
Mata hitam si Arrancar menatap shinigami di depannya penuh penilaian. Ia tak akan tertipu dengan sosok anak-anak shinigami muda ini. Toh, ia telah memiliki data tentang para shinigami Soul Society, informasi yang ditinggalkan Aizen pada pendukung setianya. Termasuk tentang si rambut putih di depannya. Seorang komandan. Dikenal dengan kecemerlangan dan bakatnya sebagai seorang shinigami.
Tapi masih diingatnya penilaian Aizen tentang semua mantan rekannya di Soul Society. Toushiro Hitsugaya memang brilian, tapi bukan berarti dia tanpa cela. Usianya masih muda, membuatnya kurang pengalaman, pikirannya naif dan bankai-nya yang belum sempurna manjadikannya tak sekuat yang dinilai oleh para hollow dari seorang komandan.
Si Arrancar menyeringai tipis. Akan dikalahkannya shinigami di depannya ini.
"Setelah kekacauan di Soul Society, kudengar mereka kehilangan banyak shinigami," kata si Arrancar angkuh. "Dan tak kusangka kau masih bertahan, Toushiro Hitsugaya."
Shinigami berambut putih itu tampak agak terkejut. Jelas ia tak menyangka musuhnya mengetahui namanya. Dan mungkin ia langsung bisa menduga bahwa si Arrancar mengetahui kemampuannya.
"Jangan cemas," seringai si Arrancar, menarik katana yang terselip di obi pinggangnya. "Mari kita akhiri ini, shinigami."
Arrancar itu menerjang maju, menghunuskan senjatanya. Toushiro menarik Hyourinmaru di punggungnya. Dua bilah katana itu beradu, memercikkan bunga api di udara dingin bulan Desember.
Harry kembali ke ruang rekreasi setengah jam kemudian. Menara Gryffindor sudah sepi. Hanya ada Hermione dan Ron, yang kelihatannya sedang menyelesaikan PR mereka. Ichigo juga ada di sana, memandang bukunya tanpa membacanya. Berkali-kali ia mengerling ke jendela yang gelap. Di luar sana, badai salju yang kencang melanda sekitar kastil.
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Ron, menatap Harry yang mengenyakkan diri di kursi berlengan di sebelah Ichigo. Ichigo tampaknya baru sadar Harry sudah datang, mengerjap memandangnya. Harry sendiri hanya diam. Masih terguncang pada apa yang terjadi padanya. Ia tercabik antara menceritakan pada tiga temannya itu apa yang terjadi dan tetap bungkam, membawa rahasia itu ke liang kuburnya.
Hermione dan Ron bertukar pandang. Ichigo memandangi mereka dengan bingung.
"Cho, ya?" tanya Hermione tanpa basa-basi. "Dia menyudutkanmu sesudah pertemuan?"
Tercengang, Harry mengangguk. Ron terkekeh geli, baru berhenti setelah dipandangi galak oleh Hermione.
"Jadi – eh – apa maunya?" goda Ron.
"Dia…" Harry memulai dengan suara tercekat. "Dia – eh…"
"Apakah kalian berciuman?" tanya Hermione lancar.
Ron duduk mendadak sekali sampai botol tintanya tumpah dan isinya berceceran di atas karpet. Ia memandang Harry sangat penasaran, sementara Ichigo hanya geleng-geleng kepala.
"Nah?" desak Ron tak sabar.
Dengan ragu, Harry mengangguk. Ron langsung berteriak keras, lalu tertawa tergelak-gelak. Ichigo memandang Harry, yang wajahnya merona, Ron yang terlalu antusias, dan Hermione yang memandang Ron dengan jijik.
Segera saja topik asmara ini berlanjut antara Golden Trio. Ichigo separo mendengarkan. Ia sibuk menebak apa gerangan yang terjadi dalam pertarungan Toushiro di luar sana, tak diketahui siapapun kecuali ia, dan mungkin dua shinigami senior lain yang jelas tak akan melakukan interupsi.
Ichigo nyaris tak mendengar saat Hemione mengucapkan selamat malam setelah selesai membahas tentang Cho Chang-Harry-almarhum Cedric, juga tak terlalu memperhatikan saat Harry dan Ron naik ke kamar anak laki-laki lebih dulu.
Di luar sana, badai semakin kencang.
Toushiro melompat mundur dari sabetan liar si Arrancar. Namun ternyata, sabetan itu tak hanya sekedar ayunan katana belaka, tapi mengandung reiatsu yang cukup besar, berbentuk kekuatan angin yang terarah padanya. Toushiro mengangkat Hyourinmaru, menangkis kekuatan angin itu dengan reiatsu-nya yang beku.
"Tidak buruk, Kecil!" cemooh si Arrancar. Mata hitamnya berkilat licik, mengayunkan lagi senjatanya. Kekuatan angin serupa sabit-sabit besar menderu ke arah Toushiro.
"Hyourinmaru!" Naga es besar terbentuk begitu Toushiro mengayunkan zanpakutou-nya, memberi proteksi pada pemiliknya dari hantaman serangan si Arrancar.
Toushiro membaca situasi. Ini benar-benar hanya akan menghabiskan waktu. Si Arrancar jelas bermain-main untuk menjajaki kemampuannya.
'Jangan sampai dia melepas ressureccion-nya,' kata Hyourinmaru mengingatkan. 'Reiatsu-nya bisa mempengaruhi siapa saja yang ada di kastil. Selain itu, untuk mengalahkan Arrancar dalam wujud itu, anda akan membutuhkan bankai, dan situasi akan jadi semakin rumit…'
Toushiro mendesis menahan perih. Tak disangkanya, kekuatan angin si Arrancar mengenainya, menciptakan luka torehan yang dalam di lengan kirinya.
"Wah, jangan melamun, dong, Komandan," kata si Arrancar terkekeh. "Bukankah sudah waktunya bermain lebih serius?"
"Kau benar," kata Toushiro dalam. Ia mengangkat Hyourinmaru yang telah dalam wujud shikai. "Waktunya lebih serius."
Toushiro melesat maju, membuat kedua pedang kembali beradu. Untuk sementara, ia akan mencoba bertarung dalam jarak dekat. Berisiko, memang. Tapi dengan begini, ia kan mendapat gambaran utuh, meyakinkan analisanya bahwa Arrancar ini tipe serangan jarak jauh, dengan angin sebagai elemennya.
"Apa tujuanmu datang kemari?" tanya Toushiro di antara usahanya beradu pedang dengan si Arrancar.
Arrancar itu menyeringai. "Nah, kenapa kau tidak coba membuatku bicara untuk itu, Toushiro Hitsugaya?"
Toushiro menggeratakkan giginya. Ia memusatkan reiatsu-nya pada Hyourinmaru, menebas dengan keras, yang ditangkis oleh musuh di hadapannya.
Si Arrancar mengernyit. Ternyata shinigami pendek yang jadi lawannya ini berani juga. Tak diperkirakannya kalau ia akan menyerang langsung. Harus diakuinya, teknik berpedang Hitsugaya ini sangat baik. Hantaman-hantaman zanpakutou-nya kuat tanpa keraguan. Bisa dirasakannya sekarang, dalam jarak sedekat ini, bahwa reiatsu si rambut putih naik satu tingkat, mengintimidasi dirinya. Suhu di sekitar mereka turun beberapa derajat lebih rendah.
'Sial,' bisik sang Arrancar dalam hati. 'Kalau begini aku harus…'
"Tak akan kubiarkan kau melepas ressureccion-mu," kata Hitsugaya tajam, seakan membaca pikirannya. Ia menyabetkan zanpakutou-nya, memaksa Arrancar itu mendarat di permukaan tanah Hutan yang beku.
"Kau kira kau bisa mengalahkanku, Bocah? Pikirkan sekali lagi, kau…"
__ADS_1
Si Arrancar tertegun. Di pandangnya si komandan kecil yang berdiri di udara, lalu ia menunduk. Ia berdiri di tengah sebuah simbol asing; sebuah pentagon yang terbentuk dari lima titik berbentuk kristal salju. Jebakan.
"Apa ini?!"
"Kau terlalu sibuk memberikan serangan padaku sedari awal," kata Toushiro tenang. "Kau tak berpikir kalau aku bergerak menghindarimu sambil mempersiapkan jebakan itu, bukan? Sayangnya, aku tak mengira kalau aku akan mengalahkanmu. Aku memang mengalahkanmu. Rokui Hyōketsujin."
Seketika sebentuk garis es menghubungkan kelima sudut kristal salju itu. Dan sepersekian detik kemudian, pilar es terbentuk, menjulang ke angkasa, mengurung si Arrancar di dalamnya.
Untuk beberapa saat, siapapun mengira kalau kemenangan di tangan sang Komandan Divisi 10. Tapi ternyata, Toushiro Hitsugaya menyadari, pertarungan ini terlalu mudah untuk dimenangkan.
"Keras kepala," desisnya pelan.
Retakan besar muncul di pilar es itu. Si Arrancar bebas, tertawa gila dengan zanpakutou teracung; kekuatan anginnya membelah es yang mengurungnya.
"Kau naif, Shinigami!" seru si Arrancar, matanya berkilat liar. "Apakah aku sudah bilang untuk jangan meremehkanku?! Nah, sebaiknya sekarang kau ingat itu, Kecil!"
"Merepotkan," gerutu Toushiro. Ia bersiap, mengangkat Hyourinmaru dan berkonsentrasi. Belati-belati es terbentuk dari air dan salju di dekatnya. Dan kemudian, Toushiro membuat gerakan menyabet, menembakkan bilah-bilah es itu ke arah sang musuh sambil berseru, "Guncho Tsurara!"
Dengan segera si Arrancar membuat gerakan menebas yang serupa, menghancurkan es yang ditujukan untuknya menjadi serpihan kecil.
"Percuma saja, Kecil! Anginku akan memotong semua teknik esmu!" si Arrancar menyeringai. "Kau tak ingin aku melepas ressureccion-ku? Tak apa, akan kukabulkan, karena aku bisa membunuhmu tanpa melepasnya! Hahaha!"
"Ternyata kau yang naif, Arrancar," kata Toushiro tenang.
"Hm?" Untuk sesaat, perhatiannya teralihkan.
"Ternyata, walaupun kau tahu namaku dan kemampuanku, kau tidak memahaminya seperti yang seharusnya." Toushiro mengacungkan Hyourinmaru ke arah musuhnya itu. "Tapi, Arrancar, karena kau mengetahui diriku, aku ingin menanyakan namamu."
"Bah, ternyata shinigami macam kau punya tata karma juga," ejek si Arrancar. "Tapi sebelum kau mati, kurasa tak ada salahnya memberitahukan namaku. Aku Diego del Viendo "
"Baiklah. Kurasa kau sudah mengetahui siapa aku, tapi izinkan aku memperkenalkan diriku." Toushiro agak sedikit geli mendengar suaranya sendiri yang memaksakan kesopanan palsu itu. "Aku Komandan Divisi 10 Soul Society, Toushiro Hitsugaya…"
"Huh, aku sudah tahu itu, Shinigami," potong Viendo sangar.
"Tentu saja." Toushiro menghela napas. "Kuharap kau juga tahu kemampuanku. Hyourinmaru-ku adalah zanpakutou tipe hyousetsu terkuat se-Soul Society. Dan kau lihat, di sekitar kita adalah salju…"
Mata si Arrancar melebar.
"Salju berarti air. Saat ini, aku berada di tengah elemenku. Kau tidak punya kesempatan untuk mengalahkanku."
"Maaf," kata Toushiro tanpa sesal, tanpa emosi. "Elemenku tak hanya es, salju, atau es. Semua elemen cuaca dalam jangkauan reiatsu-ku, berada dalam kekuasaanku, termasuk angin yang menjadi kekuatanmu. Sebelum kau mati, kau bisa katakan kenapa kau bergabung dengan penyihir, kenapa kau datang ke tempat ini, dan," Toushiro mengernyit, "apa tujuan kalian sebenarnya?"
Viendo menyabetkan zanpakutou-nya lagi, namun tak ada yang terjadi. Ia menatap bilah pedangnya tak percaya. Ia melakukan kesalahan fatal; ia telah meremehkan komandan muda itu. Ia menatap Toushiro Hitsugaya tak percaya, merasakan reiatsu besar mendera sekitarnya, gusar pada pertanyaannya yang tanpa jawaban. Reiatsu yang membekukan tulang itu meluas, bersumber dari sosok kecil yang menjadi musuhnya. Ia dipaksa takluk olehnya.
Dilihatnya partikel air dan salju membentuk sebuah bilah pedang raksasa, terbuat dari es. Ujung tajamnya terarah langsung padanya, yang terpaku di tempat, menyadari kekalahannya. "Shinkū no Kōri no Yaiba," ujar Toushiro. Dengan bunyi desing mengerikan, pedang es raksasa itu melesat, menghujam tubuh sang Arrancar diiringi bunyi derak dan debam keras.
Toushiro menatap partikel debu dan uap beku yang menutupi pandangannya pada musuhnya yang di ambang ajal. Dilihatnya Arrancar yang terkapar di tanah, tubuhnya nyaris hancur di bawah hujaman pedang es besar itu. Namun, ia cukup terkejut melihat seringai sang Arrancar. Ia menunjuk Toushiro dengan jarinya yang gemetar dan berlumuran darah.
"Aku… tak akan… mati sendirian…"
"Apa?"
Toushiro tersentak. Dirasakannya hawa panas yang mendadak menjalari seluruh tubuhnya. Ia menatap luka toreh di lengannya, lalu ke Arrancar yang sekarat itu.
"Angin itu…" bisik Toushiro, terjatuh berlutut di atas tanah; lukanya memercikkan darah ke permukaan tanah Hutan Terlarang.
"Ya…" ada tawa di balik suara Viendo. "Zanpakutou-ku tak hanya… mengirimkan kekuatan… membelah dengan angin… Aku bisa… menembakkan racun bersamanya… Racun mematikan, menyerang sistem sarafmu, mengacaukan kinerja otakmu… Reaksinya memang lambat… membuatmu tak menyadarinya selama kau menyerangku tadi…" musuhnya itu menyeringai penuh kemenangan, melihat Toushiro Hitsugaya terengah, pertanda paru-parunya tak berfungsi normal. "Dan saat kau menyadarinya, saat ini, waktumu sudah tak banyak lagi…"
'Sial,' Toushiro mengumpat dalam hati. Dirasakannya karat darah di mulutnya, juga di hidungnya, ada pembuluh darah yang pecah di saluran napasnya. Kepalanya sekarang berdenyut menyakitkan. Dilihatnya dengan penglihatan yang memburam bahwa Viendo tak bergerak lagi. Mati. 'Aku benar-benar ceroboh…' Toushiro mencengkram bagian depan shihakusou-nya, merasakan jantungnya berdebar kencang, tak normal, membuat sekujur tubuhnya serasa terbakar. Napasnya terasa sangat sesak sekarang. Dicengkramnya Hyourinmaru, berharap dinginnya akan membantu.
Namun, ia tak bisa merasakan apapun dengan indera perabanya. Suhu di sekitarnya perlahan naik, menuju suhu musim dingin normal karena shinigami penguasa kebekuan kehilangan kontrolnya. Jasad si Arrancar telah melebur dalam partikel keperakan, meninggalkan musuhnya yang meregang nyawa.
Toushiro terjatuh, menghantam tanah. Bau tanah bercampur dedaunan yang membusuk dalam bekunya musim dingin terasa samar di hidungnya. Kabut putih memenuhi bidang penglihatannya. Dan kemudian rasa sakit menguasainya sekaligus melumpuhkannya. Ia bahkan tak bisa berpikir. Tak ada yang bisa dilakukannya, hanya memejamkan mata dan merasakan dirinya seperti terjatuh ke jurang yang sangat dalam.
Harry Potter bermimpi. Mimpi paling ganjil yang pernah ia alami. Tubuhnya terasa licin, kuat, dan lentur. Ia sedang meluncur di antara jeruji logam, sepanjang lantai batu yang gelap dan dingin. Ia merasa bergerak dengan merayap di koridor yang gelap. Dilihatnya sesosok manusia, duduk di lantai koridor yang seharusnya sepi ini.
Harry menjulurkan lidahnya yang bercabang. Orang itu hidup, mengantuk… Ia dikuasai dorongan untuk menggigit orang itu, tapi ia harus menahannya… Ya, sungguh tak perlu…
Tapi orang itu bergerak. Jubah Gaib keperakannya terjatuh ke lantai saat orang itu berdiri dengan penuh semangat. Tongkat sihirnya dicabut dari ikat pinggangnya… Sial sekali… Ia tak punya pilihan lain… Diangkatnya tubuhnya yang melata setinggi yang bisa ia lakukan, lalu ia menyerang… sekali, dua kali, tiga kali… Cukup membenamkan taringnya sedalam mungkin, meremukkan iga orang itu, menyemburkan darah hangat dari luka akibat gigitannya…
Orang itu menjerit kesakitan, dan tubuhnya terjatuh ke lantai dan tak bergerak. Darah berceceran di lantai… Dia harus pergi sekarang…
Dahinya terasa sakit luar biasa… Seakan kepalanya akan pecah kapan saja…
__ADS_1
"Harry! HARRY!"
Dia membuka matanya, warna-warna terasa terlalu terang baginya. Harry menyadari tubuhnya dibanjiri keringat dingin. Tubuhnya juga gemetar hebat, dan ia merasa seakan bara api ditempelkan di dahinya.
"Harry!"
Ron berdiri di depannya. Ia tampak pucat dan ketakutan. Sosok-sosok lain bergerak di kaki tempat tidur Harry, yang mencengkram kepalanya. Harry berguling di tempat tidurnya, muntah lewat tepi tempat tidurnya.
Suara-suara di sekitarnya terdengar panik. Mereka berbicara, tapi Harry tak bisa memahaminya. Ia menekan keinginan untuk muntah lagi… Ia harus memberitahu hal ini… Hal penting ini…
"R-Ron," engahnya, berusaha menghirup udara, "A-ayahmu… Ayahmu… diserang…"
"Apa?" tanya Ron bingung.
"Ayahmu! Dia diserang –digigit! Lukanya serius… berdarah banyak sekali…"
Ron harus mengerti… tapi ia sendiri juga tak mengerti… Terdengar langkah-langkah cepat. Harry berusaha mengatur napasnya. Dan kemudian, didengarnya suara McGonagall.
"Ada apa, Potter? Kau sakit?"
Belum pernah Harry mersa sesenang ini mendapati kehadirannya; anggota Orde Phoenix-lah yang dibutuhkannya saat ini. Segera dijelaskannya pada McGonagall apa yang dilihatnya dalam penglihatannya. Bahwa Mr Weasley diserang oleh ular besar, entah dimana, dan terluka parah.
"Saya tidak bohong dan saya tidak gila!" seru Harry, melihat tatapan ngeri McGonagall. "Benar saya melihat kejadiannya!"
"Aku percaya padamu, Potter," kata McGonagall singkat. "Pakai mantel tidurmu – kita temui Kepala Sekolah. Kau juga ikut, Weasley."
Segera Harry memakai mantel kamarnya dan memasang kacamata di atas hidungnya. Ia dan Ron mengikuti Profesor McGonagall keluar dari Menara Gryffindor. Pikiran Harry berdenging. Ia cemas, panik, bingung, dan takut luar biasa.
"Di mana Mr Kurosaki dan Mr Hitsugaya?" tanya McGonagall gelisah.
"Ka-kami tidak tahu," kata Ron lemah. "T-Toushiro.. dia tidak kembali ke asrama sejak jam sembilan… Ichigo menunggunya di ruang rekreasi, tapi dia tidak ada di sana tadi…"
Harry bisa melihat ekspresi tegang McGonagall. Namun, tepat saat itu mereka tiba di depan gargoyle batu yang menjaga pintu masuk kantor Kepala Sekolah.
"Kumbang Berdesing," kata McGonagall.
Gargoyle itu melompat ke samping untuk memberi jalan pada mereka. Ketiganya berdiri di tangga escalator spiral itu, yang bergerak membawa mereka ke depan pintu kayu ek berpelitur dengan pengetuk berbentuk griffin. McGonagall mengetuk tiga kali, dan suara-suara yang ada di kantor Dumbledore langsung terhenti; sebelumnya Harry yakin paling tidak Dumbledore sedang menjamu selusin tamu jika di dengar dari suaranya.
Guru Transfigurasi itu memimipin Harry dan Ron masuk melewati pintu yang langsung terbuka otomatis. Ruang kerja Dumbledore setengah gelap, dan tak ada gerakan apapun, baik dari peralatan perak ganjil di meja pajang ataupun lukisan para kepala sekolah di belakang meja kerja Dumbledore. Bahkan Fawkes sedang tidur di atas tempat hinggapnya yang terbuat dari emas di samping pintu.
Dumbledore duduk di kursi bersandaran tinggi di belakang mejanya. Ia tampak terjaga dengan mata birunya yang berkilau. Segera saja McGonagall mengatakan alasan mereka datang ke kantornya. Hal ini diteruskan Harry, yang menceritakan ulang mimpinya – penglihatannya – pada Dumbledore. Ia agak kesal karena Dumbleore tak memandangnya selama ia menceritakan hal itu. Namun ia heran juga saat Kepala Sekolah menanyakan sudut pandang ia melihat kejadian itu, yang dengan jujur dikatakannya kalau ia melihat dari sudut pandang si ular.
Dumbledore lalu memanggil dua mantan Kepala Sekolah terdahulu, Everard dan Dilys, memanfaatkan sihir gaib lukisan yang bisa berpindah di lukisan mereka di manapun, mengingat dua kepala sekolah itu memiliki pamor yang bagus, membuat lukisan mereka terpasang di hampir semua lembaga sihir. Kedua lukisan itu akan menjadi 'mata-mata' untuk mereka, mencari tahu yang terjadi pada Arthur Weasley.
Sementara menunggu, McGonagall menyihir dua kursi tambahan untuk Harry dan Ron. Baru saja mereka duduk, pintu kantor Dumbledore terbuka begitu mendadak, bahkan membuat McGonagall terlonjak dari tempat duduknya.
Sosok besar Hagrid masuk dengan tergesa. Wajah berewoknya tampak panik dan ketakutan; mantel kulit tikus mondoknya ditempeli salju. Sekilas, ia menatap heran pada Harry dan Ron, sebelum menatap Dumbledore.
"Hagrid? Ada apa?" tanya McGonagall.
"Kepala Sekolah… Profesor McGonagall… Mr Hitsugaya…" Hagrid terengah. Harry mencengkram lengan kursinya; wajah Ron pucat pasi. "Aku temukan dia di Hutan… Luka parah…"
"Apa?" pekik McGonagall kaget. "Apa yang terjadi?!"
"Aku tidak tahu," kata Hagrid, terdengar kalut. "Firenze si centaurus mendatangiku, dia yang temukan anak itu… Dan kemudian Mr Kurosaki datang, dia membawanya ke rumah sakit, kupikir anda harus tahu…"
Dumbledore menghela napas. Ada kecemasan di mata birunya.
"Dan Kepala Sekolah, aku tak mengerti… Anak itu membawa senjata," Harry dan Ron bertukar pandang kaget. "Dan es di mana-mana…"
"Aku sudah mengatakan padamu siapa dia sebenarnya, Hagrid. Kurasa dia sedang melaksanakan tugasnya dan terluka. Aku akan ke rumah sakit setelah urusanku dengan Harry selesai…"
"Profesor…" sela Harry, tapi Dumbledore mengangkat tangannya, menghentikan interupsinya.
"… tolong panggilkan Profesor Urahara untuknya, tapi mungkin dia sudah tahu. Hanya saja, pastikan itu Hagrid. Dan tolong, jangan sampai kau bertemu Dolores Umbridge. Kalau kau bertemu dengannya, jangan katakan apapun tentang yang kau lihat bersama Mr Hitsugaya."
"Ba-baik, Kepala Sekolah."
Dan Hagrid pamit pergi. Wajahnya yang penuh luka tampak bingung saat ia menutup pintu kantor dan menghilang di baliknya.
"Albus," kata McGonagall memulai, wajahnya pucat dan tegang.
Kebingungan dan kepanikan Harry bertambah sekarang. Pertama Mr Weasley, sekarang Toushiro.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya terjadi?