
"Masya Allah nakk,rumah kamu juga besar"ucap rasti kagum ketika baru duduk diruang tamu.
"ah budhe bisa aja"sahut arumi merendah,sambil membawa dua cangkir teh.
"inilah arumi buk,dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah,tetap merendah"goda pak samsul tertawa.
"bapak benar,dan tidak seharusnya erik itu menyakiti arum"ucap rasti sedih
"sudahlah budhe, mungkin ini sudah nasib arum"sahut arumi berusaha tersenyum
"tetap saja nakk,kamu seharusnya kasih tau budhe sama pak'de,bukan malah menanggung nya sendiri atau menutupi nya,apa lagi yang melakukan ini adalah mayang yang sudah budhe anggap seperti anak kandung sendiri,budhe menjadi merasa bersalah ke kamu"ucap rasti kembali meneteskan air mata nya.
Arumi pun lansung memeluk rasti dengan erat"maafkan arum budhe"ucap arumi sedih.
"oyaa... pak'de perhatikan dari tadi anak mu tidak nampak"tanya pak samsul sambil melihat-lihat
"seperti nya retno dikamar nya pak'de"ucap arumi ragu.
"lah, memang nya retno ngak main keluar sama teman-teman nya,budhe pikir dari tadi dia keluar"ucap rasti
"kadang-kadang main keluar kok budhe, kebetulan hari ini aja dia istirahat dikamar"sahut arumi memberi alasan.
sebenarnya akhir-akhir ini retno memang lebih sering diam dikamar dan menghabiskan waktu sendiri dikamar nya,sementara arumi juga lebih sibuk dengan urusan perceraian nya.
...****************...
"gimana sayang,cantik kan? "tanya ros pada putra tunggal nya itu.
"cantik maa"sahut tama singkat
seperti biasa,sikap dan jawaban tama masih sama, biasa-biasa saja,tidak ada tanda-tanda kejenjang yang lebih serius.
"jadi gimana?"tanya ros kembali
"gimana apa nya maa.."tanya tama pura-pura tidak tau.
"loow,kok malah balik tanya,kamu ini gimana sih tama,kapan kamu serius dengan perjodohan ini, padahal mama berharap kamu mau menerima salah satu pilihan mama,kamu tau sendiri kalau mama selalu berusaha mencari wanita terbaik untuk calon istri kamu"ucap Ros kesal
"maa,tama belum siap menikah"ucap tama memberi alasan
"belum siap, jadi kapan, nunggu mama sama papa meninggal dulu"ucap Ros semakin kesal
__ADS_1
"maa,jangan ngomong gitu dong,bukan seperti itu maksud tama"
"jadi kenapa,apa lagi yang kamu tunggu,kamu tau sendiri kalau mama semakin tua,kapan lagi mama bisa lihat kamu menikah kalau bukan sekarang"ucap ros sedih.
Tama pun terdiam, sebenarnya tama merasa tersudut kalau sudah membahas pernikahan nya, beberapa penolakan selalu tama lakukan,dan pada akhirnya perdebatan bersama mamanya pun tak bisa dihindari.
"maa,mama yang sabar,kasih tama waktu, insyaallah kalau tama bertemu dengan pilihan tama, secepatnya akan tama kenalkan sama mama"ucap tama membujuk.
"ya kamu cari dong,mana bisa datang sendiri atau kamu terima salah satu pilihan mama,selama ini kan mama selalu sabar menunggu,tapi apa, sampai sekarang kamu belum mengenal kan mama pada satu wanita pun"ucap ros sedih
Tama sendiri tidak tau,entah kapan dia bisa mengenal kan calon pilihan nya pada orangtuanya.
"atau jangan-jangan kamu belum melupakan wanita itu"timpal ros menyelidik
Tama pun langsung diam menunduk kan kepalanya tanpa membantah ucapan ros
"jadi benarkan yang mama bilang"ucap Ros tak suka.
tama semakin terpojok dengan apa yang ibunya katakan,tidak bisa ditepis kalau dihati nya masih tersimpan nama arumi.
"sudahlah tama,mau sampai kapan kamu trus memikirkan wanita itu,kamu harus sadar kalau dia sudah menikah punya suami,mama tidak mau kamu menjadi perusak rumah tangga orang"timpal ros khawatir.
dan pada akhirnya nya kenyataan pahit tama terima,bahwa wanita yang selama ini dia sukai ternyata sudah menikah,arumi memang tertutup soal pribadi jadi tidak heran banyak yang mengira dia masih gadis,apalagi Arumi selalu berangkat kerja dengan mobil sendiri.
dikala itu sempat ros mengejek tama karna sembarang menyukai tanpa menyelidiki status orang dulu.
"tama-tama,kok bisa kamu menyukai wanita tanpa tau status dia masih gadis atau sudah menikah"ucap ros tertawa kekeh sementara tama hanya diam menahan malu.
pada awalnya nya ros mengira itu hanya cinta sesaat untuk putra nya,namun semenjak kejadian itu tama tidak pernah lagi memperkenalkan wanita mana pun pada nya,bahkan tama mulai tertutup dan memprivasi urusan pribadi nya,setiap hari tama hanya menyibukkan diri nya dengan urusan pekerjaan nya.
"mama,tama masih waras maa,mana mungkin tama mau menganggu orang apalagi sampai merusak rumah tangga orang lain"sahut tama
"mama kan cuma ngingetin kamu aja,mama ngk mau kalau itu semua terjadi pada anak mama"
"iya ma,mama tenang aja,lagi pula..."ucap tama menggantung
"lagi pula apa? "tanya ros penasaran
tama terdiam "ngkpp kok ma"sahut tama singkat.
"apa yang kamu sembunyikan dari mama,apa kamu sedang menyukai wanita lain lagi"tanya ros penasaran dengan mata yang berbinar
__ADS_1
"bukan maa,ini bukan tentang tama"
"jadi siapa"
"sebenarnya sebentar lagi arumi bercerai maa"ucap tama ragu
"haaa....
wanita itu mau bercerai,apa itu gara-gara kamu? "ucap ros terkejut
tama menarik nafas, lagi-lagi ibunya menuduhnya merusak rumah tangga orang lain.
"bukan maa,dia memang mau bercerai tapi ngk ada hubungannya dengan tama"
"kok bisa?"tanya ros semakin penasaran
"suaminya selingkuh maa"ucap tama sedih
"selingkuh!! kok bisa" tanya ros heran
tama pun menceritakan semua yang di ketahui
"kasian banget ya,tega banget suaminya itu, istri sebaik itu di sakiti"tanggap ros iba.
"semoga dia dapat penganti yang jauh lebih baik,dan bisa menerima anak sambung nya juga"
mata tama lansung berkaca-kaca menatap ibunya, berharap dia lah laki-laki itu.
"kenapa kamu menatap mama seperti itu"tanya ros menyelidik.
tama pun tersenyum malu dan ros langsung tau apa yang dipikirkan anak nya itu.
"tidak sayang,jangan berpikiran kalau kamu akan menikahi nya,kamu tau sendiri kalau papa mu itu pasti tidak akan setuju"jelas ros
"tapi ma kenapa,tidak ada yang salah kok,aku singel dan dia juga sudah bercerai dengan suaminya"bela tama
"dan kami sama-sama tidak terikat dengan siapa pun"timpal tama kembali.
"iya mama tau,tapi papa pasti tidak akan setuju kalau kamu menikahi janda, apalagi sudah punya anak"
"ingat kamu itu masih lajang,masih banyak perempuan diluar sana yang mau sama kamu"ucap ros kembali.
__ADS_1