Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 18


__ADS_3

Selama dua minggu berikutnya, pertemuan LD menjadi hari yang ditunggu bagi para anggotanya. Setelah Mantra Pelepas Senjata, mereka mempelajari Mantra Perintang dan Kutukan Reduksi, yang berhasil dikuasai semua anak, bahkan Neville Longbottom. Selama dua minggu itu pula mereka berlatih dengan hari acak, tak pasti. Namun tak ada yang keberatan dengan itu. Pola latihan di hari yang tak tentu itu akan membuat – sangat mungkin ada – siapapun yang memantau mereka akan kesulitan menangkap basah LD.


Untuk mempermudah komunikasi, Hermione menemukan sebuah cara cerdik. Cara itu bisa digunakan untuk mengurangi kecurigaan karena anak-antar-asrama terlalu sering menyebrangi Aula Besar untuk saling bicara. Ia melakukan Mantra Protean pada Galleon palsu yang dibagikannya pada semua anggota LD. Nomor seri pada koin emas sihir itu akan menjadi penanda jika Harry telah menentukan tanggal pertemuan, dan akan terasa panas sebagai indikatornya. Semua anggota LD dengan senang hati menerima koin dan ide cemerlang itu.


Namun, pertemuan LD harus ditunda selama seminggu karena pertandingan Quidditch pertama musim ini sudah dimulai. Gryffindor versus Slytherin. Angelina memaksa semua anggota timnya berlatih setiap hari. Latihan mereka sebetulnya lancar-lancar saja. Yang menjadi masalah adalah krisis kepercayaan diri Ron Weasley sebagai Keeper Gryffindor. Jika ia sudah gugup dan di bawah tekanan, dengan cepat konsentrasinya buyar yang berakibat dengan gagalnya menyelamatkan tiga lingkaran gawangnya.


Parahnya lagi, Ron masih hijau dalam menghadapi intimidasi tim lawan alias Slytherin yang kian mengganas mendekati hari pertandingan. Ia belum pernah menerima taktik licik tim ular yang setiap bertemu anggota tim Gryffindor pasti akan mengejeknya, dengan Draco Malfoy sebagai pemimpinnya.


Akhirnya, November tiba bersama angin awal musim dingin yang menusuk. Embun pagi selalu ditemukan dalam bentuk kristal es, dan langit akan menjadi kelabu pucat, berkilau bagai mutiara. Puncak pegunungan di sekitar kastil Hogwarts telah diselimuti salju, dan temperatur bisa dipastikan sangat rendah; banyak anak yang memakai sarung tangan kulit naga mereka agar tetap hangat. Dan pada pagi hari pertandingan, cuaca masih sama dinginnya, walau sinar matahari tampak mulai menembus gumpalan awan di atas sana.


Aula Besar sudah hampir penuh saat Harry dan Ron tiba di sana untuk sarapan. Percakapan terdengar lebih keras dan suasana jauh lebih gembira dari biasanya. Kendatipun euforia pra pertandingan jelas terasa, bukan berarti hawa dingin tak bisa mencapai mereka. Semua anak memakai syal dan sarung tangan mereka, juga mantel atau jaket tebal. Namun saat mencapai meja Gryffindor, Harry melihat Toushiro tampak tak terpengaruh dengan dinginnya bulan November. Pakaiannya sekasual yang biasa, walau ia juga memakai syal merah Gryffindor untuk menghormati tim asramanya. Tampaknya bukan hanya Harry yang heran.


"… ini cukup dingin bagiku, apa kau tidak merasakannya juga?" tanya Neville sangat heran pada sahabat berambut putihnya itu. "Ke stadion tanpa jaket dan sarung tangan… nanti kau bisa sakit!"


"Jangan cemaskan dia, Neville," kata Ichigo kalem. "Ini musim favoritnya. Percayalah padaku, jiwanya jauh lebih dingin dari udara musim dingin ini," tambah Ichigo sok dramatis. "Daripada itu, baik-baik saja, Ron?"


Harry, Toushiro, dan Neville memandang Keeper Gryffindor yang duduk dengan tampang seakan menghadapi tiang pancungan. Wajahnya pucat kehijauan, kontras dengan seragam dan jubah merah Quidditch-nya.


"Aku sudah gila mau melakukannya," katanya dalam bisikan parau. "Gila."


"Jangan bodoh," kata Harry tegas, menyodorkan berbagai sereal untuknya; Ichigo mengangkat alis, "kau akan baik-baik saja. Normal kau gugup."


"Dia belum menaklukan krisis kepercayaan dirinya, sepertinya," kata Toushiro pelan, sementara Ron sedang mengutuki dirinya sendiri lagi. Ia bahkan tak menggubris ucapan motivasi dari Hemione dan Ginny.


"Halo," suara samar seperti melamun menyapa mereka. Luna Lovegoodberdiri di belakang mereka, tak mempedulikan banyaknya anak yang menunjuk-nunjuknya dan menertawakannya. Gadis Ravenclaw itu memakai topi berbentuk kepala singa seukuran aslinya, yang bertengger hampir jatuh dari kepalanya.


"Aku mendukung Gryffindor," katanya, agak tak perlu sebetulnya. "Lihat nih dia bisa apa."


Luna mengetukkan ujung tongkat sihirnya pada topi luar biasa itu. Kepala singa itu membuka mulutnya lebar dan mengeluarkan auman yang mirip dengan singa asli; beberapa anak sampai terlonjak kaget.


"Wow," kata Ichigo kagum. "Bagus sekali, Luna."


"Trims, Ichigo. Sebetulnya aku mau menambahkan ular untuk dikunyahnya, untuk menggambarkan Slytherin… tapi waktunya tidak cukup…"


"Sayang sekali," kata Ichigo sungguh-sungguh.


Luna tersenyum. "Yah, begitulah. Bagaimanapun juga, semoga sukses, Ronald."


Sementara itu, Draco Malfoy memandang dengki topi singa si Lovegood yang pergi menjauhi meja Gryffindor. Ia telah menyiapkan sebuah rencana untuk menjatuhkan Ron Weasley. Itu bukan hal sulit untuknya. Namun, ada satu rencana yang belum ia laksanakan sampai saat ini: mengerjai Toushiro Hitsugaya. Ia selalu memikirkan bagaimana caranya menjatuhkan harga diri si rambut putih, dan ia melihat kesempatan untuk melakukan itu sekarang. Momen yang tepat, mengingat hari ini adalah pertandingan Gryffindor; rasa solidaritas antar penghuni Gryffindor sedang tinggi-tingginya. Tapi siapapun pasti akan menertawakan sesuatu yang konyol, tak peduli anggota asrama atau bukan.


Draco mengamati meja Gryffindor sejenak. Dilihat olehnya Neville Longbottom, yang dari gerakannya, bermaksud mengangkat teko teh yang panas. Ini dia!


Dengan jentikan tongkat sihirnya, Draco mengarahkan mantranya pada Neville. Teko teh yang dipegangnya tergelincir dari tangannya, mengguyurkan isinya ke bagian depan jubah Toushiro Hitsugaya. Draco menyeringai senang, ikut tertawa bersama anak-anak lain yang melihat kejadian itu.


"Toushiro!" seru Neville panik. Si rambut putih berdiri cepat sambil melepas jubahnya yang basah. "Ma-maaf! Aku tidak senga-Aduh!"


Neville meletakkan teko teh itu ke atas meja, namun ia tak melihat kalau tongkat sihirnya tertindih di sana. Secara mendadak, tongkat sihir itu meluncurkan kilatan mantra berwarna biru, menghantam lengan Toushiro. Siswa pindahan bertubuh mungil itu terdorong mundur, hampir saja terjengkang jatuh jika bukan karena Ichigo yang refleks berdiri menahannya. Neville menatap Toushiro dengan ngeri; bercak darah melebar di lengan kemeja si rambut putih.


"Kau oke?" tanya Ichigo cemas, melihat Toushiro mendesis pelan, memegangi luka akibat hantaman mantra itu. Sementara itu, tawa di sekitar mereka berubah menjadi tatapan kaget. Harry melihat Neville tampak sangat ketakutan, dan rasa bersalah terlihat jelas dimatanya.


"Maaf, Toushiro," bisik Neville gemetar. "A-aku tidak sengaja…"


"Tidak apa," kata Toushiro cepat.


"Kau kenapa, Hitsugaya-san?"


Profesor Urahara telah turun dari meja guru. Senyum ganjilnya menghiasi wajahnya, namun matanya menatap Toushiro dengan intens.


"Tidak kenapa-napa," sahut Toushiro dalam suara mirip desisan.


"Ara, kau tidak bisa berbohong dengan bukti di depan mata. Sepertinya kau akan perlu rumah sakit," kata Urahara ceria.


Bukan hanya Harry yang heran melihat sikap santai Urahara.


"Dasar sinting," dengus Ichigo, membantu Toushiro berdiri. "Lakukan sesuatu kenapa?"


"Aku baru saja melakukan sesuatu; menyarankannya ke rumah sakit…"


Baik Ichigo maupun Toushiro menatap Urahara dengan tatapan yang bisa membakar. Itu jenis tatapan yang akan membuat McGonagall bangga, menurut Harry.


"Aku bisa urus sendiri," kata Toushiro datar. Ia menarik tongkat sihirnya, lalu membisikkan mantra entah apa, yang berhasil mengeringkan jubah dan pakaiannya. Ia lalu menyampirkannya di bahunya dan berjalan keluar Aula.


"Ckckck, aku selalu heran kenapa dia selalu galak kalau denganku," kata Urahara dramatis.


"Kalau begitu berhentilah bersikap sok santai, dia 'kan orangnya serius,"gerutu Ichigo, sementara percakapan kembali berdengung di sekitar mereka.


"Yare-yare, anak itu yang perlu sedikit santai," kata Urahara membela diri. "Selagi masih muda, nikmati hidup sebaik-baiknya…"


"Nah, mengingat kau sudah tua, nikmati hidupmu yang masih sisa," seringai Ichigo. "Sudah, deh, aku mau lihat Toushiro dulu. Ayo Neville."


"I-iya," ujar Neville gugup. Ia masih terlihat ketakutaan.


"Tidak apa-apa, Neville-kun," kata Urahara ramah. "Aku kenal Hitsugaya-san, dia tidak akan marah padamu."

__ADS_1


"Ta-tapi saya tadi," Neville menelan ludah dengan kalut. Jelas ia tak menyangka kecerobohannya berakibat buruk begitu. "saya melukainya…"


Urahara menurunkan topi bergarisnya, lalu memandang Neville. Senyum ganjilnya lenyap, digantikan senyum pengertian. "Semua orang bisa berbuat kesalahan, Nak. Semua orang, tak terkecuali kesalahan itu adalah melukai teman sendiri. Kau kira berapa kali aku lukai si congkak kepala wortel yang disana itu? (Ichigo mengangkat alis tinggi-tinggi mendengar hal itu)"


"Tapi ini 'kan beda… Anda melakukan itu karena duel…"


"Yah, mungkin memang beda. Tapi, jangan bebani dirimu sendiri dengan hal ini. Yang penting jangan lakukan kesalahan yang sama, hm?"


"Hanya saja…"


"Neville-kun, Neville-kun," kata Urahara, memasang lagi topi bergarisnya ke atas rambut dirty blonde-nya. "Aku sudah bilang aku cukup kenal Hitsugaya-san, 'kan. Dia tidak akan permasalahkan hal ini, percayalah. Dia tahu kau tidak memaksudkannya. Dia sangat mengerti. Nah, pergilah temui dia, dan pastikan aku tak berbohong padamu."


Neville menangguk ragu. Namun, sebelum ia menyusul Ichigo, Neville menghadap Urahara lagi.


"Sensei, kenapa anda memanggil saya dengan nama depan, sedangkan anda memanggil Ichigo dan Toushiro dengan nama belakang?"


Urahara terkekeh kecil. "Yah, itu kebiasaan, Neville-kun. Kebiasaan."


Neville mengangguk. Ia lalu pamit dan bergegas menyusul Ichigo yang sudah keluar dari Aula Besar. Urahara juga berjalan tenang kembali ke meja guru.


"Kau tahu, Harry," kata Ron parau, "ini pertanda buruk."


"Eh? Apa?" Harry agak kaget mendengar kata-kata Ron.


"Ini pertanda buruk," ulang Ron muram. "Toushiro orang yang paling sulit dikerjai oleh Fred dan George, lihat bagaimana dia celaka hanya karena kecerobohan Neville… Ini pasti tanda bahwa hari ini bakalan buruk sekali."


"Jangan bicara begitu, Ron," tegur Hermione. "Itu tadi cuma kecelakaan. Lagipula kau akan oke."


"Kalau kalian sudah siap," kata Angelina, mendekati Harry dan Ron bersama Alicia dan Katie, "segera ke lapangan. Kita perlu mengecek kondisinya."


"Kami ke sana sebentar lagi. Ron perlu sarapan dulu."


Namun ternyata, setelah sepuluh menit berlalu, Ron tampaknya tak mampu memakan apapun lagi. Harry berpendapat tak ada gunanya tetap di Aula besar, dan membawanya ke ruang ganti. Tapi, sebelum Harry menyusul Ron yang berjalan lebih dulu dengan langkah lunglai dan putus asa, Hermione memberitahu Harry agar tidak membiarkan Ron melihat lencana perak yang dipakai anak-anak Slyhterin. Walaupun tak begitu mengerti, Harry menurut saja. Ia tahu, jika ada sesuatu yang dilakukan anak-anak Slytherin, itu bukan berarti hal yang baik.


Di meja Slytherin, Draco Malfoy bersiap ke lapangan Quidditch dengan senyum penuh kemenangan. Rencana pertamanya berjalan mulus, lebih baik dari yang ia harapkan dengan terlukanya si rambut putih. Ia harus memikirkan rencana-rencana lain untuknya. Namun untuk sekarang ia harus mengesampingkan hal itu. Ia harus focus untuk menjatuhkan Ron Weasley, yang pasti akan berujung pada kejatuhan Gryffindor.


Draco berjalan keluar Aula bersama Crabbe dan Goyle dengan langkah angkuh. Tak disadarinya tatapan Urahara kepadanya.


'Apa yang kau rencanakan sebenarnya, Draco Malfoy?' ujar Urahara dalam hati. Tentu saja sebenarnya ia tahu, ia melihat bahwa kecelakaan tadi bukan murni kecelakaan. Ia melihat energi mantra muncul dari ujung tongkat sihir si Slytherin itu, menyebabkan Neville menumpahkan teh panas pada Toushiro. 'Entah apapun itu, kenapa kau lakukan itu pada mereka?'


Urahara memandang kucing hitam di pangkuannya, yang balik menatapnya dengan mata emasnya yang lebar. 'Lebih daripada itu,' pikir Urahara, 'apa kau yakin yang kau lakukan bisa menjatuhkan Toushiro Hitsugaya dan Neville Longbottom?'


Sorak sorai memenuhi seluruh stadion. Warna merah-emas dan hijau-perak mendominasi tribun penonton, yang tak terpengaruh oleh hawa dingin bulan November. Neville berada di tengah kumpulan pendukung Gryfifindor, lega melihat Toushiro sama sekali tidak mengalami luka serius akibat mantra tak sengaja itu; kemampuan kidou penyembuhnya sukses mengatasi luka itu tanpa ia perlu ke rumah sakit. Rasa bersalah masih mengganggunya, walaupun Toushiro – seperti yang dikatakan Urahara sensei – sama sekali tidak mempermasalahkannya.


Menit-menit awal pertandingan dikuasai oleh tim Gryffindor. Tiga Chaser-nya, Angelina, Alicia, dan Katie, melakukan serangan awal untuk menjebol tiga gawang Slytherin. Ketiga gadis itu bukan tanpa hambatan. Bludger berkali-kali berdesing, berusaha membongkar formasi serangan mereka.


"Ini lebih seru daripada lihat pertandingan baseball atau basket," kata Ichigo senang. "Ouch, lihat itu," Ichigo hampir berdiri saat melihat Alicia nyaris dihantam Bludger, "hampir saja… Tunggu, apa yang mereka nyanyikan?"


Tepat saat itu, Lee Jordan selaku komentator juga menanyakan hal yang sama. Nyanyian itu terdengar keras sekali, berasal dari lautan hijau dan perak Slytherin.


"Weasley tak bisa berkutik lagi,


Tak bisa menyelamatkan gawang sendiri,


Maka semua anak Slytherin bernyanyi:


Weasley raja kami!


"Weasley lahir di tempat sampah,


Dia biarkan Quaffle masuk dengan mudah,


Membuat kemenangan kami pastilah sudah


Weasley raja kami!"


"Ya ampun," bisik Hermione kalut. Ia memandang Ron di dekat tiang gawang. Kendati mereka tak bisa melihat jelas seperti apa ekspresinya, tak ada yang tak bisa menduga hal itu. Pastilah nyanyian itu membuat sisa semangatnya luruh seketika. Performa Ron menurun drastis; ia kebobolan gol sampai empat kali berturut-turut.


"Taktik licik," kata Toushiro pelan, matanya tampak marah. "Mereka tahu kelemahan Weasley dan memanfaatkannya dengan sangat baik."


"Tidak membantu. Menurutmu bagaimana Ron bisa keluar dari situasi ini?" taya Ichigo, kernyitan di antara alisnya semakin dalam.


"Weasley sendiri yang harus mencari tahu caranya," kata Toushiro datar. "Apa dia mau tenggelam dalam olokan itu atau membuktikan dirinya… Jika tidak, Harry-lah yang akan menyelamatkannya," tambah Toushiro dingin.


Toushiro tahu, ia cukup mengenal Ron selama beberapa bulan ini. Rasa percaya dirinya dan keinginan untuk meneguhkan dirinya sendiri masih tak cukup kuat. Mungkin menurut dugaannya, ini disebabkan karena Ron berada di dalam bayang-bayang Harry dan menjadi yang terakhir di antara saudara-saudaranya sendiri yang banyak itu. Manusiawi jika ia merasa rendah diri. Toushiro membenarkan keputusan Dumbledore mengangkat Ron sebagai prefek Gryffindor dan bukannya Harry, karena itu akan mengangkat rasa percaya dirinya. Toushiro pun menghargai usaha Ron untuk tujuan yang sama, dengan mencoba seleksi Keeper Gryffindor yang berhasil dilakukannya. Namun tampakya itu masih belum cukup.


'Tak bisa dipercaya,' Toushiro mendengar suara Hyourinmaru di kepalanya. 'anda sepertinya lebih manusiawi belakangan ini. Anda begitu peduli pada teman-teman baru anda.. Pertama si Neville Longbottom itu, sekarang si Ronald Weasley…


Toushiro terdiam. Sepertinya Hyourinmaru benar, lagi. Ia menatap Neville yang berdiri di sebelahnya, menatap para pemain Quidditch Gryffindor di atas sana dengan cemas. Lalu di lihatnya Ichigo yang menggeretakkan giginya dengan kesal karena nyanyian anak-anak Slytherin.


Ia sebelumnya tak terlalu mempedulikan tentang hal semacam itu; pertemanan. Kehidupannya saat masih konpaku membentuk pemikiran bahwa teman adalah hal mustahil yang bisa ia dapatkan. Saat ia menjadi siswa Shinou, pemikirannya itu dibuktikan dengan kematian Soujiro Kusaka. Karena itu setelah menjadi shinigami resmi ia tak berusaha sama sekali memiliki ikatan persahabatan. Hanya rekan kerja saja. Tak lebih. Toh kebanyakan dari mereka juga mati dalam pertempuran. Jika pertemanan hanya memunculkan emosi akan takut kehilangan seperti yang dialaminya dengan Kusaka, takut dikhianati seperti yang dilakukan Aizen, atau melemahkannya, lebih baik tidak punya sama sekali, 'kan? Sayangnya, Toushiro tak bisa mengenyahkan setitik harapan bahwa ia benar-benar memiliki teman. Sekalipun tak mengakuinya terang-terangan, ia menganggap Rangiku Matsumoto sebagai salah satu sahabat terbaiknya. Dan pertemuannya dengan Ichigo Kurosaki mematahkan semua pemikirannya tentang definisi pertemanan.


Dan disini, di Hogwarts, ia mengetahui itu lebih baik lagi. Sepertinya berada di sekeliling manusia membuat hakikatnya sebagai manusia – bukan roh alias mantan manusia – kembali dirasakannya. Hakikat manusia yang masih terikat oleh perasaan dan pikiran, sekalipun pengalaman nyata yang sesungguhnya itu telah mengabur, bertahun-tahun yang lalu.

__ADS_1


"Apa sih yang kau pikirkan?" suara Ichigo membuatnya menoleh. Ichigo tampak kesal sekali, mungkin efek dari nyanyian yang masih bergema di sekitar mereka.


Toushiro mendengus pelan. "Bukan apa-apa."


Ichigo mengangkat alis. "Kau tahu…"


Entah apa yang diucapkan Ichigo, Toushiro tak bisa mendengarnya. Nyanyian semakin kencang bak guntur.


"WEASLEY LAHIR DI TEMPAT SAMPAH


DIA BIARKAN QUAFFLE MASUK DENGAN MUDAH


MEMBUAT KEMENANGAN KAMI PASTILAH SUDAH…"


"Damn it!" teriak Ichigo murka. "Tangkap Snitch sialan itu, Harry!"


Benar saja. Mereka semua melihat Harry menukik di atas Firebolt-nya, kea rah titik sekira satu meter dari tanah di ujung lapangan Slytherin. Mata tajam Harry menangkap titik keemasan di sana. Berlomba dengan Malfoy, Harry memaksakan sapunya melesat lebih cepat. Tangannya terjulur ke depan, berhasil menggenggam bola kecil, mengalahkan Malfoy yang menggaruk punggung tangannya dengan putus asa. Harry menerbangkan sapunya ke atas, mengacungkan Golden Snitch ke angkasa, ditingkahi sorak-sorai lautan merah-emas; ia bisa mendengar auman kencang topi singa Luna Lovegood.


Tak jadi masalah dengan kegagalan Ron menangkap Quaffle itu… Gryffidor menang…


DUG!


Bludger menghantam keras bagian belakang pinggang Harry, membuatnya terjatuh dari sapunya. Segera saja terjadi kegemparan di tribun penonton, antara teriakan jengkel, marah, dan ejekan. Beruntung Harry hanya satu atau dua meter dari permukaan tanah, namun tampaknya itu tetap membuatnya cukup kaget juga karena terhempas ke atas tanah yang membeku.


"Ayo kita turun dan lihat," seru Ichigo. Ia bergegas menerobos kerumunan penonton, diikuti Toushiro, Hermione, dan Neville.


Sementara itu di bawah sana, Angelina telah membantu Harry berdiri.


"Kerjaan si Crabbe," kata Angelina marah. "Dia menghantamkan Bludger ke arahmu begitu melihatmu berhasil menangkap Snitch – tapi kita menang, Harry, kita menang!"


Sementara anggota tim yang lain ikut turun untuk menyambut kemenangan yang dibawa Harry, Harry mendengar ejekan Malfoy kepadanya.


"Menyelamatkan si Weasley, ya? Belum pernah aku melihat Keeper sepayah itu… tapi dia lahir di tempat sampah sih… kau suka lirikku, Potter?"


Harry benar-benar harus menahan kemarahannya yang menggelegak sejak mendengar lagu itu agar tak meledak. Dilihatnya semua anggota tim telah ada di dekatnya, kecuali Ron. Ron turun dari sapunya, namun langsung ke ruang ganti seorang diri.


"Kami sebetulnya mau menulis dua bait lagi!" seru Malfoy lagi. "Tapi kami tak bisa temukan rima untuk kata gemuk dan jelek untuk ibunya! Juga pecundang tak berguna untuk ayahnya, kau tahu!"


Sekarang tak hanya Harry yang harus menahan diri. Fred dan George, yang langsung mengerti ejekan yang barusan itu langsung menegang, memandang Malfoy dengan tersinggung.


"Biarkan saja!" desis Angelina segera, menyambar lengan Fred. "Biarkan dia, Fred, biarkan dia berteriak-teriak marah karena dia kalah, anak itu kurang…"


"… tapi kau suka keluarga sampah itu, 'kan, Potter? Kau lewatkan liburan di rumah kandang **** itu… Mungkin bau rumah mereka mengingatkan bau rumah darah lumpur ibumu.. tak heran kau tahan dengan itu… Ah," Malfoy menyeringai mengejek saat melihat Ichigo tiba, bersama Toushiro, Hermione, dan Neville. "tak heran kau juga tahan berdekatan dengan darah lumpur yang sama macam Granger… juga sampah sombong si Hitsugaya itu…"


Tak ada alasan lagi untuk menghentikan George yang dipegangnya. Harry menerjang Malfoy bersama George. Ia lupa sama sekali bahwa para guru ada di sana, ia tak peduli. Yang dipikirkannya hanyalah membuat Malfoy mendapatkan luka sesakit mungkin, menghantamkan tinjunya yang masih menggenggam Snitch, tak peduli teriakan panik beberapa anak di belakangnya.


"HARRY! GEORGE! JANGAN!"


Telinga Harry berdenging saking marahnya. Mendadak saja ada yang meninju belakang bahunya; dilihatnya sekilas kalau itu Crabbe. Tapi si besar Slytherin itu lenyap dari pandangan dengan kilasan jingga-hitam. Harry mendengar Toushiro berteriak, namun ia tak mendengarkan, kembali menghajar Malfoy bersama George.


"Astaga!" jerit Hermione. Matanya berkaca-kaca, menampilkan ketakutan saat melihat Harry dan George memukul Malfoy dan Ichigo meninju Crabbe, sebagai balasan karena mencoba mencegah Harry menghantamkan tinjunya pada teman Slytherin-nya itu.


"Impedimenta!" seru Madam Hooch, mengacungkan tongkat sihirnya pada Harry dan George, yang langsung terjengkang ke belakang, menjauhi Malfoy. Malfoy meringkuk di tanah, mengerang dan merintih dengan hidung berdarah. Madam Hooch mengarahkan tongkatnya pada Ichigo yang secara tak terduga, didukung perawakannya yang jangkung bak atlet basket mampu menyarangkan pukulan pada tubuh besar bak gorila Crabbe. Namun, sebelum Madam Hooch sempat meluncurkan mantra, Toushiro mengacungkan jarinya ke arah Ichigo.


"Bakudo ke-1: Sai!"


Ichigo langsung jatuh terguling, lengannya tertekuk di belakang punggungnya oleh ikatan tak terlihat, menggagalkan pukulan berikutnya yang akan dilancarkannya pada Crabbe yang terkapar di tanah. Dengan jengkel Ichigo mengangkat wajahnya yang mencium tanah, menatap Toushiro yang mengernyit; banyak anak menatap Toushiro dengan takjub. Itu tadi adalah penerapan mantra kidou secara langsung yang pernah dipraktekkan Urahara di kelas.


"Oi Toushiro! Apa-apaan ini?!"


"Bakamono! Apa kau tidak bisa gunakan otakmu itu untuk berpikir sebelum bertindak?" geram Toushiro.


"Apa yang kau bicarakan? Kau ini manusia es, ya? Tidak dengar keparat itu mengejekmu lagi? Tidak lihat si gorila ini memukul Harry?" kata Ichigo gusar, berusaha membebaskan diri dari ikatan tak terlihat itu. "Damn! Lepaskan aku, Toushiro!"


"Tidak sebelum kau kuasai dirimu."


"Terima kasih, Mr Hitsugaya," kata Madam Hooch gemetar. Ia menatap Harry dan George. "Belum pernah aku melihat tingkah laku seperti ini – kembali ke kastil, kalian berdua, dan langsung ke kantor Kepala Asrama kalian! Kau juga, Mr Kurosaki!"


"Nani?! No way! Si Malfoy dan si Crabbe juga harus dihukum!" protes Ichigo. Ia berhasil berdiri dan menendang kaki Crabbe dengan gusar; Madam Hooch berjengit melihatnya. "Toushiro, lepaskan ini! Kau ini-!"


"Berhenti bersikap brutal atau kumantrai dengan bakudo yang lebih kuat!" ancam Toushiro, tampak kesal luar biasa. Jelas di luar kemauannya, Ichigo berhenti meronta, kendati ia menatap Toushiro dengan tak puas. Toushiro membuat gerakan mengayunkan jarinya sambil berbisik pelan. "Kai!" dan ikatan tak terlihat itu lepas dari Ichigo.


Mendengus tak sabar, Ichigo berjalan mengikuti Harry dan Ichigo kembali ke kastil. Ia melewati Toushiro tanpa bicara, jelas ia kesal padanya. Anak-anak langsung menyingkir memberi jalan pada Ichigo yang tampak sangar daripada sebelumya.


"Eh, Toushiro," kata Neville takut-takut. Baru kali ini dilihatnya Ichigo dan si rambut putih bertengkar sampai seserius itu.


Toushiro menghela napas. Dilihatnya para guru yang tampak agak terguncang dengan kejadian ini. Satu per satu mereka meninggalkan lapangan Quidditch; Umbridge sudah menghilang, tak salah lagi kalau perempuan itu akan ikut campur dalam hukuman Harry, George, dan Ichigo.


"Tak apa, Longbottom. Lebih baik kita pergi sekarang."


"Huh," dengus Malfoy pelan, yang berusaha berdiri, dibantu oleh Goyle. Madam Hooch tak melihatnya karena sibuk menangani Crabbe yang pingsan akibat dihajar Ichigo. "Butuh si Kepala Wortel untuk membelamu? Darah Lumpur rendahan."


Toushiro memandang Malfoy, yang balik menatapnya dengan kebencian yang terang-terangan. Sangat kontras dengan ketenangan si rambut putih yang tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Mr Malfoy!" seru Madam Hooch galak, mendengar ejekan itu. Ia menarik Malfoy berdiri. "Jangan buat masalah lebih dari yang sudah kau alami! Sekarang pergi ke rumah sakit untuk perbaiki hidungmu! Jangan bertingkah karena kau kalah di pertandingan!"


__ADS_2