Huru Hara Orang Ketiga

Huru Hara Orang Ketiga
Protes


__ADS_3

"sayang cepatan"para tamu sudah mulai datang,desak ku pada mayang yang masih belum siap dengan dandanan nya.


"iya..iya...Bantar lagi"sahut mayang yang masih fokus di depan cermin.


melihat ibu-ibu dan tamu yang lainnya sudah berdatangan,aku mulai gugup,ada rasa bahagia mengingat ini adalah pesta pertama pernikahan ku dengan mayang,namun ada rasa cemas dan khawatir dengan penilaian orang terhadapku, bahwa ini adalah pernikahan kedua ku.


pasti banyak pertanyaan dibenak setiap orang, bagaimana sudah keadaan rumah tangga ku dengan Arumi,dan kenapa bisa aku menikah lagi.


mau bagaimana pun,aku harus siap dengan semua ini,pasti ada pro dan kontra di antara mereka.


selesai bersiap-siap aku dan Mayang pun langsung bergabung bersama para tamu,aku sibuk menyapa tamu laki-laki ku, begitu pula dengan mayang sibuk bersama teman-teman nya.


"ajari kita dong rik,cara buat dapat istri dua,apalagi dua-duanya sama-sama cantik"goda teman ku setengah berbisik, sambil melirik ke arah mayang yang tengah berbincang dengan tamu wanita.


"Iya benar tu rik, bagi-bagi ilmunya dong"sambung yang lain,kemudian mereka serentak tertawa bersama.


Walau merasa tak nyaman,namun aku hanya ikut tertawa dan tersenyum menanggapi nya.


"Rik,itu bukan nya Doni,dia sama perempuan"


"Doni datang juga"timpal yang lain.


Aku pun langsung melihat ke arah pintu,mata ku lansung berbinar melihat perempuan yang berdiri disamping Doni.


"Teman-teman aku kesana dulu ya, kalian nikmati makanan dan minuman nya"ucap ku sambil melangkah pergi meninggalkan mereka.


Begitu nongol,aku pun lansung menyapa arumi dengan perasaan bahagia.


Betapa bahagianya aku,Arumi mau datang ke pesta pernikahan ku, walaupun kulihat wajah Arumi masih belum bersahabat,aku tau arumi pasti terkejut mengetahui pemilik rumah ini adalah aku dan mayang.


Dari awal pindahan memang mayang yang datang,jadi Mayang juga lah yang mengundang semua ibu-ibu di komplek ini,dan ibu-ibu di komplek ini masih belum mengenal mayang.


Dan untuk mengundang arumi memang ku serahkan pada buk siti,karna kalau aku dan mayang yang mengundang pasti arumi tidak akan mau datang,aku tidak tau siapa yang menerima undangan dari buk Siti, apalah retno atau arumi langsung.


Seperti nya arumi memang belum memaafkan aku,namun tetap saja aku akan berusaha mendapatkan hati nya kembali.


Namun semua usaha ku gagal berantakan,tiba-tiba mayang muncul dari belakang ku dan mulai adu mulut dengan arumi.


Ucapan mayang benar-benar sudah keterlaluan,aku tau Arumi pasti semakin sakit hati, bisa-bisanya mayang mengarang cerita kalau aku dan Arumi sudah bercerai tapi arumi tidak terima dan malah menganggu rumah tangga ku bersama mayang.


Aku berusaha menghentikan mayang,namun mayang tak memperdulikan kan ku,dan kulihat arumi juga berusaha menahan emosi nya,tapi karna sindiran dari para ibu-ibu yang hadir,Arumi semakin malu dan mulai melawan perkataan mayang.


Dengan mudah Arumi memutar balikkan keadaan,mayang pun lansung menunduk diam, kulihat tak ada lagi perlawanan dari mayang, seolah-olah mulut ku dan Mayang lansung bungkam ketika arumi mengungkapkan bukti CCTV.


Aku hanya bisa diam menunduk kan kepalaku, rasanya aku benar-benar sangat malu di hadapan teman-teman dan semua para tamu, mereka semua mulai berbisik-bisik dan menatap sinis kearah ku dan mayang.


Dalam hati,aku benar-benar kesal dengan mayang,karna dialah yang memulai pertengkaran ini,aku tau arumi tidak akan semarah ini jika tidak dipermalukan mayang di depan banyak orang,buktinya di malam ketika aku dan mayang di usir dari rumah,Arumi masih bicara baik.


Tapi apa boleh buat, mereka berdua adalah istri ku,rasanya disatu sisi aku benar-benar bodoh tidak bisa membela arumi dan disisi lain nya aku juga tidak ingin menyakiti mayang, apalagi mayang sedang mengandung.


"Benar-benar tidak tau malu,udah rebut suami orang,ehh..malah balik nuduh lagi"


"Iya, benar-benar jahat,saya sih kasian lihat istri tua nya,dari awal difitnah dia masih sabar,kuat,hebat banget ya,udah tau suaminya selingkuh tapi masih mau datang"


"Iya jeng, kalau saya mah ogahh,mening saya labrak aja suami sama pelakor nya,yang laki saya tampar trus pelakor nya saya jambak-jambak rambut nya"


Ucap ibu-ibu yang sudah mulai geram serta menatap sinis kearah ku dan mayang,aku hanya bisa diam dan pasrah dengan berbagai komentar ibu-ibu yang pedas, karna tak ingin menjadi sasaran amukan dari mereka.


Satu-persatu para tamu pergi meninggalkan rumah, begitu pula arumi, padahal pesta nya belum selesai,bahkan teman-teman ku pun pergi tanpa berpamitan,aku hanya bisa membuang napas kasar,entah apa yang mereka pikirkan kalau bertemu dikantor nanti.


Rumah pun menjadi sepi,tinggal lah aku dan mayang.


"Semuanya jadi berantakan,ini semua gara-gara istri tua mu itu,cepat ceraikan dia,dan mulai sekarang aku tidak mau kamu bertemu dia lagi"bentak mayang menumpahkan kekesalan nya pada ku.


Mayang pun menghentakkan kaki nya lalu pergi ke kamar dengan wajah masam.


Aku mengacak-acak rambutku dan menatap keseluruh ruangan.


"Semua jadi sia-sia"ucap ku penuh kesal.


Belum hilang kekesalan ku,tiba-tiba seseorang orang datang.


"Permisi... permisi pak erik"ucap seseorang dari arah pintu


Akupun langsung keluar menghampiri nya.


"Apa benar ini rumah pak erik?


"Iya pak,saya sendiri"


"Ternyata benar"ucap pria berpakaian rapi itu,sambil menatap ku heran.


"Apa nya yang benar pak"ucap ku tak kala heran dan penasaran.


Dia pun tersenyum lalu melanjutkan ucapannya.


"Barusan saya kerumah depan ini, setelah itu ibu arumi mengarahkan saya kesini"ucapnya menunjuk rumah arumi,yang membuat ku semakin binggung.


"Ini ada surat panggilan sidang dari pengadilan"ucap nya sambil menyodorkan nya pada ku.


Dengg....


Aku lansung terkejut mendengar nya.


"Susuuurat apa pak"ulang ku tak percaya


"Silakan dibaca pak,biar jelas"

__ADS_1


"Kalau gitu saya permisi dulu"timpal nya kembali lalu pergi, sementara aku masih mematung memegang surat yang belum ku buka.


"Siapa yang datang"ucap mayang yang tiba-tiba muncul


"Kok ngk ada-ada siapa-siapa"timpal mayang melihat keluar rumah.


"Kok diam aja sih,itu apa"ucap mayang kemudian merampasnya dari tangan ku.


Aku masih diam,membuat kan mayang membacanya.


"Surat panggilan sidang"ucap mayang terkejut ketika membaca isi nya.


"Besok"timpal Mayang kembali dengan mata melotot melihat ku.


Aku pun lansung merampas nya dari tangan mayang dan lansung membaca nya.


"Ini tidak mungkin...ini pasti salah"ucap ku tak terima dan merogoh saku celana ku mengambil ponsel.


"Ya kan ini bagus,biar kamu cepat cerai"ucap mayang santai,namun aku berusaha mengabaikan nya.


Aku pun lansung menghubungi nomor arumi.


Tuttt....tuttt.... panggilan ku tersambung namun arumi tidak menjawabnya.


"Sudahlah, ngapain capek nlfo dia lagi,terima aja lah"ucap mayang sambil pergi masuk,yang membuat ku semakin kesal.


Beberapa kali kucoba namun hasil nya tetap nihil.


"Sial "ucap ku kesal,meremas ponsel ku.


Jujur saja aku tidak terima kalau arumi menggugat cerai ku secepat ini,apa lagi aku belum siap kehilangan nya.


"Tidakk...aku tidak mau bercerai"ucap ku meremes surat lalu pergi menuju rumah ku dan arumi.


"Arumiii.... sayangg....buka pintunya"teriak ku


"Sayangg buka pintunya"


"Retno sayang,ini ayah,buka pintunya sayang"teriak ku memanggil retno


Hampir lima menit aku berteriak,namun Arumi baru membuka pintu rumah.


"Ada apa lagi sih mas"ucap Arumi kesal


"Ini apa..."ucap ku memperlihatkan surat panggilan sidang yang sudah kusut ditangan ku.


Arumi hanya diam dan melemparkan pandangan nya kearah lain.


"Sayang kita harus bicarakan ini"ucap ku lalu masuk kedalam.


"Apa-apaan sih kamu mas,bicara disini saja"ucap Arumi melarang ku masuk.


"Mas kamu tidak boleh masuk"teriak arumi


"Kenapa,aku ini masih suami mu yang sah"ucap ku tegas,ya dugaan ku benar, status suami masih senjata yang ampuh untuk ku menaklukkan hati Arumi.


Arumi langsung diam dan membiarkan ku untuk masuk.


Hati ku berdebar kencang ketika melangkah kan kaki ku masuk ke dalam, tiba-tiba setiap kenangan ku bersama arumi muncul,hati ku mendadak merindukan itu semua.


"Kenapa diam,ngk jadi masuk"ucap arumi membuyar kan lamunan ku.


Aku pun lansung mengikuti langkah arumi yang kini sudah berjalan didepan ku.


Tanpa dipersilahkan aku pun langsung duduk diruang tamu.


"Sayang buat kan mas teh ya,mas rindu teh buatan kamu"ucap ku mencairkan suasana.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu"ucap arumi menatap ku tajam,kemudian pergi kedapur.


Aku pun tersenyum melihat tingkah nya,yang masih mengemas kan itu.


"Sayang,mas sungguh menyesal menyakiti mu,mas akan berusaha mempertahankan rumah tangga kita,mas janji akan berlaku adil pada mu dan mayang"bhatin ku sambil menatap kearah arumi.


"Mau bicara apa lagi"ucap arumi sambil meletakkan secangkir teh


"Sabar,kan teh nya juga belum di minum"


"Oyaa. ... retno mana,mas rindu"ucap ku melirik ke lantai atas.


"Sudah lah mas, kamu jangan basa basi lagi"


"Retno lagi istirahat"ucap arumi tanpa melihat wajah ku.


Aku hanya memaklumi sikap arumi.


"Sayang,tolong maafkan mas,mas khilaf,mas janji tidak akan menyakiti kamu lagi,mas janji akan berlaku adil pada mu dan mayang,tolong terima mas lagi"ucap ku memohon.


"Berlaku adil"ucap arumi lalu tertawa


"Iya sayang,mas janji akan adil pada kalian berdua"


"Kamu pikir aku mau diduakan"


"Lalu mas harus apa,agar kamu mau memaafkan mas kembali"


"Ceraikan mayang"ucap arumi menatap ku.

__ADS_1


"Tataapi..."


"Kenapa,tidak bisa"potong arumi


"Mayang kan lagi hamil,mana mungkin aku menceraikan nya sayang"ucap ku memelas.


Namun Arumi hanya tertawa mendengar jawaban ku.


"Mas...mas...aku hanya coba tes kamu,itu aja kamu udah ketakutan"


"Tenang mas,aku ngk akan pernah meminta kamu bercerai,aku juga ngk akan mau kembali lagi"


"Tapi sayang,mas kan udah minta maaf"


"Ok,aku maafin kamu,tapi aku tidak akan mau kembali lagi sama kamu dan jangan nganggu hidup aku lagi"ucap arumi lalu bangkit.


"Sayang,mas mohon,mas tau kamu masih sangat mencintai mas"ucap ku memegang tangan arumi.


"Cukup mas,jangan sentuh aku"bentak arumi menepis tangan ku.


"Aku ingin istirahat,lebih baik kamu pergi, lagi pula nanti mayang mencari kamu"


"Kamu jangan sok jual mahal,aku udah minta maaf,jangan keras kepala"ucap ku kesal,tak terima penolakan dari nya.


"pergi kamu dari sini mas,aku tak mau bicara lagi"teriak arumi tak kalah kesal.


"berani kamu mengusir ku,aku ini masih suami kamu,dan seharusnya kamu itu patuh pada ku"sahut ku tak mau kalah.


"mau jadi istri durhaka kamu hah! "timpal ku kembali dengan wajah yang sudah merah.


"ayah..?


panggil retno yang muncul dari arah tangga, spontan aku lansung menahan emosi dan berusaha tersenyum.


"sayang kamu apa kabar"ucap ku tersenyum, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara aku dan arumi.


"salam ayah sayang,tadi ayah mampir mau jenguk retno"ucap arumi menatap kearah ku.


Retno pun langsung mengikuti perintah arumi, mencium tangan ku dan memelukku dan aku pun membalas pelukan anakku dengan erat.


"Retno ngobrol-ngobrol sama ayah,mama mau kekamar,nanti kalau ayah pulang retno langsung tutup pintu ya"ucap arumi sambil menatap tajam diriku.


aku pun tak bisa melanjutkan percakapan tadi dan melarang Arumi pergi di depan retno.


baru saja aku melepas rindu dengan anak ku, tiba-tiba mayang datang membuat keributan.


"Tante mayang"ucap retno membuka pintu


"siapa yang datang sayang"ucap ku dari dalam.


namun tak ada jawaban dari retno.


"Tante jangan datang kesini lagi,nanti mama retno marah lagi"


"kamu ngusir tante,dasar masih anak-anak ngk punya sopan santun"


"asal kamu tau ya,aku ini mama kamu juga,jadi mulai sekarang panggil aku mama"bentak mayang


"mayang?


"apa-apaan kamu"bentak ku


"kamu yang apa-apaan,kenapa kamu kesini"sahut mayang


"aku cuma ingin jenguk retno anak aku"


"alahh alasan kamu aja,bilang aja kamu mau jumpa wanita tua itu kan"


"ada apa ini,kok ribut-ribut "ucap arumi tiba-tiba nongol.


"Haaa ini dia, datang-datang sok polos,pakek pura-pura ngk tau segala lagi"ucap mayang sinis memiringkan bibir nya.


"apa maksud kamu,kamu jangan membuat keributan disini"sahut arumi kesal.


"siapa yang buat keributan,aku cuma jemput suami aku kok"


"sudah...sudah,mening kita pergi"ucap ku menarik tangan Mayanp


"ayah kok pergi"ucap retno sedih


"lahh,aku kan belum siap buat perhitungan sama dia"ucap mayang menunjuk arumi.


"sayang, kapan-kapan ayah main kesini lagi kok"ucap ku menenangkan retno,retno pun mengangguk kan kepalanya.


"sayang mas pergi dulu,nanti mas hubungi lagi"ucap ku pada Arumi,namun arumi hanya diam


"lepaskan aku rik"ucap mayang brontak karna tangannya masih ku pegangi.


"sudah ayok pulang''ucap ku tanpa peduli dan trus manarik nya keluar.


"tadi aku kan sudah bilang kalau kamu jangan menemui wanita tua itu "


"kenapa kamu malah kesini"omel mayang disepanjang jalan kearah rumah dan aku pun hanya diam tak ingin memperpanjang masalah.


durrr....


Mayang membanting pintu kamar dan langsung mengunci pintu dari dalam.

__ADS_1


"sudahlah tidur di sofa aja"batin ku menarik napas kasar.


aku hanya mencemaskan bagaimana dengan Sidang besok.


__ADS_2