
Inilah dunianya. Tundra beku. Salju. Tanah yang tunduk pada musim dingin abadi. Pepohonan yang tinggal batangnya dan tanpa dedaunan, takluk pada dingin dan es di sekitarnya. Dan yang lebih penting, dia yang mendiami tempat ini. Dia yang menjadi bagian darinya. Dia yang terikat padanya. Teman, sekutu, penjaga, pelindung, sekaligus pedangnya. Hyourinmaru.
Naga es itu berdiri di depannya. Sama dengan bertahun-tahun yang lalu saat pertemuan pertama mereka. Saat pertama kali ia menyadari ia tak berdiri sendirian. Naga itu masih sama angkuhnya. Sayapnya yang terbuat dari es terentang lebar di kanan kiri tubuhnya yang seperti ular raksasa. Kepalanya yang seperti kuda dengan nuansa reptil menunduk padanya. Kedua mata yang semerah batu rubi memandangnya dengan penuh ketakziman. Dan di sekitarnya, angin kencang bak badai menderu, menunjukkan kehadiran dan kekuatannya. Angin yang sama sekali tak mengintimidasinya. Justru, ini adalah badai yang dirindukannya.
"Master," kata Hyourinmaru. Jika naga bisa tersenyum, siapapun bisa melihatnya sekarang. Tapi rahang reptil seekor naga tidak dirancang untuk itu. Nah, lupakan struktur anatomi sekarang. Lagipula Toushiro Hitsugaya tahu cara membaca emosi naga, khususnya naga yang hidup di dalam inner world-nya. Dan ia tahu naga es di depannya sedang bahagia, sama dengannya, yang bisa berbicara lagi setelah insiden Hougyoku sialan itu.
"Senang mendengar suaramu lagi, Hyourinmaru," kata Toushiro. Kepala sang naga merunduk rendah sehingga Toushiro bisa menyentuh moncong esnya. "Menyebalkan jika tak ada suaramu; hollow itu lebih menyebalkan lagi."
"Enak saja bicara begitu."
Toushiro menoleh. Hyourinmaru menggeram ke arah sosok yang mirip dengan Master-nya. Sang hollow.
"Ck! Gara-gara kau naga itu jadi tidak suka padaku!" protes si Hollow. Toushiro mengernyit. Aneh melihat wajahnya, ah, tidak, tapi wajah yang mirip dengannya, memasang ekspresi seperti itu. Ekspresi seperti anak kecil yang mainan favoritnya direbut orang lain. Itu menjengkelkannya. Pertama, dia tidak suka dirinya atau apalah yang berhubungan dengan dirinya (ia benci mengakui bahwa hollow itu juga dirinya) seperti anak kecil. Kedua, Hyourinmaru sama sekali bukan mainan!
"Aku milik Master," kata Hyourinmaru, menggeram.
"Tapi aku 'kan juga Mastermu! Well, sisi gelapnya." Si hollow menyeringai. Ia menunjukkan zanpakutonya, Hyourinmaru hitam. "Lihat? Aku dan dia berbagi kekuatanmu!"
Hyourinmaru mengeluarkan suara ganjil, seperti derum rendah penuh kejengkelan. Benar. Master Toushiro dan… si hollow itu memegang kekuatannya. Tapi ia sudah mengatakannya pada Toushiro, bahwa jika ia menerimanya, maka ia juga harus menerima hollow-nya.
Baik Toushiro maupun Hyourinmaru mendesah pelan, sementara si hollow menyeringai senang.
Ini menarik, pikir si hollow.
Ini merepotkan, pikir Toushiro dan Hyourinmaru.
"Pertarungan kita tidak akan terjadi hari ini," kata si hollow, tersenyum licik. "Aku masih mau istirahat setelah menyelamatkan hidupmu yang konyol itu. Dan aku sedang agak kesal karena perempuan Zero Divison itu mengeluarkan Hougyoku-nya… kesempatanku untuk merebut tubuh ini jadi berkurang karenanya… Tapi aku akan datang lagi… Bersiaplah, Toushiro Hitsugaya!"
Toushiro membuka matanya dengan terkejut. Tapi yang ditatapnya tak lagi tundra esnya. Langit-langit sihiran. Bau-bauan aneh yang tidak asing. Rumah sakit.
Sialan.
Toushiro memaksa diri untuk bangkit. Di dengarnya pekik kaget seseorang. Ada yang duduk di kursi di samping tempat tidurnya.
"Longottom?"
Neville menatapnya dengan wajah pucat, sedikit tergagap. Tapi saat itu Toushiro mendesis kesakitan, mencengkram bagian depan shihakuso-nya, merasakan nyeri di dadanya.
"A-apa kau baik saja?" tanya Neville panik, bergerak ke sampingnya dengan cemas. "Masih sakit? A-aku akan p-panggil Madam Pomfrey…"
"Tidak," kata Toushiro mendesis, menyambar tangan Neville yang akan beranjak. "Jangan… aku tidak apa-apa…"
"Tapi…" Neville bergidik melihat Toushiro yang memucat dan mengernyit kesakitan. Toushiro tak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu. Jika itu terjadi, berarti ini benar-benar menyakitkannya.
"Aku tidak apa-apa…"
"Taicho!"
Nevile terlonjak kaget mendengar suara Rangiku Matsumoto yang menyibak tirai di sekeliling tempat tidur Toushiro. Wajah cantiknya tampak agak cemas, bercampur kesal, menatap Toushiro sambil berkacak pinggang.
"Matsumoto…"
"Masih saja berlagak kuat saat anda sedang sakit? Dasar!" Rangiku bergegas mendatangi komandan mungilnya. Wanita itu memaksa Toushiro kembali berbaring, lalu meletakkan tangannya di dahi Toushiro, "Demamnya sudah turun… Dan sepertinya semuanya oke… Ah Shutara-san benar, sakitnya itu hanya efek dari bekas ritual pengambilan Hougyoku-nya…"
"Jadi benar-benar sudah diambil?" tanya Toushiro segera.
"Ya!" senyum Rangiku. Wajahnya cerah. Wanita itu melihat kelegaan di wajah komandannya. Ia tahu, Toushiro tak menginginkan kekuatan Hougyoku untuk dirinya. Ia tak menginginkan keabadian yang dijanjikannya. Ia ingin menjadi kuat dengan caranya sendiri. Lagipula, Rangiku teringat apa yang dikatakan Senjumaru Shutara, bahwa Toushiro lebih kuat dari dugaan siapapun. Segel yang menekan semua kekuatan aslinya sudah dilepas. Penjaga Surga sudah siap untuk melatih kekuatannya.
Ini sedikit membuat Rangiku merasa sedih. Komandannya akan menjadi begitu kuat. Ia, sebagai letnan yang berdiri di sampingnya, memiliki jurang perbedaan kekuatan yang begitu besar. Masih pantaskah ia berdiri di sampingnya, berada di bawah kepemimpinannya?
Tidak. Ia tidak boleh menyerah.
"Kenapa dengan wajahmu?"
"Ha-a-apa?" gagap Rangiku. Toushiro duduk, bersandar pada tumpukan bantalnya, menatapnya. Neville juga menatap Rangiku dengan bingung.
"Aku tanya, kenapa dengan wajahmu itu?" ulang Toushiro. "Sudah cukup aneh tanpa kau pasang tampang anehmu itu."
Rangiku berjengit. "Taicho! Aku tidak punya tampang aneh! Semua ini," Rangiku membuat gestur ke seluruh tubuhnya, "tidakkah Taicho tahu kalau semuanya menunjukkan kecantikan?"
Toushiro menggeleng. "Itu semua adalah bencana, kemalasan dan malapetaka… HMPH!"
"Taicho tega! Tega! Tega!" Rangiku melompat dan memeluk Toushiro erat-erat. "Aku cemas setengah mati dan kangen setengah mati! Tapi Taicho selalu datar-datar saja! Tidakkah kau juga kangen padaku?!"
"Prbh… Rnhh… ghhh!"
"Uh.. Rangiku… Ku-kurasa T-Toushiro…."
Tapi kata-kata Neville tenggelam tak berarti. Rangiku masih saja memeluk komandan mungilnya sambil mengoceh entah apa. Neville tidak tahu harus apa, karena Rangiku jelas tak menggubrisnya. Tapi dilihatnya Toushiro megap-megap kehabisan napas, tangannya berusaha menjauhkan diri dari Rangiku, yang gagal dilakukannya.
"Sungguh, aku bertanya-tanya apa dia akan mati karena perang atau mati karena dipeluk."
Rangiku menoleh. Ichigo berdiri di belakangnya, nyengir lebar. Toushiro menggunakan kesempatan itu dan mendorong Rangiku sekuat tenaga.
"Kya!"
Beruntung Ichigo ada di belakangnya, berhasil menahannya agar tak terdorong jatuh. Rangiku menatap Toushiro, agak terkejut. "Taicho! Ih, jahat!"
Toushiro terengah-engah. Kali ini wajahnya tak pucat, melainkan memerah karena kehabisan napas. "Siapa… yang… jahat… ha?" engahnya.
"Iya, deh, maaf," kata Rangiku, menegakkan diri. "Habis, aku kangen sih… Kukira kalau kupeluk di depan umum malah akan mempermalukanmu, ah tidak. Kau pasti akan langsung menendangku! Nah, mumpung tak ada yang lain, aku bisa memelukmu sekarang!"
"Coba lagi dan kujadikan kau es batu!" ancam Toushiro. Rangiku memberengut sebal. Wanita itu menoleh, menatap Neville yang langsung gugup.
"Eh, Taicho, si Neville ini… boleh kupeluk?"
Ichigo langsung tertawa sementara Neville melangkah mundur takut-takut.
"Jangan ganggu dia, Matsumoto!"
"Tapi… dia lucu sekali, Taicho!" seru Rangiku gemas.
"Ya ampun," gerutu Toushiro jengkel. "Kalau kau berisik terus mending keluar sana! Aku mau ti-!"
"Oho! Jangan bilang mau tidur sebagai alasan!" kata Rangiku segera. "Taicho tidur terus dari kemarin! Oke, aku janji tak akan ribut, tapi ceritakan padaku tentang semuanya selama Taicho di sini."
"Aku bahkan belum buat laporan akhir misi… kenapa aku malah meladenimu?" gerutu Toushiro.
"Karena," kata Rangiku serius, "aku adalah letnanmu!"
"Oh, alasan yang bagus sekali," kata Toushiro sarkastik. Toushiro menatap Neville. "Jadi, bagaimana kabarmu?"
Neville tampak agak kaget karena Toushiro mendadak bicara padanya. "B-baik," sahutnya tergagap. "Bukan a-apa-apa di-dibanding apa yang t-terjadi padamu…"
"Ayolah Neville-kun!" kata Rangiku riang, menepuk bahu si Gryffindor, membuatnya terperanjat. "Jangan gagapan begitu! Aku yakin Taicho-ku tidak segalak biasanya di sini, dan dia bukan pemakan orang!"
Neville tersenyum gugup sedangkan Toushiro memelototi Rangiku dengan jengkel. Ichigo terkekeh geli melihatnya. Si rambut jingga merogoh sakunya, menyerahkan bungkusan kecil pada Toushiro, yang langsung memberi tatapan bertanya.
"Shutara-san yang memberikan padaku. Katanya itu buatan Kirio-san. Aku yakin itu makanan. Dan kau tahu artinya itu, aku yakin begitu."
"Kebetulan aku lapar," kata Toushiro datar, membuka bungkusan itu.
"Tidak heran. Kau tidur dua hari," kata Ichigo, nyengir melihat Toushiro langsung melahap nasi kepal itu dengan lahap. Toushiro sedikit berjengit begitu memakan habis satu nasi kepal. Tapi ia mengambil satu lagi, memakannya sampai isi kotak kecil itu kosong.
"Bagaimana?" tanya Rangiku ingin tahu. "Aku dengar dari Renji kalau masakan dari Kirio Taicho itu benar-benar hebat, bisa memulihkan tubuh dan reiatsu dengan cepat!"
"Memang iya," kata Toushiro, menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur. Ia merasakannya, ia sudah tidak merasakan sakit lagi. Tak ada rasa nyeri di dadanya lagi. Tak ada rasa kebas seperti dihajar lagi. Ia bisa merasakan reiatsu kembali mengalir di seluruh tubuhnya. Dan, ia merasa seakan Hyourinmaru berdiri tepat di sampingnya. Begitu dingin, begitu dekat, begitu akrab. Terasa seperti sedia kala. Ia menggeratakkan buku-buku jarinya. "Tapi aku masih lapar."
Ichigo tertawa keras, sementara Neville nyengir gugup.
"Tunggu," kata Toushiro mendadak, menatap Ichigo. Ia baru menyadarinya. Ada beberapa lebam di wajah Ichigo dan tangan kananya berselubung perban. Ia menatap si rambut jingga penuh selidik. "Apa yang terjadi?"
Ichigo berjengit. "Aku ceritakan nanti."
"Kalau begitu ayo kita turun ke Aula! Lihat!" Rangiku menunjuk ke jendela. Ternyata sudah gelap. "Taicho tidur seharian! Momo tadi baru saja kusuruh turun… dia belum makan dari kemarin… Ayo turun dan makan!"
"Hinamori… tidak makan dari kemarin?" tanya Toushiro, memakai tabi-nya. Ia mengernyit memandang Rangiku. "Kenapa?"
"Sudah jelas, 'kan?" kata Rangiku. "Dia mencemaskanmu setengah mati! Kau akhirnya bangun dan bisa jalan lagi, tapi kemudian setelah Shutara Taicho datang kau pingsan lagi!"
"Mana ada yang bisa makan dengan tenang dengan kau yang bikin semuanya jadi heboh," timpal Ichigo. "Neville juga tuh, dia mencoba mengunjungimu, tapi ayah dan Urahara-san melarang siapapun menjengukmu." Ichigo menghela napas. "Untung semuanya sudah selesai."
"Hampir," kata Rangiku. Ia mencegah Toushiro mengambil zanpakuto-nya. Toushiro menatapnya heran. Rangiku tersenyum, lalu menyerahkan haori sang komandan pada empunya. "Ini. Shutara-san membuatkan yang baru untukmu."
"Uh…" Toushiro menerima haori itu. Ia tak mengira anggota Zero Division mau repot-repot seperti ini. "Sepertinya aku harus bilang terima kasih." Ia membuka lipatan haori itu. "Tapi lengannya panjang…"
"Anda tidak mau lengan panjang?" tanya Rangiku.
Toushiro menggeleng. "Panas."
Rangiku tersenyum. "Akan kuperbaiki… ah, tapi aku tidak pintar menjahit… Momo! Ishida juga lumayan! Biar kuminta salah satu dari mereka memperbaikinya kalau begitu!"
Toushiro mengangkat bahu, membiarkan Rangiku mengambil haori-nya dan melipatnya lagi. Ia mengambil zanpakuto-nya, dan menyampirkan rantainya ke bahunya. Ichigo melemparkan haori lain, haori berwarna biru tua bermotif bambu yang sebelumnya di pakai Toushiro.
"Aku tahu kau sudah sembuh. Tapi malam ini cukup dingin walau musim panas sudah mulai, jangan buat orang cemas lagi," kata Ichigo.
Toushiro mendengus pelan, tapi tak berkomentar. Ia menatap Neville. "Jadi, bagaimana sekolah?"
"Yah, kau tahu, dengan semua hal itu… heboh sekali… Semuanya ramai membicarakanmu, atau Ichigo, atau… yah, semua teman-teman shinigami-mu. Dan dua Arkuru-"
"Arrancar," koreksi Toushiro, sementara Ichigo mendengus keras.
" – ah, ya, itu," kata Neville malu-malu, "Arrancar itu banyak membuat anak-anak ketakutan. Yang pucat itu sih tidak terlalu, dia pendiam sekali. Tapi yang satunya," Neville sedikit bergidik, "kudengar dia hampir menghajar Montague dari Slytherin…"
Neville memberitahu beberapa hal yang terjadi pasca pertempuran pada Toushiro selama perjalanan menuju Aula Besar. Diantaranya cukup menarik, seperti reaksi Fudge yang terkaget-kaget saat tiba di Hogwarts yang porak-poranda, atau ekspresinya saat melihat Sirius Black, atau saat melihat para shinigami.
Mereka tiba di Aula Besar, yang untungnya sudah lewat dari waktu makan malam anak-anak sehingga tak banyak murid yang tersisa di sana. Lagipula, para shinigami tampaknya menjadikan tempat itu sebagai ruang pertemuan, bersama anggota Orde, sehingga anak-anak memilih untuk tidak berlama-lama di Aula, terlalu segan untuk berada di sana.
"Ah, kau sudah bangun?" Ukitake berjalan menghampiri Toushiro, tersenyum senang. "Dan sepertinya kau sudah sehat."
Toushiro mengangguk.
"Dan butuh makanan," kata Rangiku ceria. Ia mendorong Toushiro dan menggandeng Neville ke meja Gryffindor. "Ayo, ayo! Aku juga sudah lapar sekali!"
"Shiro-chan!" sambut Momo riang. "Oh, syukurlah kau sudah bangun!"
"Hati-hati, dia bilang dia sedang kelaparan, kurasa dia bisa menelan hippogriff bulat-bulat!" kata Ichigo, nyengir.
"Aku memang lapar, tapi aku tidak sebuas itu," protes Toushiro.
__ADS_1
"Apa itu hippogriff?" tanya Rukia penasaran.
"Makhluk sihir," kata Hermione, "setengah elang setengah kuda. Tapi aku ragu siapapun mau memakannya. Mereka hewan angkuh."
"Oh, benar juga," kata Ichigo, berpikir sejenak. "Mungkin itu jenis hewan yang cocok jadi peliharaan Toushiro atau Byakuya, sama-sama angkuhnya…"
Ichigo langsung menerima deathglare dari Toushiro, Byakuya, dan Rukia. Jika kita tak mengenal siapa Ichigo Kurosaki, barangkali dia sudah mati.
"Kau tidak tahu rumornya, Ichigo?" bisik Ikkaku, sementara Toushiro menurunkan pandangannya ke meja, menarik semangkuk ramen hangat ke arahnya. "Komandan Hitsugaya tidak punya hewan peliharaan karena satu alasan yang bagus sekali, demi keselamatan hewan itu sendiri."
"Hah?" Ichigo mengangkat alis tak mengerti.
"Kok begitu?" tanya Ginny.
"Itu karena," kata Rangiku nimbrung, "dulu Taicho lebih temperamental dari sekarang. Apalagi padaku. Kalau sedang bad mood, reiatsu-nya langsung meledak dan boom! Es di mana-mana. Shinigami sih tidak masalah dengan itu, kami dilatih menghadapi reiatsu. Tapi hewan?" Rangiku menggeleng. "Dulu aku pernah menghadiahkannya ikan mas kecil. Tapi lima menit kemudian ikannya mati."
"Itu karena kau menumpahkan tinta ke laporan yang kubuat," kata Toushiro sambil memisahkan sumpitnya dengan bunyi kelotak keras, membuat Rangiku terlonjak. "Kalau kau tidak ingat, itu laporan yang kukerjakan sampai lembur dua hari, terang saja aku marah."
"Aku juga memberimu kakatua bagus, tapi umurnya cuma dua hari! Mati membeku!"
"Itu karena Komandan Shiba menerobos masuk kamarku jam lima pagi setelah aku baru pulang dari misi." Toushiro meniup ramennya. "Refleks."
"Refleksmu berbahaya," komentar Shinji. "Kau melepaskan reiatsu-mu begitu merasa bahaya? Ckckck… itu berlebihan."
"Kau tidak kenal ayahku," kata Ichigo. Ia menatap Toushiro. "Jadi dia menerobos masuk ke kamarmu juga untuk bilang selamat pagi?"
Toushiro mengangguk. "Setiap hari, kecuali kalau aku pergi misi."
"Ah. Aku ingat kau pernah meledakkan dinding dengan Shakkaho," kata Rangiku, terkikik. "Tepat di muka Shiba Taicho, membuatnya terlempar sampai sepuluh meter!"
"Hebat!" seru Ichigo gembira. Toushiro menyeruput ramennya tak peduli, sementara Shinji tertawa terkekeh dan beberapa penyihir terbelalak.
"Tidakkah itu berbahaya?" tanya Neville cemas. Ia teringat saat ujian Metode Pertahanan Klasik Jepang, bagaimana kekuatan ledakan Shakkaho yang bisa meledakkan pintu besi. Mantra itu untuk meledakkan seseorang? Neville bergidik.
"Mantra begitu tak akan cukup untuk membunuhnya," kata Toushiro kalem. "Aku bahkan ragu orang itu bisa mati…"
"Shirooooo-chaaaan~" terdengar suara yang sangat tidak asing.
"Oh, sial," gerutu Toushiro.
"Jangan cemas. Kuurus ini." Ichigo berdiri dari duduknya dan berbalik, menghadapi ayahnya yang berlari ke arah mereka. Para penyihir agak heran melihat Ichigo bersiap dengan kuda-kuda.
"Minggir, first-sonny boy!"
"Ah, ini dia," kata Yoruichi malas.
Isshin bergerak cepat, tinjunya melesat dan….
DUAKH!
Ichigo berhasil menangkisnya. Dan kemudian, Ichigo, dengan gerakan cepat membanting ayahnya ke lantai batu; terdengar beberapa pekik terkejut. Berikutnya, Ichigo dengan santainya mendudukkan diri di punggung ayahnya, yang mengaduh atau menggerutu tidak terlalu jelas.
"Jangan lakukan trik konyol itu pada orang lain," kata Ichigo malas.
Entah apa yang dikatakan Isshin, mereka tak bisa mendengarnya. Sepertinya wajahnya menempel terlalu dekat dengan lantai batu, membuat suaranya teredam dan tak jelas.
Pandangan Toushiro jatuh pada Grimmjow Jeagerjaques. Ia duduk di samping Orihime yang sedang menggunakan teknik Shun-Shun Rikka-nya padanya; ada aliran darah dari pelipisnya dan posisi lengan kirinya tampak ganjil, mungkin patah.
Toushiro lalu menatap Ichigo, yang mendelik padanya. Nah, sekarang ia sudah bisa menghubungkan peristiwa ini.
"Jadi kalian memutuskan untuk mengadakan duel, begitu?" tanyanya datar. "Siapa yang menang?"
"Apa, Udang?! Kau diam saja!" bentak Grimmjow, dan berikutnya ia menerima pukulan yang cukup keras di kepalanya, hadiah dari Rangiku. Wanita itu berdiri di belakangnya, menguarkan aura aneh. Ichigo, yang melihat ini tertawa senang.
"Sialan kau, Perempuan! Dan kau, Ichigo! Awas saja, kali-GAH!"
Ulquiorra baru saja memukul lengan kiri Grimmjow, membuat si rambut biru mendengking dan melemparkan sumpah serapah kepada Ulquiorra, untungnya dalam bahasa Jepang sehingga para penyihir tak mengetahuinya. Ulquiorra menatap Toushiro, "Kau sudah tahu. Sikap temperamentalnya cukup untuk jadi jawabannya."
"Jadi," kata Toushiro, mengabaikan Isshin dan bicara kepada Byakuya dan berisiknya umpatan luar biasa Grimmjow sambil menarik mangkuk berisi nasi dan sepiring tempura, sementara Rangiku meminta bantuan Momo untuk memperbaiki haori Komandan Divisi 10 itu, "Komandan Tertinggi dan utusan Centra 46 itu sudah pergi?"
Byakuya mengangguk. "Tak bisa meninggalkan Seireitei lebih lama, begitu kata Komandan Tertinggi. Dan Genjiro Shitara harus melaporkan apa yang terjadi di sini pada anggota Centra 46 yang lain. Walau keputusan pembebasanmu sudah diberikan dengan persetujuan Gotei 13 dan Zero Division, mereka ingin kau datang ke Seijōtōkyorin *) untuk memberi keterangan setelah kau kembali ke Seireitei."
Toushiro menatap Byakuya. "Mereka menyuruhku datang? Area itu terlarang…"
"– kecuali kau datang tanpa izin," kata Yoruichi. "Tapi kau pernah datang ke sana sebelumnya dan tanpa izin." Yoruichi menyeringai. "Astaga, kau, salah-satu-Komandan-patuh-peraturan membobol Markas Centra 46? Hebat!"
"Itu Shiro-chan-ku!" kata Isshin bangga, setelah Ichigo menyingkir dari punggungnya. "Intuisi tajamnya menuntun kemana lawannya berada! Lihat? Itu baru anakku!"
"Jadi itu mau mereka… Apa kata Komandan Tertinggi?" tanya Toushiro, mengabaikan Isshin yang berkata lesu 'Dia nyuekin aku…'
"Dia bilang lebih baik kau turuti apa maunya mereka. Jelas mereka kecewa tidak bisa menghukummu karena kasus sebesar ini. Tidak setelah Zero Division turun tangan atas perintah Raja," kata Shinji.
Toushiro sedikit berjengit. Fakta tentang Penjaga Surga hampir disinggung dalam perbincangan ini. Dia tidak ingin membahasnya, bahkan dia tidak ingin memikirkannya, yah, untuk saat ini. Isshin, hebatnya, menyadari perubahan ekspresi Toushiro, langsung mengalihkan percakapan.
"Coba tebak, Shiro-chan, kabar lain yang dibawa Shutara-chan pada kita!" seru Isshin, memasang tampang serius.
"Apa?" tanya Toushiro muram.
Isshin mengeluh pelan, "Kursi Komandan Divisi 8 tidak akan kosong lagi."
Toushiro menatapnya dengan mata terbelalak.
"Lihat reaksinya, Shiba Taicho?" ujar Rangiku, tampak geli. "Dia akan kaget sekali."
"Itu benar," kata Byakuya datar. "Zero Division merekomendasikannya kembali ke Gotei 13, atas perintah Raja."
"Ini antara berkah dan melapetaka," kata Isshin.
"Malapetaka," kata Toushiro segera.
"Kenapa kau bilang begitu? Tidakkah kau senang melihatku lagi?"
"Aku akhirnya bisa tidur tanpa cemas seseorang mendobrak pintu kamarku…"
"Itu berlebihan, Shiro-chan…"
"Dan jangan panggil aku begitu!"
"Kau tahu apa bagian terburuknya? Tak ada kau dan Rangiku-chan di Divisi 8! Kalian pindah saja, ya."
"Aku tidak akan meninggalkan Divisi 10 kecuali aku sudah mati," tegas Toushiro.
"Ugyaa! Siapa yang akan mengurus laporan mengerikan itu?!"
"Urus saja sendiri," kata Toushiro tak peduli.
"Nah, anda harus lakukan tugas anda dengan baik karena aku tak akan mengejarmu atau melakukan tugasmu," timbrung Rangiku sok.
"Kau benar-benar perlu cermin, Matsumoto," kata Toushiro datar.
"Eh?! Kok Taicho bicaranya gitu?" kata Rangiku cemberut.
"Karena kau yang selalu kabur dan membiarkan dia mengerjakan tugasmu, tentu saja itu artinya kau perlu cermin, Rangiku," celetuk Renji.
"Nah, Rangiku-chan, kau boleh ke Divisi 8 kalau mau," ujar Isshin.
"Malas, ah! Hitsugaya Taicho lebih imut darimu. Aku pilih dia!" Toushiro menatapnya; bekas luka di sisi kiri wajahnya, entah karena efek cahaya membuat ekspresi menyeramkan itu bahkan membuat Renji, Ikkaku, Yumichika, Momo, dan hampir semua penyihir yang melihatnya bergidik. "Eh, agak seram, sih," kata Rangiku gugup. "Tapi aku tetap pilih dia!"
"Sepertinya," kata Ukitake lega, melihat perbincangan para shinigami itu, "semuanya akan baik-baik saja."
"Yeah, Toushiro sepertinya menghadapinya dengan baik," kata Lupin kagum. Ia bisa mengerti bahwa apa yang dialami Toushiro bukanlah hal yang mudah. Ia sendiri, setelah menyadari bahwa ia berubah menjadi manusia serigala, merasa cukup tertekan dan putus asa. Merasa tak ada harapan dan semua orang terlalu takut untuk mendekatinya. Melihat Toushiro, yang juga berubah tapi bisa tetap tegar, itu membuatnya merasa kagum, menaruh hormat pada shinigami muda itu. Ia juga terkesan pada sikap Gotei 13 yang membela rekan mereka. Ia awalnya mengira bahwa Gotei 13 adalah organisasi kaku yang hanya berpusat pada peraturan. Tak disangkanya mereka memiliki kesetiaan pada rekan mereka, masih memiliki hakikat mereka sebagai manusia.
"Benar, dia bisa menghadapinya dengan baik," kata Ukitake. Tapi para penyihir melihat senyum sedih Komandan Divisi 13 itu.
"Ada apa?" tanya Sirius pelan, sehingga para shinigami yang mulai ribut berbincang tidak mendengar mereka. Harry menatap walinya dan Ukitake dengan ingin tahu.
"Aku cukup mengenal Komandan Hitsugaya. Dia masih memegang prinsip pribadinya yang harus kuakui terlalu kaku untuk dirinya sendiri… Dia tak akan memperlihatkan apa yang dia rasakan begitu saja. Apa yang terjadi kali ini," Ukitake mendesah pelan, "hal sebesar itu, aku yakin itu mempengaruhinya. Dia menghadapinya dengan baik, itu benar, atau bisa juga dikatakan, dia menyembunyikannya dengan baik."
"Menyembunyikannya?" tanya Mr Weasley terkejut.
"Dia menyadari posisinya sebagai seorang komandan," kata Ukitake muram. "Ia tak bisa membiarkan bawahannya terpuruk jika dia sebagai atasan memperlihatkan kelemahan. Dalam perang, selalu seperti itu. Tak hanya dalam perang sebetulnya, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pimpinan, kau harus melindungi dan memberi semangat pada pasukanmu. Jangan perlihatkan kelemahan dan ketidak berdayaan. Semua komandan seperti itu, termasuk Komandan Hitsugaya, yang harus bertahan untuk melindungi Rangiku dan Divisi 10."
Harry termenung mendengar penjelasan itu. Inikah, harga mahal dari menerima gelar seorang komandan? Begitu prestisius, terhormat, tapi… sedikit menyedihkan.
"Hougyoku… Penjaga Surga… hollow," kata Ukitake, masih sama muramnya. "Dia menerima tanggung jawab yang berat, dan bagaimana dia bisa tetap terlihat biasa saja? Aku yakin tak begitu. Dia menyimpan semua ketakutannya, kecemasannya, dan segalanya itu sendirian. Dia orang yang seperti itu. Terlalu baik sehingga tak ingin membuat orang lain mencemaskannya, terutama Momo Hinamori."
"Dia benar-benar akan melakukan segalanya untuknya, eh?" ujar Shinji, memilih duduk menjauhi keramaian rekan-rekan shinigaminya yang berisik; lebih tepatnya Isshin, Ichigo, Renji, Ikkaku, dan Rangiku. "Tak kusangka rasa bersalahnya yang gagal melindunginya sekali berdampak begitu besar…"
"Tak hanya sekali," kata Ukitake, tersenyum muram. "Kau melihat apa yang terjadi dalam perang, Hirako-san. Dan mereka teman dari kecil, mereka mengenal satu sama lain lebih baik. Ikatan yang lebih kuat… Tentu saja dia akan melindunginya."
"Dan sepertinya aku juga harus melindunginya." Shinji menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. "Tak mau berakhir seperti Aizen… Dan dibantai Penjaga Surga, itu bukan akhir yang keren untukku."
"Katakan padanya tentang rencana latihannya," kata Ukitake, tersenyum. "Kuserahkan urusan Vizard padamu."
"Tentu, tentu… eh, sebentar." Shinji menatap Ukitake. "Dia punya bankai baru, 'kan?"
Ukitake tersenyum. Mengangguk.
"Bankai-nya yang sebenarnya?" ulang Shinji.
Ukitake mengangguk lagi.
"Daiguren Hyourinmaru sudah cukup merepotkan, bagaimana dengan Souka ten Hyourinmaru?!" keluh Shinji.
"Ah, aku akan beritahu sedikit tips," kata Ukitake tenang. "Aku sudah mengetahui semaua tahapan shikai dan bankai para komandan Gotei 13. Tak hanya para komandan, tapi juga para letnan. Dan untuk Komandan Hitsugaya, dia sedikit… istimewa."
"Ah, pasti begitu. Dengan siapa dirinya sebenarnya…"
Para penyihir jelas penasaran dengan ini.
"Nah, di antara para komandan, Hyourinmaru sepertinya satu-satunya zanpakuto yang tahapan shikai dan bankai-nya dipisahkan oleh level kekuatan yang besar. Ada rentang jarak yang lebar dalam hal tingkatan reiatsu, pertahanan, dan daya serangnya. Dia memang berhasil mencapai bankai dalam waktu singkat, tapi masih belum terasah benar. Dan sekarang, bankai-nya mulai mencapai tahapan sempurna. Yang belum sempurna adalah pengendaliannya."
"Makanya aku bilang, itu merepotkan," gerutu Shinji.
"Yang membedakannya," lanjut Ukitake, tersenyum, "adalah jumlah es yang dihasilkan."
"Hm?" Shinji menatap Ukitake.
"Teknik yang digunakan Shiro-chan untuk tahapan shikai dan bankai-nya sama, bukan? Menggunakan Ryuusenka di shikai, dia bisa lakukan juga di bankai. Bahkan Hyouten Hyakkaso, dia juga bisa melakukannya di shikai…"
__ADS_1
"Serius?" sela Shinji.
Ukitake mengangguk. "Dia hanya memilih untuk tidak melakukannya dalam shikai. Terlalu mematikan dan kontrolnya untuk teknik itu masih kurang. Yang jelas, jika kau mengetahui perbedaan ini, kau bisa memperkirakan kekuatan yang digunakannya dalam bankai."
"Kau dengar apa yang dikatakan Shutara? Segel Penjaga Surga dilepas, dia lima kali lebih kuat dari sekarang! Jika dipikir-pikir, saat shinigami mencapai bankai, dia lima kali lebih kuat dari biasanya, dan kenyataan kalau dia Penjaga Surga, itu artinya dia sepuluh kali lebih kuat daripada shinigami biasa!"
"Hebat," komentar Fred dan George bersamaan.
"Alasan kenapa aku memberitahukan ini adalah agar kau bisa merancang metode latihan untuknya. Jika kau tahu serangannya, kau tinggal memprediksi seberapa jauh daya serangnya, terutama jika dia gunakan Souka ten…"
"Kalau begini, dia tak hanya butuh Vizard, tapi juga Kenpachi Zaraki…"
Ukitake menggeleng. "Jangan dulu. sampai dia bisa mengendalikannya, jangan ada duel antara dia dan Zaraki; mereka bisa saling bunuh. Lagipula fokus latihan dengan Vizard adalah mengendalikan hollow-nya. Mungkin opsi lawan yang lain, adalah Ichigo Kurosaki. Level kekuatan Ichigo yang besar bisa jadi lawan yang tepat untuknya."
"Itu poinnya, Ukitake. Hollow-nya. Jika Hitsugaya tidak cukup termotivasi, hollow akan mengambil alih dan menggunakan bankai-nya yang belum dilatih itu. Aku yakin dia bisa membekukan seluruh Seireitei dan menghabisi kita semua."
Ukitake tersenyum. "Tapi aku percaya padamu dan Vizard yang lain."
Shinji terdiam sejenak. "Baik. Tapi katakan pada Kyouraku aku mau kenaikan gaji."
Shinji meninggalkan tempat itu, sementara Ukitake tersenyum geli.
"Ukitake, Sir?" ujar Harry cemas.
"Ya?"sahut Ukitake ramah.
"A-apa Toushiro benar-benar akan baik saja?"
Ukitake tersenyum. "Mengesampingkan apa yang sudah kukatakan, sejujurnya aku juga mencemaskannya. Tapi kau sudah mendengar pendapat yang lain, bukan? Dia sangat keras kepala. Dia tidak akan mudah menyerah. Jadi," Ukitake menepuk bahu Harry, "yang bisa aku – kita – lakukan adalah mempercayainya."
"… enam bulan?!" Mereka menoleh mendengar suara Toushiro yang meninggi. Shinji duduk di dekatnya, sehingga Ukitake bisa menebak bahwa topik berubah menjadi rencana latihan untuk si komandan berambut putih.
"Aku melakukan sedikit perhitungan… dengan kemampuanmu dan lain-lain, paling tidak kau bisa mengendalikan hollow-mu dalam waktu segitu. Minimal, walau kau 'meminjam' kekuatannya, kau bisa memakai topeng hollow tanpa kehilangan kesadaran."
"Kau perlu seratus tahun untuk mengendalikannya, 'kan?" kata Toushiro. "Mana mungkin hanya enam bulan…?!"
"Ichigo hanya satu bulan," sela Shinji.
"Dan semua tahu kalau dia abnormal," gerutu Toushiro.
"Hei!" protes Ichigo.
Shinji terkekeh. "Kau benar. Dan, tidakkah tidak jau berbeda denganmu."
Toushiro mendengus jengkel, menusuk katsu dengan sumpitnya. "Kalau mau buat batas waktu, lihat situasinya dulu. kau kira mengendalikan hollow mudah…"
"Tidak," sahut Shinji segera. Ia menghela napas. "Kau meremehkan dirimu sendiri."
"Hanya mencoba berpikir realistis," kata Toushiro, mengernyit. "Perlu berdekade-dekade untuk mengetahui bankai sebenarnya dari Hyourinmaru. Aku tahu dibandingkan dengan yang lain, itu relatif singkat, tapi tetap saja bukan hal mudah. Percepatan seperti itu, aku ragu akan terjadi untuk kedua kalinya."
"Sudah kubilang, kau meremehkan dirimu sendiri." Shinji berpikir sejenak. "Kalau begitu ayo buat pertaruhan."
"Untuk apa?" tanya Toushiro.
"Untuk membuktikan aku benar dan kau salah."
Toushiro menggeratakkan giginya jengkel.
"Nah, pertaruhannya…" Shinji berpikir sejenak. "Hm… kalau kau gagal mengendalikannya dalam waktu enam bulan, aku akan tindik telingaku."
"Komandan!" seru Momo terkejut. Tapi, Shinji mengabaikannya.
"Tapi jika kau berhasil melakukannya, kau yang harus menindik telingamu." Rangiku terbelalak. "Tapi, tidak boleh curang. Aku akan melatihmu dengan yang lain dan kau juga harus berusaha mengendalikannya."
"Pertaruhan macam apa itu?!" protes Toushiro.
"Apaan? Kalau bayar denda sih gampang! Dan permainan menuruti-perintah-yang menang itu pertaruhan anak kecil! Kenapa? Takut ditindik? Takut sakit?" Shinji terkekeh melihat ekspresi tersinggung Toushiro.
"Baik. Setuju. Terserah."
"Yaay! Foto eksklusif Taicho dengan tindikan!" seru Rangiku antusias.
"Kau ada dipihak siapa?!" bentak Toushiro jengkel.
"Maaf, Taicho, aku dukung Hirako Taicho," kata Rangiku ceria.
"Anak baik! Aku hutang sebotol sake untukmu!" kata Shinji terkekeh.
"Shinigami itu aneh," komentar Ginny.
"Eh, ngomong-ngomong, Komandan Hitsugaya," kata Rukia, terdengar agak ragu, "anda makan banyak sekali."
Toushiro, yang baru saja menelan makanan menatap Rukia, lalu menatap ke meja. Di depannya adalah mangkuk ramen yang kosong, dua mengkuk nasi yang tak bersisa dan satu mangkuk lagi yang hampir habis, piring tempura yang hanya menyisakan remahnya, dan seporsi katsu yang tinggal beberapa potong. Toushiro menatap sumpit di tangannya dengan horor, sementara rekan-rekan shinigami-nya bahkan Grimmjow, menatapnya tak percaya; bahkan Byakuya menatapnya heran.
"Kau benar-benar selapar itu?" tanya Ichigo, terbelalak.
"Sepertinya begitu," cicit Neville.
"Oho! Tak apa, tak apa!" kata Isshin gembira, menepuk bahu Toushiro. "Remaja yang tumbuh memang perlu banyak makan!"
"Ah, benar juga," kata Ichigo. "Siapa yang tahu kapan kau akan bertambah tinggi… GAH!"
Ichigo yang duduk di antara Toushiro dan Rukia baru saja mendapat dua bogem matang; Toushiro menonjoknya di ulu hatinya dengan siku dan Rukia meninju rahangnya. Melihat ini, Renji terkekeh senang bersama Ikkaku dan Shinji.
"Apa maksudnya itu?!" seru Ichigo tak terima.
"Kapan kau belajar? Dia itu komandan!"
"Tak peduli predikat 'Pahlawan Soul Society' kau tetap saja kalah dari Komandan Kecil itu, Ichigo," ejek Grimmjow. Pemulihannya oleh Orihime baru saja selesai. Ia menggerakkan tangan kirinya dengan ekspresi puas. "Nah, kita bisa lanjut duelnya…"
"Kami harus pergi sekarang," kata Ulquiorra, memberitahu Ukitake, memotong kalimat Grimmjow. "Perburuan Arrancar di negara ini sudah selesai-"
"Aku belum menyelesaikan duel dengan Ichigo!" protes Grimmjow tak terima.
"– dan jika kami lebih lama di sini, para hantu Hogwarts bisa berubah menjadi hollow," kata Ulquiorra, seakan tak ada interupsi. Ulquiorra ganti menatap Urahara. "Apa kami bisa mengakses garganta di sini?"
"Perlindungan kastil belum diaktifkan penuh, jadi kalian bisa membuka garganta," kata Urahara riang.
Ulquiorra mengangguk, dan kemudian ia mengangkat tangannya dan membuat gerakan mengibas. Sebentuk celah muncul di udara, seakan udara itu terbelah, menampilkan lubang hitam.
"Kita pergi, Grimmjow," kata Ulquiorra.
"Cih!" gerutu Grimmjow jengkel. "Aku bisa buka garganta sendiri! Pulang saja duluan sana!"
Ulquiorra menatap Grimmjow. Dan mendadak, pemuda pucat itu menarik belakang kerah hakama si rambut biru, yang langsung mengumpat-ngumpat. "Aku tak punya cukup kesabaran untuk otak kekanak-kanakkanmu."
Mata hijau zamrud Ulquiorra untuk beberapa detik terarah pada Orihime, mengedik cepat; sampai ketemu lagi, Onna.
Orihime menangkap pesan tanpa kata itu, tersenyum tipis.
Dan, mengabaikan total Grimmjow yang mengutuknya sambil memberontak – sungguh mengherankan bagaimana postur kurus Ulquiorra bisa setengah menyeret mantan Sexta Espada itu dengan satu tangan – Ulquiorra berjalan masuk ke celah gaganta. Celah itu perlahan menutup, seakan menelan sosok kedua Arrancar itu.
"Well, Kucing Biru pengganggu itu sudah pergi!" kata Ichigo senang.
"Tunggu saja, beberapa hari lagi dia akan muncul di Karakura, mungkin menjebol jendela kamarmu," kata Rukia datar.
Ichigo terbelalak horor. "Damn!"
"Aku akan mencuci mulutmu dengan sabun, Nak, tunggu saja," kata Isshin, membuat Ichigo bergidik.
"Oke! Oke! Gomen!" seru Ichigo buru-buru.
"Nah, kau beruntung adik-adikmu tidak di sini, kau lolos kali ini, Anak Muda!" Isshin menatap Toushiro, yang balik menatapnya dengan alis terangkat. "Tunggu. Dia 'kan adikmu…"
"Sejak kapan aku jadi anakmu?" gerutu Toushiro.
"Sejak pertama kau menginjakkan kaki di Divisi 10!"
"Gak mau!"
"Shiro-chan…"
"Jangan panggil aku begitu!"
"Mulai lagi mereka," celetuk Tonks, tertawa kecil.
"Apa kau serius dengan taruhan itu?" tanya Mrs Weasley, terdengar tak setuju, menatap Shinji.
"Hah? Oh, tentu saja. Hitsugaya juga bilang setuju, tak bisa ditarik," kata Shinji santai. "Siap-siap kalah, Hitsugaya." Shinji mengerling, melihat Mrs Weasley masih terlihat tak puas. "Ha! Ditindik tidak sesakit itu." Shinji menjulurkan lidahnya; ada tindikan di tengah lidahnya. "Kalaupun aku kalah, aku senang-senang saja. Tapi Hitsugaya," kekeh Shinji, "aku cukup tahu wataknya. Jika dia menang taruhan, dia kalah pada dirinya sendiri. Jika dia kalah taruhan, dia menang atas dirinya, tapi…"
"Menindik telinganya jelas bukan hadiah yang menyenangkan," kata Ukitake, menggelengkan kepalanya.
Juushiro Ukitake bertanya-tanya dalam hati, siapakah yang kekanak-kanakan? Yang membuat taruhan, atau yang menerimanya?
Yang manapun, ia harus menyiapkan kantong yang sangat besar, berisi banyak permen dan makanan ringan, untuk Toushiro Hitsugaya. Walaupun, Ukitake tersenyum dalam hati, semua itu akan berpindah tangan ke Yachiru Kusajishi.
*) Seijōtōkyorin (Tranquil Forest of Residential Towers) markas Centra 46.
Review please~
Bonus! Omake 1:
Grimmjow berdecih kesal. Duelnya dengan Ichigo Kurosaki berakhir dengan kemenangan si rambut jingga. Ia benci harus mengakuinya, tapi memang benar Ichigo menjadi lebih kuat dari terakhir ia bertemu - ralat, berduel - dengannya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ia terpaksa menerima bantuan temannya, si gadis Inoue itu untuk memulihkan lengannya yang dipatahkan dengan seenak jidat oleh Ichigo. Ia tidak suka menerima bantuan, apalagi dari manusia. Tapi, daripada nanti ia kembali ke Hueco Mundo, babak belur dan para Arrancar tahu ia dikalahkan oleh shinigami pangganti itu, bah! Ia tak mau merepotkan diri mengotori harga dirinya!
Dan mana ia tahu ada hal lain yang menunggunya di Aula Depan. Hal yang sama menjengkelkannya deNgan rengekan Nel saat ia dalam wujud anak-anaknya. Si Asisten Senior Menteri Sihir yang berwajah kodok itu! Hell! Bahkan tampang nyentrik Komandan Divisi 12 terkini masih lebih pantas dilihat!
Dolores Umbridge menatap Arrancar berambut biru di depannya dengan pandangan menilai penuh selidik. Yang benar saja! Dia mau masuk ke Aula Besar dengan tubuh bersimbah darah dan lengan patah?!
"Minggir, Perempuan," gerutu Grimmjow.
"Kau tidak boleh masuk, Arrancar," kata Umbridge manis, membuat Grimmjow berdecih jijik. "Sebelum tahun ajaran ditutup, aku masih Inkuisitor Agung Hogwarts, dan aku melarangmu, Arrancar yang berpotensi menjadi ancaman memasuki Aula. Ditambah lagi, kemunculanmu di Aula hanya kan menambah kepanikan massa, dan kau juga mengotori sekolah yang hebat ini dengan darah dan..."
"Sudah kubilang, minggir!" potong Grimmjow tak sabar.
"Aku rasa, sikap brutalmu..."
Kalimat Umbridge terpotong begitu saja saat mata biru Arrancar di depannya menatap lurus ke matanya. Untuk pertama kalinya, ia merasakannya. Teror.
"Aku tidak peduli siapa kau, tempat apa ini, dan kepanikan massa keparatmu itu. Aku juga tidak peduli dengan sikap brutalku. Yang aku pedulikan, minggir dari jalanku, Perempuan!"
__ADS_1
Di luar kemauannya, bahkan di luar kesadarannya, Dolores Umbridge bergerak minggir. Grimmjow Jeagerjaques melangkah memasuki Aula dengan tidak peduli. Tidka peduli sejumlah anak yang menjerit kaget melihat dirinya yang seperti baru selesai mandi darah.
Yang ia pedulikan, tak ada yang menghalangi jalannya menghampiri Orihime Inoue untuk menyembuhkannya. Masa bodoh dengan tampang ***** dan ngeri dari Dolores Umbridge yang masih berdiri di Aula Depan.