
"Oi, Toushiro." Ichigo menatap Toushiro setelah Kyouraku pergi. Beberapa penyihir juga pamit pulang dengan Sirius, kecuali Snape yang langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara itu, Mrs Weasley juga keluar dapur untuk memanggil anak-anaknya, Harry Potter, dan Hermione Granger. Para penyihir yang masih di ruangan kembali duduk mengitari meja makan.
"Apa?"
"Lukamu belum sembuh, ya?"
"Bukan urusanmu, Kurosaki."
"Tapi itu bisa jadi masalah serius," kata Ichigo, mengabaikan tatapan tajam Toushiro yang jelas-jelas mengatakan aku-tidak-mau-bicara-tentang-itu.
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu."
"Serangan yang terakhir itu lumayan gawat, kau tahu," kata Ichigo keras, namun dalam bahasa Jepang, membuat perhatian penyihir sekarang terarah pada mereka berdua. Kedatangan Mrs Weasley bersama anak-anak nyaris luput dari perhatian mereka. "Kau koma sampai dua minggu dan Zero Division sampai harus membawamu ke King's Realm, dan kau bilang itu bukan urusanku? Kau 'kan temanku! Hell, dan kau masih memanggilku dengan 'Kurosaki'! Bagaimana jika aku bertiga dengan adik-adikku? Masih panggil Kurosaki juga?"
"Ada apa ini?" tanya Mrs Weasley, menatap Ichigo dan Toushiro dengan curiga. Keduanya langsung menghindari menatap satu sama lain.
"Hanya pertengkaran kecil, Molly, sepertinya," kata Mr Weasley, tersenyum ragu pada dua shinigami muda itu. Tapi Mrs Weasley menatap Toushiro penuh selidik. Ia mengernyit untuk memberi tatapan intens, mencari-cari keganjilan dari tampak luar Toushiro, yang ia gagal ia temukan. Mrs Weasley tidak tahu, pikir Ichigo sebal, betapa Toushiro sangat terlatih menyembunyikan emosi dan kesakitan, baik fisik maupun mental.
"Tadi Komandan Tertinggi-mu bilang kau terluka-"
"Saya baik-baik saja, terima kasih," kata Toushiro datar, tapi ia menatap Ichigo dengan galak. "Jangan bicara yang tak penting, Kurosaki."
Ichigo hanya mendengus tak puas. Tapi ia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini jika tidak ingin membuat mood sahabatnya itu menjadi jelek. Ia menoleh ke arah penyihir muda yang baru datang, yang memandang mereka dengan ingin tahu. Jelas mereka tidak menduga kehadiran dua shinigami berwujud manusia normal itu, atau tahu siapa mereka sebenarnya. "Yo," sapa Ichigo, mengangkat tangannya dengan salut malas.
"Eh," seorang gadis berambut coklat lebat tampak agak gugup, sementara yang lain tampak ingin tahu, "hai."
"Mum," kata salah satu dari anak kembar yang memandang Ichigo dan Toushiro dengan tampang bloon yang konyol, "siapa mereka?"
"Mereka siswa transfer yang akan belajar di Hogwarts tahun ini," kata Mr Weasley, melihat istrinya tampak masih tak setuju dengan penunjukan kedua shinigami yang menurutnya tak lebih dari dua remaja. "Ini Ichigo Kurosaki," kata Mr Weasley sambil mengedik pada si rambut jingga, "dan Toushiro Hitsugaya. Nah, kalian berdua, ini anak-anakku." Tambah Mr Weasley sambil memperkenalkan anak-anaknya dan Harry dan Hermione. Mr Weasey mengerling anak-anaknya, Harry dan Hermione, yang tampak terkejut.
"Pindahan?" ulang Ron tak percaya.
"Bukan sekedar siswa pindahan, tapi. Mereka juga akan menjaga Hogwarts," kata Sirius datar.
"Tapi mereka kelihatannya seusia dengan kami," kata Hermione, memandang Ichigo dan Toushiro dengan ragu.
"Sebenarnya Hermione-san, aku tujuhbelas tahun," kata Ichigo menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Seireitei bilang aku harus berpura-pura seperti limabelas tahun untuk misi kali ini."
"Kenapa?" tanya Harry panas. Ia memandang walinya, Sirius dengan kesal. "Dan kenapa Hogwarts perlu dijaga?"
"Dumbledore berpendapat begitu," kata Sirius mengangkat bahu. "Dia melihat bahaya, dan melakukan penjagaan tanpa diketahui Kementerian yang jelas tidak akan setuju adalah dengan menyusupkan shinigami ke Hogwarts."
"Tapi mereka-" protes Harry, yang dipotong oleh kata-kata Toushiro.
"Selain itu, kembalinya Voldemort juga berdampak pada keseimbangan dimensi," kata Toushiro datar, membuat semua mata terarah padanya.
"Eh, kurasa sebaiknya kau tidak memberitahu mereka," kata Mrs Weasley mencela.
"Mereka berhak tahu," kata Toushiro kalem. "Dengan begitu mereka tahu alasan keberadaan kami disini dan bisa melangkah hati-hati di kemudian hari."
"Apa maksudnya dengan mengganggu keseimbangan dimensi?" tanya Tonks heran.
"Voldemort (Toushiro mengabaikan sebagian besar penyihir dalam ruangan itu berjengit saat Toushiro menyebut namanya dengan nada biasa) telah melanggar bentuk peraturan kehidupan paling sakral, mencegah kematian. Mortal, tidak seharusnya bertindak seperti itu, dan yang bisa melakukannya hanyalah mereka yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, membuat mereka menjadi incaran para hollow. Hollow adalah roh manusia yang terinfeksi energi negatif yang membuat mereka berubah menjadi makhluk kanibal, memakan sesama hollow, atau roh lain untuk mempertahankan eksistensi mereka."
"Kalau begitu Voldemort ini berpotensi dimakan dan menjadi hollow?" tanya Ichigo.
Toushiro memandangnya dengan tatapan tajam. "Kau tidak mendengarkan sewaktu briefing? Apa yang kau lakukan, Payah?"
"Well, kau tahu," kata Ichigo, nyengir gugup, "aku tak mengerti apa yang dikatakan Kurotsuchi. Dia mengoceh terus dan tidak menerima pertanyaan!" Ichigo tampak gugup menerima deathglare yang berkandela-kandela lebih tinggi dari sebelumnya. "Oh, ayolah! Kau tahu betul dia seperti apa! Lagipula kau komandan dan kau jenius, gampang saja kau menelan semua omongan ilmuan badut sinting itu!"
"Paling tidak kau bilang- yah, sudahlah," Toushiro menghela napas. "Damn, kenapa setiap misi aku selalu dengan orang idiot?"
"Oi!" protes Ichigo.
Tapi Toushiro sepenuhnya mengabaikan Ichigo sekarang. Ia memandang para penyihir, meneruskan penjelasannya. "Ya, Voldemort berpotensi dimakan dan atau menjadi hollow. Tapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah dia mengendalikan para hollow."
"Bagaimana bisa?" tanya Ichigo.
"Seperti yang kubilang tadi, kemampuan spiritualnya yang diatas rata-rata. Jelas kenapa, karena dia penyihir. Aku tidak tahu sampai sekuat apa, tapi dari informasi Kurotsuchi, dia sekelas dengan Arrancar. Tidak sekuat Espada, tapi."
"Kita bisa mengalahkannya kalu begitu," kata Ichigo agak lega.
"Tentu saja," kata Toushiro seolah itu sudah cukup jelas. "Masalahnya, Kurosaki, kita menjaga seluruh Hogwarts, yang isinya adalah para penyihir yang bagaimanapun juga memiliki energi spiritual, walaupun tidak besar mereka tetap menjadi target para hollow. Bayangkan jika Voldemort datang ke Hogwarts bersama para hollow dan betapa merepotkannya semua itu. Belum lagi..."
"Yeah. Kau benar. Tunggu. 'Belum lagi'?"
"Tidak," kata Toushiro dengan nada tak peduli, membuat Ichigo mengangkat alis. "Tidak apa-apa."
"Tadi kau bilang hollow ini memakan roh," kata Lupin hati-hati. "Dan kalian shinigami yang berarti kalian juga-"
"Kami juga roh," kata Toushiro menegaskan. "Tapi tak ada yang perlu dicemaskan dari Kurosaki, pada dasarnya dia masih manusia." Dengan kekuatan hollow dan darah Quincy, tambah Toushiro dalam hati.
"Dan kau shinigami murni," kata Sirius.
"Dan seorang komandan," kata Ichigo, nyengir. "Tak ada hollow kacangan yang bisa menyentuhnya jika dia memegang Hyourinmaru."
"Kenapa?" tanya Fred ingin tahu.
"Mereka akan membeku dan menjadi serpihan es, selesai," kata Ichigo terkekeh.
"Nah, nah." Potong Mrs Weasley. "Kita lanjutkan diskusi lagi nanti. Sekarang aku butuh semua tangan untuk membantuku membuat makan malam. Tidak, kalian berdua tetap disitu," tambah Mrs Weasley saat dua shinigami akan berdiri dari duduknya. "Kau juga, Harry, Nak. Kalian baru datang dari perjalanan jauh."
"Kami hanya melewati Senkaimon dan itu cuma makan waktu lima menit dengan shunpo-Teknik Langkah Kilat," kata Ichigo.
__ADS_1
"Tapi kalian tamu disini," kata Mrs Wasley dengan nada final. Ichigo menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, membuat Harry yakin itu seperti kebiasaan untuknya. Ichigo memandang Toushiro, yang mengangkat bahu dan kembali duduk dengan nyaman, mengeluarkan ponselnya untuk mengetik sesuatu.
"Jadi," Sirius memandang Ichigo dan Toushiro bergantian, "kau membuatku sedikit penasaran."
"Tentangku atau shinigami?" tanya Toushiro tanpa mengangkat wajahnya dari layar.
"Keduanya."
"Aku ragu kau akan dapat keduanya, Sirius-san. Dia tidak akan cerita banyak tentang dirinya sendiri," kata Ichigo.
"Sedikit juga tidak apa-apa," kata Sirius ramah. "Contohnya... oh, iya. Ichigo bilang dia tujuhbelas tahun. Lalu berapa usiamu?"
"Empat puluh dua, Desember ini," sahut Toushiro enteng.
"Apa?!" Si kembar Weasley yang masing-masing meletakkan tumpukan piring ke atas meja dengan bunyi debam keras. Keduanya menatap Toushiro tak percaya, begitu pula para penyihir lain.
"Bagaimana kau bisa kelihatan tak lebih dari duabelas tahun?" tanya Tonks sangat kaget. "Apa itu sebabnya rambutmu putih?"
"Ini warna aslinya," kata Toushiro kalem, masih sibuk mengetik. Di dalam hati, Toushiro memasukkan 'bagaimana kau bisa kelihatan tak lebih dari dua belas tahun' dalam daftar-reaksi-perkenalan-paling-dikutuknya. "Dan pertumbuhan fisik roh di Soul Society berbeda dengan manusia."
"Tapi memang kau tidak banyak tumbuh, 'kan? Tujuhbelas bulan tak ketemu kau masih sama, yang beda cuma gaya rambutmu yang-GYAH!"
Harry yakin, barusan Toushiro menendang tulang kering Ichigo, jika didengar dari bunyi duk keras di bawah meja. Topik tinggi badan sepertinya daerah berbahaya untuk jadi ide cerita jika berhadapan dengan Toushiro.
"Empat puluh dua," ulang Mr Weasley, yang meletakkan kentang rebus yang telah ditumbuk ke atas meja. "Muda untuk ukuran shinigami, eh?"
"Ya," kata Toushiro.
"Dia juga komandan termuda yang pernah dilantik dalam sejarah Soul Society," tambah Ichigo, melirik sahabat shinigami mungilnya. "Kurasa yang lain usianya lebih dari seratus limapuluh tahun."
"Kau komandan?" tanya Ginny sangat heran; si kembar Weasley ternganga takjub, walau efeknya terlihat sangat konyol, sementara Mrs Weasley memandang Toushiro dengan tatapan tak setuju.
"Ya. Komandan Divisi 10, Divisi Investigasi."
"Divisi apa itu tepatnya?" tanya Sirius ingin tahu. "Apa itu termasuk salah satu departemen lembaga pemerintahan, seperti Kementerian Sihir?"
"Aku tidak begitu tahu tentang Kementerian Sihir kalian. Gotei 13-Tigabelas Pasukan Pelindung adalah organisasi militer, bukan pemerintahan," kata Toushiro, masih sambil mengetik. Harry heran juga, bagaimana Toushiro bisa memberikan penjelasan sambil mengetik pesan di ponselnya. "Bersama dua organisasi lain, yaitu Centra 46 yang mengurus masalah peradilan dan Korps Kidou yang menjadi skuad pendukung, kami menjaga keseimbangan Dunia Manusia dan Dunia Roh. Tidak ada pemerintahan di Soul Society."
"Bagaimana dengan Soul King-Raja Para Jiwa?" tanya Ichigo, mengernyit. "Dan Zero Division?"
"Kau sudah pernah datang kesana dan masih saja kau tanyakan tentang itu? Kau benar-benar anak Isshin Shiba." Ini membuat Ichigo mengernyit makin dalam. "Tidak ada yang pernah tahu apa atau siapa Soul King sebenarnya. Tapi sebutan itu diberikan bukan karena dia memimpin seluruh isi Soul Society, tapi karena dia adalah simbol bagi keseimbangan dunia. Kekuatannya yang membuat baik Dunia Manusia maupun Dunia Roh dapat berdiri sendiri dan seimbang, masing-masing dalam kehidupannya sendiri. Zero Division beranggotakan lima shinigami yang dulunya komandan Gotei 13, tapi kekuatan satu orang dari mereka, bahkan melebihi duaratus shinigami. Tugas mereka adalah menjaga Soul King di King's Realm, dimensi yang terpisah dari Soul Society. Dan mengenai tugas divisiku, kami spesialis dalam pengumpulan informasi, yah, kurang lebih sama seperti detektif. Kesulitannya adalah saat kau mendapat informan yang memegang info utama, tapi dia tidak mau memberitahukannya. Berbeda dengan Divisi 2, kami tidak diizinkan membunuh, yang membuatnya jadi rumit dan merepotkan."
"Tapi tidak semua masalah harus diselesaikan dengan nyawa melayang, 'kan?" ujar Lupin, tampak agak tak nyaman.
Toushiro hanya mengangkat bahu.
"Bagaimana kegiatan harianmu?" tanya Sirius, mengalihkan percakapan. Ichigo langsung nyengir lebar mendengar hal ini. "Lho? Kenapa?"
"Begini, Sirius-san," kata Ichigo menahan tawa. "Level komandan dan letnan tidak akan terjun ke lapangan kecuali kasus yang benar-benar serius dan perintah dari komandan tertinggi. Karena itu, kebanyakan hari-hari Toushiro adalah terkurung di dalam kantor bersama gunungan paperwork yang bahkan letnannya tidak berminat mengerjakan. Singkatnya, hari-harinya penuh dengan penderitaan-"
"Jadi kau lebih banyak berkutat dengan pekerjaan?" tanya Mr Weasley, mengernyit.
"Tidak juga," kata Toushiro sambil lalu. "Ada juga mengawasi anggota divisiku latihan, atau aku sendiri yang latihan. Ngomong-ngomong soal latihan, Kurosaki," Toushiro menutup ponselnya, "besok kita mulai latihan kidou."
"Eh? Besok?"
"Ya. Besok. Kita lewati meditasi, kau sudah bisa untuk yang itu. Kita akan mulai dengan kontrol reiatsu dan mungkin langsung mencoba tiga mantra paling rendah. Tapi kau pelajari teorinya dulu, kurasa."
"Belajar teori darimana? Perpustakaan? Memangnya ini di Soul Society?" tanya Ichigo sarkastik.
"Apa gunanya Komandan Tertinggi memberimu Soul Pager kalau tak bisa digunakan, Baka?" kata Toushiro, menatap tajam Ichigo.
Ichigo balas menatap, tapi tatapannya lebih mirip tatapan terkejut. Ia mengambil ponselnya, mengamatinya sejenak. "Ini bisa dibuat untuk membobol data?"
Harry dan Sirius menatap ponsel itu dengan tertarik, lalu ke arah Toushiro. Shinigami berambut putih itu menghela napas.
"Bisa."
"Cool!" seringai Ichigo.
"Kau tidak akan menggunakannya sembarangan untuk membobol data Seireitei," kata Toushiro tajam, saat Ichigo mulai mengaktifkan ponselnya. Ichigo mendongak, tampak agak kecewa.
"Kenapa?" tanya Sirius.
"Soul Pager itu buatan Divisi 12, mereka mengenali kode rahasia di dalamnya. Kalau kau awam tentang itu, kau akan menghancurkan Soul Pager itu dan Kurotsuchi punya alasan untuk menjadikanmu kelinci percobaannya, dan kau tahu apa artinya."
Ichigo bergidik dan langsung menutup ponselnya.
"Aku yang akan buka datanya. Yang kau lakukan tinggal membaca dan mempelajarinya."
"Kenapa kau boleh dan Ichigo tidak?" tanya Bill heran.
"Kau tidak perlu membobol data hanya untuk mempelajari kidou. Data tentang kidou bisa dimbil lewat perpustakaan umum Divisi , sebetulnya, tapi kita juga ambil data dari Divisi 12 karena mereka mengembangkan kidou baru. Hanya saja, masalahnya, Soul Pager-mu teridentifikasi atas namamu. Kurotsuchi tidak gampang percaya pada orang luar-orang dalam saja dia tidak percaya. Aku juga tidak suka berurusan dengannya, tapi data Divisi 12 paling akurat, dan nomor seri Soul Pager-ku lebih kompatibel dibanding milikmu, jadi ini mempermudah urusan."
"Sebegitu paranoidnya," komentar Ichigo. Ia memandang Touhiro, agak heran. "Dari nada bicaramu, dia juga tidak percaya padamu, kalau begitu?"
Toushiro mengangkat bahu. "Dari dulu dia juga begitu, menganggap kalau kebetulan saja aku menjadi komandan. Tapi," Toushiro mengernyit dalam, "dia juga menganggap aku bisa menjadi spesimen menarik-"
Ichigo tampak mual. "Kenapa?"
"Karena Hyourinmaru," kata Toushiro pelan.
Ichigo mengangkat alis. Para penyihir memandangnya dengan bingung.
__ADS_1
"Maksudm-oh!" Ichigo tampak mengerti. Peristiwa pencurian Segel Raja tempo dulu tampaknya masih memebuat si ilmuan Divisi 2 itu tertarik untuk menjadikan Toushiro salah satu obyek penelitiannya. Setelah itu berhenti mengajukan pertanyaan. Menurut Harry, mereka telah sampai pada topik dimana Toushiro tak ingin membicarakannya. Entah kenapa, Harry hanya bisa menduga itu sesuatu yang buruk.
"Sirius," kata Mundungus yang tampaknya sama sekali tidak mendengarkan percakapan mereka, tapi dengan cermat meneliti sebuah piala kosong. "Ini perak asli, sobat?"
"Ya," kata Sirius, memandang piala itu dengan jijik. "Perak terbaik dari abad kelima belas buatan-goblin, diembos dengan lambang keluarga Black."
"Ini bisa 'ilang, kalau begitu," gumam Mundungus sambil menggosok piala itu dengan ujung lengan jubahnya. Ichigo agak heran melihat Toushiro mengernyit tajam ke arah Mundungus, ekspresinya menunjukkan kalau ia tak menyukai penyihir yang satu ini.
"Eh," kata Ichigo, membuat perhatian Toushiro teralih, "kira-kira apa Byakuya juga punya yang seperti itu, ya?"
"Tidak," kata Toushiro. "Kehormatan mereka tak dilihat dari harta, Kurosaki. Meskipun begitu lambang keluarga dan nama-nama mereka akan muncul di tiap lembaran sejarah Soul Society."
"Apa keluarga si Byakuya ini begitu penting?" tanya Sirius. Ia agak pesimis dengan konsep bangsawan, entah Barat ataupun Timur. Baginya kebangsawanan merupakan hal konyol, -penjamin-status-darah yang sangat menyedihkan dan menyebalkan. Setolol dan sepayah apapun kau, asalkan kau menyandang gelar atau nama bangsawan, itu lebih berharga ketimbang isi otakmu atau harga kerja kerasmu.
"Klan Kuchiki adalah salah satu dari empat klan bangsawan besar Soul Society, tentu saja itu berarti mereka penting. Karena apa, aku juga tidak begitu mengerti karena itu faktor internal. Tapi Klan Kuchiki, bersama tiga klan yang lain menjadi simbol kehormatan, kredibilitas, dan keteraturan dari Soul Society, juga dengan King's Realm." Toushiro menghela napas. "Sebagai penghargaan atas kontribusi mereka menjaga stabilitas bersama Gotei 13, Klan Kuchiki diberi kehormatan khusus untuk menduduki kepemimpinan di Divisi 6, Divisi Penegakan Hukum, sebagai perantara antara empat bangsawan dan Soul Society. Kuchiki akan datang kemari lusa, kau bisa nilai sendiri seperti apa dia. Menurutku dia orang yang kompeten, sebagai komandan ataupun kepala klan."
Sirius memandang Toushiro agak ragu. Jika rekan sesama komandannya berkata seperti itu, berarti konsep bangsawan Soul Society berbeda...
"Sangat kompeten," kata Ichigo sambil menguap mengantuk. "Kaku, patuh peraturan, selera humor yang payah... Sirius-san, kalau kau mau tahu gambaran Byakuya, Toushiro ini sebelas duabelas dengannya-"
"Fred-George-JANGAN, BAWA SAJA KE MEJA!" jerit Mrs Weasley.
Ichigo, Toushiro, Harry, Sirius, dan Mundungus menoleh dan merunduk menjauhi meja tepat pada waktunya. Fred dan George telah menyihir sekuali besar daging dan sayur rebus, bejana besi berisi Butterbeer, dan talenan kayu berat pemotong roti tepat dengan pisaunya, untuk terbang ke atas meja. Kuali besar itu meluncur ke ujung meja, berhenti tepat sebelum mencapai tepi meja dengan meninggalkan bekas hangus panjang di permukaan meja. Bejana Butterbeer jatuh berdebam memuncratkan isinya kemana-mana. Pisau roti tergelincir dari talenan dan menancap tepat di tempat dimana tangan Sirius tadinya berada.
"ASTAGA!" teriak Mrs Weasley, membuat Toushiro berjengit. Ichigo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat si kembar Weasley didamprat habis-habisan oleh ibunya. Harry dan Sirius tertawa, sementara Mundungus menyumpah-nyumpah karena ia terjatuh bersama kursinya saking kagetnya. Omelan Mrs Weasley baru berhenti saat ia menyebut nama Percy, yang mana membuat ekspresi Mr Weasley tampak kaku, sebelum Bill, putra tertuanya mengaajak mereka semua makan.
"Siapa si Percy ini?" tanya Ichigo pada Lupin yang kebetulan duduk di sampingnya.
"Anak ketiga keluarga Weasley," kata Lupin muram. "Dia bekerja di Kementerian, dan karena Fudge, kau tahu, dia lebih percaya pada Kementerian alih-alih kebenaran. Ini membuat anak itu pergi dari rumah, bertengkar dengan orang tuanya."
Makan malam di rumah keluarga Black yang suram itu bisa dibilang cukup menyenangkan. Baik Ichigo maupun Toushiro baru pertama kali ini makan bersama yang dihadiri banyak orang dengan suasana keluarga seperti ini. Ichigo, paling tidak dengan dua adik dan ayahnya, dengan ibunya sewaktu Masaki masih hidup, atau dengan Rukia saat gadis itu menginap di rumahnya. Itu jumlah paling banyak yang pernah ia alami. Sedangkan Toushiro, makan malam dengan keluarga-atau yang dia anggap keluarga-paling sewaktu ia bersama Momo dan Nenek di Junrinan. Jika mau menghitung berdasarkan jumlah, maka makan malam bersama para komandan atau saat bersama seluruh anggota divisinya-lah yang masuk kategori. Suasana yang mereka hadapi kali ini agak membuat mereka canggung. Sepertinya hal itu diperhatikan oleh Sirius.
"Kenapa kalian tegang begitu?" tanyanya nyengir. "Jangan cemas, kalian baru bertugas begitu kalian sampai di Hogwarts."
"Hehe," Ichigo tersenyum kaku. "Tidak, hanya... agak sedikit aneh..."
"Kenapa, Nak?" tanya Mr Weasley perhatian. "Tidak terbiasa seramai ini, ya?"
Tepat sasaran.
"Well, yeah... Biasanya cuma aku dan adik-adikku dan ayahku, sama ibu waktu beliau masih ada," tambah Ichigo pelan.
"Oh, maaf," kata Mr Weasley segera.
"Tidak, tidak. Bukan masalah. Hanya saja... Yeah, begitulah... Kau bagaimana, Toushiro?"
Toushiro mengangkat bahu. "Agak berbeda juga. Tapi bukan masalah."
"Makan malammu seperti apa waktu kau di Seireitei?" tanya Ichigo sambil menyendok sayuran ke dalam piringnya.
"Biasa saja. Kadang dengan para komandan, atau sama anggota divisiku, atau masak sendiri. Apa saja, asalkan bukan Matsumoto yang masak."
"Kenapa?" tanya Sirius ingin tahu.
"Tak ada satupun hasil masakannya yang layak makan," kata Toushiro kalem, sementara para penyihir tampak agak kaget mendengarnya. "Tapi dia sering sekali mengirimiku makanan, walau pada akhirnya kubuang juga."
"Paling tidak hormati sedikit perasaannya," komentar Ichigo usil. "Makan sedikit tidak akan membunuhmu, kan?"
"Oh, yeah? Aku masuk Divisi 4 waktu pertama kali mencobanya," kata Toushiro tajam. "Kalau kau mau, coba saja makan kari ayam dengan mayones dan taburan coklat dan keju, bubuk lada hitam, potongan kesemek kering dengan nori dan sirup maple, dan telur ikan tuna rebus. Mau?"
Para shinigami bergidik mendengar deretan makanan yang dicampur jadi satu itu. Pantas saja Toushiro masuk rumah sakit setelah makan makanan berkomposisi tidak aman itu!
"Er, kurasa tidak," kata Ichigo cepat.
Sayangnya, akhir makan malam itu tidak terlalu menyenangkan, begitu Harry menuntut jawaban atas beberapa pertanyaannya sehubungan dengan Voldemort. Mrs Weasley menentang untuk Harry diberitahu tentang apapun, yang ditolak mentah-mentah oleh Sirius. Tapi akhirnya Mrs Weasley menyerah, karena Mr Weasley setuju untuk memberitahukan Harry beberapa hal yang dia ingin ketahui, begitupula Lupin dan Tonks. Yang membuat Harry separo senang separo heran, kedua shinigami juga berpendapat bahwa Harry berhak untuk menerima informasi tertentu yang bisa ia tangani.
"Tidak semua?" tanya Harry sambil mengernyit, sementara Mrs Weasley mengantar-lebih tepatnya memaksa-Ginny untuk kembali ke kamarnya di atas.
"Jika ada alasan kenapa mereka tak ingin kau tahu, tentu juga alasan dimana tidak semua informasi bisa kau terima," kata Toushiro logis. "Dan percayalah, alasan itu bagus karena tidak semua hal bisa diterima oleh anak lima belas tahun."
"Hm? Aku limabelas waktu pertama kali jadi shinigami, memburu hollow dan diburu shinigami seliar hollow," kata Ichigo polos.
"Mengingat kau adalah anomali dan tidak normal, kau tidak masuk hitungan."
Ichigo merasa panah abstrak menusuk jantungnya sampai menembus punggung mendengar kalimat tanpa nada itu. Tonks malah terkekeh geli mendengar hal itu dan ekspresi Ichigo.
"Tapi dia alami banyak hal yang bahkan melebihi dari sekedar anak limabelas tahun," kata Sirius tak setuju.
Toushiro menghela napas. "Tapi dia tetap anak-anak, well, secara psikologi adalah remaja-"
"Lalu kenapa?" potong Harry.
"Kau akan belajar saat waktunya tiba, Potter. Saat kau siap, kau akan menerima informasi yang seharusnya dan memahaminya dengan baik daripada jika kau dapatkan itu sekarang. Lagipula," Toushiro mengerling Ichigo. "walaupun kau sudah mengalami banyak hal, kau juga masih belum mengerti tentang apapun tentang dunia, bahkan siapa kau sebenarnya."
Ichigo mendengus, sementara para penyihir memandang kedua shinigami muda itu bergantian dengan penasaran. "Yeah," kata Ichigo pelan, "Kau benar."
Tapi tepat saat itu ponsel Toushiro berdering, ada panggilan untuknya. Ekspresi Toushiro sedikit tak senang saat melihat nama pemanggilnya. Ia mengangkat panggilan itu dengan nada bosan, "Matsumoto, apa yang-"
"Komandan!" bahkan tanpa loudspeaker suara wanita yang bernada riang itu terdengar sangat jelas oleh Ichigo dan para penyihir. "Aku kange~n! Komandan harus tahu aku kesepian di kantor sendirian! Dan tidak ada satupun yang mampir di kantor! Benar-benar membosankan tanpa Komandan dan-"
"Maaf," kata Toushiro pada para penyihir, lalu berjalan keluar dari dapur. Para penyihir memandangnya heran, sementara Ichigo menyeringai.
"Kenapa?" tanya Tonks. "Siapa yang meneleponnya itu tadi?"
__ADS_1
"Letnannya," kata Ichigo geli. "Aku belum bilang kalau dia punya letnan yang sifatnya adalah kebalikan dari Toushiro, eh? Ya, ampun kami baru pergi paling tidak tiga jam dan dia sudah menelepon!"