
Sebuah pengumuman besar telah ditempel di papan pengumuman Gryffindor pada hari Senin pagi. Harry yang baru turun bersama Ron melihat sebagian teman seasrama mereka merubungi papan pengumuman, berbisik-bisik seru. Tepat saat itu sosok jangkung Ichigo menyeruak keluar dari kerumunan, menghampiri Toushiro yang duduk di salah satu sofa empuk di dekat rak buku. Jelas ia memberitahukan isi pengumuman itu pada si rambut putih. Harry dan Ron mendekati pengumuman itu lebih dulu; Ron membacanya dengan mudah karena dia lebih tinggi dari Harry.
ATAS PERINTAH
INKUISITOR AGUNG HOGWARTS
Semua organisasi, perkumpulan, tim, grup, dan klub pelajar sejak saat ini dibubarkan.
Yang didefinisikan sebagai organisasi, perkumpulan, tim, grup, atau klub adalah pertemuan regular tiga atau lebih pelajar.
Izin untuk membentuk kembali hal di atas bisa diminta kepada Inkuisitor Agung Hogwarts (Profesor Umbridge).
Tak ada organisasi, perkumpulan, tim, grup, atau klub pelajar yang dibentuk tanpa sepengetahuan dan persetujuan Inkuisitor Agung.
Pelajar yang ketahuan membentuk, atau menjadi anggota, organisasi, perkumpulan, tim, grup, atau klub yang tidak disetujui oleh Inkuisitor Agung akan dikeluarkan dari sekolah.
Peraturan di atas sesuai dengan Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Empat.
Tertanda, Inkuisitor Agung Hogwarts
Di bawah pengumuman itu tertera tanda tangan meliuk dan nama Umbridge, berikut cap Kementerian Sihir yang membuatnya tampak sangat resmi. Harry dan Ron bertukar pandang.
"Dia tahu," kata Harry geram, mengepalkan tangannya. Kegusaran dan kekesalan memenuhi benaknya.
"Tak mungkin," sergah Ron segera.
"Semua kemungkinan tetap ada," terdengar suara Toushiro di belakang mereka dalam suara rendah. Keduanya menoleh. Mata turquoise itu memandang papan pengumuman dengan kernyitan di antara alisnya, sedangkan Ichigo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tak sabar. "Tapi Granger bilang dia memantrai perkamen itu, jadi jika salah satu dari kita ada yang membocorkan pertemuan, kita akan tahu. Tapi jika tidak, itu berarti kalian harus waspada pada dinding di sekitar kalian."
"Kami turun duluan," kata Ichigo. "Ada beberapa surat datang untuk kami hari ini."
Harry dan Ron menunggu Hermione untuk turun ke Aula, mendiskusikan pengumuman sial itu selama perjalanan. Ron benar-benar penasaran pada efek kutukan pada perkamen itu.
"Kira-kira begini," kata Hermione, "jika dibandingkan, jerawat Eloise Midgeon akan tampak seperti bintik-bintik imut. Ayo kita turun sarapan dan lihat apa kata yang lain…"
"'Lihat apa kata yang lain'," ulang Ron dalam suara rendah, saat mereka keluar dari lubang lukisan. "Lihat-ada-yang-tidak-beres-dengan-muka lebih tepat."
Suasana di Aula Besar pagi itu tampak sedikit ganjil. Obrolan dan gerakan para siswa tak dianya lagi membicarakan Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Empat. Tampak Ichigo dan Toushiro duduk di seberang Fred dan George, sedang membaca salah satu lembaran dari setumpuk kecil surat di samping piring sarapan masing-masing. Keduanya mengabaikan dengung percakapan di sekitarnya, asyik sendiri membaca barisan huruf asing yang tak bisa dibaca Harry.
"… Kita akan tetap melaksanakannya," kata Hermione tegas. "Harry sudah setuju juga." Harry mengangguk mengiyakan. "Bagaimana menurut kalian?"
Kedua shinigami itu mendongak dari suratnya. Toushiro mengangguk, lalu kembali ke suratnya. Ichigo melambaikan tangannya dengan malas, menjawab kalem, "Tentu, tentu."
"Surat dari siapa, sih?" tanya Ron ingin tahu, mengintip dari bahu Toushiro ke arah surat yang tak bisa dibacanya. "Bah, aku tak tahu apa isinya!"
"Surat ini untukku, bukan untukmu," kata Toushiro datar, masih membaca suratnya.
"Karin buat masalah lagi," gumam Ichigo, nyengir saat matanya bergerak semakin ke bagian bawah surat. "Berkelahi dengan anak kendo, astaga, dan menang! Ckckck…"
"Kurosaki memng tahu cara terlibat masalah," komentar Toushiro, melipat surat terakhir dan mengambil semua surat di meja untuk di simpan di sakunya. Ia menarik piring berisi sandwich-nya.
Ichigo mengangkat bahu. "Paling tidak dia tahu cara membela diri… tapi kadang bikin cemas juga…" Ichigo tampak berpikir sejenak.
"Siapa Karin?" tanya Hermione.
"Adikku."
"Aku baru tahu kau punya adik," kata Neville agak terkejut.
"Dua adik perempuan, mereka kembar non-identik," kata Ichigo, tersenyum. Harry menangkap nada riang dalam suaranya.
"Cantik?" tanya Fred dan George bersamaan, seringai yang sama persis yang dimaksudkan untuk menjahili Ichigo terpasang di wajah mereka. "Semenakjubkan persamaan kami?"
Ichigo membelalak galak, membuat si kembar Weasley tertawa.
"Kepribadian dua Kurosaki kembar itu bertolak belakang," kata Toushiro datar. "Karin tomboy, Yuzu feminin, dan mereka tidak seperti kalian."
"Kau benar-benar merusak suasana," kata Fred, berpura-pura sakit hati.
"Kukira Ichigo tak akan keberatan karena dia tak akan terlalu memikirkan adiknya jika dia punya Lady Rukia entah siapa itu…"
Ucapan George terpotong geraman frustrasi Ichigo. "Tak ada apa-apa antara aku dan Rukia!"
Tapi tawa Fred dan George semakin keras. "Kalaupun iya itu justru bagus! Paling tidak ada cowok yang tahu cara menarik cewek!"
"Sialan," gerutu Ichigo.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu, Toushiro? Ada gadis yang ada apa-apa denganmu?" tanya Fred usil.
"Tidak ada," kata Toushiro acuh.
"Oh, yeah? Aku dengar tentang kau dan Hinamori-san…"
Kata-kata Ichigo terpotong begitu melihat ekspresi Toushiro. Ichigo mengumpat dalam hati. Sial! Seharusnya dia tidak menyebut nama Hinamori!
Tapi yang lain tak menyadari perubahan ekspresi Toushiro. Mereka tak melihat kilatan kesedihan dan luka di mata turquoise itu.
"Wah, siapa di-"
"Maaf, Toushiro, maaf," kata Ichigo segera, tampak merasa bersalah; Harry menyadari kalau Toushiro memegang garpunya begitu erat sampai jari-jarinya memutih.
Seringai si kembar membeku; Harry dan Ron bertukar pandang bingung. Toushiro menjatuhkan garpunya, lalu tanpa bicara, ia meninggalkan Aula.
"Kenapa dia?" tanya Neville cemas.
Ichigo menggeleng perlahan, lalu menghela napas.
Toushiro bisa saja seorang komandan, seorang shinigami yang membangun konsep untuk tidak mengedepankan emosi. Ia pun tahu betul kalau Toushiro bukan tipikal orang yang menunjukkan perasaannya seperti buku yang terbuka. Sembunyikan, jangan perlihatkan, jangan sampai ada yang tahu, adalah parafrase untuk sikapnya yang dingin. Membuka emosinya berarti membuka kelemahannya. Ichigo ingat saat ia melihat Toushiro benar-benar hilang kendali, saat Aizen menciptakan ilusi yang membuat si rambut putih melukai orang yang paling disayanginya pada Winter War beberapa waktu yang lalu. Semua ketenangan, pengendalian diri yang dibangun bersama dinding es atas perasaannya runtuh, berakibat pada luka parah dan penyesalan yang menyakitkan untuk dibawa seumur hidupnya. Luka itu bertambah saat pasukan Quincy itu menginvasi Seireitei.
(Flashback)
Ichigo tiba di Seireitei yang nyaris tak dikenalinya selama latihannya di King's Realm bersama Zero Division. Tak ada bangunan bergaya Jepang tempo dulu. Tak ada Bukit Soukyoku. Pusat Soul Society itu digantikan istana asing besar bergaya Barat, seperti kastil beratap persegi. Menara-menara pualam dan bangunan yang seharusnya tak ada di Seireitei menggantikan pemandangan tempat teman-teman shinigaminya tinggal. Bicara soal shinigami, saat itu ia hampir kesulitan mengenali reiatsu mereka. Energi spiritual mereka tak sebanyak yang diingatnya.
Ichigo ber-shunpo menuju kastil itu secepat yang dia bisa. Juha Bach adalah orang yang bertanggung jawab atas semua ini. Ia bisa mengerti maksud para Quincy itu, tujuan mereka, pembalasan dendam mereka, kemarahan mereka, kekecewaan mereka. Soul Society telah bertindak brutal pada kaum mereka, karena pemikiran konyol bahwa keberadaan para Quincy itu seolah menggantikan tugas mereka sebagai penyeimbang dan pejuang roh. Tapi haruskah pertumpahan darah menjadi penyelesaian? Bukankah itu hanya membuat para Quincy itu sama buruknya dengan Seireitei berabad-abad yang lalu? Dan membebankan aib besar itu pada generasi yang bahkan tidak tahu menahu tentang tragedi itu, kecuali dari buku sejarah yang hanya mau repot-repot dibaca oleh mereka yang tahan dengan buku tua yang berdebu dan berbau apak?
Dan, langkah kilat Ichigo terhenti mendadak. Ia melihat sosok familiar di atas salah satu gedung pencakar langit berwarna pualam itu. Toushiro Hitsugaya, susah payah bertumpu pada selusur pagar pualam gedung dengan setengah sayap esnya yang perlahan luruh. Ia mencengkeram Hyourinmaru yang setengahnya digantikan bilah es, bukan baja. Kondisi komandan muda itu tak bisa dikatakan baik – sama sekali tidak. Wajahnya pucat pasi, shihakusou dan haori-nya robek di sana-sini. Perbedaan yang mencolok darinya adalah sesuatu yang mirip sirip insang pada reptil yang muncul di kedua sisi kepalanya; bagian mata kirinya terbingkai lempengan berwarna putih tulang. Dan Ichigo merasakannya, kendati reiatsu Toushiro melemah, jejak energi negatif yang familiar itu tak dapat disembunyikan. Holowfikasi. Tapi, bagaimana mungkin…
"Toushiro."
Dengan gerakan pelan, seolah sangat sulit dilakukan, shinigami mungil itu menoleh. Ichigo segera menghampirinya, terkejut karena jarak dekat membuat Toushiro tampak menyedihkan. Sayap esnya akhirnya lebur dalam udara; namun es yang melengkapi zanpakutou-nya masih ada. Ia melihat kondisi shinigami di depannya itu, yang napasnya tersengal, rasanya tinggal tunggu waktu dia akan benar-benar ambruk.
"Kau kenapa?" tanya Ichigo, dan ia yakin Toushiro tahu itu bukan pertanyaan satu jawaban.
"Bukan hal… penting… untuk… sekarang," kata Toushiro dengan suara rapuh.
"Ini penting," kata Ichigo tegas.
"Topeng hollow-nya…" ujar Ichigo.
"Hollowfikasi… sementara," gumam Toushiro, tersengal. Retakan muncul di topeng hollownya. Baru Ichigo sadari topeng itu membuat Toushiro semirip naga esnya. "Urahara.. dia membuat kami… komandan yang bankai-nya… dicuri bisa… mendapatkannya… kembali…"
Ichigo tercengang. Namun penjelasan tentang itu bisa menunggu. "Aku akan membawamu ke Divisi 4. Tapi dimana, ya, dengan semuanya berubah begini." Kalimat terakhir itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
Namun sebelum Ichigo bersiap pergi, Toushiro menahannya dengan mencengkeram erat bagian depan jubah Ichigo. "Tu…tunggu… Matsu…moto…"
"Eh?"
Ichigo memandang jalanan di bawah gedung itu. Rangiku Matsumoto terbaring tak bergerak di sana dengan beberapa luka parah di tubuhnya.
"Bawa… dia lebih dulu…"
Suara Toushiro menunjukkan ketakutan dan kecemasan. Ichigo bingung bukan main. Sebagai atasan, jelas Toushiro akan memastikan keselamatan semua bawahannya daripada dirinya sendiri. Namun, Ichigo, sebagai temannya, melihat kondisi Toushiro jauh lebih buruk daripada letnannya itu.
"Tentu, tapi kau dulu…"
"Tidak!" tolak Toushiro, "Matsumoto…"
Mendadak saja tanah berguncang, mengirimkan getaran besar pada gedung-gedung di sekitar mereka. Ichigo merasakannya, beberapa reiatsu yang mendekati mereka. Dan, Toushiro juga merasakannya.
"Hina…mori…"
Ichigo bisa merasakan ketakutan baru Toushiro. Dan kemudian, semuanya terjadi begitu cepat. Bazz-B, menyerang Shinji Hirako yang tampak babak belur. Quincy berkekuatan api itu meluncurkan semburan api besar, namun ledakan baru mencegah api itu mencapai Shinji. Toushiro mencengkeram Hyourinmaru lebih erat saat melihat siapa yang membuat ledakan itu; Momo Hinamori.
"Lepaskan aku, Kurosaki," kata Toushiro parau, berusaha mengenyahkan pegangan Ichigo padanya.
"Tidak. Kau tidak akan bertarung untuk se-"
Namun secara tak terduga, dengan kekuatan yang tak disangka masih dimilikinya, Toushiro mendorong Ichigo dan melesat pergi.
"Damn it!" umpat Ichigo. Bazz-B yang berelemen api bukan lawan yang tepat untuk Toushiro, Toushiro yang saat itu sama rawannya dengan es kutub utara yang diancam oleh pemanasan global! Kalau begini, sama saja dengan bunuh diri!
"Ah, Komandan Kecil, masih hidup, ternyata," ujr Bazz-B dengan nada menghina. Ia menyeringai melihat Toushiro yang berdiri di depan Momo yang kaget melihatnya. "Sekalipun kau mengalahkan Cang Du, kau bukan lawanku."
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, Hitsugaya?" ujar Shinji, berdiri dengan bertumpu pada Sakanade-nya. Ia berjengit melihat penampilan Toushiro yang bahkan lebih parah darinya; matanya tertuju pada topeng hollow yang masih tersisa di wajahnya. Hollowfikasi sementara itu telah mencapai batasnya. Hanya sampai di sini percobaan Urahara itu bisa menyelamatkan nyawa Toushiro. "Pergi dari sini!"
"Wah, wah, sebenarnya tak masalah, Pirang. Aku juga bermaksud menghabisinya, kok. Bocah sombong itu perlu diberi sedikit pelajaran."
"Shiro-chan…" ujar Momo cemas. "Kau…"
"Tak apa, Hinamori," kata Toushiro pelan, agar suaranya yang pecah tak terlalu kentara.
"Jangan bodoh, Kecil," kata Bazz-B. "Aku masih kesal padamu; kau menghancurkan mantel favoritku. Dan Cang Du sial itu mengganggu kesenanganku untuk membalasmu. Nah, kali ini, aku tak akan melewatkanmu."
Toushiro mengangkat Hyourinmaru; Shinji dan Momo terbelalak menatap zanpakutou yang rusak itu.
"Oi! Hitsuga-!"
Bazz-B bergerak cepat. Bola api besar melesat ke arah Toushiro. Komandan Divisi 10 itu mengayunkan zanpakutou-nya; dinding es tebal terbentuk, namun api itu dengan cepat melelehkannya.
"Ha! Es-mu bukan tandinganku, Kecil!" Seringai penuh kemenangan tersungging di wajah Quincy itu. "Mati kau. Burner Finger 2."
Ichigo, Shinji, dan Momo terpaku di tempat melihat serangan Bazz-B telak mengenai Toushiro, membuatnya terpental dan terbanting menghantam salah satu bangunan; topeng hollow-nya hancur. Kemarahan seketika menggelegak dalam diri Ichigo melihat Toushiro tak bergerak, tubuhnya bersimbah darah.
"Shiro-chan!" jerit Momo, berlari panik menghampiri Toushiro. Ia kalah cepat; Bazz-B menghalangi jalannya. Dengan ngeri Momo mengangkat Tobiume.
"Apimu bukan apa-apa dibanding apiku, Perempuan," seringai Bazz-B. ia mengangkat satu jarinya. "Kau begitu peduli pada si Kecil itu? Jangan cemas, kalian akan mati sama-sama."
Ichigo melihat mata Toushiro masih membuka, terpancang pada Momo, menyiratkan determinasi untuk menjadi pelindungnya, menyesalkan kelumpuhan yang menghalanginya. Ichigo segera melesat maju, bermaksud melaksanakan keinginan Toushiro. Namun, Bazz-B benar-benar bermaksud menuntaskannya.
Shinji meraung murka; mata turquoise Toushiro melebar dalam ketakutan. Bazz-B melakukan teknik yang sama yang membuat Toushiro terkapar.
Ichigo ber-shunpo cepat, menangkap tubuh Momo sebelum menabrak gedung. Luka bakar merusak bagian kiri tubuh gadis itu; lengan kiri Momo melepuh parah.
Bazz-B mengernyit melihat kedatangan Ichigo, digantikan keterkejutan.
"Ah, Ichigo Kurosaki. Akhirnya muncul juga."
Ichigo ber-shunpo ke arah Toushiro. Ia menangkap tatapan terluka di wajah pucat Toushiro, luka yang lebih sakit dari yang meremukkan fisiknya. Matanya tertuju pada Momo yang tak sadarkan diri. Ichigo memahami tatapan itu; ia pernah memasang ekspresi yang sama, penyesalan atas kegagalan untuk melindungi.
"Maaf," kata Ichigo menyesal, "aku tak bisa lebih cepat."
Bibir Toushiro bergerak tanpa suara, memanggil nama gadis di sebelahnya. Tangannya dengan gemetar berusaha meraih tangan Momo, sementara mata turquoise itu sekilas beradu pandang dengan Ichigo, sebelum kehilangan fokusnya, lalu menutup. Tubuh dan kesadaran Komandan Divisi 10 itu telah menyerah pada kesakitannya.
"Aku akhirnya mendapat letnan yang tak punya bakat jadi iblis, dan kau mau melenyapkannya?" geram Shinji murka.
"Kau," kata Ichigo, menarik zanpakutou di punggungnya, "akan membayarnya."
(End of flashback)
Ichigo menghela napas lagi.
"Ichigo?" tanya Harry. "Kau tahu sesuatu ?"
"Yeah," ujar Ichigo muram. "Kalian boleh mengolok seenaknya setelah kalian dengar nama Rukia, tapi jangan pada Toushiro karena kalian tahu nama Hinamori-san."
"Eh?"
"Begini," kata Ichigo memulai, dengan hati-hati. Ia memandang Golden Trio, si kembar Weasley dan Neville yang serius mendengarkan. "Mari kita anggap, agar lebih mudah. Hermione."
"Apa?"
"Kalian semua adalah teman Hermione, 'kan? Kalian akan menjaganya, 'kan?"
"Iya."
"Tentu saja."
"Begitu. Nah, mari kita anggap kalian ada dalam sebuah kejadian di mana nyawa kalian dalam bahaya. Ada musuh yang menyerang, dan dia melukai Hermione."
Para penyihir itu bergidik. Mereka bertukar pandang penuh arti.
"Hal seperti itu yang terjadi pada Toushiro," kata Ichigo pelan. "Ada peristiwa… yang membuat Hinamori-san sampai saat ini masih koma di… rumah sakit. Teman dekat Toushiro; mereka sudah saling mengenal sejak kecil, dan Toushiro selama ini selalu berusaha menjaganya. Dia seperti… tak bisa memaafkan dirinya sendiri jika dia ingat Hinamori-san dalam kondisi begitu."
"Bagaimana… bisa ada kejadian seperti itu?" tanya Neville heran bercampur takut. Ia tak menyadari Golden Trio dan si kembar bertukar pandang, sementara Ichigo memandangnya dengan kernyitan dalam. Neville tidak tahu tentang shinigami. Siapa mereka sebenarnya.
"Dunia ini bukan apa yang si Dumbridge katakan, 'dunia-dimana-tak-ada-apapun-yang-menunggu-kalian-di luar-sana' atau Lalala-land dengan peti emas di ujung pelangi, eh?" Ichigo memandang langit-langit Aula, langit penghujung musim gugur tampak suram. "Hitam dan putih, benar dan salah, baik dan jahat, itu realita. Sama dengan damai dan perang. Dan tak ada yang tak mungkin dalam perang, termasuk kehilangan."
"Dia tak akan kehilangan, ya 'kan?" tanya Neville. Ichigo memandangnya sekali lagi. Ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang penting. Ia berharap Toushiro menyadarinya juga – ia yakin begitu walau Toushiro tak akan menyatakannya terang-terangan. Perkataan bahwa Neville adalah teman mereka bukanlah formalitas.
__ADS_1
Ichigo tersenyum lebar. "Aku tak begitu kenal Hinamori-san, tapi aku tahu dia cewek kuat! Lagipula jika kau hidup dan kenal Toushiro lebih lama dari siapapun, kau akan sama keras kepalanya seperti dia!"