
Ketika semua anak sudah selesai makan dan kebisingan kembali menguar di seluruh Aula, Dumbledore sekali lagi bangkit. Dengung percakapan langsung tehenti dan semuanya memandang Dumbledore yang tersenyum ramah pada semuanya.
Dumbledore menyampaikan beberapa pengumuman, dan yang pertama disampaikannya adalah mengenai pelarangan atas penggunaan sihir secara sembarangan. Para murid juga dilarang memasuki Hutan Terlarang, dan beberapa pelarangan lain yang bisa dilihat di daftar yang ditempelkan di pintu kantor Mr Filch."
Yang telah menjadi rahasia umum bagi seluruh siswa, yang lama terutama, bahwa daftar itu hanya buang-buang perkamen dan tinta, sia-sia sama sekali.
"Ada beberapa perubahan dalam staf guru tahun ini. Dan tentunya tadi aku sudah memperkenalkan guru untuk mata pelajaran baru tahun ini, Metode Pertahanan Klasik Jepang oleh Profesor Urahara. Tapi tadi beliau mengatakan lebih suka jika dipanggil Urahara sensei." Dumbledore memberi anggukan sopan pada Kisuke, yang membalas dengan senyuman riang pada seluruh Aula. Kendati Ichigo membelalak ke arahnya, tak bisa dipungkiri bahwa semua orang berpendapat bahwa guru baru itu cukup menyenangkan. "Kami senang sekali menyambut kembali Profesor Grubbly-Plank, yang akan mengajar Pemeliharaan Satwa Gaib. Kami juga gembira memperkenalkan Profesor Umbridge, guru baru Pertahanan Terhadapa Ilmu Hitam."
Terdengar sambutan berupa tepuk tangan sopan namun tidak antusias.
"Uji coba anggota tim Quidditch masing-masing asrama akan diadakan pada…"
Dumbledore berhenti mendadak di tengah kalimat, memandang Umbridge ingin tahu. Ichigo dan Toushiro mengernyit memandang si penyihir yang wajah kodoknya menyunggingkan senyum aneh, mengingatkan mereka pada kodok yang siap menangkap lalat yang terbang di dekatnya. Ternyata Umbridge tadi berdeham untuk menarik perhatian Dumbledore, bahwa ia akan menyampaikan pidato singkat. Dumbledore pun segera duduk, sementara Umbridge berdiri, dengan nyaris tak ada perbedaan. Bahkan Ichigo yakin Toushiro lebih tinggi daripada si penyihir.
"Terima kasih, Kepala Sekolah," katanya dengan suara melengking, mendesah, seperti anak kecil. "Untuk sambutan yang hangat. Yah, menyenangkan sekali kembali ke Hogwarts dan melihat wajah-wajah kecil bahagia mendongak menatapku!"
Umbridge memandang ke seluruh Aula sambil memamerkan gigi-giginya yang runcing. Sungguh mengherankan bagi Ichigo karena semuanya disapa seakan-akan mereka balita berusia lima tahun. Lagipula tak ada satupun yang memasang wajah bahagia, justru tercengang karena disapa seperti itu. Tak perlu dikatakan bahwa ekspresi Toushiro sama dengan saat ia menemukan Rangiku Matsumoto teler setelah menenggak dua puluh botol sake di antara gunungan paperwork yang tak dikerjakannya.
Setelahnya, Umbridge meninggalkan nada kanak-kanak dalam suaranya, dan berbicara lebih resmi yang kata-katanya jadi membosankan untuk berpidato. Tak ada yang tampaknya mau repot-repot mendengarkan, kecuali para guru, Hermione Granger, dan tak mengejutkan, Toushiro. Ichigo dengan kalem mlihat sekeliling. Anak-anak mulai bergumam dalam obrolan. Saat ia melihat ke meja guru, Kisuke juga sedang memandangnya, lalu mengerling ke Umbridge dan bibirnya bergerak, mengucapkan, 'creepy old hag' tanpa suara. Ichigo mendengus geli.
"Terima kasih banyak, Profesor," kata Dumbledore, akhirnya, setelah pidato itu berakhir dengan tepuk tangan yang terlambat dari anak-anak. "Pidato anda memberikan gambaran yang jelas. Nah, seperti yang kukatakan tadi tentang uji coba anggota tim Quidditch…"
"Yeah, memang memberi gambaran jelas," komentar Hermione muram.
"Kau tidak bermaksud mengatakan kau menikmati pidatonya, 'kan?" kata Ron pelan. "Itu pidato paling membosankan yang pernah kudengar, padahal aku dibesarkan bersama Percy."
"Dia bilang kalau dia mendengarkan, bukan menikmati, Weasley," kata Toushiro datar, membuat Ron mengernyit tak suka. Ia tak pernah suka jika dipanggil Weasley, mengingat ada tiga orang lain yang juga dipanggil begitu oleh si rambut putih, dan aneh sekali karena jika mereka ada di tempat yang sama dan menoleh bersamaan saat dipanggil begitu. "Tapi aku setuju dengan bagian 'membosankan', dan Granger, kau benar soal memberi gambaran jelas."
"Dan apa maksudnya itu?" tanya Ichigo.
"Kementerian Sihir berusaha mengambil alih Hogwarts," kata Toushiro datar
Setelah itu, yang mereka tahu Dumbledore telah mempersilakan mereka kembali ke asrama masing-masing. Ichigo dan Toushiro tetap di tempat, sampai semua anak sudah meinggalkan Aula, termasuk Umbridge, untunglah. Ichigo dan Toushiro bergerak ke meja guru, menghampiri Urahara.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa ada disini?!" tanya Ichigo segera. Para guru yang ada disana memandang Ichigo dengan heran.
"Itu agak tidak sopan, kau tahu, Nak," komentar Flitwick, sementara McGonagall melambaikan tongkat sihirnya ke arah Aula, memberi mantra agar tak ada yang mencuri dengar perbincangan yang akan terjadi.
"Tak perlu terlalu banyak formalitas untuk dia," gerutu Ichigo.
"Sebetulnya aku mengharap sambutan yang ramah dari kalian berdua. Well, aku tak berharap banyak darimu, sebenarnya, Hitsugaya-san."
Toushiro mengernyit. "Kenapa kau ada disini?"
"Kalian kompak sekali, mengajukan pertanyaan yang sama," kata Yoruichi, melompat ke bahu Urahara, mengejutkan para penyihir.
"Bagaimana kucing itu bisa bicara?" tanya Sprout bingung.
"Dia juga sama seperti kami, shinigami, hanya saja dia mengembangkan kemampuan untuk bertransformasi menjadi kucing," kata Urahara kalem. "Tapi jangan ada yang bilang tentang hal ini. Kami berdua memutuskan untuk menjadikannya senjata rahasia."
"'Dia'?" McGonagall menatap si kucing. "Perempuan?"
"Yep," kata si kucing hitam; suara berat laki-laki yang digunakannya sebagai kamuflase sungguh meragukan. "Namaku Yoruichi Shihouin, ngomong-ngomong."
"Ah, yeah, tentang itu, mestinya tak lama la-"
Bunyi dering familiar terdengar mendadak dari arah Toushro. Mengernyit tak puas, si rambut putih merogoh saku dalam jubahnya, mengeluarkan Soul Pager-nya yang berkelip.
"Kubilang juga apa," kata Urahara riang.
"Jelaskan pada mereka dan Komandan Tertinggi yang akan menjelaskannya padaku," geram Toushiro, lalu menyingkir ke undakan bawah untuk menjawab panggilannya.
"Kukira komunikasi Muggle tak bekerja di Hogwarts," komentar Profesor Vector.
"Memang iya. Tapi itu bukan alat komunikasi Muggle. Itu Soul Pager, buatan Divisi 12, dari Soul Society. Sihir tidak mempengaruhi kerjanya. Jadi, Kurosaki-san, kau mau penjelasan? Baik, begini," Urahara menghadap ke para guru, dan mulai menjelaskan.
Ternyata Seireitei mendapatkan laporan tentang peningkatan jumlah hollow di Hueco Mundo, yang dipelopori oleh sisa Arrancar ciptaan Aizen yang menjadi pengikut setianya. Mereka semua bergabung untuk membalas dendam pada Seireitei dan membebaskan Aizen yang dipenjara di Mugen untuk dua ribu tahun. Mengingat ini bisa jadi masalah serius, karena sialnya Arrancar itu mengetahui perihal Voldemort dan sihir dan beraliansi dengannya, itu membuat pekerjaan para shinigami menjadi rumit.
__ADS_1
"Mirip dengan saat Arrancar pertama kali muncul di Karakura dan Seireitei mengirim satu tim untuk menjaga seluruh kota," kata Urahara santai di balik kipasnya. "Menurut Kyouraku-san mereka juga punya tujuan lain, hanya saja kami belum tahu apa itu. Mereka juga mengirim tim lain, dibawah pimpinan Komandan Hirako untuk menyelidiki soal itu, di Hueco Mundo. Jadi karena seperti yang kalian tahu jumlah shinigami berkurang drastis setelah perang berdarah yang lalu, aku-lah yang diutus untuk datang dan menjadi back-up kalian! Bagus, eh?" tambahnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Tidak sama sekali," kata Ichigo tajam, sementara para guru yang menganalisa keterangan Urahara memandang Ichigo dengan heran.
"Oh, jadi kau sekarang tega begitu. Di benar-benar murid yang sama sekali tidak manis, ne, Yoruichi?" Si kucing mengangguk-angguk setuju.
"Mengingat kau seharusnya menjaga Karakura, malah kau yang ada disini…"
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan untuk Karakura! Mereka punya Vizard, seorang Quincy, beberapa orang dengan kemampuan supernatural yang salah satunya adalah adikmu-yang-makin-lama-makin-mirip-kau dan jangan lupakan Tessai, dan ayahmu."
"Poin bagus," kata Toushiro, menaiki undakan sambil memasukkan Soul Pager-nya ke saku. Ekspresinya sudah tidak sekaku tadi. "Jika kau tinggal kuharap kau mengerti untuk melangkah hati-hati di sekitar Dolores Umbridge, entah aku merasa itu perlu kukatakan padamu atau tidak."
"Aku akan jadi guru yang baik," kata Urahara, tersenyum tenang.
"Metode Pertahanan Klasik Jepang," kata Toushiro, memandang Urahara dan Dumbledore bergantian. "Lewat pidato Umbridge tadi, yang kutangkap adalah dia akan mengawasi semua kinerja guru agar sesuai dengan keinginan Kementerian. Buku Teori Pertahanan Sihir yang kubaca menunjukkan kalau Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam tahun ini berbasis teori-"
"Kau pengamat yang baik," komentar Urahara.
"Dan mata pelajaran yang kau ajarkan adalah praktek, 'kan" kata Toushiro tajam, seolah tak ada interupsi. Para guru memandang Toushiro dan Urahara bergantian, menangkap maksud perkataan Toushiro.
"Hohoho, jangan cemaskan itu, Hitsugaya-san," kata Urahara santai. "Aku sudah memikirkan semuanya. Lagipula kalian perlu tetap menjaga kemampuan kalian kalian 'kan?"
"Jangan bilang kau bermaksud mengajarkan empat kemampuan dasar-"
"Tentu tidak! Mereka penyihir, bukan shinigami. Cuma mengajarkan beberapa pertahanan diri gaya Jepang, jika kau tahu maksudku."
Ichigo dan Toushiro bertukar pandang. Mereka tahu apa maksudnya itu. Baiklah, dia mantan komandan Divisi 12 dan punya otak. Tentunya Urahara tahu apa yang harus dilakukannya.
"Kurasa malam ini cukup sampai disini," kata Dumbledore ramah. "Kalian berdua bisa kembali ke Menara Gryffindor sekarang, karena besok kalian akan mulai dengan kegiatan akademis Hogwarts.'
Toushiro mengangguk setuju. Ia menatap Urahara. "Kita bicara lagi besok."
"Kapanpun kau mau, Hitsugaya-san."
__ADS_1
Setelah McGonagall memunahkan mantra anti-penyadapnya, dan memberitahu kata kunci ke untuk lukisan Nyonya Gemuk, kedua shinigami itu keluar dari Aula Besar untuk menuju ke Menara Gryffindor.