
Aku sudah tau maksud kedatangan Mayang,namun aku masih pura-pura tak tau.
hati ini benar sakit, mengetahui dia hamil dan itu adalah anak nya mas Erik.
aku terdiam,dan mengatur suasana hati ku yang mulai goyah, ingin sekali aku menampar wajah yang selama ini ku anggap sebagai sahabat dan sekaligus saudara.
Dan berani-berani nya dia datang pada ku untuk mengecek kehamilannya,aku tau Mayang sudah mengecek kehamilan nya sendiri,pasti dia ingin memberitahu ku tentang hubungan nya dengan mas Erik dan agar aku langsung terpancing emosi.
rasanya aku tak kuat,hati ini benar-benar sakit,setiap perkataan Mayang menusuk hati ku,namun aku berusaha menahan nya dan sebisa mungkin bersikap tenang di hadapan nya.
"Seperti nya kamu sudah berbaikan dengan pacar mu,jadi kapan kamu akan pergi"ucap ku karna sudah tak tahan melihat nya tinggal dirumah ku,dan bermuka dua.
Mayang mengehentikan langkah nya dan berbalik menoleh ke arah ku,dari ekspresi wajah nya,aku tau Mayang pasti sakit hati, secara tidak langsung aku mengusir nya pergi dari rumah ku tapi aku juga tidak bisa tinggal dengan orang yang sudah merusak rumah tangga ku.
"Kamu tenang saja, secepatnya nya aku akan dijemput pacar ku"ucap mayang ketus pada ku lalu langsung keluar.
"pacar...iya sesuai keinginan mu,aku akan memberikan Suami ku pada mu, seperti nya kamu lebih membutuhkan nya dari pada aku"batin ku geram.
setelah Mayang pergi,lutut ku lansung lemas,air mata yang ku tahan dari tadi akhirnya keluar juga.
setegar apa pun aku,rasanya tetap lah sakit, walaupun aku sudah menerka ini akan terjadi,tetap saja hati ku sakit mengetahui kenyataan nya.
ku hapus air mata ku dan bergegas pergi ke kantor pengadilan,untuk mendaftar kan gugutan cerai,aku akan mempersiapkan perpisahan tanpa di ketahui mas Erik,dan sebelum Mayang dan mas Erik mengatakan hubungan mereka,lebih baik aku yang akan membongkar perselingkuhan mereka berdua.
setelah selesai mendaftar kan gugutan cerai,aku pun pergi mencari tempat makan untuk menenangkan diri,serta tinggal menunggu panggilan sidang dari pengadilan.
keputusan ku menggugat mas Erik sudah bulat,aku tidak ingin bersama orang yang telah mengkhianati ku,aku tidak peduli apa reaksi mas Erik nanti,yang jelas aku sudah menyiapkan bukti,baik itu bukti perselingkuhan dan bukti kehamilan Mayang.
ketika keluar dari kantor pengadilan,aku terdiam berdiri diluar dan menatap kembali kantor yang telah ku masuki.
tak terasa air mata ku terjatuh, akhirnya aku datang kesini,tak pernah terbayang kalau aku akan menggugat cerai mas Erik dan pernikahan ku berakhir seperti ini.
"kenapa sedih nak"ucap bapak tukang ojek yang kebetulan lagi duduk di kursi panjang dekat jalan.
__ADS_1
dengan cepat ku hapus air mata ku"hehe ngkpp pak"ucap ku berusaha tersenyum.
"mau cerai ya nak"ucap pak ojek,aku pun mengangguk.
"boleh bapak kasih saran"
"silakan pak"
bapak itu pun lansung menawariku untuk duduk.
"perkenalkan nama bapak Usman,bapak sering mangkal di sekitar sini,jadi sering mendapat sewa dari sini''jelas pak Usman dan aku pun hanya mendengar kan.
"neng ini namanya siapa"
"nama saya Arumi pak"
"Arumi,jadi nak Arumi ini datang mengurus perceraian atau sudah resmi bercerai"
"masih mengurus pak"ucap ku,pak usman pun mengangguk paham.
"ada yang baru lahir,ada yang meninggal dan ada yang menikah,serta ada yang berpisah"ucap Usman melanjutkan.
"tapi semua itu sudah takdir yang kuasa,hanya saja kita harus berusaha mengambil keputusan yang terbaik,terutama masalah perceraian,agar dikemudian hari tidak ada penyesalan"ucap pak Usman yang membuat air mata ku menetes kembali.
aku baru saja bertemu pak Usman tapi kata-kata dan nasehat dari pak Usman seperti seorang ayah yang sedang menasehati anaknya.
seketika aku langsung merindukan bapak dan ibu,saat ini aku memang butuh sosok ayah dan ibu di samping ku, menguatkan ku, menceritakan luka ku,aku pun lansung menutup wajah ku lalu menangis.
"maaf kan bapak nak,apakah nak arumi tersinggung degan ucapan bapak"ucap pak Usman cemas,karna tak sanggup bicara aku pun menggeleng kan kepala ku.
setelah merasa lebih tenang,pak Usman pun kembali melanjutkan ucapannya.
"apakah sudah merasa enakan"
__ADS_1
"sudah pak"ucap ku singkat karna malu sudah menangis di depan pak Usman.
"kalau memang terlalu sakit,dan tidak bisa di perbaiki lagi,maka lepaskan lah dengan ikhlas,agar hati nak Arumi bisa tenang"ucap pak Usman dengan wajah yang begitu teduh.
"satu lagi,kalau hubungan sudah berakhir jangan membenci apa lagi balas dendam,Karna itu akan membuat hati nak Arumi tak pernah tenang"ucap pak Usman lalu berdiri.
"kalau gitu bapak pergi dulu ya nak Arumi,bapak harus narik lagi"ucap pak Usman pamit.
"terimakasih ya pak"ucap ku tersenyum.
"ooyaaa....kalau kamu butuh teman cerita,mainlah kerumah bapak,rumah bapak di ujung jalan ini dekat masjid,kalau bapak tidak dirumah, istri bapak ada kok"ucap pak Usman sebelum pergi.
"iya pak,sekali lagi terimakasih ya pak"ucap ku bahagia.
tak terasa aku mengabiskan waktu satu jam duduk dengan pak Usman.
aku sangat beruntung bertemu orang sebaik pak Usman,wajah pak Usman begitu teduh dan setelah bicara dengan nya membuatku merasa tenang.
setelah mengobrol dengan pak Usman,aku pun berniat lansung pulang,aku kepikiran Retno,nanti sore Retno sudah pulang dan aku belum masak apa-apa,kasian Retno kalau makan diluar trus.
sebenarnya aku malas bertemu dengan Mayang,namun tidak ada pilihan karna dia masih menumpang dirumah.
sampai dirumah, kulihat sepatu Retno sudah di rak sepatu,benar dugaan ku,pasti Retno sudah pulang,aku belum masak lagi.
dan kudapati Mayang yang tengah santai di ruang tamu menonton TV, mayang tertawa lepas sambil membaringkan sekujur tubuhnya di sopa panjang,kulihat sampah jajanan sudah berserak di meja hingga dibawah lantai.
"Mayang..."panggil ku tapi dia tak menoleh sangking pokusnya ke layar televisi.
"mayanggg"panggil ku dengan suara yang lebih keras dan Mayang pun langsung menoleh kaget.
"ada apa sih,buat kaget aja"ucap Mayang kesal.
"itu,kalau kamu makan sesuatu sampahnya jangan diletak sembarangan"ucap ku menunjuk ke arah sampah.
__ADS_1
"oooo....
kirain apa,itu aja pun,nanti kan aku beresin"ucap Mayang asal dan kembali menonton.