
Asrama Gryffindor merayakan kemenangan mereka itu selama beberapa hari kemudian. Ron, terutama, sangat senang pada dirinya sendiri, yang berhasil menangkap Quaffle di pertandingan terakhir itu. Harry agak tidak tega mengacaukan suasana hati sahabatnya itu dengan memberitahu tentang Grawp. Namun, janjinya pada Hagrid harus ditepati. Reaksi Ron persis seperti yang diduganya. Ron sama kagetnya seperti kedua temannya saat melihat sendiri seperti apa Grawp oleh Hagrid. Mereka, saat ini, hanya bisa berharap kalau Hagrid tidak dipecat, mengingat ia sudah berhasil bertahan hingga selama ini.
Lagipula, sudah ada banyak hal lain yang harus dipikirkan Harry. Yang paling utama adalah ujian OWL-nya. Para guru sekarang tidak lagi memberi PR, tapi bukan berarti itu adalah akhir bagi segalanya. Pelajaran berubah menjadi area latihan mantra sihir – untuk Transfigurasi dan Mantra, terutama, karena PTIH sama sekali tidak diizinkan menggunakan tongkat sihir. Mereka pun selalu diingatkan untuk belajar sekeras dan serajin yang mereka bisa jika ingin lulus dengan nilai memuaskan.
Menyelingi situasi pra ujian yang memanas, pasar ilegal akan penjualan obat-obatan dan ramuan stimulan otak banyak beredar di kalangan siswa ujian OWL kelas lima dan NEWT kelas tujuh. Toushiro dibuat geleng-geleng kepala saat melihat Hermione mengumpulkan temuan barang-barang ilegal itu di ruang rekreasi Gryffindor, diiringi tatapan penuh damba dari beberapa anak, termasuk Harry dan Ron.
"… ayolah 'Mione," rajuk Ron, "berikan Eliksir Otak Baruffio itu padaku…"
"Sekalian saja minum bubuk cakar naga ini," kata Toushiro menunduk pada botol kaca kecil, lalu menuang sedikit isinya ke telapak tangannya, memeriksanya dengan serius.
"Eh? Beneran?" tanya Ron bersemangat.
"Jangan *****," kata Hermione. "Tak ada satupun barang-barang ini yang manjur, tahu!"
"Cakar naga manjur!" seru Ron.
"Akan," koreksi Toushiro, sementara ia mendengar dengan jelas bagaimana Hyourinmaru tertawa di dalam pikirannya, membuat dia juga harus menahan diri untuk tidak mengikuti roh zanpakutou-nya itu. "Ini bukan bubuk cakar naga, tapi kotoran Doxy kering. Dan," Toushiro mengambil botol Baruffio di tangan Hermione, mengernyit saat membaui isinya. "siapa orang ***** yang memasukkan campuran Butterbeer, Stinksap, dan sari acar Murtlap di sini?"
Ichigo-lah yang tertawa terbahak-bahak. Jelas saja hal ini menurunkan minat semua anak tentang stimulan otak yang ada.
"Kalau mau lulus ujian ya belajar-lah yang rajin," kata Ichigo sok menasihati, masih nyengir.
"Apaan? Kau saja tenang-tenang begitu," cetus Parvati.
Karena aku tidak butuh sertifikat OWL konyol ini, sahut Ichigo dalam hati. "Apa yang akan kalian dapat di ujian berbeda dengan apa yang kalian hadapi di dunia nyata. Lagipula kami akan balik ke Jepang setelah ini."
"Eh?" Neville menatap Ichigo dan Toushiro bergantian, tampak kaget, seperti anak-anak lainnya. "Kalian tidak tinggal sampai lulus di Hogwarts?"
Harry bersumpah melihat sudut bibir Toushiro terangkat selama sepersekian detik. "Tidak, Longbottom. Ingat, Shinou Academy hanya memiliki enam tahun masa belajar. Kalau lulus lebih cepat, kenapa kami memilih yang lama?"
"Jadi itu sebabnya kalian tidak ikut Konsultasi Karier dengan McGonagall?" tanya Lee Jordan.
Toushiro mengangguk membenarkan.
"Lalu kalian ke depannya bagaimana? Apa ada sistem seperti yang diatur Kementerian Sihir?" tanya Dean ingin tahu.
"Tentu saja ada. Tapi percayalah, di sana jauh berbeda dengan Inggris. Cara mereka tak bisa dibilang sempurna; mereka sedikit lebih kaku dan menjunjung tinggi keseimbangan dan stabilitas. Dan kupikirkan mungkin bergabung dengan militer saja…"
"Kau? Di militer?" tanya Seamus takjub.
Golden Trio bertukar pandang penuh arti. Toushiro Hitsugaya malah sudah berpangkat Komandan.
"Bukannya lebih baik daripada duduk di bawah pengawasan Menteri Sihir macam Fudge?" kata Ichigo. Anak-anak menggumam setuju. Dan, percakapan pun dimulai lagi, atau, lebih tepat disebut belajar dimulai lagi.
"Hei, Ichigo."
Si jangkung berambut jingga mendongak menatap Hermione yang memanggilnya. Gadis itu melenyapkan semua obat-obatan ilegal itu dengan ayunan ringan tongkat sihirnya, lalu mengerling sekilas untuk memastikan tak ada yang mencuri dengar.
"Ada apa?" tanya Ichigo.
"Aku ingat kau pernah mengatakan kalau kau adalah shinigami pengganti. Itu artinya kau tidak terlibat langsung dengan urusan di er…"
"Soul Society, yeah. Aku hanya bertugas di Dunia Manusia. Tugasku sebagai Pengganti hanya sampingan dengan kehidupan manusiaku."
"Lalu, setelah kau lulus SMA, apa yang akan kau lakukan?" tanya Hermione penasaran.
Ichigo menutup bukunya, lalu berpikir sejenak. "Aku sudah pikirkan itu sejak lama… kukira aku tak bisa hanya jadi shinigami, selama aku masih berstatus manusia juga. Yah, dan sudah kukatakan pada ayahku, dan dia setuju kalau aku akan kuliah ke Tokyo."
"Oh, jadi kau sudah pilih tempat?" tanya Toushiro.
"Yep. Todai*) pilihan utamaku."
"Mau kuliah di jurusan apa?" tanya Hermione antusias.
Ichigo mengerjap cepat. Ia menggaruk belakang kepalanya. "Well, opsi pertamaku adalah Arsitektur. Perancangan bangunan, Ron," tambah Ichigo, melihat kebingungan Ron. "Tapi setelah kupikir-pikir aku lebih banyak menghancurkan bangunan daripada membangunnya. Jadi ku-drop saja. Dan sekarang, aku sudah mantap mengambil Kedokteran."
"Kau mau jadi dokter? Muggle sinting yang memotong-motong orang?" celetuk Ron.
Ichigo terkekeh geli. "Tentu saja tidak, Ron. Memotong-motong tubuh orang bukan pekerjaan spesifik dokter! Menyembuhkan orang, itu poinnya. Tapi kupikir bagian sinting itu benar kalau dokternya adalah ayahku…"
"Oh! Ayahmu dokter ya?" tanya Hermione.
Ichigo mengangguk. "Dia membuka klinik kecil di rumah. Dia yang pertama menganjurkanku masuk ke Kedokteran, meneruskan bisnis keluarga katanya." Ichigo mendengus. "Kayak klinik itu besar saja. Kalau Ishida baru benar bisnis keluarga, ayahnya 'kan yang punya rumah sakit!"
"Lalu, bagaimana persiapanmu untuk ke universitas?" tanya Hermione lagi.
"Ah, soal itu, sudah bisa diatur," kata Ichigo. Ia mempercayakan Kon untuk mengikuti semua kegiatan akademisnya di Karakura. Agak sedikit curang sih. Tapi hanya ini satu-satunya untuk membuat dua Ichigo Kurosaki berada dalam dua tempat yang berbeda untuk menangani dua hal yang berbeda pula.
Biar Kon mengurusi kehidupan SMA-nya, dan ia mengurus ujian OWL di Hogwarts ini. Dan, ia benar-benar bersyukur Toushiro adalah partner misinya – walau ia tak yakin Toushiro merasakan hal yang sama. Si jenius itu benar-benar bantuan menguntungkan. Toushiro, yang sudah menguasai semua pelajaran sihir di lima level (Ichigo selalu takjub pada kemampuan IQ si rambut putih) dengan sukarela mengajarinya. Lebih mirip bos galak, memang. Tapi Ichigo sadar diri kalau ia bukan tipe orang yang bisa diajari dengan lemah lembut, apalagi bermanis macam Umbridge. Lagipula alih-alih berdasarkan hafalan, Toushiro lebih banyak mempraktekkan langsung mantra sihir agar Ichigo lebih mudah mengerti. Khusus untuk pelajaran paling membosankan, yakni Sejarah Sihir, Toushiro berbaik hati membuat ilustrasi beberapa kejadian penting yang diprediksi muncul dalam ujian dan menjelaskannya pada teman-temannya. Paling tidak ini lebih membantu daripada mengandalkan ingatan ceramah Binns di kelas.
Akhirnya, minggu ujian pun tiba. Hari eksekusi untuk menguji daya ingat para siswa terhadap semua materi pelajaran yang telah diajarkan. Selama sarapan di pagi hari ujian pertama, suasana Aula Besar sesunyi pemakaman. Semua anak makan dalam diam, sebagian besar membaca buku dan atau mempraktekkan mantra sihir dengan wajah gugup luar biasa. Ichigo dan Toushiro, yang menjadi dua anak yang dinobatkan secara tidak resmi sebagai siswa-paling-santai-menghadapi-ujian hanya menonton fenomena itni.
Dan, setelah sarapan, semua siswa kelas lima dan kelas tujuh berkumpul di Aula Depan untuk melaksanakan ujian. Pukul setengah sepuluh adalah jadwal untuk kelas lima Gryffindor, yakni ujian Mantra. Dan hampir semua anak memasuki Aula Besar yang telah diatur menjadi ruang ujian dengan tampang seperti melayani duel Kenpachi Zaraki.
Selama beberapa hari berikutnya, yang menjadi rutinitas bagi teman-teman sekelas Ichigo adalah belajar, berlatih, dengan makan dan tidur adalah selingannya. Mereka melakukan ujian tertulis di pagi hari dan praktek setelah makan siang. Secara keseluruhan, Ichigo berpendapat ia melaksanakan ujiannya – baik tertulis maupun praktek – dengan cukup baik. Ia memang yakin ada beberapa jawaban di lembar jawabannya yang agak sedikit ngawur, tapi itu bukan masalah besar. Ujian praktek-nya jauh lebih mudah, menurutnya. Mungkin benar pendapat Toushiro kalau ia tipe orang yang belajar dengan tindakan langsung; diberi contoh dan langsung terapkan adalah metode favorit si rambut putih untuk mengajarinya.
Kalau ada yang sedikit rumit, itu adalah ujian Rune Kuno. Permainan-menerjemahkan huruf-huruf paku itu bukan keahlian utamanya. Ia hanya bisa menatap iri pada Toushiro yang menulis jawabannya dengan lancar dan selesai paling cepat, seperti yang dilakukanya pada ujian yang lainnya. Ichigo yakin kalau Toushiro memanfaatkan kehidupan roh-nya yang lama untuk mempelajari banyak hal, termasuk berbagai bahasa. Andai saja ia punya otak sejenius itu…
Tak terasa (sebenarnya terasa, tapi tak ada satupun siswa yang mau mengingat penderitaan ujian itu) minggu ujian sudah mendekati akhirnya. Tinggal dua ujian praktek, yakni Metode Pertahanan Klasik Jepang sore ini dan Astronomi di malam harinya, serta ujian Sejarah Sihir keesokan paginya. Semua anak kelas lima agak – sangat, sebetulnya – gugup dan gelisah saat mereka menuruni undakan depan menuju lapangan Quidditch dengan memakai kimono masing-masing. Para penguji yang telah uzur, yang berperan sebagai pengawas, semua tampak agak heran melihat penampilan para siswa kelas lima sore itu. Urahara dan Yoruichi si kucing hitam berdiri di samping pintu masuk tanaman setinggi enam meter – dinding maze. Mereka pun mendekati guru nyentrik itu, yang tersenyum ramah menyambut mereka.
"Ayo, ayo, kemari. Sudah lengkap semua?" anak-anak menyahut dengan gumaman gugup. "Bagus, bagus. Kumpul sini, dan aku akan beri kalian briefing singkat sebelum kupanggil untuk masuk berpasangan."
"Maaf, Mr Urahara," sela Profesor Tofty dengan suara kering. "Jenis ujian macam apa yang anda rancang untuk anak-anak ini? Dan untuk apa pedang-pedang kayu ini?"
Mata anak-anak terarah pada tumpukan bokutou yang tergelatak di dekat pintu masuk. Urahara tertawa kecil. "Ini ujian yang akan mengukur kemampuan bertahan mereka dengan cara yang sama – tak persis sama, memang, tapi miriplah – seperti yang penyihir Shinou lakukan. Ujian yang mengukur seberapa besar kekuatan fisik mereka, pengetahuan alias inteligensi, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Satu ujian, dengan berbagai tantangan yang menguji aspek kompleks yang akan sangat sering mereka temukan di kehidupan nyata, benar 'kan?"
Para penguji bertukar padang penuh arti.
"Apa ini aman?" tanya Profesor Marchbanks keras.
Urahara tersenyum lebar, membuat Harry sedikit bergidik. "Jangan cemas, jangan cemas. Tak akan ada yang tewas karena ujian ini. Nah, nah, briefing-nya." Urahara menghadapi para siswanya, mengulang penyampaian prosedur tantangan dalam ujian seperti yang ada di kelas. Kedengarannya singkat saja: masuk ke maze dan temukan jalan keluarnya. Di sepanjang jalan akan ada rintangan; lawan fisik maupun pertanyaan alias teka-teki. Gunakan sihir dengan tongkat, maka nilai dikurangi, kalau menyerah tembakkan bunga api merah ke udara.
__ADS_1
"… Aku akan berikan poin awal pada kalian semua dua puluh," kata Urahara riang. "Itu bekal awal kalian. Berhasil tangani tantangannya kalian akan dapat sepuluh poin; satu tantangan bernilai sepuluh. Kalau gagal, nilai kalian dikurangi lima, sama dengan jika kalian menggunakan mantra. Untuk aspek kerja sama akan kunilai setelah kalian keluar maze, mengerti?"
"Ya, Sensei." Koor anak-anak dengan suara rendah.
"Nah, sebagai 'senjata' kalian, kalian boleh pakai bokutou ini. Satu orang satu, dan silakan ambil sendiri." Anak-anak mulai mengambil katana artifisial itu. "Jangan takut jika bokutou ini patah, aku sudah memperkuatnya dengan mantra tambahan. Ah, untuk Kurosaki-san dan Hitsugaya-san tidak pakai bokutou," tambah Urahara segera saat Ichigo dan Toushiro akan bergerak mengambil senjata itu. Urahara tersenyum dan merapal mantra kidou entah apa. Sedetik kemudian peti persegi yang seakan terbuat dari cahaya muncul di depannya. Peti cahaya keemasan itu berisi dua katana asli. Semua anak dan para penguji menatapnya takjub. "Kalian berdua pakai ini."
Ichigo dan Toushiro bertukar pandang.
"Er, Profesor Urahara, tidakkah menggunakan senjata asli sedikit berbahaya?" sela Profesor Marchbanks.
Urahara memberikan dua katana itu pada si rambut jingga dan si rambut putih; katana Toushiro lebih panjang beberapa senti dari milik Ichigo. Pria berambut pirang itu lalu menatap para penguji yang tampak agak gelisah. "Ah, aku berencana menguji dua anak ini dengan cara yang sama dengan cara Shinou. Aku sudah menyiapkan level yang berbeda untuk mereka; lebih mirip simulasi pertarungan sebetulnya. Untuk detail-nya lebih baik nanti lihat sendiri."
"Dan mereka butuh pedang asli?" cela Malfoy.
"Karena hanya dengan katana asli, musuh mereka bisa dibantai," kata Urahara kalem, tak peduli wajah beberapa anak memucat begitu mendengar kata 'dibantai'
"Kenapa berbeda?" tanya Profesor Tofty.
"Karena," kata Urahara tenang, mengatakan penjelasan yang rasanya sudah diulangnya dengan sering, "mereka berada di level yang sama sekali berbeda dengan anak-anak Hogwarts. Aku perlu menyamakan ujian mereka dengan tes untuk kelas mereka. Dan untuk kalian berdua," Urahara menatap Ichigo dan Toushiro yang tampak agak bosan. "lakukan yang terbaik dalam ujian ini. Gunakan semua kemampuan; zanjutsu, kidou, hoho, dan hakuda, sebaik mungkin. Dan," Urahara akhirnya bicara pada semua siswa, "kalian semua punya waktu lima belas menit untuk menyelesaikan ujian ini. Pasangan pertama, Justin Finch-Fletchley - Susan Bones."
Begitulah, secara acak, Urahara memanggil pasangan anak kelas lima yang telah ditentukannya untuk masuk ke maze. Tak banyak yang dilakukan para pengawas ujian yang telah uzur itu, karena Urahara, entah bagaimana mendapatkan beberapa layar monitor komputer yang menampilkan beberapa titik didalam maze sebagai metode pengawasannya. Sewaktu Hermione bertanya darimana ia mendapatkan perangkat Muggle itu, Urahara menjelaskan secara singkat kalau ia sudah mempersiapkannya sejak kedatangannya ke Hogwarts, melakukan beberapa sihir sehingga benda-benda itu bisa bekerja di teritori sihir di kastil.
Harry mulai dilanda sedikit kecemasan. Ia sebetulnya telah berlatih dengan Neville untuk ujian yang ini. Tapi ia merasa baik dirinya maupun Neville tidak memiliki persiapan yang cukup.
Dan ia sedikit menyesali tidak berlatih lebih keras. Ia dan Neville menjadi penampil terakhir sebelum dua siswa transfer itu. Mereka menghadapi lima orang berpakian mirip ninja yang ternyata hanya hologram, (kelimanya baru bisa dilenyapkan dengan sabetan bokutou mereka, sayangnya) mereka juga harus memecahkan tiga teka-teki rumit agar mereka bisa melewati jalur yang benar. Tak hanya itu, mereka harus bisa melewati jebakan yang disiapkan Urahara, seperti dinding semak yang menyempit begitu cepat sehingga mereka harus berlari secepat yang mereka bisa. Juga, mereka harus bisa meniti jembatan tali dengan lumpur menggelegak di bawah mereka. Belum lagi membutuhkan kecakapan untuk melewati empat kapak raksasa yang bergerak bersamaan di dekat pintu keluar. Sayangnya, mereka terpaksa menggunakan Mantra Pembeku untuk melewatinya. Keduanya tahu nilai mereka akan dikurangi karena ini. Tapi apa boleh buat. Lagipula, semua tim lain juga menggunakan sihir, paling tidak dua atau tiga mantra.
"Bagus sekali," kata Urahara ceria, menyambut Harry dan Neville yang baru keluar dari maze dengan tampang kusut. "Aku suka cara kalian bekerja sama mengatasi lima ninja bohongan itu; kerja sama yang bagus. Tapi, sayang, di tantangan terakhir kalian meggunakan mantra," Urahara tersenyum, melambaikan tangannya dengan asal ke arah anak-anak lain yang beristirahat di dekat pintu keluar, "seperti yang lainnya. Tampaknya tak ada yang belum ada yang bisa menaklukan yang satu itu. Kalian berdua," Urahara menoleh ke arah Ichigo dan Toushiro, "akan menghadapi hal yang sama."
"Ya, ya, terserahlah," kata Ichigo cuek. "Boleh masuk sekarang?"
"Yang terakhir," seringai Urahara; Ichigo dan Toushiro sudah siap di depan pintu masuk maze dengan ketenangan yang sangat jelas. "Ichigo Kurosaki dan Toushiro Hitsugaya, masuk."
"Semoga sukses," bisik Neville menyemangati. Kedua temannya itu hanya mengangguk, dan masuk ke dalam labirin tanaman itu. Mereka semua yang berada di luar maze langsung menoleh ke arah monitor pengawas.
Tampak Ichigo dan Toushiro berjalan di lorong tanaman dengan tenang. Meskipun demikian, bagi yang memiliki kemampuan mengamati yang baik, sangat jelas bahwa keduanya waspada, meskipun belum ada satupun dari mereka yang mencabut senjata masing-masing.
Dan kemudian, secara mendadak, sesosok makhluk hitam besar merangsek maju dari semak di tikungan di depan mereka. Seekor rubah besar setinggi tiga meter menatap dua murid transfer itu dengan tatapan lapar, memamerkan gigi-giginya yang runcing.
"Tantangan pertama," kata Urahara ceria, tak mempedulikan pekik kaget beberapa anak perempuan dan para pengawas ujian yang sangat ketakutan. "Jatuhkan rubah itu tanpa membunuhnya atau menyebabkan luka fatal."
"Apa mereka bisa?" tanya Harry cemas. Ayolah, bahkan rubah itu lebih berbahaya dari Grawp!
"Harus bisa, dong," kata Urahara kalem.
"Tapi…"
"Ah, sudah kuduga," sela Urahara, tampak geli. Mereka semua menatap monitor dan ternganga kaget. Rubah itu sudah dijatuhkan, tersungkur di tanah dan tak bisa bergerak dengan pita cahaya berwarna keemasan yang meliliti tubuh rubah itu. Terlihat Ichigo dan Toushiro berjalan melewati rubah itu, yang menggeram jengkel pada penangkapnya yang berani-beraninya mengikatnya. "Tes awalnya agak terlalu mudah. Dengan Bakudou ke 63, Sajou Sabaku, rubah itu bisa ditaklukkan dengan mudah."
Mudah?
Oh, sekarang semua anak berharap menguasai kidou.
Bisa dibilang, performa Ichigo dan Toushiro adalah yang terbaik dalam ujian Metode Pertahanan Klasik Jepang, mengingat mereka memang berada di bidangnya. Lawan ninja hologram meraka bukannya lima, melainka dua puluh yang kemampuannya sangat mengerikan., Mereka dikalahkan dengan beberapa pukulan dan tendangan, juga sabetan katana yang digunakan seakan mereka sedang menari – itu teknik menari yang menakutkan, sih. Katana itu juga digunakan saat sesosok monster besar setinggi lima meter, yang mirip sekali minotaur menghadang mereka di sebuah tikungan.
"Tentu saja aku serius," kata Urahara kalem, tak mempedulikan ekspresi kaget anak-anak dan para pengawas ujian. "Mereka harus mengalahkan minotaur itu."
"Tapi membunuhnya itu ilegal," sela Profsor Tofty.
"Sejujurnya," kata Urahara, masih sama tenangnya. "Minotaur itu adalah makhluk dari Kementerian Sihir yang harus dieksekusi atas kasus penyerangan terhadap manusia beberapa waktu yang lalu."
Banyak anak yang terkesiap kaget mendengar informasi ini.
"Profesor Umbridge menyerahkannya padaku dengan alasan untuk menjadikannya sasaran ujian untuk mereka." Urahara mengedikkan kepala ke arah layar, dimana Ichigo dan Toushiro sudah mulai melakukan perlawanan. "Mereka memang dimaksudkan untuk menjadi eksekutornya"
"Mereka tidak akan lakukan itu," kata Neville ngeri.
"Well, aku tidak tahu." Urahara menatap layar sementara yang lainnya tampak agak ketakutan sekarang. Mengingat apa yang terjadi antara Toushiro versus Boggart dan Baron Berdarah, bisa saja mengalahkan minotaur itu bukan tidak mungkin. Tapi, untuk Urahara, ia tidak mempermasalahkan kemampuan Ichigo ataupun Toushiro. Yang ia ingin tahu adalah apakah keduanya mau menghabisi minotaur itu, yang notabene adalah makhluk hidup.
Dan ternyata, keduanya memilih untuk tidak membunuh si minotaur. Sekalipun banteng humanoid itu bersikap agresif dan bermaksud menyerang, Ichigo dan Toushiro kompak melakukan perlawanan hanya untuk melumpuhkannya. Pertarungan itu berakhir setelah Ichigo mengecohnya dengan menjadi lawan utama, sedangkan Toushiro bergerak gesit ke belakang si minotaur dan melakukan kidou pengikat.
Minoutaur itu jatuh, mendengus-dengus dengan murka pada lawannya yang melewatinya. Luka-luka pada tubuh besar si setengah banteng tidak cukup kuat untuk membunuhnya.
Kedua murid pindahan itu melanjutkan ujian mereka dengan lancar. Tes inteligensi yang mereka temui di beberapa titik berhasil dipecahkan, begitupun teka-tekinya. Mereka memang menghadapi jenis pertanyaan dan tantangan fisik yang lebih sulit, tapi bisa mereka atasi – termasuk melewati tangga tali yang di bawahnya adalah nyala api alih-alih lumpur yang menggelegak.
Bahkan, tantangan empat kapak raksasa itu berhasil dilewati dengan mudah. Mereka menemukan cara tanpa menggunakan tongkat sihir untuk mengatasinya.
"Bagus sekali," kata Urahara senang, mengamati kedua siswa terakhir itu lewat monitornya. "Mereka tahu kalau untuk menghindari empat kapak yang bergerak bersamaan itu mereka harus berdiri tepat ditengah, karena itu daerah teraman, setelah memastikan mereka di timing yang tepat. Dan, mata mereka cukup tajam untuk melihat kalau dipermukaan kapak itu ada pegangannya."
Tepat saat itu, Ichigo melompat bersamaan dengan sebuah kapak yang terayun, dan ia sukses memegang pegangan yang luput dari pandangan semua siswa. Kapak itu mengayun, membawa Ichigo yang dengan kalem melompat ke seberang ruangan, tanpa mengalami luka.
"Nah," kata Urahara, setelah Toushiro juga melakukan hal yang sama untuk sampai ke seberang. "Tinggal tantangan terakhir."
"Eh?"
Banyak anak bertukar pandang bingung.
"Bukannya kapak itu tantangan terakhir?" tanya Hannah.
"Tidak," senyum Urahara. "Ada pertanyaan terakhir di pintu keluar untuk mereka."
Mereka semua melihat ke layar monitor. Dapat mereka lihat sebuah pertanyaan dalam plakat kuningan di samping pintu tanaman yang mendadak bertransformasi menjadi baja tebal. Di sana tertulis:
Hikoboshi dan Orihime menunggu satu tahun
untuk bertemu di jembatan burung gagak
di gemintang Bimasakti
Pengorbanan mereka adalah jarak dan waktu
Apa yang kau berikan
__ADS_1
untuk melewati akhir
dengan satu dari kalian yang harus tinggal?
Berikan satu nama
Dan aku hanya akan membuka untuk nama itu.
"Jadi hanya salah satu dari mereka yang bisa melewati pintunya?" tanya Seamus kaget.
"Yep," kata Urahara riang. "Ini teka-teki mudah, tapi apa yang akan mereka ambillah yang jadi poin utamanya."
"Tapi mereka melewati ujianya bersama-sama!" kata Hermione, "kenapa hanya satu yang bisa lulus?! Itu 'kan tidak adil!"
"Nah, nah," Urahara mengibaskan tangannya. "Ujian bukan hanya soal lulus dan tidak lulus, tapi bagaimana kalian belajar selama ini. Di kehidupan, kalian mungkin akan temukan permasalahan serupa. Mana yang akan kalian pilih, diri sendiri atau orang lain. Bisakah kalian tidak egois, bisakah kalian berkorban, bisakah kalian merelakan diri? Inilah pelajarannya. Nah, apa jawaban mereka?"
Semua anak melihat ke monitor. Sekarang, mereka bisa mendengar keduanya sedang memutuskan nama siapa yang harus dituliskan.
"Kau saja," kata Ichigo.
"Tidak mau," sahut Toushiro.
"Kau pecahkan semua teka-teki, jelas teka-teki yang ini berarti namamu."
"Tidak. Kau menghajar paling banyak, itu berarti kau."
"Kau."
"Tidak, kau."
"Damn it! Tulis saja kenapa sih?!"
"Mereka malah bertengkar…" kata Ron, antara tegang dan geli.
"Argh! Urahara ****!" teriak Ichigo frustrasi. "Pertanyaan macam apa ini?!"
"Aku setuju denganmu, Kurosaki," kata Toushiro serius.
"Hei…" Urahara yang mendengar itu menepukkan kipasnya ke dahinya, tampak seakan terluka.
"Kita 'kan masuknya sama-sama, kalau begitu kita harus selesaikan sama-sama juga!" kata Ichigo geram. Dan, keduanya bertukar pandang, seakan saling bertukar pendapat dalam diam, sebelum saling mengangguk, seakan kesepakatan telah dibuat.
"Wah, wah," kata Urahara, tampak agak tertarik. "Kalian mau apa nih?"
"Hanya satu nama, eh?" kata Ichigo, seringainya tampak agak kurang ajar.
"Tuliskan saja. Aku setuju denganmu," kata Toushiro kalem.
Ichigo mengambil kuas yang ada di dekat plakat, dan menuliskan sebuah nama. Mereka tak bisa melihatnya karena terhalang punggung lebar si rambut jingga. Begitu Ichigo menyingkir, bersama Toushiro, ke arah pintu, mereka bisa melihat huruf-huruf kanji yang tak bisa mereka baca. Tapi tidak dengan Urahara.
"Yang benar saja…"
"Hadou ke-31," seru Ichigo dan Toushiro bersamaan, mengarahkan telapak tangan mereka ke arah dinding baja, "Shakkahou!"
Pintu baja itu meledak dengan bunyi dentum keras yang menggetarkan tanah. Asap ledakan menguar menghalangi pandangan mereka. Dan, dua siswa-dengan-rambut-paling-mencolok itu melangkah keluar dari pintu baja yang telah hancur itu dengan wajah tanpa dosa.
"Ah, senang ujian sudah selesai," kata Ichigo senang, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Di sampingnya, Toushiro mengangguk setuju.
"Kalian harusnya menuliskan nama, bukan menghancurkan pintunya," kata Urahara.
"Tapi tadi kalian menulis nama…" kata Neville dengan suara mencicit.
"Ya, jawabannya 'Urahara ****'," kata Toushiro datar, "Apa kami benar?"
"Aku tak percaya kalian mengatakan itu," kata Urahara dramatis. "Harusnya 'Toushiro Kurosaki', menggabungkan nama kalian adalah jawabannya…"
"Itu bukan namaku," kata Toushiro tak senang. "Dan tahukah kau kalau 'shiro' dan 'kuro' dalam satu nama membuatnya kedengaran aneh. Kayak aku punya kepribadian ganda saja…"
"Tapi Isshin mau kau jadi 'putra kedua'-nya!" kata Urahara.
"Dan kau kira aku mau jadi orang aneh macam Kurosaki?" balas Toushiro
"Kau mau bilang aku orang aneh?" protes Ichigo.
"Aku sudah mengatakannya," kata Toushiro datar.
"Astaga," komentar Profesor Tofty.
"Ah, lucu sekali," kekeh Profesor Marchbanks.
"Yang jelas," kata Urahara ceria, "ujian sudah selesai. Kalian akan terima hasilnya bersama nilai OWL yang lain." Urahara tersenyum pada murid-muridnya. "Kalian sudah berusaha sangat keras dengan baik tahun ini. Itu membuat guru mana saja – termasuk aku – benar-benar bangga akan kalian."
Semua murid pun meninggalkan lapangan Quidditch setelah Urahara membubarkan mereka. Semuanya masih membicarakan tentang ujian paling unik yang baru saja mereka jalani.
"Hei, Ichigo," panggil Ernie saat mereka menaiki undakan depan.
"Yeah?"
"Yang kalian berdua lakukan tadi… cool," kata Ernie kagum, disusul gumaman setuju yang lainnya – kecuali anak-anak Slytherin, tentu.
"Well, trims," kata Ichigo nyengir.
"Tapi," Ernie menatap Toushiro ingin tahu, "kau meledakkan Boggart dengan mudah, dan kau dengan Ichigo untuk melawan minotaur itu, tapi kenapa kalian tidak…"
"Membunuhnya?" ujar Toushiro datar. Banyak anak bergidik mendengar kata itu. "Kau kira kami tidak tahu kenapa ada makhluk itu di sana? Ya," kata Toushiro cepat, "kami tahu. Umbridge ingin kami menyingkirkan minotaur itu untuknya. Kami tidak akan melakukan pekerjaan kotor itu untuknya. Lagipula, minotaur itu 'kan juga makhluk hidup, dan yang lebih penting, dia tidak melakukan hal membahayakan untuk kami…"
"Dia menyerang kalian, 'kan?" celetuk Smith.
"Penyerangan itu untuk pertahanan diri," kata Ichigo serius. "Dia mengira kami ada di sana untuk mengeksekusinya. Coba kalian lihat sendiri, minotaur itu ketakutan dan menyerang tak terkendali… Makhluk malang…"
"Jika bukan kalian yang menghabisinya, maka Kementerian yang akan melakukannya, 'kan?" kata Harry muram.
__ADS_1
"Aku yakin begitu." Mereka sudah sampai di Aula Depan. "Takdir buruk dihadapi oleh minotaur itu. Paling tidak, bukan kami yang mengotori tangan dan senjata kami dengan darahnya."
Banyak anak yang bergidik membayangkannya. Setelahnya, mereka memutuskan untuk tidak membahas topik mengerikan ini.