Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 43


__ADS_3

Toushiro Hitsugaya adalah penyuka ketenangan. Dalam waktu-waktu yang menuntut dirinya untuk fokus, seperti mengerjakan laporan, jinzei, bahkan tidur, Dan sedikit masalah yang terjadi padanya kali ini, sebetulnya membutuhkan ketenangan untuk menghadapinya. Ketenangan, dan sepertinya waktu untuk sendiri.


Namun, ternyata itu bukan hal mudah untuk diwujudkan. Berapa kali kerjanya di kantor Divisi 10 diinterupsi mabuknya Rangiku Matsumoto? Berapa kali laporannya tak selesai karena ia harus berhadapan dengan rengekan Yachiru Kusajishi yang meminta pemen padanya? Berapa kali pula ia harus bersabar saat jinzei-nya diganggu para tetangga Divisi 11 yang bukan main ramainya saat sedang sparring? Dan sekarang, tampaknya para rekan-rekan shinigami-nya entah kenapa tak membuatnya sendirian. Setengah hatinya merasa senang karena dia memiliki teman, namun setengah lagi merasa jijik pada dirinya sendiri; ia yakin salah satu alasan kenapa mereka tak meninggalkannya adalah untuk mengawasinya agar tidak lepas kontrol atas hollow-nya. Mustahil menemukan tempat untuk sendiri saat ini.


Selain itu, Urahara sudah menjelaskan padanya apa yang dilakukan Senjumaru Shutara padanya. Bagian segel Penjaga Surga yang dilepas, dan fakta bahwa reiatsu-nya meningkat lima kali lipat adalah bagian yang membuatnya cukup cemas.


Bagaimana ia bisa mengendalikannya? Bagaimana juga ia mengendalikan hollow-nya? Bahkan prospek latihan yang telah disiapkan Shinji Hirako dan para Vizard lain masih belum meredakan kecemasannya.


"Ingatlah mereka yang mempercayaimu, Master," kata Hyourinmaru dalam pikirannya. "Ingatlah mereka yang membelamu tak peduli bahwa kau berubah. Itu akan menjadi alasan untukmu bahwa kau memiliki tempat di antara mereka."


Benar, pikir Toushiro. Alasan seperti itu yang dibutuhkannya saat ini. Sekali ini, ia harus bersikap egois pada dirinya sendiri. Ia harus mengesampingkan anggapan orang lain. Ia harus meyakini diri bahwa masih ada, sekalipun hanya ada satu nyawa yang mempercayainya. Ia membutuhkan alasan itu agar bisa mengendalikan makhluk tergelap yang ada pada dirinya.


"Oi, Toushiro!"


Toushiro memejamkan matanya sedetik, lalu membukanya. Ini dia.


Ichigo mendatanginya dengan cepat, dengan Orihime, Uryuu, dan Rangiku mengikuti di belakangnya. Sebetulnya, Toushiro bermaksud memasuki Menara Gryffindor sendirian, mengambil bahan untuk laporan akhirnya yang tertinggal di kamar. Ternyata, si rambut jingga itu mengikutinya, dan tentu saja, letnan-nya.


Toushiro menghela napas. "Apa?"


"Taicho! Kalau mau kemana-mana bilang dong! Aku 'kan juga belum tur kastil ini…" rengek Rangiku.


"Apa aku peduli tentang itu?" balas Toushiro datar, kembali berjalan menaiki tangga menuju lubang lukisan yang tinggal di ujung bordes.


"Tegaaa~" rajuk Rangiku.


Saat mereka tiba di lukisan si Nyonya Gemuk Golden Trio dan Neville ada di sana, dengan si Nyonya Gemuk yang sedang bicara pada mereka.


"Lukisan di kastil ini bisa bicara," kata Ichigo, memberitahu Rangiku. "Sihir."


"… besok akhir tahun ajaran! Kenapa kau mengubah kata kuncinya?!" terdengar Ron yang memprotes.


"Sekolah sedang tidak aman, Mr Weasley. Aku harus mengganti kata kuncinya setiap hari, untuk berjaga-jaga," kata Nyonya Gemuk keras kepala.


"Dia mengganti kata kunci?" tanya Toushiro begitu ada di dekat mereka berempat.


"Ah, halo, Mr Hitsugaya dan Mr Kurosaki, Tuan Kacamata, Nona Muggle, dan… Miss Shinigami?" ujar Nyonya Gemuk ramah.


"Halo, er… Nyonya Lukisan?" balas Rangiku riang, sementara Uryuu mengernyit tak senang dipanggil 'Tuan Kacamata' dan Orihime bertanya pada Ichigo apa artinya 'Muggle'. "Senang bertemu denganmu! Tapi apa ada masalah?"


"Oh, ya…. Sedikit. Tak ada kata kunci, tak boleh masuk," kata Nyonya Gemuk ceria.


"Oh, sayang sekali," kata Rangiku. "Aku ingin tahu seperti apa Menara Gryffindor! Kami 'kan tamu, apa kami boleh masuk?"


"Maaf, Nona, saya tak bisa mengizinkannya," kata Nyonya Gemuk.


"Oh, ayolah!" keluh Ron.


"Kami tidak tahu kalau kata kunci diganti," kata Hermione, "jika kau tak mau memberitahu kami, paling tidak beri kami petunjuknya."


"Ah, baiklah kalau begitu," kata Nyonya Gemuk. Ia tampak berpikir sejenak. "Nah. Saat kalian tak tahu bagaimana kembali, cobalah melihat awalnya."


"Hah?" Ron membelalak. "Sungguh! Teka-teki?!"


"Awal?" Toushiro mengernyit. Ia menatap lukisan penjaga lubang ke Menara Gryffindor. "Ah. Aku tahu."


"Kau tahu?" tanya Harry dan Hermione bersamaan.


"Kata kunci pertama di tahun ini," kata Toushiro kalem.


"Mimbulus mimbletonia," ujar Neville.


"Benar sekali!" serru Nyonya Gemuk, dan lukisannya mengayun terbuka.


Ron menggelengkan kepalanya, sementara Rangiku tersenyum senang. Mereka semua lalu memasuki luang lukisan, dan disambut dengan keramaian ruang rekreasi Gryffindor.


"Mereka tak pernah berhenti," cengir Ichigo.


"Tak pernah," kata Neville setuju.


Tidak mungkin, kata Toushiro dalam hati. Apalagi ditambah dengan si kembar Weasley yang datang ke sana dan memulai spesialisasi mereka; lelucon, tawa, keonaran. Toushiro merasa tak perlu berada di antara mereka; ada tugas yang belum diselesaikannya. Ia berjalan menuju tangga ke kamar anak laki-laki. tapi, baru saja dia menginjak anak tangga pertama, seseorang menarik tangannya.


Fred Weasley.


"Mau ke mana, O Mighty Ice Captain?" seringai Fred, membawanya ke antara keramaian; dilihatnya Rangiku yang sudah tertawa-tawa riang mendengar cerita konyol George. "Mau melewatkan pesta Gryffindor, eh?"


"Aku masih-"


Kata-kata Toushiro menghilang tak berarti ketika tepat saat itu tawa anak-anak pecah saat George melemparkan humor lain kepada teman-temannya.


"Ohoho! Taicho! Aku tidak menyangka teman-temanmu segila ini!" kata Rangiku terengah. "Aku tidak heran kau tidak mengeluh sama sekali…"


"Tentu saja, jika mengingat kompensasinya adalah aku tak perlu mengurusimu yang mabuk setiap hari," kata Toushiro bosan.


"Kau menyinggung soal itu terus…" keluh Rangiku.


"Bagaimana kau bisa dapat letnan secantik itu," tanya George, terdengar agak iri sementara Rangiku sedang mengobrol sambil mengikik dengan sekelompok gadis kelas lima.


"Aku tidak mendapatkannya," kata Toushiro, mengernyit. "Dia sudah jadi letnan sebelum aku jadi komandan. Aku hanya tidak mau mengurus banyak hal untuk seleksi letnan lagi, betapapun tidak bergunanya dia."


Ichigo mendengus kecil, yang untungnya tidak diketahui Toushiro. Ia tahu dari ayahnya kalau itu bukan alasan Toushiro. Walaupun ia memiliki wewenang untuk mengganti letnan-nya ia tidak akan melakukannya. Toushiro bukan orang yang mudah mempercayai orang, dan Rangiku Matsumoto adalah salah satu dari sedikit orang yang cukup ia percaya. Lagipula, tak mudah mencari letnan yang sesetia Rangiku, meski, yeah, benar, Rangiku agak sedikit tidak berguna, dengan kecanduan alkohol akut dan menganggap paperwork adalah musuh terbesarnya.


"Dan bagaimana kau bisa tak memberitahu siapa kalian sebenarnya," celetuk Lee Jordan. Ini, membuat sebagian besar mata terarah pada Ichigo dan Toushiro.


"Nah, itu…" Ichigo menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, tak tahu harus berkata apa.


"Yang namanya misi penyamaran itu sifatnya rahasia," kata Toushiro datar. "Tentu saja tak boleh ada yang tahu kecuali yang memang berhak tahu."


"Apa Harry dan yang lain tahu?" tanya Seamus.


Toushiro mengangguk. "Salah satu prioritas misi adalah menjaganya," kata Toushiro mengangkat bahu.


"Tapi tetap saja…" celetuk Colin Creevey, menatap Toushiro dengan tatapan memuja. "Itu keren sekali! Dan kau seorang komandan!"


Toushiro sedikit berjengit mendengar antusiasme Colin.


"Kalau begitu tentang siswa pindahan itu cuma bohongan?" tanya Alicia. "Sekolah Shinou entah apa itu tidak ada?"


Toushiro menggeleng. "Tentang siswa pindahan itu hanya alibi agar kami bisa masuk ke Hogwarts tanpa dicurigai. Tapi Shinou itu memang ada."


"Tapi Taicho sudah lulus dari sana bertahun-tahun yang lalu," timpal Rangiku. "Dan Ichigo tidak pernah datang ke sana. Oh, taicho, bagaimana rasanya sekolah lagi?" kikik Rangiku.


"Membosankan," kata Toushiro acuh.


"Tidak heran."


Terdengar sebuah suara dari arah jendela. Renji Abarai ada di sana, melompat masuk dari jendela yang terbuka, dan Rukia menyusul di belakangnya.


"Saking bosannya, tidakkah karena itu anda menyelesaikan enam tahun waktu belajar di Shinou menjadi setahun?" kata Renji menyeringai.


Toushiro mengangguk.


"Kau tahu, Renji, ada penemuan bernama pintu," kata Ichigo jengkel. Ia menatapi teman-teman shinigami-nya satu per satu dengan tak puas, "Kenapa kalian tidak gunakan itu seperti orang normal?!"


"Lebih mudah begitu," kata Rukia, mengangkat bahu.


"Dan jangan bicara tentang normal sementara kau sama tidak normalnya dengan kami," kata Toushiro cuek. Ichigo langsung bungkam, menatap Toushiro dengan kesal.

__ADS_1


"Benar kata Grimmjow, walaupun kau 'Pahlawan Soul Society' kau tetap kalah dari Komandan Hitsugaya," kekeh Renji. "Terutama bagian otakmu."


"Ngajak berantem?!" seru Ichigo tak terima.


"Bagus!" seru Renji senang. "Kau, Shinigami Pengganti sombong, gara-gara kau aku jadi ikut-ikutan dikirim ke Karakura untuk menangani Kon sialan itu…"


"Kalau menurutmu itu menyebalkan kenapa tidak kau tolak saja misinya, Kepala Nanas?! Takut dengan Byakuya?!"


"Jaga bicaramu, Stroberi!"


Toushiro menghela napas bosan, sama dengan Rukia sementara Rangiku tertawa senang. Mengabaikan pertengkaran kekanak-kanakan itu, Toushiro menoleh ke arah Rukia. "Hinamori masih di Aula?"


"Ya," sahut Rukia sopan. "Masih memperbaiki haori komandan anda. Para komandan lain juga ada di sana, juga Ikkaku dan Yumichika."


Toushiro mengangguk. "Aku pergi, kalau begitu."


Toushiro ber-shunpo pergi, menyingkir dari keramaian dan langsung ke kamar anak laki-laki kelas lima. Ia mengambil berkas bahan laporan akhirnya, sebelum ber-shunpo lagi keluar dari Menara Gryffindor.


"Dia pergi lagi?" tanya Rangiku pada Rukia, menatap lubang lukisan yang berayun menutup setelah si rambut pergi keluar dari sana.


"Kau mengenalnya lebih baik, Rangiku-san," kata Rukia pelan. "Setelah apa yang terjadi, aku yakin dia perlu waktu untuk sendiri. Tapi kita tak membiarkannya, eh? Lagipula sepertinya dia harus mengurus laporan akhirnya untuk misi ini."


"Harus begitu," kata Rangiku, mengabaikan Ichigo dan Renji yang masih berdebat di latar belakang. "Dia selama ini menghadapi banyak masalah dan menghadapinya sendirian. Kali ini tak boleh begitu."


Rangiku baru akan pergi, tapi Rukia menahannya.


"Aku juga sudah menanyakan ini pada Ukitake taicho. Hitsugaya taicho punya caranya sendiri…."


"Tapi…" sela Rangiku tak terima.


"Pelan-pelan," kata Rukia, tersenyum. "Jangan terburu-buru begitu. Aku pernah hadapi yang seperti ini, waktu Ichigo menyadari dia memiliki hollow. Dia malah tidak pulang sampai seminggu. Jelas dia mengalami krisis kepercayaan diri. Mungkin sekali Hitsugaya taicho juga seperti itu, 'kan. Tapi dia cukup dewasa untuk tidak pergi dan menjauhi kita."


Rangiku terdiam.


"Er… Rangiku…"


Letnan Divisi 10 itu menoleh. Neville Longbottom berdiri di depannya, tampak gugup dan ragu.


Rangiku tersenyum dalam hati. Ia sudah mendengar dari Ichigo tentang Neville. Teman baru komandan mungilnya. Ia cukup mengenal komandannya yang tak mudah menerima orang lain sebagai temannya. Dan Neville Longbottom, walau terlihat sebagai anak yang canggung dan tidak percaya diri berhasil membuat Toushiro menerimanya itu sungguh luar biasa. Bahkan taicho-nya itu rela sampai mendapat bekas luka di wajahnya demi melindunginya.


"Ya, Neville?"


"A-aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Neville pelan, sehingga suaranya nyaris tenggelam oleh keramaian di latar belakang. "Toushiro ti-tidak bilang apa-apa…"


Ah. Komandan mungilnya masih saja bersikap begitu, tak mau memecahkan dinding es di sekitarnya.


"Tapi," Rangiku melihat keyakinan di mata coklat Neville, dan itu mengejutkannya, tak ada keraguan di sana. "Toushiro selalu punya alasan untuk apa yang dilakukannya… Aku tahu aku tak mengenalnya dengan baik," Nevile mendengus kecil, "dan dia tak banyak bicara." Neville menatap Rangiku. "Aku tak yakin bisa mengatakannya di depannya, aku senang memiliki teman sepertinya. Aku juga tak bisa mengatakan apapun di depan siapapun…tapi Toushiro selalu mengerti…"


"Tentu saja," kata Rangiku, tersenyum, "Taicho memang begitu. Dia memahami orang lain tanpa mengatakan apa-apa." Dan memperhatikan mereka tanpa mengharap apa-apa. Seperti yang dilakukannya pada Momo, pada dirinya, pada Divisi 10. Tapi, Toushiro sendiri…


"Tapi Toushiro tidak begitu, dia selalu menutup diri,, dan tidak membuat orang lain bisa mengerti dirinya." Rangiku menatap Neville, bertambah keterkejutannya. Bagaimana bisa Neville berpikiran sama dengannya? "Dia membuatku bingung… Tapi, Ichigo benar." Neville teringat percakapannya dengan Ichigo beberapa jam setelah pertempuran usai. Neville terlalu takut untuk berada di rumah sakit lebih lama saat itu. Ia terlalu takut merasakan ketakutannya terus menggelayutinya. Bayangan Toushiro yang bersimbah darah di pertempuran itu menjadi mimpi buruknya selama bebarapa hari terakhir. Rasa takut bahwa ia bisa kehilangan seorang teman membuatnya memilih menjauhinya.


Dan kemudian Ichigo mendatanginya di Menara Gryffindor. Ichigo tak menanyakan kenapa Neville tak di rumah sakit lebih lama. Yang ia tanyakan pertama adalah apa dia baik-baik saja. Neville tentu saja menjawab bahwa ia lebih dari baik. Tak berada di kondisi di mana dadamu ditikam senjata, tentu saja ia baik-baik saja. Dan hal kedua yang ditanyakan Ichigo adalah apa dia marah pada mereka, mereka yang merahasiakan siapa diri mereka darinya. Dan Neville, sekali lagi menjawab tidak. Ia tak mungkin merasa marah pada kedua shinigami yang menjadi temannya itu. Ia tidak marah ataupun kecewa. Tidak. Sangat sulit untuk merasa seperti itu pada mereka yang mengajarkannya untuk mejadi berani, hal yang diragukannya sejak ia dipilih Topi Seleksi menjadi anggota Asrama Gryffindor.


Daripada itu, ia memiliki hal lain untuk dicemaskan. Toushiro Hitsugaya. Dan jawaban Ichigo adalah….


"… mengkhawatirkannya hanya membuat kita merasa lebih buruk, membuatnya juga merasa lebih buruk," Neville mengulang kembali kata-kata Ichigo saat itu. kata-kata yang dipercayainya. "Bodoh untuk berpikir semua baik-baik saja karena sudah jelas tidak begitu. Kita tak bisa melakukan apapun untuk membantunya," Neville terdengar sedih, tapi begitu ia mengatakannya, ia terdengar sangat yakin, "kecuali mempercayainya."


Rangiku menatap Neville dengan takjub. Hanya sepuluh bulan di Hogwarts. hanya sepuluh bulan. Dan Neville Longbottom bisa memahami Toushiro Hitsugaya sampai sejauh ini.


Rangiku menghapus airmata yang tak disadarinya mengalir di pipinya. Neville langsung panik melihatnya.


"Tidak, tidak," kata Rangiku menenangkan. "Aku hanya… ah, kau benar Neville. Kau benar…Aku terlalu sibuk mengkhawatirkannya, melupakan apa yang seharusnya aku lakukan…" Rangiku menepuk bahu Neville, tersenyum cerah, "Terima kasih banyak, Neville-kun… terima kasih banyak…"


Neville tampak lebih gugup dari sebelumnya. "A-apa yang…? Memang apa y-yang sudah ku-kulakukan?"


"Lebih dari yang kau tahu…Untukku dan untuk taicho… Dan tentu saja, terutama untuk selama taicho ada di sini, kau sudah menjadi teman untuknya, teman yang sangat baik untuknya…" Rangiku teringat singa jantan perak yang dilepaskan Neville untuk melindungi Toushiro dari para Dementor, membuatnya sangat terharu karenanya. Taicho-nya yang dingin dan kuat hampir selalu menjadi pihak yang melindungi… dan saat itu, dia menjadi yang dilindungi, oleh seorang teman yang tak lama dikenalnya. Rangiku tersenyum sedih, barangkali apa yang dilakukan Neville adalah hal yang tak bisa dilakukan Soujiro Kusaka, memberi taicho-nya harapan ketika segala hal menjadi tidak mungkin…


Toushiro mendapati Momo masih ada di Aula Besar, masih memperbaiki haori-nya di meja Gryffindor sambil mengobrol dengan Ikkaku dan Yumichika. Bersamanya, Shinji, Byakuya, Urahara, Yoruichi, dan Isshin yang sedang mengobrol ringan sambil menghadapi – dari bau yang sangat tidak asing – sake. Beberapa guru masih ada di sana, termasuk Dumbledore yang masih berbicara dengan Fudge. Dan, tentu saja, anggota Orde Phoenix.


Dasar orang tua, dengus Toushiro dalam hati.


"Yo, Shiro-chan!" sambut Isshin riang.


"Berapa kali harus kubilang-"


"Sampai kapanpun kau akan jadi Shiro-chan! Ingat itu, Shiro-chan!" Isshin terkekeh senang.


Toushiro menatap Isshin dengan jengkel, sebelum menoleh ke Momo yang tersenyum padanya. Gadis itu memberikan haori-nya yang sudah diperbaiki. Lengan pada haori itu sudah dipotong, dan Momo berhasil merapikan bekas potongannya serapi pekerjaan Uryuu Ishida.


Toushiro menarik rantai zanpakuto-nya, dan menyandarkan senjatanya itu di bangku panjang meja Gryffindor untuk melepas haori birunya dan memakai haori komandannya.


"Nah, selamat datang kembali, Komandan Hitsugaya," kata Shinji menyeringai.


Toushiro merapikan lipatan di kerah haori-nya, "Senang memakainya lagi."


"Yeah, tahu apa maksudmu," seringai Yoruichi. "Hanya ada dua kemungkinan dari apa yang terjadi, kau memakainya lagi, atau tidak sama sekali."


Toushiro mengernyit menatap Yoruichi, memakaikan haori birunya pada Momo. "Kukira kita tak akan bahas itu lagi."


Ya. Minimal tidak di depan Momo.


"Wups, sori," kekeh Yoruichi, memilih menuang sake ke cangkirnya.


"Pergilah ke Menara Gryffindor," bisik Toushiro pada Momo, lalu memberitahukan kata kuncinya. "Kalau lukisan itu mengganti lagi kata kuncinya, masuk saja lewat jendela."


Momo tersenyum. Ia tahu bahwa Toushiro punya beberapa hal yang harus dibicarakan dengan para komandan yang lain. Maka ia membereskan alat jahit yang dipinjamnya dari Uryuu dan undur diri pada para komandan.


"Jadi," kata Toushiro setelah Momo menghilang di pintu ek Aula Besar. Ia mengarahkan pandangan pada Byakuya, "apa Matsumoto buat masalah selama aku tidak ada di Seireitei?"


"Kau membuatnya terdengar seperti tukang bikin onar," celetuk Isshin.


Toushiro duduk di samping Isshin, tampak jengkel, "Kau tidak tahu seberapa banyak hal merepotkan yang kau tularkan padanya."


"Tak banyak yang harus kulakukan," kata Byakuya tenang. "Setiap menyelesaikan laporan memang sedikit terlambat, tapi paling lama hanya dua hari."


"Tapi dia mengeluh terus tiap kali Komandan Kuchiki datang mengawasinya," kata Ukitake, terdengar geli. "Dia bilang dia tak bisa minum sake sambil kerja."


"Itulah sebabnya aku meminta Kuchiki untuk mengawasinya," kata Toushiro, sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia tahu bahwa di antara para komandan, Byakuya Kuchiki bisa jadi salah satu yang disegani oleh letnannya. "Dan sekarang aku sudah temukan trik kecil untuk membuatnya tak bisa sembunyikan sake sialan itu di kantor lagi."


"Oh, ya?" tanya Shinji, tampak ingin tahu. "Apa itu?"


"Mantra Panggil," kata Toushiro.


Semua mata, shinigami dan penyihir, terarah pada Toushiro. Urahara terkekeh geli dan Yoruichi tertawa.


"Kau benar-benar memikirkan tentang hal itu, eh?" kata Yoruichi. "Dan Mantra Panggil? Dari sekian banyak mantra yang sudah kaupelajari, kau memilih mantra itu?"


"Aku tidak akan gunakan tongkat sihir untuk segala hal," kata Toushiro, mengernyit. "Hanya untuk memanggil semua sake dan paperwork yang Matsumoto sembunyikan. Kalau aku bergantung pada tongkat sihir, aku bisa jadi semalas dia." Toushiro menatap meja. Tak hanya sake, beberapa botol anggur juga ada di atas meja itu. "Dan setelah murid-murid pergi kalian memutuskan untuk minum?"


"Sedikit menyenangkan diri," kata Urahara ceria. "Sirius bilang Wiski Api yang terbaik!"


Sirius terkekeh. "Benar sekali."


"Walau kau cukup tua dibanding anak-anak itu, Shiro-chan, kau masih belum boleh minum seperti itu," kata Isshin, menepuk bahunya. Beberapa penyihir mendengus geli.


"Tidak akan," kata Toushiro datar.

__ADS_1


"Kuberitahu kau, Isshin," kata Yoruichi sok serius, "bahkan kalau dia sudah lebih besar nanti dia tidak akan sepertimu; dia tidak akan jadi teman minum yang asyik!"


"Aku tahu itu," gerutu Isshin. "Siapa sih yang kasih dia buku 'Peraturan Anggota Gotei 13? Dia menelan semua isinya…"


Sirius dan Lupin tertawa bersama Urahara dan Yoruichi. Toushiro mengernyit tak senang.


"Yah paling tidak di setiap pertemuan komandan aku berdiri di sampingmu," kata Isshin ceria.


"Dan mengenai latihanmu," kata Shinji, menggoyangkan gelas anggurnya dengan malas, "ada tempat bagus di gua-rahasia-yang-tidak-rahasia-lagi punya Urahara di kaki Bukit Sukyoku. Kita bisa pakai itu."


"Ah, yeah, benar juga. Mestinya cukup luas," kata Yoruichi. "Ichigo melatih bankai-nya pertama kali di sana, dan kau tahu dulu pengendaliannya payah sekali. Jika kupikir-pikir, itu lumayan untuk pelepasan Hyourinmaru…"


"Ya," kata Toushiro kaku.


Shinji meletakkan gelas anggurnya. Sangat wajar jika Komandan Divisi 10 itu cemas. "Tak ada yang perlu kau cemaskan. Ah, kecuali satu." Shinji menyeringai, "Hiyori."


Mata Toushiro melebar. "Oh, benar juga…"


"Siapa Hiyori?" tanya Tonks ingin tahu.


"Dulu dia letnanku," kata Urahara riang. "Waktu pertama kali melihat Hitsugaya-kun dia entah kenapa memplokamirkan bendera perang…"


"Aku tidak tahu kenapa dia begiru benci padaku," gerutu Toushiro.


"Aku juga tidak," kata Yoruichi nyengir. "Tapi aku bisa tebak." Toushiro menatapnya. "Kau lebih muda seratus tahun darinya, tapi kalian sama-sama kecilnya. Dan, di Winter War itu, dia mantan letnan dan kau komandan." Yoruichi tertawa bersama Shinji.


Toushiro mendengus jengkel. "Alasan kekanak-kanakan macam apa itu?"


"Nah, tak sepertimu, Hitsugaya-san, Hiyori dari dulu memang cepat panas dan kekanak-kanakan," kata Urahara kalem. "Dia bahkan dulu tak terima aku jadi komandan-nya mengantikan Kirio-san…"


"Yah, dulu Shiro-chan juga cepat panas, kok," kekeh Isshin. "Aku ingin tahu apa yang membuatnya jadi sedingin ini…"


"Apapun itu, itu sama sekali bukan urusanmu," kata Toushiro datar.


Isshin memasang tampang konyol seakan disemprot cairan Mimbulus mimbletonia. Sebelum ada yang berbicara, mereka semua melihat Menteri Sihir baru saja meninggalkan meja guru. Bersama para Auror-nya dan Dumbledore, ia berjalan menuruni undakan, bergerak ke meja Gryffindor.


"Kepala Sekolah sudah menjelaskan semuanya," kata Fudge tanpa basa-basi. "Dan dari itu, aku tahu kalian sudah memepersiapkan segalanya untuk bisa masuk ke Hogwarts." Fudge mlempar pandangan dengki aneh ke Byakuya dan Ukitake yang duduk di sampingnya. Ia menatap Toushiro dengan tak suka, "Termasuk tentang tongkat sihir."


Toushiro mengernyit. "Kenapa dengan tongkat sihirnya?"


"Boleh kulihat tongkat sihirmu?" tanya salah satu Auror di belakang Fudge.


Toushiro mengerling sekilas ke arah Dumbledore, yang mengangguk sambil tersenyum dengan mata biru bercahaya. Sedikit enggan, Toushiro mengulurkan tongkat sihir putihnya pada Auror itu.


"Tongkat bagus," komentar Isshin, sementara Auror itu mengamati tongkatnya dengan teliti, termasuk dengan pegangannya yang berwarna icy blue.


"Apa ini?" tanya si Auror, dengan suara yang terkesan menguji.


"Cherry, tiga puluh setengah senti," kata Toushiro, terdengar acuh, "inti nadi jantung naga."


"Mereka gunakan nadi jantung naga?" tanya Shinji heran. "Bagaimana caranya? Kalau Hyourinmaru sih baru di dekati saja aku pasti sudah diinjaknya sampai mati…"


Benar sekali, kata Hyournmaru, mendengus setuju dalam inner world Toushiro.


"Selain nadi jantung naga mereka gunakan bulu ekor phoenix dan bulu ekor unicorn. Sebagai makhluk sihir, mereka bisa menyalurkan kekuatan sihir penyihir dengan menjadi medianya. Naga yang diambil nadi jantungnya adalah naga yang sudah mati," kata Toushiro, mengejutkan para penyihir dan shinigami, kecuali Dumbledore. "Aku sudah lakukan sedikit riset tentang itu. Nadi naga yang ada di tongkat itu juga dari naga yang sudah mati, bisa kurasakan begitu. Seekor naga dari Pegunungan Arktik, keturunan terakhir dari spesies naga es yang sudah punah."


"Wuah, kau tahu sampai begitu?" celetuk Bill takjub, Tonks yang duduk di sampingnya sampai ternganga.


"Taruh dia setahun lagi di sini, semua sihir akan dia ketahui," kata Yoruichi. "Kadang kejeniusanmu membuatku sedikit ngeri, tahu."


"Ollivander yang bilang padaku," kata Toushiro mengangkat bahu. "Dan tongkat itu… memiliki bagian dari seekor naga. Walaupun bagian mati, energi sihirnya hidup. Itu bagaimana aku dan Hyourinmaru langsung mengenalinya."


"Tapi kau tak bisa memilikinya lagi," kata Fudge dingin.


"Nah, aku sudah katakan sebelumnya Cornelius," kata Dumbledore tenang, tapi matanya berkilat waspada. "Kau tak bisa mengambil tongkatnya atau tongkat Mr Kurosaki. Tongkat itu milik mereka."


"Tongkat sihir itu milik penyihir," sanggah Fudge.


"Tongkat sihir memilih penyihirnya," kata Dumbledore tegas, membuat Fudge terdiam seketika. "Aku yakin kau masih ingat kalimat terkenal itu, keluarga Ollivander mengatakan itu berkali-kali, semua tahu itu."


"Dia bukan penyihir!" seru Fudge.


"Aku tahu tentang itu," kata Toushiro. "Tapi yang jelas – jangan gunakan itu!" seru Toushiro mendadak


Terlambat! Auror itu meluncurkan mantra entah apa dengan tongkat sihirnya. Toushiro tahu, apapun mantranya, jelas hasilnya bukan yang diinginkannya. Semburan es tebal bak gletser muncul dari tongkat sihir putih itu, menerjang meja Ravenclaw dan meja Slytherin, membekukannya dengan lapisan es sampai ke dinding di seberangnya hingga mencapai tinggi lima meter. Si Auror menjatuhkan tongkat sihir Toushiro, dan mereka melihat tangan si Auror membiru dalam selubung es.


Semua mata terarah pada Toushiro, yang langsung menghampiri si Auror.


"Harusnya kukatakan lebih cepat," gerutunya. "Tak ada yang bisa menggunakan tongkat itu selain aku. Ollivander bilang tongkat itu menolak penyihir lain selama berdekade-dekade. Tak mengakui pemegang lain dan berbalik menyerang yang bukan tuannya. Radang dingin," tambah Toushiro, meneliti tangan si Auror.


"Bahkan tongkat sihirmu punya kemampuan elemental? Menarik," komentar Urahara. Ia menatap hasil semburan es dari tongkat sihir itu dengan penasaran.


"Aku tidak terlalu ahli di kidou penyembuhan," kata Toushiro, menoleh pada Isshin yang cengar-cengir di belakangnya. "Lakukan sesuatu, sebelum ini membuat tangannya putus."


Tak hanya si Auror, tapi Fudge juga tampak mual.


"Oke, oke," kekeh Isshin. Ia bergerak mendekati si Auror dan menarik tangannya. "Langkah ceroboh, Penyihir. Dan es sepertinya tak cocok untukmu."


Toushiro mengambil tongkat sihirnya. Dumbledore bergerak mendekatinya sambil menatap es di depannya dengan ekspresi takjub.


"Walaupun itu bukan sihir secara langsung darimu, tetap saja ini mengagumkan, Mr Hitsugaya," katanya, terdengar agak geli. "Tapi kita masih membutuhkan meja asrama untuk upacara penutupan tahun ajaran besok, dan aku cemas kita harus menyingkirkan ini."


"Tentu saja," kata Toushiro kalem.


"Perlu bantuan?" tawar Sirius.


"Tidak perlu," kata Toushiro. Ia melambaikan tongkat sihirnya dengan sapuan anggun, dan semua es itu hilang, berubah menjadi sesuatu seperti bubuk berlian, sebelum menguap di udara. "Hanya perlu Mantra Pelenyap."


"Tapi dari gerakannya itu bukan Mantra Pelenyap," celetuk Bill. "Aku bekerja sebagai Pemunah Kutukan, dan aku belum pernah melihat gerakan seperti itu sebelumnya."


Toushiro berdeham. "Aku memodifikasinya."


Fudge menatap Toushiro dengan sangat kaget. "Kau me-memodifikasinya?"


Toushiro mengangkat bahu. "Menggabungkan reiatsu-ku dengan sihir untuk membuat beberapa macam sihir es dan juga menghilangkannya, semacam itu."


"Melihat apa yang sudah dan bisa dilakukannya, Cornelius, aku yakin kau tak bisa mengambil tongkat sihir itu darinya. Dan kusarankan kau juga tak melakukan hal yang sama pada Mr Kurosaki."


"Dia memang tidak melakukan banyak hal," kata Toushiro, menatap Menteri Sihir. "Tapi tongkat sihirnya lebih temperamental dari milikku. Ebony, tiga puluh dua senti, dengan inti bulu phoenix. Bahkan Ollivander sendiri mengatakan bahwa tongkat sihir itu sangat destruktif, cocok untuk Ilmu Hitam, membuatnya luar biasa sangat berbahaya di tangan yang salah…"


Shinji harus berusaha menahan tawanya melihat wajah Menteri Sihir yang memucat kehijauan ketika Toushiro bicara. Jelas setelah itu Cornelius Fudge memutuskan untuk meninggalkan Hogwarts, segera setelah Auror-nya bebas risiko amputasi karena frostbite. Tahu tak ada yang bisa dilakukannya untuk mencegah kedua shinigami muda itu mendapat tongkat sihir, ia hanya bisa melepaskan mereka.


"Sangat persuasif," komentar Mad-Eye Moody menggeram. "Cara ampuh untuk mengalahkan Si ***** Fudge; takut-takuti dia."


"Aku tak menakut-nakutinya, aku hanya bermaksud agar dia berhati-hati," kata Toushiro, mengernyit. Ia melihat Dolores Umbridge yang mengikuti Menteri Sihir, tapi tak pergi bersamanya meninggalkan Aula Depan. "Dolores Umbridge masih di sini?"


"Ya, sampai penutupan tahun ajaran besok," kata Dumbledore ramah.


Toushiro ganti menatap Mrs Weasley, "Dan anak kembarmu masih di sini sampai besok?"


"Mereka bilang begitu," sahut Mrs Weasley.


Mendadak Yoruichi meledak tawa, dan Urahara terkekeh geli, lagi.


"Hah? Apa? Kenapa?" tanya Isshin segera.


"Kau aka tahu apa yang terjadi besok," kata Toushiro, menyilangkan kedua lengannya. "Aku punya perasaan ini akan… sedikit heboh."

__ADS_1


"Apaan?" tanya Isshin tak sabar.


"Tunggu saja. Ngomong-ngomong, Bulan depan ada penerimaan anggota baru Gotei 13. Apa ada informasi tentang itu?"


__ADS_2