
Harry dan anak-anak Weasley menunggu dengan tidak sabar di Grimmauld Place nomor 12. Albus Dumbledore mengirim mereka ke rumah keluarga Black itu yang notabene lebih dekat dengan St Mungo daripada The Burrow, dengan demikian, mereka akan lebih mudah mendapat akses pergi ke sana lebih cepat. Tak ada yang bicara selama mereka menunggu; Fred dan George tadi memaksa Sirius untuk mengizinkan mereka pergi ke St Mungo, yang dilarang keras oleh wali Harry itu karena akan terlalu mencurigakan untuk orang luar. Tindakan Ginny yang diam dan duduk di salah satu kursi berlengan tua di dapur-lah yang menghentikan pertengkaran itu. Dan sekarang kegelisahan mereka semakin bertambah setiap detiknya, bertanya-tanya kapan Mrs Weasley akan datang.
Harry juga memiliki kepanikan lain yang memenuhi pikirannya. Apa gerangan yang terjadi pada Toushiro? Kenapa Hagrid menemukannya di dalam Hutan? Dan senjata yang dikatakan Hagrid ditemukan bersamanya. Benarkah si kecil berambut putih itu terluka dalam tugasnya, seperti halnya Mr Weasley?
Harry dicekam rasa bersalah dan takut. Dua orang dalam satu malam terluka karena melakukan pekerjaan yang terselubung untuk melindunginya.
Pukul lima lewat sepuluh pagi menurut arloji Ron, mereka semua terlonjak kaget saat pintu dapur terbuka. Mrs Weasley masuk dengan wajah luar biasa pucat, tapi ia tersenyum lemah saat melihat mereka. Segera saja Harry dan anak-anak Weaasley menghampirinya.
"Dia akan sembuh," kata Mrs Weasley letih, sementara George dan Ginny menghamur ke pelukannya; Fred terenyak di kursinya sambil membenamkan wajah ke tangannya dan Ron melontarkan tawa ganjil yang gemetar saking leganya. "Dia tidur sekarang dan kita bisa menengoknya bersama-sama nanti. Bill sedang menjaganya; dia cuti pagi ini."
Dan karena matahari telah terbit di ufuk timur, Sirius bertindak bijaksana untuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Harry sendiri buru-buru segera membantu Sirius, tak ingin ditanyai oleh Mrs Weasley tentang mimpinya. Namun, ibu dari Weasley bersaudara itu memeluknya, mengucapkan terima kasih karena penglihatan Harry itu dan tindakannya untuk langsung ke Kepala Sekolah, Mr Weasley dapat diselamatkan.
Setelah sarapan dan tidur sebentar; Harry membuat dirinya tak bisa tidur dengan bersandar pada tepi tempat tidurnya yang keras dan dingin, takut jika ia tidur ia akan menyerang siapapun (mimpi ia menjadi ular dan menyerang Mr Weasley itu mempengaruhinya begitu buruk), mereka bersiap mengunjungi Mr Weasley di St Mungo. Perjalanan ke London mereka cukup menyenangkan. Suasana Natal kental terasa di sepanjang jalan yang ramai. Siapa yang menyangka bahwa di tengah tempat para Muggle berjalan ke sana ke mari untuk berbelanja di pusat perbelanjaan itu terdapat sebuah tempat sihir yang menangani penyakit dan luka-luka sihir.
Mereka bertemu Mr Weasley di Bangsal Dai Llewellyn yang suram di St Mungo. Harry lega melihat ayah anak-anak Weasley itu tak seburuk yang dilihatnya dalam mimpinya. Ia masih tampak pucat, namun ia dengan semangat menyambut mereka semua.
Kebahagiaan Harry sedikit terganggu. Saat ia dan anak-anak Weasley menunggu di luar sementara beberapa anggota Orde yang mengawal mereka menjenguk Mr Weasley, mereka mencuri dengar hal yang menakutkan Harry. Hal menakutkan bahwa kemungkinan Lord Voldemort merasukinya.
Selama perjalanan pulang, Harry tak bicara pada siapapun, membuat Mrs Weasey menanyainya dengan cemas.
"Kau yakin tak apa-apa, Nak?" tanyanya cemas, saat mereka sudah dekat dengan Grimmauld Place nomor 12. "Kau pucat sekali… apa kau tidur pagi tadi? Mungkin kau bisa tidur lagi kalau kau tak merasa sehat sampai makan malam?"
Harry mengangguk saja. Ia senang diberi alasan untuk menjauhi yang lainnya.
Hari berikutnya dilewatkan semua orang untuk memasang hiasan-hiasan Natal. Sirius dengan gembira memimpin aksi dekorasi ini, mungkin saking senangnya karena ia punya teman di libur Natal setelah sekian lama terkurung di rumah sumpek ini sendirian. Hanya Harry yang tak ikut dalam antusiasme Natal, masih merasa merana karena pembicaraan-mencuri-dengar kemarin. Ia memilih mengurung diri di ruangan Buckbeak si Hippogriff, memberinya makan bangkai tikus. Dia kaget sekali saat ada yang menggedor pintunya dengan keras.
"Aku tahu kau di dalam," kata suara Hermione. "Tolong dong, keluar, aku mau bicara denganmu!"
"Ngapain kau di sini?" tanya Harr heran, membuka pintu untuk gadis itu. "Kukira kau main ski dengan orang tuamu?"
"Sebetulnya, aku tak suka main ski, tapi jangan bilang Ron," tambah Hermione segera. Wajahnya merah jambu kedinginan dan ada salju di rambutnya. Ia menjelaskan bahwa ia ada di Grimmauld Place setelah 'menipu' orang tuanya kalau anak-anak di Hogwarts tinggal di kastil untuk belajar.
"Aku datang naik Bus Ksatria," ceritanya riang, membawa Harry turun ke dapur. "Aku sudah dengar dri Dumbledore tentang ayah Ron, tapi aku harus menunggu hingga tahun ajaran ditutup secara resmi sebelum berangkat. Umbridge marah besar karena kalian menghilang di depan hidungnya, tapi Dumbledore memberi kalian izin untuk pergi dan dia tak bisa apa-apa…"
"Bagaimana dengan Toushiro?" tanya Harry.
"Ah, itu…" Hermione tampak agak muram. "Dumbledore belum mau menceritakan apa yang terjadi, dan Madam Pomfrey melarangku dan Neville untuk menjenguknya. Tapi Ichigo datang ke sini, kita bisa tanyai dia langsung."
Benar saja, saat Hermione membuka pintu dapur, pandangannya langsung menangkap rambut jingga cerah yang lebih terang dari anak-anak Weasley. Dapur juga agak penuh; Mrs Weasley dan anak-anaknya (minus Bill, Charlie, dan Percy, tentu), Sirius, Lupin, dan Mad Eye Moody ada di sana. Tampak berbincang dengan Ichigo. Pemuda jangkung itu jelas baru datang. Kulitnya sedikit pucat dalam dingin, dan ada salju di rambutnya yang jabrik itu. Ia memakai jaket army berwarna coklat bata yang keren dan syal abu-abu gelap yang sama dengan celana panjangnya. Sepatu boot hitamnya basah, tapi dengan ayunan ringan tongkat sihir hitamnya, salju yang membasahi pakaiannya hilang seketika.
"Yo, Harry," sapanya riang, saat melihat Harry dan Hermione memasuki dapur. "Dingin sekali, ya? Bagaimana kabarmu?"
Harry hanya menjawabnya dengan anggukan ringan. Jika diamati, wajah Ichigo tampak lelah dan kernyitan di dahinya masih sama dalamnya.
"Jadi," tanya Harry setelah duduk, "kenapa kau ada disini? Bukannya…"
"Misi tetap misi," kata Ichigo kalem. "Kontraknya kami juga menjagamu selain menjaga Hogwarts."
Harry merasa bertambah merana mendengar hal itu. Dia bukan anak kecil yang perlu dijaga! "Tapi Toushiro…"
"Nah, kita baru mau sampai ke situ," kata Fred penasaran. "Ada apa sebenarnya? Aku lihat Hagrid buru-buru mencari Urahara-sensei…"
"Serangan Arrancar," kata Ichigo serius, mengagetkan mereka semua. "Setelah pertemuan LD itu, aku dan Toushiro merasakan kehadirannys, tapi kami tak bisa bilang 'kan? Karena itu hanya Toushiro yang pergi menanganinya, sementara aku membawa kalian ke Menara Gryffindor dan menunggu. Tapi dia bertarung sampai berjam-jam dan tak kembali… reiatsu-nya juga melemah, jadi aku keluar untuk melihatnya dan, well… Hampir saja dia tewas."
"A-apa yang terjadi padanya?" tanya Mrs Weasley ngeri. "Lukanya parah?"
"Sebenarnya tidak," kata Ichigo, menghela napas. "Dia pernah alami yang lebih parah dari sekedar tersayat begitu. Tapi ternyata Arrancar itu pengguna racun; tak kusangka dia bisa seceroboh itu tak menyadarinya. Untung saja ada Urahara, dia bisa membuat antidote-nya dengan cepat. Untuk sementara dia tidak boleh keluar rumah sakit; dia kesal sekali."
"Eh? Dia sudah tidak apa-apa?" tanya Ginny.
"Yeah. Belum bisa jalan, sih; racunnya menyerang sistem saraf soalnya. Tapi kalau dia sudah bisa begini, dan bilang," Ichigo mengernyit lebih dalam, menyipitkan matanya, lalu merendahkan suaranya, meniru Toushiro, ''aku baik-baik saja dan keluarkan aku dari tempat terkutuk ini!' itu artinya dia akan segera sembuh."
Ginny terkikik lemah.
"Aku tak tahu Urahara bisa menyembuhkan dan membuat ramuan penangkal… Kenapa tidak Snape?" tanya Lupin.
"Nah, racun Arrancar itu beda, penyihir belum tahu seperti apa susunannya, 'kan?" kata Ichigo, melepas syalnya. "Dan sebetulnya, Urahara-san bukan guru betulan, kalian ingat? Dia mantan Komandan Divisi 12, Divisi Riset dan Teknologi. Dia itu ilmuan, salah satu shinigami paling jenius yang pernah ada," Ichigo mendengus jengkel, sebal karena harus mengakui kemampuan mentornya itu. "Tak ada yang tak dia tahu, cuma tingkahnya saja yang aneh. Untung juga dia ikut dalam misi kali ini, nyawa Toushiro tertolong lagi karena penemuannya, walau yang sebelumnya itu bahaya juga sih…" ujar Ichigo, yang kalimat terakhirnya lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
"Ha? Yang sebelumnya?" tanya Sirius.
"Yeah, dia ambil risiko dengan mentransfer kemampuan hollow pada beberapa komandan yang kehilangan bankai-nya dalam pertempuran, dan Toushiro itu salah satunya…"
"Hollow?" tanya Hermione ngeri. "Bukannya kau bilang itu musuh kalian? Monster mengerikan dengan topeng putih aneh?"
"Yap."
"Shinigami dengan kekuatan hollow?" ulang Lupin. "Bagaimana itu bisa…"
"Nah, jangan tanya aku, aku tak bisa jelaskan dengan baik. Urahara orang pertama yang tahu tentang fenomena ini, mungkin dia bisa jelaskan. Yang jelas, untungnya kemampuan itu cuma sementara, jadi Toushiro dan tiga komandan lain 'bersih' dari infeksi hollow setelah habis durasi obat aneh itu."
"Dan itu sebabnya sewaktu kalian pertama datang kemari Komandan Tertinggi kalian bilang Toushiro luka…" sela Mrs Weasley.
"Ah, yeah. Tapi sekarang luka-luka itu sudah sembuh." Ichigo menggaruk belakang kepalanya. "Serangan terakhir musuhnya waktu perang itu lumayan juga, dan dia keras kepala sekali, memaksakan diri melewati batasnya, tidak mau menyerah untuk melindungi Hi- aha! Kita lepaskan saja topik bikin galau ini!" banyak yang heran melihat Ichigo secara mendadak mengalihkan percakapan. ""Bagaimana keadaan Mr Weasley? Aku tidak dengan apapun tentang dia."
"Sebentar Ichigo," sela Lupin, "Aku ingin tanya… sehubungan dengan terlukanya Toushiro, alibi apa yang kalian buat untuknya? Aku belum dengar apapun dari Dumbledore tentang ini."
"Ceritanya," kata Ichigo, tampak agak geli sekarang, "Toushiro bermaksud menanyai Urahara tentang pelajaran semester depan dan kemungkinannya untuk pulang ke Jepang untuk liburan Natal. Tapi, di tengah perjalanan, dia di sergap oleh makhluk asing tak di kenal yang menyeretnya ke Hutan Terlarang. Makhluk itu menyerangnya dengan racun sebelum meninggalkannya sekarat di Hutan. Toushiro tak bisa melihatnya dengan jelas karena dia di serang dari belakang, dan di dalam Hutan terlalu gelap untuk melihat apapun. Cerita yang bagus, eh?"
Para penyihir tercengang mendengar alibi palsu itu. Terutama, bagaimana dengan santainya Ichigo menceritakannya pada mereka.
__ADS_1
"Creepy," komentar Fred.
"Tapi itu brilian!" tambah George, yang lalu bertukar seringai dengan saudara kembarnya.
"Yeah, bahkan Umbridge percaya dengan cerita itu," kekeh Ichigo.
"Apa katanya?" tanya Ron tertarik.
"'Kementerian akan memastikan penyerangan seperti ini tidak akan terjadi lagi. Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk menyelesaikannya, dan mengangkap makhluk itu… bla, bla, bla," tiru Ichigo, menirukan wajah kodok Umbridge yang gagal dilakukannya; bentuk wajah Ichigo tirus, tidak bundar aneh sepertinya. "Menyelesaikan apa, Toushiro sudah membereskan makhluk itu. Kalau mau cari, pergi saja ke neraka sana. Ha!"
"Eh?" para penyihir tercengang.
"Membereskan?" ulang Lupin.
"Iya." Ichigo balik menatap wajah-wajah kaget para penyihir. Bukannya sudah jelas, kalau tugas shinigami adalah membereskan, bahasa kasar dari mensucikan hollow, entah dalam bentuk apapun? Ia yakin Toushiro dan dirinya sudah menjelaskan tentang hal ini pada mereka. Tapi ia kemudian sadar, bukan salah siapapun kalau mereka tertipu dengan penampilan Toushiro. "Lalu, ada cerita apa nih?"
"Well," kata Mrs Weasley memulai, tak ingin membahas bagaimana si kecil Toushiro Hitsugaya melawan monster entah apa, "Mereka berhasil menyelamatkan Arthur. Tinggal perawatan saja di St Mungo. Kami akan menjenguknya lagi Natal nanti, kau boleh ikut, Ichigo. Arthur pasti senang bertemu denganmu lagi."
"Tentu, tentu," kata Ichigo ringan. Ia cukup menyukai ayah anak-anak Weasley itu, lagipula. Orangnya hangat dan ramah. Walau jika membicarakan tentang kehidupan Ichigo yang masuk kategori kehidupan Muggle akan membangkitkan antusiasme berlebih pada Arthur Weasley. Ichigo yakin ia melihat pendar penuh semangat yang mengingatkannya pada keeksentrikan ayahnya saat akan meninjunya jika bicara tentang sakelar, listrik, dinamo, dan sistem satelit. Ichigo benar-benar berharap Mr Weasley tidak bertanya tentang cara membuat game. Ia sendiri lebih suka memainkannya daripada mengetahui cara membuatnya.
"Apa keluargamu di Jepang tidak mempermasalahkan kau tidak pulang untuk Natal?" tanya Mrs Weasley perhatian.
Ichigo tersenyum setengah hati. "Tidak masalah sebetulnya. Mereka mengerti. Lagipula sejak jadi shinigami pengganti, jujur saja, aku jadi jarang di rumah; tak ada yang tahu kapan hollow muncul 'kan?"
Para penyihir dewasa bertukar pandang penuh arti. Mereka menyadari, bahwa Ichigo baru tujuh belas tahun. Semuda itu – bahkan lebih muda dari usia roh Toushiro – ia telah memiliki tanggung jawab yang begitu besar.
"Kau membuatku bertanya-tanya, Ichigo," kata Sirius sungguh-sungguh. "Kau masih muda, dan aku yakin tak banyak orang dalam usiamu yang mau melibatkan diri dalam urusan roh seperti yang kau lakukan. Tidakkah hal itu memberatkanmu? Yah, kau tahu, remaja biasanya menginginkan kebebasan bergaul dengan teman sebayanya… bersenang-senang…" Sirius sedikit teringat bagaimana masa mudanya yang dihabiskan dengan menjadi pembuat onar dengan James Potter.
Ichigo, anehnya, tertawa kecil. "Aku masih manusia, kok," katanya enteng. "Remaja normal juga. Siapa bilang karena aku shinigami pengganti aku tidak bisa sedikit bersenang-senang, eh? Aku masih bisa belajar di kelas… masih juga bisa jalan bareng dengan teman-temanku… main game… baca manga… kerja sambilan… Masih juga bisa berkelahi dengan anak sekolah lain dan…"
"Berkelahi dengan anak sekolah lain?" ulang Mrs Weasley kaget.
Ichigo langsung menggaruk belakang kepalanya, gugup. "Hehehe… Aku juga nggak terlalu lurus kok…"
"Hebat!" seru Fred dan George bersamaan.
"Lalu," kata Fred, matanya berkilat jahil.
"… apakah itu juga termasuk…"
"… mengencani seorang gadis?"
Ichigo tersedak tehnya yang baru di minumnya. Sirius tertawa melihat ekspresi kaget Ichigo, sementara yang lainnya menahan tawa mereka dengan senyum penasaran; Moody menggelengkan kepalanya. Harry sendiri juga penasaran. Ichigo lebih tua darinya. Lagipula si rambut jingga itu punya good looking, dengan tubuh jangkung dan atletis yang didukung wajahnya yang tirus namun tegas dan tampan khas Asia Timur, modal yang lebih dari cukup untuk menarik perhatian gadis-gadis. Dan jika ia punya pengalaman mendekati gadis siapa tahu Harry bisa bertanya – walaupun ia tahu ini akan konyol sekali – tips untuk mendekati Cho Chang.
"Pertanyaan macam apa itu?" sedak Ichigo.
"Oh, ayolah," seringai George.
"Bukan urusanmu!" gerutu Ichigo.
"Kudengar gadis-gadis Jepang itu cantik-cantik, masa tidak ada satupun yang kau gandeng?" tambah Sirius, nyengir.
"Sudah kubilang itu- eh?"
Ucapan Ichigo terhenti mendadak. Mereka semua diam, bisa mendengar ada bunyi getaran dari saku jaket Ichigo. Si rambut jingga itu menarik keluar ponsel hitamnya, yang layarnya menyala dan berkelip, tanda ada panggilan.
"Siapa?" tanya Hermione. Mereka melihat kelelahan yang tampak, sekalipun samar, di wajah Ichigo lenyap seketika. Dengan riang ia berdiri.
"Adikku. Aku akan terima telepon dulu di atas."
Dan Ichigo pun berlalu meninggalkan dapur. Suaranya yang agak kesal karena digoda oleh si kembar digantikan oleh nada yang jauh lebih ramah, menghilang begitu ia menutup pintu.
"Dia lebih dewasa dari yang terlihat," komentar Lupin.
"Aku penasaran siapa gadis yang membuat dia bilang itu bukan urusan kita," kata Sirius. "Apakah si Rukia yang kemarin dulu dibicarakan itu? Yang kakaknya datang kemari itu?"
"Sepertinya begitu," kata George.
"Dia selalu menghindar jika diledek. Pasti ada apa-apanya…"
"Sudah, Fred, George," tegur Mrs Weasley. "Tidak baik ikut campur urusan pribadi orang. Sekarang, aku perlu tangan-tangan kalian untuk menyiapkan makan malam."
Harry, meskipun agak enggan untuk berada di keramaian begini mau tak mau harus membantu Mrs Weasley juga. Ia menghindari bercakap dengan Ron, namun Hermione berkali-kali membuat ia dan Ron terlibat percakapan.
Setelah makan malam, semuanya menjadi lebih baik. Golden Trio ditambah Ginny telah mendiskusikan kemungkinan Harry dirasuki oleh Voldemort di antara percakapan di saat makan malam yang ramai. Karena Ginny menjadi satu-satunya orang yang dikenal Harry pernah dirasuki Voldemort lewat buku harian, Harry jadi mengerti karena ia tidak mengalami hal itu. Ia masih ingat apa yang ia lakukan, dan ia tidak pula merasa memiliki periode-periode kosong tanpa ia sadari. Ia masih tak mengerti kenapa ia bisa mendapat penglihatan mengerikan itu, tapi untuk saat ini, dia lega bukan kepalang mengetahui kalau ia tak dirasuki.
Hari-hari menjelang Natal sekarang dipenuhi keriang gembiraan. Sirius menjadi tuan rumah yang baik dan ramah, membuat siapa saja yang ada di Grimmauld Place nomor 12 merasakan kebahagiaan Natal yang sama, bahkan lebih, seakan mereka ada di Hogwarts. Ia berhasil membuat rumah keluarganya meninggalkan sebagian besar kesan suramnya. Rangkaian holly dan pita-pita emas maupun perak menghiasi rumah. Gundukan salju sihir yang berkilau menumpuk di atas karpet tua ruang keluarga yang tipis. Pohon Natal besar yang didapat Mundungus Fletcher entah dari mana pun telah dihias cantik, lengkap dengan peri-peri sungguhan yang terbang mengitarinya dengan gembira. Bahkan hiasan kepala peri rumah di dinding pun dihiasi; semuanya memakai topi dan memiliki jenggot Santa Klaus.
Hari Natal Ichigo dimulai sembilan jam lebih cepat karena perbedaan waktu antara Inggris dan Jepang. Ia tak mengeluh, tentu saja, karena mendapat telepon yang membangunkannya mendadak di kamar yang dihuninya sendirian; musim panas lalu ditempatinya bersama Toushiro, soalnya. Sekalipun tak bisa merayakannya bersama-sama seperti biasa, ia cukup terhibur mendengar ucapan selamat dari Yuzu dan Karin, bahkan ayahnya yang aneh itu. Setelahnya, ia mendapat salam dari Orihime, Chad, Uryuu, Tatsuki, Keigo, dan Mizuiro.
Ia agak terkejut juga melihat setumpuk hadiah di kaki tempat tidurnya saat ia bangun pada jam enam pagi. Ternyata anggota Orde dan beberapa teman Hogwarts-nya memberikan hadiah untuknya. Ia mendapat buku Penggunaan Kutukan dan Mantra Praktis dari Hermione, satu set catur sihir dari Harry, dan Cokelat Kodok dan Permen Segala Rasa dari Ron. Mr dan Mrs Weasley menghadiahinya sweater rajutan tangan berwarna merah marun dan pai daging yang lezat. Lupin dan Sirius memberinya buku juga, tentang Pertahan terhadap Sihir Hitam. Ia heran mendapat kiriman dari Ukitake, yang berisi sebuah kimono mahal berwarna biru tua. Seingatnya Ukitake itu orang Jepang tulen, tak akan ambil pusing dengan budaya, kepercayaan, dan perayaan bangsa lain. Ternyata, tidak begitu juga.
Setelahnya, ia pun bersiap turun, memakai sweater barunya yang ternyata pas sekali di tubuhnya. Ia bertemu dengan yang lainnya di dapur, saling mengucapkan selamat Natal.
"Terima kasih sweater-nya, Mrs Weasley," kata Ichigo tulus. "Ini bagus sekali."
"Tak apa-apa, dear, tak apa," kata Mrs Weasley penuh sayang.
Setelah makan siang Natal, mereka – minus Sirius, tentu – bersiap untuk mengunjungi Mr Weasley di St Mungo. Ichigo tampak senang berada di luar rumah keluarga Black. Namun, Harry menduga kalau keriangannya adalah karena ia berada di luar teritori sihir, melihat kehidupan manusia biasa yang selama ini lebih familiar baginya. Bahkan, ia langsung mengeluarkan ponsel miliknya sendiri yang baru bisa diaktifkan di luar medan sihir Grimmauld Place nomor 12. Saat ditanya Ginny apa yang dilakukannya, Ichigo mengatakan bahwa ia sedang memainkan game online.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Ron heran.
"Permainan dalam layar yang bisa dimainkan lewat jaringan internet," kata Hermione. Ia menghela napas melihat raut bingung Ron. "Makanya, Ron, bacalah Telaah Muggle sesekali agar kau mengerti…"
"Nah, sederhananya, aku sedang mainkan permainan di ponsel ini dengan bantuan koneksi 'sihir Muggle'." Ichigo memang sering menggunakan istilah sihir Muggle untuk mengganti kata teknologi. "Sudah tiga bulan lebih aku tak memainkannya, rasanya gatal untuk pecahkan rekor lagi. Dan baca manga shounen favoritku…"
Harry dan Hermione bertukar pandang, sementara Ron menatap Ichigo dengan bingung. Sekalipun Harry dan Hermione yang paling familiar dengan kehidupan Muggle, mereka tidak terlalu mengerti dengan game dan manga. Harry selalu dilarang menyentuh permainan game milik Dudley dan pasti akan digerecoki jika berani memandang tumpukan komik sepupunya itu. Sedangkan Hermione, well, dia tidak akan mengenal benda-benda itu; jika diluar teritori sihir Hogwarts, waktunya diisi dengan membaca buku.
Jalanan menuju ke St Mungo siang itu sepi. Tak banyak pejalan kaki di sekitar kawasan perbelanjaan di London di hari Natal. Ichigo mematikan ponselnya begitu mendekati sebuah toko serba ada kuno dari batu bata merah bertuliskan Purge & Dowse Ltd. Tak salah lagi, bangunan ini adalah bangunan – rumah sakit – sihir yang dikamuflase, mengingat sinyal ponsel Ichigo yang menyusut drastis.
Ichigo diberitahu oleh Lupin bahwa untuk sampai di ruang penerimaan St Mungo ia harus berjalan menembus etalase kaca tempat manekin buruk berbaju hijau nilon di toko tua di depannya itu. Dan, begitu mereka semua tiba di ruang penerimaan, mereka mendapati tempat itu di dekorasi dengan banyak rangkaian holly, pohon Natal, salju dan untaian es sihir yang berkelap-kelip.
Rumah sakit sihir itu sepi pengunjung, mungkin karena hari itu perayaan Natal. Mereka bertemu dengan Mr Weasley yang duduk bersandar pada bantal, tampak senang melihat kedatangan mereka.
"Semuanya baik-baik saja, Arthur?" tanya Mrs Weasley, setelah mereka semua menyalami Mr Weasley dan memberi hadiah mereka.
"Baik, baik," kata Mr Weasley agak berlebihan. "Kau, eh, belum bertemu Penyembuh Smethwyck, kan?"
"Belum," kata Mrs Weasley curiga. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," ujar Mr Weasley ringan. Ia tampak jelas berusaha menutupi sesuatu. Sialnya, istrinya benar-benar gigih dalam mencari tahu. Mereka semua sekarang tahu kalau Mr Weasley mencoba menggunakan salah satu metode pengobatan Muggle, yakni jahitan, tanpa sepengetahuan Mrs Weasley.
Hal berikutnya yang diketahui Ichigo, ia ditarik keluar bangsal Mr Weasley oleh Ginny, tepat ketika suara Mrs Weasley meninggi tak menyenangkan. Golden Trio bergegas menyusul di belakangnya. Mereka bermaksud pergi ke kafetaria di tingkat lima untuk menyusul Bill, Fred, dan George yang sudah pergi lebih dulu karena mengenali bahaya lebih cepat. Mereka bisa mendengar Mrs Weasley berteriak marah pada suaminya saat mereka menjauhi bangsal itu.
"Khas Dad," kata Ginny menggelengkan kepala dengan geli. "Jahitan… ya ampun…"
"Jahitan sebetulnya cukup berguna untuk menyembuhkan luka-luka bukan sihir," kata Hermione. "Tapi mungkin ada sesuatu di bisa ular itu membuyarkannya. Di mana kafetarianya, ya?"
Harry ingat petunjuk di dekat meja resepsionis di lantai bawah, lalu memimpin mereka naik ke lantai lima. Di sepanjang koridor, lukisan para Penyembuh yang berjajar tak hentinya memanggil-manggil mereka, mendiagnosis bahwa mereka semua memiliki penyakit-penyakit ganjil, dan menyarankan obat-obatan yang lebih ganjil lagi. Ron benar-benar merasa terhina saat salah satu dari lukisan itu, seorang peyihir dari abad pertengahan yang meneriakkan bahwa ia menderita spattergroit parah. Ichigo gusar sekali pada lukisan penyihir wanita bertampang liar yang menuduhnya kena kutukan mematikan dengan gejala rambut berwarna jingga cerah dan kernyitan dalam yang akan berujung pada transformasi mengerikan.
"INI WARNA ALAMI DAN BALIK SANA KE LUKISANMU SENDIRI, OLD HAG!" raung Ichigo murka.
Tak ada yang mau repot-repot menahan tawa melihat tingkah Ichigo. Wajahnya yang pucat memerah karena marah, dengan gerutuan dan umpatan kaya kata meluncur bertubi-tubi di sepanjang bordes bertanda CEDERA KARENA MANTRA. Mungkin teriakan Ichigo itu terdengar oleh pasien di dekat tempat itu. Seorang pria memadang mereka dengan tajam dari balik jendela sebuah ruangan. Pria itu lalu menghilang, dan muncul lagi di pintu yang terbuka. Pria itu berambut pirang ikal, dengan mata biru cerah dan senyum lebar yang memamerkan gigi-giginya yang kelewat putih.
"Astaga!" seru Ron kaget. Hermione juga terkejut melihatnya.
"Halo semuanya!" sapa pria itu riang. "Kalian mau minta tanda tanganku, ya?"
"Hah?" Ichigo mengerjap bingung. "Siapa dia?"
"Gilderoy Lockhart. Dia mantan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kami," kata Harry menjelaskan. "Dia dulu – eh – kena mantra salah kaprah, jadinya hilang ingatan begitu…"
Ichigo menatap Lockhart dengan tatapan tak yakin. Menurutnya pria di depannya tak cocok jadi guru. Lebih mirip pria sok cantik model iklan dalam majalah yang menawarkan produk perawatan rambut.
Tepat saat itu seorang Penyembuh berwajah keibuan muncul dari balik pintu. Senyumnya yang hangat dan prasangka bahwa Ichigo dan yang lain datang untuk menjenguk Lockhart menggagalkan tujuan awal mereka ke kafetaria. Mereka terpaksa mengikuti si Penyembuh masuk ke dalam bangsal. Si Penymbuh lalu meninggalkan mereka untuk mengurus pasien-pasien yang lain, sedangkan Lockhart mengoceh tak jelas tentang para penggemar sambil sibuk menandatangani foto-foto narsisnya dengan rangkaian huruf patah-patah seperti tulisan anak kecil. Sesekali ia melempar komentar aneh pada mereka, termasuk ke Ichigo.
"… kau tak bisa memasang tampang mengerikan itu pada semua orang, Anak Muda," katanya sok. "Banyak senyum, berdasarkan pengalamanku, adalah metode sederhana yang akan membuatmu terkenal dan digandrungi kaum hawa… Setelahnya kau akan terkenal sepertiku, dan sisa hidupmu akan menyenangkan dengan menandatangani foto kerenmu sendiri untuk para penggemarmu dan…"
Ron terkekeh tertahan, sedangkan Ginny terkikik geli mendengar ocehan itu. Ichigo membelalak. Tadi ia diocehi oleh lukisan Penyembuh, sekarang dikomentari oleh pasien hilang ingatan yang terobsesi pada dirinya sendiri! Ichigo tak mengubah tampang cemberutnya, menyilangkan tangan di depan dada sambil bersandar ke kursi yang diduduki Ginny, seakan ia menantang Lockhart kalau masih mau mengomentari tampangnya lagi. Namun Lockhart tak melihatnya, menunduk dengan serius untuk menandatangani setumpuk foto lain dengan pena bulu.
Perhatian mereka teralih saat si Penyembuh yang sedang menebarkan hadiah Natal pada para pasiennya menyebut sebuah nama yang tak asing. Ichigo dan yang lain menoleh, melihat Neville Longbottom berada di ujung ruangan, di antara dua tempat tidur yang tadi ditutupi oleh tirai. Di sampingnya berdiri seorang penyihir perempuan tua yang penampilannya menujukkan rasa hormat.
Neville tampak sangat kaget mendapati teman-temannya ada di sana. Wajahnya seketika berubah pucat dan tampak tertekan.
"Neville! Coba lihat, Lockhart ada di sini!" kata Ron ceria. "Eh? Kau menjenguk siapa?"
"Teman-temanmu, Neville?" tanya nenek Neville ramah, menatap mereka semua. Neville tak menjawab, memilih menunduk menatap kakinya dengan wajah keunguan. Nenek Neville tak melihatnya, menyalami mereka satu per satu.
"Ah, ya, Nak. Aku tahu siapa kau," kata Nenek Neville dengan senyum ramah, "Harry Potter… Neville sangat memujimu. Dan kalian," ia bergantian menyalami Ronn dan Ginny. "Kakak beradik Weasley. Aku kenal orang tua kalian… orang-orang baik. Dan, eh, Hermione Granger?" Hermione tampak agak tersipu melihat nenek tua itu mengetahui dirinya. "Neville menceritakan padaku tentangmu, kau sering membantunya dalam pelajaran, 'kan? Dan," Mrs Longbottom menatap Ichigo, yang membungkuk sopan, lalu menyalaminya. "kau salah satu murid pindahan yang diceritakan Neville, bukan? Rambut jingga, kau pasti Ichigo Kurosaki."
"Benar sekali," kata Ichigo sopan, ekspresi cemberutnya untuk Lockhart sudah lenyap.
"Maaf jika Neville merepotkanmu; kudengar dia sering mendapat bantuan darimu dan anak yang satu lagi…"
"Ah, bukan apa-apa," kata Ichigo ringan.
Mrs Longbottom tersenyum, mengerling ke cucu laki-lakinya. "Dia anak baik. Sayang sekali dia tak memiliki bakat ayahnya." Ia mengedikkan kepalanya ke arah ujung ruangan.
"Apa?" Ron memandang Neville dengan heran. "Ayahmu di sana Neville?"
"Apa ini?" Mrs Longbottom berkata dengan nada tajam, mengejutkan mereka semua. Ia menatap Neville yang tampak merasa bersalah. "Apa kau belum menceritakan apa yang terjadi pada orangtuamu, Neville?"
Diamnya Neville adalah jawaban yang cukup untuk sang nenek.
"Itu bukan sesuatu yang memalukan!" bentak Mrs Longbottom marah. "Kau seharusnya bangga, Neville, bangga! Mereka tak mengorbankan kesehatan dan kewarasan mereka agar anak mereka satu-satunya malu akan mereka!"
"Aku tidak malu," kata Neville pelan. Mereka semua, kecuali Harry, memandang Neville dengan heran.
"Kalau begitu caramu menunjukkannya aneh!" Mrs Longbottom mengalihkan pandangannya pada mereka. "Anakku dan istrinya, disiksa sampai mengalami gangguan kejiwaan oleh pengikut Kalian-Tahu-Siapa."
Hemione dan Ginny terpekik pelan; Ron membelalak kaget. Ichigo menatap Neville yang masih tak memandang satupun dari mereka.
"Mereka dulunya Auror," kata Mrs Longbottom lagi, "yang sangat dihormati dalam komuitas sihir. Mereka orang-orang baik, berbakat, dan – ya, Alice sayang, ada apa?"
Seorang wanita dalam gaun tidur berwarna krem bergerak mendekati mereka. Wanita itu tampak kurus dan letih. Matanya bulat besar dan menonjol, dan rambutnya kehilangan sebagian besar warna hitamnya, berwarna putih kusam dan tipis. Walaupun tampak pucat dan sakit, mereka bisa melihat bentuk wajah bundar yang sama dengan Neville. Tak salah lagi, wanita itu adalah ibu kandung Neville Longbottom. Wanita itu membuat gerakan caanggung dan malu-malu ke arah putranya, menyodorkan sesuatu ke tangan kurusnya yang terjulur. Neville menerimanya dengan gemetar, ternyata adalah bungkus kosong permen karet Drooble's Best Blowing.
"Bagus sekali, sayang," kata Mrs Longbottom dengan suara diriang-riangkan sambil membelai bahu Alice Longbottom, yang kemudian berbalik meninggalkan mereka sambil bersenandung tanpa irama. Neville menggenggam bungkus kosong ditangannya dengan erat, menatap teman-temannya dengan wajah kaku, seakan menunggu mereka untuk meledeknya. Tapi mereka hanya diam.
Kemudian, Mrs Longbottom pamit pergi. Neville hanya mengangguk tanda berpisah, lalu bergegas menyusul neneknya. Mereka melihat teman Gryffindor berwajah bundar itu memasukkan bungkus permen karet yang diberikan ibunya ke saku celananya alih-alih membuangnya ke tempat sampah seperti yang di perintahkan neneknya.
__ADS_1
Ichigo menatap punggung Neville yang menghilang di balik pintu. Sekarang ia tahu alasan kenapa Neville ingin memukul Draco Malfoy hari itu. Yang dikatakan si pirang Slytherin itu menyinggungnya, membuatnya marah sekaligus sedih, membuatnya teringat pada orangtuanya yang tak akan pernah mengingatnya lagi. Ichigo membuat catatan mental dalam benaknya; jika ada hal serupa terjadi untuk kedua kalinya, ia tak akan mencegah Neville untuk memukul pelakunya. Itu mungkin terdengar kekanak-kanakan, tapi menurut Ichigo, itu adalah cara Neville berdiri untuk kehormatannya dan orang tuanya.