
Jember, malam hari.
Cukup jauh mobil John menelusuri jalanan tak beraspal. Hingga deretan rumah-rumah berakhir pun yang dituju belum juga kelihatan. Agak jauh dari deret rumah terakhir, tampaklah rumah sederhana yang berdampingan dengan sawah.
"Apa itu rumah Rangga?" tanya Mommy Monika.
"Sepertinya iya. Kita parkir mobilnya di sini saja, setelah itu kita jalan ke sana. Em, bawa juga oleh-olehnya!" perintah John. "Oya, Rangga dapat shift apa hari ini? Kuatirnya malah masih di ruko." Tiba-tiba saja John teringat.
"Tenang. Mario sudah meminta Rangga untuk pulang lebih awal, tapi Rangga belum tahu kalau kita akan datang," terang Mommy Monika.
"Baguslah. Ayo!" John turun lebih dulu, disusul Mommy Monika.
Langkah mereka semakin mendekat. Tampaklah rumah Rangga yang benar-benar sederhana, tapi memiliki penataan rapi di bagian teras depan. Ada pot-pot bunga di sana.
"Ayah, nanti kita hadiahi pernikahan mereka rumah, ya. Rangga dan keluarganya harus merasakan kebahagiaan dan penghidupan yang layak," pinta Mommy Monika.
"Itu mudah. Yang penting sekarang, kita ikhtiarkan Alenna dan Rangga agar lekas menikah. Biar putri kita itu tidak berbuat hal aneh-aneh lagi," terang John.
"Iya, setuju. Mereka harus segera SAH," dukung Mommy Monika.
Bu Anis, ibu Ranggalah yang pertama kali mengetahui kedatangan John dan Mommy Monika. Bu Anis lantas bertanya-tanya, siapakah gerangan orang kaya yang tersasar sampai ke rumahnya.
"Mau tanya alamat, ya?" tanya Bu Anis.
John dan Mommy Monika saling tatap.
"Hehe. Maaf, kami nggak sedang kesasar. Apa betul ini rumah Nak Rangga?" tanya Mommy Monika sopan.
"Ah, betul-betul. Ingin bertemu anak saya, ya. Saya panggilkan dulu. Silakan masuk. Rangganya masih ngaji di belakang. Oya, ini dengan siapa?" Bu Anis tak kalah sopan.
"Kami orangtuanya Alenna," terang Mommy Monika dengan senyum merekah.
Bu Anis langsung mengenali nama Alenna, karena nama itulah yang sering disebut-sebut Rangga saat Bu Anis menyuruh sang putra untuk menikah.
"Monggo (silakan) duduk dulu. Maaf, rumahnya berantakan. Saya tinggal ke belakang panggil Rangga dulu," pamit Bu Anis usai memastikan John dan Mommy Monika duduk.
Kebetulan, Rangga baru saja selesai mengaji. Peci dan sarungnya juga masih dikenakan.
"Le, ada tamu. Orangtuanya Alenna," terang Bu Anis.
Rangga terkekeh.
"Ah, ibu bisa aja. Tidak apa-apa kok kalau ibu belum percaya sama Rangga, ya tapi ibu jangan membesarkan hati Rangga seperti ini juga dong." Kembali Rangga terkekeh.
"Sembarangan. Kamu pikir ibu bohong, ha? Itu di ruang tamu beneran ada ayah ibunya Alenna," tegas Bu Anis.
Bungkam. Rangga terdiam. Dia kembali mencerna kata-kata ibunya.
"Orangtuanya Alenna di sini? Kok bisa, Bu?" Rangga terkejut kali ini.
"Lah ya nggak tau. Ayo temui. Ibu buatkan minum dulu." Bu Anis beranjak.
"Bu-bu. Rangga pakai baju apa ini?" tanya Rangga panik.
"Wes iku wae. Wes ngganteng!" Bu Anis mengacungkan jempolnya lantas menuju dapur.
Mendadak saja jantung Rangga berdebar-debar.
__ADS_1
"Tadi Bos Mario menyuruhku pulang cepat, bilang kalau ada yang ingin ketemu. Lah ternyata yang mau ketemu orangtuanya Alenna. Duh, gugup nih aku!" Rangga terus bergumam. Bingung. Berdebar.
Cukup lama Rangga mondar-mandir, hingga kemudian memutuskan untuk segera menemui orangtua Alenna.
"Wah, apakah ini yang namanya Nak Rangga?" Mommy Monika bereskpresi heboh.
"I-iya. Saya Rangga," terang Rangga sedikit gugup.
Mommy Monika teramat senang melihat perawakan calon menantunya itu. Mengingatkannya pada John di zaman dulu. Lumayan tampan, dan ... ehem, gagah.
"Em, mohon maaf. Rumahnya berantakan," kata Rangga basa-basi. Sebenarnya dia bingung harus ngomong apa.
"Silakan diminum tehnya!"
Bu Anis datang di saat yang tepat dengan nampan dan cangkir minuman. Rangga butuh penyelamat. Rangga benar-benar gugup kala itu.
"Nak Rangga, sebelumnya kenalkan. Kami orangtua Alenna." John memulai obrolannya setelah menyeruput teh.
"I-iya. Saya Rangga dan ini ibu saya. Em, kalau yang itu Ardi dan Ardan. Adik kembar saya. Baru pulang dari ngaji di musholah."
Rangga memberi isyarat pada kedua adiknya untuk bersalaman dengan John dan Mommy Monika. Usai si kembar bersalaman, Rangga menyuruh mereka untuk masuk dan menyelesaikan PR.
"Keluarga Nak Rangga rajin ibadah. Senang sekali melihatnya," puji John. Hatinya semakin mantap memilih Rangga untuk Alenna.
"Mohon maaf, pak, bu. Apakah putra saya ini berbuat kesalahan di ruko sehingga bapak ibu kemari?" tanya Bu Anis, yang khawatir kalau Rangga kerjanya tidak jujur.
"Oh. Sama sekali tidak, Bu. Nak Rangga ini kerjanya jujur sekali. Anaknya baik." Giliran Mommy Monika yang memuji.
"Sebenarnya, kedatangan kami berdua ke sini dengan niatan untuk silaturahmi sekaligus melamar Nak Rangga untuk putri kami, Alenna." John langsung pada topik ini.
"Kok kuwalek (terbalik). Biasanya pihak laki-laki yang melamar," terang Bu Anis.
"Alenna sudah kebelet nikah sama Nak Rangga," celetuk Mommy Monika, tapi langsung disentil John.
"Sst. Ngomongnya gitu amat. Biar ayah saja yang ngomong," bisik John.
Keempat pasang mata di ruang tamu itu lantas tertawa canggung usai celetukan Mommy Monika yang menyebut Alenna sudah keburu ingin menikah dengan Rangga.
"Begini-begini. Putri kami menaruh hati dengan Nak Rangga. Begitu pula dengan Nak Rangga. Alangkah lebih baik jika sudah sama-sama klik, segera dinikahkan saja. Daripada terjadi hal-hal yang menjurus kepada bibit-bibit dosa," terang John.
Bu Anis menoleh pada sang putra. Rangga hanya cengar-cengir di depan sang ibu. Rangga bingung mengekspresikan suasana hatinya yang tak karuan. Ada bingung, canggung, tapi senang luar biasa.
"Piye, Le? Kamu mau menerima lamaran ini apa nggak?" tanya Bu Anis pada Rangga.
"Mau sekali, Bu." Rangga antusias menjawabnya.
Bu Anis langsung tepuk jidat. Dari sekian banyak gadis yang dikenalkan pada sang putra, justru Alenna yang langsung dipilih dengan mudahnya.
"Yasudah. Ibu restui kamu, Le." Bu Anis menepuk pelan bahu sang putra.
"Alhamdulillaah," ucap syukur Rangga dengan kerasnya.
"Yasudah. Disegerakan saja, kita bahas sekalian tanggal pernikahannya." John semakin antusias saja.
Obrolan malam itu lekas dipenuhi dengan pengakraban dua keluarga. Mommy Monika dan John semakin mantap saja setelah melihat kepribadian Rangga. Begitu pula dengan Bu Anis, sekarang dia percaya pada sang putra.
Pukul setengah sepuluh malam, usai Rangga berbicara lebih lanjut dengan sang ibu, Rangga menelepon Alenna.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mas Rangga. Apa Mommy sama ayah sudah menemui Mas Rangga? Gimana-gimana? Mereka serius atau hanya mau usilin Mas Rangga?"
Baru saja telepon itu diangkat, Alenna sudah memberondong tanya. Membuat Rangga terkekeh.
"Sabar dulu. Orang sabar makin disayang, lho."
"Disayang siapa? Mas Rangga? Mau dong!" manja Alenna.
"Huus. Kamu ini, ya. Tentunya disayang sama Dia Yang Maha Penyayang. Hehe."
"Heeem. Terus Mas Rangga nggak sayang sama aku?" tanya Alenna.
"Heeem, gimana ya? Kamu maunya disayang atau dinikahin?" Rangga membuat pilihan.
"Iiiih. Mas Rangga, jangan ditanya lagi kalau itu. Aku mau dua-duanya."
Fix. Dasar Alenna-Rangga, sudah mirip betul seperti orang pacaran. Untung saja mereka akan segera menikah.
"Oke. Aku say .... aw!" Rangga kena jewer sang ibu.
"Belum SAH," tegas Bu Anis, lantas berlalu pergi.
Di telepon, Alenna sudah memanggil-manggil nama Rangga karena tiba-tiba tak lagi ada obrolan.
"Alenna, kita lanjutin mesra-mesraannya waktu udah sah aja, ya. Hehe. Habis kena jewer, nih." Rangga jujur, dan ... yaps, agak polos.
"Hihihihi. Pasti sakit tuh. Yaudah. Mas Rangga yang rajin doa malamnya, ya. Doain semua berjalan lancar," harap Alenna."
"Insya Allah. Kalau begitu, aku tutup dulu, ya. Assalamu'alaikum."
Panggilan diakhiri dengan ucap syukur oleh Rangga.
***
Jakarta, pukul sepuluh malam.
Loncat-loncat di atas kasur layaknya anak kecil. Alenna refleks saja jingkrak-jingkrak di sana. Seakan lupa bahwa dirinya adalah wakil manajer yang sehari-harinya menjaga image dengan penuh wibawa.
"Alhamdulillaah. Aku akan segera menikah dengan Mas Rangga. Nyusul Mario-Anjani, nih. Heeem. Aku kasih kabar dulu ke Ranti ah. Pasti dia seneng dengernya."
Jemari Alenna lincah mencari kontak Ranti. Lekas di-VC, tapi tak ada tanda-tanda diterima.
"Tumben nggak diangkat?" Alenna terheran.
Biasanya, mau Alenna VC jam berapa pun pasti diangkat oleh Ranti. Ini sungguh tak biasa.
"Ups, lupa. Hari ini kan dia nggak masuk kerja karena ketemuan sama Juno. Heem, mungkin Ranti udah tidur karena kecapekkan seharian ini." Pikir Alenna. "Besok aja deh kasih kabar bahagianya," imbuhnya.
Alenna memutuskan untuk segera tidur. Senyum di bibirnya tak henti-hentinya merekah. Hatinya pun menggema rasa syukur. Indah menjelma. Bahagia membuncah. Alhamdulillaah.
Bersambung ....
Suka??? Like, Vote, Fav, Komentari.
Terima kasih sudah mampir dan membaca.
š
__ADS_1