
"kalau sudah siap,silakan pergi,aku capek ingin istirahat"timpal ku kembali
"ayok biar aku antar"ucap mas Erik lalu menarik koper Mayang.
"tunggu mas"potongku.
"iya sayang"sahut mas Erik mata'yang berkaca-kaca, seperti nya mas Erik berpikir aku mau menghentikan dia pergi.
"ini koper kamu"ucap ku memberikan koper miliknya.
"apa ini"tanya mas erik heran
"itu koper kamu mas,semua pakaian kamu sudah aku masukkan,jadi kamu ngk perlu repot lagi"ucap ku santai.
"sayang,kenapa kamu masuk kan semua pakaian mas kesini,mas kan ngk pergi"ucap mas Erik tak terima.
"untuk apa lagi kamu disini mas,kita akan bercerai"
"tidakkk... pokoknya mas tidak akan menceraikan kamu"ucap mas erik dengan lantang.
"kalau itu keputusan kamu,aku juga kekeh dengan keputusan ku"ucap ku tak kalah.
"sudah ayok kita pergi, untuk apa kamu disini sudah tidak di hargai lagi"ucap mayang menarik tangan mas Erik.
"aku akan kembali"ucap mas Erik sambil berlalu pergi.
ketika mobil mas Erik berhenti dipagar depan,dan keluar membuka gerbang,tiba-tiba Retno datang dan berteriak hingga mengejutkan ku.
"ayahhh...ayah mau kemana"teriak Retno dengan mata sembab.
"Retno,sayang kamu kok keluar"ucap ku yang tak dihiraukan oleh Retno.
"Retno anak ayah,sini sayang"panggil mas Erik dari arah pagar.
seketika Retno lari mengejar mas Erik,aku yang melihat Retno berlari ke arah mas Erik spontan panik dan mengejar Retno dari belakang.
Mayang pun keluar dari mobil dan menarik tangan mas Erik masuk, sementara mas Erik tak ingin masuk.
Mas Erik lansung memeluk Retno,aku dan Mayang berdiri diam,saling melihat aksi mas Erik dan Retno berpelukan.
"ayah,ayah mau kemana"tanya Retno kembali.
mas erik terdiam,lalu menatap ku,kulihat raut wajah mas erik begitu sedih dan mata yang berkaca-kaca.
"ayah...kok ayah diam"timpal retno lagi,karna belum mendapatkan jawaban dari mas erik.
"sayang sini,ayah ada urusan"ucap ku sambil memegang tangan retno.
"urusan apa maaa,,kenapa kita ngk ikut,kenapa malah Tante Mayang yang ikut"sahut Retno membuat ku tertegun.
air mata yang berusaha kutahan, akhirnya jatuh juga di hadapan retno.
"maa,apa ayah pergi gara-gara tante mayang,tadi dari atas,Retno dengar mama bertengkar sama ayah"timpal retno kembali,aku dan mas Erik pun saling menatap.
"ehhh....enak aja...itu semua gara-gara mama kamu sendiri,mama kamu udah ngerebut ayah kamu dari Tante"ucap mayang ketus.
"mayanggg...."ucap ku dan mas erik serentak.
"jaga ucapan kamu Mayang,tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu pada retno "ucap ku geram menahan emosi.
"iya,semua ini jangan dibawa-bawa ke retno,dia sama sekali tidak tau"ucap mas Erik tak kalah kesal.
"kenapa sih,,, Retno itu udh SMP,ngk perlu ditutup-tutupi lagi"ucap mayang asal.
"sudah mas,mening kamu pergi dan bawa dia dari sini"ucap ku semakin kesal melihat tingkah mayang.
"sayang mas minta maaf,mas tidak sanggup meninggalkan kamu dan retno sayang"ucap mas Erik memegang tangan Retno.
__ADS_1
"sudah mas,mening kamu pergi saja, sudah malam,malu kalau ada tetangga yang dengar,ayok sayang kita masuk"ucap ku,lalu menarik tangan retno masuk.
"maa,,retno ngk mau ayah pergi maa"rengek retno berusaha melepaskan diri.
"Arumi,kasian Retno,kalau ngk,biarkan Retno pergi bersama ku"
"tidak mas, Retno tidak akan pergi kemanapun"teriak ku,sambil jalan menarik tangan Retno masuk.
"udahlah,ayok kita pergi"ucap mayang menarik tangan mas Erik.
mau tak mau,mas Erik pun pergi dengan menggunakan mobil kantor nya.
Retno yang melihat ayah nya pergi langsung menangis.
"ayahhh..."teriak Retno menangis
aku pun lansung menutup pintu,agar Retno tidak keluar
"mama jahat...kenapa mama biarkan ayah pergi"ucap retno kesal.
"sayang,walau ayah pergi, Retno masih bisa jumpa ayah kok"sahut ku menenangkan nya.
"tapi maaaa, Retno mau ayah tinggal sama kita"
"sayang,maaf kan mama ya"
"tidak,tadi ayah juga udah minta maaf sama mama, kenapa ngk mama maaf kan,mama malah usir ayah"ucap Retno dengan tangisan nya.
"mama jahatt...''timpal Retno kembali,lalu lari ke kamar nya.
aku pun hanya membiarkan Retno pergi,aku mengerti, pasti Retno sangat syok melihat ayahnya kesayangannya pergi,apalagi selama ini mas Erik selalu menunjukkan sikap harmonis pada ku dan juga Retno saat dirumah.
akupun kembali kekamar dan memutuskan untuk tidur,aku berharap besok suasana hati Retno sudah membaik.
...****************...
Hari ini begitu banyak panggilan masuk dari mayang tapi aku sengaja tak menjawabnya, biasanya dia menelfon ku untuk menyuruh ku cepat pulang,karna kerjaan ku menumpuk,aku pun memutuskan untuk tidak menjawab panggilan nya.
tuttt.....tutttt....
"ahh...biarkan saja" batinku,saat melihat panggilan mayang yang kesekian kali nya.
setelah pekerjaan ku semua selesai,aku pun langsung pulang,hari ini aku memang benar-benar lelah,rasanya Sampek rumah ingin istirahat lansung.
begitu sampai dirumah,aku sengaja mengendap-endap masuk kedalam rumah, untuk menghindari Mayang,aku lelah,aku tak ingin berdebat dengan nya dulu,karna dari tadi aku mengabaikan telefon nya.
"Syukurlah mayang dikamar"batin ku,lalu segera naik kelantai dua dan langsung masuk kamar.
Baru membuka pintu,aku sudah melihat pemandangan yang indah,Arumi berdiri dimeja rias nya, penampilan nya begitu berbeda,terlihat lebih cantik, seolah-olah lelah dan penat ku dari kantor langsung hilang.
Ku sengaja mendekat,ingin memeluk nya,namun Arumi menyuruh segera membersihkan diri lalu turun makan bersama.
Aku pun tak masalah"selesai makan malam saja,nantikan masih banyak waktu berdua"batin ku dan lansung ke kamar mandi.
Selesai menganti baju aku pun lansung turun dan mendapati retno putra ku yang sedang menuruni anak tangga,aku langsung merangkul Retno dari belakang.
"Sayang,bagaimana sekolah mu lancar"tanya ku sambil berjalan turun
"Lancar ayah"sahut Retno tersenyum.
"Oya ayah,hari Minggu lusa kita jalan-jalan ya ayah,mama sama ayah kan libur kerja"ajak putra ku semangat.
"Iya sayang,kita jalan-jalan"sahut ku, retno langsung senang.
"Ayok cepat,mama sama tante mayang sudah menunggu"ucap ku mempercepat langkah,karna sudah melihat mayang dan arumi duduk di kursi makan.
Begitu sampai dimeja makan,perut ku lansung lapar,melihat menu kesukaan ku di meja makan.
__ADS_1
Tanpa ku minta mayang mengambil piring ku dan langsung mengisinya dengan nasi serta lauk yang ku suka.
"Aduhh mayang ini, entah apa pakek perhatian segala di depan Arumi, bisa-bisa Arumi curiga pula"batinku kesal.
Namun aku juga tak mungkin langsung menegur mayang didepan Arumi.
Aku makan dengan lahap,Sampek tambuh dua kali, kulihat mayang juga menikmati makanan nya.
Aku pun bertanya pada arumi, apakah ada kabar baik,Sampek dia berdandan cantik dan Masak banyak.
Arumi bilang iya,kalau sudah siap, ngumpul di ruang tamu nanti,ada kabar gembira yang mau dia sampai kan.
Kebetulan aku sudah siap,aku langsung duduk di ruang tamu,aku sungguh tak sabar,kabar apa yang ingin Arumi katakan.
Karna sudah duduk semua,tanpa basa-basi aku pun langsung bertanya pada Arumi.
"Berita apa sih sayang, Sampek kita harus ngumpul"ucap ku sudah tak sabar.
Kulihat Arumi memperbaiki posisi duduk nya dan menarik napas panjang.
"Mas,aku ingin cerai"
Deg......
Rasanya jantung ku berhenti sejenak, mendengar apa yang arumi kata kan.
Awalnya aku tak percaya apa yang Arumi katakan,namun Arumi mengulangi nya lagi untuk menyakinkan ku,kalau dia serius minta cerai.
Tentu saja aku menolak dan tak setuju,bahkan aku sama sekali tak terima kalau Arumi minta cerai.
Bahkan aku langsung berkata kasar dengan menuduh arumi punya selingkuhan lain.
Namun, jantung ku berdebar kencang ketika dengan emosinya arumi mengatakan kalau mayang hamil anak ku dan lidah ku seketika itu kaku.
Aku berusaha menepis dan tak mengakui hubungan ku dengan mayang,aku masih berpikir kalau arumi hanya curiga dan tak memiliki bukti.
Dengan tegas arumi mengatakan kalau dia punya rekaman CCTV bukti perselingkuhan ku dengan mayang.
Ternyata semua pemikiran ku salah.
ya tuhan... ternyata arumi benar-benar sudah mengetahui hubungan ku dengan mayang.
Spontan aku langsung meminta maaf dan mengatakan kalau aku khilaf.
Namun Arumi tak ingin lagi mendengar kan penjelasan ku.
Hatinya benar-benar sudah terluka oleh ku dan sahabat nya sendiri.
"maaf kan mas arumi, jujur mas tak ingin berpisah dengan mu,tapi secara bersamaan mas juga mencintai mayang"batin ku sambil mendengar luapan emosi dari arumi.
Setelah terbukti bersalah aku hanya diam,memang benar ini semua salah ku,ahhh....aku benar-benar bodoh,maaf kan aku arumi,namun aku tetap tak ingin bercerai.
Setelah itu,aku dan mayang pun lansung diusir,aku tak bisa melawan,karna memang benar 80 % rumah ini milik Arumi hasil dari penjualan tanah almarhum orangtua nya.
Selama ini Arumi tak pernah menuntut apa-apa dari ku,bahkan uang belanja pun sering pakek uang gaji nya, sementara gaji ku sebagian aku tabung dan sebagian nya lagi aku berikan ke mayang.
Jujur Arumi tak pernah tau kalau aku sering memberikan uang gaji ku kepada mayang.
Mengingat semua kebaikan arumi, membuat ku semakin menyesal telah menyakiti nya.
Mau tak mau aku harus pergi dengan mayang,sambil mengemasi barang-barang Mayang,aku berusaha membujuk nya,untuk sementara tinggal di kosan lama milik nya.
Sepanjang perjalanan pikiran ku kacau dan hanya memikirkan Arumi dan retno.
Apalagi Retno sempat menangis dan tak ingin aku pergi.
Hati dan pikiran ku benar-benar tak tenang.
__ADS_1