
"Ehem, ehem."
Mereka semua menatap Umbridge, yang menyunggingkan senyum kodoknya yang biasa. Harry benci melihat kesan penuh tuduhan yang ada di matanya.
"Menarik sekali," komentarnya manis. "Tapi aku tak melihat hal-hal yang anda ajarkan dengan jelas. Duel itu terlalu singkat…"
"Itulah sebabnya saya tak pernah memasangkan Kurosaki-san atau Hitsugaya-san dengan orang lain. Bukan karena diskriminatif, tapi karena mereka memang berada di level yang berbeda. Bahkan," Urahara membuka kipasnya dan menyembunyika sebagian wajahnya di baliknya, "aku sempat berpikir aku tak bisa mengalahkan mereka dengan mudah."
Ichigo mendengus kecil.
"Kalau begitu, saya berharap saya bisa melihat perbedaan itu," kata Umbridge semanis madu.
Dan Harry yakin ia bisa melihat kilatan ganjil di mata Urahara yang terhalang bayang-bayang topi lebarnya.
Urahara tersenyum. "Baiklah jika anda memaksa." Urahara berdiri tegak "Anda lihat, Profesor, saya punya empat katana," Urahara menunjuk empat pedang tradisional Jepang yang tergeletak dalam kotak kaca di sepanjang dinding di depan kelas. Urahara berkata kalau semua katana itu asli, namun ada di sana hanya sebagai hiasan. "Keempatnya terbuat dari baja terbaik, ditempa oleh pembuat katana terbaik di Jepang sejak berabad-abad lalu. Saya membawanya ke Hogwarts ini hanya sebagai pajangan sebetulnya, mengingat mereka sulit didapat, bukan main mahalnya, dan butuh perawatan ekstra. Karena itu aku menempatkan mantra kidou khusus pada keempatnya, sehingga tak ada yang bisa mengambil katana itu kecuali saya. Jika anda mengizinkan memakai senjata asli untuk mendemonstrasikan keahlian penyihir Shinou, apa anda keberatan jika saya dan lawan saya memakai pedang-pedang itu?"
Umbridge menggeleng, walau ia tampak sedikit ragu.
"Bagus!" kata Urahara ceria, seakan telah berhasil memecahkan masalah. "Hitsugaya-san, maju. Kita duel!"
Banyak anak memandang Urahara atau Toushiro, terkejut. Di antara si rambut jingga dan si rambut putih yang menjadi pilihannya, kenapa guru nyentrik itu memilih si rambut putih? Semua tahu, jika melihat gelagat Umbridge, kalau penyihir perempuan itu bermaksud meneliti dan menemukan kesalahan dari guru baru itu. Dan untuk melakukan hal serius macam duel, Urahara memilih si kecil itu? Yang benar saja! Toushiro baru keluar dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu! Sekarang sudah ditantang duel?! Pakai pedang asli, pula!
"Nah, Hitsugaya-san, pilih pedang favoritmu," kata Urahara santai.
"Apa anda yakin, Sensei?" tanya Toushiro, suaranya terdengar sangsi. Harry yakin rasa sangsinya bukan karena ia tak bisa, tapi karena kehadiran Umbridge.
"Tentu saja," kata Urahara kalem. "Lagipula aku perlu mengetahui apa kau masih memiliki ketangkasan yang sama setelah lama tidak di Shinou dengan semua training itu. Ayo, pilih katana-nya!"
Toushiro mengernyit. Matanya yang sehat menatap empat katana dalam kotak kaca di depan kelas dengan penuh penilaian. Ia lalu menatap Urahara. "Katana ketiga dari kanan."
Semua mata menatap senjata yang dimaksud. Toushiro memilih katana yang paling panjang; paling tidak 1.4 meter panjangnya. Banyak anak terbelalak kaget dan beberapa anak Slytherin tertawa mengejek. Namun Urahara mengangguk, seakan menyetujui pilihannya itu dan berjalan ke arah peti kaca sambil bergumam. Tak salah lagi, ia sedang merapal mantra untuk melepas energi pelindungnya. Urahara lalu membuka kaca penutupnya, dan mengambil katana itu dengan dua tangan seakan itu barang yang sangat berharga, lalu membawanya pada Toushiro.
Bunyi derak pelan terdengar saat Toushiro menerima katana itu, lalu dipegangnya dengan satu tangan.
"Ingat, Hitsugaya-san, jika kau ingin bertarung denganku, kau perlu melakukannya dengan serius…"
"Kapan dia tidak serius," celetuk Ichigo keras, sementara Urahara berjalan ke arah peti kaca lain untuk mengambil katana untuknya, yang tak sepanjang yang dipilih Toushiro tapi sedikit lebih lebar.
"Serang dengan semua kemampuan yang kau bisa," kata Urahara, nadanya santai, namun Harry bisa melihat mata Urahara sedikit liar saat memandang para siswa yang lain. "Aku mau yang lainnya – termasuk anda, Profesor – berdiri di pinggir; aku akan buat kidou pelindung agar duel kami tidak melukai kalian juga."
Segera saja anak-anak menyingkir, merapat ke dinding. Umbridge juga menepi, menatap Urahara dan Toushiro yang berada di tengah ruangan; Toushiro membawa katana yang masih tersegel itu di punggungnya, menyangganya dengan rantai halus berwarna perunggu, sementara Urahara menyelipkannya di obi di pinggangnya. Guru Metode Pertahanan Klasik Jepang itu membaca mantra kido yang tak dikenal, membentuk selubung berbentuk balok di sekitar mereka.
Urahara menatap lawannya yang bertubuh mungil. "Kau tak bisa mengalahkanku kecuali kau memang menginginkannya. Tapi jika kau terlalu menginginkannya, hati-hati jika itu malah menelan dirimu."
"Aku tahu," kata Toushiro datar, mata kanannya menyipit waspada.
"Nah, mari kita lihat apa yang bisa dilakukan jenius sepertimu, Hitsugaya-san."
Guru dan murid itu berdiri di tengah ruangan, dibatasi dari mereka semua oleh selubung energi. Keduanya berhadapan, tatapan saling waspada seakan menebak siapa yang menyerang lebih dulu. Tangan kanan Urahara melayang ke gagang katana di pinggangnya, sedangkan Toushiro mencengkeram gagang katana yang dipunggungnya; keduanya siap untuk di lepas.
Dan kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, Urahara melesat maju, diiringi kilatan perak. Banyak anak perempuan menjerit melihat katana Urahara terayun berbahaya. Namun kemudian, dentang pedang beradu terdengar; Toushiro menarik katana-nya dengan sangat cepat – nyaris tak terlihat – sukses menangkis senjata Urahara, memercikkan bunga api ke udara.
"Bagus sekali," kata Urahara, tersenyum. "Tapi kau butuh lebih dari itu!"
Toushiro mengernyit, berkonsentrasi. Dengan tenaga yang tak diduga dimiliki tubuh sekecil itu, Toushiro mendorong Urahara dengan katana-nya, memaksa guru berambut pirang itu mundur.
"Hadou ke-4: Byakurai."
Toushiro menyadari kidou itu tepat pada waktunya. Ia bergerak gesit – dengan langkah kilatnya menghindari mantra itu, membuat ledakan hadou itu melubangi lantai. Seakan tak berjeda, Urahara menembakkan Byakurai berkali-kali secara acak, yang dengan sukses dihindari Toushiro dengan shunpo-nya yang tak bisa dilihat mata para penyihir muda itu.
"Bagaimana dia melakukannya?" tanya Dean kaget sekali.
"Praktek," sahut Ichigo kalem.
Toushiro mengambil tindakan agresi. Ia berhenti menghindar, namun bukan berarti ia menyerah. Sebelum Urahara sempat menembakkan mantra lain, Toushiro menerjang maju, pedangnya terhunus.
Trang!
"Ah," kata Urahara, menatap pemuda mungil di depannya yang mencengkeram gagang pedangnya dengan erat, "aku iri dengan anak muda; mereka lebih punya banyak energi."
"Kau menyerang duluan bahkan sebelum ada yang bilang mulai," kata Toushiro datar. "Sungguh tidak sopan."
Urahara membuat gerakan menebas, tapi Toushiro berhasil menahannya. "Kau terlalu sopan untuk bertarung; tak ada yang meminta izin membunuh di pertarungan, Nak, yang ada hanya pernyataan, seperti," Harry mendengar nada bicara Urahara berubah, datar, tanpa emosi, membuat bulu kuduknya berdiri, "aku akan membunuhmu."
Harry bergidik mendengar hal itu. Dan ia yakin ia bukan satu-satunya.
"Hadou ke-31: Shakkaho!"
Urahara berdiri, tangan kirinya terarah ke depan, seakan menyambut bola api itu. "Bakudou ke-37: Tsuriboshi!"
Sebentuk perisai seperti bintang dengan sisi tak beraturan muncul di depan Urahara, menahan ledakan dari mantra yang ditembakkan Toushiro. Dan kemudian, tiba-tiba saja si rambut putih sudah berada di belakang Urahara, katana-nya mengayun.
Urahara melihat datangnya serangan itu lewat sudut matanya, segera bergerak gesit untuk menghindarinya.
"Toushiro itu 'kan kecil, kurasa karena itu dia memilih katana yang panjang sebagai senjata. Itu akan memberi jangkauan serangan yang lebih luas," kata Ichigo pada teman-temannya. "Selain itu, dia jago kidou…"
__ADS_1
Duak!
Mereka semua terbelalak kaget. Urahara menendang mundur Toushiro sampai menabrak dinding kidou dengan bunyi derak keras. Harry melihat Umbridge menahan keinginannya untuk tersenyum, yang tak dilakukannya karena Toushiro sudah berdiri, pedangnya terangkat, siap. Hanya saja, Harry melihat ada bercak darah di sudut bibirnya, yang diabaikannya sepenuhnya.
"Mungkin kau harus melihat dengan dua mata, Hitsugaya-san," kata Urahara ceria. "Dan teknik hand-to-hand combat-mu masih perlu dilatih."
Toushiro tak menjawabnya, sudah melesat bak jet dengan katana terhunus.
Draco Malfoy terpaku di tempat. Ia memang salah. Salah besar. Toushiro Hitsugaya bukan anak yang hanya punya modal otak. Bukan pula hanya memiliki good looking. Di kelas Urahara, saat ini, ia melihat kalau si rambut putih memang lebih dari itu. Dia seorang petarung, dengan kemampuan fisik dan keterampilan yang hanya bisa diimpikannya. Tak pernah dibayangkannya anak pindahan itu bisa mengimbangi guru aneh Metode Pertahanan Klasik Jepang itu. Jika Urahara menyerang, ia menangkis, atau sebaliknya, dan itu adalah gerakan-gerakan yang bisa dilihatnya dari duel itu. Sebuah sinkronisasi gerakan yang dinamis, seakan dilakukan oleh profesional. Seakan keduanya menarikan sebuah tarian pedang yang mematikan. Dentang pedang yang beradu, bunyi hantaman saat pukulan bertumbukan, desir kain saat yang empunya bergerak gesit, atau kilatan dan asap yang muncul setelah mantra-mantra kidou bertabrakan melatari duel itu.
Tepat saat itu, katana Urahara menyabet. Beberapa anak perempuan menjerit kaget; percikan darah melayang di udara. Mereka melihat Toushiro melompat mundur, mengambil jarak dari lawannya.
"Ups," kata Urahara, terdengar agak geli. Mereka melihat Toushiro menyeka pipi kirinya yang tergores dan mengeluarkan darah. Pedang Urahara melukainya. Oh, tak hanya itu. Tali eyepatch ikut terputus karenanya.
"Kau tahu," kata Toushiro tajam, menarik lepas penutup matanya itu. Banyak anak terkesiap kaget. Cakaran hollow tempo hari meninggalkan tiga bekas luka di bagian kiri wajah Toushiro. Ketiganya, yang panjangnya paling tidak tujuh senti tertoreh vertikal di kelopak matanya, memanjang dari atas alis hingga mencapai tulang pipinya. Tanpa eyepatch-nya siapapun akan mendapat kesan bahwa cacat itu membuat Toushiro sedikit menakutkan, ditambah tatapan matanya yang sekarang bertambah dingin. "Aku tidak mau ke rumah sakit lagi."
"Kalau begitu bagaimana kalau kita berhenti bermain-main?" kata Urahara seakan menawarkan lolipop pada anak lima tahun. "Lagipula sepertinya kau perlu sarana untuk menyalurkan stres yang berlebih dari pikiranmu."
"Begitu, ya." Toushiro menginjak eyepatch-nya yang rusak. "Dan aku melihatmu dengan dua mata sekarang."
"Suatu kehormatan."
Toushiro kembali menerjang maju. Draco melihat gerakan si kecil itu lebih cepat dan lebih agresif dari sebelumnya. Tanpa eyepatch yang menutupi bekas luka mengerikan itu, ia dijalari rasa gelisah dan ketakutan yang tak bisa dijelaskannya. Potter mungkin memiliki bekas luka berbentuk sambaran kilat yang bisa digunakannya layaknya mahkota, membuat orang-orang akan kagum mendengar kisahnya dengan Lord Voldemort itu. Itu memuakkannya. Namun, bekas luka yang dimiliki Hitsugaya jauh berbeda (iyalah). Ia melihat dan merasakan bagaimana Toushiro Hitsugaya sangat menakutkannya sekarang. Ekspresi dari wajahnya yang rusak memberinya kengerian yang sama saat melihat Pangeran Kegelapan muncul di pintu rumahnya. Bagaimana Hitsugaya mengayunkan pedangnya membuatnya melihat betapa si rambut putih bisa bertransformasi menjadi…
… seorang…
… eksekutor.
"… hentikan mereka."
Draco mendengar Umbridge berbicara. Senyum dan nada bicaranya yang kekanak-kanakan lenyap. Ekspresi wajah Inkuisitor Agung itu tampak kaku, tak menyetujui pertarungn antara Toushiro dan Urahara yang semakin serius.
"Tidak," Draco mendengar Kurosaki menjawab Umbridge dengan mata hazel yang mengarah pada duel itu. "Aku tidak bisa mematahkan kidou pelindungnya. Lagipula, menginterupsi pertarungan orang lain itu sangat tidak sopan."
"Apa kau bilang?" tanya Umbridge tak percaya
"Lagipula kalau saya jadi anda, saya tidak akan mau memisahkan duel ini. Siapa yang mau mati muda? Lagipula nanti mereka akan berhenti sendiri, kok, sampai salah satu dari mereka kalah, atau seri."
"Tapi ini berbahaya!" kata Hermione, tampak cemas setengah mati sampai wajahnya pucat pasi.
"Walaupun Urahara bilang Toushiro harus menyerangnya dengan sungguh-sungguh, dia juga tahu ini cuma duel, jadi jangan cemas, tak akan ada yang mati," kata Ichigo kalem.
Dan ternyata, duel itu sudah mencapai babak akhirnya. Fokus pertarungan Toushiro dan Urahara sekarang menjadi adu pedang yang sengit. Harry melihat duel itu tak hanya meninggalkan lantai yang rusak karena tumbukan mantra atau goresan pedang. Kimono Toushiro robek di bagian lengannya, dan topi lebar Urahara sudah jatuh dengan robek bekas tebasan dan hangus di bagian tepinya.
Mereka semua terpaku – kecuali Ichigo – melihat Urahara menembakkan Hyapporankan. Toushiro sukses menghindari tembakan tombak-tombak cahaya itu dengan shunpo-nya, dan bergerak cepat dengan katana terayun ke arah leher Urahara. Namun Urahara bergerak sangat cepat, seakan menghilang, dan muncul begitu saja di belakang Toushiro. Si rambut putih terlambat menyadarinya; tangan Urahara mengarahkan bilah tajam katana-nya ke leher Toushiro dari belakang dengan posisi mengunci.
"Tidak," kata Ichigo pelan. "Seri."
"Ah," Urahara tersenyum tipis. "Angkuh, seperti biasa." Mereka baru menyadarinya. Ada simbol mirip pentagon yang terbentuk, dengan Toushiro dan Urahara yang menjadi pusatnya. Sudut-sudut pentagon itu berpendar kebiruan. "Aku tak menyangka kau menghindari seranganku sambil membuat jebakan; sangat rapi, sampai aku tak bisa mendeteksinya. Tak mau mati sendirian, eh?"
"Jangan bodoh," kata Toushiro datar. "Kidou tidak akan cukup kuat untuk membunuhmu. Ini hanya akan sedikit melukaimu. Mau coba?"
"Tidak ah. Aku masih mau kelihatan cakep," kata Urahara ceria, melepaskan Toushiro. Simbol pentagon itu perlahan menghilang. Urahara pun menghilangkan selubung kidou-nya, lalu berjalan ke arah Umbridge yang berdiri membeku dan anak-anak yang separo takjub separo takut. Di belakangnya, Toushiro mengembalikan bilah pedang ke wadahnya, dan berdiri di samping Urahara.
"Bagus," kata Ichigo, seakan biasa mengomentari duelnya. "Tapi tadi aku berharap kau bakar topinya seluruhnya."
Toushiro hanya mengangkat bahu.
"Apa yang- apa yang kalian pikir kalian ajarkan pada murid-murid Shinou?!" pekik Umbridge, wajahnya yang seperti kodok pucat keunguan. Urahara menatapnya dengan pandangan heran, sementara Ichigo dan Toushiro bertukar pandang penuh arti. "Tak bisa ditoleransi! Kalian mencetak para pembunuh!"
Tangan Toushiro mencengkeram gagang katana di tangannya. Ekspresi mengerikannya kembali muncul. Harry sangat heran melihat Umbridge tahan melihat mata yang dingin itu.
"Profesor Umbridge," kata Urahara tenang. Kita sudah mendiskusikan ini. Sistem di Shinou berbeda dengan Hogwarts…"
"Pak Menteri akan mengetahui tentang hal ini," kata Umbridge dengan suara manisnya yang paling berbahaya. Golden Trio bertukar pandang gelisah. Ini bisa berbahaya.
"Apa?" suara Toushiro meninggi, nadanya tajam. "Anda melapor hanya karena kami memiliki cara yang berbeda dengan anda? Bisakah saya juga melapor jika saya menemukan bahwa ada sihir yang bisa memecah jiwa manusia yang dilarang oleh Shinou dan-"
"Hitsugaya-san," kata Urahara, ada nada peringatan dalam suaranya yang tenang. Toushiro terdiam, namun matanya tampak sangat jengkel. Guru nyentrik itu kembali menatap Umbridge, masih dengan sikap yang sangat tenang. "Anda boleh melakukan apa yang anda mau. Tapi saya sarankan anda membaca kembali kesepakatan kontrak yang disetujui Kementerian dengan saya."
Dengan angkuh, Umbridge meninggalkan kelas Urahara. Tapi saat sampai di pintu, ia berhenti dan berkata, "Hasil inspeksi anda akan saya berikan seminggu lagi."
"Saya akan menunggunya," kata Urahara ceria. Dan Umbridge pun pergi.
"Kau benar-benar tahu cara membuat masalah," kata Hitsugaya tajam, dalam bahasa Jepang, membuat anak-anak lain memandangnya heran. "Apa kau tahu ini akan menyulitkan kita semua? Kau harus berhenti bermain-main seperti ini."
"Aku hanya menguji seberapa besar pengaruh Kementerian dalam rencana kita," kata Urahara tenang, juga dalam bahasa Jepang. "Jangan cemas, aku yang akan mengurus dia. Aku tidak akan melibatkan siapapun, tidak juga rencana Soul Society."
Toushiro menghela napas frustrasi. "Aku tak tahu bagaimana bicara denganmu."
"Logika orang ini memang perlu dipertanyakan," komentar Ichigo. Ia selalu heran pada sikap Urahara, seakan dunia selalu berpihak padanya. Mungkin inilah efek samping berkutat dengan semua penelitian di laboratoriumnya selama ia masih berada di Seireitei. Sepertinya ada campuran zat entah apa yang memberi efek pada pola pikirnya. Ia sekarang setuju seratus persen pada Toushiro: jangan dekati Divisi 12 jika ingin otakmu baik-baik saja.
Draco mendengarkan percakapan yang tak dimengertinya itu dengan heran, begitu pula anak yang lain. Tapi ia tidak terlalu peduli. Bagaimana Hitsugaya bicara pada Umbridge-lah yang membuat keangkuhan kembali menguasainya. Hitsugaya itu, bisa-bisanya bicara pada seorang pegawai Kementerian tanpa rasa takut, apalagi segan. Ia malah terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Hanya karena dia bisa mengimbangi duel dengan guru aneh itu, bukan berarti dia bisa sombong begitu saja!
"Huh, kau bisa sombong ini sekarang, Hitsugaya," cemooh Draco keras. "Jika Pak Menteri tahu, kau tahu kalian akan dapat masalah." Beberapa anak Slytherin terkekeh geli, setuju.
__ADS_1
"Ini tidak akan jadi pertama kalinya aku berurusan dengan birokrasi kotor, kalau begitu," kata Hitsugaya dingin.
Draco Malfoy hanya bisa menatap si rambut putih dengan benci, sekalipun ia juga tak begitu mengerti apa maksudnya 'berurusan dengan birokrasi kotor'.
Lagipula, ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tak butuh peringatan Ichigo Kurosaki untuk mengganggu Toushiro lagi.
Setelah pelajaran Urahara, ia tak menyangka Ichigo akan menunggu semua temannya pergi lebih dulu – termasuk Toushiro – hanya untuk mencegatnya dalam pelajaran ke kelas Mantra bersama teman-teman Slytherin-nya. Tentu saja Crabbe dan Goyle langsung bersikap defensif, mengancam Ichigo dengan otot-otot gorila mereka. Ichigo mengacuhkan mereka, dan hanya menatap Draco dengan dingin.
"Kita perlu bicara," katanya datar.
"Bicara saja," kata Draco tak peduli.
"Kau sudah lihat apa yang bisa dilakukan Toushiro di kelas Urahara," ujar Ichigo dingin. "dan kalau kau mau tahu, aku juga bisa begitu. Tapi aku tak mau buang-buang tenaga dan kau juga pasti tidak mau kau dan teman-temanmu kuhajar sampai jadi bubur." Ichigo mengedikkan kepalanya ke arah koridor ke kelas Mantra, tanda anak-anak Slytherin lain bisa pergi meninggalkannya.
"Pergi saja," kata Draco pada teman-temannya. "Biar kutahu apa maunya dia."
Anak-anak Slytherin pun pergi, sambil melempar tatapan curiga pada Ichigo. Si rambut jingga menunggu hingga anak terakhir menghilang di ujung koridor, yang sekarang hanya tinggal mereka berdua, sebelum menatap Malfoy. Ichigo senang karena menuruni gen jangkung dari ayahnya, ia bisa melihat Malfoy terintimidasi dengan sosoknya yang menjulang lebih tinggi darinya.
"Apa maumu?"
Ichigo menahan seringainya. Hebat juga Draco Malfoy, dia bisa bicara dengan nada angkuh begitu padahal wajahnya mulai memucat.
"Apa Hitsugaya yang menyuruhmu datang?"
Ichigo mendengus. "Dia tidak akan mendatangimu untuk menanyakan apa yang sudah kau lakukan padanya."
"Apa?" Malfoy menatapnya terkejut.
"Dia memaafkan terlalu mudah," geram Ichigo. Ia teringat perbincangannya tentang Malfoy dengan Toushiro beberapa malam sebelumnya. "Kau melihat apa yang terjadi, apa ketakutannya, dia tak seperti yang kau kira…"
"Begitu. Lalu kenapa?" gertak Draco. "Dia takut melihat orang-orang di sekitarnya yang mati dan…"
"Jangan bicara seakan kau tahu lebih banyak dari dia," geram Ichigo. "Kau tidak tahu apa-apa tentang dia! Kau tidak tahu apa yang sudah dia lewati!"
"Lalu apa pedulimu? Apa peduliku? Itu bukan-"
Ichigo mendorong Malfoy, membuatnya menabrak dinding. Malfoy menatap Ichigo dengan sangat kaget, mata hazel itu dipenuhi amarah.
"Apa sebenarnya masalahmu?" kata Ichigo dengan suara rendah.
"A-apa…?"
"Kenapa kau mencoba membuat Toushiro menderita?" tanya Ichigo dingin. "Aku tahu kau yang membuat Neville menumpahkan teh ke Toushiro, membuatnya terkena mantra… kau juga mengerjai Neville di beberapa kali kesempatan untuk menjauhkannya dari Toushiro, lalu kau mencoba mempermalukannya di depan umum dengan Boggart itu… Kau ini sebenarnya mau apa?!"
"Itu bukan urusanmu," gumam Malfoy.
"Bukan urusanku? Ini urusanku karena kau mengganggu temanku!"
Ichigo melangkah mundur. Ia melihat raut wajah Draco Malfoy yang berubah ganjil. Ia tampak terluka. Seringai aneh muncul di wajahnya yang pucat, dan saat ia bicara, ia agak gemetar.
"Kau darah murni," kata Draco pelan, "dan bagaimana bisa kau berteman dengan darah lumpur macam Hitsugaya…" Draco mendengus, seakan menertawakan ironi yang dialaminya. Ia punya segalanya. Harta, kehormatan, statusnya di komunitas sihir adalah golongan tinggi. Semua penyihir akan segan dengan nama Malfoy. Semua orang akan tunduk padanya. Tapi, itu karena darah yang ada di pembuluh darahnya. "Bahkan darah lumpur saja punya teman yang membelanya… Yang kupunya hanyalah troll penjilat yang memuakkan."
Ganti Ichigo yang terbelalak kaget. "Apa yang-?"
Malfoy mendongak, menatap Ichigo yang terheran-heran. "Aku dengar dari ayahku," Ichigo bisa mendengar kegetiran saat Draco mengucapkan 'ayahku', "kalau Hitsugaya hanya anak adopsi, tapi kulihat laki-laki itu peduli padanya." Pastilah yang dimaksud Draco adalah Ukitake, pikir Ichigo. "Dia punya ayah yang peduli padanya, padahal dia hanya darah lumpur! Yang kupunya hanyalah ayah yang hanya peduli pada namanya sendiri! Hitsugaya takut pada kematian, dan aku menyedihkan! Yang kutakuti adalah apa yang akan dikatakan ayahku jika aku gagal!"
"Jadi," kata Ichigo, setelah keheningan beberapa saat, dan amarahnya menguap. "ini hanya karena kau iri padanya?"
Malfoy menolak menatap Ichigo. Ichigo menghela napas. Mana ia tahu kalau ia malah mendapat 'curhatan' begini…
Tunggu.
Daripada membencinya, kurasa aku lebih mengasihaninya.
Jadi, ini maksud Toushiro. Komandan Divisi 10 itu sudah selangkah lebih maju darinya. Ia telah mengerti kenapa Draco Malfoy bertindak ofensif padanya. Ia telah memakluminya. Inilah alasan kenapa ia telah memaafkannya.
"Dasar," keluh Ichigo. "Mana bisa aku marah lebih dari ini. Kalau ada yang berhak begitu, Toushiro-lah orangnya. Tapi dia tidak akan lakukan itu, apalagi membalasmu."
Draco menatap Ichigo, sangat heran dan terkejut.
"Dia menebak dengan tepat alasan kenapa kau memusuhinya." Draco tampak sangat kaget. "Satu lagi bukti kejeniusannya. Yang jelas dan yang kutahu, kau tidak akan mengganggunya lagi dia sudah – dan mungkin akan – alami banyak hal yang cukup buruk tanpa harus ditambahi oleh tingkah kekanak-kanakkanmu. Hidupnya sudah sulit, kau jangan repot-repot mengusiknya."
Ichigo berbalik pergi.
"Bagaimana kau bisa tetap membelanya?" tanya Draco geram sebelum Ichigo berlalu.
Ichigo berhenti, memandang Malfoy lewat bahunya. "'Kan aku sudah bilang dia temanku. Sebetulnya, aku juga menganggap dia seperti saudaraku sendiri."
Draco terpaku di tempat, sedangkan Ichigo sudah menghilang dari hadapannya.
Ya. Benar. Ia iri pada Toushiro Hitsugaya.
Sekarang, ia iri pula pada Ichigo Kurosaki. Darah murni, dan tidak ada yang melarangnya untuk berteman dengan siapapun.
Ichigo berjalan cepat, bergegas ke kelas Transfigurasi tanpa mengganti seragam kelas Metode Pertahanan Klasik Jepang. Beruntung McGonagall cukup baik untuk membiarkan siswanya yang baru datang dari kelas Urahara tanpa seragam Hogwarts karena tak cukup waktu untuk mengganti seragam. Selama berjalan menyusuri koridor, Ichigo menyadari kalau kadar hormatnya pada komandan mungil itu bertambah beberapa tingkatan (tapi ia akan tetap memanggil si rambut putih dengan nama depannya. Kenapa? Karena walaupun jelas Toushiro lebih tua darinya, tetap tak menutup fakta bahwa dia terlihat lebih muda sekaligus lebih pendek darinya). Toushiro berpikir sebelum bertindak untuk membalas perlakuan Draco Malfoy padanya, dan bersikap bijaksana untuk tidak kasar padanya. Ichigo berpendapat kalau itu tadi cara balas dendam paling anggun yang pernah ia lihat, duel Toushiro Hitsugaya versus Draco Malfoy.
__ADS_1
Petarung hanya bicara dengan bertarung bukan?