Hogwarts: Wizard And Deat Reaper

Hogwarts: Wizard And Deat Reaper
Chapter 20


__ADS_3

Mereka yang bisa melihat kematian.


Ichigo menatap kuda-kuda ganjil yang sedang memakan bangkai sapi dengan penuh pemahaman sekarang. Ia juga sedikit terkejut mengetahui bahwa ada juga makhluk sihir yang seperti itu. Pantas saja mereka terasa agak ganjil, mirip hawa kehadiran hollow, tapi jauh lebih halus tanpa hawa membunuh. Mungkin para Thestral itu seperti para roh, hollow, atau shinigami yang hanya bisa dilihat oleh mereka yag memiliki kemampuan spiritual.


Mungkin itu sebabnya keempat Thestral itu membungkuk padanya dan Toushiro, menyadari bahwa mereka bukan manusia. Yah, walau saat ini mereka terlihat seperti manusia biasa, jelas para Thestral tahu kalau mereka adalah shinigami, makhluk yang memiliki ikatan erat dengan kematian.


Ichigo bertanya-tanya dalam hati tentang sesuatu. Sudah jelas apa yang membuatnya bisa melihat Thestral itu, apa yang membuatnya bisa melihat para roh. Apakah kira-kira yang membuat Toushiro melihatnya? Kematian siapa yang ia lihat? Apakah untuk melihat Thsetral kau bisa melakukannya dengan melihat kematianmu sendiri?


'Pemikiran konyol, King,' terdengan suara mencemooh sang inner hollow dalam pikirannya. 'Semua roh akan bisa melihat semuanya. Bidang pandang roh berbeda dengan pandangan sempit manusia.'


Ichigo memilih tak membalas kata-kata si hollow. Hal lain mengalihkan perhatiannya: kedatangan Dolores Umbridge. Si Inkuisitor Agung jelas tak memberikan kesempatan bagi Hagrid untuk menunjukkan performa terbaiknya. Celakanya, Hagrid gampang teralihkan, jauh lebih parah dari Toushiro yang bakal mengamuk jika disinggung tentang tinggi badannya. Umbridge dengan tanpa dosa membuat Hagrid terlihat konyol, menuliskan hal seperti 'harus memakai bahasa isyarat kasar', 'tampaknya ingatannya pendek dan payah', dan 'menunjukkan tanda-tanda senang pada kekerasan.' Sungguh mengenaskan melihat Hagrid tampak kehilangan pegangan dan rasa percaya dirinya.


"Silakan meneruskan mengajar seperti biasa. Aku akan berkeliling di antara murid-murid dan mungkin mengajukan pertanyaan pada mereka," kata Umbridge dengan suara di lambat-lambatkan, di selingi gestur tertentu, seakan-akan ia bicara dengan orang yang sangat bodoh. Hagrid sendiri memandang Umbridge dengan ekspresi bingung dan terluka, sama sekali tak mengerti kenapa si Inkuisitor Agung itu bersikap seakan dirinya tidak bicara bahasa manusia.


"Eh, yeah," kta Hagrid, berusaha kembali ke fokus pelajarannya, "ada banyak hal baik tentang Thestral. Sekali mereka dijinakkan, kau tidak akan pernah tersesat lagi. Mereka memiliki pemahaman arah yang luar biasa, tinggal katakana saja kau mau ke mana…"


"Dengan pengandaian mereka memahamimu, tentunya," celetuk Malfoy keras, dijawab oleh kikik keras Pansy Parkinson dan tawa tertahan anak-anak Slytherin. Profesor Umbridge hanya tersenyum melihat hal itu. Ia memandang Ichigo dengan senyum manis palsunya, mengabaikan betapa kernyitan di antara alis jingganya menunjukkan kejengkelan yang tak terperi.


"Kau bisa melihat Thestral itu, bukan, Mr Kurosaki?" tanyanya semanis madu.


Ichigo hanya mengangguk kaku.


"Lalu bagaimana pendapatmu tentang mereka?" tanya Umbridge, melambaikan jari-jarinya yang gemuk dengan asal pada makhluk yang tak dapat dilihatnya itu.


"Mereka oke," sahut Ichigo pendek.


"Ah." Umbridge tampak agak tak puas. Ia mengedip pelan. "Aku ingin tahu, Mr Kurosaki, karena kau bisa melihat mereka, aku ingin tahu kematian siapa yang kau lihat."


Harry bisa melihat ekspresi Ichigo mengeras dan tangannya terkepal. Entah Umbridge bisa melihat perubahan ekspresi itu atau tidak, jelas ia tak terlalu peduli juga. Toushiro yang berdiri di samping Ichigo mengerlingnya sekilas, matanya menyipit waspada. Beberapa anak, termasuk Malfoy, menatap Ichigo penuh ingin tahu.


"Ibu saya," sahut Ichigo dengan suara teredam. Harry otomatis bertukar pandang dengan Ron. Hermione dan Neville tampak agak terkejut. Baru diingat Harry kalau Ichigo tak pernah sekalipun menyebutkan tentang ibunya, ia hanya pernah menyinggung tentang ayahnya dan kedua adik perempuannya. namun, keterkejutan itu tak hanya terlihat di wajah anak-anak Gryffindor. Malfoy menatap Ichigo dengan agak kaget. Oh, jadi si Kurosaki itu kehilangan ibunya...


"Oh, maafkan aku," kata Umbridge, tak ada sesal sama sekali dalam suaranya. "Boleh kutahu kenapa ibumu meninggal, dan kapan?" 'Pantas saja anak ini begitu kurang ajar,' pikir Umbridge, 'tak ada ibu yang bisa mengajarinya tata krama.'


"Itu bukan urusan anda," kata Ichigo datar, tanpa memandangnya.


"Mungkin aku bisa membantumu, Mr Kurosaki," kata Umbridge manis. "Aku bisa…"


"Saya tidak perlu bantuan anda, terima kasih," kata Ichigo segera. "Kejadiannya sudah lama dan saya bisa mengatasinya."


Umbridge jelas tak menyangka mendapat respon tak ramah itu. Ia berbalik dengan angkuh untuk menanyai Pansy Parkinson.


"Dasar Nenek Lampir," gerutu Ichigo pelan, yakin Umbridge tidak berada dalam jarak dengar. "Mau tahu urusan orang saja."


"Nah, dia memang ingin tahu tentang latar belakang kita yang tak bisa ditemukannya," kata Toushiro, dalam bahasa Jepang. "Aku yakin dia sudah mencurigai kita sejak Urahara diinspeksi itu. Tapi kau tahu, dia tak akan dapat informasi apapun, sekalipun ia mencoba mencari tahu dari Shinou, dia tak akan bisa mencapainya."


Dan akhirnya, lima menit sebelum bel tanda jam pelajaran berakhir, Umbridge meninggalkan kelas Hagrid. Ia memberitahu Hagrid, dengan cara seakan berbicara dengan orang *****, bahwa ia akan mengirimkan hasil inspeksinya sepuluh hari lagi. Ichigo sebal luar biasa padanya, juga pada Malfoy dan Parkinson yang tertawa terbahak-bahak untuk mengejek Hagrid.


Anak-anak Gryffindor berjalan menembus salju dengan gusar; Toushiro berjalan paling depan, yang kali ini mengubah salju menjadi sepadat es untuk berjalan di atasnya. Ichigo berpendapat jika salju berubah menjadi es di tangan Toushiro tanpa mantra ataupun tongkat sihir, itu berarti suasana hati si rambut putih sama tidak baiknya dengan mereka semua.


Bulan Desember mengantarkan lebih banyak salju untuk mereka semua. Tak hanya itu, semester ganjil yang mulai mendekat akhirnya otomatis memberi mereka banyak PR juga. Khusus untuk para Prefek seperti Ron dan Hermione, mereka mendapat tambahan tugas untuk mengawasi disiplin yang semakin berkurang menjelang liburan Natal dan mendekorasi kastil untuk perayaan tersebut.


"Apa menurutmu kita boleh pulang liburan ini?" Ichigo menanyai Toushiro saat mereka kembali dari perpustakaan untuk mencari bahan PR Rune Kuno mereka. "Aku dengar Harry akan liburan ke rumah Ron; proteksi sihir di sana akan menjaganya."


"Kontrak misinya sepuluh bulan penuh, Kurosaki," kata Toushiro datar. "Sekalipun Potter akan aman di sana, kita tetap perlu memberi perlindungan ganda, juga tetap menjaga Hogwarts."


Ichigo melambaikan tangannya malas pada koridor kosong di depan mereka. "Kastil gede begini masih perlu dijaga juga…"


"Huh. Kalaupun boleh pulang aku akan tetap memilih di sini," ujar Toushiro, terdengar agak kesal.


"Hm? Kenapa?"


"Tanggal dua puluh Desember," gerutu Toushiro. "Kalau aku pulang Matsumoto pasti akan gila-gilaan membuat pesta untukku…"


"Ulang tahunmu?" seringai Ichigo. "Astaga! Ternyata shinigami bisa merayakan ulang tahunnya, ya? Keren."


"Justru itu, *****. Kami sudah mati, ngapain coba merayakan hari ulang tahun… Tidak penting."


"Ha! Di sini kau rupanya!"


Si kembar Weasley muncul dari ujung koridor dengan tampang puas. Mereka bergegas mendekati Ichigo dan Toushiro.


"Kami mencarimu ke mana-mana…" kata Fred.


"… Kandang Burung Hantu…" ujar George.


"… ruang rekreasi…"


"… kantor Urahara-sensei…"


"… sebelum kami tahu di mana tempat anak rajin macam kau berada…"


"… yakni perpustakaan dan…"


"Cukup," gertak Toushiro, menghentikan kalimat bersambung si kembar badung itu.

__ADS_1


"Kedengarannya kalian mencari Toushiro," kata Ichigo ingin tahu. "Ada apa?"


Si kembar bertukar pandang, bertukar seringai.


"Kami butuh bantuanmu," kata George riang.


"Bantuan?" Toushiro mengangkat sebelah alisnya.


"Tidak mau."


Ichigo tertawa tertahan di belakang Toushiro. Tak disangka dan tak diduga, si kembar Weasley mengajak si rambut putih ke lapangan Quidditch untuk mengutarakan apa keinginan mereka. Ichigo, yang penasaran pun mengikuti mereka. Barulah kedua shinigami itu mengetahui apa yang mereka inginkan tanpa perlu dijelaskan oleh Fred dan George.


Sore itu tim Quidditch Gryffidor melaksanakan seleksi Seeker dan Beater untuk tim mereka. Tidak ada anak Gryffindor yang tidak tahu, jika pengumuman seleksi di tempel dalam poster besar di ruang rekreasi. Namun siapa yang tahu kalau Fred dan George meminta Toushiro sebagai calon Seeker baru untuk menggantikan Harry. Ia langsung digiring ke hadapan Angelina Johnson.


"Oh, ayolah Toushiro," bujuk George riang. "Kami yakin kau akan oke."


"Tidak ada anak-anak yang mau ikut seleksi Seeker, kualifikasinya terlalu berat," kata Angelina kecewa.


"Lalu kenapa aku?" tanya Toushiro mengernyit, lengannya bersilang di depan dada.


"Karena catatan kriminalmu di buku Umbridge itu bersih!" kata Fred bersemangat.


"Alasan macam apa itu?" gerutu Toushiro.


"Kalau anggota tim kami tak punya masalah dengan Umbridge, otomatis prospek interupsi dan campur tangannya dengan kita akan berkurang!" kata Alicia antusias. "Bagaimana menurutmu jika kita pakai dia untuk jadi Seeker kita, An?"


"Hm…" Angelina menatap Toushiro penuh penilaian, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia lalu berjalan memutari si rambut putih dengan penuh selidik. "Kecil… ringan… jelas cocok untuk jadi Seeker…"


Ichigo tertawa keras melihat ekspresi Toushiro saat mendengar Angelina menyebutnya 'kecil'.


"… kudengar kau berbakat di pelajaran Urahara; itu pelajaran yang paling-melatih-fisik-di-Hogwarts. Dan dia pernah bilang kalau kau punya refleks yang bagus. Apa kau sudah pernah terbang sebelumnya?"


"Tidak dengan sapu," gerutu Toushiro, masih tak terima disebut 'kecil'.


"Bagaimana kalau kita cek saja, An?" saran Katie. "Kita lihat apa yang dia bisa."


"Aku 'kan sudah bilang tidak mau!" protes Toushiro.


"Sudahlah, Toushiro, dicoba saja dulu," kata Ichigo, berusaha tidak menampilkan tawa agar tidak menyinggung si mungil di depannya yang sudah tampak kesal sekali. Ichigo menghela napas; ia harus bisa membuat Toushiro bisa sedikit santai. Sikap seriusnya yang terlalu fokus pada tugas dan profesionalismenya sebagai shinigami itu terkadang cukup menjengkelkan.


"Beri aku satu alasan saja agar aku mau melakukannya," kata Toushiro, menatap Ichigo dengan mengancam. Ichigo bisa membaca pesan di balik tatapan itu; membuatku-tampak-konyol-kubunuh-kau.


"Ha? Cuma satu? Aku bisa kasih lebih dari itu! Baiklah… bagaimana dengan…" Ichigo berdeham, mengganti bahasanya dengan bahasa Jepang. "membantu Ron? Kalau kau bisa masuk ke dalam tim kau bisa membantunya memperbaiki kemampuannya! Dan pikirkan tentang Umbridge. Jika dia tahu kau masuk ke tim, itu artinya dia tahu kau hanya anak biasa yang juga bisa bersosialisasi dan bukan sesuatu yang perlu dicurigai!"


Toushiro mengernyit. "Kau bermaksud bilang aku tak bisa bersosialisasi…"


"Sudah cukup," kata Toushiro, kembali ke bahasa Inggris. Anak-anak lain yang tadi mendengar percakapan itu bengong sesaat. "Kebanyakan bicara. Aku sudah bilang satu alasan saja."


"Habisnya…"


"Urusai!"


"Iya, iya!" Ichigo diam, tapi ia tahu ia berhasil membujuk si pemilik Hyourinmaru itu. Yah, ternyata Toushiro tak sedingin itu juga.


"Jadi kau mau?" senyum Fred antusias.


"Hanya try out, boleh saja…"


"Pakai sapuku saja." Alicia meminjamkan sapunya pada Toushiro untuk dipakainya.


"Kalau kau baru pertama memakainya, biar kutunjukkan dasarnya padamu."


Angelina lalu menjelaskan selama beberapa teknik tentang teknik dasar untuk terbang dengan sapu pada Toushiro sambil melakukan demonstrasi singkat. Untung saja Ichigo mengenal betapa cerdasnya shinigami yang satu itu. Hanya dengan melihat, itu sudah cukup baginya untuk mengerti.


"Nah, kurasa praktek langsung akan lebih membantu," kata Angelina. "Sekarang, cobalah untuk terbang."


'Kalau saja kau tahu aku tak butuh sapu konyol ini untuk terbang, Perempuan,' gerutu Toushiro dalam hati. Walau ogah-ogahan, Toushiro pun menaiki sapu Alicia. Ia mengabaikan tatapan semua anak padanya, berkonsentrasi pada apa yang di depannya.


Ini akan mudah. Hanya dengan sapu yang dimantrai. Tunggu, apa dia panik? Tidak. Ia tidak panik. Yang ia tahu ini tak disukainya karena ini benar-benar konyol. Untung saja Kenpachi Zaraki tidak ada di sini, atau komandan brutal itu akan mencemoohnya seumur hidupnya.


Toushiro menghela napas. Dirasakannya angin musim dingin yang sangat disukainya.


"Mulai!" seru Angelina. Dan Toushiro menjejak keras ke tanah yang membeku. Angin bulan Desember menyapu wajahnya, menerbangkan rambut putihnya. Lebih dari tiga bulan ia tak berada di angkasa. Terbangnya hanya di ruangan imitasi dari tempat seharusnya ia berada, di udara terbuka, tempat ia dikelilingi elemen alaminya. Saat ia patroli di malam-malam jaga Hogwarts-nya pun ia tak sempat menggunakan bankai-nya. Itu terlalu riskan. Tapi saat ini, ia bisa berada di angkasa tanpa mengkhawatirkan apapun. Ia tak perlu bersusah payah untuk menggunakan partikel roh alias reishi untuk berada di sini. Pun ia tak perlu memunculkan sayap esnya untuk itu.


"Wah, terbangnya bagus," komentar Alicia. "Lihat keseimbangannya… dan dia kelihatannya tidak canggung untuk terbang…"


"Bagus sekali, Hitsugaya!" seru Angelina keras. "Kami akan lepaskan Snitch dan Bludger-nya! Kau harus tangkap Snitch dalam waktu lima menit dengan Bludger yang mengganggumu! Fred dan George akan jadi Beater sementara untuk seleksimu!"


Toushiro mengerjap. Tapi tak ada waktu untuk memprotes. Sebuah bola baja melesat lurus ke arahnya, memaksanya berbelok tajam.


Baiklah jika mereka inginkan itu…


Toushiro merunduk di atas sapunya, melesatkan sapu Alicia dengan gesit menghindari dua Bludger yang dipukul silih berganti oleh si kembar Weasley untuk mencegahnya mendapatkan Golden Snitch. Lima menit untuk dapatkan bola mungil emas itu? Terlalu lama… Dan luncuran Bludger memang cukup cepat, tapi panah di Quincy bernama Uryuu Ishida saja bisa dihindarinya.


Toushiro mencari-cari kilauan emas di antara putihnya salju yang turun perlahan di depannya. Ia tak perlu melihat arah datangnya dua Bludger itu; instingnya sebagai shinigami sudah terlatih bagai radar untuk mendeteksi obyek yang mendekatinya. Ini menguntungkannya, karena ia bisa fokus untuk mencari Snitch, yang ternyata terbang rendah di dekat tiang gawang di sudut lapangan. Segera saja ia melesat ke arahnya. Ia berkelit gesit dari Bludger yang mencoba menghantamnya dari arah kanan. Ia pun berhasil berbelok tepat pada waktunya saat Bludger yang lain mencoba mematahkan hidungnya. Dan kemudian, dengan luncuran bak peluru, ia mengitari tiang gawang dan menggenggam si bola emas mungil yang mengepakkan sayap kecilnya dengan putus asa di tangannya.

__ADS_1


Sorakan keras terdengar dari bawah sana. Segera saja Toushiro terbang rendah dan mendrat mulus di depan anak-anak Gryffindor. Fred dan George mendarat di belakangnya dengan tampang berpuas diri, mengayun-ayunkan pemukul mereka dengan bergaya.


"Bagaimana menurutmu, Kapten?" tanya George nyengir.


Angelina tersenyum cerah. "Hebat sekali! Aku tak percaya kau baru sama sekali soal terbang; kau berbakat! Mau bergabung dengan tim, Hitsugaya?"


Toushiro menatap sekelilingnya, pada wajah-wajah penuh harap tim Quidditch Gryffindor. Ditangkapnya anggukan bersemangat Ichigo. Ia pun menghela napas. Jika ini berarti ia bisa terbang lagi, sepertinya tidak terlalu rugi juga.


"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku mau."


Semua anggota tim tertawa senang. "Selamat datang di Tim Gryffindor, Hitsugaya!"


Malam harinya dalah pertemuan LD terakhir sebelum liburan Natal. Harry tiba di Kamar Kebutuhan lebih dulu, untunglah. Ia menemukan ruangan itu di dekorasi dengan mistletoe dan bola-bola emas bergambarkan wajahnya sendiri. Tak perlu jadi jenius untuk tahu siapa pelakunya jika ia mengenal Dobby si peri rumah. Maka, ia menghabiskan lima menit untuk menurunkan semua bola-bola emas itu, tak ingin mempermalukan diri sendiri.


Akhirnya, satu per satu anggota LD bermunculan. Angelina, Alicia, dan Katie menghampirinya, tampak sangat serius.


"Nah," kata Angelina sambil melempar mantelnya ke sudut ruangan, "kami akhirnya mengganti kau."


"Mengganti aku?" tanya Harry bingung.


"Ya. Kau dan Fred dan George!" tukas Angelina tak sabar. "Kami sudah dapatkan Seeker baru!"


"Siapa?" tanya Harry segera.


"Si anak baru," kata Alicia, "Toushiro Hitsugaya."


Harry terbelalak kaget. Toushiro? Sejak kapan dia tertarik dengan Quidditch?


"Aku tahu apa yang kau pikirkan," kata Angelina, mencabut tongkat sihirnya dan meregangkan lengannya. "Tapi dia cukup bagus, sebetulnya malah berbakat alam."


"Yeah, terbangnya sempurna. Aku tak percaya dia bilang dia tak pernah terbang sebelumnya," tambah Katie.


Tepat saat itu Toushiro masuk ke Kamar Kebutuhan bersama Ichigo, tampak berbincang serius dalam bahasa Jepang. Segera saja beberapa anak yang sudah datang menatap mereka dengan tertarik, penasaran apa gerangan yang mereka perbincangkan.


"Lalu Beaternya?" tanya Harry.


"Andrew Kirke," kata Angelina tak antusias, "dan Jack Sloper. Tak satupun dari mereka brilian, tapi dibandingkan dengan idot-idiot lain yang muncul…"


Harry diselamatkan dari tatapan penuh kesal Angelina saat Hermione mengingatkan waktunya latihan dimulai. Dilihatnya semua anggota memang telah berkumpul, maka ia meninggalkan percakapan pembuat stress ini dan menghadapi teman-temannya.


"Oke," katanya mendapatkan perhatian dari semuanya. "Kupikir mala mini kita mengulang saja apa yang telah kita pelajari. Tak ada gunanya memulai sesuatu yang baru sebelum liburan tiga minggu…"


"Kita tidak belajar sesuatu yang baru?" kata Zacharias Smith, gerutuan pelannya terdengar ke seluruh ruangan. "Tahu begini aku tidak datang saja."


"Kami menyesal Harry tidak memberitahumu, kalau begitu," kata Ichigo keras. Beberapa anak tertawa mendengarnya, sementara Zacharias memberengut kesal.


"Kalau begitu, kita berlatih berpasangan seperti biasa. Pertama kita latihan Mantra Perintang, lalu tebarkan bantal-bantal untuk berlatih Mantra Bius…"


Latihan malam itu berjalan lancar. Harry senang melihat semua teman-temannya mengalami kemajuan pesat, bahkan Neville. Malahan, Toushiro sudah tampak agak bosan. Ia melakukan mantra pada Ichigo dengan tampang agak lelah namun tepat sasaran. Mungkin semua mantra yang diulang ini terlalu mudah untuk si jenius.


Akhirnya pertemuan itu selesai juga. Harry menjanjikan bahwa setelah liburan, ia akan mengajarkan mantra yang lebih menantang, seperti Patronus. Hal ini membuat teman-temannya sangat senang, tak sabar menunggu liburan dimulai dan berakhir.


"Kau tidak bilang kau akan ikut seleksi," kata Hermione saat mereka, anak-anak Gryffindor berjalan bersama-sama menuju Menara Gryffindor; Harry masih di Kamar Kebutuhan untuk membereskan ruangan itu.


"Memang tidak. Kakak kembar Ron yang memaksaku ikut, Kurosaki itu juga…"


"Lho, kau juga tidak menolaknya, 'kan?" kata Ichigo membela diri. "Mana bisa jika kompensasinya kau bisa terbang…"


"Eh? Bukannya kau bilang kau belum pernah terbang sebelumnya?" tanya George.


"Memang tidak," kata Toushiro datar, mengerling ke Ichigo dengan tatapan memperingatkan.


"Yeah, tapi dia suka tempat tinggi," kata Ichigo berimprovisasi. "Kalau terbang, dia 'kan bisa lebih tinggi dari siapapun.. Makanya, Toushiro, berhentilah selalu serius, kurasa itu yang membuatmu kecil begi-OUCH!"


Dengan sengaja, Toushiro menendang punggung Ichigo yang berjalan di depannya hingga jatuh tersungkur. Ron dan si kembar tertawa keras melihatnya.


Ini menjadi bukti konklusif dan pengingat bagi siapa saja bahwa masalah tinggi badan adalah tabu bagi seorang Toushiro Hitsugaya.


Menggerutu, Ichigo bangkit berdiri. Namun ditatapnya ekspresi tegang Toushiro.


"Kenapa kau?" tanya Ichigo heran. Tapi sedetik kemudian di sadarinya ada sesuatu yang salah. Hanya ada satu hal yang membuat seorang shinigami dalam penyamaran langsung bersikap ofensif. Musuh alami mereka. Hollow.


"Ada apa?" tanya Neville heran.


"Tidak," kata Toushiro. "Aku hanya baru ingat aku punya janji dengan Urahara-sensei tentang rencana pelajarannya. Kurasa aku harus temui dia sekarang. Biar aku urus ini, Kurosaki. Sampai nanti semuanya." Dan Toushiro berbalik, pergi dengan cepat meninggalkan mereka. Ichigo harus mengagumi bagaimana si rambut putih dengan cepat menyembunyikan ekspresinya. Mungkin memang benar kalau menjadi shinigami harus jago akting.


"Rencana pelajaran?" tanya Fred heran. "'Kan ini mau liburan!"


"Hehehe," kata Ichigo, terkekeh dengan kaku, "Kau tahu, Urahara sensei, dia 'kan aneh…"


Sementara itu, Toushiro bergerak cepat untuk keluar dari kastil. Beruntung ia tak bertemu siapapun yang akan mencegahnya mendatangi hollow itu. Bukan. Bukan hollow. Reiatsu sebesar ini… tak salah lagi. Ini Arrancar.


"Hyourinmaru." Toushiro menyebut nama zanpakutonya, dan seketika wujudnya kembali ke yang seharusnya. Wujud shinigami-nya. Dan kemudian, ia bergegas ber-shunpo memasuki Hutan Terlarang, tempat ia merasakan hawa kehadiran yang harus dilenyapkannya.


"Ah. Aku tersanjung seorang shinigami langsung berbaik hati menyambutku."

__ADS_1


Toushiro berbalik. Dari balik keremangan dan rapatnya pepohonan hutan, seorang pria asing melangkah maju. Hakama putih. Wajah tirus yang menampilkan garis buas dan kepala berambut pirang sebahu yang sebagian tertutup topeng putih bertanduk seperti banteng.


Benar. Seorang Arrancar.


__ADS_2