengajakannya. Perlu pengendalian total akan kemampuan spiritual kalian, memanifestasikannya dalam bentuk tertentu dengan komposisi energi yang seimbang, karena jika gagal, kalian bisa meledakkan diri kalian tanpa sengaja."
Neville menelan ludah dengan ngeri.
"Lagipula," tambah Ichigo, menatap wajah tertarik teman-temannya, "masing-masng hadou dan bakudou memiliki sembilan puluh sembilan mantra, masing-masing dengan nomor tersendiri, yang semakin besar nomornya semakin besar kekuatannya…"
"-yang harus dihapalkan," ujar Ichigo, melengkapi kalimat Hermione. Ia nyengir melihat wajah-wajah yang berubah horor anak-anak. "Bayangkan jika kalian harus melakukannya. Mantra Pelenyap dengan tongkat sihir yang kalian gunakan selama, berapa, lima tahun? Yeah, itu saja kalian tidak bisa menguasainya dalam sehari, apalagi sihir tanpa tongkat yang baru kalian tahu hari ini! Temanku saja ada yang cuma menguasai satu mantra hadou, padahal dia sudah, ehh, di tingkat akhir."
"Be-benar juga sih," celetuk Ron.
"Sudah selesai," kata Toushiro pelan, menarik tangannya dari Ichigo; pendar kebiruan itu memudar, lalu menghilang. "Cuma retakan kecil. Sudah kubereskan, tapi duabelas jam ke depan jangan angkat beban berat sampai sekitar tiga puluh kilo-"
"Aku tak punya rencana jadi kuli bangunan kok," kata Ichigo, berdiri sambil menyampirkan tasnya. "Tapi, trims, ya."
"Jika masih ada yang ingin kau tanyakan, Granger," kata Toushiro, mengerling dan mendapati tatapan penasaran gadis itu, "sisihkan waktumu untuk nanti. Kau bisa tanya padaku atau Urahara, tapi nanti. Sekarang kita masih punya hal lain yang harus diurus."
__ADS_1
Benar. Kelas Transfigurasi.
Dan setelahnya, setelah makan malam sementara Harry pergi untuk detensinya dengan Umbridge, Hermione benar-benar menghujani Toushiro dengan banyak pertanyaan. Sewaktu di Grimmauld Place sebenarnya Hermione sudah berusaha mencari tahu tentang Shinou. Tapi persiapan ke Hogwarts menyita perhatian mereka, khususnya Toushiro yang sibuk dengan paperwork yang dikirim padanya dan harus diselesaikannya sebelum ia meninggalkan London. Toushiro benar-benar tak bisa diganggu saat itu, walau saat dia beristirahat sejenak dari menyelesaikan laporan dia akan membantu membersihkan rumah atau mengajari kidou pada Ichigo, dan setelahnya, jangan berani-berani mendekatinya untuk mengajak ngobrol. Bahkan Mrs Weasley enggan mendekatinya, hanya mengirim tatapan prihatin saat melihat si rambut putih nyaris tak terlihat di balik gunungan paperwork yang tiga kali lebih tinggi darinya, dengan alis nyaris menyatu, mata yang lelah, dan rambut acak-acakan. Hermione pun hanya menelan semua keingintahuannya, menunggu waktu yang tepat. Ichigo tak bisa menjelaskan karena ia bukan sepenuhnya siswa Shinou.
Tapi, setelah tiba di Hogwarts dan Toushiro tampaknya tak mengurus urusan divisinya, akhirnya Hermione mendapat kesempatan memuaskan rasa ingin tahunya. Dan untungnya, Komandan Divisi 10 itu bersedia menjelaskan tentang Soul Society dan Shinou, sampai batas tertentu. Ia menolak bicara jika bertanya tentang pendapat pribadi atau kehidupan personalnya. Toushiro menempatkan sudut pandang umum pada penjelasannya. Hanya ia dan Ron yang mendengarkan, dengan Ichigo yang membaca buku Transfigurasi di sampingnya, karena bagaimanapun juga hanya Golden Trio, keluarga Weasley, dan Orde Phoenix yang mengetahui siapa mereka sebenarnya. Bahkan para guru – kecuali empat Kepala Asrama – tidak tahu posisi Toushiro di Soul Society. Si komandan mungil tidak ingin identitas lengkapnya diketahui begitu saja.
"Shinou kelihatannya seperti sekolah militer bagiku," kata Hermione, mengernyit. "Apa yang kalian lawan?"
"Hollow. 'Kan kami sudah bilang dulu itu," kata Ichigo, mengerling Hermione.
"Hanya saja," kata Hermione ragu, memandang Ichigo dan Toushiro dengan tatapan yang mengingatkan kedua shinigami itu pada Mrs Weasley saat pertama kali mengetahui kalau mereka adalah shinigami, terutama saat memandang pedang mereka seolah menangkap basah pencuri dengan barang bukti yang tidak susah payah disembunyikan. Ron melempar tatapan antara meminta maaf dan geli, kombinasi yang aneh. "Bagaimana kalian bisa bertarung dengan hollow itu…"
"Untuk melindungi roh lain, tentu saja," kata Toushiro. Ia menghela napas. Ia tadi sudah menjelaskan tentang hollow; bagaimana mereka bisa ada, apa yang membuat mereka berbahaya, bagaimana memunahkan mereka. Tapi tampaknya Hermione Granger tak melihat dari sisi profesional, melainkan humanisme. Terlalu manusiawi. "Dan itu tugas kami, menjaga keseimbangan Dunia Roh. Hollow tak bisa dimusnahkan sepenuhnya selama manusia masih memiliki segala macam sifat jahat."
Hermione menggigit bibir bawahnya, mencari argumen baru. "Itu… berbahaya…"
"Kami dilatih untuk menghadapinya."
"Aku tahu. Tapi…" Hermione menghela napas. "Kalian membunuh hollow…"
Kernyitan Toushiro semakin mendalam. "Kami tidak membunuhnya. Kami mensucikannya." Toushiro melihat kecemasan di mata Hermione. Toushiro mengerti sesuatu. Sungguh, dia atau Ichigo atau shinigami manapun yang telah menyandang nama shinigami tidak butuh dicemaskan oleh siapapun.
"Kami berbeda dengan manusia," kata Toushiro pelan, tapi cukup untuk membuat Hermione dan Ron menatapnya penuh perhatian. Bahkan Ichigo menutup bukunya. "Kami dulu manusia, ya, tapi sekarang kami hanya rohnya. Kami masih bisa merasakan seperti halnya manusia tapi esensi kami berbeda. Kami masih bisa mati seperti kalian, benar, tapi untuk alasan yang berbeda : kami shinigami. Terserah seperti apa kalian menerjemahkannya, death god, soul reaper, death reaper. Tugas kami sudah sangat jelas, mengirim roh yang masih terjebak di Dunia Manusia, dan – sekali lagi – memunahkan hollow…"
"Itu pekerjaan kalian-?"
__ADS_1
"Itulah tugas shinigami," kata Toushiro tegas, tanpa nada kasar. "Shinigami mengangkat pedangnya karena itulah tugas mereka. Jangan membuatku mengulanginya lagi, Granger. Kita hidup di pemahaman yang berbeda. Aku terima pandanganmu, jadi terimalah pandangan kami."