
Pemuda mungil berambut putih itu berjalan dengan langkah tenang ke arah Topi Seleksi. Wajahnya yang dingin dan tenang tak terpengaruh pandangan sebagian besar siswa yang juga berbisik seperti dengung lebah. Harry menangkap kata-kata seperti, 'kecil begitu kelas lima', atau 'rambutnya putih begitu', atau 'anak aneh'. Entah kenapa Harry merasa sebal dengan komentar-komentar itu. Itu seperti melihat dirinya sendiri, yang ia tahu juga dijadikan obyek gunjingan walau dengan sebab yang berbeda.
Toushiro duduk di atas kursi, dan kemudian Topi Seleksi dipasang di atas kepalanya. Topi bulukan itu tampak menyedihkan disandingkan dengan rambut seputih salju yang berantakan itu, sementara Toushiro langsung membeku begitu si topi menyentuh kepalanya.
Toushiro diam tak bergerak, dan matanya terbuka namun kosong. Tak ada yang mengetahui bahwa pikiran Toushiro mendadak terbawa ke inner world-nya. Suara asing yang baru bicara dalam pikiran yang hanya menjadi miliknya dan Hyourinmaru.
'Sungguh menarik,' kata suara itu, terpesona. 'Dua jiwa dalam satu tubuh-Tunggu!' suara itu terdengar terkejut. 'Kau bukan manusia!'
'Aku tahu apa aku, tapi aku tak tahu apa atau siapa kau,' kata Toushiro dingin.
'Aku Topi Seleksi, wahai Death Reaper,' kata suara itu dengan takzim. 'Walau kupikir kau begitu muda untuk menyandang gelar itu.'
'Itu bukan urusanmu. Tapi kau tidak akan memberitahukan ini pada siapapun,' kata Toushiro datar, tapi ia yakin si Topi menyadari ancaman dibalik kalimat itu.
'Tentu saja tidak. Saat ini aku hanya bicara pada pikiranmu, dan aku terikat sihir untuk tak mendiskusikan pikiran orang lain dengan siapapun.'
'Kalau begitu cepat lakukan tugasmu,' kata Toushiro, sementara Hyourinmaru, dalam wujud naganya mendengus mengancam di belakang Toushiro, mata merahnya memandang berkeliling penuh ancaman pada suara asing Topi Seleksi.
'Baiklah, baiklah. Nah, apa yang ada dalam pikiranmu ini, jika kau tidak keberatan untukku melihat agar aku tahu kualitas apa yang kau miliki?'
Walaupun enggan, Toushiro mendapat janji bahwa Topi Seleksi tak akan memberitahukan isi pikirannya dan kenangannya pada siapapun, dan ia membiarkannya menyusuri potongan-potongan memori masa lalunya. Si Topi berulang kali mengeluarkan suara terkejut saat melihat adegan-adegan keras yang terjadi.
'Kau mengalami hal yang begitu mengerikan dalam wujud yang begitu muda.'
'Lewati keterkejutanmu dan langsung ke tugasmu,' kata Toushiro dingin. 'Aku shinigami, lagipula,' tambahnya sebal.
Topi Seleksi mengeluarkan dengusan tak sabar. 'Baiklah, aku akan langsung saja kalau begitu. Kau memiliki loyalitas tinggi pada tempat kau berasal, tipe Hufflepuff. Namun pikiranmu yang tajam dan kecemerlangan otakmu adalah hal yang akan membuat Ravenclaw bangga akan kau. Aku tak yakin dengan Slytherin, walau ambisi besarmu cukup beralasan untuk kau ada di sana, kau tak cukup licik dan licin untuk itu. Tunggu, ada hal lain di sini. Keinginan kuat untuk berdiri di depan yang kau sayangi, mengangkat senjata demi yang kau hargai. Ah, ambisi itu tidak sejalan dengan ciri Slytherin… Ambisi untuk menjadi kuat dan keberanian untuk berdiri di depan. Tak salah lagi… Gryffindor!"
Topi Seleksi meneriakkan kata terakhir itu ke seluruh Aula. Meja dengan dekorasi merah dan emas bertepuk tangan paling keras setelah teriakan itu. Toushiro melepas si Topi dengan tampang kesal, entah kenapa. Namun, sebelum turun ke meja Gryffindor, ia memberi bungkukan sopan ke arah para guru, yang sebagian besar tampak terkesan sekaligus heran dengan bentuk respek itu; hanya Dumbledore, McGonagall, Snape, dan Kisuke yang tampak tenang, membalas dengan anggukan.
Si kembar Weasley langsung menyambutnya dengan menyalaminya bergantian sampai tubuhnya berguncang.
"Selamat datang di Gryffindor," kata Hermione senang, dibalas dengan anggukan kalem Toushiro, yang menatap Ichigo yang tak lama kemudian di panggil oleh McGonagall, "Kurosaki, Ichigo."
__ADS_1
Langkah lebar dari kaki si jangkung itu membuatnya sampai ke undakan atas dengan cepat. Saat Topi Seleksi dipasang di atas rambut jingganya, ekspresi kosong yang sama dengan Toushiro juga dialami Ichigo. Ichigo juga ditarik begitu saja ke dalam inner world-nya begitu suara asing menembus pikirannya.
'Kalian berdua punya pikiran yang unik, walau bisa dikatakan kau lebih manusiawi, Anak Muda,' kata suara itu heran.
'Dan boleh kutahu siapa kau?' tanya Ichigo.
'Topi Seleksi, tentu saja. Nah, kita lewati basa-basi, kalau kau mau tanya tentang aku tanya saja nanti pada si kecil itu. Sekarang, maukah kau membiarkanku melihat kenanganmu untuk mengetahui kualitas apa yang menempatkanmu di salah satu asrama Hogwarts?'
'Kau tidak akan bicarakan ini pada orang lain?'
'Hm, pikiran shinigami begitu penting, ya? Tentu tidak, Nak, pikiranmu aman bersamaku.'
Maka Ichigo membiarkan si Topi menyelami kenangannya. Sesekali ia mendengar komentar-komentar pendek namun penuh ekspresi dari si Topi saat melihat bagian-bagian rawan.
'Kau serumit komandan muda itu, padahal kau masih manusia,' komentar si Topi. 'Nah, kita kembali ke urusan. Aku juga melihat kesetiaan yang besar pada teman-temanmu, terutama, pada ikatan yang kau miliki… Hm, Hufflepuff akan menyukaimu. Kau punya pikiran yang cukup tajam, tapi tidak setajam seperti yang diinginkan Ravenclaw… dan sisi lain dari jiwamu akan cocok dengan Slytherin, kelicikan dan kehausan akan kekuatan… keinginan untuk mendominasi… Tapi itu adalah hal yang ingin kau hindari. Baiklah, dimana aku akan menempatkanmu? Ah, aku tahu! Keinginan besar untuk melindungi yang kau sayangi adalah hal yang membuktikan bahwa kau pantas ada di Gryffindor!"
Sekali lagi, kata terakhir itu diteriakkan ke seluruh Aula. Ichigo langsung turun dari kursi berkaki tiga itu dan menyerahkan si Topi sambil memandang galak dan menggerutu keras ke arah si Topi yang melemas di genggaman McGonagall, "Paling tidak jangan berteriak di telinga orang, baka!"
"Ahaha! Kalian berdua berhasil masuk…" kata George menyeringai.
"… ke asrama paling hebat dalam sejarah, Gryffindor!" sambung Fred riang.
"Nah," Dumbledore berdiri lagi. Mata biru cemerlangnya berkilau di balik kacamata bulan separonya. "ada waktu untuk pidato, tapi bukan sekarang. Sekarang adalah waktu untuk kenyangkan perut kalian!"
Terdengar tawa menghargai dan tepuk tangan riuh ketika Dumbledore duduk dan jenggotnya yang panjang ke bahu agar tidak menyentuh piringnya, karena detik berikutnya piring-piring emas di seluruh meja mulai terisi makanan dengan sihir.
"Wow," komentar Ichigo takjub.
"Yeah, wow," kata Ron, mulai menyambar isi dari piring daging domba panggang ke piringnya sendiri dan makanan lain sampai penuh. Toushiro menatapnya tajam saat Ron mulai makan dengan pipi menggembung.
"Lihat, Toushiro, mereka membuat sushi! Dan woohoo! Okonomiyaki!"
"Boleh kuingatkan kau bersikap seperti anak lima tahun?" komentar Toushiro tajam, mengambil sepiring salad sambil mengernyit ke arah Ichigo.
__ADS_1
"Dan kau bersikap seperti kakek seratus tahun," balas Ichigo nyengir, mengambil sepotong besar makanan mirip pizza yang disebutnya okonomiyaki. Ia sepenuhnya menolak memandang Toushiro yang ekspresinya mengingatkan Harry pada singa lapar yang terusik kehadiran hyena di teritorinya.
"Apa kau tahu apa yang dilakukan Urahara-san disini?" tanya Ichigo, dalam bahasa Jepang dan suara rendah. Beruntung ocehan anak-anak, bunyi kunyahan, atau dentang pisau, garpu, atau sendok menyamarkan perbincangan mereka.
"Tidak," kata Toushiro, juga dalam bahasa Jepang. Ia mengernyit dalam, menahan keinginan untuk memandang langsung ke mantan komandan Divisi 12 di depan sana. "Soul Society tidak, atau mungkin belum memberitahuku apapun. Bahkan mereka tak pernah menyebut-nyebut tentang pelajaran baru Hogwarts."
"Dan dia datang dengan Yoruichi-san," tambah Ichigo. "Bahkan tidak perlu repot-repot memperkenalkannya. Itu artinya dia akan dalam penyamaran, 'kan."
"Kau membuatku heran karena kau gunakan otakmu. Tapi kau benar, itu berarti dia dalam penyamaran."
"Apa sih yang kalian bicarakan," kata Ron setelah menelan kunyahannya. Ia menatap Ichigo dan Toushiro bergantian. "Kalian mengoceh dengan bahasa entah apa dan kudengar nama guru baru itu kalian sebut."
"Kalian kenal dia kalau begitu," ujar Hermione bersemangat.
Ichigo menggaruk belakang kepalanya. "Begitulah."
"Bagaimana dia?" tanya Hermione lagi. Untuk sejenak steak-nya terlupakan.
"Well," kata Ichigo, berjengit sedikit, "dia… aneh sebetulnya. Belum pernah dalam hidupku kukenal orang seaneh dia, mengalahkan si bandot tua."
"Sori?" Hermione mengangkat alis.
"My dear lovely father," sahut Ichigo, teringat salam 'good morning' disertai tendangan atau pukulan Isshin yang setiap pagi menyapanya di rumah, yang selalu berakhir dengan hantaman balik, wajah Isshin yang mencium tembok dengan mesranya; namun mereka bisa menangkap sarkastik dalam kalimat itu.
"Ada yang salah?" tanya Ron heran.
"Jika menurutmu campuran Sirius, Tonks, dan Moody itu eksentrik, ayahku lima kali lebih aneh, lebih konyol, dan lebih idiot dari itu. Dan Urahara-san sepuluh kali lebih dari semuanya."
"Walau kupikir dia orang yang cukup kompeten," komentar Toushiro, menyesap tehnya dengan kalem. Ichigo langsung menatapnya seakan komandan mungil itu sudah gila. "Cerdas, tapi memang, dia agak aneh. Jika kalian mau tahu seperti apa dia, kalian akan lihat sendiri saat terima pelajarannya."
"Metode Pertahanan Klasik Jepang," kata Hermione, memotong daging steak-nya. "Aku ingin tahu seperti apa itu."
"Mengingat aku cukup kenal sifatnya, dia tidak akan membuat ini mudah," kata Ichigo, mengambil sepotong daging kornet dengan garpunya, ditusuk dengan kekuatan berlebihan dan pandangan mata sebal.
__ADS_1