
Hati ku mulai gelisah dan tak tenang,aku pun memutuskan untuk pergi ke kamar dan meninggalkan Retno sendirian di ruang tamu.
sampai di kamar,aku mengambil ponsel ku yang sedari tadi memang tak kubawa karna sibuk menjamu tamu,hingga aku tak tau kalau Mayang datang kerumah.
"apa maksud Mayang kesini,apa dia mau membocorkan hubungan ku dengan nya pada Arumi"gumam Erik yang gelisah tak tenang.
ku putuskan untuk mengirim pesan pada Mayang"kamu kok bisa disini"tanya ku pada pesan pertama.
namun belum ada balasan,mungkin Mayang lagi ngobrol dengan Arumi.
dengan perasaan gelisah,aku mondar mandir di kamar menunggu balasan pesan dari Mayang.
di tengah menunggu aku mendengar suara langkah Arumi menaiki tangga menuju kamar, dengan segera aku membaringkan tubuh ku, pura-pura tidur.
dalam mata yang terpejam aku bisa merasa kan kalau Arumi ikut berbaring di samping ku, setelah beberapa menit aku pun membuka mata dan melihat Arumi sudah tertidur pulas.
perlahan-lahan aku turun dari kasur dan keluar kamar,aku pun menuju kamar Retno untuk memastikan dia tertidur.
setelah keadaan aman,aku pun lansung turun menuju kamar Mayang dan mengetuk pintu kamar.
"tukkkk... tukkkk....Mayang"panggil ku pelan.
tak lama Mayang pun membuka pintu kamarnya,dengan cepat aku masuk dan menutup pintu kamar nya dari dalam.
aku melihat mayang masih membereskan pakaian nya.
"apa maksud semua ini,kamu sudah gila"tanya ku geram dengan mata tajam.
bukannya lansung menjawab pertanyaan ku,Mayang malah menarik tangan ku untuk duduk di kasurnya lalu tersenyum.
"jawab Mayang"desak ku kembali.
"tenang mas,Arumi belum tau apa-apa,aku kan sahabatnya dari kecil jadi kalau aku menginap disini Arumi pasti tidak keberatan, lagi pula sekarang Arumi sangat merindukan ku"ucap Mayang sinis.
"tetap saja aku tidak mau Arumi sampai tau hubungan kita"ulang ku kesal.
"dan kenapa kamu tidak membicarakan soal ini dulu sama mas"timpal ku kembali.
Mayang pun mengambil ku dan mengelusnya dengan lembut"sayang,kamu jangan khawatir,aku sudah menyusun rencana ini dengan baik,semanjak Arumi menelfon ku tempo hari,kamu sendiri kan dengar Arumi ngomong apa,apa lagi waktu itu Arumi beranggapan kalau aku sedang bersama pria lain"jelas Mayang dengan suara lembut kemudian memelukku.
sikap Mayang yang seperti ini lah yang membuat aku tak bisa jauh darinya,Mayang mampu menghipnotis ku dengan rayuan nya itu, membuat hati ku selalu luluh pada nya.
"sayang satu harian kamu tidak menelfon ku,aku sangat "ucap Mayang manja dan masih memeluk ku.
__ADS_1
"maaf sayang hari ini banyak tamu jadi aku lupa mengabari atau menelfon"sahut ku lalu membalas pelukan Mayang dengan erat.
aku tau perbuatan ku ini sangat menyakiti Arumi jika dia tau,sudah berapa kali aku mencoba lepas dari Mayang,tapi semakin ingin lepas malah semakin erat hubungan kami.
tidak bisa ku tepis kalau aku mencintai Mayang tapi aku aku juga sangat mencintai Arumi,karna itu aku juga tak bisa melepaskan nya, ibarat separuh hati ku milik Mayang dan separuh nya lagi untuk Arumi.
terkadang aku sadar kalau yang ku lakukan ini salah,tapi memang niat serius dengan Mayang dan mencari waktu yang tepat untuk menikahi nya.
"sudah sayang,aku ingin kembali ke kamar,takut Arumi bangun dan tak melihat ku di kamar"ucap Erik melepaskan pelukan nya.
Mayang pun menarik napas panjang "ok sayang,selamat malam"ucap Mayang dengan manja.
pelan-pelan aku membuka pintu dan mengutip keluar"syukurlah aman"batin ku lalu berjalan keluar.
tak lupa aku minum dan mencuci muka sebelum ke kamar.
aku pun masuk ke kamar dan mendapati Arumi masih lelap dengan tidur nya dan ku baringkan tubuh ku dengan perasaan yang sudah mulai tenang.
* POV ARUMI..
bangun pagi ini Banda ku rasanya lebih ringan,mungkin Karna tidur yang pulas dan cukup.
seperti biasa aku bangun pagi sebelum yang lain bangun,karna masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan sebelum berangkat kerja.
kami masak SOP bersama namun rasa SOP nya ke asinan,hehee...Sampek bude Rasti mengejek kami berdua kepengen menikah.
menyuci pakaian ke sungai berdua,karna jauh nya jarak sungai dari rumah,aku dan Mayang Sampek membawa botot dan jajan dari rumah.
"Arum,heyyy...."sapa mayang membuyarkan lamunanku.
"kamu mikirin apa, mikirin Erik yaa"timpal Mayang tertawa mengoda ku.
"ahh...ngk ahhh"ucap ku sambil mengaduk masakan ku yang sudah mau Mateng.
"trus tadi kamu mikirin apa, senyum-senyum sendiri "tanya mayang kembali.
"aku cuma teringat masa kecil kita dulu"sahut ku lalu tertawa.
"masa kecil kita yang mana"tanya Mayang sambil berpikir.
"tentang kita masak SOP sama menyuci pakaian ke sungai "
"Oooo....itu"sahut Mayang singkat dan tersenyum.
__ADS_1
"oyaa...Erik udah bangun"tanya Mayang sambil melihat ke atas.
"biasanya jam segini udah,mungkin lagi siap-siap mau berangkat ke kantor "sahut ku tanpa curiga,Mayang pun mengangguk kan kepalanya pertanda paham.
"ada buah jeruk ngk rum"
"ada tu,dalam kulkas"
"aku mau buat juz jeruk"sahut Mayang sambil mengambil buah jeruk dari kulkas.
Retno pun datang dengan seragam sekolah nya yang sudah rapi,tanpa menyapa Retno langsung duduk si kursi makan.
"selamat pagi sayang" mayang menyapa dari arah dapur.
Retno hanya tersenyum kecil dan melihat ke arah ku tanpa ingin menjawab.
aku paham mungkin Retno geli mendengar panggilan sayang dari Mayang,yang baru ia kenal.
makanan sudah di hidangkan di meja makan, namun mas Erik belum juga turun.
"Retno, coba lihat ayah,panggil makan"ucap ku.
"iya ma"sahut Retno lalu bangkit.
baru saja Retno melangkah,mas Erik sudah nongol"tu ayah ma"ucap Retno kemudian kembali duduk.
"mas ayok makan"ucap ku.
mas Erik pun langsung duduk tanpa menyapa ku, biasa nya setiap pagi mas Erik menyapa ku dan Retno sebelum duduk"mungkin merasa tak enak karna ada Mayang"gumam ku dalam hati tak ingin berpikir buruk.
semua sudah duduk di kursi nya masing-masing, seperti biasa aku selalu duduk di samping mas Erik.
"rik,ini tadi aku buatin juz buat kamu"ucap Mayang sambil menyodorkan segelas juz.
deggg...
perasaan ku seketika itu lansung tak enak,begitu pula Retno yang heran melihat Mayang.
"Tante tau dari mana kalau ayah suka juz jeruk"tanya Retno,yang sudah mewakili perasaan ku.
"oo...emmm...itu..."sahut Mayang dengan terbata-bata.
"Tante Mayang mungkin hanya menebak saja sayang,tapi kebetulan saja benar"timpal Erik membela.
__ADS_1
aku pun hanya tersenyum kecil.